Anda di halaman 1dari 2

Obat tradisional sudah sangat pesat perkembangannya di Indonesia.

Peredaran obat
tradisional di Indonesia harus memenuhi persyaratan dan aturan yang telah ditetapkan dalam
KEPMENKES No 661/MENKES/SK/VII/1994. Berdasarkan aturan tersebut , Maka sangat
penting untuk melakukan suatu prosedur Yaitu Standarisasi obat herbal
Standarisasi adalah sebuah alat untuk melakukan kontrol kualitas terhadap seluruh proses
pembuatan Obat Tradisional (OT) Dari tahap penyiapan raw material, bahan jadi (ekstrak),
proses produksi OT, dan OT iTu sendiri. Kualitas OT sangat dipengaruhi Oleh metode
harvesting, drying, storage, transportation, processing (for example, mode of extraction and
polarity of the extracting solvent, instability of constituent, etc)
(Kunle, et al., 2012)
Salah satu tahap standarisasi Yaitu uji penetapan parameter non spesifik yang meliputi
penetapan kadar air (moisture content), penetapan kadar Abu (ash value), penetapan logam
berat (heavy metal), penetapan residu pestisida (pesticide residues), cemaran mikroorganisme
(microbial contaminant), dan identifikasi aflatoksin.
Tulisan saya Saat ini membahas tentang beberapa aspek parameter non spesifik Yaitu,
penetapan kadar air (moisture content), penetapan kadar Abu (ash value), penetapan logam
berat (heavy metal), penetapan residu pestisida (pesticide residues).
cemaran mikroorganisme (microbial contaminant), dan identifikasi aflatoksin Akan saya
bahas dalam Tulisan berikutnya :). Please check it out!
1. Penetapan kadar air
Salah satu jaminan kemurnian dan kontaminasi adalah penetapan kadar air. Nilai kadar air
yang tidak sesuai dengan standar Akan dapat mempengaruhi kualitas herbal Yaitu Sebagai
media tumbuh mikroorganisme yang Baik. Pertumbuhan jamur ataupun bakteri dapat
menyebabkan terjadinya perubahan metabolit sekunder. Selain iTu kadar air yang tinggi
dapat menyebabkan masih berlangsungnya reaksi enzimatis yang dapat merubah metabolit
sekunder di dalam tanaman tersebut. Perubahan metabolit sekunder Akan sangat
mempengaruhi kualitas herbal iTu sendiri dalam hal aktivitas farmakologinya.
Penetapan kadar air dapat dilakukan dengan 3 metode tergantung pada senyawa kimia
didalamnya,yakni titrasi, gravimetri, dan destilasi. Umumnya kadar air ditetapkan dengan
cara destilasi apabila terdapat minyak astir di dalamnya. Metode penetapan kadar air dapat di
baca lebih lanjut dalam buku : monografi ekstrak tumbuhan obat Indonesia
2. Penetapan kadar Abu
Dalam menentukan kadar Abu, bahan tanaman di bakar dan residu Abu yang dihasilkan
diukur Sebagai kadar Abu total. Kadar Abu total menunjukkan jumlah senyawa anorganik,
mineral internal dan eksternal. Kadar Abu harus sesuai berdasarkan standar yang sudah
ditetapkan di masing-masing ekstrak bahan tanaman.
Dari Abu total yang dihasilkan kita dapat menentukan kadar Abu tidak larut asam, dengan
cara Abu total dilarutkan dalam asam klorida dan di bakar. Sisa Abu pembakaran merupakan
nilai Abu tidak larut asam. Kadar Abu tidak larut asam menandakan kehadiran silikat yang
terdapat didalam pasir atau tanah. (AOAC, 2005)

3. penetapan logam berat


Kontaminasi logam berat dapat terjadi secara tidak sengaja ataupun sengaja untuk
ditambahkan. Logam berat yang berbahaya dan Ada di sediaan OT adalah merkuri, timbal,
tembaga, kadmium, dan arsen. (AOAC, 2005)
Cara penentuan logam berat yang sederhana dapat ditemukan dalam pharmacopoeias dan
didasarkan pada reaksi warna menggunakan reagen spesifik Yaitu thiocetamide atau
diethyldithiocarbamate. Kehadiran logam berat diukur dengan membandingkan
menggunakan standar. (WHO, 1988)
Penetapan logam berat dapat menggunakan instrument seperti Atomic Absorption
Spectrophotometry (AAS), Inductively coupled plasma (ICP), dan Neutron Activation
Analysis (NAA). (Watson, 1999)
4. penetapan residu pestisida
OT dapat mengandung residu pestisida, yang terakumulasi melalui proses agricultural seperti
penyemprotan, treatment pada tanah Selama proses penanaman, dan penggunaan pestisida
gas Selama penyimpanan. Banyak pestisida mengandung klorin atau fosfat. Pengukuran
residu pestisida dapat dilakukan dengan menetapkan total organik klorin dan/ total organik
fosfat apabila tercemar pestisida lebih dari satu (Kunle, et al., 2012)
Penentuan pestisida tunggal dapat dilakukan dengan metode kromatografi gas (Kunle, et al.,
2012). Tetapi apabila senyawa pestisida atau senyawa lain juga terdeteksi dalam
kromatogram suatu residu pestisida maka perlu dilakukan suatu perlakuan kimiawi atau
Fisika lain untuk menghilangkan atau mengurangi intervensi senyawa senyawa tersebut
sebelum dilakukan kuantitasi residu pestisida yang ingin ditentukan. (BPOM, 2004)