Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Dalam dunia farmasi terdapat berbagai macam sediaan yang
berbentuk cair. Baik berupa larutan, suspensi, dan emulsi yang sengaja
dibuat untuk mempermudah pasien dalam meminum obat baik pada orang
dewasa maupun pada anak-anak yang seringkali mendapatkan kesukaran
dalam menelan obat berupa padatan ataupun sediaan tablet, pil, dan
sebagainnya. Jika berbicara mengenai obat-obatan tidak terlepas dari
berbagai macam bentuk sediaannya yang kerap diperbincangkan, akan
tetapi bagaimana kenyamanannya untuk diminum bagi setiap pasien
terutam bagi anak-anak yakni sediaan yang berupa larutan (solutio).
Larutan adalah sediaan cair (likuida) yang mengandung satu atau
lebih bahan kimia yang melarut dalam suatu pelarut yang seusai atau
campuran dari sistem pelarut yang tercampur (mutually miscible). Larutan
atau sediaan cair dibuat dan digunakan karena efek tertentu dari zat obat
yang ada. Kenyataan bahwa obat-obat itu diberikan dalam bentuk larutan,
biasanya dikarenakan absorpsinya dalam sistem saluran cerna kedalam
sirkulasi sistemik dapat terjadi lebih cepat dari pada dalam bentuk sediaan
suspensi atau padat dari zat obat yang sama. Terdapat berbagai macam
bentuk sediaan larutan salah satunya yaitu sirup.
Sirup adalah Sediaan cair berupa larutan yang mengandung
sakarosa. Kecuali dinyatakan lain, kadar sakarosa tidak kurang dari 64,0%
dan tidak lebih dari 66,9% kecuali dinyatakan lain. Kebanyakan sediaan
larutan terutama sirup dibuat untuk menutupi rasa pahit dari zat aktif obat
seperti paracetamol.
Oleh karena itu, dalam praktikum kali ini dilakukan pembuatan
sirup dari bahan obat paracetamol dengan memperhatikan permasalahan
yang ada dan dengan memperhatikan penambahan bahan tambahan yang
sesuai sehingga menambah daya tarik terhadap sediaan tersebut.

I.2

Maksud dan Tujuan Praktikum

I.2.1

Maksud Praktikum
Mahasiswa diharapkan mampu membuat suatu sediaan larutan
dengan memperhatikan tahap preformulasi, tahap formulasi, hingga
evaluasi suatu sediaan.

I.2.2

Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa diharapkan mampu membuat suatu sediaan sirup dengan
zat aktif paracetamol
2. Mahasiswa diharapkan dapat memperhatikan penambahan bahan
tambahan yang sesuai sehingga menambah daya tarik dari sediaan
3. Mahasiswa diharapkan mampu mempelajari, memahami, dan
memperhatikan tahan preformulasi dan tahap formulasi dari sediaan
4. Mahasiswa diharapkan mampu mengevaluasi sediaan sirup
paracetamol

BAB VI

PEMBAHASAN
Larutan adalah sediaan cair (likuida) yang mengandung satu atau lebih
bahan kimia yang melarut dalam suatu pelarut yang seusai atau campuran dari
sistem pelarut yang tercampur (mutually miscible).
Alasan suatu sediaan dibuat larutan karena dosis dapat diubah-ubah dalam
pembuatan. Dimana sediaan dalam bentuk larutan lebih mudah untuk memberikan
atau mengubah dosis yang akan diberikan karena bentuk sediaannya sehingga
perubahan dosis dapat dilakukan dengan mudah. Selain itu karena absorpsinya
dalam sistem saluran cerna kedalam sirkulasi sistemik terjadi lebih cepat dari pada
dalam bentuk sediaan suspensi atau padat dari zat obat yang sama. Terdapat
berbagai macam bentuk sediaan larutan yaitu sirup.
Sirup adalah Sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa.
Kecuali dinyatakan lain, kadar sakarosa tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih
dari 66,9% kecuali dinyatakan lain. Sirup dibuat biasanya untuk menutupi rasa
pahit dari zat aktif obat salah satunya adalah paracetamol.
Dalam praktikum kali ini dilakukan pembuatan sirup paracetamol dengan
memperhatikan zat tambahan yang sesuai. Adapun zat tambahan yang digunakan
yaitu sakarin sebagai pemanis, metal paraben sebagai pengawet, natrium fosfat
dan dinatrium fosfat sebagai pendapar, FD & C Red sebagai pewarna, strawberry
flavor sebagai perasa, dan air sebagai pelarut. Indikasi sediaan ini adalah untuk
meringankan rasa sakit pada keadaan sakit gigi, sakit kepala, dan menurunkan
demam.
Adapun cara kerjanya yaitu disiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan. Selanjutnya dikalibrasi botol dengan volume 60 ml. Dipanaskan air
sebanyak 100 ml untuk melarutkan bahan tambahan yang tidak larut dalam air
dingin. Ditimbang semua bahan yang digunakan dengan menggunakan neraca
analitik.

