Anda di halaman 1dari 8

KARAKTERISTIK HAMBA ALLAH

.

.




.
:
Wattaquu yaumaan turjauuna fiihi ilallaahi tsumma tuwwaffaa kullu nafsim
maakatsabat wahum laayudzlamuun
Syukur Alhamdulillah, kita panjatkan kepada Allah SWT, karena taufik, hidayah dan
inayah-Nya, dan Insya Allah dengan ridha-Nya pula pada siang hari ini kita dapat
meninggalkan berbagai macam aktivitas keseharian, kita peruntukkan memenuhi
panggilan Allah SWT melaksanakan shalat Jumat dengan segala rangkaiannya.
Mudah-mudahan ibadah yang sudah kita lakukan dan yang akan kita lakukan mampu
mengangkat kita menjadi orang yang benar-benar taqwallah.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabatnya, dan kaum muslimin yang
mengikuti petunjuknya.
Sebagai khotib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan para jamaah sekalian,
marilah kita terus menerus berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan
kepada Allah SWT dengan menunaikan segala perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya. Marilah kita selalu meningkatkan kewaspadaan, agar kita tidak mudah
terperdaya oleh rayuan syetan dan bujukan hawa nafsu yang akan merobek-robek
keimanan dan menggelincirkan kita ke dalam kenistaan dan kebinasaan. Semoga kita
termasuk dalam golongan hamba Allah yang bertaqwa, yang mendapatkan
kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat kelak, amin.

Pada kesempatan ini, saya akan menyampaikan khutbah jumat dengan tema
Karakteristik Hamba Allah
Jamaah Jumah Rahimakumullah
Pada saat kita duduk bertafakur, berzikir, dan beritikaf, marilah kita merenungkan
sebuah kata yang sudah kita kenali bersama yaitu kata Abdullah yang berarti hamba
Allah. Tidak sedikit jumlahnya orang-orang yang mengaku sebagai hamba Allah.
Tetapi apakah pengakuan itu sudah sesuai dengan kenyataannya? Apakah amaliyah
kita, perkataan kita, sikap kita sudah sesuai dengan yang dikehendaki Allah?
Jamaah Jumah Rahimakumullah
Pada kesempatan ini marilah kita cermati kembali petunjuk Allah SWT tentang
karakteristik/sifat-sifat hamba Allah yang terabadikan dalam Al Quranul Karim Surat
Al Furqan ayat 6374. Sifat-sifat hamba Allah yang utama adalah :
1. Sifat rendah hati
Allazina yamsyuuna alal ardhi haonaa
Orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati (Al Furqan: 63)
Ialah ketika mereka berjalan di muka bumi dengan sifat kesederhanaan, jauh dari
sifat kesombongan, langkahnya tetap dan teratur tidak dibuat-buat karena ingin
menarik perhatian orang lain.
Kesempurnaan fisik yang dimiliki, fasilitas hidup yang diperoleh, predikat-predikat
keilmuan yang dimiliki sedikitpun tidak mendorongnya untuk menyombongkan
diri. Justru semakin banyak fasilitas Allah yang diberikan kepadanya, dia semakin
tunduk, bak ilmu padi semakin berisi semakin menunduk.
Karena kesombongan hanya akan mendatangkan kebencian manusia, kebencian
malaikat, dan kebencian Allah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah
SWT :
Innallaaha laa yuhibbu man kaana muchtaalaan fachuuraa
Artinya :
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri (QS. An Nisa; 36)
Jamaah Jumah Rahimakumullah
2. Sifat membalas perkataan jelek orang dengan perkataan keselamatan dan
perdamaian.

Waidzaa chaathabahumuljaahiluuna qaaluu salaamaa


Bila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang
baik (QS. Al Furqan: 63)
Sebagai bukti bahwa seseorang itu benar-benar hamba Allah, ialah bila ia
menerima perkataan-perkataan yang tidak senonoh, dari orang-orang yang tidak
mengerti (Al Jahilun). Dia tidak membalas dengan perkataan jelek pula, tetapi
justru dia memberikan jawaban yang bernilai perdamaian, keselamatan. Sebab bila
ia memberikan jawaban yang seimbang jeleknya, berarti pada hatinya mempunyai
simpanan kejelekan pula.
Alkisah, pada suatu ketika Nabi Isa AS dicaci maki habis-habisan oleh kaumnya.
Beliau memberikan jawaban dengan kalimat yang penuh dengan mutiara-mutiara
berharga, seolah-olah tidak pernah menerima perlakuan yang jelek dai kaumnya.
Menyaksikan kejadian yang kontradiksi ini, seorang pengikut Nabi Isa
bertanya:Wahai Nabi Isa, engkau menerima perlakuan yang tidak senonoh dari
kaummu, mengapa engkau memberikan jawaban yang sebaik itu? Nabi Isa
menjawab:Bagaimana mungkin saya mengucapkan kalimat yang kotor atau keji,
karena dalam hatiku tidak ada kalimat yang kotor dan keji itu. Coba mari kita
renungkan ungkapan Nabi Isa AS tersebut.
3. Suka melakukan shalat malam
Walladziina yabiituuna lirabbihim sujjadawwqiyaamaan
Orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan
mereka. (QS. Al Furqan: 64)
Sebagai hamba Allah harus sanggup menggunakan malam untuk evaluasi semua
amal yang dilakukan hari itu sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Karena
dengan shalat malam jiwa menjadi bersih dan suci, hati menjadi tenang, iman
semakin kokoh kuat, dosa-dosa terampuni, rahmat Allah ditaburkan kepadanya.
Jamaah Jumah Rahimakumullah
4. Suka berdoa memohon ampun kepada Allah dan berperilaku terpuji
Walladziina yaquuluuna rabbanaashrif annaa adzaaba jahannama inna
adzaabaha kaana gharaamaa.
Dan orang-orang yang berkata: ya Tuhan kami jauhkanlah kami dari azab
jahannam, sesungguhnya azab jahannam adalah kebinasaan yang kekal (QS. Al
Furqan: 65)

