Anda di halaman 1dari 8

Fakultas Kedokteran

Universitas Kristen Krida Wacana

Laporan Kasus Kecil


Pankreatits Akut
Dokter Pembimbing : Dr.Philemon Konoralma, Sp.PD

Disusun oleh :
Juanita Liusiani
11-2013 - 041

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Rumah Sakit Mardi Rahayu

PENDAHULUAN
Pankreatitis akut adalah reaksi peradangan pancreas. Secara klinis, pankreatitis akut
ditandai oleh nyeri perut disertai dengan kenaikan enzim dalam darah dan urin. Perjalanan
penyakitnya sangat bervariasi, mulai dari ringan yang self limited sampai sangat berat yang
disertai dengan rejatan dengan gangguan ginjal dan paru-paru yang berakibat fatal.
Insidens pankreatitis sangat bervariasi dari satu Negara ke Negara lain dan juga disatu
tempat dengan tempat lain di dalam Negara yang sama. Di Negara barat penyakit ini sering kali
ditemukan dan berhubungan erat dengan penyalahgunaan pemakaian alcohol dan penyakit
hepatobilier. Frekuensi berkisar antara 0,14% atau 10-15 pasien dalam 100.000 penduduk. Di
Indonesia, penyakit ini banyak dilaporkan sebelumnya jarang dilaporkan mungkin karena adanya
dugaan bahwa tingkat konsumsi alcohol masih sangat rendah sehingga penyakit ini tidak
terpikirkan.
Dalam menentukan terapi bagi pasien pamkreatitis, tentunya terlebih dahulu harus
dilakukan pemeriksaan mulai dari anamnesa, pemeriksaan fisik, dan tentunya juga harus
didukung oleh pemeriksaan penunjang sesuai dengan fasilitas rumah sakit dan keadaan ekonomi
pasien. Pankreatitis akut merupakan penyakit yang harus mendapat penanganan secara tepat.
Laporan ini dibuat antara lain untuk meningkatkan pemahaman secara garis besar tentang
pankreatitis akut, sehingga dapat diharapkan kita dapat lebih waspada terhadap keluhan dan
gejala yang diutarakan pasien yang mengarah pada pankreatitis akut, dan dengan demikian dapat
memberikan penanganan yang tepat sesegera mungkin guna mencegah dan mengurangi
terjadinya komplikasi yang berpotensi mengancam nyawa. Di samping itu, laporan ini dibuat
dalam rangka pemenuhan tugas laporan kasus dalam proses pembelajaran kami di bagian Ilmu
Penyakit Dalam Rumah Sakit Mardi Rahayu, Kudus.

LAPORAN KASUS

Seorang laki-laki berusia 19 tahun datang ke UGD Rumah Sakit Mardi Rahayu dengan
keluhan nyeri pada epigastrium dan perut kanan atas sejak 2 hari SMRS. Pasien juga mengalami
demam serta badan yang menggigil, pasien mengeluh mual dan muntah makanan yang telah
dimakan dan muntahnya bewarna hijau kurang lebih 5x/hari. Menurut pasien, jumlah muntahnya
sekitar setengah gelas aqua.
Pasien juga mengeluh sakit kepala yang berdenyut, dan susah BAB. Pasien sudah tidak
BAB sejak 1 hari SMRS sampai pada hari ke 2 setelah pasien masuk rumah sakit. BAK normal
seperti biasa. Sesak napas disangkal oleh pasien. 2 hari sebelum masuk rumah sakit, yaitu pada
tanggal 25 desember 2013, pasien mengaku minum susu coklat hangat pada siang hari. Selain
itu, pasien mengaku juga suka mengkonsumsi keju dan jeroan.
Pasien pernah mengalami hal yang sama yaitu sekitar 2 tahun yang lalu, tetapi pasien
hanya berobat ke puskesmas, dan tidak di rawat di rumah sakit. Pasien pernah di USG sekitar 2
tahun yang lalu, tetapi pasien lupa mengenai hasil USGnya.
Riwayat keluarga yang pernah mengalami hal yang sama tidak ada. OS tidak mempunyai
riwayat penyakit paru, asma, penyakit jantung, maag, batu empedu, dan riwayat DM.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan, kesadaran pasien compos mentis, berat badan pasien
60 kg dengan tinggi badan 170 cm dengan keadaan umum OS tampak kesakitan, pasien keliatan
pucat, lemas dan lemah. Tekana darahnya 110/80, RR 30x/menit, tanpa retraksi sela iga. HR
74x/menit, reguler dan kuat angkat suhu 38,5 derajat celcius. Kulit OS bewarna sawo matang
dan tidak kering. Kepala normocephali dan tidak ada benjolan. Pada mata tidak ada edema
palpebra, conjungtiva tidak anemis dan sclera tidak ikterik. Bentuk pupil isokor kanan dan kiri
dengan diameter 3 mm, reflex cahaya langsung dan tidak langsung positif. Pada leher, tidak ada
pembesaran kelenjar getah bening dan tiroid. Tidak tampak juga adanya deviasi trakea. Bentuk
dada simetris baik statis maupun dinamis, tidak ada retraksi sela iga, dengan perkusi sonor pada
seluruh lapangan paru dan auskultasi didapatkan suara napas dasar vesikuler, tidak ada suara
napas tambahan. Pada jantung, ictus cordis tidak terlihat, tetapi taraba pada linea midclavicula
sinistra intercostal ke VI dan kuat angkat. Pada perkusi batas jantung, batas atas pada linea
sternalis sinistra intercostal II, batas pinggang jantung linea parasternal sinitra intercostal III,

