Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS POTENSI PENDAPATAN

Setiap daerah di Indonesia diberikan hak untuk melakukan otonomi daerah dengan
memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab yang dapat menjamin
perkembangan dan pembangunan daerah. Kewenangan ini dimaksudkan untuk pembangunan
yang meliputi segala aspek kehidupan, dimana dalam pelaksanaannya sesuai dengan prinsipprinsip

demokrasi,

peran

serta

masyarakat,

pemerataan,

keadilan,

potensi

dan

keanekaragaman daerah.
Untuk melaksanakan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab
diperlukan kewenangan dan kemampuan menggali sumber keuangan sendiri, yang didukung
oleh perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dalam
menjamin terselenggaranya otonomi daerah yang semakin matap dan untuk meningkatkan
kemandirian daerah, maka diperlukan usaha-usaha untuk meningkatkan kemampuan
keuangan sendiri yaitu dengan upaya peningkatan penerimaan sumber PAD yang sudah ada
maupun dengan penggalian sumber PAD yang baru sesuai dengan ketentuan yang ada serta
memperhatikan kondisi dan potensi ekonomi masyarakat. Maka untuk melaksanakan upaya
peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) perlu dilakukannya analisis potensi Pendapatan
Asli Daerah (PAD).
MENGENALI POTENSI PENDAPATAN
Potensi adalah sesuatu yang sebenarnya sudah ada, hanya belum didapat atau di
peroleh di tangan, untuk mendapatkan atau memperolehnya diperlukan upaya-upaya tertentu.
Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah kekuatan yang ada di suatu daerah untuk
menghasilkan sejumlah penerimaan PAD (Abdul Halim, 2004). Misalnya untuk potensi untuk
sumber daya alam tambang perlu upaya eksplorasi dan eksploitasi, untuk potensi pajak perlu
dilakukan upaya pajak (tax effort). Karena potensi tersebut sifatnya masih tersembunyi, maka
perlu di teliti besarnya potensi pendapatan yang ada.
Analisis potensi pendapatan bersifat luas sebab banyak faktor yang harus
diidentifikasi terkait dengan pendapatan. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
pendapatan merupakan bagian upaya mengenali potensi pendapatan. Bagi manajer publik,
kemampuan mengenali potensi pendapatan dan memanfaatkannya secara optimal merupakan
hal penting yang menunjukan kapasitas enterpreneur mereka dalam mengelola organisasi
sektor publik.

Analisis Potensi Pendapatan

Potensi pendapatan satu daerah dengan daerah yang lain berbeda-beda disebabkan
oleh faktor demografi, ekonomi, sosiologi, budaya, geomorfologi, dan lingkungan yang
berbeda-beda. Namun terkadang suatu potensi tidak dapat diolah diakibatkan keterbatasan
sumber daya manusia, permodalan, dan peraturan perundang-undangan yang membatasi. Jika
dilihat dari kepemilikan potensi dan kemampuan mengelola potensi yang ada, suatu daerah
dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu :
1. Memiliki potensi dan kemampuan mengelola yang tinggi
2. Memiliki potensi yang tinggi tetapi kemampuan mengelola rendah
3. Memiliki potensi yang rendah tetapi memiliki kemampuan mengelola tinggi
4. Memiliki potensi yang rendah dan kemampuan mengelola rendah
POTENSI
TINGGI

RENDAH

KUADRAN II

KUADRAN I

Potensi tinggi, kemampuan


mengelola rendah

Potensi tinggi, kemampuan


mengelola tinggi

KUADRAN IV

KUADRAN III

Potensi rendah, kemampuan


mengelola rendah

Potensi rendah, kemampuan


megelola tinggi

RENDAH

TINGGI

KEMAMPUAN MENGELOLA
Gambar 1. Peta potensi daerah

Kuadran I merupakan kondisi yang ideal, yakni pemerintah memiliki potensi


pendapatan yang tinggi serta kemampuan mengelola potensi tersebut juga tinggi. Pada
kondisi ini yang perlu dilakukan adalah menjaga sumber pendapatan untuk kesinambungan
fiskal (fiscal sustainability) antar generasi. Dengan kemampuan mengelola yang tinggi tidak
berarti potensi yang ada harus dieksploitasi seluruhnya saat ini sehingga mengakibatkan
generasi berikutnya tidak lagi menikmati potensi pendapatan tersebut. Hal ini khususnya
terkait dengan potensi ekonomi dari sumber daya alam yang tidak terbarui, seperti barang
tambang.
Kuadran II adalah kondisi pemerintah yang memiliki potensi pendapatan yang tinggi
tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mengelola potensi tersebut secara memadai.
Kondisi seperti ini dialami oleh pemerintah di negara-negara berkembang, termasuk

