Anda di halaman 1dari 6

Isu Korupsi dan Prospek Gerakan Anti Neoliberal

Oleh: Rudi Hartono*)

Paska pilpres 2009, gerakan atau isu anti neoliberal memang terlihat agak surut.
Meski begitu, sentimen anti neoliberal tetap terpelihara sebagai isu paling penting
dari kalangan oposisi secara umum. Pelemahan hanya terjadi pada kubu-kubu elit
politik, sebab SBY-Budiono akhirnya merangkul bagian terbesar fraksi elit di
parlemen. Sementara, di luar itu, sentimen anti neoliberal tetap terpelihara,
khususnya di barisan ekonom, aktivis pegerakan, dan sebagian tokoh nasional.

Saat ini, seiring dengan munculnya pergolakan politik akibat isu kriminalisasi
terhadap KPK dan perkembangan kasus century, gerakan anti neoliberal memiliki
peluang besar untuk membangun oposisi sosial secara lebar.

Munculnya Perimbangan Kekuatan Baru

Gerakan anti neoliberal di Indonesia sedang memasuki fase baru; munculnya


korelasi kekuatan yang baru. Situasi ini muncul dalam sebulan terakhir, seiring
dengan munculnya isu kriminalisasi KPK dan perkembangan kasus century. Hal ini
melahirkan perubahan korelasi kekuatan yang sangat radikal.

Sebelum kejadian ini, SBY-Budiono boleh dikatakan masih sangat hegemonik, baik
melalui konsesi luas dengan berbagai fraksi elit maupun penjinakkan terhadap
massa rakyat luas, gerakan oposisi ekstra-parlemen, dan lain-lain.

Namun, hanya dalam hitungan sebulan, situasi itu berubah sangat cepat.
Ketidakmampuan SBY merespon desakan publik untuk menghentikan proses
hukum Bibit-Chandra, menertibkan institusi penegak hukum korup, dan memberi
penjelasan memadai soal skandal century, membuat popularitas SBY-Budiono
merosot tajam.

Menurut Direktur Eksekutif Reform Institute, Yudi Latif, tingkat kepercayaan publik
terhadap pemerintahan SBY merosot tajam dibandingkan ketika digelar pilpres
2009. Dalam survey September lalu, Reform Institute mencatat penurunan
popularitas SBY hingga 64%. Tentu, setelah sebulan polemik soal KPK dan century
ini, popularitas SBY tentunya makin anjlok.
Sementara menurut catatan Lembaga Survey Indonesia (LSI), pada bulan Juni
tercatat sekitar 61 persen masyarakat yang puas, sedangkan akhir Juli menurun
menjadi sekitar 54 persen. Bagaimanapun, angka-angka ini belum bisa dipegang
sebagai kenyataan murni, sebab kebanyakan merupakan simulasi.

Namun, berdasarkan kenyataan di masyarakat akhir-akhir ini, memang muncul


sebuah ketidakpuasan yang sangat besar terhadap sikap ambigu presiden dalam
merespon isu kriminalisasi KPK dan skandal bank century. Pergeseran ini paling
banyak menjangkiti kelas menengah dan kalangan intelektual, sektor yang paling
aktif untuk menyerap dan mencerna informasi mengenai perkembangan politik.

Isu Korupsi dan Peluang Oposisi Sosial Luas

Dari perkembangan isu kriminalisasi KPK dan skandal bank century, sebuah potensi
oposisi sosial secara lebar muncul. Penyebabnya, banyak pihak yang merasa
kecewa dengan sikap lambang dan mengambang SBY, khususnya kalangan
menengah dan atas. Akibat dari ketidaktegasan tersebut, sebuah pesimisme
terhadap keterpurukan institusi penegak hukum dan masa depan pemberantasan
korupsi, telah berkembang menjadi ketidakpercayaan terhadap pemerintahan
secara umum.

Ketidakpercayaan ini berhasil mengikis posisi hegemonik ideologi neoliberal, yakni


sebuah sistim ekonomi yang disebut-sebut sangat memerangi korupsi. Pada
kenyataannya, murid-murid terbaik dan paling setia mereka justru tersangkut paut
dalam skandal perbankan yang berbau kriminal. Sementara SBY-Budiono, yang
sempat melejit dengan isu pemerintahan bersih, kini terdegradasi karena disangka
melindungi koruptor dan penegak hukum nakal.

