Anda di halaman 1dari 4

Politik Pencitraan dan Korupsi

Oleh : Rudi Hartono*)

Sejak menjadi presiden, jenderal bintang empat ini memang hanya


mengandalkan kemampuan personalnya dalam membangun kekuatan politiknya.
Image “personalnya” sanggup menjadi magnet bagi mayoritas pemilih Indonesia
dalam dua kali pemilu (2004 dan 2009), bahkan sanggup menerangi pembesaran
partainya, demokrat. Kesemuanya itu dibangun melalui politik pencitraan.

Politik Pencitraan

Meski dia adalah jenderal bintang empat, tetapi dia lebih menonjolkan dirinya
sebagai seorang yang berpikiran cerdas, berwawasan luas, bijaksana, dan penuh
perhitungan ilmiah, sesuai dengan kapabelitasnya sebagai seorang yang bergelar
doktor kehormatan (honoris causa).

Di layar kaca, setiap penampilannya selalu memukau publik, bukan hanya orang
awam tapi juga kalangan menengah ke atas, melalui gerakan mimik muka yang
ekspresif, gerakan tangan dalam menekankan point pembicaraan, hingga tempo
dan tekanan suara yang enak didengar orang-orang timur.

Dengan begitu, dia selalu berhasil menguasai keadaan; mengontrol emosi publik
dan menggunakannya untuk menyerang lawan-lawan politik yang agressif. Dalam
kultur timur—tepatnya Melayu, pesona petarung seperti ini memang nyaris
sempurna, ketimbang petarung yang agressif, kasar, dan “maksain”.

Melihat fenomena ini, saya selalu senang untuk membandingkannya dengan


presiden yang digelari si tangan besi, Margareth Thatcher. Selain sama-sama
memiliki kecenderungan model kebijakan ekonomi yang anti buruh dan kaum
miskin, keduanya juga sanggup mengubah personality mereka 180 derajat.

Sebelum memasuki pertarungan pemilu presiden, khalayak dan jurnalis mengenal


Thatcher sebagai sosok perempuan keras, reaksioner, dan penuh kemewahan.
Dia sendiri adalah istri seorang jutawan inggris. Dialah orang yang mencabut
kebiasaan susu gratis untuk anak-anak sekolah dasar.
Ditangan seorang produser TV terkenal, Gordon Reece, Thatcher mulai berubah
menjadi seorang yang berbicara lembut, aksen bicaranya sangat teratur, hingga
akhirnya terpilih menjadi pemimpin kharismatik partai konservatif, partai Tory.
Atas nasihat Reece, dia mulai mengubah potongan rambut, gaya berbusana,
menggunakan sarung tangan, dan berjuang keras menurunkan nada dan tempo
suaranya. Pemilih inggris memilih Margareth Thatcher, sang ibu rumah tangga
superstar, menjadi perdana menteri pada tanggal 4 Mei 1979. Sejak itu, Reece
selalu berada di belakangnya, sebagai penata “image” personalnya.

Thatcher melembagakan gaya politik baru dalam menjaga keseimbangan


kekuasaannya. Pada masa awal pemerintahaannya, dia berusaha membangun
dan menemukan pola komunikasi politik diluar keumumam atau kelaziman
protokoler politik era rejim sebelumnya. Dia seolah-olah membawa tradisi
berpolitik baru. Ketika kebijakannya diserang oposisi, dia segera mencuri start
untuk menjelaskan panjang lebar di media TV dan cetak, khususnya mengenai
ketidaktahuan oposisi akan ‘maksud baik” kebijakannya.

Dia sangat “licik” dalam memukul oposisi. Dengan dukungan kelas berkuasa
inggris di tangannya, dia bisa mengontrol media dan menggunakannya untuk
mendiskreditkan oposisi, idealisme, atau yang berbau “sosial/kerakyatan”.
Gerakan buruh segera dituduh ditunggangi oleh komunisme, dan komunisme
disamakan dengan ide ketinggalan jaman, kediktatoran, horror, dan berbagai
ketakutan.

Dia juga tidak segan mengeritik pedas dan menjatuhkan kabinet dan
bawahannya, meskipun ini sekedar sandiwara palsu untuk menarik simpati
rakyat. Ia juga selalu “lihai” melimpahkan kesalahan dan kegagalan pada pejabat
departemen di bawahnya, padahal dia sendiri adalah pihak yang bertanggung
jawab. Ketika berdiskusi dan menarik solusi untuk mengatasi sebuah persoalan
besar, dia tidak segan memanggil banyak pihak dan tim ahli di bidangnya.
Namun, setelah proses diskusi, dia meluncurkan sendiri ide kelompok elit di
dekatnya, sembari menyatakan bahwa itu bukan idenya.

