Anda di halaman 1dari 3

IV.

PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Dengan Garputala
Pada dewasa, pendengaran melalui hantaran udara dinilai dengan menempatkan garpu
tala yang telah digetarkan di dekat telinga sehingga suara harus melewati udara
agar sampai ke telinga.
Penurunan fungsi pendengaran atau ambang pendengaran subnormal bisa menunjukkan
adanya kelainan pada saluran telinga, telinga tengah, telinga dalam, sarat pende
ngaran atau jalur saraf pendengaran di otak.
Pada dewasa, pendengaran melalui hantaran tulang dinilai dengan menempatkan ujun
g pegangan garputala yang telah digetarkan pada prosesus mastoideus (tulang yang
menonjol di belakang telinga).
Getaran akan diteruskan ke seluruh tulang tengkorak, termasuk tulang koklea di t
elinga dalam. Koklea mengandung sel-sel rambut yang merubah getaran menjadi gelo
mbang saraf, yang selanjutnya akan berjalan di sepanjang saraf pendengaran.
Pemeriksaan ini hanya menilai telinga dalam, saraf pendengaran dan jalur saraf p
endengaran di otak.
Jika pendengaran melalui hantaran udara menurun, tetapi pendengaran melalui hant
aran tulang normal, dikatakan terjadi tuli konduktif.
Jika pendengaran melalui hantaran udara dan tulang menurun, maka terjadi tuli se
nsorineural.
Kadang pada seorang penderita, tuli konduktif dan sensorineural terjadi secara b
ersamaan.
2. Audiometri
Audiometri dapat mengukur penurunan fungsi pendengaran secara tepat, yaitu denga
n menggunakan suatu alat elektronik (audiometer) yang menghasilkan suara dengan
ketinggian dan volume tertentu.
Ambang pendengaran untuk serangkaian nada ditentukan dengan mengurangi volume da
ri setiap nada sehingga penderita tidak lagi dapat mendengarnya.
Telinga kiri dan telinga kanan diperiksa secara terpisah.
Untuk mengukur pendengaran melalui hantaran udara digunakan earphone, sedangkan
untuk mengukur pendengaran melalui hantaran tulang digunakan sebuah alat yang di
getarkan, yang kemudian diletakkan pada prosesus mastoideus.
3. Audimetri Ambang Bicara
Audiometri ambang bicara mengukur seberapa keras suara harus diucapkan supaya bi
sa dimengerti.
Kepada penderita diperdengarkan kata-kata yang terdiri dari 2 suku kata yang mem
iliki aksentuasi yang sama, pada volume tertentu.
Dilakukan perekaman terhadap volume dimana penderita dapat mengulang separuh kat
a-kata yang diucapkan dengan benar.
4. Diskriminasi
Dengan diskriminasi dilakukan penilaian terhadap kemampuan untuk membedakan kata
-kata yang bunyinya hampir sama.
Digunakan kata-kata yang terdiri dari 1 suku kata, yang bunyinya hampir sama.
Pada tuli konduktif, nilai diskriminasi (persentasi kata-kata yang diulang denga
n benar) biasanya berada dalam batas normal. Pada tuli sensori, nilai diskrimina
si berada di bawah normal. Pada tuli neural, nilai diskriminasi berada jauh di b
awah normal.
5. Timpanometri
Timpanometri merupakan sejenis audiometri, yang mengukur impedansi (tahanan terh
adap tekanan) pada telinga tengah.
Timpanometri digunakan untuk membantu menentukan penyebab dari tuli konduktif.
Prosedur in tidak memerlukan partisipasi aktif dari penderita dan biasanya digun
akan pada anak-anak.
Timpanometer terdiri dari sebuah mikrofon dan sebuah sumber suara yang terus men
erus menghasilkan suara dan dipasang di saluran telinga.
Dengan alat ini bisa diketahui berapa banyak suara yang melalui telinga tengah d

an berapa banyak suara yang dipantulkan kembali sebagai perubahan tekanan di sal
uran telinga.
Hasil pemeriksaan menunjukkan apakah masalahnya berupa:
? penyumbatan tuba eustakius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan h
idung bagian belakang)
? cairan di dalam telinga tengah
? kelainan pada rantai ketiga tulang pendengaran yang menghantarkan suara melalu
i telinga tengah.
Timpanometri juga bisa menunjukkan adanya perubahan pada kontraksi otot stapediu
s, yang melekat pada tulang stapes (salah satu tulang pendengaran di telinga ten
gah).
Dalam keadaan normal, otot ini memberikan respon terhadap suara-suara yang keras
/gaduh (refleks akustik) sehingga mengurangi penghantaran suara dan melindungi t
elinga tengah.
Jika terjadi penurunan fungsi pendengaran neural, maka refleks akustik akan beru
bah atau menjadi lambat. Dengan refleks yang lambat, otot stapedius tidak dapat
tetap berkontraksi selama telinga menerima suara yang gaduh.
6. Respon Auditoris Batang Otak
Pemeriksaan ini mengukur gelombang saraf di otak yang timbul akibat rangsangan p
ada saraf pendengaran.
Respon auditoris batang otak juga dapat digunakan untuk memantau fungsi otak ter
tentu pada penderita koma atau penderita yang menjalani pembedahan otak.
7. Elektrokokleografi
Elektrokokleografi digunakan untuk mengukur aktivitas koklea dan saraf pendengar
an.
Kadang pemeriksaan ini bisa membantu menentukan penyebab dari penurunan fungsi p
endengaran sensorineural.
Elektrokokleografi dan respon auditoris batang otak bisa digunakan untuk menilai
pendengaran pada penderita yang tidak dapat atau tidak mau memberikan respon ba
wah sadar terhadap suara.
Misalnya untuk mengetahui ketulian pada anak-anak dan bayi atau untuk memeriksa
hipakusis psikogenik (orang yang berpura-pura tuli).
Beberapa pemeriskaan pendengaran bisa mengetahui adanya kelainan pada daerah yan
g mengolah pendengaran di otak.
Pemeriksaan tersebut mengukur kemampuan untuk:
? mengartikan dan memahami percakapan yang dikacaukan
? memahami pesan yang disampaikan ke telinga kanan pada saat telinga kiri meneri
ma pesan yang lain
? menggabungkan pesan yang tidak lengkap yang disampaikan pada kedua telinga men
jadi pesan yang bermakna
? menentukan sumber suara pada saat suara diperdengarkan di kedua telinga pada w
aktu yang bersamaan.
Jalur saraf dari setiap telinga menyilang ke sisi otak yang berlawanan, karena i
tu kelainan pada otak kanan akan mempengaruhi pendengaran pada telinga kiri.
Kelainan pada batang otak bisa mempengaruhi kemampuan dalam menggabungkan pesan
yang tidak lengkap menjadi pesan yang bermakna dan dalam menentukan sumber suara
.
V. PENGOBATAN
Pengobatan untuk penurunan fungsi pendengaran tergantung kepada penyebabnya.
Jika penurunan fungsi pendengaran konduktif disebabkan oleh adanya cairan di tel
inga tengah atau kotoran di saluran telinga, maka dilakukan pembuangan cairan da
n kotoran tersebut.

Jika penyebabnya tidak dapat diatasi, maka digunakan alat bantu dengar atau kada
ng dilakukan pencangkokan koklea.