Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Prinsip Percobaan


Berdasarkan kelarutannya dalam pelarut yang sesuai, pengujian golongan
senyawa metabolit sekunder yang terdapat di dalam suatu tumbuhan dapat dilakukan
dengan menggunakan pelarut tersebut dan pereaksi warna yang spesifik untuk
masing-masing golongan senyawa.

1.2 Tujuan Percobaan


a. Untuk mengetahui prinsip skrining sianogenik glikosida dan tanin
b. Untuk mengidentifikasi kandungan senyawa kimia sianogenik glikosida pada
daun ubi racun (Manihot esculenta C.)
c. Untuk mengidentifikasi kandungan senyawa kimia tanin pada daun jambu biji
(Psidium guajava L.)

1.3 Manfaat Percobaan


a. Dapat mengetahui prinsip skrining sianogenik glikosida dan tanin
b. Dapat mengidentifikasi kandungan senyawa kimia sianogenik glikosida pada
daun ubi racun (Manihot esculenta C.)
c. Dapat mengidentifikasi kandungan senyawa kimia tanin pada daun jambu biji
(Psidium guajava L.)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan


Ranti atau leunca (Solanum nigrum L.) adalah tumbuhan anggota suku terung
terungan ( Solanaceae ) yang buahnya dikenal sebagai sayuran dan juga menjadi
bahan pengobatan. Tumbuhan ini berasal dari Asia Barat, dibawa ke Indonesia
melalui Malaysia dan telah menyebar ke seluruh penjuru dunia karena mampu hidup
dalam kondisi tertekan. Dalam bahasa Inggris ia paling banyak dikenal sebagai (
European ) black nightshade (Dalimartha, S.,2008).
2.1.1 Sistematika tumbuhan

Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)

Sub Kelas

: Asteridae

Ordo

: Solanales (suku terung - terungan)

Famili

: Solanaceae

Genus

: Solanum

Spesies

: Solanum nigrum L. (Dalimartha, S.,2008).

2.1.2 Nama Daerah


Karo

: Leuh

Aceh

: Rampai

Sunda

: Leunca pahit

Melayu : Ranti, terung meranti, terung para cicit, terung perat


Maluku : Boose, Bobose (Depkes RI, 1994).
2.1.3 Morfologi Tumbuhan
Tanaman ini termasuk ke dalam golongan semak, dengan tinggi lebih kurang
1,5 m. Memiliki akar tunggang dengan warna putih kocoklatan. Batang tegak,
berbentuk bulat, lunak, dan berwarna hijau. Berdaun tunggal, lonjong, dan tersebar
dengan panjang 5 - 7,5 cm ; lebar 2,5 - 3,5 cm. Pangkal dan ujung daun meruncing
dengan tepi rata. Pertulangan daun menyirip. Daun mempunyai tangkai dengan
panjang 1 cm dan berwarna hijau. Bunga berupa bunga majemuk dengan mahkota
kecil, bangun bintang, berwarna putih, benang sari berwarna kehijaunan dengan
jumlah 5 buah. Tangkai bunga berwarna hijau pucat dan berbulu. Buah berbentuk
bulat, jika masih muda berwarna hijau, dan berwarna hitam mengkilat jika sudah tua
ukurannya kira- kira sebesar kacang kapri. Biji berbentuk bulat pipih, kecil - kecil,
dan berwarna putih (Lestario, 2005).
2.1.4 Kandungan Kimia dan Manfaat Ranti ( Solanum nigrum L.)
Leunca ( Solanum nigrum L.) mengandung solanine, solasonine, solamargine
dan chaconine. Serta diketahui pada buah leunca yang belum matang mengandung
steroidal alkaloid solasodine serta steroidal sapogenin diosgenin dan tigogenin. Serta
terdapat kandungan signifikan dari diosgenin (1,2%) dan solasodine (0,65%) pada
buah leunca ( Solanum nigrum L.) yang masih hijau (Supriadi dkk., 2001)
Ranti juga mengandung mineral kalsium, fosfor, besi, vitamin A, vitamin C (Hernani
dan Rahardjo, 2005).
Buah ranti berkhasiat sebagai obat penurun tekanan darah tinggi, obat sembelit
dan untuk peluruh air seni (Depkes RI, 1994).
Disamping penggunaannya sebagai ramuan tradisional, beberapa studi ilmiah
menunjukkan, leunca memiliki aktivitas antiulserogenik yang berhubungan dengan
3

