Anda di halaman 1dari 14

REKONSILIASI

FISKAL

Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung


Mangkurat Banjarmasin, 2014.

REKONSILIASI FISKAL *)
Oleh :
Padlah Riyadi, SE, Ak
--------------------------------------------------------------------------------------------------Latar Belakang
Wajib Pajak Badan biasanya terdiri dari perusahaan-perusahaan yang
berbentuk Perseroan Terbatas atau CV. Perusahaan-perusahaan ini dalam
prakteknya tentu melakukan proses pembukuan dan pada akhirnya akan
menghasilkan laporan keuangan berupa Neraca dan Laporan Rugi Laba. Laporan
keuangan seperti ini biasanya dibutuhkan oleh berbagai macam pihak terutama
sekali adalah pemilik perusahaan dan kreditur. Laporan keuangan ini pada
umumnya digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan.
Penyusunan Laporan Keuangan seperti ini diatur dalam bentuk standar
akuntansi keuangan. Penggunaan standar ini terutama dimaksudkan agar
kualitas laporan keuangan bisa dipertanggungjawabkan sehingga bisa menjadi
sarana mengkomunikasikan apa yang telah dilakukan manajemen perusahaan
kepada fihak investor atau kreditur.
Pihak lain yang sebenarnya berkepentingan terhadap Laporan Keuangan
Perusahaan adalah pemerintah. Pemerintah memiliki hak terhadap Pajak
Penghasilan sebagaimana diatur dalam Undang-undang. Ada titik persamaan
antara investor, kreditur dan pemerintah. Titik persamaan tersebut terletak kepada
bahwa mereka sama-sama berkepentingan terhadap laba perusahaan. Investor
melihat laba sebagai suatu hasil dari investasinya di perusahaan tersebut
sementara kreditur tentu berkepentingan terhadap pinjaman yang diberikan
kepada perusahaan. Tingkat laba bisa memberikan petunjuk atas kemampuan
perusahaan untuk mengembalikan pokok pinjaman dan bunganya.
Pemerintah tentu saja berkepentingan terhadap laba perusahaan karena
Pajak Penghasilan dihitung berdasarkan laba perusahaan. Semakin besar laba
perusahaan maka semakin besar Pajak Penghasilan yang bisa ditarik, begitu juga
sebaliknya. Namun demikian, jika investor dan kreditur bisa langsung
menggunakan laporan rugi laba yang disusun berdasarkan standar akuntansi,
pemerintah tidak bisa menggunakan langsung laba dalam laporan keuangan
sebagai dasar pengenaan pajak.
Laba dalam pengertian Pajak Penghasilan adalah laba yang berdasarkan
ketentuan dalam Undang-undang Pajak Penghasilan serta peraturan
pelaksanaannya. Laba demikian biasa disebut Laba Fiskal, sementara laba yang
berdasarkan laporan rugi laba biasa disebut Laba Komersial. Dalam membuat
laporan keuangan ada beberapa perbedaan pengakuan pendapatan dan biaya
antara Standar Akuntansi Keuangan dengan Ketentuan perpajakan menghasilkan
jumlah angka yang berbeda antara laba komersial dan laba fiskal. Perbedaan
inilah yang menyebabkan perlunya dilakukan Rekonsiliasi Fiskal, yaitu suatu
mekanisme untuk menyesuaikan laporan keuangan komersial perusahaan menjadi
sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.
Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung
Mangkurat Banjarmasin, 2014.

Rekonsiliasi fiskal yang tujuannya adalah agar laporan keuangan


komersial sebelum datanya dimasukkan dalam SPT Tahunan PPh terlebih dahulu
disesuaikan dengan ketentuan perpajakan yang berlaku. Rekonsiliasi fiskal perlu
dilakukan karena terdapat beberapa perbedaan perlakuan baik itu mengenai
pengakuan penghasilan maupun mengenai biaya atau beban. Oleh karena itu,
berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka dalam makalah kali ini
akan dibahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan rekonsiliasi fiskal.

