Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kemiskinan sebagai suatu fenomena sosial tidak hanya dialami


oleh negara negara yang sedang berkembang tetapi juga terjadi di negara
yang sudah mempunyai kemapanan di bidang ekonomi. Fenomena ini pada
dasarnya telah menjadi perhatian, isu, dan gerakan global yang bersifat
kemanusiaan (humanity). Secara konstitusional, permasalahan dimaksud
telah dijadikan perhatian utama bangsa Indonesia sejak tersusunnya
Undang-Undang Dasar 1945.

Pada dekade 1976-1996, persentase penduduk miskin di


Indonesia pernah mengalami penurunan yaitu dari 40,1% menjadi 11,3%,
namun pada periode 1996-1998 angka ini menjadi 24,29% atau 49,5 juta
jiwa. Bahkan International Labour Organization (ILO) memperkirakan
jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 129,6 juta atau sekitar 66,3%
(BPS, 1999). Pada tahun 2002, persentase kemiskinan telah mengalami
penurunan, namun secara absolut jumlah mereka masih tergolong tinggi,
yaitu 43% atau sekitar 15,6 juta (BPS dan Depsos 2002). Diantara angka
tersebut, diduga jumlah fakir miskin relatif banyak. Tanpa mengurangi arti
pentingnya pembangunan yang sudah dilakukan, angka kemiskinan tersebut
mengindikasikan konsep model yang dibangun belum mampu membentuk
sosial ekonomi masyarakat yang tangguh.

Dalam kerangka penanggulangan kemiskinan tersebut, hampir


semua kajian masalah kemiskinan berporos pada paradigma modernisasi
(the modernisation paradigm) dan the product cantered model yang
kajiannya didasari teori pertumbuhan ekonomi capital dan ekonomi
neoclasic ortodox (Elson, 1977, Suharto, 2002). Secara umum, pendekatan
yang dipergunakan lebih terkonsentrasi pada individual poverty sehingga
aspek structural and social poverty menjadi kurang terjamah. Dalam

1
Suharto (2002) dikemukakan: In its standardised conception of poverty, for
example, the poor are seen almost as passive victims and subjects of
investigation rather than as human beings who have something to contribute
to both the identification of their condition and its improvement. Beberapa
pendekatan dimaksud tercermin dari tolok ukur yang digunakan untuk
melihat garis kemiskinan pada beberapa pendekatan seperti Gross National
Product (GNP), Human Development Index (HDI) dan Human Poverty
Index (HPI), Social Accounting Matrix (SAM), Physical Quality of Life
Index (PQLI).
Secara harafiah, kemiskinan berasal dari kata dasar miskin diberi
arti “tidak berharta-benda” (Poerwadarminta, 1976). Dalam pengertian yang
lebih luas, kemiskinan dapat dikonotasikan sebagai suatu kondisi ketidak-
mampuan baik secara individu, keluarga maupun kelompok, sehingga
kondisi ini rentan terhadap timbulnya permasalahan sosial yang lain.
Berbagai sudut pandangan tentang pengertian kemiskinan, pada
dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga bentuk, yakni kemiskinan
struktural, kemiskinan relatif dan kemiskinan absolut. Dari ketiga sudut
pandang tersebut, penulis membatasi diri dan lebih menekankan pada
kemiskinan absolut, karena pemahaman dari bentuk kemiskinan ini relatif
lebih mengena dalam konteks fakir miskin. Menurut Ginanjar (1997),
kemiskinan absolut adalah kondisi kemiskinan yang terburuk yang diukur
dari tingkat kemampuan keluarga untuk membiayai kebutuhan yang paling
minimal untuk dapat hidup sesuai dengan martabat hidup sesuai dengan
martabat kemanusiaan. Menurut Nasikun (1995), kondisi yang
sesungguhnya harus dipahami mengenai kemiskinan :

“Kemiskinan adalah sebuah fenomena multifaset,


multidimensional, dan terpadu. Hidup miskin bukan hanya berarti hidup di
dalam kondisi kekurangan sandang, pangan, dan papan. Hidup dalam
kemiskinan seringkali juga berarti akses yang rendah terhadap berbagai
ragam sumberdaya dan aset produktif yang sangat diperlukan untuk dapat
memperoleh sarana pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup yang paling

2
dasar tersebut, antara lain: informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan
kapital. Lebih dari itu, hidup dalam kemiskinan sering kali juga berarti
hidup dalam alienasi, akses yang rendah terhadap kekuasaan, dan oleh
karena itu pilihan-pilihan hidup yang sempit dan pengap”.