lambung, sistem saraf pusat dan sebagai agen antineoplastik dan memiliki peran
sitoprotektif melawan kerusakan sel ginjal. Rebusan air daunnya juga dapat
melancarkan buang air kecil, menyembuhkan sakit perut, batuk dan mampu pula
menurunkan tekanan darah tinggi serta bermanfaat mengurangi jumlah sel darah
putih dalam tubuh (Supriadi dkk., 2001).
Kandungan metabolit sekundernya seperti Solasodine mempunyai efek
menghilangkan sakit (analgetik), penurunan panas, antiradang, dan antishok.
Solamargine dan solasonine mempunyai efek antibakteri, sedangkan solanine sebagai
antimitosis. Senyawa - senyawa itu bisa mengatasi gangguan kanker, yakni kanker
payudara, leher rahim, lambung dan saluran pernapasan (Robinson, 1995).

2.2.Uraian kimia
2.2.1 Triterpenoid
Triterpenoid

adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam

satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C - 30 asiklik,


yaitu skualena, senyawa ini tidak berwarna, berbentuk kristal, bertitik leleh tinggi dan
bersifat optis aktif (Harborne, 1987).
Berdasarkan jumlah cincin yang terdapat dalam struktur molekulnya triterpen
sebenarnya dapat dibagi atas:
1. Triterpen a siklik yaitu triterpen yang tidak mempunyai cincin tertutup, misalnya
skualena.
2. Triterpen trisiklik adalah triterpen yang mempunyai tiga cincin tertutup pada
struktur molekulnya, misalnya: ambrein.
3. Triterpen tetrasiklik adalah triterpen yang mempunyai empat cincin tertutup pada
struktur molekulnya, misalnya:lanosterol.
4. Triterpen pentasiklik adalah triterpen yang mempunyai lima cincin tertutup pada
struktur molekulnya, misalnya amirin (Harborne, 1987).
Lebih dari 4000 jenis triterpenoid telah diisolasi dengan lebih dari 40 jenis
kerangka dasar yang sudah dikenal dan pada prinsipnya merupakan proses siklisasi
dari skualen. Triterpenoid terdiri dari kerangka dengan 3 siklik 6 yang bergabung
4