Analisis Potensi Pendapatan

indonesia. Kondisi kuadran II ini merupakan yang cukup rawan karena akan menjadi ajang
kepentingan banyak pihak asing untuk berebut memanfaatkan (eksploitasi) potensi besar
yang tidak terkelola dengan baik. Oleh karenanya, pada kondisi kuadran II ini diperlukan
semangat nasionalisme

ekonomi, yakni semangat untuk melindungi dan memanfaatkan

potensi ekonomi untuk kepentingan bangsa dan kesejahteraan masyarakat. Sebab jika tidak
terdapat nasionalisme ekonomi dapat terjadi eksploitasi oleh kepentingan asing atau
kepentingan pihak-pihak tertentu saja, sehingga kesinambungan fiska dimasa datang dapat
terganggu. Strategi pengelolaan potensi pendapatan yang dapat di lakukan oleh pemerintah
pada kondisi kuadran II, antara lain :
a) Intensifikasi pendapatan
b) Kemitraan dengan pihak swasta untuk mengelola potensi yang ada
c) Joint venture dengan investor
d) Peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam mengelola potensi yang ada
Kuadran III adalah kondisi pemerintahan yang memiliki potensi yang rendah tetapi pada
dasarnya mempunyai kapasitas untuk mengelola yang tinggi. Pada kondisi ini strategi yang
dapat dilakukan adalah ekstensifikasi atau ekspansi. Misalnya, suatu pemerintah tidak
memiliki potensi hutan, tetapi dengan daya dukung sumber daya manusia dan sarana
prasarana yang dimiliki mampu mengelola hasil hutan menjadi produk yang berkualitas
tinggi, misalnya furniture kualitas ekspor. Meskipun pemerintah setempat tidak memiliki
hutan, pemerintah tersebut dapat melakukan ekspansi dengan memanfaatkan potensi hasil
hutan dari daerah lain untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Kuadran IV adalah kondisi paling buruk yang perlu dihindari, yaitu potensi yang dimiliki
rendah dan kemampuan mengelola pendapatan juga rendah. Pada kondisi kuadran IV ini
perlu dilakukan strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program
pendidikan dan pelatihan (edukasi) sehingga memiliki kapasitas mengelola potensi
pendapatan secara lebih baik. Manajer publik yang mengelola pemerintahan yang masuk
dalam kategori kuadran IV ini perlu menggerakkan strategi dan program sehingga mencapai
kuadran III. Pengembangan kualitas sumber daya sehingga merupakan langkah terpenting
untuk memperbaiki kondisi tersebut.

Analisis Potensi Pendapatan

Pemetaan Potensi Pendapatan


Sumber-sumber utama pendapatan suatu daerah secara umum dapat dilihat pada data
Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dapat dirinci ke masing-masing sektor.
PDRB sektoral diguankan untuk menentukan nilai PDRB suatu daerah yaitu :
1. Sektor pertanian, meliputi :
a. Tanaman bahan makanan
b. Tanaman perkebunan
c. Peternakan dan hasil-hasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
2. Sektor pertambangan dan penggalian, meliputi :
a. Minyak gas dan bumi
b. Pertambangan tanpa migas
c. Penggalian
3. Sktor industri pengolahan, meliputi:
a. Industri migas :
i. Pengilangan minyak
ii. Gas alam cair
b. Industri tanpa migas :
i. Makanan, minuman, dan tembakau
ii. Tekstil, barang kulit dan alas kaki
iii. Barang kayu dan hasil hutan lainnya
iv. Kertas dan barang cetakan
v. Pupuk, kimia, dan barang dari karet
vi. Semen, dan barang galian bukan logam
vii. Logam dasar besi dan baja
viii. Alat angkutan, mesin dan peralatannya
ix. Barang lainnya
4. Sektor listrik, gas dan air bersih
a. Listrik
b. Gas
c. Air bersih
5. Sektor kontruksi bangunan

Analisis Potensi Pendapatan

6. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran


a. Perdagangan besar dan eceran
b. Hotel
c. Restoran
7. Sektor pengankutan dan komunikasi
a. Pengangkutan
i.

Angkutan rel

ii.

Angkutan jalan raya

iii.

Angkutan laut

iv.

Angkutan sungai, danau dan penyebrangan

v.

Angkutan udaran

vi.

Jasa penunjang angkutan

b. Komunikasi
i.

Pos dan telekomunikasi

ii.

Jasa penunjang komunikasi

8. Sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan


a. Bank
b. Lembaga keuangan tanpa Bank
c. Jasa penunjang keuangan
d. Sewa bangunan
e. Jasa perusahaan
9. Jasa-jasa
a. Pemerintah umum :
i.

Administrasi pemerintah dan umum

ii.

Jasa pemerintah lainnya

b. Swasta :
i.

Sosial kemasyarakatan

ii.

Hiburan dan rekreasi

iii.

Perorangan dan rumah tangga

Analisis Tipologi Klassen


Untuk memetakan potensi daerah secara sektoral yang didasarkan pada data PDRB
(Pendapatan Domestik Regional Bruto), maka dapat digunakan analisis Tipologi Klassen.
Analisis Tipologi Klassen merupakan teknik pengelompokan suatu sektor dengan melihat

Analisis Potensi Pendapatan

pertumbuhan dan kontribusi sektor tertentu terhadap total PDRB suatu daerah. Dengan
menggunakan analisis Tipologi Klassen, suatu sektor dapat dikelompokkan ke dalam empat
kategori, yaitu:
1.

Sektor unggulan (prima) : sektor yang paling dominan kontribusinya terhadap


perekonomian daerah. Suatu sektor dikategorikan ke dalam sektor prima apabila
sektor tersebut pertumbuhannya tinggi dan kontribusi terhadap PDRB besar.

2.

Sektor potensial : sektor yang juga memberikan kontribusi tinggi bagi perekonomian
daerah tetapi pertumbuhan sektor tersebut lambat dan cenderung menurun

3.

