Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

PERCOBAAN II
STOIKIOMETRI

NAMA

: ISWAN LABUDU

STAMBUK

: A1C3 11 088

KELOMPOK

: I ( SATU)

PROGRAM STUDI

: PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN

: PENDIDIKAN MIPA

ASISTEN PEMBIMBING : JOKO PURWANTO

LABORATORIUM UNIT KIMIA


UPT LABORATORIUM DASAR PUSAT
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2011

STOIKIOMETRI

A. TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah mempelajari titik stoikiometri sistem melalui
pengamatan terhadap perubahan suhu suatu reaksi.

B. LANDASAN TEORI
Mempelajari senyawa kimia dalam laboratorium sangat penting untuk
mengetahui hubungan kuantatif antara zat-zat yang mengalami reaksi kimia. Studi
tentang hubungan kuantitatif reaksi kimia disebut stoikiometri. Stoikiometri berasal dari
kata Yunani stoichion berarti unsur dan metrein berarti mengukur sehingga stoikiometri
mempunyai arti mengukur unsur-unsur. Pengertian unsur-unsur dalam hali ini adalah
partikel-partikel atom, ion, molekul, atau elektron yang terdapat dalam unsur atau
senyawa yang terlibat dalam reaksi kimia (Sajimanto dan Wiwik Winarti, 1994:56).
Suatu pereaksi ialah zat apa saja yang mula - mula tereaksi dan kemudian
diubah selama suatu reaksi kimia. Suatu hasil reaksi adalah zat apa saja yang dihasilkan
selama reaksi kimia. Suatu persamaan kimia menunjukkan rumus pereaksi kemudian
suatu anak panah, kemudian rumus hasil reaksi, banyak atom tiap unsur di kiri dan
kanan anak panah sama. Misalnya persamaan reaksi untuk reaksi antara hidrogen dan
oksigen yang menghasilkan air ditulis sebagai :
2 H2O + O2

2 H2O

(Tim TPB Kimia Dasar I, 2003 : 1)

Perubahan kalor pada reaksi kimia, bergantung pada jumlah pereaksi jika
pereaksi mol bereaksi dengan diubah namun volum totalnya tetap, maka stoikiometri
reaksi dapat ditentukan dari titik perubahan kalor maksimum, yakni dengan cara
mengalutkan kenaikan temperatur terhadap komposisi campuran.
(Achmad, 2004 : 11)

C. METODE KERJA
1. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
-

Gelas ukur 50 ml

Gelas kimia 400 ml

Termometer

Batang pengaduk

Botol semprot
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:

CuSO4 1M

NaOH 1M

HCl

1M

2. Cara kerja
1. Stoikiometri sistem CuSO4 NaOH
CuSO4 1 M
5 ml, 10 ml,
15 ml, 20 ml,
dan 25 ml

NaOH 1 M
25 ml, 20 ml,
15 ml, 10 ml,
dan 5 ml

- ukur suhu mula-mula - dicampur


- dimasukan dalam gelas kimia
- diukur suhu awal
30 ml larutan dalam gelas kimia
- diaduk
- diukur suhu campuran
- dicatat perubahan suhu
- digambar grafiknya
- ditentukan titik stoikiometrinya
Titik stoikiometri pada (X,Y)
T = oC

2. stoikiometri sistem asam-basa


NaOH 1 M
5 ml, 10 ml,
15 ml, 20 ml,
dan 25 ml

HCl 1 M
5 ml, 10 ml,
15 ml, 20 ml,
dan 25 ml

- ukur suhu mula-mula - dicampur


- dimasukkan dalam gelas kimia
- diukur suhu awal

30 ml larutan dalam gelas kimia


- diaduk
- diukur suhu akhir
- dicatat perubahan suhu
- digambar titik stoikiometri
- tentukan tentukan titk stoikiometri
Titik stoikiometri pada (X,Y).
T = o C

D. HASIL PENGAMATAAN
1. Stoikiometri sistem CuSO4 NaOH
NaOH 1 M
CuSO4 1 M
(ml)
(ml)
20
5
15
10
10
15
5
20
Ket: TM = Temperatur mula-mula
TA = Temperatur akhir

