Anda di halaman 1dari 8

30/7/2014

PEMIKIRAN MACHIAVELLI TENTANG POLITIK dan KEKUASAAN

Kom pasiana

Kom pas.com

Berita

Home

Politik

Politik

Cetak

Humaniora

Politik

ePaper

Ekonomi

Kom pas TV

Hiburan

Bola

Olahraga

Entertainm ent

Lifestyle

Tekno

Wisata

Otom otif

Kesehatan

Fem ale

Tekno

Health

Media

Properti

Muda

Urbanesia

Green

Im ages

Jakarta

More

Fiksiana

Freez

REGISTRASI | MASUK

Artikel

Politik
FEATURED ARTICLE

Nicky Sapoetra
lebih suka jalan-jalan dan menulis sesuatu yang unik apa yang
pernah dilihat dan dialami dilingkungan selengkapnya

Kabinet Soeharto, Serpihan


Kenangan

Jadikan Tem an | Kirim Pesan

PEMIKIRAN MACHIAVELLI TENTANG


POLITIK dan KEKUASAAN
REP | 12 February 2013 | 13:41

Dibaca: 864

Komentar: 0

Mas Isharyanto

HEADLINE ARTICLES
Kampanye Wisata Thailands
Best
Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Sejarah Pemikiran Machiavelli tentang Politik dan Kekuasaan.


Saat itu keluarga Medici telah menetapkan depotisme yangt relative lunak yang
memberi mereka substansi kekuasaan, namun sementara itu mengizinkan bentukbentuk republikan yang lebih tua tetap ada. Tak satu pun dari keluarga Machiavelli yang
mendukung Medici. Ayahnya adalah ahli hukum (lawyer) dan ayahnya maupun
Machiavelli menganggap diri mereka sebagai republikan. Ia menenemukan ide-idenya
di Roma dan membaca karya tokoh-tokoh Yunani dalam terjemahan latin.
Machiavelli tumbuh dibawah hukum anggota dinasti Medici yang mendapat
gelar Lorenzo the Magnificent dari masyarakat Florentine, dan zaman Lorenzo sering
dilukiskan sebagai zaman Agustus dari Renaissance Italia. Lorenzo sendiri adalah
humanis terhormat, penyair dan menjadi panutan (patron) seniman maupun kalangan
terpelajar.
Pada saat itu Machiavelli adalah sebagai ahli teori dan figur utama dalam
realitas teori politik, ia sangat disegani di Eropa pada masa renaissance. Dua buku
yang terkenalnya adalah Discorsi sopra la prima deca di tito livio (Diskursus tentang
Livio) dan II Principe (Sang Pangeran), awalnya ditulis sebagai harapan untuk
memperbaiki kondisi pemerintahan di Italia Utara, kemudian menjadi buku umum
dalam berpolitik dimasa itu, karena karya Machiavelli sendiri lebih berakar dalam pada
zamannya karena ia bukan contoh pertama penulis atau pakar teori, melaikan
partisipan aktif dalam kehidupan politik yang tak stabil dan kacau di tempat asalnya
Florence. Ketika itu terjadi pergolakan terus-menerus dengan kota-kota lebih kecil,
sebagaimana Florence melawan Pisa, yang sering mengakibatkan perang terbuka.
Machiavelli (Trijaji, 2008: 175)

Lebaran di Jerman dengan


Salad
Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di


Moskow (Jika
Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus?

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di


Kunjungi, Serta
Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46

TRENDING ARTICLES
Pijat Ala Dubai International
Airport
Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap


Banyak Pada Jokowi
Bam bang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan


Kaos Kompasiana
Topik Iraw an | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi


Amerika
Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

II Principe, atau Sang Penguasa menguraikan tindakan yang bisa atau perlu
dilakukan seseorang untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan. Nama
Machiavelli, kemudian disosiasikan dengan hal yang buruk yaitu, untuk menghalalkan
cara untuk mencapai tujuan Trijaji (2008: 175). Orang yang melakukan tindakan ini
disebut Makiavelis.

