Anda di halaman 1dari 7

Siapa Pemimpin Kaum Muslimin?

30 Juni, 2009 · 1 Komentar

Prolog

Seorang pemimpin adalah pribadi yang sangat menentukan bagi suatu umat
atau bangsa. Menentukan karena dengannya sebuah Negara bisa maju atau
mundur. Bila seorang pemimpin tampil lebih memihak kepada kepentingan
dirinya, tidak bisa tidak rakyat pasti terlantar. Sebaliknya bila seorang
pemimpin lebih berpihak kepada rakyatnya, maka keadilan pasti ia tegakkan.

Keadilan adalah titik keseimbangan yang menentukan tegak tidaknya alam


semesta ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegakkan langit dengan
keseimbangan. Pun juga segala yang ada di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala
berikan dengan penuh keseimbangan. Padanan keseimbangan adalah keadilan,
lawan katanya adalah kedzaliman.

Setiap kedzaliman pasti merusak. Bila manusia berbuat dzalim maka pasti ia
akan merusak diri dan lingkungannya. Bayangkan bila yang berbuat dzalim
adalah seorang pemimpin. Pasti yang akan hancur adalah bangsa secara
keseluruhan.

Di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menceritakan bahwa


hancurnya umat-umat terdahulu adalah kerena kedzaliman pemimpinnya.
Karena itu bila kita berusaha untuk memecahkan persoalan bangsa maka tidak
ada jalan kecuali yang pertama kali kita perbaiki adalah pemimpinnya.

Pemimpin yang korup dan dzalim bukan saja akan membawa malapetaka
terhadap rakyatnya tapi lebih jauh –dan ini yang sangat kita takuti – Allah
Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut keberkahan yang diberikan. Sungguh
sangat sengsara sebuah kaum yang kehilangan keberkahan. Sebab dengan
hilangnya keberkahan tidak saja fisik yang sengsara melainkan lebih dari itu,
ruhani juga ikut meronta-ronta.

Umat Islam Wajib Mengangkat Seorang Pemimpin

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dari shahabat Abu Hurairah :

Jika ada tiga orang berada dalam suatu perjalanan maka hendaklah mereka
mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin. (HR. Abu Dawud)

Sedangkan Al-Hakim meriwayatkan :

Jika ada suatu kelompok sebanyak tiga orang hendaknya mereka mengangkat
salah seorang dari mereka sebagai pemimpin atas mereka. Itulah amir yang
diperintahkan oleh Rasulullah saw.

Dan Imam Ahmad meriwayatkan :

…Tidak halal bagi tiga orang yang berada di bumi yang lapang kecuali mereka
mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin atas mereka.
Imam Asy-Syaukani berkata :

“Asy-Syaukani menjelaskan bahwa dalam ungkapan hadis Abu Hurairah terdapat


dalil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mensyariatkan bagi setiap
kumpulan tiga orang atau lebih hendaklah mereka mengangkat salah seorang
dari mereka sebagai amir atas mereka. Sebab, pengangkatan amir itu bisa
menyelamatkan mereka dari perbedaan yang mengantarkan pada pertikaian.
Tanpa adanya pengangkatan amir, masing-masing akan bersikukuh dengan
pendapatnya dan berbuat sesuai keinginan (hawa nafsu) masing-masing.
Akhirnya, mereka akan celaka. Pengangkatan seorang amir itu akan
meminimalkan adanya perbedaan dan pendapat akan menyatu. Jika
pengangkatan amir itu disyariatkan bagi tiga orang yang bepergian bersama di
muka bumi, tentu bagi kelompok orang yang lebih banyak yang tinggal bersama
di suatu wilayah—sementara mereka memerlukan adanya amir itu untuk
mengangkat kezaliman dan menyelesaikan persengketaan—pensyariatan
pengangkatan amir itu lebih utama dan lebih urgen. Hal itu merupakan dalil
bagi orang yang berkata, “Wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang imam,
para wali dan pemerintah (para penguasa).”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

“Jika telah diwajibkan pada kelompok yang paling kecil dan perkumpulan yang
paling terbatas agar mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai
pemimpin, maka itu merupakan penyerupaan atas wajibnya hal itu
(mengangkat seorang amir/pemimpin) pada kelompok yang lebih banyak dari
itu.”