batas kanan jantung, linea sternalis dextra intercostal IV, batas kiri jantung pada linea
midclavicula sinistra intercostal VI.
Pada pemeriksaan abdomen, tidak tampak adanya benjolan, tidak tampak adanya asites,
tetapi ada nyeri tekan pada kuadran kanan atas yang menjalar sampai ke pinggang kanan dan
epigastrium, nyeri tidak menyebar keseluruh dinding abdomen. Tidak ada pembesaran hati, dan
lien, hanya saja perut tampak keras dan kaku ketika ditekan. Pemeriksaan ballotemen negative,
murphy sign negative, pemeriksaan nyeri lepas tekan negative, pada perkusi didapatkan suara
timpani, pada auskultasi didapatkan bising usus sedikit menurun yaitu 4x/menit, tidak ada bunyi
lain yang didapatkan. Pada pemeriksaan ekstremitas, tidak ditemukan adanya edema, sianosis,
dan clubbing finger. Pada pemeriksaan punggung tidak didapatkan adanya kelainan.
Pada pemeriksaan laboratorium darah di temukan hemoglobin 15,3 g/dL, leukosit 18,04
ribu,eosinofil 0%, neutrofil 87,5%, limfosit 5,7%, MPV 10,5 mikro m3, GDS 151 mg/dL,
creatinin darah 0,77 mg/dL. Pada pemeriksaan USG abdomen ditemukan adanya pembesaran
ukuran pancreas dengan parenkim inhomogen kasar, dan pembesaran ukuran lien.
Pengobatan yang diberikan adalah Nacl 0,9% 20 tetes per menit untuk menggantikan
cairan yang hilang, omeprazole 20 mg, untuk lambung agar tidak terjadi tukak peptic, invomit 4
mg untuk mengobati mual dan muntah, ceftriaxone vial 1G untuk mengobati infeksi atau
peradangan. pemberian sulfasatropin 0,25 mg yang merupakan antikolinergik untuk
memperlambat peristaltic usus.1,4
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dipikirkan kemungkinan nyeri epigastrium
dan kuadran kanan atas dapat didiagnosis diferensial antara lain pankreatitis akut dan peritonitis
et causa ileus paralitik. Untuk menegakkan diagnosis dapat diusulkan pemeriksaan lab, BNO 2
posisi, USG abdomen. Differensial diagnosis lainnya adalah kolesistitis, kolangitis, kolik batu
empedu, kolik ginjal dan gastritis1,4.

