Anda di halaman 1dari 4

Para Jago dan Politik

RUDI HARTONO

Beberapa daerah di Indonesia, seperti Jember, dikenal fenomena


“bromocorah”. Sementara masyarakat Jawa menyebut mereka sebagai jago.
Di daerah lain, seperti banten, disebut sebagai “jawara”, dan di daerah lain
ada penyebutan seperti “weri” atau “blater”.

Di jaman kolonial, mereka banyak dipakai untuk kepentingan pemerintah,


utamanya untuk menjaga tata tentram di masyarakat luas. mereka dipakai
juga untuk mengawasi kerja rodi, menarik pajak, dan mengontrol jago lain,
dan untuk keperluan-keperluan lainnya.

Dan, ketika Indonesia beranjak pada sistim politik modern, keberadaan


mereka masih seringkali dipergunakan, terutama untuk fungsi-fungsi
tertentu. Pada jaman orde baru, misalnya, mereka merupakan salah satu
unsur dari tenaga kekerasan dan bagian dari mobilisasi politik. Dalam
beberapa pemilu, misalnya, peran mereka yang menonjol di tengah
masyarakat, dipergunakan oleh orba untuk memobilisasi masyarakat guna
kepentingan pemerintah.

Sekarang ini, di era reformasi (baca, sistim politik liberal), kendati peran
mereka sudah mulai berkurang, tapi perlu memahami sedikit bagaimana
peran-peran mereka dialihkan dan ditransformasikan pada aktor baru; kaum
professional.

Jago dan Politik Indonesia

Di negara-negara feudal, proses pembentukan sebuah kekuasaan politik


membutuhkan penggunaan kekerasan, sebagai jalan menegakkan
superioritas terhadap kelompok kekuasaan yang lain. Mereka menjadi unsur
penting dalam sistim pemerintahan tradisional, terutama pada kekuasaan
feudal.

Beberapa raja Jawa, misalnya, justru berasal dari kalangan para jagoan ini,
seperti Ken Arok, Senapati, dan sebagainya. Di eropa, pada abab
pertengahan, dimana penggunaan kekerasan masih mencolok, keberadaan
para tentara dan ahli perang menjadi penting dalam proses pembentukan
kekuasaan, sama halnya dengan para warlord di China.
Di bawah kekuasaan kolonial, yang tidak menghendaki kesejajaran politik
maupun ekonomi antara penjajah dan rakyat jajahan, para jago menempel
pada struktur politik yang dilembagakan oleh sistim kolonial, seperti
ambtenar, residen, bupati, dan sebagainya. Mereka ini, menurut dokumen
Belanda, disebut sebagai tusschenpersonen (perantara).

Ketika tanam paksa diberlakukan, sekitar 1830-1870-an, para jago


difungsikan sebagai pemobilisasi tenaga kerja, menjaga kerja-paksa, serta
tukang pukul. Tidak heran, misalnya, fungsi kepolisian professional pada abad
19 banyak dijalankan oleh para jago-jago ini.

Di jaman orde baru, sebagai upayanya menjaga penertiban sosial dan


pencegahan terhadap kemunculan oposisi, maka orde baru juga banyak
mempergunakan para jago untuk kepentingan politiknya. Hanya saja, pada
saat orba, mereka didandani dengan seragam-seragam resmi, sehingga
terkesan sebagai apparatus resmi yang sah atau legal. Dalam setiap pemilu,
para jago yang diorganisasikan ini digunakan sebagai penyangga mobilisasi
massa.

Dalam perjalanannya, para jago punya seteru, yaitu preman. Mereka, para
preman, merupakan para jago yang tidak terorganisasikan, dan mereka
banyak beraktifitas di jalanan. Dan, ketika itu, premanisme identik dengan
rambut gondrong, tatto, tukang peras, dan sebagainya. Pada masa itu, orde
baru pun tidak akur dengan pemuda atau mereka yang berambut gondrong,
karena dianggap simbolisme ketidaktertiban, kericuhan, dan sebagainya. Dan
akhirnya, operasi penertiban dan razia gondrong marak dilakukan. Para
gondrong, seperti juga mantan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI), tidak
diperkenankan mengurus dan memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Perseteruan orba menghadapi para jago berambut gondrong dan bertatto ini,
akhirnya berakhir pada peristiwa penembakan misterius (petrus).

Pada saat revolusi, seperti yang dicatat Anton Lucas, ada pula jago dan
bandit (baca, lenggaong) yang mengambil peran dalam revolusi sosial,
seperti revolusi sosial yang dipimpin tokoh Kutil.

Untuk para jago yang dipergunakan pemerintah dan partai politik, mereka
kemudian diorganisasikan dan diberikan seragam tertentu, untuk
memberikan kesan formal dan resmi.
Sekarang Ini

Pada masa lalu, ketika para Jago ditempelkan pada kekuasaan, keberadaan
mereka kebanyakan sebagai pengutip uang, dan, karena kebiasaan itu,
mereka dikatakan sebagai parasit ekonomi. Secara ekonomi, mereka
dikatakan sebagai sumber pembiayaan siluman, dan menciptakan ekonomi
biaya tinggi.

Sekarang ini, di bawah neoliberalisme yang mengagungkan efisiensi, biaya


siluman dipersamakan dengan korupsi, sebuah penyakit yang perlu
diberantas. Dengan semakin banyaknya biaya siluman, maka semakin tinggi
pula ongkos produksi yang harus dikeluarkan pengusaha. Berdasarkan data,
biaya siluman justru memakan sekitar 11-15% dari biaya produksi.

Secara ekonomis, mereka kini dianggap sebagai parasit, yang mengganggu


proses akumulasi capital secara produktif.

Di bidang politik, keberadaan mereka pun semakin memudar, seiring dengan


semakin minimalnya penggunaan cara-cara kekerasan dalam kehidupan
politik dan upaya menjaga kekuasaan. Sekarang ini, penggunaan demokrasi
dan Hak Asasi manusia (HAM) lebih kedepankan, dibanding penggunaan
kekerasan fisik (militer). Dalam memelihara kekuasaannya, rejim neoliberal
lebih mengandalkan apparatus koersif yang resmi (militer, polisi, pengadilan),
disamping penggunaan apparatus ideologi; media, lembaga pendidikan,
lembaga keagamaan, dan sebagainya.

Sementara itu, karena hal tersebut, partai politik mulai melirik kaum
intelektual, professional, dan bekas aktifis. Para jagoan yang relatif bertahan,
kebanyakan adalah mereka yang sudah jebol menjadi politisi ulung, ataupun
sudah mempunyai bisnis sendiri (baca, bertransformasi jadi pengusaha).

Saat ini, yang disebabkan transformasi politik dan ekonomi, peran-peran para
jagoan banyak beralih kepada para administratur professional dan kaum
intelektual.

RUDI HARTONO, Peneliti Lembaga Pembebasan Media dan Ilmu Sosial


(LPMIS), pengelola Berdikari Online, dan Jurnal Arah Kiri.