Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari
reaksi saponifikasi. Istilah saponifikasi dalam literatur berarti soap making.
Akar kata sapo dalam bahasa Latin yang artinya soap / sabun. Pengertian
Saponifikasi (saponification) adalah reaksi yang terjadi ketika minyak / lemak
dicampur dengan larutan alkali. Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini,
yaitu Sabun dan Gliserin. Angka Penyabunan dapat dilakukan untuk menentukan
berat molekul minyak dan lemak secara kasar. Minyak yang disusun asam lemak
berantai C pendek berarti mempunyai berat molekul relative kecil, akan
mempunyai angka penyabunan yang besar dan sebaliknya, minyak dengan berat
molekul yang besar mempunyai angka penyabunan relatif kecil, (Kuswinarno,
2009).
Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat dari minyak atau
lemak alami. Surfaktan mempunyai struktur bipolar. Bagian kepala bersifat
hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidrofobik. Karena sifat inilah sabun mampu
mengangkat kotoran (biasanya lemak) dari badan dan pakaian. Selain itu, pada
larutan, surfaktan akan menggerombol membentuk misel setelah melewati
konsentrasi tertentu yang disebut konsentrasi kritik misel. Sabun juga
mengandung sekitar 25% gliserin. Gliserin bisa melembabkan dan melembutkan
kulit, menyejukan dan meminyaki sel-sel kulit juga. Oleh karena itu dilakukan
percobaan pembuatan sabun dan pengujian terhadap sifat-sifat sabun, sehingga
akan didapat sabun yang berkualitas, (Unggul, 2006).
Lemak atau minyak adalah senyawa makromolekul berupa trigliserida, yaitu
sebuah ester yang tersusun dari asam lemak dan gliserol. Jenis dan jumlah asam
lemak penyusun suatu minyak atau lemak menentukan karakteristik fisik dan
kimiawi minyak atau lemak. Disebut minyak apabila trigliserida tersebut
berbentuk cair pada suhu kamar dan disebut lemak apabila berbentuk padat pada
suhu kamar, (Suryana, 2010).
Alkohol yang ada pada KOH berfungsi untuk melarutkan asam lemak hasil
hidrolisa agar mempermudah reaksi dengan basa sehingga membentuk sabun.

Penentuan bilangan penyabunan dilakukan untuk mengetahui sifat minyak dan


lemak. Pengujian sifat ini dapat digunakan untuk membedakan lemak yang satu
dengan yang lainnya. Angka penyabunan dapat juga digunakan untuk menentukan
berat molekul dari suatu lemak atau minyak, (Suryana, 2010).

1.2. Tujuan
Adapun tujuan pratikum pengujian angka saponifikasi yaitu menentukan
berat molekul minyak dan lemak secara kasar.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Saponifikasi


Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa
kuat(misalnya NaOH). Sabun terutama mengandung c12 dan c16 selain itu juga
mengandung asam karboksilat. saponifikasi antara trigliserida dan basa kuat
menghasilkan produk berupa sabun dan gliserol. Saponification Value atau SAP
merupakan suatu nilai yang menunjukan berapa banyak basa yang dibutuhkan
untuk mereaksikan lemak atau minyak secara sempurna, (Anonym, 2010).
Angka penyabunan dinyatakan sebagai banyaknya (mg) KOH yang
dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram (1 g) lemak atau minyak. Alkohol yang
ada pada KOH berfungsi untuk melarutkan asam lemak hasil hidrolisa agar
mempermudah reaksi dengan basa sehingga membentuk sabun, (Kuswinarno,
2009).

2.2. Pengertian Lemak Atau Minyak


Lemak atau minyak adalah senyawa makromolekul berupa trigliserida, yaitu
sebuah ester yang tersusun dari asam lemak dan gliserol. Jenis dan jumlah asam
lemak penyusun suatu minyak atau lemak menentukan karakteristik fisik dan
kimiawi minyak atau lemak. Disebut minyak apabila trigliserida tersebut
berbentuk cair pada suhu kamar dan disebut lemak apabila berbentuk padat pada
suhu kamar. Asam lemak berdasarkan sifat ikatan kimianya menjadi 2, yaitu :
1. Asam lemak jenuh
2. Asam lemak tidak jenuh
Sebagai zat gizi, lemak atau minyak semakin baik kualitasnya jika banyak
mengandung asam lemak tidak jenuh dan sebaliknya. Minyak atau lemak bersifat
nonpolar sehingga tidak larut dalam pelarut polar seperti air dan larutan asam,
tetapi larut dalam pelarut organik yang bersifat non polar seperti n-Hexane,
Benzene, Chloroform, (Suryana, 2010).