PEMBAHASAN

Pada pasien ini dilakukan diagnosis pankreatitis akut dengan menyingkirkan diagnosadiagnosa lain seperti peritonitis et causa ileus paralitik, kolik batu empedu ,kolesistitis akut,
gastritis, kolangitis dan kolik ginjal.1
Pada anamnesis, pasien ini datang dengan keluhan nyeri pada epigastrium dan kuadran
kanan atas yang menjalar sampai ke pinggang sejak 2 hari SMRS, pasien juga mengeluh demam,
mual dan muntah yang bewarna hijau kurang lebih 5x/hari. Pasien mengaku sulit BAB, sulit
kentut, tetapi waktu BAB, tinja tidak berwarna pucat. BAK biasa dan normal,
Pasien mengaku, sebelum sakit dirasakan, pasien meminum coklat hangat, pada siang
hari, dan pasien juga suka mengkonsumsi keju dan jeroan. Pasien pernah mengalami hal yang
sama ketika 2 tahun lalu, tetapi pasien tidak di rawat di rumah sakit, hanya berobat ke
puskesmas.
Dilihat pada anamnesis tersebut lebih diarahkan yang pertama adalah pankreatitis akut,
kedua adalah kolik batu empedu, ketiga kolesistitis akut, yang keempat adalah kolangitis dan
yang kelima adalah gastritis dan yang keenam adalah kolik ginjal.
Etiologi atau penyebab dari pankreatitis kut adalah minum minuman beralkohol, karena
infeksi virus dan bakteri, adanya batu pada saluran empedu, hipertrigliseridemia, dan gagal
ginjal. Patofisiologi dari pankreatitis akut adalah Pada keadaan normal, pancreas terlindungi
oleh enzimatik enzim digestifnya sendiri yang disintesis sebagai zymogen yang inaktif. Enzim
ini antara lain tripsin, kimotripsin, lipase dan fosfolipase A. dalam hal ini, amylase dan lipase
juga disintesis dalam bentuk inaktif. Tetapi beberapa factor dapat membuat enzim tersebut
menjadi aktif, antara lain refluks isi duodenum, isi duodenum merupakan campuran enzim
pancreas yang aktif, asam empedu, lisolesitin dan lemak yang mengalami emulsifikasi. dan
refluks cairan empedu yang sekresi enzim yang berlebihan, karena asam empedu merupakan
efek detergen pada sel pancreas yang menyebabkan lipase dan fosfolipase A meningkat. Gejala
klinis dari pankreatitis akut adalah nyeri epigastrium dan muntah-muntah setelah minum alcohol
yang berlebihan, nyeri epigastrium kadang menjalar hingga ke pinggang atau punggung, mual,
muntah dan demam juga dapat dirasakan.1,2,3
DD pertama dilihat pankreatitis akut karena dilihat dari gejala anamnesis ditemukan
adanya nyeri pada kuadran kanan atas yang menjalar samapai kepinggang, nyeri epigastrium dan
5

nyeri itu timbul setelah minum susu coklat panas, pasien kesulitan BAB, tidak kolik yang
berulang, hanya saja pernah menderita penyakit seperti ini 2 tahun lalu, tetapi hanya sekali dan
tidak bersifat kambuhan. Selain itu pasien juga mengaku pada 1 hari SMRS pasien muntah
berwarna hijau, hal ini mungkin saja disebabkan oleh adanya refluks dari cairan empedu kedalam
saluran pancreas. Selain itu, tidak membaik setelah bersendawa, tidak ada riwayat batu empedu
didalam keluarga, nyeri yang di timbulkan tidak bersifat local, serta pada pemeriksaan pasien,
tidak ditemukan adanya ikterik. Hal ini dapat menyingkirkan penyakit kolik batu empedu,
kolesistitis, kolangitis dan gastritis. Pada pasien ini juga mengaku nyeri terus menerus, tidak
hilang timbul, nyeri hanya dibagian perut dan pinggang saja, tidak berawal dari nyeri punggung,
tidak menjalar hingga ke paha, panggul, dan area genital, BAK normal, tidak anyang-anyangan,
kencing tidak di sertai dengan darah, dapat menyingkirkan diagnosis berupa kolik ginjal.1
Walaupun begitu, DD ini belum dapat disingkirkan sepenuhnya, karena kolesistitis dapat
timbul juga akibat makan makanan yang kadar lemaknya tinggi, ada rasa nyeri pada epigastrium
yang gejalanya hampir mirip dengan pankreatitis akut. Sedangkan yang tidak mendukung adalah
pada pemeriksaan fisik yang telah dilakukan tidak ditemukan adanya kantung empedu yang
membesar dan tidak adanya tinja yang berwarna pucat. Pasien dengan gejala batu empedu
hampir sebagian besar (80%) tanpa gejala baik waktu diagnosis maupun waktu pemantauan.
Gejala yang mendukung dari pasien ini adalah nyeri pada perut kanan atas atau nyeri pada
epigastrium, tetapi sakit yang dirasakan bisa juga pada perut sebelah kiri. Tetapi gejala yang
tidak mendukung adalah biasanya pada pasien dengan kolik batu empedu, sakit yang dirasakan
lebih dari 30 menit dan kurang dari 12 jam. Sedangkan jika pada pasien ini, nyeri yang dirasakan
terus menerus. Dan gejala kolangitis juga hampir sama dengan gejala pankreatitis akut, yaitu ada
demam, nyeri pada epigatrium dan kuadran kanan atas serta icterus. Hanya bagian yang tidak
mendukung pada pasien ini adalah icterus.1
Pada pemeriksaan fisik pasien ini ditemukan adanya nyeri epigastrium dan kuadran
kanan atas yang menjalar sampai ke pinggang, tidak ada pembesaran hati dan lien, ballottement
negative, pemeriksaan murphy sign negative, icterus tidak tampak, adanya demam dan kesulitan
BAB, pada auskultasi didapatkan bising usus menurun yaitu hanya 4x/menit. Hal ini lebih
terarah pada penyakit pankreatitis akut. Komplikasi yang dapat terjadi pada pankreatitis akut
adalah diabetes mellitus, abses pada pankreatitis (pseudokista), abses pada usus yang disebabkan
6

