Anda di halaman 1dari 9

TUGAS KEPERAWATAN KELUARGA DAN KOMUNITAS II

EPIDEMOLOGI PENYAKIT LEPRA (KUSTA)


Dosen : Ns. Elis Hartati, M.Kep

DISUSUN OLEH:
Dina Ratnawati

22020113183004

Hadiharti W.

22020113183014

JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
2014

A. Segitiga Epidemologi Penyakit Lepra (Kusta)

Kusta (lepra atau morbus Hansen) adalah penyakit yang disebabkan


oleh infeksi Mycobacterium leprae (M. leprae) penyakit ini menular yang
menahun yang menyerang saraf perifer, kulit dan jaringan tubuh lainnya.

1. Agent
Penyebab M. leprae merupakan basil tahan asam (BTA), bersifat obligat
intraseluler, menyerang saraf perifer, kulit, dan organ lain seperti mukosa
salurean napas bagian atas, hati, dan sumsum tulang kecuali susunan
saraf pusat.Masa membelah diri M. leprae 12-21 hari dan masa tunasnya
antara 40 hari 40 tahun. M. Leprae atau kuman Hansen adalah kuman
penyebab penyakit kusta yang ditemukan oleh sarjana dari Norwegia,
GH Armouer Hansen pada tahun 1873. Kuman ini bersifat tahan asam
berbentuk batang dengan ukuran 1,8 micron, lebar 0,2-0,5 micron.
Biasanya ada yang berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup
dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat di kultur
dalam media buatan. Kuman ini dapat mengakibatkan infeksi sistemik
pada binatang Armadillo.
2. Pejamu/Host
Pejamu / host dari penyakit lepra (kusta) ini adalah manusia. Cara
penularan yang pasti belum diketahui, tetapi menurut sebagian besar ahli
melalui saluran pernapasan (inhalasi) dan kulit (kontak langsung yang
lama dan erat). Kuman mencapai permukaan kulit melalui folikel rambut,
kelenjar keringat, dan diduga juga melalui air susu ibu. Tempat
implantasi tidak selalu menjadi tempat lesi pertama. Timbulnya penyakit
kusta pada seseorang tidak mudah sehingga tidak perlu ditakuti. Hal ini
bergantung pada beberapa faktor, antara lain sumber penularan, kuman
kusta, daya tahan tubuh, sosial ekonomi dan iklim. Sumber penularan
adalah kuman kusta utuh (solid) yang berasal dari pasien tipe MB (multy
basiler) yang belum di obati atau tidak berobat secara teratur. Bila
seseorang terinfeksi M. Leprae, sebagian besar (95%) akan sembuh

sendiri dan 5% akan menjadi indeterminate. Dari 5% indeterminate, 30%


bermanisfestasi klinis menjadi determinate dan 70% sembuh.
3. Environment
Insiden tinggi pada daerah tropis dan sub tropis yang panas dan lembab.
Insidens penyakit kusta di indonesia pada maret 1999 sebesar 1,01 per
10.000 penduduk. Kusta dapat menyerang semua umur, anak-anak lebih
rentan daripada orang dewasa. Frekuensi tertinggi pada kelompok
dewasa ialah umur 25-35 tahun, sedangkan pada kelompok anak umur
10-12 tahun.

B. Prevensi Epidemologi Penyakit Lepra (Kusta)


1. Primer
a. Promosi kesehatan dengan cara penyuluhan / sosialisasi tentang
penyakit dan bahaya lepra (kusta).
b. Program penemuan penderita kusta.
Penemuan penderita kusta dibedakan menjadi 2 golongan yakni
penemuan penderita secara pasif (sukarela) dimana penderita datang
sendiri ke Puskesmas dan penemuan secara aktif dimana penderita
tersebut ditemukan oleh petugas dimana mereka berada.
(1) Penemuan penderita secara pasif (sukarela)
Penderita

atau

tersangka

penderita

kusta

datang

sendiri

memeriksakan diri ke puskesmas atau dilaporkan (dirujuk) petugas


kesehatan atau masyarakat.
Beberapa faktor yang menyebabkan penderita tidak atau belum
datang berobat ke Puskesmas antara lain sebagai berikut :

Tidak mengerti tanda-tanda dini penyakit kusta.