Pertama-tama dibuat larutan paracetamol yaitu dengan mengambil

1958,4 mg paracetmol dilarutkan dalam air hangat pada suhu 45 o C sebanyak 25


ml. Penggunaan air hangat dikarenakan paracetamol memiliki kelarutan agak
sukar larut dalam air dan larut dalam mendidih. Akan tetapi paracetamol akan
rusak pada suhu diatas 45o C oleh karena itu digunakan air hangat untuk
melarutkannya, kemudian diaduk hingga larut dan homogen.

Setelah itu, dibuat larutan sakarin sebagai pemanis. Diambil 0,306 mg


sakarin yang telah ditimbang kemudian dilarutkan dalam air sebanyak 15 ml
kemudian diaduk hingga homogen. Selanjutnya, dibuat larutan pengawet dengan
cara diambil 0,1224 mg metil paraben yang telah ditimbang kemudian dilarutkan
dalam air panas 20 ml karena metal paraben memiliki kelarutan larut dalam air
panas dan diaduk hingga homogen. Pembuatan larutan pewarna yaitu FD & C
Red dengan mengambil 5 tetes pewarna FD & C Red dan dilarutkan ke dalam 5
ml air. Karena didalam laboratorium tidak terdapat bahan pendapar natrium fosfat
dan dinatrium fosfat maka pembuatan larutan pendapar tidak dilakukan.
Selanjutnya, diambil gelas kimia berukuran sedang kemudian dimasukkan
larutan paracetamol dan ditambahkan sedikit demi sedikit larutan pemanis sakarin
sambil diaduk hingga homogen. Selanjutnya ditambahkan larutan pengawet metil
paraben dan pewarna FD & C Red sambil diaduk hingga tercampur homogen.
Diteteskan perasa strawberry flavour sebanyak 5 tetes untuk menambah daya tarik
dengan rasa dan aroma strawberry. Dimasukkan dalam wadah botol yang telah
dikalibrasi 60 ml dan dikocok hingga homogen.
Setelah sediaan sirup paracetamol dibuat, dilanjutkan dengan evaluasi
sediaan selama 6 hari dimulai dari t 0 hingga t6. Dimana pertama-tama dilakukan
uji organoleptik yang meliputi bau, rasa, dan warna pada sediaan. Pada hari ke 1
sirup paracetamol bewarna merah, bau strawberry, dan rasa tawar, dan
kejernihannya sangat jernih akan tetapi hingga hari ke 6 organoleptiknya berubah
dimana warnanya telah memudar, dan bau dan aroma strawberrynya berkurang
tetapi tetap jernih dan berasa tawar. Hal ini biasanya disebabkan pengaruh bahan
tambahan pewarna yang digunakan kurang efektif dan penggunaan pelarut air
yang sebagai media pertumbuhan mikroba serta paparan cahaya sehingga
menyebabkan organoleptiknya berubah.
Selanjutnya dilakukan uji pH dengan menggunakan kertas pH didapatkan
sediaan sirup paracetamol memiliki pH 6 pada hari ke 1 . Pada hari ke 2 dan ke 3
pHnya 5, dan pada hari ke 4, 5, dan 6 pHnya 4, hal ini dikarenakan tidak
terdapatnya bahan pendapar di laboratorium sehingga terjadi perubahan pHnya
disetiap harinya dari pH asam lemah menjadi asam kuat. Perubahan pH menjadi

