Anda di halaman 1dari 5

bBerpacaran Menurut

Alkitab

Posted by GPdI-Sejahtera Online Team


Thursday, 18 April 2002 13:50
Bab I
Pendahuluan

Berpacaran adalah konsep masyarakat modern, artinya baru beberapa puluh tahun inilah kita
mengenal konsep tersebut. Di masa lampau hal ini tidak di kenal karena perkawinan biasanya
diatur oleh pihak keluarga atau orang tua kedua belah pihak. Mengapa demikian?
Karena memang perkawinan bukan cuma masalah pribadi kedua orang yang terlibat saja,
melainkan mempunyai dampak yang luas kepada keluarga dan seluruh masyarakat sekitarnya.
Dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi membawa suatu perubahan besar bagi
generasi muda, mereka belajar bersama dan bergaul bersama dan menuju kedewasaan bersama.
Dalam pergaulan sering kali berkembang pada hubungan-hubungan yang khusus yang
menjurus ke pada persahabatan atau kepada pacaran.
Bab II
Arti dari pacaran

Pacaran adalah dampak dari pergaulan sehingga munculah hubungan (muda-mudi), dua orang
yang tidak sejenis, berdasarkan rasa cinta. Jadi berpacaran adalah suatu proses di mana seorang
laki-laki dan perempuan menjajaki kemungkinan adanya kesepadanan di antara mereka berdua
yang dapat dilanjutkan ke dalam perkawinan. Jadi apabila kita melihat pengertian di atas, maka
berpacaran itu bukanlah sekedar bersenang-senang melampiaskan nafsu, mengisi kekosongan,
tetapi di dalam berpacaran itu ada suatu keseriusan dan kesungguhan untuk menjalin hubungan
kedua belah pihak, yang menuju kepada suatu pertunangan. Namun pada umumnya orang
salah menginterpretasikan persepsi pacaran yang sesungguhnya yaitu dengan cara menyalah
gunakan praktek berpacaran itu sendiri, sehingga menimbulkan dampak yang negatif dan tidak
jarang kedua belah pihak saling merugikan, misalnya:

Ganti-ganti pacar
Saling mendewakan
Melampiaskan nafsu seksual yang tidak wajar dan belum saatnya di lakukan pada tahap itu.

Sayangnya banyak orang terburu-buru dalam proses ini, sehingga masih terlalu muda, sudah
ada remaja yang jatuh cinta dan bahkan merasa yakin bahwa orang yang diidamkan itu pasti
merupakan pasangan hidupnya, ada juga pada masa pacaran orang sudah memanggil papi dan
mami. Padahal belum tentu mereka akan menjadi suami istri. Apa yang terjadi apabila ternyata
hubungan tersebut putus! Yang terjadi adalah kepahitan dan kekecewaan yang sangat
mendalam karena seolah-olah seluruh harapan sudah ditumpahkan kepada sang pacar. Pacaran
berbeda dengan persahabatan, pertunangan, dan pernikahan karena pacaran adalah hubungan
dua orang yang tidak sejenis berdasarkan cinta. Persahabatan berlangsung antara dua orang
atau lebih yang mempunyai hubungan yang lebih baik. Pertunangan adalah suatu masa yang
lebih mendalam dari pada masa berpacaran. Dalam masa ini, suatu pasangan sudah tiba pada
tahap perencanaan yang lebih matang untuk memasuki kehidupan keluarga. Pernikahan adalah
bersatunya dua lawan jenis menjadi satu daging dan menjadi satu lembaga yaitu Keluarga.