Dari Tahun Ketahun Tak


Pernah
Rere | 28 July 2014 13:56

INFO & PENGUMUMAN

http://politik.kompasiana.com/2013/02/12/pemikiran-machiavelli-tentang-politik-dan-kekuasaan-404558.html

KONTAK KOMPASIANA

1/8

30/7/2014

PEMIKIRAN MACHIAVELLI TENTANG POLITIK dan KEKUASAAN


INDEX

Teori Politik Kekuasaan Niccolo Machiavelli.

Pemenang Laporan Kompasianer dari TPS

Sebagaimana telah dicatat sebelumnnya, teori politik kekuasaan Niccolo Machiavelli


dapat dilihat sebagai penanda transisi dari dunia kuno ke modern yang sangat
kontroversi. Melalui karyanya yang berjudul The Prince tahun 1513 ia sering dituduh
gurunya kejahatan karena nasehat-nasehatnya yang amoral.
Isi dari teori Machaivelli ( Skinner,1985:4) sebagai berikut.
a. Untuk melakukannya, seorang penguasa yang bijak hendaknya mengikuti jalur
yang dikedepankan berdasarkan kebutuhan, kejayaan, dan kebaikan Negara.
Hanya memadukan machismo semangat keprajuritan, dan pertimbangan politik,
seorang penguasa barulah dapat memenuhi kewajiban kepada Negara
mencapai keabadian sejarah.
b. Penguasa bijak hendaknya memiliki hal-hal sebagai berikut
1) Sebuah kemampuan untuk menjadi baik sekaligus buruk, baik dicintai
maupun di benci
2) Watak-watak, seperti ketegasaan, kekejaman,kemandirian, disiplin, dan
control diri.
3) Sebuah reputasi menyangkut kemurahan hati,pengampunan, dapat
dipercaya dan tulus.

Inilah Pemenang Blog Competition Sosok


Ramadhan Seru Bersama Kanal Tebar

TERAKTUAL
INSPIRATIF
Master Puzzle Rubric Media Kompasiana
Penampilan Bisa Menipu. Yang Salah Siapa?
Onomatope (2)
Kasih
Sunyiku Gempita
Berhijab Bukan Sebuah Pelarian
Senandung Ilalang Bukit Prampelan
Bisnis Bukan Hanya Soal Memenangi Persaingan,
Tetapi Juga
Guru dan Motivasi
Sontoloyo Mampu Mematahkan Teman Pak Ketum
BERMANFAAT
MENARIK
Subscribe and Follow Kompasiana:

