Anda di halaman 1dari 9

1.

Jelaskan dalam jalur biosintesis triterpenoid, identifikasilah faktor-faktor penting yang sangat
menentukan dihasilkannya triterpenoid dalam kualitas banyak.
Jawab:
Terpenoid merupakan bentuk senyawa dengan struktur yang besar dalam produk alami yang
diturunkan dan unit isoprene (C5) yang bergandengan dalam model kepala ke ekor,
sedangkan unit isoprene diturunkan dari metabolisme asam asetat oleh jalur asam mevalonat
(MVA). Adapun reaaksinya adalah sebagai berikut

Klasifikasi terpenoid ditentukan dari unit isopren atau unit C-5 penyusun senyawa
tersebu. Secara umum biosintesis dari terpenoid dengan terjadinya 3 reaksi dasar, yaitu:
a. Pembentukan isopren aktif berasal dari asam asetat melalui asam mevalonat.
b. Penggabungan kepala dan ekor dua unit isopren akan membentuk mono-, di-, seskui-, sesterdan poli-terpenoid.
c. Penggabungan ekor dan ekor dari unit C-15 atau C-20 menghasilkan triterpenoid dan
steroid.
Mekanisme dari tahap-tahap reaksi biosintesis terpenoid adalah asam asetat setelah
diaktifkan oleh koenzim A melakukan kondensasi jenis Claisen menghasilkan asam
asetoasetat. Senyawa yang dihasilkan ini dengan asetil koenzim A melakukan kondensasi
jenis aldol menghasilkan rantai karbon bercabang sebagaimana ditemukan pada asam
mevalinat. Reaksi-reaksi berikutnya adalah fosforilasi, eliminasi asam fosfat dan
dekarboksilasi menghasilkan Isopentil piroposfat (IPP) yang selanjutnya berisomerasasi
menjadi Dimetil alil pirofosfat (DMAPP) oleh enzim isomerase. IPP sebagai unit isopren
aktif bergabung secara kepala ke ekor dengan DMAPP dan penggabungan ini merupakan
langkah pertama dari polimerasasi isopren untuk menghasilkan terpenoid.

Penggabungan ini terjadi karena serangan elektron dari ikatan rangkap IPP terhadapa
atom karbon dari DMAPP yang kekurangan elektron diikuti oleh penyingkiran ion piropospat
yang menghasilkan Geranil pirofosfat (GPP) yaitu senyawa antara bagi semua senyawa
monoterpenoid.

Penggabungan selanjutnya antara unit IPP dan GPP dengan mekanisme yang
sama menghasilkan Farnesil pirofosfat (FPP) yang merupakan senyawa antara bagi
semua senyawa seskuiterpenoid. Senyawa diterpenoid diturunkan dari Geranilgeranil pirofosfat (GGPP) yang berasal dari kondensasi antara satu unit IPP dan
GPP dengan mekanisme yang sama. Mekanisme biosintesa senyawa terpenoid
adalah sebagai berikut:

Pada biosintesis triterpenoid untuk menghasilkan hasil yang banyak faktor yang sangat
mempengaruhinya yaitu pada jalur asam mevalonat, dimana pada jalur ini terjadi
pembentukan asam mevalonat yang berasal dari asam asetat yang telah diaktifkan oleh
koenzim-A berkondensasi, pada tahap ini sangat penting dimana reaksi akan terjadi dengan
bantuan enzim HMG-Coa reduktase agar asam mevalonat yang terbentuk dalam jumlah
banyak yang sebagai dasar pembentukan isopren.
2. Jelaskan dalam penentuan struktur flavonoid, kekhasan signal dan intensitas serapan dengan
menggunakan spektrum IR sama NMR. Berikan dengan contoh sekurang-kurangnya 2
struktur yang berbeda.

Jawab:
Spektroskopi IR
Metode yang dapat menentukan serta mengidentifikasi gugus fungsi yang terdapat dalam
senyawa organik, yang mana gugus fungsi dari senyawa organik akan dapat ditentukan
berdasarkan ikatan dari tiap atom dan merupakan bilangan frekuensi yang spesifik.
Nuklir Magnetik Resonansi Proton (NMR)

Metode ini akan mengetahui posisi atom-atom karbon yang mempunyai proton atau
tanpa proton. Di samping itu akan dikenal atom-atom lainnya yang berkaitan dengan proton.