Pemimpin Adalah Cermin Rakyatnya

Rakyat yang cerdas tidak mungkin memilih pemimpin yang bodoh. Rakyat yang
bersih tidak mungkin memilih pemimpin yang korup. Tetapi sebaliknya bila
rakyatnya korup maka pasti yang akan dipilih adalah pemimpin yang korup.
Karena itu terpilihnya Fir’aun sebagi raja, adalah karena rakyatnya bodoh dan
bejat. Sebab siapakah sebenarnya seorang pemimpin, jika ia tidak
mendapatkan dukungan? Ia sebenarnya tidak berdaya apa-apa. Jika semua
rakyatnya bersatu untuk menyerangnya ia pasti tidak bisa bertahan. Karenanya
pemimpin yang korup akan selalu menciptakan lingkungan agar rakyat tetap
bodoh. Sebab dengan kebodohannya ia akan lebih lama berkuasa, dan lebih
nyaman menikmaati kedzalimannya.

Sayyid Qutb –rahimahullahu- ketika menafsirkan ayat tentang Fir’aun dalam


surat An Naziat menjelaskan bahwa sebenarnya Fir’un tidak mempunyai
kekuatan sejumlah rakyatnya. Maka jika rakyatnya cerdas, mereka tidak
mungkin mengizinkan Fir’aun terus berkuasa. Mereka pasti akan segera
memberontak atas kedzalimannya. Namun karena mereka bodoh, maka Fir’aun
merasa semakin tinggi. Puncaknya Fir’aun menjadi lupa daratan sehingga ia
mendeklarasikan dirinya sebagai tuhan. Dia berkata seperti yang Allah
Subhanahu wa Ta’ala rekam dalam surat An nazi’at: ”ana rabbukumul a’laa”.
Saya tuhan kalian yang tinggi.
Perhatikan betapa seorang pemimpin adalah cerminan rakyat itu sendiri. Jadi
sekarang tergantung kita sebagai rakyat, mau memilih pemimpin yang korup
atau yang jujur dan adil, atau yang muslim atau kafir?

Siapa Yang Layak Jadi Pemimpin Kita?

Di dalam Al-Qur’an Allah Subhnahu wa Ta’ala mengingatkan :

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang


yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka
tunduk (kepada Allah).”

Dalam Kitab Imamatul Uzhma, yang ditulis oleh Syaikh Abdullah bin Umar bin
Sulaiman Ad-Dumaiji menyatakan bahwa mereka yang berhak menjadi
pemimpin dalam Islam adalah mereka yang memenuhi sebelas berikut ini :

1. Dia harus seorang muslim

2. Baligh

3. Berakal

4. Merdeka

5. Harus Lelaki

6. Berilmu

7. Adil

8. Memiliki Kemampuan

9. Tidak cacat secara fisik

10. Yang tidak berambisi menjadi pemimpin

11. Berasal dari kalangan Quraisy (khusus bagi khalifah)

Inilah syarat-syarat bagi mereka yang ingin menjadi pemimpin kaum muslimin,
dan inilah kriteria yang dipilih oleh seorang muslim jika memilih seorang
pemimpin.

Wajib Taat Kepada Pemimpin Kaum Muslimin Dalam Masalah Ma’ruf

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy dalam kitabnya Minhajul Muslim menyebutkan :

Orang Muslim juga beriman kepada kewajiban taat kepada para pemimpin
kaum Muslimin, hormat pada mereka, berjihad bersama mereka, shalat di
belakang mereka, dan haram membelot dari mereka. Oleh karena itu, terhadap
mereka, orang Mukmin memberlakukan etika khusus.

Terhadap pemimpin kaum Muslimin, maka seorang Muslim:


1. Berpendapat bahwa hukumnya wajib patuh kepada mereka, berdasarkan
dalil-dalil yang ada, misalnya:

Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul
(Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (An-Nisa’: 59).

Sabda Rasulullah saw., “Barangsiapa taat kepadaku, ia taat kepada Allah.


