Anda di halaman 1dari 5

Seorang Ilmuwan Revolusioner

Rudi Hartono *)

Marx pernah mengatakan; “Para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia,
dengan berbagai cara; akan tetapi soalnya ialah mengubahnya”. Pernyataan
Marx ini sangat berpengaruh dalam keyakinan seorang ilmuwan kiri
revolusioner, John Desmond Bernal, namanya. Dia merupakan salah satu
ilmuwan paling cemerlang, inspiratif, dan berwawasan luas di abad 20 ini.

Ia dilahirkan pada 10 Mei 1901, dari sebuah keluarga katolik Irlandia. Ibunya
adalah seorang keturunan Amerika. Ketika masih kecil, dia sudah melakukan
banyak hal, diantaranya menuliskan biografi ketika masih berusia 9 tahun.
Disamping itu, ketika masih kecil, tangganya sudah lincah untuk melakukan
banyak percobaan.

Ia pernah hampir kehilangan nyawa karena tersetrum listrik, ketia dia dan
temannya mencoba membuat sebuah tabung sinar-X. Meskipun masih belia, dia
sudah punya dedikasi besar terhadap pengetahuan, kemajuan, dan masa depan.

Andrew Brown, seorang penulis biografinya baru-baru ini, begitu gamblang


menjelaskan bakat anak ini; mulai dari membangun laboratorium sendiri,
ketertarikannya terhadap politik radikal, dan selalu berdebat dengan
keluarganya ketika membicarakan pemihakan terhadap gerakan Sinn Fein
dalam pembebasan Irlandia. Dia adalah pendukung setia gerakan pembebasan
irlandia, ketika itu.

Pada usia 10 tahun, dia diharuskan meninggalkan Irlandia untuk melakukan


studinya di Inggris. Di tempat baru ini, dia sangat bersemangat menghadiri
pertemuan-pertemuan dengan banyak orang. Dia tidak hanya berdiskusi dengan
intelektual dan pelajar, tetapi juga dengan pekerja, tentara, dan kaum miskin.

Dalam sebuah pertemuan, tepatnya 7 November 1919, dia sempat mendengar


kabar dari kawannya mengenai kemenangan revolusi oktober di Rusia dan
percoban-percobaan sosialisme di sana. Sejak itu, rasa keingintahuannya pun
bertambah besar.

Beberapa serpihan informasi soal Sovyet diterimanya, terutama soal proyek


sosialisme di sana. Dia semakin tertarik dengan Sovyet, yang menurutnya
mewakili sebuah masyarakat baru, masyarakat adil dan ilmiah. Karena itu pula,
dia menyadari bahwa pengetahuannya soal Irlandia sangatlah sempit, dan
ternyata dunia itu benar-benar lebar.

Dia segera mempelajari sumber pengetahuan masyarakat Sovyet ketika itu,


Marxisme-Leninisme. Dia semakin tertarik dengan marxisme, dan memutuskan
untuk meninggalkan agamnya, katolik, untuk menjadi seorang atheis. Karena
hal itu, orang tuanya sempat mengirimkan seorang imam untuk
menyakinkannya dan mengajaknya kembali ke ajaran agama. Sebaliknya,
bukannya berhasil menyadarkan si Bernal, Imam ini pun ikut meninggalkan
ajaran gereja.

Pernah juga, menurut Bernal dalam autobiografinya, beberapa mahasiswa


kanan mau memberi pelajaran terhadap kaum komunis muda ini, Bernal dan
kawan-kawannya. Si penyerang pun mendatangi kamar Bernal, dan berusaha
memukulnya. Malah sebaliknya, Bernal yang berhasil memukul lawan-lawannya
ini.

Pada tahun 1923, Bernal bersama istrinya bergabung dalam Partai Komunis, dan
mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan kaum pekerja. Dia turut
mengarahkan pekerja dalam pemogokan umum, 1926. Dalam demo anti-fasis
1920-an, ia dan kawan terdekatnya, JBS Haldane, sempat merasakan pukulan
mentah polisi.

Di Cambridge, Bernal tidak sendirian, dia bersama beberapa kawannya,


diantaranya Joseph Nidam, JBS Haldane, dan lain-lain.

Pada awal karirnya, Bernal memutuskan bahwa x-ray kristalografi akan berubah
menjadi alat yang paling mungkin untuk mengungkapkan rincian dari struktur
materi. Bernal terpesona dengan karya WL Bragg dan ayahnya WH Bragg,
(Peraih Nobel pada 1915 Nobel di bidang Fisika), yang merintis pengembangan
x-ray kristalografi. WL Bragg Bernal pernah mengikuti penelitian yang sangat
penting soal susunan atom dalam kristal, dan memusatkan perhatian pada
analisis x-ray terhadap zat-zat organik.