REKONSILIASI LABA KOMERSIAL DENGAN LABA FISKAL


Laporan laba rugi komersial menurut Muljono dalam Bakari (2009: 143)
adalah besarnya laba yang dihitung Wajib Pajak sesuai dengan sistem serta
prosedur pembukuan yang wajar yang diakui dalam Stadar Akuntansi Keuangan
(SAK), sedangkan laporan laba rugi fiskal menurut Lestari dalam Bakari (2011:
13) adalah ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan untuk
menentukan besarnya penghasilan kena pajak (taxable income) atau laba fiscal
yang digunakan untuk menghitung pajak penghasilan yang terutang.
Rekonsiliasi fiskal dilakukan oleh WP karena terdapat perbedaan
perhitungan, khususnya laba menurut akuntansi (laba komersial) dengan laba
menurut perpajakan (laba fiskal). Laporan keuangan komersial atau bisnis
ditujukan untuk menilai kinerja ekonomi dan keadaan finansial dari sektor swasta,
sedangkan laporan keuangan fiskal lebih ditujukan untuk menghitung pajak.
Perbedaan kedua dasar penyusunan laporan keuangan tersebut
mengakibatkan perbedaan perhitungan laba (rugi) suatu entitas.
Jika satu entitas (WP) harus menyusun 2 laporan keuangan yang berbeda maka
disamping terdapat pemborosan waktu, tenaga, uang juga akan terjadi tidak
tercapainya tujuan menghindari manipulasi pajak. Untuk mengatasi masalah
tersebut dilakukan rekonsiliasi fiskal untuk menyesuaikan saldo dalam laporan
laba rugi komersial dengan mengoreksi perbedaan perhitungan dengan peraturan
perpajakan, sehingga pajak yang terutang dapat dihitung dan dilaporkan sesuai
ketentuan perpajakan.
Perbedaan antara akuntansi komersial dan peraturan perpajakan akan
menyebabkan koreksi positif dan koreksi negatif. Koreksi positif akan
menyebabkan laba kena pajak akan bertambah, sedangkan Koreksi negatif akan
menyebabkan laba kena pajak berkurang.

Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung


Mangkurat Banjarmasin, 2014.

Format Rekonsiliasi Fiskal


Laba menurut Laporan Keuangan Komersial
Ditambah Koreksi Positif :
- Pengeluaran yang tidak dapat dikurangkan
- Pengeluaran berkaitan penghasilan bukan objek pajak
- Pengeluaran berkaitan penghasilan objek pajak final
- Beda Perhitungan akuntansi komersial dgn peraturan pajak

xxx
xxx
xxx
xxx
xxx

Jumlah Koreksi Positif

xxx

Dikurangi Koreksi Negatif :


- Penghasilan bukan objek pajak
- Penghasilan yang merupakan objek pajak final
- Beda Perhitungan akuntansi komersial dgn peraturan pajak

xxx
xxx
xxx

Jumlah Koreksi Negatif

xxx

Laba/Rugi Fiskal
Kompensasi Kerugian

xxx
xxx

Penghasilan Kena Pajak


PPh Terutang
Laba Setelah Pajak

xxx
xxx
xxx

Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung


Mangkurat Banjarmasin, 2014.

BEDA TETAP DAN TEMPORER


Masalah pokok dalam Akuntansi sama dengan Pajak Penghasilan yaitu
menentukan pendapatan (penghasilan) dan beban (biaya) untuk tahun buku yang
bersangkutan. Laporan keuangan fiskal dan laporan keuangan komersil, masingmasing menggunakan pedoman yang berbeda. Sehingga, beban Pajak tangguhan
disebabkan adanya aturan yang berbeda dalam penyusunan laporan keuangan.
Perbedaan dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
1. Beda Tetap
Beda tetap disebabkan oleh adanya perbedaan pengakuan pendapatan dan
beban antara Standar Akuntansi dan Peraturan Perpajakan yang bersifat permanen.
Perbedaan ini akan mengakibatkan perbedaan besarnya laba bersih sebelum pajak
dengan laba fiskal atau penghasilan kena pajak.
a. Beda Tetap Penghasilan
Peraturan perpajakan Undang-Undang Pajak Penghasilan Nomor 36 tahun
2008 PPh pasal 4 (3) menyebutkan terdapat penghasilan yang bukan merupakan
objek PPh sehingga tidak dapat dimasukkan sebagai Penghasilan dalam Laporan
keuangan fiskal. Penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak diantaranya
adalah :
(1) Penghasilan yang bukan objek PPh
Dividen yang diterima oleh PT sebagai WP DN, BUMN, BUMD
serta Koperasi, dari penyertaan modal pada badan usaha yang
didirikan/berkedudukan di Indonesia dengan syarat tertentu.
Penggantian/imbalan dalam bentuk natura.
Hibah, bantuan, sumbangan.
Iuran dan penghasilan tertentu dari dana pensiun.
Bunga obligasi dari reksadana.
Penghasilan lain yang termasuk kelompok bukan objek pajak
sesuai UU PPh pasal 4 ayat (3).
(2) Penghasilan yang dikenakan PPh final
Bunga deposito/tabungan dan diskonto SBI.
Penghasilan obligasi yang tercatat pada bursa efek.
Penjualan saham di bursa efek.
Imbalan jasa kontruksi.
Persewaan tanah dan bangunan.
Pengalihan hak atas tanah /bangunan oleh yayasan/organisasi
sejenis.
Hadiah undian, dan lain-lain.
b. Beda Tetap Biaya
Pengeluaran yang menurut SAK merupakan beban tetapi menurut undangundang PPh Pasal 9 ayat (1) tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto
diantaranya adalah:
Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung
Mangkurat Banjarmasin, 2014.