a. Seorang pangeran harus berani untuk melakukan apapun yang diperlukan,


betapa pun tampak tercela karena rakyat pada akhirnya hanya peduli dengan
hasilnya, yaitu kebaikan Negara.
Metode-Metode Pemerintahan yang Efektif dalam Beberapa bentuk
Kepenguasaan
Untuk mencapai sukses, seorang penguasa harus dikelilingi dengan menterimenteri yang mampu dan setia, Machiavelli memperingatkan penguasa agar
menjauhkan diri dari penjilat dan minta pendapat apa yang layak dilakukan. seorang
penguasa yang cermat tidak harus memegang kepercayaannya jika pekerjaan itu
berlawanan dengan kepentingannya.
Dia menambahkan, Karena tidak ada dasar resmi yang menyalahkan
seorang Penguasa yang minta maaf karena dia tidak memenuhi janjinya, karena
manusia itu begitu sederhana dan mudah mematuhi kebutuhan-kebutuhan
yang diperlukannya saat itu, dan bahwa seorang yang menipu selalu akan
menemukan
orang
yang
mengijinkan
dirinya
ditipu.
http://media.isnet.org/iptek/index/Machiavelli.html.
Sebagai hasil wajar dari pandangan itu, Machiavelli menasihatkan sang
penguasa supaya senantiasa waspada terhadap janji-janji orang lain.
The Prince (Sang Pangeran) sering dijuluki orang buku petunjuk untuk para
diktator. Karier Machiavelli dan berbagai tulisannya menunjukkan bahwa secara umum
dia cenderung kepada bentuk pemerintahan republik ketimbang pemerintahan diktator.
Machiavelli berpendapat bahwa nilai-nilai yang tinggi, atau yang dianggap tinggi,
adalah berhubungan dengan kehidupan dunia, dan ini dipersempit pula hingga
kemasyhuran, kemegahan, dan kekuasan belaka. Machiavelli menolak adanya hukum
alam, yang seperti telah diketahui adalah hukum yang berlaku untuk manusia sejagat
dan sesuai dengan sifat hukum, mengikat serta menguasai manusia. Machiavelli
menolak ini dengan mengemukakan bahwa kepatuhan pada hukum tersebut, malah
juga pada hukum apapun pada umumnya bergantung pada soal-soal apakah
kepatuhan ini sesuai dengan nilai-nilai kemegahan, kekuasaan, dan kemsyhuran yang
baginya merupakan nilai-nilai tinggi. Bahkan menurut pendapatnya inilah kebajikan.
http://politik.kompasiana.com/2013/02/12/pemikiran-machiavelli-tentang-politik-dan-kekuasaan-404558.html

2/8

30/7/2014

PEMIKIRAN MACHIAVELLI TENTANG POLITIK dan KEKUASAAN

Machiavelli mengatakan bahwa untuk suksesnya seseorang, kalau memang


diperlukan, maka gejala seperti penipuan dibenarkan. Misalnya, ia mengakui bahwa
agama mendidik manusia menjadi patuh, dan oleh sebab kepatuhan ini perlu untuk
suksesnya seorang yang berkuasa, maka perlulah agama tadi. Jadi agama itu
diperlukan sebagai alat kepatuhan, bukan karena nilai-nilai yang dikandung agama itu.
Menurut Deliar Noer, kita jangan tergesa-gesa mengecap Machiavelli seperti
digambarkan diatas. Memang Machiavelli mengemukakan hal-hal tersebut,
tetapi ini dalam pengertian tertentu, yaitu mengenai keamiran atau
kepangeranan, yaitu bentuk negara yang telah korup, yang tidak akan mungkin
lagi kecuali dengan kemauan, ketabahan dan ketekunan serta kelihaian