Sektor berkembang : sektor yang sedang mengalami peningkatan, yang diindikasikan


dengan pertumbuhan tinggi tetapi kontribusinya masih rendah

4.

Sektor terbelakang : sektor yang menjadi kelemahan daerah yang diindikasikan


dengan pertumbuhan lambat dan kontribusi terhadap PDRB rendah.
Implikasi pemetaan potensi ekonomi tersebut terhadap kebijakan manajemen

keuangan publik adalah sektor unggulan sehingga pemerintah perlu menjaga stabilitas
pertumbuhan sektor unggulan, sebab sektor ini menjadi kekuatan daya saing daerah (core
competence). Sektor unggulan ini jika tidak dikelola dengan baik bisa bergeser menjadi
sektor potensial, yakni pertumbuhannya akan menurun meskipun jumlahnya cukup besar.
Untuk sektor berkembang pemerintah perlu melakukan upaya optimalisasi melalui
intensifikasi. Sektor berkembang ini merupakan prospek bagi daerah karena masih
memungkinkan untuk ditingkatkan lagi kontribusi sektor tersebut sehingga menjadi sektor
unggulan. Tetapi jika sektor berkembang ini tidak dikelola dengan baik, maka bisa jadi sektor
berkembang akan turun menjadi sektor terbelakang. Sementara itu, untuk sektor potensial
perlu pembinaan dan pembenahan sebab sektor potensial ini memberikan kontribusi yang
besar bagi perekonomian daerah tetapi pertumbuhannya sudah mulai menurun. Jika sektor
potensial ini tidak mendapat perhatian, maka bisa jadi sektor ini akan berubah menjadi sektor
terbelakang. Untuk sektor terbelakang sebisa mungkin pemerintah berupaya meningkatkan
kontribusi sektor tersebut meskipun sektor ini cukup sulit untuk dijadikan daya saing daerah.
Penentuan suatu sektor apakah masuk dalam kategori sektor prima, potensial,
berkembang dan terbelakang didasarkan pada perhitungan laju pertumbuhan kontribusi
sektoral dan rerata besar kontribusi sektoralnya terhadap PDRB, seperti yang ditunjukkan
oleh tabel berikut:

Analisis Potensi Pendapatan

Rata-rata kontribusi
Sektoral terhadap
PDRB
Rata-rata
Laju pertumbuhan
Sektoral

sektor PDRB

sektor < PDRB

sektor rPDRB

Sektor Unggulan

Sektor Berkembang

sektor < rPDRB

Sektor Potensial

Sektor Terbelakang

Gambar 2. Kategori Sektor Berdasarkan Tipologi Klassen

Keterangan:
sektor = rata-rata sektor i

sektor = laju pertumbuhan sektor i


r
PDRB

PDRB = rata-rata PDRB

= laju pertumbuhan PDRB

Untuk melakukan analisis tipologi Klassen, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:
1. Menghitung rata-rata PDRB per sektor
2. Menghitung rata-rata sektor
3. Menghitung laju pertumbuhan PDRB dan laju pertumbuhan masing-masing sektor
4. Mengklasifikasikan masing-masing sektor ke dalam matrik.

Contoh 1 : Pemerintah Provinsi Bali


Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Bali Atas Dasar
Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2009 - 2012
(Miliar rupiah)
1.

Lapangan Usaha
Pertanian, Peternakan,
Kehutanan, dan Perikanan
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan dan Hasilhasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan

2.

Pertambangan dan Penggalian


a. Minyak dan Gas Bumi
b. Pertambangan Tanpa Migas
c. Penggalian

3.

Industri Pengolahan
a. Industri Migas
1. Pengilangan
Minyak Bumi
2. Gas Alam Cair

Analisis Potensi Pendapatan

2005
4 591,02

2009
5 645,78

2010
5 745,59

2011+
5 873,10

2012++
6 070,99

2 425,84
218,33
1 067,01

2 780,96
265,45
1 356,62

2 752,13
274,26
1 479,15

2 871,08
272,70
1 492,01

2 899,41
281,11
1 645,32

1,25
878,60

2,14
1 240,60

2,35
1 237,69

2,53
1 234,78

2,53
1 242,63

134,17
134,17

157,97
0
0
157,97

188,66
0
0
188,66

208,49
0
0
208,49

240,28
0
0
240,28

2 010,19
-

2 768,11
0
0

2 936,45
0
0

3 027,99
0
0

3 210,84
0
0

b.

4.

Listrik, Gas, & Air Bersih


a. Listrik
b. Gas Kota
c.

5.
6.

7.

8.

Industri tanpa Migas


1. Makanan, Minuman,
dan Tembakau
2. Tekstil, Barang dari
Kulit, dan Alas Kaki
3. Barang dari Kayu dan
Hasil Hutan Lainnya
4. Kertas dan Barang
Cetakan
5. Pupuk, Kimia dan
Barang dari Karet
6. Semen dan Barang
Galian Bukan Logam
7. Logam Dasar Besi
dan Baja
8. Alat Angkutan, Mesin,
dan Peralatannya
9. Barang lainnya

