Anda di halaman 1dari 5

MAHAL!

Oleh: Wahyu Awaludin


0806466380

Esai ini dibuat untuk diikutkan pada


“Lomba Esai UI ISLAMIC BOOK FAIR”

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya


Universitas Indonesia
2009
“Salah satu cara penyelenggarakan pendidikan adalah
dengan mengembangkan budaya membaca, menulis,
dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.”
(UU 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab III
Pasal 4 ayat 5)

Seorang kawan iseng melakukan riset di friendster.com. Dia mencari 100 nama “Agus”
di friendster dan mencatat buku-buku apa saja yang menjadi favorit mereka (tiga garis
menjadi batas orang yang berbeda). Sebagian hasilnya cukup untuk membuat kita merenung:
Umur 17-21 tahun
Cerpen /// Slamdunk /// kosong /// sinchan, kung fu boy, golden boy /// al kemis, la
tahzan, terserah deeeeeeeeeeeehhhh /// Crt misteri n percintaan /// Magazine World Cup ///
maaf ya gw bukan kutu buku, heee.....
Umur 22-25
/// Speed /// kosong /// kosong /// tak ada yang ku suka selain roman percintaan ///
aqua /// soup for the soul /// Jangan Tipu Cintaku (Mana ada judul Buku Itu.....!) /// KITAB
SUCI /// i hate books ///
26-29 tahun
Computer Book /// apa ya...? /// komik, dan pelajaran kejuruan /// seno gumira
adjidarma /// Crayon Shincan, salad days /// any kind of bOOk ///
Di atas 30 tahun
ABOUT PAINTING, FOTOGRAFER, COMPUTER dan yg asyik diliat ajalah ///
kosong /// al qur'an, dsb, ... /// semua jenis //
Tidak semua hasil riset dimasukkan karena akan sangat panjang. Intinya, dengan
melihat hasil riset iseng di atas, sedikit banyak kita mendapat gambaran yang real tentang
minat baca orang yang bernama “Agus” di friendster. Walaupun, sekali lagi, ini tidak begitu
relevan. Dari 100 sampel, ada 28 orang yang tidak membaca sama sekali (ditulis di sini
dengan “kosong”). Berarti, hanya 72% Agus di friendster yang membaca. Jika “membaca”
yang dimaksud di sini adalah “membaca buku” (komik, majalah dan sejenisnya tidak
termasuk), maka persentase yang membaca hanya tinggal 50%.1 Alamat apakah ini?