seorang pemimpin. http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agamafilsafat/gagasan-gagasan-politik-machiavelli.html
Jadi dapat kami simpulkan bahwa penipuan itu dilakukan terhadap musuh yang
dianggap dari negara atau penguasa tersebut yang dianggap mengganggu
kekuasaan.
Gagasan kekuasaan machiavelli patut dikaji setidaknya karena dua alasan,
yaitu :
1. Gagasannya telah menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering bagi banyak
penguasa sejak awal gagasan itu dipopulerkan sampai abad XX.
Banyak negarawan dan penguasa dunia yang secara sembunyi atau terus terang
mengakui telah menjadikan buku Machiavelli itu sebagai hand book (buku
pegangan) mereka dalam memperoleh dan mempertahankan kekuasaannya.
Misalnya Hitler dan Mussolini. Gagasan yang sama telah menjadi basis intelektual
bagi pelaksanaan diplomasi kaum realis (realisme). Realisme sebagai suatu aliran
penting dalam kajian diplomasi internasional, banyak mendasarkan asumsinya
pada pemikiran kekuasaan Machiavelli.
2. Dari pespektif sejarah pemikiran politik, gagasannya itu merupakan pemutusan
hubungan total masa kini dengan masa lalu, suatu ciri penting Abad Renaisans.
Berbeda dengan para pemikir abad Pertengahan seperti Santo Agustinus dan
Thomas Aquinas yang mengaitkan kekuasaan dan negara dengan agama dan
Tuhan maupun moralitas, Machiavelli justru berpendapat bahwa kekuasaan
hendaknya dipisahkan dari semua itu. Tidak ada kaitan atau relevansi antara
kekuasaan dengan teologi Kristen, kecuali sejauh agaman atau moral itu memiliki
nilai utilitarianisme bagi kekuasaan dan negara.
Tidak seperti pemikir Abad Pertengahan, Machiavelli melihat kekuasaan
sebagai tujuan itu sendiri. Ia menyangkal asumsi bahwa kekuasaan adalah alat atau
instrumen belaka untuk mempertahankan nilai-nilai moralitas, etika atau agama. Bagi
Machiavelli segala kebajikan, agama, moralitas justru harus dijadikan alat untuk
memperoleh dan memperbesar kekuasaan. Bukan sebaliknya. Jadi kekuasaan
haruslah diperoleh, digunakan, dan dipertahankan semata-mata demi kekuasaan itu
sendiri. Dengan pandangannya itu, Machiavelli menolak tegas doktrin Aquinas tentang
gambaran penguasa yang baik. Aquinas dalam karyanya The Government of Princes
berpendapat bahwa penguasa yang baik harus menghindari godaan kejayaan dan
kekayaan-kekayaan duniawi agar memperoleh ganjaran syurgawi kelak. Bagi
Machiavelli justru terbalik, penguasa yang baik harus berusaha mengejar kekayaan
dan kejayaan karena keduanya merupakan nasib mujur yang dimiliki seorang
penguasa.
Bagi Machiavelli kekuasaan adalah raison detre negara (state). Negara juga
merupakan simbolisasi tertinggi kekuasaan politik yang sifatnya mencakup semua (all
embracing) dan mutlak. Bertolak dari pandangan-pandangan Machiavelli di atas
beberapa sarjana berpendapat bahwa Machiavelli memiliki obsesi terhadap negara
http://politik.kompasiana.com/2013/02/12/pemikiran-machiavelli-tentang-politik-dan-kekuasaan-404558.html