2 768,11
560,17

2 936,45
583,61

3 027,99
581,43

3 210,84
605,48

822,59

1 135,44

1 202,04

1 256,17

1 354,18

475,06

589,94

614,00

614,43

644,22

28,32

46,53

46,83

53,63

56,52

192,54

273,15

307,04

325,66

333,46

19,13

25,93

30,54

32,17

37,43

63,88

103,44

115,13

123,53

134,76

28,49

33,51

37,26

40,97

44,81

309,67
236,78
-

410,37
305,83
0

438,59
325,65
0

470,83
351,87
0

513,57
380,23
0

72,89

104,54

112,94

118,96

133,34

Bangunan
Perdagangan, Hotel, &
Restoran
a. Perdagangan Besar &
Eceran
b. Hotel
c. Restoran

820,19
6 497,88

1 067,44
8 656,02

1 146,12
9 209,07

1 236,39
10 009,39

1 467,17
10 574,60

2 510,68

3 228,17

3 546,07

3 957,88

4 431,44

2 342,36
1 644,84

3 181,18
2 246,67

3 306,48
2 356,51

3 597,42
2 454,09

3 629,74
2 513,43

Pengangkutan dan
Komunikasi
a. Pengangkutan
1. Angkutan Rel
2. Angkutan Jalan Raya
3. Angkutan Laut
4. Angkutan Sungai,
Danau, dan
Penyeberangan
5. Angkutan Udara
6. Jasa Penunjang
Angkutan
b. Komunikasi
1. Pos Giro dan
Telekomunikasi
2. Jasa Penunjang
Komunikasi
Keuangan, Persewaan, dan
Jasa Perusahaan
a. Bank
b. Lembaga Keuangan
Bukan Bank
c. Jasa Penunjang
Keuangan
d. Sewa Bangunan

2 190,46

3 016,62

3 190,61

3 381,20

3 636,78

1 821,11
0
446,31
101,64
34,44

2 479,83
0
580,30
143,27
43,20

2 617,45
0
620,76
152,38
45,52

2 761,69
0
644,75
173,12
49,85

2 967,32
0
670,49
187,32
54,03

796,03
442,68

1 160,01
553,04

1 220,31
578,48

1 286,75
607,23

1 423,29
632,19

369,35
353,64

536,79
508,95

573,16
544,40

619,51
588,87

669,46
635,86

15,71

27,84

28,76

30,64

33,60

1 568,44

1 899,19

2 041,02

2 167,88

2 366,83

434,09
137,61

549,81
165,65

607,86
174,76

677,48
187,77

773,87
197,66

51,09

73,14

78,66

83,01

88,91

818,24

941,56

996,76

1 033,75

1 099,40

127,40

169,03

182,98

185,88

206,98

e.

Air Bersih

2 010,19
380,19

Jasa Perusahaan

Analisis Potensi Pendapatan

9.

Jasa-Jasa
2 950,41
a. Pemerintahan Umum
1 553,43
1. Administrasi
1 173,09
Pemerintahan dan
Pertahanan
2. Jasa Pemerintahan
380,34
Lainnya
b. S w a s t a
1 396,98
1. Sosial
64,71
Kemasyarakatan
2. Hiburan dan Rekreasi
81,86
3. Perorangan dan
1 250,41
Rumahtangga
PRODUK DOMESTIK
21 072,44
REGIONAL BRUTO
Sumber : BPS Provinsi Bali (http://bali.bps.go.id)

3 669,44
1 971,24
1 489,61

3 986,38
2 169,71
1 653,29

4 382,50
2 363,87
1 814,21

4 723,32
2 479,15
1 924,36

481,63

516,42

549,66

554,79

1 698,20
85,68

1 816,67
101,03

2 018,63
105,41

2 244,16
107,02

103,55
1 508,97

112,95
1 602,69

119,46
1 793,77

129,19
2 007,95

27 290,95

28 882,49

30 757,78

32 804,38

Langkah 1: Menghitung rata-rata PDRB per sektor.


Berdasarkan pada data pada tabel di atas, maka kita dapat menghitung rata-rata PDRB selama
4 tahun yaitu sebesar 32.804,38 milliar (21.072,44 + 27.290,95 + 28.882,49 + 30.757,78) :
4). Selanjutnya rata-rata PDRB dibagi dengan sembilan untuk menentukan rata-rata PDRB
sektoral, yaitu sebesar 3.325,99 milliar (32.804,38 : 9)
Langkah 2 : Menghitung rata-rata sektor
Berdasarkan data PDRB selama 4 tahun di atas, maka dapat menghitung rata-rata PDRB
masing-masing sektor, yaitu:
Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Bali Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2009 - 2012
(Miliar rupiah)

2.

134,17

157,97

188,66

208,49

240,28

198,85

3.

Industri Pengolahan

2 010,19

2 768,11

2 936,45

3 027,99

3 210,84

2 985,85

4.

Listrik, Gas, & Air Bersih

309,67

410,37

438,59

470,83

513,57

458,34

5.

Bangunan

820,19

1 067,44

1 146,12

1 236,39

1 467,17

1 229,28

6.

Perdagangan, Hotel, & Restoran

6 497,88

8 656,02

9 209,07

10 009,39

10 574,60

9 612,27

7.

Pengangkutan dan Komunikasi


Keuangan, Persewaan, dan Jasa
Perusahaan
Jasa-Jasa
PRODUK DOMESTIK
REGIONAL BRUTO

2 190,46

3 016,62

3 190,61

3 381,20

3 636,78

3 306,30

1 568,44

1 899,19

2 041,02

2 167,88

2 366,83

2 118,73

2 950,41

3 669,44

3 986,38

4 382,50

4 723,32

4 190,41

8.
9.