Bab III
Pacaran menurut Alkitab
Telah dikatakan dalam Bab I bahwa pacaran itu adalah konsep masyarakat modern, dan secara
tertulis Alkitab tidak pernah menyinggung soal kata pacaran ini, tetapi ada kisah-kisah dalam
Alkitab yang menceritakan kisah hidup seorang pemuda yang begitu sangat mencintai seorang
wanita, namanya Yakub (Kej. 29:18). Kisah ini memang tidak dicatat secara terperinci
bagaimana sikap kedua insan ini, tetapi yang jelas Yakub mendapatkan Rahel, setelah ia
bekerja dengan penuh kesungguhan selama tujuh tahun tujuh hari, tetapi ia harus menambah
selama tujuh tahun lagi. Ini membutuhkan suatu ketabahan/kesabaran yang luar biasa. Dalam
perjanjian baru mengenai pacaran ini hanya tersirat yaitu bagaimana sikap seorang Kristen
misalnya (Roma 12:20) dimana sistim pacaran dunia tidak dapat dipakai oleh seorang Kristen
ketika ia ada pada masa-masa pacaran. Dipihak lain Paulus menasihatkan anak didiknya
Timotius yang masih muda itu supaya bisa jadi teladan dari hal percaya, perkataan, tingkah
laku, kasih, kesetiaan dan kesucian agar orang tidak melihat atau menganggap rendah Timotius
masih muda itu. Melihat hal-hal diatas, maka mari kita melihat bagaimana cara anak Tuhan
berpacaran menurut konsep Alkitabiah:

3.1. Pacaran itu harus didasari Kasih Allah.


Apa tujuan kita pacaran? Apakah hanya mengisi kekosongan dalam hidup kita, keinginan
dalam hidup kita, keinginan mata atau hal-hal yang menyangkut kepada kepuasan diri sendiri,
dimana yang menjadi pusat perhatian hanya pada diri sendiri. Sehingga pada masa pacaran
timbul istilah bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua, dan tai gigipun akan rasa
coklat...dan sebagainya,....dsb.

Orang dunia mengatakan bahwa asmara itu adalah cinta dan itu sangat dibutuhkan bagi orang
yang berada pada masa pacaran. Menurut kamus, asmara itu mempunyai dua pengertian yaitu:

Cinta Kasih
Cinta birahi, dimana seorang anak muda digoda dan tergila-gila pada pasangannya.

Pada dasarnya asmara itu bukan cinta, karena asmara itu naksir/keinginan yang semua ini
berpusat pada diri sendiri. Cinta kasih atau Kasih itu menurut Alkitab bisa kita baca dalam I
Korintus 13:4-7. Cinta yang benar tidak dapat dijadikan topeng untuk satu maksud dan
motivasi tertentu, cinta yang benar tidak mementingkan diri sendiri, melainkan mengutamakan
orang lain. Jadi asmara itu tidak sama dengan cinta sebab dampak dari asmara itu adalah
kebalikan dari makna cinta yang sebenarnya. Yes. 13:16, 18, ini merupakan ucapan Tuhan
kepada Babil, di mana anak-anak muda tidak perduli lagi terhadap Kudusnya pernikahan itu.
Sehingga dampaknya kebebasan seks, adanya pengguguran kandungan dsb.

Asmara itu hanya berpusat pada diri sendiri dan biasanya diiringi dengan nafsu (seks) dan
itulah adalah dosa. Mat. 5:28, menginginkannya saja sudah berzina. Simpati itu bisa saja tetapi
naksir itu tidak boleh. Jadi pacaran yang benar harus berorentasi pada kasih akan Allah, dimana
kepentingan Allah yang harus diutamakan atau diprioritaskan dalam hubungan pacaran itu.
Kita harus menunjukkan gaya hidup yang disetujui oleh Allah, bukan berpusat pada diri
sendiri. Kasih akan Allah ini membuat kita mengikuti atuaran main yang Allah berikan,
diantaranya :II Korintus 6:14 ....

Meskipun pada tingkat tubuh dan jiwa pasangan yang tidak seimbang itu dapat bersatu, namun
dalam tingkat roh terjadi kekosongan. Pasangan itu tidak dapat berdoa bersama-sama dan tidak
dapat menyelesaikan masalah-masalah yang menggoncangkan hubungan mereka dengan
Tuhan. Akibat dari hal ini kepentingan pribadi akan didahulukan dari kepentingan Allah.
Jika berpacaran yang benar harus didasari kasih akan Allah, maka dalam hal berpacaran kita
harus berani bertanya kepada Tuhan, mengapa demikian? Karena pacaran itu merupakan suatu
persiapan kita masuk pada pertunangan dan pernikahan. Jika pacaran itu didasari atas diri kita
sendiri, itu seringkali membawa hasil kekecewaan, misalnya ketika kita mengambil sikap
memutuskan dia; syukur bila yang kita putuskan itu tidak kecewa, tetapi apabila ia merasa
kecewa/sakit hati maka itu berarti kita telah melakukan pembunuhan dan bisa jadi pasangan
kita itu akan meninggalkan Tuhan bahkan menjadi murtad. Ini berarti kita berdosa kepada
Tuhan. Percayailah Allah dalam segala hal karena Ia itu Maha Tahu yang tentunya tahu apa
yang menjadi kerinduan /kebutuhan kita bahkan Ia menjanjikan masa depan yang penuh
harapan, lihatlah Yeremia 29:11; Amsal 23:18. Jadi pacaran yang benar harus di dasari dengan
Kasih Allah sehingga orientasi pergaulan itu hanya ada di dalam tubuh Kristus. Bukan berdua-
berdua, karena akibat dari berdua-duaan itu 'nenek bilang...berbahaya'.