3/8

30/7/2014

PEMIKIRAN MACHIAVELLI TENTANG POLITIK dan KEKUASAAN

kekuasaan (maachstaat) dimana yang kedaulatan tertinggi terletak pada kekuasaan


penguasa dan bukan rakyat dan prinsip-prinsip hukum.
Dalam kaitannya dengan kekuasaan seorang penguasa, Machiavelli
membahas perebutan kekuasaan (kerajaan). Bila seorang penguasa berhasil merebut
suatu kerajaan maka ada cara memerintah dan mempertahankan negara yang baru
saja direbut itu.
1. Memusnahkannya sama sekali dengan membumihanguskan negara dan membunuh
seluruh keluarga penguasa lama. Tidak boleh ada yang tersisa dari keluarga
penguasa lama sebab hal itu akan menimbulkan benih-benih ancaman terhadap
penguasa baru suatu saat kelak.
2. Dengan melakukan kolobisasi, mendirikan pemukiman-pemukiman baru dan
menempatkan sejumlah besar pasukan infantri di wilayah koloni serta menjalin
hubungan baik dengan negara-negara tetangga terdekat. Cara kolonisasi pernah
dilakukan bangsa Romawi.
Dari kedua cara itu menurut Machiavelli cara pertama adalah cara yang paling
efektif meski bertentangan dengan aturan moralitas.
Dalam The Prince, Machiavelli juga menguraikan bahwa mereka yang menjadi
penguasa lewat cara-cara keji, kejam, dan jahat tidaklah dapat disebut memperoleh
kekuasaan berdasarkan kebajikan (virtue) dan nasib baik (fortune). Cara itu seperti
dipraktekkan Agathocles yang membunuh secara biadab senator Syarcuse demi
menduduki tahta kekuasaan, memang bisa menjadikan mereka penguasa negara.
Tetapi kata Machiavelli penguasa itu tidak akan dihormati dan dipuja sebagai
pahlawan. Apalagi setelah berkuasa ia menjadikan kekerasan, kekejaman dan
perbuatan keji lainnya sebagai bagian dari kehidupan politik sehari-hari. Machiavelli
menyimpulkan bahwa cara-cara itu hanya akan menjadikan sang penguasa berkuasa
tetapi tidak menjadikannya terhormat, pahlawan atau orang besar.
Machiavelli menyarankan kalaupun seorang penguasa boleh melakukan
kekejaman dan menggunakan cara binatang hendaknya dilakukan tidak terlalu sering.
Setelah melakukan tindakan itu, ia harus bisa mencari simpati dan dukungan rakyatnya
dan selalu berjuang demi kebahagiaan mereka. Dia juga harus berusaha agar selalu
membuat rakyat tergantung kepadanya. Kearifan dan kasih sayang terhadap rakyat,
kata Machiavelli , akan bisa meredam kemungkinan timbulnya pembangkangan.
Penguasa yang dicintai rakyatnya tidak perlu takut terhadap pembangkangan sosial.
Inilah menurut Machiavelli usaha yang paling penting yang harus dilakukan seorang
penguasa.
Dalam sejarah agama kuno, menurut machiavelli, hanya nabi-nabi bersenjata
(the armed prophets) dan memiliki kekuatan militer yang berhasil memperjuangkan
misi kenabiannya. Sedangkan para nabi yang tidak bersenjata, betapa baik dan
sakralnya misi yang mereka bawa, akan mengalami kekalahan karena tidak memiliki
kekuatan militer . Atas dasar asumsi itu machiavelli menilai keberadaan angkatan
perang yang kuat sebagai suatu keharusan yang dimilki negara. Machiavelli menyadari
benar akan pentingnya angkatan bersenjata bagi seorang penguasa negara. Angkatan
bersenjata, menurut Machiavelli merupakan basis penting seorang penguasa negara.
Ia merupakan manifestasi nyata kekuasaan negara. Penguasa yang tidak memiliki
tentara sendiri akan mudah goyah dan diruntuhkan kekuasaannya. Menurut Machiavelli
sungguh berbahaya menggunakan tentara sewaan. Kalau seorang penguasa
mengandalkan tentara sewaan, ketenangan dan keamanan negara tidak bisa dijamin.
Negara mudah goyah. Machiavelli menyebutkan alasan-alasan mengapa demikian.
Tentara sewaan katanya tidak bisa disatukan, haus akan kekuasaan, tidak berdisiplin,
tidak setia kepada penguasa (yang menyewa mereka), tidak memiliki rasa takut
kepada Tuhan, tidak memiliki tanggung jawab, tidak setia terhadap sesama rekan
http://politik.kompasiana.com/2013/02/12/pemikiran-machiavelli-tentang-politik-dan-kekuasaan-404558.html

4/8

30/7/2014

PEMIKIRAN MACHIAVELLI TENTANG POLITIK dan KEKUASAAN

mereka, dan menghindarkan diri dari peperangan.