Analisis Potensi Pendapatan

4 591,02

21 072,44

5 645,78

27 290,95

2010

2012++

2005

1.

2009

2011+

Lapangan Usaha
Pertanian, Peternakan,
Kehutanan, dan Perikanan
Pertambangan dan Penggalian

5 745,59

28 882,49

5 873,10

30 757,78

Rata-Rata

6 070,99

5 833,87

32 804,38

29 933,90

Langkah 3: Menghitung laju pertumbuhan PDRB dan laju pertumbuhan masing-masing


sektor sebagai berikut:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Lapangan Usaha
Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas, & Air Bersih
Bangunan
Perdagangan, Hotel, & Restoran
Pengangkutan dan Komunikasi
Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan
Jasa-Jasa
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

2010
1,77%
19,43%
6,08%
6,88%
7,37%
6,39%
5,77%
7,47%
8,64%
5,83%

2011
2,22%
10,51%
3,12%
7,35%
7,88%
8,69%
5,97%
6,22%
9,94%
6,49%

2012
3,37%
15,25%
6,04%
9,08%
18,67%
5,65%
7,56%
9,18%
7,78%
6,65%

Rata-Rata
2,45%
15,06%
5,08%
7,77%
11,30%
6,91%
6,43%
7,62%
8,78%
6,33%

Langkah 4 : Mengklasifikasikan masing-masing sektor ke dalam matriks


Rata-rata kontribusi
Sektoral terhadap
PDRB
Rata-rata Laju
Pertumbuhan
Sektoral
r

sektor rPDRB

sektor PDRB

sektor < PDRB

Sektor Unggulan :
Sektor Berkembang :
1. Perdagangan, Hotel & Resto 1. Pertambagan&penggalian
2. Jasa-jasa
2. Listrik, Gas dan Air Bersih
3. Pengangkutan&Komunikasi
4. Keuangan, Persewaan&Jasa
Perusahaan

sektor < rPDRB


Sektor Potensial :
Pertanian

Sektor Terbelakang :
Industri Pengolahan

Analisis :
Berdasarkan analisis tipologi klassen, Provinsi Bali memiliki :
1. Sektor Unggulan : Sektor perdagangan, hotel& restoran, dan Jasa-jasa
2. Sektor potensial : sektor pertanian.
Sektor potensial ini pada dasarnya dapat diarahkan menjadi sektor unggulan tentunya
dengan daya dukung manajemen pemerintahan, SDM dan sarana prasarana yang
memadai.

Analisis Potensi Pendapatan

10

3. Sektor berkembang : pertambangan dan penggalian; Listrik, gas dan air bersih;
Bangunan; Pengangkutan dan komunikasi; dan sektor keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan.
sektor-sektor yang berkembang perlu didorong terus agar bisa menjadi sektor
unggulan , sebab jika tidak dikelola dengan baik bisa berubah menjadi sektor
terbelakang. sektor terbelakang yang ada yaitu sektor industri pengolahan.
4. Sektor terbelakang : Indutri Pengolahan. Pada sektor ini diperlukan dukungan dari
pemerintah Bali untuk meningkatkan kontribusi sektor tersebut agar bisa diarahkan
menjadi sektor potensial.
PENGHITUNGAN POTENSI PENDAPATAN
Analisa Tipologi Klassen juga bermanfaat untuk mengidentifikasi peta potensi
ekonomi secara makro tetapi tidak menunjukkan jumlah riil potensi yang ada. Untuk
mengetahui potensi riil pendapatan yang dimiliki oleh suatu pemerintah daerah, diperlukan
identifikasi dan penghitungan potensi dengan basis mikro. Penghitungan pendapatan basis
mikro dilakukan dengan cara survey dan observasi terhadap objek dan subjek pajak kemudian
dilakukan penghitungan (assessment) potensi pendapatan yang ada, sedangkan penghitungan
pendapatan basis makro dilakukan dengan teknik estimasi dengan model regresi ekonometrik
yang menggunakan variable makro ekonomi sebagai proksi.
Penghitungan potensi pendapatan basis mikro dilakukan dengan cara menghitung
potensi pendapatan untuk masing-masing objek pendapatan. Potensi suatu penerimaan pajak
dan retribusi secara umum dapat dihitung dengan mengalikan tarif suatu pajak/retribusi
dengan basis pajak/retribusi. Tarif pajak/retribusi disesuaikan dengan ketentuan peraturan
perundangan. Sementara penentuan basis pajak perlu dilakukan penghitungan secara objektif,
sebab basis pajak/retribusi ini akan mempengaruhi besarnya potensi pendapatan.
Potensi Pendapatan Pajak/Retribusi = Basis Pajak/Retribusi X Tarif Pajak Retribusi
Menghitung Potensi Pajak Hotel
Langkah-langkah yang dilakukan :

Mengidentifikasi objek pendapatan pajak hotel


Menentukan hotel yang akan diteliti
Melakukan observasi untuk memperoleh data kelas atau jenis kamar, tarif kamar,

jumlah kamar, tingkat hunian kamar


Menghitung rata-rata hunian kamar

Analisis Potensi Pendapatan

11

Menghitung potensi pajak

Potensi Pajak Hotel = Rata-rata Hunian Kamar x Tarif Rata-rata x 360 hari x Tarif Pajak