TM
(oC)
26,5
26,5
26,5
26,5

TA
T
(oC)
(oC)
28
1,5
29
2,5
28
1,5
28
1,5
TM CuSO4 = 26 oC
TA NaOH = 27 oC

2. Stoikiometri sistem asam basa


NaOH 1 M
(ml)
0
5
10
15
20
25
30

HCl 1 M
(ml)
30
25
20
15
10
5
0

TM
(oC)
27
27
27
27
27
27
27

3. Grafik stoikiometri sistem CuSO4 NaOH

TA
(oC)
27
29
31
34
33
30
27
TM HCl
TM NaOH

T
(oC)
0
2
4
7
6
3
0
= 29 oC
= 28 oC

4. Grafik stoikiometri sistem asam basa

F. PEMBAHASAN
Dalam praktikum kali ini menentukan titik-titik stoikiometri sistem, yang
menggunakan sistem CuSO4 NaOH dan stoikiometri sistem asam basa dengan larutan
NaOH.
Pada percobaan pertama digunakan larutan CuSO4 dan NaOH sebagai zat yang
akan direaksikan dengan volume yang bervariasi yaitu 20 ml NaOH dan 5 ml CuSO 4
yang dimana sebelum dicampur kedua larutan tersebut diukur suhu mula-mulanya, yaitu
26 oC CuSO4 dan 27 oC NaOH. Setelah kedua larutan tersebut direaksikan maka
pertama-tama diukur suhu awal campuran (TM) yaitu 26,5 oC, suhu ini akan sama
dengan suhu pada larutan tersebut meskipun dengan volume yang berbeda-beda.
Setelah kedua larutan itu diaduk maka terjadi perubahan suhu dan perubahan tersebut
bervariasi, hal ini disebabkan volume kedua larutan tersebut berbeda-beda. Pada

percobaan ini perubahan suhu yang paling besar terjadi pada NaOH 15 ml dengan
CuSO4 10 ml yaitu sebesar 2,5 oC, sebenarnya perubahan suhu ini juga diikuti dengan
larutan NaOH 10 ml dengan CuSO4 15 ml karena volume perbandingan larutan mereka
sama, tetapi banyak faktor yang mempengaruhinya antara lain proses pengadukannya
yang tidak merata dan juga keadaan suhu ruangan yang kadang-kadang tidak stabil.
Persamaan reaksi larutan CuSO4 dengan Larutan NaOH adalah :
CuSO4 + NaOH

Na2SO4 + Cu(OH)2

Pengamatan selanjutnya yaitu stoikiometri sistem asam-basa dengan larutan


NaOH dan HCl. Larutan NaOH memilki sifat basa kuat dan HCl bersifat asam kuat.
Dalam larutan HCl yang tidak ditambahkan dengan larutan NaOH tidak mengalami
perubahan suhu dan seiring dengan pertambahannya volume larutan maka bertambah
pula perubahan suhu. Pada pencampuran larutan HCl 15 ml dengan NaOH 15 ml akan
terjadi titik maksimum yaitu 7 oC (lihat pada Grafik) atau klimaks yang kemudian akan
turun sampai perubahan suhu tidak terjadi yaitu larutan NaOH 30 ml dengan HCl 0 ml.
titik maksimum tersebut dapat disebut juga denga titik stoikiometri. Adapun persamaan
reaksi antara NaOH dengan HCl yaitu :
HCl + NaOH

NaCl + H2O

G. PENUTUP
1. Simpulan
Dari percobaan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Stoikiometri
adalah ilmu yang mempelajari tentang kuantitas produk dan reaktan pada suatu
reaksi, faktor-faktor yang mempengaruhi stoikiometri antara lain suhu, jumlah
volum, katalis, dan juga konsentrasi, dan jika senyawa yang bersifat asam kuat
bertemu dengan basa kuat makan akan terjadi titik stoikiometri.
2. Saran
Adapun saran yang dapat saya ajukan yaitu agar hasil praktikum tercapai
dengan hasil yang baik maka setiap paraktikan harus lebih teliti lagi dalam
melakukan pengamatan karena untuk percobaan ini memerlukan perlakuan yang
lebih.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, 2004, Penuntun Dasar Praktikum Kimia, Depdikbud, Direktorat Jendral


Pendidikan Tinggi, Jakarta.
Anonim, 2003, Penuntun Praktikum Kimia Dasar, UPT. Laboratorium Dasar Kimia
Unhalu, Kendari.
Sajimanto dan Wiwik Winarti, 1994, Kimia , Pabelan, Surakarta.