Berdasar angka dan uraian di atas dapat diinterpretasikan, bahwa


kemampuan mereka untuk keluar dari permasalahan kemiskinan relatif sulit.
Pada kasus ini, pendapatan (hasil), keterampilan dan pendidikan yang
rendah merupakan suatu mata rantai. Keduanya saling berkaitan dan saling
berpengaruh. Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan pandangan dari Jalaludin
Rachmat (1999), bahwa produktivitas yang rendah, pendapatan yang rendah
menyebabkan pendidikan rendah. Pendidikan yang rendah mengakibatkan
kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah. Kualitas SDM yang
rendah menyebabkan produktivitas yang rendah dan terus begitu. Rangkaian
tersebut sering disebut sebagai vicious circle atau lingkaran setan
kemiskinan.
Dan ironis lagi masalah yang membelenggu kemiskinan ternyata
berkaitan juga dengan masalah social lainnya yaitu kesehatan.
Kemiskinan dan kesehatan, dua hal yang tidak terpisahkan.
Musuh terbesar dari kesehatan dalam membangun dunia adalah kemiskinan
itu sendiri. Seperti diungkapkan Kofi Annan dalam pidatonya sebagai
Sekjen PBB di World Health Assembly 2001, The biggest enemy of health
in the developing world, is poverty.
Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H dan Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, menetapkan bahwa setiap orang
berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Karena itu setiap individu,
keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap
kesehatannya, dan negara bertanggungjawab mengatur agar terpenuhi hak
hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak
mampu.
Kenyataan yang terjadi, derajat kesehatan masyarakat miskin
masih rendah, hal ini tergambarkan dari angka kematian bayi kelompok

3
masyarakat miskin tiga setengah sampai dengan empat kali lebih tinggi dari
kelompok masyarakat tidak miskin. Masyarakat miskin biasanya rentan
terhadap penyakit dan mudah terjadi penularan penyakit karena berbagai
kondisi seperti kurangnya kebersihan lingkungan dan perumahan yang
saling berhimpitan, perilaku hidup bersih masyarakat yang belum
membudaya, pengetahuan terhadap kesehatan dan pendidikan yang
umumnya masih rendah. Derajat kesehatan masyarakat miskin berdasarkan
indikator Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di
Indonesia, masih cukup tinggi, yaitu AKB sebesar 26,9 per 1000 kelahiran
hidup dan AKI sebesar 248 per 100.000 kelahiran hidup serta Umur
Harapan Hidup 70,5 Tahun (BPS 2007).
Derajat kesehatan masyarakat miskin yang masih rendah tersebut
diakibatkan karena sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Kesulitan
akses pelayanan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tidak adanya
kemampuan secara ekonomi dikarenakan biaya kesehatan memang mahal.
Peningkatan biaya kesehatan yang diakibatkan oleh berbagai faktor seperti
perubahan pola penyakit, perkembangan teknologi kesehatan dan
kedokteran, pola pembiayaan kesehatan berbasis pembayaran out of pocket,,
kondisi geografis yang sulit untuk menjangkau sarana kesehatan. Derajat
kesehatan yang rendah berpengaruh terhadap rendahnya produktifitas kerja
yang pada akhirnya menjadi beban masyarakat dan pemerintah.
Untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan
kesehatan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945,
sejak awal Agenda 100 hari Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu telah
berupaya untuk mengatasi hambatan dan kendala tersebut melalui
pelaksanaan kebijakan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Masyarakat Miskin. Program ini diselenggarakan oleh Departemen
Kesehatan melalui penugasan kepada PT Askes (Persero) berdasarkan SK
Nomor 1241/Menkes /SK/XI/2004, tentang penugasan PT Askes (Persero)
dalam pengelolaan program pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat
miskin.