Makin banyak elit yang tidak puas dengan kinerja SBY. Demikian pula dengan
kalangan intelektual, yang pada periode lalu begitu sungkan mengeritik SBY, kini
menjadi pengeritik-pengeritik yang cukup pedas. Terutama mengomentari kisruh
soal KPK dan skandal century ini.

Bahkan, di Makasar, sejumlah akademisi dan tokoh politik sudah menyatukan diri
dengan gerakan perlawanan. Mereka bukan hanya memberi dukungan politik,
tetapi juga menjadi bagian dari seruan umum untuk memperluas perlawanan. Citra
dan kharisma politik SBY sudah perlahan terkubur di gerban timur nusantara ini.

Ada beberapa faktor yang mendorong isu korupsi bisa melahirkan oposisi sosial
yang lebar; pertama, korupsi merupakan penyakit (kejahatan) sosial dan ekonomi
yang punya andil besar dalam perampasan sumber daya ekonomi milik bersama,
menghambat kemajuan ekonomi, dan menciptakan ketimpangan ekonomi yang
luar biasa.

Dalam banyak kasus, kemuakan terhadap korupsi yang melampaui batas telah
mendorong kemarahan sosial, seperti perlawanan terhadap rejim orde baru,
penggulingan pejabat lokal korup, dsb.

Kedua, ketika memulai kekuasaannya, salah satu proposal yang diterima dan
didukung secara luas adalah pemberantasan korupsi dan pemerintahan bersih.
Sejak awal, strategi pemberantasan korupsi SBY bersifat targeting atau tebang
pilih; suka menebas koruptor yang merupakan lawan politik. Namun demikian,
prestasi besar KPK tetap melambungkan namanya.

Beberapa ekonom yang menjadi administratur SBY, seperti Budiono dan Sri
Mulyani, merupakan pengeritik paling pedas terhadap korupsi atau model
kapitalisme kroni. Sejak tahun 1998, ekonom-ekonom ini telah mengunci
perdebatan soal penyebab persoalan ekonomi pada persoalan korupsi.

Dengan isu kriminalisasi KPK dan kasus century, baik SBY maupun
administraturnya, kini menjadi sandera dari sistim atau rejim korup. Dan, SBY sulit
untuk menghindari tuduhan-tuduhan semacam itu.

Artinya, secara politik, isu korupsi dan skandal century telah mendelegitimasi
pemerintahan SBY-Budiono yang baru berumur sebulan lebih. Ada banyak orang
meninggalkan kubu SBY karena isu korupsi dan century itu. Meskipun belum tentu
anti SBY, tetapi mereka secara politik sudah beralih.

Dengan demikian, menurut saya, sunami ketidakpercayaan ini hanya mempertebal


lapisan orang atau massa yang sudah mengakui kegagalan neoliberalisme.

Berbicara Kendala dan Peluang


Meski sudah muncul perimbangan kekuatan yang baru, tetapi harus diingat bahwa
neoliberalisme terkonsolidasi melalui fragmentasi masyarakat dan penghancuran
jaringan-jaringan solidaritas atau ikatan-ikatan kohesifitas. Melalui aparatusnya,
neolib berhasil mengatomisasi masyarakat menjadi individu ekonomis di bawah
pasar, dalam pandangan Sosiologis Kuba Antonio Juan Blanco, menghasilkan
manusia sampah yang sulit didaur ulang secara social dan keseluruhan bangsa-
bangsa yang kehilangan orientasi (frustasi).

Masyarakat, secara sosial, mulai dipecah menjadi semacam unit-unit yang terpisah
satu sama lain, sehingga mereka tidak mungkin menjadi satu kekuatan mayoritas
yang bersatu. Inilah tantangan terbesarnya.

Gerakan rakyat, atau sering disebut gerakan sosial, masih merupakan serpihan-
serpihan kecil yang tercerai berai, tanpa kehadiran sebuah pengelompokan yang
lebih besar untuk mewadahi mereka. Ada begitu banyak organisasi rakyat, komite
aksi, front-front perlawanan, tetapi semuanya tumbuh seperti jamur; hanya tumbuh
pada musim-musim tertentu, setelah itu meredup.