Neraka adalah sebagai balasan dari perbuatan yang tidak terpuji. Maka sebagai
konsekwensi logis hamba Allah, ia harus sanggup melakukan amal perbuatan yang
terpuji. Karena dengan amal yang terpuji bagi Allah, pasti dia akan terhindar dari
siksa neraka jahannam. Jelasnya antara berdoa mohon dijauhkan dari siksa neraka
dengan usaha lahiriyah harus sinkron.
5. Sederhana dalam membelanjakan harta
Walladziina anfaquu lam yusrifuu walam yaqtuuru wakaana bayina dzaalika
qawaamaa
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebihlebihan dan tidak pula kikir dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara
yang demikian (QS. Al Furqan: 67).
Israf dan bakhil dua sifat negatif yang seharusnya tidak dimiliki oleh seseorang
yang menamakan diri sebagai hamba Allah. Israf mengakibatkan harta
dikonsumsikan tidak tepat sasaran, mengakibatkan harta kekayaan musnah,
demikian pula kikir/bakhil mengakibatkan banyak orang menderita.
Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda:
Attadabburu nisfulmaiyysyah
Perencanaan dalam membelanjakan harta itu separuh dari penghidupan.
Jamaah Jumah Rahimakumullah
6. Menjauhi dosa-dosa besar seperti syirik, membunuh, dan zina
Kalau pada ayat 68 surat Al Furqan Allah SWT menunjuk tiga macam dosa besar
yang harus dijauhi oleh orang yang pantas menjadi hamba Allah itu berarti inklusif
dosa macam apapun. Karena dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar pada
hakikatnya akan merusak hati nurani manusia. Kalau hati nurani manusia sudah
rusak, maka tunggu saat kehancuran yang lebih besar lagi.
7. Tidak bersaksi palsu
Disamping sifat-sifat terpuji tadi yang harus dimiliki hamba Allah, maka moralitas
hamba Allah adalah:
Laa yasyhaduuna zzuura
Tidak menjadi saksi palsu (QS. Al Furqan: 72)
Kepalsuan dalam bersaksi adalah menyangkut keadilan. Ini berarti kalau orang
sudah berani menjadi saksi palsu, berarti dia memporak-porandakan keadilan.
Padahal keadilan adalah sendi berdirinya sebuah bangsa dan Negara.

8. Menjaga diri dari perbuatan kejelekan atau maksiat


Waidzaa marruu billaghwi marruu kiraamaa
Bila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan kejelekan mereka
tetap menjaga diri (QS. Al Furqan: 72).
Hamba Allah tidak boleh menjadi obyek, tetapi harus menjadi subyek. Bahkan
Rasulullah SAW mengisyaratkan agar orang mukmin berilmu lebah. Yang keluar
dari lebah sangat dibutuhkan manusia, bila dating di suatu tempat tidak merusak
lingkungan, justru menumbuhkan kemaslahatan.
Jamaah Jumah Rahimakumullah
9. Bertanggungjawab terhadap keluarganya
Senantiasa mendahulukan peringatan dari Allah daripada lainnya dan senantiasa
memperhatikan keluarganya, sebagaimana diisyaratkan Allah SWT dalam ayat 73
dan 74 surat Al Furqan.
Sebagai bagian akhir dari khutbah hari ini, kami sampaikan bahwa Allah SWT
menawarkan berbagai macam sifat dan sikap terpuji kepada manusia. Bila manusia
menyambut positif tawaran Allah itu, Insya Allah manusia benar-benar dapat
menjadi Abdullah (hamba Allah).
Sebaliknya, bila manusia tidak menerima dengan positif tawaran Allah itu, manusia
akan menjadi Abdulbuthun (hamba perut). Atau juga menjadi Abdulhawa (hamba
nafsu) karena hidup dan kehidupannya untuk mengikuti hawa nafsu.
Semoga kita nantinya termasuk hamba Allah yang berhak mendapat panggilan
dalam firman-Nya:
Yaa ayyuhannafsul muthmainnah irjiii ilaa rabbika raadhiyatammardhiyyah,
fadkhulii ibaadii, waadkhulii jannatiyy
Artinya :
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
di ridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-Ku dan masuklah ke
dalam surga-Ku (QS. Al Fajr ayat 27-30).





Khutbah II

Khutbah Jumat

KARAKTERISTIK/SIFAT-SIFAT HAMBA ALLAH