Barangsiapa bermaksiat kepadaku, ia bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa
taat kepada pemimpinku, ia taat kepadaku. Dan barangsiapa bermaksiat
kepada pemimpinku, ia bermaksiat kepadaku.” (Muttafaq Alaih)

Namun ia tidak berpendapat wajib mentaati mereka dalam maksiat kepada


Allah Ta’ala, karena taat kepada Allah Ta’ala wajib tetap didahulukan atas taat
kepada mereka berdasarkan dalil-dalil yang ada, misalnya:

Firman Allah Ta’ala, “Dan mereka tidak bermaksiat kepadamu dalam kebaikan.”
(Al-Mumtahinah: 12).

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya ketaatan itu pada kebaikan.”


(Muttafaq Alaih).

“Tidak ada kewajiban taat pada makhluk dalam maksiat kepada Allah.”
(Diriwayatkan Ahmad dan Al-Hakim menshahihkan hadits ini).

“Mendengar dan taat diwajibkan kepada orang Muslim dalam apa yang ia sukai
dan benci, selagi ia tidak disuruh bermaksiat. Jika ia disuruh bermaksiat, ia tidak
wajib mendengar dan taat.” (Muttafaq Alaih).

2 Berpendapat bahwa hukumnya haram membelot dari mereka, atau


mengumumkan pembangkangan terhadap mereka. Karena, tindakan tersebut
memecah tongkat ketaatan kepada pemimpin kaum Muslimin, berdasarkan
sabda Rasulullah berikut:

“Barang siapa tidak menyukai sesuatu pada pemimpin, hendaklah ia bersabar,


karena barangsiapa keluar dari pemimpin sejengkal saja, ia mati dalam
keadaan mati jahiliyah.” (Muttafaq Alaih).

“Barangsiapa menghina pemimpin (Muslim), maka Allah menghinanya.” (HR.


At-Tirmidzi dan ia menghasankan hadits ini).

1. Mendoakan mereka mendapatkan kebaikan, petunjuk, bimbingan, terjaga


dari keburukan, dan terjaga dari jatuh ke dalam kesalahan. Sebab,
kebaikan umat ditentukan oleh kebaikan mereka. Ia harus menasihati
mereka (pemimpin) tanpa bermaksud menghina, atau mencerca
kehormatannya, karena sabda Rasulullah saw., “Agama adalah nasihat.”
Kami bertanya, “Untuk siapa?” Rasulullah saw. bersabda, “Untuk Allah,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan
kaum Muslimin secara umum.” (HR Muslim).
2. Berjihad bersama mereka dan shalat di belakang mereka, kendati mereka
fasik atau mengerjakan hal-hal yang diharamkan yang bukan termasuk
kekafiran, berdasarkan dalil-dalil seperti berikut:

Sabda Rasulullah saw. kepada orang yang bertanya beliau tentang hukum taat
kepada peimimpin yang buruk, “Dengarkan dan taatlah, mereka berkewajiban
terhadap apa yang dibebankan kepada mereka dan kalian berkewjiban
terhadap apa yang dibebankan kepada kalian.” (HR. Muslim).

Ucapan Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu Anhu, “Kita berbaiat pada


Rasulullah saw. untuk mendengar dan taat di saat kami giat, atau kami tidak
giat, di saat kesulitan kita atau kemudahan kita, dan kita tidak memperebutkan
sesuatu dengan pemiliknya.” Rasulullah saw. juga bersabda, “Kecuali jika kalian
melihat kekafiran yang terang-terangan dan kalian di dalamnya mempunyai dalil
dari Allah.” (HR. Muslim)

WAJIBNYA TAAT KEPADA PENGUASA MUSLIM


Allah Υ telah memerintahkan kepada kaum muslimin utk taat kepada
penguasa betapapun jelek dan dzalim mereka. Tentu dgn syarat selama para
penguasa tersebut tdk menampakkan kekafiran yg nyata. Allah Υ juga
memerintahkan agar kita bersabar menghadapi kedzaliman mereka dan tetap
berjalan di atas sunnah.
Karena barangsiapa yg memisahkan diri dari jamaah dan memberontak kepada
penguasa mk mati mati jahiliyyah. Yakni mati dlm keadaan bermaksiat kepada
Allah seperti keadaan orang2 jahiliyyah.1
Dari Ibnu Abbas c dia berkata: ”Rasulullah ρ bersabda:

“Barangsiapa yg melihat sesuatu yg tdk dia sukai dari penguasa mk bersabarlah!