4
Program ini telah berjalan memasuki tahun ke empat dan telah
banyak hasil yang dicapai terbukti dengan terjadinya kenaikan yang luar
biasa dari pemanfaatan program ini dari tahun ke tahun oleh masyarakat
miskin dan pemerintah telah meningkatkan jumlah masyarakat yang dijamin
maupun pendanaannya baik di pemerintah pusat maupun daerah.
Pembentukan Undang-Undang No 33/Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
dimaksudkan untuk mendukung pendanaan atas penyerahan urusan kepada
Pemerintahan Daerah yang diatur dalam Undang-Undang tentang
Pemerintahan Daerah. Pendanaan tersebut menganut prinsip money follows
function, yang mengandung makna bahwa pendanaan mengikuti fungsi
pemerintahan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab masing-masing
tingkat pemerintahan. Perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah mencakup pembagian keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah secara proporsional, demokratis, adil, dan
transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan Daerah.
Sebelum desentralisasi, alokasi anggaran kesehatan dilakukan
oleh pemerintah pusat dengan menggunakan model negosiasi ke propinsi-
propinsi. Ketika sifat Big-Bang kebijakan desentralisasi mengenai sektor
kesehatan, tiba-tiba terjadi apa yang disebut sebagai alokasi anggaran
pembangunan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang berbasis pada
formula.
Formula ini ditetapkan berbasis pada potensi penerimaan dan
kebutuhan fiskal oleh sebuah daerah. Dalam formula ini pembagian alokasi
anggaran tidak hanya ke propinsi saja tetapi sampai ke sekitar 400an lebih
kabupaten/kota di Indonesia. Sesuatu yang mengejutkan terjadi untuk sektor
kesehatan karena, di dalam formula DAU komponen kesehatan secara
implisit dianggap sudah masuk di dalamnya walaupun secara eksplisit tidak
ada. Akibatnya secara praktis sektor kesehatan harus berjuang di tiap-tiap
propinsi dan kabupaten/kota untuk mendapatkan anggaran. Hal ini
merupakan perkembangan baru untuk fungsi pemerintah daerah di sektor

5
kesehatan, yaitu harus merencanakan dan menganggarkan program
kesehatan dan bersaing dengan sektor lain untuk mendapatkannya.
Kultur negosiasi dalam alokasi anggaran masih kental, dan
menjadi lebih rumit dengan semakin kuatnya pengaruh anggota Dewan
Perwakilan Rakyat dalam menentukan kegiatan kesehatan pasca kebijakan
desentralisasi. Akibatnya berbagai ketidak-adilan, keanehan, dan ketidak-
puasan muncul dalam alokasi anggaran. Salah satu ketidak adilan adalah
ketika daerah-daerah yang miskin mendapat alokasi anggaran yang
bobotnya sama dengan daerah kaya. Sebagai gambaran praktis, dalam
alokasi dana kompensasi BBM, prinsip keadilan sosial perlu ditegakkan
dengan menggunakan formula dimana kekuatan fiskal pemerintah daerah
menjadi bobot penting. Bagi kabupaten kaya seperti di Bengkalis atau Kutai
Kartanegara, diharapkan mampu untuk membiayai masyarakat miskin di
daerahnya. Sementara itu bagi kabupaten miskin ini merupakan tantangan
besar tentang bagaimana pengelolaan Pendapatan Asli Daerah untuk bisa
mengikuti program program yang menjadi tuntutan di daerahnya.
Salah satunya adalah Kabupaten Karangasem yang terletak di
ujung timur Pulau Bali.
Kabupaten Karangasem merupakan satu satunya Daerah
tertinggal di Propinsi Bali dari 199 Kabupaten Tertinggal di Indonesia.
Dengan luas wilayah 839, 54 Km2 ( 14,90% dari luas Pulau Bali = 5.632,85
Km2 ) yang terdiri dari 8 ( delapan ) Kecamatan yaitu Kecamatan Kubu,
Abang, Karangasem, Manggis, Bebandem, Selat, Sidemen dan Rendang.
Secara geografis Kabupaten karangasem terletak pada 8°.00´.00´´
- 8°.41´.37,8´´ LS dan 115°.35´.9,8´´ - 115°.54´.8,9´´ Bujur Timur dengan
batas – batas sebagai berikut :
Di sebelah timur : Selat Lombok
Di sebelah selatan : Selat badung, Samudera Indonesia
Di sebelah utara : Laut Jawa
Di sebelah barat : Kab. Klungkung, Bangli dan Buleleng
Sebagian besar wilayah Kabupaten karangasem merupakan
daerah perbukitan dengan ketinggian lebih dari 100 m dia atas permukaan