dengan siklik 5 atau berupa 4 siklik, 6 yang mempunyai gugus fungsi pada siklik
tertentu. Sedangkan penamaan disederhanakan dengan memberikan penomoran pada
tiap atom karbon, sehingga memudahkan dalam penentuan substituen pada masingmasing karbon. Senyawa golongan triterpenoid menunjukkan aktivitas farmakologi
yang signifikan, seperti anti-viral, anti-bakteri, anti-inflamasi, sebagai inhibisi
terhadap sintesis kolesterol dan sebagai anti kanker (Nassar et al., 2010).
2.2.2 Steroid
Steroid adalah suatu golongan senyawa triterpenoid yang mengandung inti
siklopentana perhidrofenantren yaitu dari tiga cincin sikloheksana dan sebuah cincin
siklopentana. Dahulu sering digunakan sebagai hormon kelamin, asam empedu, dll.
Tetapi pada tahun-tahun terakhir ini makin banyak senyawa steroid yang ditemukan
dalam jaringan tumbuhan .Tiga senyawa yang biasa disebut fitosterol terdapat pada
hampir setiap tumbuhan tinggi yaitu: sitosterol, stigmasterol, dan kampesterol
(Harborne, 1987).
Steroid terdiri atas beberapa kelompok senyawa dan pengelompokkan ini
didasarkan pada efek fisiologis yang diberikan oleh masing-masing senyawa.
Kelompok-kelompok itu adalah sterol, asam-asam empedu, hormon seks, hormon
adrenekortikoid, aglikon kardiak dan sapogenin. Ditinjau dari segi struktur molekul,
perbedaan antara berbagai kelompok steroid ini ditentukan oleh jenis subsituen R1,
R2 dan R3 yang terikat pada kerangka dasar karbon. Sedangkan perbedaan anatara
senyawa yang satu dengan yang lain pada suatu kelompok tertentu ditentukan oleh
panjang rantai karbon R1, gugus fungsi yang terdapat pada substituen R1,R2, dan R3,
jumlah serta posisi gugus fungsi oksigen dan ikatan rangkap dan konfigurasi dari
pusat-pusat asimetris pada kerangka dasar karbon tersebut (Harborne, 1987).
Menurut asalnya senyawa steroid dibagi atas:
1. Zoosterol, yaitu steroid yang berasal dari hewan misalnya kolesterol.
2. Fitosterol, yaitu steroid yang berasal dari tumbuhan misalnya sitosterol dan
stigmasterol
3. Mycosterol, yaitu steroid yang berasal dari fungi misalnya ergosterol

4. Marinesterol, yaitu steroid yang berasal dari organisme laut misalnya


spongesterol.
Berdasarkan jumlah atom karbonnya, steroid terbagi atas:
1. Steroid dengan jumlah atom karbon 27, misalnya zimasterol
2. Steroid dengan jumlah atom karbon 28, misalnya ergosterol
3. Steroida dengan jumlah atom karbon 29, misalnya stigmasterol (Harborne, 1987).

2.3 Kromatografi Lapis Tipis Preparatif


Salah satu metode pemisahan yang memerlukan biaya paling murah dan
memakai peralatan sangat sederhana ialah kromatografi lapis tipis preparatif
(KLTP).Walaupun KLTP dapat memisahkan dalam jumlah gram,sebagian besar
pemakaian hanya dalam jumlah miligram. KLT preparatif dilakukan dengan
menggunakan lapisan tebal (sampai 1 mm) sebagai pengganti lapisan penyerap yang
tipis (Harborne, 1987).

Pada kromatografi lapis tipis preparatif, cuplikan yang akan dipisahkan


ditotolkan berupa garis pada salah satu sisi plat lapisan besar dan dikembangkan
secara tegak lurus pada garis cuplikan sehingga campuran akan terpisah menjadi
beberapa pita. Pita ditampakkan dengan cara yang tidak merusak jika senyawa itu
tanwarna, dan penyerap yang mengandung senyawa pita dikerok dari plat kaca.
Kemudian cuplikan dielusi dari penyerap dengan pelarut polar. Cara ini berguna
untuk memisahkan campuran reaksi sehingga diperoleh senyawa murni untuk telaah
6

