Anda di halaman 1dari 2

Sang mentari begitu gagah hari ini, berdiri tegap seakan memanaskan bara di atas

kepalaku, aku tergopoh lelah dari lariku atas polisi yang mengejarku, aku tak tahu lagi
kenapa kulakukan semua ini, mencuri dompet orang-orang di pasar, tapi aku tak punya
sesuatu untuk membiayai istriku yang hamil dan akan melahirkan.
“ah..biarlah, sudah mendingan aku mencuri dari satu orang dari pada para
karuptor yang mencuri uang semua rakyat, lagian janji-janji mereka untuk membantu
orang seperti kami tidak juga terjadi” batinku..
Dua jam sudah aku bersembunyi di balik tumpukan keranjang yang memuat
sampah-sampah, walaupun bau, aku terpaksa bersembunyi, karena terakhir aku dengar,
orang yang tertangkap mencopet dan mencuri di pejara tiga bulan, belun bogem mentah
orang-orang sekitar pasar. Apa yang bisa aku berikan pada istriku jika aku di penjara.
Dengan mengendap-endap ku kuberanikan diri muncul, dan berjalan seolah tak
ada sesuatu yang telah terjadi, ku jalani lorong-lorong sempit menuju rumahku.
Ternyata resiko yang aku ambil terlalu berat untuk mencari uang, jika saja aku tak
berhenti kerja tahun lalu, mungkin semua ini tak perlu aku lakukan, tapi PHK itu sungguh
membuat beban keluarga kami begitu berat, apa lagi untuk kelangsungan bayi yang kelak
akan lahir nanti. . Dasar pemimpin perusahaan yang tak tahu diri, kami sudah bekerja
bertahun-tahun tapi tak di beri bonus malah di PHK!
Selagi aku menghitung hasil curian, aku membayangkan bagaimana wajah istriku,
pasti dia sangat senang, karena aku lihat uang yang ada dalam dompet ini begitu banyak,
selama ini aku berbohong pada istriku, aku mengaku sudah dapat kerja di tempat teman
lamaku, padahal pekerjaanku adalah mencuri, tapi aku fakir, ini adalah cara satu-satunya.
Memang benar kalau dulu temanku memberikan aku pekerjaan, yaitu menjadi
pengurus masjid, sayangnya tempat itu begitu jauh dari rumah, akupun tak punya
kendaraan, kalau berjalan mungkin memakan waktu lama, lagian siapa yang akan
mengurus istriku yang sedang sakit, aku tak mungkin tega meninggalkannya dalam
keadaan seperti ini, apa lagi di rumah cuma tinggal kami berdua.
Sesampai di rumahku, langsung ku cari istriku, ku cari di kamar tidak ada, lalu
kucari di dapur, ternyata juga tidak ada,
“ Rani!!!...rani!!!, di mana kau istriku, aku sudah pulang!!..teriakku
memanggilnya.
Namun tetap saja tak ia jawab, lalu ku cari ke rumah tetangga, tetap saja tidak
ada.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini, di mana istriku? Di sedang hamil delapan
bulan, tak mungkin pergi jauh-jauh, ah..apa mungkin ke pasar? Sedang uang untuk
belanja saja belum aku berikan”
Sehari sudah aku menunggunya, ternyata tidak juga dia datang, aku mencoba
tanya lagi ketempat tetangga, namun hasilnya sama saja, mereka tidak tahu,
“ hei baskoro, sedang apa kau di sini? Apa kau tidak mengantar istrimu pulang
kampung? Tadi aku lihat Rani di jemput kedua orang tuanya.” Kata bardi tetanggaku
“sejak kapan dia pergi?”
“sejak tadi pagi, mungkin beberapa jam setelah kau pergi”
“ ah begitu, pantas aku cari tidak ada, apa dia mengatakan sesuatu untuk aku,
pesan mungkin?”tanyaku pura-pura tenang
“wah aku tidak tahu Bas, sepertinya di sedang terburu-buru”
“apa mungkin ada sesuatu yang terjadi di daerahnya?” batinku
“ya sudahlah, mending kau susul saja dia di kampungnya”
“baiklah, aku akan segera kesana,”
Tanpa basa-basi aku langsung masuk rumah dan menyiapkan bekal perjalanan,
dalam benakku aku begitu bingung atas apa yang telah terjadi, rumah Rani memang
hanya seberang desa, tapi sekalipun dia akan pulang, seharusnya pamit terlebih dulu
padaku atau menunggu aku pulang, ini sungguh tidak biasa.
Derik jangkrik mengantarku dalam perjalanan, dan lengking suara anjing
peliharaan yang seperti ketakutan juga terdengar.