Kehancuran Italia pad masa hidup Machiavelli adalah karena negaranya
mengandalkan tentara sewaan itu selama bertahun-tahun dan tidak memiliki tentara
sendiri. Pengalaman sejarah membuktikan hanya para penguasa dan negara republik
yang memiliki tentara kuat berhasil baik, dan penggunaan tentara bayaran hanya
mendatangkan kekalahan. Sejarah Romawi dan Sparta menunjukkan kebenaran
pendapat itu. Kedua negara itu mampu bertahan karena memiliki tentara sendiri,
sedangkan negara Chartago dikalahkan karena tidak memiliki tentara sendiri dan
mengandalkan tentara bayaran.
Gagasan Machiavelli ini, menurut hemat saya merupakan refleksi pengalaman
pribadinya menyaksikan pengkhianatan pemimpin tentara bayaran Vitelli terhadap
negaranya.
Begitu pentingnya militer bagi suatu negara dan usaha mempertahankan
kekuasaan, maka penguasa harus menjadikan keahlian kemiliteran sebagai barang
miliknya yang paling berharga. Ia juga harus senantiasa belajar ilmu perang dan
bertempur. Oleh karena itu seorang penguasa tidak boleh lengah untuk selalu
memikirkan dan melatih dirinya dalam latihan perang dan kemiliteran (exercise of war).
Intensitasnya melakukan latihan perang di masa damai harus lebih besar daripada di
masa perang. Saat-saat damai hendaknya dijadikan persiapan untuk menghadapi
perang. Tidak ada perdamaian tanpa persiapan matang untuk perang.
Dalam latihan perang, penguasa dan tentaranya harus selalu disiplin dan
terbiasa hidup dengan cara keras. Dengan demikian tubuhnya akan terbiasa dengan
penderitaan. Untuk memenangkan peperengan mereka harus mengetahui ilmu tntang
alam, tanah, dan sungai-sungai. Maka dalam latihan perang tercakup pelajaran
mengenai strategi bagaimana bisa tetap hidup (how to survive), mendaki gunung dan
lembah, menyusuri sungai-sungai dan rawa-rawa. Semua pengetahuan ini menurut
Machiavelli penting setidaknya untuk dua hal.
1. Tentara dan penguasa mengetahui persis keadaan negaranya.
2. Mengerti cara bagaimana mempertahankannya dari serangan musuh.
Dengan memiliki pengetahuan dan pengalaman menjelajahi bukit, gunung dan
menyusuri sungai maupun rawa-rawa pada suatu bagian tertentu di negaranya, maka
ia akan memahami kawasan-kawasan lain yang memiliki karakteristik serupa dengan
kawasan yang dipelajari dan ditelusurinya itu. Dengan mengetahui satu wilayah, ia
akan mudah memahami wilayah-wilayah di negara lainnya. Dengan memiliki
pengetahuan itu juga tentara dan penguasa akan mudah menemukan musuh-musuhnya
dan merebut markas-markas tentara yang dikuasai musuh-musuh mereka.
Untuk memahami segala seluk beluk mengenai perang dan tentara, Machiavelli
juga menyarankan kepada penguasa agar selalu belajar dari pengalaman penguasa
atau kaisar-kaisar lain di masa lalu. Misalnya mempelajari bagaimana cara bertempur
yang baik, mempertahankan diri dari serangan musuh, melakukan serangan balasan
yang efektif dan cara-cara bagaimana mereka memenangkan suatu peperangan dan
sebagainya. Seorang penguasa tidak perlu malu-malu untuk mencontoh keberhasilankeberhasilan mereka. Menurut Machiavelli, cara belajar demikianlah yang dilakukan
Alexander Agung yang mencontoh Achilles, Caesar dan Scipio Syrus. Inilah
sumbangan penting pemikiran Machiavelli bagi perkembangan teori-teori perang dan
kemiliteran.
The Prince juga menguraikan tentang perlunya penguasa mempelajari sifat-sifat
terpuji dan yang tak terpuji. Dia harus berani melakukan tindakan tidak terpuji kejam,
bengis, khianat, kikir asalkan itu baik bagi negara dan kekuasaannya. Untuk
http://politik.kompasiana.com/2013/02/12/pemikiran-machiavelli-tentang-politik-dan-kekuasaan-404558.html