pendahuluan, untuk menyiapkan cuplikan analisis, untuk meneliti bahan alam yang
lazimnya berjumlah kecil dan campurannya rumit dan untuk memperoleh cuplikan
yang murni untuk mengkalibrasi kromatografi lapis tipis kuantitatif (Gritter, 1991).
Kromatografi merupakan metoda pilihan untuk pemisahan semua kandungan
yang larut dalam lipid, steroid, karotenoid, kuinon sederhana dan klorofil. Satu
kekurangan kromatografi lapis tipis yang asli adalah kerja penyaputan plat kaca
dengan penyerap. Bila kromatografi lapis tipis dibandingkan dengan kromatografi
kertas, kelebihan kromatografi lapis tipis adalah keserbagunaan, kecepatan dan
kepekaannya. Keserbagunaan kromatografi lapis tipis disebabkan oleh kenyataan
bahwa di samping selulosa, sejumlah penyerap yang berbeda-beda dapat disaputkan
pada plat kaca atau penyangga lain dan digunakan untuk kromatografi
(Gritter,R.J.dan James., 1991).
Pada pemisahan dengan KLT preparatif digunakan plat silika gel GF254
dengan ukuran 10 x 20 cm. Ekstrak pekat hasil ekstraksi ditotolkan sepanjang plat
pada jarak 1 cm dari garis bawah dan 1 cm dari garis tepi. Selanjutnya dielusi dengan
menggunakan eluen yang memberikan pemisahan terbaik pada KLT analitik. Nodanoda pada permukaan plat diperiksa di bawah sinar UV pada panjang gelombang 366
nm,kemudian diamati pada masing-masing hasil nodanya Noda yang diduga
merupakan senyawa golongan triterpenoid dikerok kemudian dilarutkan dalam
pelarut heksana selanjutnya disentrifuge untuk mengendapkan silikanya.Masingmasing supernatan yang diperoleh diuapkan pelarutnya hingga habis menguap
sehingga diperoleh isolat pekat dari masing-masing noda (Sastrohamidjojo, 1985).
Campuran yang akan dikromatografi harus dilarutkan di dalam pelarut yang
agak non polar untuk ditotolkan pada lapisan. Pada umumnya, dipakai larutan 0,11%. Hampir segala macam pelarut dapat dipakai, tetapi yang terbaik yang bertitik
didih 500 dan 1000C. Pelarut yang demikian mudah ditangani dan mudah menguap
dari lapisan. Air hanya dipakai jika tidak ada pilihan lain.
Ada dua kekurangan utama KLT pada kaca objek. Pertama, lapisan nisbi tipis
dibandingkan dengan lapisan buatan sendiri yang ukurannya lebih besar. Kedua, jarak
untuk pengembangan kromatografi jauh lebih pendek. Jadi, kita harus menotolkan
7

cuplikan dengan luas totolan sekecil mungkin. Penotolan dapat dilakukan dengan
memakai kapiler halus yang dibuat dari pipa kaca demikian rupa sehingga besarnya
tidak jauh berbeda dengan peniti. Cuplikan berupa larutan, harus ditotolkan sekitar 810mm dari salah satu ujung kaca objek yang terlapisi sempurna. Beberapa kali
penotolan dapat dilakukan pada tempat yang sama asal saja lapisan kering dulu
sebelum penotolan berikutnya (Gritter, 1991).
Pengembangan plat KLTP biasanya dilakukan dalam bejana kaca yang dapat
menampung beberapa plat. Keefisienan pemisahan dapat ditingkatkan dengan cara
pengembangan berulang. Harus diperhatikan bahwa semakin lama senyawa
berkontak dengan penyerap maka semakin besar kemungkinan penguraian
(Hostettman, 1995).
2.3.1

Harga Rf (Retardation factor)


Identifikasi dari senyawa-senyawa hasil pemisahan KLT dapat dilakukan

dengan penambahan pereaksi kimia dan reaksi-reaksi warna. Tetapi lazimnya untuk
identifikasi digunakan harga Rf. Harga Rf didefenisikan sebagai berikut:
Rf = Jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik penotolan
Jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik penotolan
Harga-harga Rf untuk senyawa-senyawa murni dapat dibandingkan dengan
harga-harga standar.Perlu diperhatikan bahwa harga-harga Rf yang diperoleh hanya
berlaku untuk campuran tertentu dari pelarut dan penyerap yang digunakan.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi harga Rf:
1. Struktur kimia dari senyawa yang dipisahkan
2. Sifat dari penyerap dan derajat aktifitasnya
3. Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap
4. Pelarut(dan derajat kemurniannya) fasa bergerak
5. Derajat kejenuhan dari uap dalam mana bejana pengembangan yang digunakan
6. Teknik percobaan
7. Jumlah cuplikan yang digunakan
8. Suhu
9. Kesetimbangan
8

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah alu, beaker glass cawan
penguap, corong glass, erlenmeyer, gelas ukur, kertas saring, lumpang, penjepit
tabung, pipet tetes, pisau cutter, plastik dan karet, statif dan klem, sudip, tabung
reaksi.