3.2. Harus mengikuti standar moral Alkitab.


Apakah dalam berpacaran dibenarkan perpegangan tangan, berciuman, bermesraan dsb? Telah
dikatakan tadi dalam Roma 12:12 bahwa jangan kita menjadi serupa dengan dunia atau dengan
kata lain jangan berpacaran ala orang dunia. Berpacaran cara duniawi berbeda dengan
berpacaran yang Alkitab/ berpacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Perbedaannya
yaitu:

Pacaran duniawi bertujuan mencari pengalaman dan kenikmatan dalam hubungan cinta dengan
pertimbangan : mungkin besok sudah mencari pacar baru lagi. Pacaran yang bertanggung
jawab kepada Tuhan melihat hubungan pacaran sebagai kemungkinan titik tolak yang menuju
lorong rumah Nikah.

Pacaran duniawi memanfaatkan tubuh pasangannya untuk memuaskan perasaan seksual, mula-
mula pada tingkat ciuman dan pelukan, namun kemudian gampang menjurus kepada tingkat
hubungan seksual. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat Tubuh pasanganya
sebagai rumah kediaman Roh Kudus (I Korintus 3;16) yang dikagumi dan di hargai sebagai
ciptaan Allah yang nanti di miliki dalam rumah nikah, dimana mereka saling menerima satu
dengan yang lain dari tangan Tuhan.

Pacaran duniawi, berorientasi masa kini (sekarang)

Oleh karena itu sering mengakibatkan luka-luka yang dalam, bila terjadi perpisahan. Pacaran
yang bertanggung jawab kepada Tuhan berorientasi pada masa depan (hari esok). Mereka
membatasi segala hubungan intim jasmani dengan kesadaran bahwa pacaran ini belum
mengikat. Masing-masing harus dapat melepaskan satu dengan yang lainnya (bila terjadi
ketidak cocokan) tanpa saling melukai.

Standar Alkitab tentang pacaran yaitu I Tesalonika 4:3 yaitu Allah berkehendak supaya kita
ada dalam kekudusan. Jangan merusak Bait Allah yang di dalamnya Roh Allah bertahta. Mat.
5:27-28; Kid. 2:7; 3:5 ;8:4. Efesus 4:27 mengatakan janganlah beri kesempatan pada iblis
sebab dengan kita membuka celah berarti kita telah memberi kesempatan untuk melakukan
sesuatu yang tidak Allah kehendaki. Dosa seks akan membawa kita perlahan-lahan masuk pada
dunia free seks. Hubungan badani (senggama) antara lawan jenis itu tidak akan berlangsung
ketika dua pasangan itu baru mengenal. Ciuman dan pelukan antara seorang pemuda dan
pemudi merupakan kontak fisik untuk mendapatkan seksuil dan kenikmatan. Ada empat
tingkat intensitas hubungan fisik, di mulai dari yang paling lemah sampai yang paling kuat.
Keempat tingkat tersebut ialah:
Berpegangan tangan.
Saling memeluk, tetapi tangan masih diluar baju.
Berciuman
Saling membelai dengan tangan di dalam baju.