Menghitung Potensi Pajak Restoran


Sebagai dasar pengenaan pajak restoran adalah omzet penjualan. Dalam hal ini
penjual atau pemilik restoran merupakan wajib pungut, sedangkan para pembeli adalah
subjek pajaknya. Penjual akan membebankan pajak restoran kepada pembeli sebesar tarif
pajak dikalikan dengan jumlah rupiah makanan/minuman yang dibeli sehingga jumlah
seluruhnya yang dibayarkan pembeli sudah termasuk di dalamnya pajak restoran. Selanjutnya
pemilik restoran sebagai wajib pungut berkewajiban menyetorkan pajak restoran tersebut
kepada pemerintah daerah.
Langkah-langkah menghitung potensi pajak restoran adalah :

Menidentifikasi objek pendapatan pajak restoran


Menentukan restoran yang akan diteliti potensi pajak restorannya
Melakukan observasi untuk memperoleh data omzet penjualan, jumlah pengunjung

restoran, jumlah meja atau kursi tersedia, daftar menu dan harga dsb
Menghitung rata-rata omzet penjualan
Menghitung potensi pajak restoran

Potensi Pajak Restoran = Rata-Rata Omzet Penjualan X 360 Hari X Tarif Pajak Restoran

Menghitung potensi pajak hiburan


Jenis hiburan yang bisa dipungut pajak hiburan antara lain, bioskop, pertunjukan,
konser music, dan sebagainya. Pajak hiburan sebagai dasar pengenaan pajak adalah omzet
penjualan tiket. Besarnya pajak hiburan adalah jumlah omzet penjualan tiket dikalikan
dengan tarif pajak.
Langkah-langkah menghitung pajak hiburan :

Mengidentifikasi objek pajak hiburan


Menentukan penyelenggara hiburan yang akan diteliti potensi pajaknya
Melakukan observasi untuk memperoleh data omzet penjualan tiket, tingkat

kunjungan, jumlah kursi tersedia, frekuensi pertunjukan, harga tiket masuk, dsb
Menghitung perkiraan omzet penjualan
Menghitung potensi pajak hiburan
Potensi Pajak Hiburan = Rata-rata omzet hiburan x tarif pajak hiburan

Menghitung potensi pajak parkir


Analisis Potensi Pendapatan

12

Terdapat dua jenis pungutan parkir, yaitu pajak parkir dan retribusi parkir. Pajak
parkir merupakan pajak yang dikenakan atas penyelenggaraan parkir diluar jalan yang
dikelola oleh orang pribadi maupun badan baik yang disediakan berkaitan dengan pokok
usaha maupun yang disediakan sebagai usaha utama termasuk penyediaan tempat penitipan
kendaraan bermotor dan garasi kendaraan bermotor yang memungut bayaran.
Langkah-langkah menghitung potensi pajak parkir adalah :

Mengidentifikasi objek pendapatan pajak parkir, yakni identifikasi penyelenggara

tempat parkir diluar badan jalan oleh orang pribadi atau badan.
Menentukan tempat parkir yang akan diteliti potensi pajak parkirnya
Melakuan observasi untuk memperoleh data jumlah kendaraan yang parkir, tarif
parkir yang dikenakan untuk masing-masing kendaraan bermotor, luas area parkir,

daya tampung, dsb


Menghitung rata-rata pendapatan parkir per hari
Menghitung potensi pajak parkir

Potensi Pajak Parkir = Rata-Rata Pendapatan Parkir X 360 Hari X Tarif Pajak Parkir
Menghitung potensi pajak reklame
Objek reklame yang dapat dipungut pajak adalah Reklame papan, billboard, megatron
dan LED, Reklame kain, Reklame stiker, Reklame selebaran, Reklame berjalan , Reklame
udara, Reklame suara, Reklame Film dan Reklame peragaan.

Sedangkan subjek pajak

reklame adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan atau melakukan
pemasangan reklame. Wajib pajak reklame adalah orang pribadi, badan atau pihak ketiga
(agen reklame) yang menyelenggarakan reklame.
Dasar pengenaan Pajak Reklame = Nilai sewa reklame x Tarif Pajak Reklame
Nilai Sewa Reklame adalah NJOP ditambah nilai strategis. Factor penentu besranya Nilai
sewa Reklame adalah :

Lokasi penempatan Reklame (daerah protocol, ekonomi, dan lingkungan)


Jenis reklame
Jangka waktu penyelenggaraan
Ukuran media reklame

Nilai Sewa Reklame

Biaya Pemasangan + Biaya Pemeliharaan + Nilai Strategis


Lama Pemasangan

Faktor yang mempengaruhi biaya pemasangan reklame :

Analisis Potensi Pendapatan

13

Jenis reklame
Ukuran reklame (luas dan ketinggian)
Sudut pandang reklame
Nilai Jual Pajak Objek Reklame wilayah pemasangan reklame

Nilai strategis wilayah pemasangan reklame ditentukan oleh beberapa indicator,


antara lain :

Tingkat keramaian lalulintas kendaraan sekitar lokasi pemasangan reklame


Tingkat kerawanan terhadap kecelakan lalulintas di sekitar lokasi pemasangan

reklame
Tingkat kepadatan/keramaian orang sekitar lokasi pemasangan reklame
Ada tidaknya pusat aktivitas di sekitar wilayah pemasangan reklame
Karakteristik kawasan pemasangan reklame (wilayah bebas,umum, selektif dan
khusus)