5/8

30/7/2014

PEMIKIRAN MACHIAVELLI TENTANG POLITIK dan KEKUASAAN

mencapai tujuan, cara apapun bisa digunakan (the ends justify the means). Oleh
karena itu penguasa tidak perlu takut untuk tidak dicintai,asalkan ia tidak dibenci
rakyat.
Dengan kata lain, penguasa harus pandai-pandai menggunakan cara-cara
manusia dan cara binatang bila saat-saat tertentu dibutuhkan. Asumsi ini muncul di
benak Machiavelli karena menurutnya manusia memiliki dua sifat yang bertentangan,
yaitu sifat manusia tulus, penyayang, baik, pemurah, tetapi juga memiliki sifat-sifat
binatang atau sifat tak terpuji, jahat, kikir, bengis, dan kejam. Kedua sifat manusia yang
paradoksal ini membawa implikasi terhadap cara menangani persoalan politik. Cara
penanganan persoalan politik dengan cara manusia, misalnya lewat prosedur hukum
dan pengadilan, tidak efektif tanpa disertai cra binatang. Tetapi bisa terjadi
sebaliknya, cara binatang juga tidak efektif tanpa menggunakan cara manusia. Kedua
cara itu ibarat two sides of the same coin (dua sisi pada satu koin yang sama).
Machiavelli berpendapat bahwa penguasa negara bisa menggunakan cara
binatang, terutama ketika menghadapi lawan-lawan politiknya. Dalam The Prince
dikemukakan bahwa seorang penguasa bisa menjadi singa (lion) di satu saat, dan
menjadi rubah (fox) di saat lainnya. Menghadapi musuhnya yang ganas bagai seekor
serigala, penguasa hendaknya bisa berperangai seperti singa, karena dengan cara
itulah ia bisa mengalahkan lawannya. Tetapi penguasa harus bersikap seperti rubah
bila lawan yang dihadapinya adalah perangkap-perangkap musuh. Bukan singa yang
mampu mengendus perangkap-perangkap itu, melainkan rubah. Rubah amat peka
dengan perangkap yang akan menjerat dirinya.
Bertitik tolak dari premis itu, Machiavelli berpendapat bahwa seorang penguasa ideal
adalah Archilles yang belajar jadi penguasa dari Chiron. Chiron adalah mahluk
berkepala manusia berbadan dan berkaki kuda dalam mitologi Yunani kuno. Artinya,
seorang penguasa harus memiliki watak manusia dan watak kebinatangan pada saat
yang sama. Machiavelli menulis bahwa dengan belajar dari mahluk seperti Chiron,
penguasa diharapkan bisa mengetahui bagaimana menggunakan sifat manusia dan
sifat binatang. Menggunakan salah satu cara berkuasa tanpa cara lainnya tidak akan
berhasil.
Tentang Machiavelli dan Nasihat Machiavelli dalam Politik dan Kekuasaan
Niccolo Machiavelli adalah seorang diplomat dan politikus Italia dan juga seorang filsuf.
Selain itu juga dia dikenal sebagai penulis esai, sejarawan, penulis biografi, naskah
drama, novel, serta puisi. Trijali (2008: 173)
Machiavelli lahir tanggal 3 Mei 1469 di Florence, Italia, keturunan keluarga kuno
Tuscan. Ayahnya adalah seorang dokter dibidang hukum. Beliau menikah dengan
Marietta Corsini tahun 1501, dan punya lima anak selain itu juga Machiavelli belajar
pada beberapa guru.
Niccolo Machiavelli, termasyhur karena nasihatnya yang blak-blakan bahwa:
Seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya
haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan
penggunaan
kekejaman
penggunaan
kekuatan
http://media.isnet.org/iptek/index/Machiavelli.html.
The Prince dapat dianggap nasihat praktek terpenting buat seorang kepada negara.
Pikiran dasar buku ini adalah, untuk suatu keberhasilan, seorang Penguasa harus
mengabaikan pertimbangan moral sepenuhnya dan mengandalkan segala, sesuatunya
atas kekuatan dan kelicikan. Machiavelli menekankan di atas segala-galanya yang
terpenting adalah suatu negara mesti dipersenjatai dengan baik. Dia berpendapat,
hanya dengan tentara yang diwajibkan dari warga negara itu sendiri yang bisa
dipercaya; negara yang bergantung pada tentara bayaran atau tentara dari negeri lain
http://politik.kompasiana.com/2013/02/12/pemikiran-machiavelli-tentang-politik-dan-kekuasaan-404558.html

6/8

30/7/2014

PEMIKIRAN MACHIAVELLI TENTANG POLITIK dan KEKUASAAN

adalah lemah dan berbahaya.