oleh karena invaginasi usus yang dapat menyebabkan peritonitis, efusi pleura dan gagal ginjal.
Dari hasil pemeriksaan laboratorium, didapatkan gula darah sewaktu pasien meningkat yaitu 151
mg/dL. Hal ini menunjukkan bawha pasien ini menderita DM sekunder oleh karena pankreatitis
akut yaitu gula darah yang tinggi disebabkan oleh amylase yang sangat meningkat. Pasien tidak
mengalami komplikasi lain.1,2
Pada pemeriksaan USG abdomen, ditemukan adanya pembesaran pancreas dengan
parenkim kasar inhomogen, dan ada sedikit pembesaran lien. Hasil lainnya dalam batas normal.
Pada foto BNO 2 posisi, di dapatkan adanya dilatasi usus dan meteorismus (kembung) yang
dapat dipikirkan kearah ileus paralitik. Tetapi meteorismus juga dapat terjadi karena merupakan
efek samping dari sulfasatropin. Pada usulan pemeriksaan yang dianjurkan berupa pemeriksaan
enzim lipase dan amylase, karena sekitar 65% episode pada pankreatitis akut,mengalami
kenaikan enzim lipase dan amylase. Pada pasien ini, setelah dilakukan pemeriksaan amylase dan
lipase, dan hasilnya adalah amylase darah 1005,8 UI, amylase urin 1659,6 UI dan lipase 1521
UI.(pada tanggal 28-12-2013)
Pengobatan yang diberikan pada pasien ini adalah dengan pemakaian antasida,
penghambar pompa proton mungkin digunakan untuk mencegah tukak akibat stress, selain itu,
pemberian antasida dan pompa proton juga berguna apabila ada riwayat dyspepsia yang
dirasakan sebelum mengalami pankreatitis akut. Pemberian analgetik kuat juga dianjurkan untuk
menghilangkan nyeri seperti petidin. Pemberian morfin tidak dianjurkan karena dapat
menimbulkan spasme sfingter oddi.pemberian sulfasatropin 0,25 mg yang merupakan
antikolinergik. Yang pada saluran cerna berfungsi untuk menghambat peristaltic usus dan
lambung yang biasa juga disebut sebagai antispasmodic. Atropine juga menyebabkan
berkurangnya sekresi liur dan juga sebagian sekresi lambung. Gejala ulkus peptikum juga
berkurang setelah pemberian obat ini. Tetapi atropine hampir tidak mengurangi sekresi cairan
pancreas, empedu, dan cairan usus yang lebih banyak dikontrol oleh factor hormonal. Indikasi
obat ini adalah untuk menghambat motilitas usus dan lambung terutama dipakai pada ulkus
peptikum dan sebagai pengobatan simptomatik pada berbagai keadaan misalnya disentri, kolitis,
diverticulitis dan kolik. Efek samping yang dapat ditimbulkan adalah mulut yang kering,
gangguan miksi, meteorismus, memburuknya retensi urin pada pasien hipertrofi prostat. Selain
obat-obatan pasien juga harus puasa dengan tujuan untuk mengistirahatkan pancreas agar enzim7

enzim pada pancreas tidak aktif keluar lebih banyak, pasien dapat diberikan cairan parenteral
untuk memenuhi kebutuhan kalorinya.2,4

RINGKASAN
Seorang laki-laki berusia 19 tahun datang dengan keluhan nyeri pada perut kanan atas
dan nyeri epigastrium sejak 2 hari SMRS. Diagnosis pankreatitis akut ditegakkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan penunjang yang ada. Pengobatan dilakukan sesuai dengan penyakit yang
mendasarinya dan pencegahan terhadap komplikasi yang bisa terjadi yang dapat memperbaiki
keadaan pasien.

DAFTAR PUSTAKA
1. Nurman A. Pankreatitis akut. Dalam Ilmu Penyakit Dalam. Idrus Alwi, editor. FKUI
Jakarta. 2009. P 731
2. Norton J, Green B, Philips P. Harrisons Principle of Internal Medicine. Edisi 16. Bab 294
. USA:McGraw hills company, 2012.p 1895.
3. Stefan silbernagl, florian lang. teks dan atlas berrwarna patofisiologi. Penerbit buku
kedokteran EGC. 2007.p 158.
4. Zunilda. D.S. farmakologi dan terapi. Edisi 5. Departemen farmakologi dan terapeutik
FKUI. Jakarta 2009.p 56,60.