3.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah daun ubi racun (Manihot
esculenta C.), daun jambu biji (Psidium guajava L.), aquadest, larutan asam pikrat,
larutan FecL3.

3.3 Prosedur
3.3.1

Skrining Fitokimia Golongan Senyawa Glikosida Sianogenik


Timbang 10 gr bahan, dihaluskan dalam lumpang dan dilembapkan dengan

sedikit air (air jangan berlebihan), dimasukkan kedalam Erlenmeyer. Kertas saring
yang telah dibasahi dengan larutan asam pikrat diselipkan dengan bantuan gabus pada
mulut Erlenmeyer. Kemudian dibiarkan terkena sinar matahari (diletakkan dekat
jendela). Timbulnya warna merah pada kertas saring menunjukkan adanya glikosida
sianogenik.
3.3.2

Skrining Fitokimia Golongan Senyawa Tanin


Ditimbang 0,5 g bahan tumbuhan. Disari / dimaserasi dengan akuades 10 ml

selama 15 menit. Kemudian disaring, filtrat diencerkan dengan akuades sampai


hampir tidak berwarna. Diambil 2 ml filtrat, ditambahkan 2 tetes larutan FeCl3 10%.
Diperhatikan warna yang terjadi, warna biru atau hijau menunjukkan adanya tanin.
Warna biru menunjukkan adanya 3 buah gugus hidroksil pada inti aromatis tanin
sedangkan warna hijau menunjukkan adanya 2 buah gugus hidroksil pada inti
aromatis tanin.
9

3.4 Flowsheet
3.4.1

Skrining Fitokimia Golongan Senyawa Glikosida Sianogenik


Sampel
Dimasukkan kedalam labu erlenmeyer
Dilembabkan dengan air
Diselipkan kertas saring yang telah dibasahi
dengan larutan natrium pikrat dengan bantuan
gabus pada mulut labu erlenmeyer
Dibiarkan terkena sinar matahari
Warna merah pada kertas saring
(+) cyanogenik glikosida

3.4.2

Skrining Fitokimia Golongan Senyawa Tanin


Sampel
Disari dengan 10 ml air
Disaring

Filtrat

Residu
Diencerkan hingga tidak berwarna
Ditambahkan 1-2 tetes larutan FeCl3 10%

Warna Biru
(+) 3 gugus hidroksil
pada inti aromatis tanin

Warna Hijau
(+) 2 gugus hidroksil
pada inti aromatis tanin

10

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel Hasil Skrining Sianogenik Glikosida dan Tanin Pada Daun Ubi Racun
(Manihot esculenta C.) dan Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.)
No.
1.

2.

Golongan
Senyawa Kimia
Sianogenik
Glikosida

Tanin

Pereaksi

Hasil

Kesimpulan

Natrium Pikrat
(Na2CO3)

Warna Merah

(+) Sianogenik
Glikosida

FeCl3 10%

Warna Birukehitaman

(+) Tanin

4.2 Pembahasan
Skrining fitokimia bertujuan untuk mengetahui jenis metabolit sekunder apa
yang terkandung dalam sampel. Sampel yang digunakan pada percobaan kali ini
adalah daun ubi racun (Manihot esculenta C.) dan daun jambu biji (Psidium guajava
L.). Berdasarkan hasil skrining fitokimia, diketahui bahwa ekstrak daun ubi racun
mengandung senyawa sianogenik glikosida. Hal ini terlihat dari perubahan warna
merah pada kertas saring yang telah dibasahi dengan larutan asam pikrat yang
kemudian dibiarkan terkena sinar matahari (diletakkan dekat jendela).
Sedangkan skrining fitokimia pada ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava
L.), menunjukkan hasil positif mengandung senyawa tanin. Hal ini terlihat dari
perubahan warna yang terjadi pada saat penambahan larutan FeCl3 10% yaitu warna
biru-kehitaman. Pada penambahan larutan FeCl3 10% diperkirakan larutan ini
bereaksi dengan salah satu gugus hidroksil yang ada pada senyawa tanin. Pereaksi
FeCl3 dipergunakan secara luas untuk mengidentifikasi senyawa fenol termasuk tanin
(Robinson, 1995).
11