Sumbangannya, pada saat itu, adalah soal perumusan tabel yang membantu
para kristalografi pada awalnya untuk menemukan struktur kristal (ketika tidak
ada komputer), dan karya mempelopori penelitian soal hormon seks, protein,
virus dan perbedaan struktur pada air yang membeku (es, salju, dan
seterusnya). Dia juga dianggap pelopor di bidang fisika komposit.
Di kalangan para penerima nobel di bidang Biologi, mereka mengaku sangat
dipengaruhi oleh karya dan temuan-temuan dari Bernal. Dorothy Hodgkin,
misalnya, mengatakan bahwa ia seharusnya berbagi penghargaan nobel dengan
Bernal.

Ketika perang dunia berkecamuk dan fasisme menguat, dia dan kawan-
kawannya membangun sebuah group anti fasis, bernama Cambridge Scientist
Anti War Group, untuk menyatakan penentangan terhadap perang. Pada saat
itu, dia mulai menggeser penelitiannya soal depresi ekonomi, perang saudara di
Spanyo, Invasi Jepang ke China, hingga gerakan pembebasan nasional koloni
Inggris. Ketika Bukharim memimpin tim ilmuwan Sovyet berkunjung ke Inggris,
tahun 1931, Bernal segera menyambutnya.

Dalam diskusi dengan ilmuwan Sovyet, dia menjadi semakin sadar bahwa ilmu
dan pengetahuan harus didedikasikan kepada kemanusiaan, perdamaian, dan
kesejahteraan seluruh rakyat. Menurut Bukharin, ilmu pengetahuan harus
disumbangkan untuk kemajuan produksi dan pemenuhan kebutuhan rakyat. ini
sangat bertentangan dengan pola pikir konvesional, bahwa ilmu pengetahuan
harus netral.

Dalam karnya yang menggemparkan, The Social Function of Science, pada


tahun 1939, dia menguraikan bagaimana watak eksploitatif kapitalisme dapat
menghambat kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam bukunya itu, dia juga
menekankan bahwa perjuangan untuk perubahan tidak semata-mata terletak di
tangan kaum intelektual terdidik, tetapi juga berada di agitator-agitator politik
yang berjuang untuk kebebasan dan kemandirian.

Menurut Bernal, ilmu pengetahuan di bawah kapitalisme dipergunakan untuk


memuaskan keserakahan kapital, dan cenderung merusak ketentraman umat
manusia.

Sementara di bawah Fasisme, menurut Bernal, ilmu pengetahun dipergunakan


untuk meneliti beberapa persoalan sosial, untuk memunculkan ide soal
kemurnian ras dan kebangsaan. Dia juga melihat bagaimana fasisme
memperdalam penelitian soal ilmu kimia untuk menemukan senjata pemusnah,
sekaligus untuk mendukung industri perangnya.

Beberapa ide Bernal dipergunakan dalam perang, misalnya soal bagaimana


melakukan photo dari udara untuk mempelajari bentuk ombak di pantai.
Beberapa pengetahuannya ini, kemudian, dipergunakan sekutu dalam
pendaratan di pantai Normandia.

Ketika mendengar pemboman terhadap Hiroshima dan Nagasaki, Bernal pun


meletakkan kesedihan sangat mendalam; bagaimana pengetahuan
dipergunakan untuk saling menghancurkan, saling merusakkan. Dia pun
mengorganisir para intelektual untuk menyampaikan keprihatinan ini, dan
meletakkan dasar soal tanggung jawab kaum intelektual.

Sepanjang hidupnya, dia menjadi pendukung setia partai komunis Inggris dan
juga selalu mendukun Uni-sovyet. Dia mengunjungi Rusia, dan bertemu secara
langsung dengan pemimpin Sovyet ketika itu, Nikita Khruschev. Setelah perang
dunia kedua, Bernal tampil sebagai duta besar internasional soviet dalam
komperensi-komperensi ilmu pengetahuan.
Meskipun berasal dari latar belakang keluar yang kaya, Bernal dalam sepanjang
hidupnya, sudah membuktikan kesetiaannya kepada sosialisme, kepada
perjuangan kelas, dan kemajuan umat manusia.

Sangat jarang orang seperti Bernal sekarang ini. Seperti kita ketahui, banyak
ilmuwan yang berteriak soal independensi terhadap ilmu pengetahuan, tetapi,
pada kenyataannya, mereka adalah pendukung setia dari sistem yang
sementara berkuasa saat ini.

Di Indonesia, akhir-akhir ini, sejumlah intelektual yang pernah bersuara keras


soal kebebasan pada jaman orde baru, kini menjadi penyusun utama dalam
kekuasaan rejim neoliberal. Mereka kini menjadi pembohong paling besar, sebab
menjual pengetahuan dan harga dirinya demi sebuah liberalisme.

Akhirnya, menutup diskusi ini, saya mau mengutip pernyataan Czesław Miłosz,
dalam bukunya “The Captive Mind”. Dalam buku ini, ia mengamati bahwa para
intelektual yang menjadi pembangkang tidak harus mereka yang memiliki
pikiran yang paling kuat, tetapi mereka yang memiliki perut yang paling lemah.
Pikiran dapat merasionalisasi apapun, katanya, namun perut mengenal batas.

*) Peneliti di Lembaga Pembebasan Media dan Ilmu Sosial (LPMIS), Redaksi


Berdikari Online, dan Pengelola Jurnal Arah Kiri.