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Bahan Dan Alat


3.1.1. Bahan :
Bahan yang digunakan pada saat praktikum adalah : minyak goreng,KOH
0,5 N alkoholik, HCL 0,5 N dan indicator PP.
3.1.2. alat :
Sedangkan alat yang digunakan pada saat praktikum adalah : timbangan
analitik, erlenmeyer, gelas arloji, biuret, pipet tetes, lampu bunsen, kaki tiga, gelas
ukur dan tritator.
3.2. Prosedur Kerja
a. Menimbang sebanyak 5 gram kedalam erlenmeyer
b. Menambah sebanyak 50 ml KOH 0,5 N alkoholik
c. Mendidihkan sampai minyak tersabunkan secara sempurna ditandai dengan
tidak terlihat butir-butir lemak atau minyak dalam larutan
d. Setelah didinginkan kemudian dititrasi dengan HCL 0,5 N menggunakan
indikator PP
e. Kemudian mengamati perubahan yang terjadi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan


Sebelum dipanaskan menimbang minyak goreng sebanyak 5 gram kemudian
menambahkan 50 ml KOH N alkoholik, setelah dicampurkan terdapat 2 lapisan
pada lapisan atas terdapat minyak goreng sedangkan pada lapisan bawah terdapat
lapisan KOH.
Titrasi blanko :
50 ml KOH 0,5 N ditambahkan 3 tetes indikator PP, HCL 35,7 ml.
Titrasi sampel :
3 indikator PP ditambahkan dengan campuran minyak dan KOH yang telah
dipanaskan
Rumus untuk menghitung angka penyabunan :

Angka penyabunan =

)
( )

Keterangan :
Tb = volume blankon (ml)
Ts = volume titrasi (ml)

4.2. Pembahasan
Sebelum melakukan praktikum hal yang harus dilakukan adalah menimbang
minyak goreng sebanyak 5 gram. Kemudian menambahkan dengan 50 ml larutan
KOH 0,5 N, larutan minyak yang semula berwarna kuning bening berubah warna
menjadi putih susu. kemudian campuran 5 gram larutan minyak goreng ditambah
dengan 50 ml KOH 0,5 N setelah itu dipanaskan didalam air yang mendidih.
Selama pemanasan, terdapat butir-butir minyak pada permukaan larutan berupa
buih atau gelembung. Setelah selesai dipanaskan larutan yang berwarna putih susu
tadi menjadi keruh. Kemudian menunggu beberapa menit untuk mendinginkan
larutan tersebut, Setelah dingin larutan terdiri atas dua lapisan, pada lapisan atas
berupa minyak yang berwarna kuning bening, sedangkan pada lapisan atas
berwarna putih keruh.

Selanjutnya meneteskan dengan larutan indikator PP sebanyak tiga tetes


sehingga larutan tersebut berubah warna menjadi merah muda. Kemudian dititrasi
dengan larutan HCL 0,5 N dengan perbandingan pada setiap sampel sebanyak 35
ml, 34 ml, dan 34 ml sehingga larutan berubah warna kembali menjadi keruh dan
minyak menggumpal dipermukaan.
Kemudian menghitung pengujian angka saponifikasi :
Diketahui :
tb (volume blanko)

= 35,7 ml

ts (volume titrasi)

= 16,5 ml

berat contoh

= 5 gram

BM KOH

= 56 ml

N HcL

= 0,5 n

Penyelesaian :
Angka penyabunan =
=

)
( )

=
= 107,52 ml/g

V. KESIMPULAN

Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa


kuat(misalnya NaOH). Sabun terutama mengandung C12 dan C16 selain itu juga
mengandung asam karboksilat. saponifikasi antara trigliserida dan basa kuat
menghasilkan produk berupa sabun dan gliserol. Saponification Value atau SAP
merupakan suatu nilai yang menunjukan berapa banyak basa yang dibutuhkan
untuk mereaksikan lemak atau minyak secara sempurna.
Lemak atau minyak adalah senyawa makromolekul berupa trigliserida, yaitu
sebuah ester yang tersusun dari asam lemak dan gliserol. Jenis dan jumlah asam
lemak penyusun suatu minyak atau lemak menentukan karakteristik fisik dan
kimiawi minyak atau lemak. Disebut minyak apabila trigliserida tersebut
berbentuk cair pada suhu kamar dan disebut lemak apabila berbentuk padat pada
suhu kamar.

DAFTAR PUSTAKA

Fessenden & Fessenden. 1982. Kimia Organik Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga
Abd. Asep suryana. 2010. Bahan ajar dan penuntun praktikum biokimia. Jurusan
Biologi. Fakultas MIPA UNG. Gorontalo
Anonym. 2010. Lemak. (Online). Tersedia di : www.scribsd.com/.../AnalisisKadar-Lemak-Metode-Weibull-Penentuan-Asam-Lemak-Bebas-Angka-an.
Kuswinarno. 2009. Acuan Pengayaan Kimia XII. Jakarta : Fokus.
Sudarmo, unggul. 2006. Kimia Jilid 3 SMA. Jakarta : Phibeta.