Menghitung Potensi Retribusi Daerah


Menghitung potensi retribusi daerah adalah dengan mengalikan basis retribusi daerah
dengan tarif retribusi yang ditetapkan. Pada dasarnya retribusi memiliki jenis yang lebih
beragam dan fleksibel dibandingkan dengan pajak daerah, namun tidak semua retribusi
tersebut potensial dalam memberikan kontribusi PAD secara signifikan. Pungutan daerah
berupa retribusi memiliki perbedaan mendasar disbanding dengan pungutan pajak.
Perbedaannya adalh pungutan retribusi memiliki keterkaitan langsung dengan suatu
pelayanan. Pembayar pajak daerah tidak memperoleh imbalan secara langsung atas uang
pajak yang mereka bayarkan, sedangkan pembayar retribusi bias memperoleh imbalan berupa
jasa yang dapat dinikmati secara langsung.
Menghitung Potensi Retribusi Pasar
Retribusi pelayanan pasar adalah pungutan sebagai pembayaran atas penggunaan,
pemakaian dan pemanfaatan kios, los, atau took di kawasan pasar dan tempat perdagangan
umum yang disediakan oleh pemerintah daerah. Jenis pasar ynag dapat dikenakan retribusi
pelayanan pasar meliputi, pasar umum dan pasar hewan.
Untuk menghitung retribusi pasar perlu dikumpulkan data :

Fasilitas pasar
Jenis dagangan
Jumlah petugas pemungut
Tarif retribusi
Jumlah kios dan los
Luas pasar dan area kaki lima
Data penerimaan retribusi tahunan

Analisis Potensi Pendapatan

14

Perhitungan potensi retribusi pasar umum


[(Jumlah Kios x TR) + (Jumlah Los x TR) + (Jumlah Kaki 5 x TR)] x [ Aktivitas Sebulan x 12]

Penghitungan potensi retribusi pasar hewan


[(Jumlah Hewan Besar x TR) + (Jumlah Hewan Kecil x TR)] x [ Aktivitas Sebulan x 12]

Menghitung potensi retribusi parkir


Retribusi parkir dikenakan atas jasa penggunaan tepi jalan umum yang merupakan
fasilitas milik pemerintah sebagai tempat parkir.
Langkah-langkah menghitung potensi retribusi parkir adalah :

Menentukan tempat parkir tepi jalan umum yang akan diteliti potensi retribusi

parkirnya
Melakukan pbservasi untuk memperoleh data jumlah kedaraan yang perkir, tarif
parkir yang dikenakan untuk masing-masing kendaraan bermotor, luas area perkir,

daya tampung, dsb


Menghitung rata-rata jumlah kendaraan yang parkir per hari
Menghitung potensi retribusi parkir

Potensi Retribusi Parkir = [(Rata-Rata Mobil x TR) + (Rata-Rata Sepeda Motor x TR)] x 360 Hari

STUDI KASUS
Masalah menurunnya penerimaan pajak hotel di Kabupaten Gunungkidul, diindikasikan
adanya Budgetary Slack
Di kabupaten Gunungkidul, pajak hotel merupakan salah satu sumber pendapatan
utama daerah karena lokasinya yang potensial. Namun dewasa ini, ditemukan bahwa
perolehan pajak hotel di kabupaten Gunungkidul terus menurun. Pertumbuhan penerimaan
daerah yang bersumber dari pajak hotel pun menjadi negatif. Ada indikasi bahwa di
kabupaten Gunungkidul juga terjadi Budgetary Slack yang dilakukan oleh pemerintah daerah,
dimana sebenarnya potensi pajak hotel masih jauh lebih tinggi dibanding target yang dipatok
oleh pemerintah. Berikut adalah data mengenai pendapatan daerah yang bersumber dari pajak
daerah,

Analisis Potensi Pendapatan

15

Tahun Anggaran (Rp)


Jenis Pajak
P. Hotel
P. Restoran
P. Hiburan
P. Reklame
P. Penerangan

Pertum
buhan

2005

2006

2007

2008

2009

40.169.363
38.821.100
12.750.400
135.386.150
2.085.376.394

9.645.000
42.296.525
11.840.000
163.656.750
2.775.000.000

36.092.165
46.283.650
16.176.000
221.210.750
4.403.940.659

11.190.000
46.608.650
13.863.000
293.534.650
4.650.749.120

11.140.000
45.342.900
15.584.000
407.911.638
6.061.636.523

Sumber : Pemda Gunungkidul th.2011

Dari tabel diatas, dapat terlihat bahwa penerimaan pajak hotel dari tahun ke tahun
mengalami penurunan (kecuali pada tahun 2006 ke 2007). Hal ini seirama dengan
terdapatnya penurunan target penerimaan pajak di kabupaten Gunungkidul. Berikut adalah
tabel yang berisi mengenai perbandingan target yang dipatok oleh pemerintah daerah dengan
realisasi penerimaan pajak hotel di kabupaten Gunungkidul.
Tahun
Anggaran
2005
2006
2007
2008
2009

