Anda di halaman 1dari 7

Manusia dan Kebudayaan Amerika

By: Darundiyo Pandupitoyo, S. Sos.

1. Negara-negara di Amerika selatan kebanyakan adalah negara-negara


jajahan sejak awal berdirinya seperti misalnya Guinea Perancis (Perancis),
Suriname (Belanda), Peru (Spanyol) dsb. Akibat dari penindasan pihak penjajah
selama berahun-tahun dan rezim-rezim yang otoriter, maka muncullah beberapa
resistensi dari beberapa pihak. Banyak pemikiran-pemikiran baru yang masuk,
namun pemikiran golongan kiri-sosialis lebih merepresentasikan keinginan
mereka untuk keluar dari belenggu penjajahan. Akhirnya kebanyakan dari mereka
berhasil merebut tampuk kepemimpinan di negara-negara masing-masing, bahkan
sampai sekarang pemikir, aktivis serta anggota partai sosialis banyak yang
menjadi presiden di Amerika Selatan seperti Hugo Chavez (Venezuela) dan Evo
Morales (Bolivia). Beberapa pendapat mengatakan bahwa, hal tersebut merupakan
pengaruh dari keberadaan sosialisme di Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro.
Namun, seperti halnya negara-negara belaliran sosialis lainnya, negera-
negara tersebut cenderung mengkultuskan individu seorang pemimpin, sehingga
secara tidak langsung memebentuk seorang diktator bagi negara mereka. Kasus ini
terjadi di Chile dengan diktator kejamnya yang sangat terkenal yaitu Augusto
Pinochet yang sekarang sudah dilengserkan oleh rakyat Chile, diktator lainnya
adalah Alberto Fujimori dari Peru yang sekarang juga sudah dilengserkan oleh
rakyatnya. Hal tersebut mengingatkan kita pada negara sosialis lainnya yang
mengkultuska presidennya seperti Uni Soviet (Joseph Stalin), Korea Utara (Kim
Jong Il).
Amerika Utara disebut-sebut sebagai benuanya Amerika Serikat, karena
pengaruh Amerika Seikat begitu besar di negara-negara Amerika Utara seperti
Kanada dan Meksiko. Sistem demokrasi betul-betul diterapkan disana karena
Amerika mereka sebut sebut sebagai the land of dream, sehingga mereka terlalu
bergantung pada eksistensi Amerika. Migrasi besar-besaran ke Amerika Serikat
dari kedua negara tersebut (kanada dan Meksiko) memunculkan pola remitance
yang membawa-membawa pengaruh-pengaruh Amrika Serikat ke nagaranya.

1
UAS Manusia dan Kebudayaan Amerika

2. Ambisi negara Paman Sam ini telah muncul sejak mereka


mengampanyekan pemberantasan bajak laut (pirates) yang merajalela di laut
tengah (mediterranian sea) pada akhir abad ke-18. Ketika itu, sebagai negara yang
masih muda, Amerika Serikat telah mengambil initiatif untuk menggalang
kerjasama dengan negara-negara Eropa guna menghancurkan bajak laut serta
negara yang melindunginya. Bajak laut dianggap sebagai kelompok yang
melawan hukum internasional atau 'Hukum Roma' karena itu mereka seperti juga
teroris sekarang, harus dijadikan sebagai 'musuh manusia yang beradab' (the
enemies of human race).
Menurut sejarawan Paul Johnson (2001), pada abad ke 18 itu, penguasa
Aljazair, Tunisia dan Tripoli dianggap melindungi penumpasan bajak laut yang
banyak merompak kapal-kapal dagang Eropa, termasuk Amerika Serikat. Para
pembajak dengan bebas memperdagangkan hasil jarahan dan budak-budak
tangkapan (termasuk orang-orang kulit putih) di ketiga pelabuhan itu. Masih
menurut Johnson, Laksamana Nelson (sebagai komandan Angkatan Laut Inggris
waktu itu), dengan perasaan geram hanya dapat menyaksikannya tanpa dapat
bertindak karena pemerintah Inggris dan negara-negara Eropa lainnya tidak ingin
mencampuri kebijakan penguasa-penguasa Arab di utara Afrika tersebut.
Memang pada abad ke 16 telah berdiri tiga kerajaan Islam di utara Afrika,
di sepanjang perairan Mediterranian Selatan yang masing-masing dikuasai oleh
Beys of Tunis (Tunisia), Pashas of Algier (Aljazair) dan Emperror of Marocco
(Marokko). Walaupun mereka tidak begitu bersahabat dengan kerajaan-kerajaan
Eropa Kristen (Sepanyol, Perancis atau Italia) karena suasana pasca perang Salib
(Crusade) masih mencengkam, tetapi antara mereka terdapat perjanjian untuk
bersama-sama memerangi bajak laut. Orang-orang Genoa, Sardinas dan Yunani,
pada abad 13-15, dikenal sebagai kelompok-kelompok bajak laut yang
menakutkan di perairan Mediterranian, sehingga perairan ini disebut sebagai
'Barbary Coast.'
Sejarawan R.Sargent Holland penulis buku legendaris Historic Ships
(1928: 50) mengemukakan: 'Indeed up to the fourteenth century it was the
Christians who were the chief pirates and dealers in slaves,' di sepanjang perairan