Sintesis 2-hidroksikalkon menggunakan spektroskopi IR:

Sintesis 2-hidroksikalkon dimulai dengan menyiapkan 0,01 mol 2hidroksibenzaldehida dan 0,01 mol asetofenon dalam penangas es kemudian
tambahkan larutan asam klorida bertetes-tetes. Pengadukan dilanjutkan selama 5
jam pada suhu 100C. Endapan yang diperoleh kemudian disaring dan dimurnikan
dengan cara rekristalisasi dengan pelarut etanol (McBride, 2005). Hasil yang
diperoleh kemudian dianalisis menggunakan KLT, KLT scanner, spektrometer
UV-Vis, FTIR dan NMR.
Hasil analisis spektroskopi IR menunjukkan adanya gugus hidroksil ( OH)
dengan adanya serapan melebar dengan puncak di 3455,23 cm-1, gugus karbonil
(C=O) pada daerah 1645,99 cm-1, C=C alkena pada daerah 1598,85 cm-1, C=C
aromatik pada daerah 1584,09 cm-1, substituen pada kedudukan orto pada cincin
aromatik pada daerah 731,75 cm-1, C fenol pada daerah 1150,65 cm-1. Serapan
=C H aromatik maupun alkena di atas 3000 cm-1 terlalu lemah sehingga tidak
terbaca pada spektrum IR senyawa hasil sintesis. Spektrum IR senyawa hasil
sintesis ditunjukkan pada gambar berikut.

Sintesis 2-hidroksikalkon menggunakan spektroskopi NMR


Sebanyak 3 mL etanol , 3 mL akuades dan 0,5 g NaOH dicampur diaduk di dalam
penangas es sampai semua NaOH larut. Selanjutnya tambahkan 0,005 mol asetofenon dan
0,005 mol 2- hidroksibenzaldehida bertetes sambil diaduk. Setelah pengadukan selama 5 jam,
endapan yang timbul disaring dan dicuci dengan akuades. Setelah hasil penyaringan
dikeringkan, selanjutnya senyawa hasil sintesis dimurnikan dengan cara rekristalisasi
menggunakan pelarut etanol-akuades. Selanjutnya senyawa hasil sintesis yang sudah murni
dikeringkan, ditimbang dan ditentukan sifat fisiknya meliputi warna, kemurnian dan titik
lelehnya. Elusidasi struktur dilakukan menggunakan KLT, KLT-scanner, kemudian dianalisis
menggunakan KLT, KLT scanner, spektrometer UV-Vis, FTIR dan NMR.

Analisis senyawa dengan menggunakan spektroskopi 1H-NMR dapat memberikan


informasi mengenai jumlah, sifat dan lingkungan atom hidrogen dalam suatu molekul.
Spektrum 1H NMR senyawa hasil sintesis disajikan pada gambar berikut.

Berdasarkan data spektrum 1H NMR senyawa hasil sintesis muncul serapan-serapan


pada daerah 8,09 ppm ((1H, d, 6,7 Hz); 6,97 ppm (1H, dd, 7,35 Hz); 6,53 ppm (1H, t, 7,95
Hz ); 8,09 ppm (1H, d, 8,55 Hz) yang menunjukkan proton-proton dari cincin aromatik B.
Serapan pada 8,28 ppm (1H, d, 15,25 Hz) dan 8,03 ppm (1H, d, 15,25 Hz) menunjukkan
proton-proton pada gugus CH= etilena dengan posisi trans. Serapan-serapan yang muncul
pada daerah 7,51 ppm (2H, d, 7,35 Hz); 7,56 ppm (2H, d, 7,65 Hz); dan 7,08 ppm (1 H, t, 6,7
Hz) menunjukkan proton-proton pada cincin aromatik A.
3. Dalam isolasi alkaloid, pada tahap awal dibutuhkan kondisi asam atau basa. Jelaskan dasar
penggunanaan reagen tersebut, dan berikan contohnya sekurang-kurangnya tiga macam
alkaloid.
Jawab:
Kebanyakan senyawa alkaloid bersifat basa, sifat tersebut tergantung pada adanya
pasangan elektron pada nitrogen. Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan nitrogen
bersifat melepaskan elektron, contoh gugus alkil, maka ketersediaan elektron pada nitrogen
naik dan senyawa lebih bersifat basa. Sebaliknya bila gugus fungsional yang berdekatan
bersifat menarik elektron (contoh gugus karbonil), maka ketersediaan elektron berpasangan
berkurang dan pengaruh yang ditimbulkan alkaloid dapat bersifat netral atau bahkan sedikit
asam. Umumnya, alkaloid tidak berwarna walaupun masih ada yang berwarna, bersifat basa
sehingga jika itambahkan asam akan membentuk garam, dan larut dalam pelarut organik.
Pada saat isolasi alkaloid dibutuhkan dibutuhkan dalam suasana asam, hal ini
bertujuan agar gugus amina terprotonasi membentuk garamnya, sehingga senyawa alkaloid
lebih mudah terisolasi.
Yang termasuk senyawa alkaloid adalah nikotin, kafein. dan morfin Secara umum
ekstraksi alkaloid pada tanaman.