Malu datang ke Puskesmas.

Ada keengganan petugas kesehatan untuk melayani penderita


kusta.

Tidak tahu bahwa ada obat tersedia cuma-cuma di Puskesmas.

Jarak tempat tinggal penderita terlalu jauh ke Puskesmas.

(2) Penemuan penderita secara aktif


Penemuan penderita secara aktif dilaksanakan dalam beberapa
kegiatan, yaitu:
(a) Pemeriksaan kontak serumah.
Tujuan pemeriksaan kontak serumah adalah untuk mencari
penderita yang mungkin sudah lama ada dan belum berobat
serta mencari penderita baru yang mungkin ada. Pemeriksaan
dilaksanakan pada semua anggota keluarga yang tinggal
serumah dengan penderita. Frekwensi pemeriksaan dilakukan
minimal 1 tahun sekali dimulai pada anggota keluarga yang
dinyatakan sakit kusta pertama kali dan perhatian khusus
ditujukan pada kontak tipe MB.
(b) Pemeriksaan anak sekolah dasar/taman kanak-kanak sederajat.
Tujuan pemeriksaan tersebut untuk mendapatkan penderita
kusta sedini mungkin dan memberikan penyuluhan kepada
murid dan guru. Pelaksanaan pemeriksaan ini dilakukan
kerjasama dengan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan guru
sekolah. Pemeriksaan dilakukan mulai dengan murid Taman
Kanak-Kanak, murid SD kelas 1 sampai kelas 6. Frekwensi
pemeriksaan dilakukan 2 tahun sekali.
(c) Survei khusus.
Yaitu survei yang tidak termasuk dalam survei rutin seperti
tersebut diatas. Survei ini meliputi :

Survei fokus
Dilakukan pada suatu lingkungan kecil misalnya suatu
rumah tangga, dimana proporsi penderita baru MB
minimal 60% dan dijumpai penderita usia muda cukup
tinggi. Caranya : terlebih dahulu didaftarkan nama-nama
penduduk RT menurut keluarga mulai dari kepala
keluarga dan kemudian diperiksa rumah ke rumah, yang
alpa dicari untuk diperiksa. Survei fokus dilakukan sekali
saja, jika perlu dapat diulang pada tahun berikutnya.

Random sampel survei (survey prevalence).


Survei ini dilakukan sesuai perencanaan dan petunjuk dari
pusat. Survei ini dilaksanakan dengan tim yang tetap dan
dipimpin oleh seorang dokter yang telah berpengalaman di
bidang kusta.

Chase

survey (survei

penemuan

penderita

melalui

partisipasi masyarakat).
Tujuan survei ini adalah mencari penderita baru dalam
suatu lingkungan kecil misalnya desa atau kelurahan
sambil membina partisipasi masyarakat, dengan cara
diadakan

pertemuan/penyuluhan

dengan

pemuka

masyarakat yang dipimpin oleh kepala desa dan dihadiri


oleh camat. Frekuensi pelaksanaan chase survey ini adalah
setahun sekali.

2. Sekunder
Tujuan utama program pemberantasan kusta adalah menyembuhkan
pasien kusta dan mencegah timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai
penularan dari pasien kusta terutama tipe yang menular kepada orang lain
untuk menurunkan insidens penyakit.
Program multy drug therapy (MDT) dengan kombinasi rifampisin,
klofazimin, dan DDS dimulai tahun 1981. program ini bertujuan untuk
mengatasi resistensi dapson yang semakin meningkat, mengurangi
ketidaktaatan pasien, menurunkan angka putus obat, dan mengeliminasi
persistensi kuman kusta dalam jaringan.
Rejimen pengobatan MDT di indonesia sesuai rekomendasi WHO (1995)
sebagai berikut :

a. Tipe B
Jenis obat dan dosis untuk dewasa :

rifampisin 600 mg/bulan diminum didepan petugas.