2
UAS Manusia dan Kebudayaan Amerika

laut tengah. Kemudian, adalah Sultan Sulaiman dari kekaisaran Otteman Turki
(1520) yang membangun angkatan laut untuk mengamankan perairan laut tengah
(Mediterranian) dari keganasan bajak laut itu. Sultan Turki mengangkat
Laksamana Khairuddin (adik kandung seorang tokoh bajak laut yang terkenal
ketika itu) sebagai panglima armada laut Kekaisaran Otteman Turki. Cacatan
sejarah ini memperlihatkan betapa pasang surut kekuasaan penguasa setempat
sejajar dengan pasang surut kejayaan bajak laut, terlepas dari siapa mereka, hal ini
telah terjadi di laut Mediterranian tersebut, dua abad sebelum Amerika Serikat
muncul sebagai 'Polisi Dunia'. Tidak mengherankan apabila masalah bajak laut,
merupakan alasan utama mengapa
Kongres Amerika Serikat (1794) memutuskan untuk membangun angkatan
laut Amerika Serikat guna mendukung armada perdagangan mereka. Sepuluh
tahun kemudian (1805) marinir angkatan laut Amerika ini mendarat di Mesir,
kemudian menyeberangi gurun pasir dan memaksa Pasha Tripoli untuk
mengamankan bajak laut di perairan mereka dan menyerahkan semua orang-orang
Amerika yang ditawan oleh para bajak laut itu. Peristiwa bersejarah ini, menurut
Johnson diabadikan oleh Korps Marinir Angkatan Laut Amerika Serikat dalam
bait-bait hymne mereka: 'From the Halls of Montezuma to the Shores of Tripoli!'
Tindakan Amerika Serikat ini, kemudian diikuti oleh Inggris dengan
membombardir pelabuhan-pelabuhan Aljazair.
Perancis (1830) kemudian menduduki seluruh wilayah Aljazair dan
menyatakan daerah itu sebagai bahagian dari Perancis Raya (Metropolitan
France), seterusnya menjadikan Tunisia dan Marokko sebagai daerah protektorat
mereka. Demikian juga Spanyol dan Italia, dengan alasan yang sama, menuruti
langkah Perancis dengan menduduki negara-negara Afrika Utara lainnya,
termasuk menjatuhkan Pasha Tripoli dan kemudian menciptakan negara Libya.
Sementara Tangier pelabuhan penting di selat Gibrartar dinyatakan berada di
bawah pemerintahan bersama empat negara Eropa.
Hanya beberapa dekade setelah Amerika Serikat memerankan diri sebagai
'polisi dunia' dengan dalih 'menghancurkan bajak laut dan penguasa yang
melindunginya,' hampir seluruh negara-negara Islam di utara Afrika menjadi

3
UAS Manusia dan Kebudayaan Amerika

koloni Eropa, sedang usaha untuk memerdekakan diri dari penjajahan ini
memerlukan waktu ratusan tahun. Seperti perang kemerdekaan Al-jazair dan
Libya dari penjajahan Perancis dan Italia, tidak hanya memerlukan waktu 120
tahun, tetapi telah menimbulkan kerugian material dan jiwa yang cukup besar
serta rasa permusuhan dan kebencian yang mendalam (sampai saat ini) antar
negara-negara bekas penjajah dan yang dijajah.
Peran 'Polisi Dunia' Amerika memerangi bajak laut tersebut terus berlanjut
dan mengambil momentum kedua bersama Inggris pada abad ke-19 di Timur
Tengah. Negara-negara kecil di Jazirah Arabia dan Teluk Persia yang berada di
bawah jajahan Eropa dianggap pada waktu itu telah 'berbudaya' (karena anak-anak
para Sheiks atau Emir yang menggantikan orang tuanya telah berpendidikan
Barat). Mereka kemudian mengembangkan kerja sama dengan Amerika Serikat
dan Inggris untuk memerangi bajak laut. Inggris sendiri akhirnya belajar dari
pengalamannya, mereka tidak dapat menghadapi para Sheiks Timur Tengah
tersebut tanpa menjatuhkan sanksi yang keras (convenant without swords). Sheiks
yang masih bekerja sama dengan bajak laut atau menghalangi perdagangan orang
Eropa dan Amerika, negaranya diduduki dan dijadikan daerah protektorat. Dengan
cara ini Inggris dalam waktu yang relatif singkat menjadi negara yang dipertuan di
Timur Tengah dan Teluk Persia dan mengembangkan markas besar (headquarter)
angkatan laut dan pemerintahan koloninya di Aden.