Karena barangsiapa yg memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja mk ia akan
mati dlm keadaan mati jahiliyyah.”
Diriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah z dia berkata: “Kami masuk ke
rumah Ubadah bin Ash-Shamit ketika beliau dlm keadaan sakit dan kami berkata
kepadanya: ‘Sampaikanlah hadits kepada kami –aslahakallah- dgn hadits yg kau
dengar dari Rasulullah ρ yg dengan Allah akan memberikan manfaat bagi kami!’
mk ia pun berkata:

“Rasulullah ρ memanggil kami kemudian membai’at kami. Dan di antara baiat


adl agar kami bersumpah setia utk mendengar dan taat ketika kami semangat
ataupun tdk suka ketika dlm kemudahan ataupun dlm kesusahan ataupun ketika
kami diperlakukan secara tdk adil. Dan hendaklah kami tdk merebut urusan
kepemimpinan dari orang yg berhak –beliau berkata- kecuali jika kalian melihat
kekufuran yg nyata yg kalian memiliki bukti di sisi Allah.”

WAJIB TAAT WALAUPUN JAHAT DAN DZALIM


Kewajiban taat kepada pemerintah ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah ρ
adl terhadap tiap penguasa meskipun jahat dzalim atau melakukan banyak
kejelekan dan kemaksiatan. Kita tetap bersabar mengharapkan pahala dari Allah
dgn memberikan hak mereka yaitu ketaatan walaupun mereka tdk memberikan
hak kita.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud z dia berkata: “Rasulullah ρ bersabda:

‘Akan muncul setelahku atsarah dan perkara-perkara yg kalian ingkari’. Mereka


bertanya: ‘Apa yg engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau
berkata:

“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian


kepada Allah.”
Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim z. Dia berkata: “Kami mengatakan: Wahai
Rasulullah ρ kami tdk berta tentang ketaatan kepada orang2 yg takwa tetapi
orang yg berbuat begini dan begitu… mk Rasulullah ρ bersabda:

‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!’


Berkata Ibnu Taimiyyah t: “Bahwasa termasuk ilmu dan keadilan yg
diperintahkan adl sabar terhadap kedzaliman para penguasa dan kejahatan
mereka sebagaimana ini merupakan prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah
wal Jamaah dan sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah ρ dlm hadits yg
masyhur.”
Sedangkan menurut Al-Imam An-Nawawi t: “Kesimpulan adl sabar terhadap
kedzaliman penguasa dan bahwasa tdk gugur ketaatan dgn kedzaliman
mereka.”
Berkata Ibnu Hajar t: “Wajib berpegang dgn jamaah muslimin dan penguasa-
penguasa mereka walaupun mereka bermaksiat.”
TETAP TAAT WALAUPUN CACAT
Meskipun penguasa tersebut cacat secara fisik Rasulullah ρ tetap
memerintahkan kita utk tetap mendengar dan taat. Walaupun hukum asal dlm
memilih pemimpin adl laki2 dari Quraisy berilmu tdk cacat dan seterus namun
jika seseorang yg tdk memenuhi kriteria tersebut telah berkuasa -apakah dgn
pemilihan kekuatan dan peperangan- mk ia adl penguasa yg wajib ditaati dan
dilarang memberontak kepadanya. Kecuali jika mereka memerintahkan kepada
kemaksiatan dan kesesatan mk tdk perlu menaati dgn tdk melepaskan diri dari
jamaah.
Diriwayatkan dari Abu Dzar z bahwa dia berkata:

“Telah mewasiatkan kepadaku kekasihku agar aku mendengar dan taat


walaupun yg berkuasa adl bekas budak yg terpotong hidung 2”
Juga diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah z. Dia berkata: “Berkata kepadaku
‘Umar z: ‘Wahai Abu Umayyah aku tdk tau apakah aku akan bertemu engkau lagi
setelah tahun ini… jika dijadikan amir atas kalian seorang hamba dari Habasyah
terpotong hidung mk dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu sabarlah! Jika
mengharamkan untukmu hakmu sabarlah! Jika ingin sesuatu yg mengurangi
agamamu mk katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada
agamaku dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!”

Wallahu a’lam. ?
Wallahu A’lamu bish Shawab

Reference :

1. Imamatul ‘Uzhma, Syaikh Abdullah bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji.

2. Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy

3. Dan lain-lain.