Melihat Thatcher secara sekilas, saya langsung melihat bahwa bapak presiden
kita kini sedang menjadikannya acuan, meskipun tidak langsung, atau setidaknya
oleh penata gaya presiden saat ini. Memang betul, seperti dikatakan oleh Nunn,
peneliti di departemen media, komunikasi, dan studi-studi budaya Middlesex
University, bahwa konstruksi image di layar kaca sangat mempengaruhi fantasi-
fantasi khalayak luas.

Korupsi dan Pertaruhan Image

Dalam kekisruhan politik akhir-akhir ini, terutama semenjak isu kriminalisasi


menggoyang lembaga yang masih cukup kredibel, KPK, presiden SBY terlihat mau
memilih berada di luar arena kekacauan tersebut. Ini jelas terlihat dan tersirat
dalam pernyataannya, presiden memandang kasus KPK versus Polri (didukung
kejaksaan dan Komisi III DPR) bukan dalam domain kewenangannya.

Hanya setelah publik bereaksi keras, presiden mulai memanggil sejumlah tokoh
nasional dan intelektual paling berwibawa, untuk mendiskusikan metode
penyelesaian masalah. Dari situ, lahirlah tim independen pencari fakta (Tim-8),
sebuah jalan keluar paling aman dan tidak mengikis kredibiltas personal sang
presiden.

Setelah tim-8 menjalankan pekerjannya; melakukan investigasi, menggali


informasi, kajian, memanggil berbagai pihak terkait, dan akhirnya melahirkan
rekomendasi, presiden malah bersikap “cuek-cuek” aja.

Hari ini (21/11/09), seperti yang dilangsir sejumlah media, presiden malah
memanggil Kapolri dan kejagung untuk menanyakan pendapat dan kajian kedua
institusi ini terhadap rekomendasi tim-8. Ini sangat aneh, sebab presiden sebagai
kepala negara dan pemerintahan malah bertindak ibarat “mediator” antara pihak-
pihak bermasalah. Publik mengenal betul, bahwa Polri dan kejaksaan adalah dua
pihak “tersangka” dalam kekisruhan hukum di tanah air.

Kenapa dia hanya kelihatan jadi mediator, bukankah dia presiden dan punya
kewenangan berlebih. Belum lagi dia merupakan perpaduan jenderal bintang
empat dan doktor, seharusnya memiliki ketegasan, ketelitian, kejelian, dan
integritas untuk bertindak cepat.

Pertanyaanya; kenapa bisa begitu? Seperti juga gurunya Thatcher, presiden


menghindarkan diri atau personalnya sebagai bagian atau salah satu subjek
masalah. Isu kriminalisasi KPK hingga terbongkarnya rekaman percakapan
memalukan Anggodo Widjoyo dan sejumlah pejabat penegak hukum adalah
lumpur paling kotor dalam sejarah penegakan hukum Indonesia. Kalau presiden
sampai ada di dalam sandiwara itu, maka politik pencitraannya akan ambruk
seketika. Inilah point pertamanya.

Kedua, korupsi adalah moral paling bejat dan juga dikutuk oleh kapitalisme,
terutama neoliberal. Oleh penganut neoliberal, moral paling bejat ini selalu
dialamatkan untuk mendiskreditkan model-model ekonomi yang mengandalkan
negara. Mereka segera menuduh rejim korup sebagai akibat pelibatan atau peran
negara yang terlampau besar.

Pada kenyataannya, sejumlah rejim neoliberal diguncang korupsi sangat


memalukan di mana-mana, termasuk di Indonesia. Di negeri ibu pertiwi ini,
korupsi dan kejahatan ekonomi dibalutkan pada sebuah make-up penyelamatan
ekonomi bernama bailout. Itulah skandal bank century, dimana pengikut paling
setia dan kader terbaik neoliberal (Budiono dan Sri Mulyani) diduga tersangkut
paut.

Bukankah dulu Sri Mulyani, ketika menjadi ekonom, menjadi pengeritik paling
pedas terhadap pengelolaan ekonomi orde baru (kapitalisme kroni). Kini, dia
sendiri berada dalam sandera kutukan itu sendiri.

Ini benar-benar pertaruhan citra. Dan pemerintahan bersih benar-benar


merupakan make-up paling laris dari jualan SBY-Budiono dalam pemilu presiden
lalu. Sekali pak presiden tersangkut dalam kekisruhan itu, maka bangunan politik
pencitraan akan tergulung oleh tsunami ketidakpercayaan. Ibarat pemain film
bertema religi; ketika kepergok melakukan perbuatan tidak senonoh (seks, judi,
mabuk), maka nilai “personalnya” akan runtuh seketika.

*) Peneliti Lembaga Pembebasan Media dan Ilmu Sosial (LPMIS), pemimpin


redaksi Berdikari Online, dan pengelola jurnal Arah Kiri.