Ransangan seksuil yang terus menerus akan menciptakan dorongan biologis yang terus
memuncak. Ketika dorongan seks menggebu-gebu, kedewasaan, kecerdasan, dan pendirian-
pendirian serta iman seringkali tidak berfungsi, atau tersingkir untuk sementara. Banyak
pasangan muda berkata bahwa ciuman itu normal, karenan ciuman itu adalah kenikmatan pada
masa pacaran dan dianggap akan lebih mengikat tali kasih antara dua belah pihak. Itu adalah
pendapat yang sangat keliru karena Alkitab memberikan penjelasan bahwa dampak dari
hubungan itu akan membuat seorang merasa bersalah bahkan bisa merubah sayang itu menjadi
benci. Contoh II Samuel 13:1-15. Cerita ini mengisahkan anak-anak Daud yaitu Amnon dan
Tamar di mana Amnon begitu mencintai Tamar, sampai-sampai ia jatuh sakit karena
keinginannya untuk memiliki Tamar. Tetapi pada ayat 15 menceritakan setelah mereka jatuh
pada dosa seks, timbullah suatu kebencian dalam diri Amnon terhadap Tamar, ini berarti
bercumbuan bukan merupakan jaminan akan cinta sejati.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef. 4:17-21) supaya anak Tuhan jangan jatuh
pada hal berciuman dan lain-lain yang merangsang dalam masa berpacaran karena itu
bertentangan dengan Alkitab. Dengan demikian orang-orang Kristen harus menghindari
percumbuan dalam masa berpacaran, sebab tindakan tersebut merupakan penyerahan diri
kepada seksualitas, membiarkan hawa nafsu berperan, yang nantinya akan membawa kepada
kecemaran dan pelanggaran kehendak Allah. Lebih jauh lagi pengajaran-pengajaran moral
Paulus kepada anak muda Kristen di mana saja. I Timotius 5:22 bagian akhir "jagalah
kemurnian dirimu". Yesaya 5:20 celakalah yang mengatakan kejahatan itu baik dan kebaikan
itu jahat. Wahyu 18:2-3 keindahan tubuh telah dipakai setan untuk menghancurkan nilai-nilai
iman Kristen. Akhirnya kita akan melihat hubungan seksual muda-mudi sebelum pernikahan
dalam konteks Alkitabiah yaitu:
• Dalam perjanjian Lama Ulangan 22:13-30 Ungkapan ini menunjukkan betapa tingginya
nilai keperawanan, Amsal 7:1327.
• Dalam Perjanjian Baru I Korintus 6:10 Hubungan seksual diluar pernikahan adalah
percabulan. I Korintus 6:13,18,19 Jauhkan dirimu dari percabulan, tubuh kita bukan
untuk percabulan.

Hubungan seksual diluar nikah bukan hanya masalah pribadi melainkan mengikutsertakan
Tuhan, I Tesalonika 4:3-5,8. Jadi berpacaran itu mempunyai batas-batas tersendiri, karena
pacaran itu tidak sama dengan pertunangan dan perkawinan. Artinya sang pacar itu bukanlah
suami atau isteri sehingga tidak boleh diperlakukan demikian. Oleh karena itu ada baiknya
apabila orang berpacaran pergi bersama-sama dengan teman-teman atau anggota keluarga yang
lain sehingga selalu ada rem yang mampu mengendalikan semua tingkah laku.

Bab IV
Kesimpulan
Agar pemuda-pemudi di dalam Kristus tidak berdiri dengan menangis dan menyesal pada
puing-puing ketentuan yang mereka sudah setujui bersama pada awal hubungan mereka,
haruslah mereka berorientasi dalam segala pergaulan mereka kepada ke empat nasihat Firman
Tuhan yaitu:

Berdoalah senantiasa, I Tes. 5:17; khususnya pada waktu pacaran Ucapkanlah syukur
senantiasa atas segala sesuatu, Ef. 5:20; apakah semua pengalaman pada waktu berpacaran
menimbulkan ucapan syukur?

Lakukanlah segala sesuatu berdasarkan iman, Roma 14:23 setiap langkah dalam hubungan
pacaran mempunyai dimensi ke atas yaitu tanggung jawab kepada Tuhan.

Pandanglah tubuhmu dan tubuhnya adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu. Kamu
bukanlah milik kamu sendiri, kamu sudah dibeli! Karena itu muliakanlah Allah dengan
tubuhmu ( I Korintus 6:19-20)

Dalam KeagunganNya...
Dicky Kandow