1
http://groups.yahoo.com/group/unmulnet. Diakses pada 17 November 2009
Menurut data yang dikeluarkan BPS tahun 2003, dikatakan bahwa penduduk Indonesia
berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada minggu hanya 55,11 persen. Sedangkan
yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22 persen, buku cerita 16,72 persen, buku
pelajaran sekolah 44.28 %, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07
persen.2
Timbul pertanyaan, mengapa minat baca masyarakat Indonesia rendah? Baiklah, kita
tidak bisa menafikan sebab-sebab lain seperti kurangnya budaya membaca, tiadanya akses
buku, kurangnya waktu untuk membaca, serbuan teknologi virtual dari Barat yang membuat
kita meloncat dari budaya lisan ke budaya elektronik padahal budaya literer belum bagus,
dipengaruhi kenyataan masa lalu bahwa yang berkembang di Indonesia memang budaya
lisan, dan lain-lain. Akan tetapi, di sini saya hanya akan membahas satu hal: mahalnya buku.
Adalah satu poin yang tidak bisa dibantah bahwa harga buku, menurut sebagian besar
masyarakat Indonesia, cukup menguras kantong. Baru-baru ini di salah satu fakultas di UI
diadakan pameran buku kira-kira seminggu. Ada pemandangan kontras di sana. Sudut kiri
pameran sangat ramai oleh mahasiswa sedangkan sudut kanan pameran kosong melompong.
Padahal di sana sama-sama digelar buku-buku. Ada apa gerangan? Rupanya, sudut kiri
adalah buku-buku obral yang sangat murah, sedangkan sudut kanan pameran adalah buku-
buku yang sangat mahal. Teman saya banyak yang memborong buku murah tersebut hingga
10-15 buku, dan tentang sudut kanan pameran, saya mendengar celetukan salah satu
pengunjung, “satu buku harganya Rp100.000-400.000. Gila, siapa yang mau beli?”
Apa solusi dari harga buku yang mahal ini? Menurut saya, solusinya ada 3. Pertama,
subsidi buku dari pemerintah. Kedua, memanfaatkan dunia maya. Ketiga, mengadakan
pameran buku murah.
Pertama, subsidi buku dari pemerintah. Salah satu faktor yang membuat harga buku
mahal adalah mahalnya harga kertas. Harga buku bisa lebih murah jika pemerintah
mensubsidi kertas yang khusus digunakan untuk mencetak buku. Di Vietnam, harga buku
dipastikan murah karena ada subsidi dari pemerintah. Buku-buku sastra terkenal dunia dapat
dibaca warga Vietnam dengan harga murah dan mudah didapat di toko buku. 3 Di India,
pemerintahnya mensubsidi kertas pada penerbit sehingga harga buku bisa murah. Jadi, di
sana ada harga buku yang mahal, tetapi ada juga harga buku yang murah.4 Pun yang membuat
mahal adalah dibebankannya aneka pajak terhadap buku. Seyogyianya pemerintah mulai
mengurangi atau malah menghapuskan aneka pajak ini.
2
http://guahira.or.id. Diakses pada 17 November 2009
3
http://nasional.kompas.com . Diakses pada 17 November 2009
4
http://bandung.detik.com. Diakses pada 17 November 2009
Kedua, memanfaatkan dunia maya. Menurut Wanti Syaefullah, Sekjen IKAPI,
Indonesia adalah negara nomor satu pengakses Google Book Search se-Asia Pasifik dan
nomor sepuluh di dunia5. Mengapa? Karena Google Book Search tidak hanya murah, bahkan
gratis! Padahal pengguna internet di Indonesia hanya 25 juta orang, masih sangat kecil
dibandingkan negara-negara lain. Fakta lapangan pun menunjukkan bahwa orang Indonesia
termasuk rajin mengumpulkan berbagai e-book di blognya masing-masing dan dengan senang
hati saling berbagi e-book. Pun orang Indonesia banyak yang hobi memindai buku cetak
menjadi format PDF, DJVU, ataupun AskViewer. Data dari epaper.kompas.com cukup
menakjubkan. Seperti yang kita ketahui, Kompas mempunyai format digital yang beralamat
di epaper.kompas.com, dan Kompas mewajibkan pembaca untuk mendaftar dulu jika ingin
mengaksesnya. Satu hal yang membuat kita terkejut adalah ternyata 3 hari setelah peluncuran
epaper.kompas.com, sudah 13.342 pengunjung yang mendaftar6!
Ketiga, mengadakan pameran buku murah. Walaupun toko buku dan perpustakaan
lebih sering sepi, suatu hal yang “kontradiksi” bahwa pameran buku hampir dipastikan selalu
membludak. Rupanya, mereka datang untuk membeli buku murah yang disediakan penerbit.
Wanti Syaefullah, Sekjen IKAPI, mengatakan bahwa transaksi yang terjadi di pameran buku
yang diadakan IKAPI di seluruh Indonesia, omsetnya selalu mencapai milyaran rupiah.
Bukankah kita pun sangat semangat ketika mendengar ada Islamic Book Fair dan mengajak
teman-teman kita di sana karena harga buku yang ditawarkan murah?
Kesimpulannya, statistik yang menunjukkan bahwa minat baca orang Indonesia rendah
mungkin karena mereka jarang membeli dan membaca buku. Padahal, dilihat dari berbagai
indikator yang ada, anggapan itu bisa timbul karena harga buku sangat mahal. Dengan
berbagai solusi yang saya uraikan di atas, mudah-mudahan semua ini lebih membaik.
Minat baca orang Indonesia rendah..Ah, kata siapa?
***

Biografi Penulis
5
http://bandung.detik.com. Diakses pada 17 November 2009
6
http://kompasiana.com. Diakses pada 17 November 2009
Nama : Wahyu Awaludin
NPM : 0806466380
Jurusan : Sastra Indonesia
Fakultas : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas : UI
No.HP : 085697910069
Alamat : Kos Haji Bambang Kukusan Tengah, Beji, Depok
Email : wahyu.awaludin81@ui.ac.id
Blog : http://nyanyianbahasa.wordpress.com
http://eventui.wordpress.com
Social Media : Facebook: http://facebook.com/wahyu.awaludin1
Twitter: http://twitter.com/wahyuawaludin
Blog UI: http://mhs.blog.ui.ac.id/wahyu.awaludin81
Multiply: http://terbangkelangit.multiply.com
Kompasiana: http://kompasiana.com/wahyu.awaludin