Setelah perang dingin selesai, Amerika Serikat muncul sebagai satu-


satunya polisi dunia dan serta-merta kembali berhadapan dengan musuh
bebuyutannya di Afrika, Timur Tengah, Asia Tenggara, Asia Timur Jauh dan
China. Apabila negara-negara di kawasan itu, beberapa abad yang lalu
menghasilkan bajak laut yang mengganggu aktivitas perdagangan negara-negara
Barat, maka sekarang mereka memprodusir 'binatang baru' yang dinamai 'teroris'
yang menghadang kepentingan Barat, terutama dalam menguasai sumber-sumber
energi, seperti minyak bumi. Syahdan, teroris ini telah berani mempermalukan
Amerika Serikat dengan unjuk diri di pusat perdagangan Amerka Serikat
(peristiwa tragis Gedung WTC-New York), sesuatu yang tidak pernah dilakukan

4
UAS Manusia dan Kebudayaan Amerika

oleh bajak laut yang mana pun di dunia ini sebelumnya. Selama ini, Amerika
Serikat adalah polisi dunia yang 'untouchable' (tidak terjamah oleh bajak laut atau
siapa pun). Sekarang, teroris itu telah berada di depan hidungnya sendiri. Untuk
mengatasi teroris ini, seperti juga pengalaman tiga abad yang lalu, adagium
'convenant without swords' harus dilaksanakan seketat mungkin. Oleh karena itu
Johnson mengusulkan agar negara-negara yang menjadi sarang teroris, tidak
hanya Afghanistan, tetapi juga Irak, Iran, Sudan, Libya, Syria atau Korea Utara
harus diduduki langsung oleh Barat. Barangkali atas nama semacam 'The Old
Leage of Nations' (Liga Bangsa-Bangsa) sesudah Perang Dunia II yang lalu,
sehingga Amerika Serikat dan kawan-kawannya kelak dapat berperan sebagai
'respectable of colonialism' (penjajah yang terhormat).
Penjajahan Amerika Serikat kini terus berlanjut pada negara-negara yang
dianggap oleh mereka lemah seperti Afganishtan, Irak dan sekarang sasaran
mereka adalah Iran. Dengan berbagai macam alasan, mereka ingin menguasai
begara tersebut agar dapat diserap sumber daya manusia sekaligus sumber daya
alamnya, terutama Irak yang memiliki ladang minyak berlimpah sehingga bisa
membantu perekonomian Amerika Serikat. Sekarang, perusahaan Minyak banyak
yang menginvestsikan dananya di Irak dan Afganishtan dengan mudah tanpa
halangan. Mereka menyedot kekayaan alam Irak dan Afganishtan tanpa
memikirkan kesejahteraan masyarakat lokal. Posisi strategis Irak dan Afganishtan
untuk menyebarkan paham-paham Amerika Serikat sekaligus menghancurkan
paham sosialisme yang mendominasi Irak.
3 Masyarakat yang over educated cenderung memiliki sifat egosentris, fasis
ataupun fanatisme berlebih pada apa yang diyakininya. Mereka menyebut diri
mereka adalah contoh ideal bagi yang lain dan memaksakan sesuatu yang ideal
tersebut untuk orang lain. Begitu pula dengan Amerika Serikat yang menganggap
mereka adalah bangsa yang paling pintar dan beradab diseluruh dunia serta dapat
menjadi model yang paling ideal bagi semua negara.
Namun, Ameruka Serikat sendiri terkadang lupa akan apa yang
dikatakannya sebagai hal yang ideal. Mereka selalu mengatakan tentang
penghargaan terhadap hak asasi manusia, namun mereka melakukan beberapa

5
UAS Manusia dan Kebudayaan Amerika

penindasan di Irak, Afganishtan dan beberapa penjara seperti Guantanamo.


Mereka cenderung menganggap bahwa negara-negara lain khususnya Afrika dan
Asia adalah negara lemah dan terbelakang serta perlu mendapat bantuan dari
Amerika Serikat dalam segala urusannya.
Karena ”over educated” inilah Amerika memantapkan posisinya sebagai
polisi dunia dan mengatur perdamaian dunia dengan caranya sendiri yang
terkadang terlihat sangat aneh.

6
UAS Manusia dan Kebudayaan Amerika

SUMBER LITERATUR

- Encarta Premium Encyclopedi


- www.Wikipedia.org.