(1) Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen,
termasuk dividen yang dibayarkan oleh Perusahaan asuransi kepada
pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.
(2) Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan Pribadi
pemegang saham, sekutu, atau anggota.
(3) Penggantian/imbalan sehubungan dengan pekerjaan/jasa yang diberikan
dalam bentuk natura/kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan
minuman untuk seluruh pegawai dan kenikmatan di daerah tertentu dan
yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan oleh
menteri keuangan.
(4) Bantuan/sumbangan.
(5) Sanksi administrasi perpajakan.
(6) Kerugian usaha dari luar negeri.
(7) Rugi karena penjualan/pengalihan aktiva dan/atau hak yang dimiliki yang
tidak dipergunakan dalam kegiatan usaha dalam rangka mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan.
(8) Biaya/pengurang lain yang tidak diperbolehkan menurut fiskal sesuai
dengan UU PPh pasal 9 ayat (1).
c. Beda Tetap Yang Disebabkan Tidak Dipenuhi Syarat-Syarat Khusus
(1) Biaya Perjalanan
Biaya perjalanan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah
biaya perjalanan pegawai perusahaan untuk kepentingan perusahaan yang
dilengkapi dengan bukti-bukti sah, misal: surat tugas, tiket, kuitansi hotel
atau bukti pembayaran ke biro perjalanan.
(2) Biaya Promosi
Biaya promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah
biaya promosi yang didukung bukti pemasangan/pemuatan iklan,
pembuatan barang-barang promosi dll. Biaya promosi harus dibedakan
dengan sumbangan.
(3) Biaya Entertainment
Biaya entertainment yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah
biaya entertainment yang benar-benar dikeluarkan (formal) ada
hubungannya dengan kegiatan usaha wajib pajak dan dibuatkan daftar
nominatif (dilampirkan di SPT Tahunan PPh).
(4) Biaya Penelitian Dan Pengembangan
Biaya penelitian dan pengembangan yang dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto adalah hanya biaya penelitian dan pengembangan yang
dilakukan di Indonesia.
(5) Kerugian Piutang
Selain Bank dan SGU, Piutang yang dapat dihapuskan adalah piutang
yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dan dibuatkan daftar nominatif
(dilampirkan di SPT Tahunan PPh).

Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung


Mangkurat Banjarmasin, 2014.