6
laut. Dua daerah pegunungan dengan puncaknya di Gunung Agung dan
Gunung Seraya serta sebagian kecil lainnya berada pada ketinggian di
bawah 100 m di atas permukaan laut.
Berdasarkan data BPS Tahun 2004, tercatat jumlah penduduk
Kabupaten Karangasem adalah 389.576 jiwa yang terdiri atas :
- Laki – laki : 193.761 jiwa
- Perempuan : 195.815 jiwa
Kepadatan penduduk mencapai 464 Jiwa / Km2 dengan
pertumbuhan penduduk Tahun 1980 – 1990 + 0,89% dan Tahun 1990 –
2000 = 0,49%.
Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Karangasem Tahun 2005
adalah sebagai berikut :

Kecamatan Jumlah KK Miskin Prosentase


Kec. Kubu 4.177 KK 7,80 %
Kec. Karangasem 7.556 KK 27,06%
Kec. Bebandem 4.960 KK 15,08%
Kec. Selat 2.938 KK 12,64%
Kec. Rendang 1.708 KK 5,54%
Kec. Sidemen 2.130 KK 5,56%
Kec. Abang 6.458 KK 18,18%
Kec. Manggis 2.401 KK 8,05%

TOTAL 32.328 KK

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan


No.125/Menkes/SK/II/2008 Tanggal 6 Februari 2008 ditetapkan bahwa
Jumlah Masyarakat Miskin dan Tidak Mampu di Kabupaten Karangasem
yang mendapatkan Jaminan Kesehatan Masyarakat ( Jamkesmas ) adalah
41.826 Rumah Tangga Miskin ( RTM ) dengan jumlah anggota RTM
159.070 jiwa.
Jumlah tersebut masih kurang dibandingkan jumlah riil penduduk
Miskin di Karangasem. Selain itu terdapat juga perbedaan yang signifikan

7
terkait persyaratan atau kriteria kategori miskin dan tidak mampu. Misalnya
pada saat pendataan sebuah keluarga yang tergolong mampu tiba – tiba
setelah pendataan Kepala Keluarga tersebut jatuh sakit dan tidak bisa
bekerja lagi sehingga anggota keluarga yang menjadi tanggunganya tidak
dapat dinafkahi sehingga keluarga tersebut menjadi tidak mampu. Hal
dilematis seperti ini kerap terjadi, sehingga setelah program jamkesmas,
pemerintah Kabupaten Karangasem dalam hal ini eksekutif dan legislatif
sering mendapat keluhan dari masyarakat.
Menghadapi keluhan masyarakat tersebut, Pemerintah Kabupaten
Karangasem atas kebijakan Bupati Karangasem dan persetujuan DPRD
Kabupaten Karangasem melaksanakan program terpadu pelayanan
kesehatan Masyarakat tidak mampu melalui rekomendasi Surat Keterangan
Tidak Mampu ( SKTM ).
Program ini ternyata mendapat sambutan sangat baik dari
masyarakat Karangasem dan sangat membantu masyarakat Karangasem di
tengah himpitan ekonomi dan ketertinggalan.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka yang menjadi
perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Bagaimanakah strategi
Pemerintah Kabupaten Karangasem dalam membantu masyarakat miskin
dan tidak mampu melalui Surat Keterangan Tidak mampu ( SKTM ) di
Kabupaten Karangasem”

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana strategi yang dilakukan Pemerintah
Kabupaten Karangasem dalam mewujudkan dan menyukseskan
Program SKTM di Kabupaten Karangasem.
2. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan pelaksanaan, kendala
dan penyelesaian masalah masalah terkait program SKTM di
Kabupaten Karangasem.

8
3. Untuk mengetahui manfaat dan keuntungan yang di dapatkan
masyarakat atas program SKTM di Kabupaten Karangasem.

1.4 Kegunaan Penelitian


1. Bagi Mahasiswa
Untuk mengaplikasi ilmu yang diketahui dan ditekuni sekaligus
menanggapi suatu kejadian, mencari latar belakang masalah dan
memberikan sumbangan pemikiran serta pemecahannya.
2. Bagi Organisasi
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran bagi pihak pimpinan/pemegang keputusan dalam
mengambil suatu kebijakan dan kebijaksanaan untuk mewujudkan
program nyata yang menyentuh dan bisa membantu masyarakat
terutama masyakat tidak mampu untuk mewujudkan Masyarakat Adil
dan Makmur sesuai amanat Undang Undang Dasar 1945.
3. Bagi Fakultas Ekonomi Universitas Mahasaraswati
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai menambah referensi
bacaan ilmiah di perpustakaan dan nantinya diharapkan dapat dipakai
sebagai acuan bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi yang
sejenis dengan tepat.