Machiavelli menasihatkan sang Pangeran agar dapat dukungan penduduk, karena
kalau tidak, dia tidak punya sumber menghadapi kesulitan. Tentu, Machiavelli maklum
bahwa kadangkala seorang penguasa baru, untuk memperkokoh kekuasaannya, harus
berbuat sesuatu untuk mengamankan kekuasaannya, terpaksa berbuat yang tidak
menyenangkan warganya. Dia usul, meski begitu untuk merebut sesuatu negara, si
penakluk mesti mengatur langkah kekejaman sekaligus sehingga tidak perlu mereka
alami tiap hari kelonggaran harus diberikan sedikit demi sedikit sehingga mereka bisa
merasa senang.
Untuk mencapai sukses, seorang Pangeran harus dikelilingi dengan menteri-menteri
yang mampu dan setia Machiavelli memperingatkan Pangeran agar menjauhkan diri
dari penjilat dan minta pendapat apa yang layak dilakukan. Menurut Asvi Warman
Adam bahwa Sejarah mengajarkan kepada kita apa yang tidak dapat kita lihat, untuk
memperkenalkan kita kepada penglihatan yang kabur sejak kita lahir. Wineburg
(2006: vii) Namun menurut kami tujuan dari sejarah mengajarkan kita sebuah cara
menentukan pilihan untuk memptertimbangkan berbagai pendapat untuk membawakan
berbagai kisah dan meragukan sendiri bila perlu kisah-kisah yang kita bawakan.
REFERENSI
Machiavelli, Niccolo. (2008). THE PRINCE Sang Penguasa diterjemahkan Natalia
Trijaji. Surabaya: Selasar Surabaya Publishing.
Sjamsuddin, helius. (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak
Supardan, Dadang. (2008). Pengantar Ilmu Sosial Sebuah Kajian Pendekatan
Struktural. Jakarta: Bumi Aksara.
Syam, Firdaus. (2007). PEMIKIRAN POLITIK BARAT Sejarah, Filsafat, Ideologi, dan
Pengaruhnya Terhadap Dunia Ke-3. Jakarta: Bumi Aksara.
Wineburg, Sam. Berfikir Historis Memetakan Masa Depan, Mengajarkan Masa Lalu
diterjemahkan Marsi Maris. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Sumber Internet:
Michael H. Hart. (1978). Seratus Tokoh yang Berpengaruh dalam Sejarah,
Terjemahan

H.

Mahbub

Djunaidi,

1982.

[Online].

Tersedia:

http://media.isnet.org/iptek/100/index/Machiavelli.html [30 Maret 2009]


Zifana, Mahardhika. (2008) Gagasan-Gagasan Politik Machiavelli. [Online]. Tersedia:
http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/gagasangagasan-politik-machiavelli.html [30 Maret 2009]
Tags:
Tw eet

Recommend

Laporkan Tanggapi

11

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana


menjadi tanggung jawab Penulis.

Siapa yang menilai tulisan ini?

http://politik.kompasiana.com/2013/02/12/pemikiran-machiavelli-tentang-politik-dan-kekuasaan-404558.html

7/8

30/7/2014

PEMIKIRAN MACHIAVELLI TENTANG POLITIK dan KEKUASAAN

Artikel ini belum ada yang menilai.


KOMENTAR BERDASARKAN : TANGGAL

Tulis Tanggapan Anda

Submit

Cancel

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar
2008-2014

http://politik.kompasiana.com/2013/02/12/pemikiran-machiavelli-tentang-politik-dan-kekuasaan-404558.html

8/8