2. Perbedaan Temporer
Perbedaan temporer disebabkan oleh adanya perbedaan waktu
dan metode pengakuan pendapatan dan beban antara Standar Akuntansi
dan Peraturan Perpajakan. Menurut PSAK 46 (2002:3) definisi
perbedaan temporer adalah perbedaan antara jumlah tercatat aktiva atau
kewajiban dengan dasar pengenaan pajaknya (DPP).
Perbedaan temporer dapat berupa:
a. Perbedaan temporer kena pajak adalah perbedaan temporer yang
menimbulkan suatu jumlah kena pajak dalam penghitungan laba fiskal
periode mendatang pada saat nilai tercatat aktiva dipulihkan atau nilai
tercatat kewajiban tersebut dilunasi.
b. Perbedaan temporer yang boleh dikurangkan adalah perbedaan
temporer yang menimbulkan suatu jumlah yang boleh dikurangkan
dalam penghitungan laba fiskal periode mendatang pada saat nilai
tercatat aktiva dipulihkan atau nilai tercatat kewajiban tersebut
dilunasi.
Perbedaan temporer kena pajak akan mengakibatkan timbulnya
kewajiban pajak tangguhan pada periode terjadinya beda temporer,
karena terdapat kewajiban pajak penghasilan pada periode mendatang.
Sedangkan perbedaan temporer yang boleh dikurangkan akan
mengakibatkan timbulnya aktiva pajak tangguhan, karena manfaat
ekonomi yang akan diperoleh wajib pajak dalam bentuk pengurangan
terhadap laba fiskal pada masa mendatang.
Contoh Beda Temporer :
Beban penyusutan karena perbedaan metode penyusutan.
Penilaian Persediaan.
Penyisihan Kerugian Piutang, kecuali untuk Bank dan Sewa
Guna Usaha dengan Hak Opsi, Cadangan Untuk Usaha
Asuransi, Cadangan pembangunan sarana/prasarana untuk
yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan;
serta Cadangan Biaya Reklamasi untuk Usaha Pertambangan.
Laba Rugi selisih Kurs.
Laba Rugi atas Penilaian Efek.
Laba Rugi atas Penyertaan Saham.

Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung


Mangkurat Banjarmasin, 2014.

PERHITUNGAN PAJAK TERUTANG


Tarif PPh Pasal 17
a. Tarif pajak orang pribadi dalam negeri adalah sebagai berikut:
Lapisan Penghasilan Kena Pajak
Tarif Pajak
Sampai dengan Rp 50.000.000,00
5%
Rp 50.000.000,00 Rp 250.000.000,00
15%
Rp 250.000.000,00 Rp 500.000.000,00
25%
Diatas Rp 500.000.000,00
30%
b. Tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak
badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar 25%.
Contoh:
Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp 1.250.000.000,00
Pajak Penghasilan yang terutang
= 25% x Rp 1.250.000.000,00
= Rp 312.500.000,00
Tarif Pasal 31E
Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan
Rp 50.000.000.000,00 mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50%
dari tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a)
yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai
dengan Rp 4.800.000.000,00.
Contoh: 1 :
Peredaran bruto PT Y dalam tahun pajak 2012 sebesar Rp 4.500.000.000,00
dengan
Penghasilan
Kena
Pajak
sebesar
Rp
500.000.000,00.
Penghitungan pajak terutang:
Seluruh Penghasilan Kena Pajak yang diperoleh dari peredaran bruto tersebut
dikenai tarif sebesar 50% dari tarif Pajak Penghasilan badan yang berlaku karena
jumlah peredaran bruto PT Y tidak melebihi Rp 4.800.000.000,00.
Pajak Penghasilan Terutang = (50% x 25%) x Rp 500.000.000,00
= Rp 62.500.000,00

Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung


Mangkurat Banjarmasin, 2014.

Contoh 2 :
Peredaran bruto PT X dalam tahun pajak 2012 sebesar Rp 30.000.000.000,00
dengan
Penghasilan
Kena
Pajak
sebesar
Rp
3.000.000.000,00.
Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang:
1. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang
memperoleh fasilitas:
(Rp 4.800.000.000,00 : Rp 30.000.000.000,00) x Rp 3.000.000.000
= Rp 480.000.000,00
2. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak
memperoleh fasilitas:
Rp 3.000.000.000,00 Rp 480.000.000,00 = Rp 2.520.000.000,00
Pajak Penghasilan terutang:
- (50% x 25%) x Rp 480.000.000,00
= Rp 60.000.000,00
- 25% x Rp 2.520.000.000,00
= Rp 630.000.000,00 (+)
Jumlah Pajak Penghasilan yang terutang
= Rp 690.000.000,00

Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung


Mangkurat Banjarmasin, 2014.

