Anda di halaman 1dari 3

2.3.

3 PIRAZINAMID
Pirazinamid merupakan analog nikotinamide yang pertama kali sebagai antituberkulosis pada tahun
1952. Pirazinamid bertanggung jawab untuk membunuh kumanmikobakterium tuberkulosis yang semi
dorman yang tidak mampu dibunuh oleh obat antituberkulosis lainnya. Aktivitas pirazinamid spesifik
untuk kuman mikobakteriumtuberkulosis dan tidak memiliki efek terhadap mikobakterium lainnya
Pirazinamid hanyamampu bekerja pada suasana PH asam sehingga obat ini juga dapat membunuh
kuman yang berada dalam jaringan nekrotik kaseosa
Target utama dari pirazinamid adalah enzim yang berperan dalam sintesis asamlemak. Pirazinamid
merupakan pro drug yang harus dikonversi menjadi bentuk aktifnya yang disebut pyrazinoic acid oleh
enzim pyrazinamidase. Enzim pyrazinamidase ini dihasilkanoleh phagolysosome kuman dimana enzim
pyrazinamidase ini dikode oleh gen pncA. Denganterjadinya perobahan pirazinamid menjadi bentuk
aktifnya ( pyrazinoic acid ) maka akanterjadinya penumpukan pyrazinoic acid di dalam sitoplasma dan
didukung pula oleh tidak efektifnya efflux system. Akumulasi dari pyrazinoic acid menyebabkan
penurunan PHintrasel ke level yang menyebabkan terganggunya sintesis asam lemak . Terjadinya mutasi
pada gen pncA yang mengkode enzim pyrazinamidase akanmenyebabkan enzim ini tidak dapat bekerja
merobah pirazinamid yang masuk ke dalam selmenjadi bentuk aktifnya yaitu pyrazinoic acid. . Dengan
tidak terbentuknya pyrazinoic acidini maka obat ini tidak dapat mengganggu sintesis asam lemak dan
akan menyebabkanterjadinya resistensi pada kuman M.TB terhadap pirazinamid.
PZN adalah pro-drug dan diubah menjadi bentuk aktif (asam pyrazinoic) oleh enzim peroksidase
nicotinamidase dikenalsebagai pyrazinamidase (PncA). Asam Pyrazinoic menghambat aksisintetase asam
lemak I (FAS I). FAS I adalah terlibat dalam sintesisasam mycolic rantai pendek merupakan komponen
struktural pentingdari dinding sel mikobakteri dan melekat ke lapisan arabinogalactan.Obat ini bersifat
bakterisidal, terutama dalam keadaan asam danmempunyai aktivitas sterilisasi intraseluler.

2.3.4 ETAMBUTOL
Etambutol {dextro-2,2(ethyldiimino)-di-1onol}adalah obat anti tuberkulosis lini pertama dengan
aktivitas broadspektrum. Pemberian obat ini harus digabung dengan obatantituberkulosis lainnya untuk
dapat membunuh kuman secara menyeluruh.
Targetutama dari kerja etambutol adalah pada enzim arabinosyl transferase yaitu suatu enzim yang
terlibat dalam proses pembentukan dinding sel bakteri dimana enzim ini di kode oleh gen embB, gen
embA dan embC . Enzim arabinosyl transferase ini berperan dalam pembentukanarabinan yang
merupakan salah satu komponen arabinogalaktan pada dinding selM.TB. Akan terjadi suatu proses
dimana asam mikolat berikatan pada gugus D-arabinose dari arabinogalaktan. Ikatan ini membentuk
komplek mycolyl-arabinogalactan- peptidoglycan pada dinding sel.
Dengan pemberian etambutol maka akan terjadigangguan pada sintesis arabinogalaktan, yang pada
akhirnya juga tidak akan terbentuknyaikatan komplek mycolyl-arabinogalactan-peptidoglycan pada
dinding sel. Kondisi inimenyebabkan terjadinya peningkatan permeabilitas dinding sel sehingga
memudahkan masuknya obat obat antituberkulosis lainnya. Selain itu juga akan terjadi penumpukan
asammikolat di dalam sel sehingga menyebabkan sel mati. Terjadinya mutasi pada lokus gen embB yang
berperan dalam mengkode enzim arabinosyl transferase menyebabkan perobahan pada enzim ini yang
juga menyebabkan berobahnya target untuk etambutol.
Hal ini menyebabkan etambutol tidak dapat mengganggukerja enzim arabinosyltransferase dalam
pembentukan arabinan sehingga pembentukandinding sel tidak terganggu. Selain itu juga dapat terjadi
hiperekspresi dari enzim ini yang juga dapat menyebabkan terjadinya resistensi terhadap etambutol.

Obat ini menghambat sintesis metabolisme selsehingga menyebabkan kematian sel. EMB menghambat
aksi arabinosyl(EmbB). EmbB adalah enzim membran terkait yang terlibat dalamsintesis
arabinogalaktan. Arabinogalactan merupakan komponenstruktural penting dari dinding sel mikobakteri.
Hampir sama strain M.tuberculosis, M. bovis, dan kebanyakan M. kansasii rentan terhadap obatini. Obat
ini bersifat bakteriostatik dan bekerja baik intra maupunekstraseluler