Realisasi Pajak
Hotel (Rp)
40.169.363
9.645.000
36.092.165
11.190.000
11.140.000

Target Pajak
Hotel (Rp)
28.950.000
24.750.000
8.750.000
8.750.000
10.000.000

Proporsi
(%)
72,07
256,61
24,24
78,19
89,77

Jika melihat data yang dipaparkan pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa
pemerintah daerah sangat sukses dalam menghimpun pendapatan daerah yang bersumber dari
pajak hotel. Selisih yang sangat jauh antara target dan realisasinya serta menurunnya target
yang dipatok setiap tahun menimbulkan pertanyaan. Apakah memang potensi pajak hotel di
kabupaten Gunung kidul terus menurun dan hanya mencapai angka yang dipatok? Ataukah
pemerintah daerah kabupaten Gunungkidul sengaja memmasang target yang rendah agar
ketika realisasi, dalam menghimpun pajak hotel tidak diperlukan usaha yang terlalu keras,
dan kinerja dianggap bagus?
A. Analisis Kasus
Untuk membuktikan ada atau tidaknya Budgetary Slack yang dilakukan oleh pemerintah
daerah, maka perlu dilakukan penghitungan potensi pajak daerah. Dalam menghitung potensi
pajak hotel digunakan rumus :
Potensi Pajak Hotel = Jml kamar x Tarif kamar rata-rata x Jml Hari x Tarif p.hotel
Dengan asumsi bahwa:
a. Jumlah hari dalam 1 (satu) tahun adalah 360 hari
b. Tarif pajak hotel adalah 10%

Analisis Potensi Pendapatan

16

(%)
-72,3
16,8
22,2
201,3
190,7

c. Tarif kamar rata-rata adalah tarif harian yang dikenakan terhadap kamar yang dipakai
oleh pelanggan
dengan menggunakan rumus dan asumsi di atas untuk mengolah data primer mengenai
kondisi perhotelan di Gunungkidul , maka diperoleh data sebagai berikut :
Tahun
Anggaran
2005
2006
2007
2008
2009

Potensi Pajak
Hotel (Rp)
1.250.710.884
653.156.064
1.087.702.092

743.131.440
814.614.552

Proporsi
(%)
-47,78
66,53
-31,68
9,62

Data diambil dari : Rahayu,Betty. 2012. Analisis Potensi Pajak Hotel Terhadap Realisasi Penerimaan
Pajak Hotel. Bandung : Media ekonomi dan manajemen.

Jika dilakukan perbandingan antara hasil perhitungan potensi pajak hotel kabupaten
Gunungkidul yang sebenarnya terhadap target yang dipatok oleh pemerintah daerah setempat,
dapat ditarik kesimpulan bahwa, sebenarnya potensi pajak hotel jauh lebih tinggi daripada
target yang dipatok. Seperti yang terlihat di tabel di bawah ini
Tahun
Anggaran
2005
2006
2007
2008
2009

Realisasi Pajak
Hotel (Rp)

Potensi Pajak
Hotel (Rp)

40.169.363
9.645.000
36.092.165
11.190.000
11.140.000

1.250.710.884
653.156.064
1.087.702.092

743.131.440
814.614.552

Target Pajak
Hotel (Rp)
28.950.000
24.750.000
8.750.000
8.750.000
10.000.000

Proporsi
(%)
72,07
256,61
24,24
78,19
89,77

B. Kesimpulan dan Saran


Dari hasil analisa yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Potensi pajak hotel di Kabupaten Gunungkidul memang menurun dari tahun ke tahun
(kecuali tahun 2006 ke 2007).
2. Target yang dipatok oleh pemerintah daerah sangat jauh menyimpang dari potensi
yang seharusnya dapat diusahakan.
3. Realisasi penerimaan pajak hotel di Kabupaten Gunungkidul nampak sudah efektif,
padahal sebenarnya masih jauh dari yang bisa dioptimalkan. Ini terjadi karena
pemerintah daerah terlalu rendah dalam memasang target, sehingga seolah-olah
kinerja dalam hal penerimaan/realisasi pajak hotel sudah maksimal, padahal
sebenarnya belum.
C. Saran :
1. Untuk terus meningkatkan potensi pajak hotel yang dapat dijadikan sumber
pendapatan daerah, maka sebaiknya pemerintah daerah Kabupaten Gunungkidul

Analisis Potensi Pendapatan

17

hendaknya

terus

memperhatikan

pertumbuhan

pariwisata

daerah,

serta

mengoptimalkan pelayanan sektor perhotelan di Kabupaten Gunungkidul


2. Hendaknya pemerintah daerah Gunungkidul bertindak lebih relevan dalam
menetapkan target terhadap pajak hotel.
3. Dalam mengukur kinerja, tidak hanya memperhatikan bagaimana mencapai target
atau mengunggulinya, namun lebih berpatokan pada apakah usaha yang dilakukan
sudah maksimal atau masih banyak hal yang dapat dioptimalkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Halim, Abdul. 2004. Bunga Rampai Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta :
Akademi Manajemen Perusahaan YKPN.
2. Mahmudi. 2009. Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta : Penerbit Erlangga.
3. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. http://bali.bps.go.id. Diakses 21 Maret 2014.
4. Rahayu, Betty dan Purwanti, Evi Yulia. 2012. Analisis Potensi Pajak Hotel Terhadap
Realisasi Penerimaan Pajak Hotel di Kabupaten Gunungkidul. Ekonomika dan Bisnis
: Universitas Diponegoro.

Analisis Potensi Pendapatan

18