asam kuat dikarenakan adanya mikroba yang masuk ke dalam sediaan yang
membuat sediaan menjadi asam dan tengik.
Setelah itu dilakukan uji stabilitas sediaan yaitu dengan mengamati
endapan yang terbentuk hingga hari keenam. Sediaan sirup paracetamol tidak
terdapat endapan dari hari ke 1 hingga hari ke 6 hal ini disebabkan karena pada
saat pembuatan sediaan sirup praktikan memperhatikan setiap kelarutan dari zat
aktif dan bahan tambahan yang digunakan sehingga tidak terdapat endapan
sampai pada ke 6.
Dilakukan uji viskositas larutan dengan menggunakan alat Hopler. Dimana
sediaan eliksir dalam botol di isi hingga penuh sampai pada batas penutup dan
dimasukkan kelereng dan di lihat hingga tidak terdapat gelembung udara didalam
botol setelah itu ditutup rapat. Disiapkan stopwatch untuk melihat waktu yang
digunakan kelereng berpindah dari atas botol (M1) sampai ke bawah botol (M2)
dan dicatat waktunya. Uji viskositas ini bertujuan untuk melihat kekentalan dan
daya alir dari sediaan. Sama seperti uji evaluasi yang lainnya, uji viskositas
dilakukan selama enam hari berturut-turut dan didapatkan hasilnya bahwa
semakin lama dalam penyimpanan maka viskositas suatu sediaan akan berkurang.
Hal ini dapat dilihat pada hari ke 1 viskositasnya 0,042 g/ml, hari ke 2
viskositasnya 0,040 g/ml, hari ke 3 viskositasnya 0,039 g/ml, hari ke 4
viskositasnya 0,038 g/ml, hari ke 5 viskositasnya 0,037 g/ml, dan pada hari ke 6
viskositasnya 0,035 g/ml.

Semakin lama penyimpanan suatu obat maka

viskositasnya pun semakin berkurang hal ini biasanya dikarenakan penambahan


bahan tambahan yang bermasalah dalam kelarutannya yang akan mempengaruhi
kekentalan sediaan.
Selanjutnya dilakukan penentuan densitas larutan yaitu penentuan bobot
jenis dengan alat piknometer. Penentuan ini dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui berapa bobot jenis dari suatu sediaan. Cara penentuannya yaitu
diambil piknometer kosong dan ditimbang kemudian piknometer tersebut diisi
dengan sediaan eliksir dextromethorphan sampai pada batas leher piknometer dan
ditimbang kembali. Kemudian dihitung bobot jenis sediaan dengan menggunakan
rumus dan hal ini dilakukan hingga hari keenam. Dan didapatkan hasilnya yaitu
pada hari ke 1 hingga hari ke 6 bobot jenis sediaan yaitu 1,147 g/ml, 1,106 g/ml,

1,062 g/ml, 1,012 g/ml, 0,986 g/ml, dan 0,976 g/ml. Hal ini biasa disebabkan
karena kurang keakuratan pada saat penimbangan dan alat piknometer yang
digunakan setiap harinya berubah atau tidak menggunakan piknometer yang sama
pada saat evaluasi pertama sehingga berat dari piknometer pun berubah dan
mempengaruhi bobot jenis sediaan.
Terakhir, dilakukan uji penentuan volume terpindahkan. Hal ini bertujuan
untuk melihat isi volume suatu sediaan tidak kurang dari 100% dan tidak boleh
lebih dari 95% volume yang dinyatakan pada etiket. Caranya yaitu larutan dituang
dalam gelas ukur didiamkan selama 30 menit dan dilihat sampai tidak ada
gelembung air dan diukur volumenya dikurangi dengan volume etiket pada saat
pada sediaan dan hal ini dilakukan selama 6 hari. Dapat dilihat bahwa volume
larutan dari hari ke 1 hingga hari ke 6 berubah secara berturut-turut dari 98%, 96,6
%, 93,3 %, 90 %, 86,6 %, hingga menjadi 85%. Hal ini biasanya disebabkan busa
atau bahan tambahan yang bereaksi dengan bahan tambahan lain sehingga
membentuk busa yang menyebabkan pengurangan volume sediaan.
Terjadinya perubahan-perubahan pada evaluasi sediaan dikarenakan tidak
tersedianya bahan tambahan dilaboratorium, alat-alat yang kurang memadai, serta
kurangnya keakuratan dalam perhitungan ataupun penimbangan.