DSS tablet 100 mg/hari diminum dirumah.

Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan dan setelah


selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT (released from treatment =
berhenti minum obat kusta) meskipun secara klinis lesinya masih
aktif. Menurut WHO (1995) tidak lagi dinyatakan RFT tetapi
menggunakan istilah completion of treatment cure dan pasien
tidak lagi dalam pengawasan.

b. Tipe MB
Jenis :

rifampisin 600 mg/bulan diminum didepan petugas.

klofazimin 300 mg/bulan diminum didepan petugas dilanjutkan


dengan klofazimin 50 mg/hari diminum dirumah.

DSS 100 mg/hari diminum dirumah.

Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36


bulan. Sesudah selesai minum 24 dosis dinyatakan RFT meskipun
secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif.
Menurut WHO (1998) pengobatan MB diberikan untuk 12 dosis
yang diselesaikan dalam 12-18 bulan dan pasien langsung
dinyatakan RFT.

Dosis untuk anak

Klofazimin
Umur dibawah 10 tahun : bulanan 100 mg/bulan, harian 50 mg/2
kali/minggu.
Umur 11-14 tahun

: bulanan 100 mg/bulanHarian 50 mg/3

kali/minggu

DDS

: 1-2 mg/kg berat badan

Rifampisin

: 10-15 mg/kg berat badan

c. Pengobatan MDT terbaru


Metode ROM adalah pengobatan MDT terbaru. Menurut WHO
(1998), pasien kusta tipe PB dengan lesi hanya 1 (satu) cukup
diberikan dosis tunggal rifampisin 600 mg, ofloksasin 400 mg, dan
minosiklin 100 mg dan pasien langsung dinyatakan RFT, sedanngkan
untuk tipe PB dengan 2-5 lesi diberikan 6 dosis dalam 6 bulan. Untuk
tipe MB diberikan sebagai obat alternatif dan di anjurkan digunakan
sebanyak 24 dosis dalam 24 bulan.
d. Putus obat.
Pada pasien kusta tipe PB yang tidak minum obat sebanyak 4 dosis
dari yang seharusnya maka dinyatakan DO< sedangkan pasien kusta
tipe MB dinyatakan DO bila tidak minum obat sebanyak 12 dosis dari
yang seharusnya.

3. Tersier
Penyandang cacat kusta (PCK)

perlu mendapat berbagai macam

rehabilitasi melalui pendekatan paripurna mencakup bidang-bidang


sebagai berikut :
1. Rehabilitasi bidang medis
-

Perawatan (care) yang dikerjakan bersamaan dengan program


Pengendalian Penyakit Kusta melalui kegiatan Pencegahan Cacat
(POD), kelompok perawatan diri (KPD) atau Self Care.

Rehabilitasi fisik dan mental


Rehabilitasi yang dilakukan melalui berbagai tindakan pelayanan
medis dan konseling medik.

2. Rehabilitasi Bidang sosial-ekonomi


Rehabilitasi sosial ditujukan untuk mengurangi masalah psikologis
dan stigma sosial agar PCK dapat diterima di masyarakat. Kegiatan
meliputi : konseling, advokasi, penyuluhan dan pendidikan.
Sedangkan rehabilitasi ekonomi ditujukan untuk perbaikan ekonomi
dan kualitas hidup meliputi : pelatihan keterampilan kerja (vocational
training), fasilitas kredit kecil untuk usaha sendiri, modal bergulir,
modal usaha dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. J. (1999). Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi,


keperawatan, Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, ed. 2.
Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif M. Kapita selekta kedokteran, jilid 1. (2000). Jakarta: Media
aesculapius.
Sjamsoe Daili, Emmi S. (2003). Kusta. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Sjamsuhidajat. R dan Jong, Wimde. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi.
Jakarta: EGC.
http://rsk-drsitanala.com/index.php/14-sample-data-articles/83-pencegana-kusta
diakses tanggal 7 Oktober 2014.