KREDIT PAJAK
Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri
oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat
Tagihan Pajak karena Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau
kurang dibayar, ditambah dengan pajak yang dipotong atau dipungut, ditambah
dengan pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri,
dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak, yang
dikurangkan dari pajak yang terutang.
Kredit Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak Masukan yang
dapat dikreditkan setelah dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan
pajak atau setelah dikurangi dengan pajak yang telah dikompensasikan, yang
dikurangkan dari pajak yang terutang.
Kredit Pajak Bagi Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan BUT
Pasal 22 : Pemungutan PPh dari kegiatan di bidang impor atau kegiatan
usaha di bidang lain.
Pasal 23 : Pemotongan PPh dari dividen, bunga, royalty, sewa, hadiah dan
penghargaan, dan imbalan lain.
Pasal 24 : Pajak yang dibayar atau terutang atas penghasilan dari luar
negeri yang boleh dikreditkan.
Pasal 25 : Pembayaran yang dilakukan oleh wajib pajak sendiri
Perhitungan Kredit Pajak
1. PPh Dipotong/Dipungut pihak lain
a) Kredit Pajak Dalam Negeri
PPh Pasal 21
PPh Pasal 22
PPh Pasal 23
b) Kredit Pajak Luar Negeri
PPh Pasal 24
2. PPh Yang dibayar sendiri
PPh Pasal 25
Jumlah Kredit Pajak

xxx
xxx
xxx

xxx
xxx
xxx
xxx

Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung


Mangkurat Banjarmasin, 2014.

Kredit Pajak PPh Pasal 24


Pada dasarnya Wajib Pajak dalam negeri terutang pajak atas seluruh
penghasilan, termasuk penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri.
Untuk meringankan beban pajak ganda yang dapat terjadi karena pengenaan
pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri, ketentuan ini
mengatur tentang perhitungan besarnya pajak atas penghasilan yang dibayar atau
terutang di luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang atas
seluruh penghasilan Wajib Pajak dalam negeri.
Pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dapat
dikreditkan terhadap pajak yang terutang di Indonesia hanyalah pajak yang
langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak.
Contoh :
PT A di Indonesia merupakan pemegang saham tunggal dari Z Inc. di Negara X. Z
Inc. tersebut dalam tahun 1995 memperoleh keuntungan sebesar US$ 100,000.00.
Pajak Penghasilan yang berlaku di negara X adalah 48% dan Pajak Dividen
adalah 38%.
Penghitungan pajak atas dividen tersebut adalah sebagai berikut:
Keuntungan Z Inc
US$ 100,000.00
Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Z Inc.: (48%) US$ 48,000.00 (-)
US$ 52,000.00
Pajak atas dividen (38%)
US$ 19,760.00 (-)
Dividen yang dikirim ke Indonesia
US$ 32,240.00
Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan terhadap seluruh Pajak Penghasilan
yang terutang atas PT A adalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan
yang diterima atau diperoleh di luar negeri, dalam contoh di atas yaitu jumlah
sebesar US$ 19,760.00.
Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Z Inc. sebesar US$ 48,000.00
tidak dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang atas PT A,
karena pajak sebesar US$48,000.00 tersebut tidak dikenakan langsung atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh PT A dari luar negeri, melainkan pajak
yang dikenakan atas keuntungan Z Inc. di negara X.

PAJAK AKHIR TAHUN


Dalam UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Pasal 28 ayat 1
disebutkan bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, pajak yang
terutang dikurangi dengan kredit pajak untuk tahun pajak yang bersangkutan
berupa:
a. Pemotongan pajak atas penghasilan dari pekerjaan, jasa, dan kegiatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21;
b. Pemungutan pajak atas penghasilan dari kegiatan di bidang impor atau
kegiatan usaha di bidang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22;
Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung
Mangkurat Banjarmasin, 2014.

c. Pemotongan pajak atas penghasilan berupa deviden, bunga, royalti sewa,


hadiah dan penghargaan, dan imbalan jasa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23;
d. Pajak yang dibayar atau terutang atas penghasilan dari luar negeri yang
boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24;
e. Pembayaran yang dilakukan oleh Wajib Pajak sendiri sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25;
f. Pemotongan pajak atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
26 ayat (5).
Pasal tersebut memiliki penjelasan bahwa pajak yang telah dilunasi dalam tahun
berjalan, baik yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ataupun yang dipotong serta
dipungut oleh pihak lain, dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang pada
akhir tahun pajak yang bersangkutan

Contoh:
Pajak Penghasilan yang terutang
Kredit pajak:
Pemotongan pajak dari pekerjaan (Pasal 21)
Pemungutan pajak oleh pihak lain (Pasal 22)
Pemotongan pajak dari modal (Pasal 23)
Kredit pajak luar negeri (Pasal 24)
Dibayar sendiri oleh wajib pajak (Pasal 25)
Jumlah Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan
Pajak Penghasilan yang masih harus dibayar