BAB II
LANDASAN TEORI

9
2.1 Pengertian Kemiskinan
1. Pengertian Kemiskinan
2. Jenis jenis Kemiskinan
3. Faktor Penyebab Kemiskinan
4. Dampak Kemiskinan

2.2 Pengertian Kesehatan


1. Pengertian Kesehatan
2. Manfaat Kesehatan
3. Pentingnya Kesehatan

2.3 Hubungan Kemiskinan dan Kesehatan


1. Kesehatan Mempengaruhi Tingkat Kemiskinan
2. Kemiskinan Berpengaruh pada Pola Hidup Sehat

2.4 Tugas dan Peran Pemerintah ( Pusat ) di Bidang Kemiskinan dan


Kesehatan
1. Tugas dan Kewajiban Pemerintah dalam Mengentaskan
Kemiskinan dan Menjamin Kesehatan masyarakat
2. Peran serta Pemerintah dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan
dan Kesehatan
3. Program dan Kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah

2.5 Peran Serta Pemerintah Daerah dalam Program Pengentasan


Kemiskinan dan Jaminan Kesehatan
1. Pengertian Pemerintah Daerah
2. Pengertian Otonomi Daerah
3. Peran Serta Pemerintah Daerah dalam mendukung Pelaksanaan
Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin.
PROGRAM SKTM SEBAGAI KEBIJAKAN ALTERNATIF
PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI KABUPATEN KARANGASEM

10
PADA DINAS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KABUPATEN
KARANGASEM

SKRIPSI

OLEH :

NAMA : NI MADE AYU SUDARMIARI


NIM : 078.1033.1180626
PROGRAM STUDI : EKONOMI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MAHASARASWATI
DENPASAR
2009

11
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik, 1999. Penduduk Muskin (PoorPopulation). Berita Resmi


Statistik Penduduk Miskin No.04/Th.II/July, Jakarta:CBS.
Badan Pusat Statistik dan Departemen Sosial, 2002, Penduduk Fakir Miskin
Indonesia, BPS, Jakarta Indonesia
Elson, 1977, Economic Paradigms Old and New: The Case of Human
Development, in Culpeper, Roy, Albert Berry and Frances Stewart
(eds), Global Development Fifty Years after Bretton Woods: Essays
in Honour of Gerald K. Helleiner, London: Mac Millan Press.
Gunawan Sumodiningrat (1997), Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan
Masyarakat, Bina Rena Pariwara, Jakarta. Cet.2
Halwani, R.H., 1998. Paradigma Baru: Dapatkah Ekonomi Rakyat Memainkan
Peran Sentral. Dalam Sintesis, Jurnal dua Bulanan Center For
Inormation and Development Studies (CIDES) No.26 tahun ke 5
Jakarta.
Jalaludin, Rakhmat. (1999) Rekayasa Sosial, Reformasi atau Revolusi, Remaja
Rosdakarya, Bandung.
Kartasasmita, G., 1997. Kemiskinan. Balai Pustaka. Jakarta.
Mujiyadi. B. dan Gunawan (2000), Pemberdayaan Masyarakat miskin (Suatu
Kajian terhadap Masyarakatdi Sekitar Kawasan Industri) dalam
Informasi Vol .5 No. 1 Januari 2000. Balitbang Depsos RI. Jakarta.
Nasikun, 1995, Kemiskinan di Indonesia Menurun, dalam Perangkap
Kemiskinan, Problem, dan Strategi Pengentasannya, (Bagong
Suyanto, ed), Airlangga Univercity Press.
Poerwadarminta, WJS, 1976, Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN Balai Pustaka,
Jakarta.
Suharto, Edi, 2002, Coping Strategies Keluarga Miskin. Makalah Seminar
Kemiskinan di IPB tanggal 17 Desember 2002.
Suharto,Edi, 2003. Kemiskinan dan Keberfungsian Sosial, Studi Kasus Rumah
Tangga Miskin di Indonesia, STKS Bandung Press.
Usman Sunyoto, 1998, Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, cet. I ,
Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Verhagen, K. 1997. Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat, cet2,
Bina Rena Pariwara, Jakarta.

12