Nikotin adalah suatu alkaloid dengan nama kimia 3-(1-metil-2-pirolidil)


piridin. Saatdiekstraksi dari daun tembakau, nikotin tak berwarna, tetapi segera menjadi cok
latketika bersentuhan dengan udara. Nikotin dapat menguap dan dapat dimurnikan dengan
cara penyulingan uap dari larutan yang dibasakan.

b.

Kafein adalah senyawa yang termasuk dalam golongan alkaloid. Alkaloid adalah senyawa
yang mengandung atom nitrogen dalam strukturnya dan banyak ditemukan dalam tanaman.
Senyawa alkaloid umumnya memiliki rasa pahit dan seringkali memiliki sifat fisilogis aktif
bagi manusia.

c. Morfin adalah alkaloid analgesik yang sangat kuat dan merupakan agen aktif utama yang
ditemukan pada opium. Morfina bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan

rasa sakit. Morfin adalah paling banyak mengandung alkaloid yang ditemukan di opium , getah
kering (lateks) yang berasal dari hasil getah irisan biji mentah opium, atau dinamakan, poppy,
Papaver somniferum .

4. Jelaskan keterkaitan di antara biosintesis, metode isolasi dan penentuan struktur senyawa
bahan alam. Berikan contohnya.
Jawab:
Biosintesis, metode isolasi, dan penentuan struktur sangat penting di dalam
mengekstraksi suatu senyawa metabolit sederhana. Biosintesis dilakukan untuk mengetahui
apakah suatu senyawa bahan alam tersebut diekstraksi berasal dari senyawa apa, sehingga
didapatkan senyawa yang diinginkan. Pada metode isolasi harus dibutuhkan syarat pelarut
yang digunakan, apakah senyawa yang akan di ekstrak bersifat polar atau tidak, atau
mengandung suatu gugus. Sedangkan penentuan struktur dapat menggunakan metode
kromatografi dapat berupa IR, NMR dan lain-lain. Penentuan struktur ini menunjukkan
bagian struktur/ gugus mana yang berguna dan dapat dimanfaatkan dalam kehidupan.

Antosianin adalah pigmen dari kelompok flavonoid yang larut dalam air,
berwarna merah sampai biru yang bersifat sebagai antioksidan dan tersebar luas
pada tanaman. Secara kimia semua antosianin merupakan turunan suatu struktur
aromatik tunggal, yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini
dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil, metilasi dan glikosilasi.

Tahap pertama, biosintesis antosianin dimulai dari produksi asam cinnamic dari phenil
alanine pada siklus asam shikimic oleh enzim phenilalanine amoniliase (PAL) yang
kemudian dikonversi menjadi asam coumaric dan mengalami modifikasi menjadi malonyl
CoA.
Tiga
molekul malonyl
CoA dan -coumaroyl-CoA membentuk naringenin
chalconeyang selanjutnya dikonversi menjadi flavanone dan naringenin. Tahap kedua,
reduksi formasidihydroflavonol menjadi flaven-3,4 diol (leucoanthocyanin) yang kemudian
dikonversi menjadi antosianin setelah ditambahkan molekul glukosa oleh enzim UDP
glucose, yaituflavonoid glucosyltransferase.

Untuk mengisolasi senyawa antosianin, metode yang biasa digunakan adalah


mengekstraksi jaringan segar dengan cara maserasi dalam alkohol yang mempunyai titik
didih yang rendah dan mengandung asam (1% HCl). Pelarut organik yang biasa digunakan
adalah metanol. Hal ini karena metanol merupakan senyawa yang polar sehingga pigmen
antosianin dapat mudah larut, selain itu titik didihnya yang relatif rendah 65 C, sehingga
memudahkan dalam pemekatan ekstrak.

Pada spektrum FTIR menunjukkan bahwa isolat 1 kemungkinan mengandung beberapa


gugus fungsi seperti OH yang ditunjukkan oleh serapan tajam pada daerah 3431,13 cm-1
yang didukung juga oleh munculnya serapan pada bilangan gelombang 1055,95 cm-1 untuk
ikatan C-O alkohol. Serapan ikatan rangkap C=C aromatik ditunjukkan oleh serapan tajam
pada bilangan gelombang 1633,59 cm-1 yang didukung juga oleh munculnya serapan pada
bilangan gelombang 1473,51 cm-1. Berdasarkan hasil kromatogram serta spectrum UV-Vis
dan spektrum FTIR disimpulkan bahwa struktur senyawa antosianin yang diduga untuk isolat
1 adalah sebagai berikut:

Dugaan Struktur Senyawa Antosianin dalam Isolat 1 (Pelargonidin 3-monoglukosida).