Rp 80.000.000,00
Rp 5.000.000,00
Rp 10.000.000,00
Rp 5.000.000,00
Rp 15.000.000,00
Rp 10.000.000,00
Rp 45.000.000,00
Rp 35.000.000,00

Dalam pasal 28 ayat 2 disebutkan bahwa sanksi administrasi berupa


bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan
dengan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan yang
berlaku tidak boleh dikreditkan dengan pajak yang terutang sebagaimana
dimaksud pada ayat (1). Pasal 28A disebutkan bahwa apabila pajak yang terutang
untuk suatu tahun pajak ternyata lebih kecil dari jumlah kredit pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), maka setelah dilakukan pemeriksaan,
kelebihan pembayaran pajak dikembalikan setelah diperhitungkan dengan utang
pajak berikut sanksi-sanksinya. Pasal ini memiliki penelasan bahwa sesuai dengan
ketentuan dalam Pasal 17B ayat (1) Undang-Undang tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan, Direktur Jenderal Pajak atau pejabat yang ditunjuk
berwenang untuk mengadakan pemeriksaan sebelum dilakukan pengembalian
atau perhitungan kelebihan pajak. Hal-hal yang harus menjadi pertimbangan
sebelum dilakukan pengembalian atau perhitungan kelebihan pajak adalah:
a. Kebenaran materiil tentang besarnya pajak penghasilan yang terutang;
b. Keabsahan bukti-bukti pungutan dan bukti-bukti potongan pajak serta
bukti pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri selama dan untuk
tahun pajak yang bersangkutan.
Oleh karena itu untuk kepentingan pemeriksaan, Direktur Jenderal Pajak atau
pejabat lain yang ditunjuk diberi wewenang untuk mengadakan pemeriksaan atas
Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung
Mangkurat Banjarmasin, 2014.

laporan keuangan, buku-buku, dan catatan lainnya serta pemeriksaan lain yang
berkaitan dengan penentuan besarnya pajak penghasilan yang terutang, kebenaran
jumlah pajak dan jumlah pajak yang telah dikreditkan dan untuk menentukan
besarnya kelebihan pembayaran pajak yang harus dikembalikan. Maksud
pemeriksaan ini untuk memastikan bahwa uang yang akan dibayar kembali
kepada Wajib Pajak sebagai restitusi itu adalah benar merupakan hak Wajib Pajak.
Dalam Pasal 29 disebutkan apabila pajak yang terutang untuk suatu tahun
pajak ternyata lebih besar daripada kredit pajak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 28 ayat (1), kekurangan pembayaran pajak yang terutang harus dilunasi
sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan. Yang
memiliki penjelasan bahwa pasal 29 mewajibkan Wajib Pajak untuk melunasi
kekurangan pembayaran pajak yang terutang menurut ketentuan Undang-Undang
ini sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan dan
paling lambat pada batas akhir penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan.
Apabila tahun buku sama dengan tahun kalender, kekurangan pajak tersebut wajib
dilunasi paling lambat tanggal 31 Maret bagi Wajib Pajak orang pribadi atau 30
April bagi Wajib Pajak badan setelah tahun pajak berakhir, sedangkan apabila
tahun buku tidak sama dengan tahun kalender, misalnya dimulai tanggal 1 Juli
sampai dengan 30 Juni, kekurangan pajak wajib dilunasi paling lambat tanggal 30
September bagi Wajib Pajak orang pribadi atau 31 Oktober bagi Wajib Pajak
badan.

Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung


Mangkurat Banjarmasin, 2014.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.

Bakari, Farizah. Analisis Perbandingan Laba Komersial dan Laba Fiskal


Pada PT Surya Citra Media (Studi Kasus pada Perusahaan yang
Terdaftar di BEI). Program Studi Akuntansi Universitas Negeri Gorontalo.
http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/mengapa-perlurekonsiliasi-fiskal.html
http://senoverserira.blogspot.com/2012/12/Teknik Rekonsiliasi Fiskal
http://www.anwar-rekan.com/uploads/Rekonsiliasi Laporan Keuangan
Fiskal
Kesit, Bambang. 2010. Modul: Teknik Rekonsiliasi untuk Menghitung
PPh Badan. Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas
Islam Indonesia.

Program profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung


Mangkurat Banjarmasin, 2014.