Dalam hal ini, menurut saya, keterlibatan lapisan sosial paling bawah---yang juga
notabene paling dikorbankan oleh neoliberal dan praktik korupsi—masih belum
signifikan. Dalam isu anti neoliberal maupun anti korupsi, sektor sosial paling
bawah belum menemukan pertalian antara situasi politik yang berkembang dan
keharusan mereka untuk bertindak.

Dalam periode saat ini, menurut saya, kesadaran umum rakyat kita belum
melampaui kesadaran korporatis ekonomis, sebuah istilah yang dipopulerkan
marxist Italia, Antonio Gramsci, mengacu kepada tahap seseorang untuk
memperjuangkan kepentingan terdekat atau pribadinya (ekonomis). Dalam
gerakan buruh, misalnya, konsentrasi mereka masih pada persoalan upah
minimum, meskipun mereka mengetahui bahwa korupsi merupakan faktor
ekonomi biaya tinggi dalam industri. Demikian pula dengan sektor sosial lain,
seperti petani, miskin kota, dan lain-lain.

Karena hal itu, maka sebagian orang mulai beralih ke gerakan mahasiswa,
berharap bahwa kelompok kelas menengah ini menjadi “katalisator” untuk
menciptakan suhu yang cukup revolusioner, sehingga memicu keikutsertaan
sektor-sektor lain. Hanya saja, memang, sektor ini pun mengidap “penyakit sosial”
yang hampir sama dengan masyarakat kita pada umumnya; apathis, cuek, dan
apolitis. Belum lagi, pamor “mahasiswa” sudah begitu merosot di mata masyarakat
umum.

Meskipun begitu, bukan berarti bahwa situasi itu tidak potensi untuk berubah
secara cepat. Dalam setiap perubahan sejarah, situasi ini akan berubah sangat
cepat jika bertemu dengan momen krisis; momen di mana penduduk semakin
melihat jelas bahwa kelas penguasa tidak lagi mampu menyelesaikan isu-isu paling
mendesak bagi kemanusiaan. Dan, ini punya potensi besar dalam beberapa bulan
mendatang; rencana pemerintah menaikkan harga tariff dasar (TDL) listrik pada
awal 2010. Hal ini bisa memicu kemarahan besar, sebab sebelum ini masyarakat
sudah muak dan kesal dengan pemadaman listrik bergilir.

Dalam momen krisis itu, seberapa jauh gerakan progressif dapat mengambil
keuntungan? Itu bergantung pada sejauh mana kaum progressif secara memadai
memanfaatkan dan mengolah perimbangan kekuatan yang ada, menarik sebanyak
mungkin sektor sosial di belakang proposalnya, dan kemampuan memberikan
alternatif atas kegagalan saat itu.

Pertanyaan kemudian adalah: (a) bagaimana menambah akumulasi kekuatan


untuk semakin mendesak tiang-tiang penyangga kekuasaan neoliberal; (b)
bagaimana memenangkan konsensus secara luas dengan berbagai sektor sosial,
mungkin, dengan sebuah proposal bersama yang mengikat seluruh sektor dan
kepentingan politik;

Pada point (a) berbicara soal bagaimana melakukan pembangunan blok sosial
politik dengan menyusun kekuatan-kekuatan yang beragam. Ini juga soal
bagaimana menyusun strategi politik; seni mendefenisikan kawan dan musuh
pokok. Ada beragama di sini, mulai dari anti neolib tulen hingga mereka yang
sekedar bicara soal anti korupsi---dan mungkin pendukung neolib. Di sinilah,
kemampuan organisasi progressif diuji.

Pada point (b) berbicara mengenai alat dan cara memenangkan perang
propaganda, memenangkan pengaruh terhadap massa luas, dan membongkar
selubung-selubung ideologis yang menutupi kebohongan rejim ini. Ini juga
mencakup bagaimana cara menghadapi dominasi media massa pro-neoliberal
(cetak dan elektronik). Dan, yang terpenting, adalah soal metode komunikasi dan
penyampaian pesan-pesan yang mudah dipahami rakyat, bersifat massal, dan
murah meria.
*) Penulis adalah pemimpin redaksi Berdikari Online. Selain itu, menjadi peneliti di
Lembaga Pembebasan dan Media Ilmu Sosial (LPMIS) dan pengelola Jurnal Arah
Kiri.