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
a. Prinsip skrining fitokimia, yaitu jika timbul warna (sesuai dengan warna
masing-masing metabolit sekunder) setelah disemprot atau ditetesi pereaksi
menunjukkan adanya senyawa metabolit sekunder pada sampel tersebut.
Prinsip kromatografi lapis tipis, yaitu pemisahan senyawa metabolit sekunder
dimana sampel yang akan dipisahkan berupa larutan, ditotolkan berupa bercak
atau pita (awal) pada plat KLT. Kemudian setelah plat KLT dimasukkan
kedalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok
(fase gerak), pemisahan terjadi selama perambatan kapiler (pengembangan).
Selanjutnya, senyawa yang berwarna harus ditampakkan (dideteksi) (Stahl,
1985).
b. Kandungan senyawa kimia dari daun ranti (Solanum nigrum L.) adalah
triterpenoid
c. Hasil kromatogram:
-

Pada kromatogram dengan fase gerak n-heksan-etil asetat (8:2) dan (6:4)
sebelum visualisasi tidak terdapat bercak atau noda

Pada kromatogram dengan fase gerak n-heksan-etil asetat (8:2) dan (6:4),
hasil UV pada masing-masing fase gerak terdapat bercak atau noda
dengan 1 harga Rf yang berwarna ungu

Pada kromatogram dengan fase gerak n-heksan-etil asetat (8:2) sesudah


visualisasi (penyemprotan Liebermann-Burchard) terdapat bercak atau
noda dengan 4 harga Rf yang berwarna coklat. Pada kromatogram dengan
fase gerak n-heksan-etil asetat (6:4) sesudah visualisasi (penyemprotan
Liebermann-Burchard) terdapat bercak atau noda dengan 3 harga Rf yang
berwarna coklat dan kuning

12

5.2 Saran
1. Sebaiknya menggunakan fase diam dan fase gerak yang lainnya agar
diketahui fase diam dan fase gerak mana yang memberikan hasil yang
maksimal
2. Sebaiknya dalam menotolkan sampel ke plat KLT, praktikan harus lebih teliti
dan berhati-hati agar hasil yang didapat sesuai dengan yang diinginkan
3. Sebaiknya menggunakan penampak bercak yang lainnya agar diketahui
perbandingannya

13

DAFTAR PUSTAKA
Dalimartha,S., (2008). Atlas Tumbuhan Obat Indonsia. Jilid 5. Jakarta :Pustaka
Bunda. Hal. 136-137.
Gritter et al., (1991). Pengantar Kromatografi. Penerbit ITB. Bandung.
Harborne, J.B., (1987). Metode Fitokimia Tumbuh-tumbuhan, (Penterjemah Kosasih
Padmawinata dan Iwang Soediro), terbitan kedua, Penerbit ITB, Bandung.
Lestario, Astuti, Raharjo dan Trenggono. (2005). Sifat Antioksidatif Ekstrak Buah
Duwet (Syzigum cumini). Dalam Nugrahan 2007. Ekstraksi Antosianin dari
Buah Kiara Payung (Filicum decipiens)dengan Menggunakan Pelarut yang
Diasamkan (Kajian jenis Pelarut dan Lama Ekstraksi). Skripsi Tidak
Diterbitkan. Malang: Fakultas Teknologi Pertanian Unibraw.
Nassar, Zeyad.,Abdalrahim, Amin M.S. (2010). The Pharmacological Properties of
terpenoid from Sandoricum Koetjape.Journal Medcentral. Hal 1-11.
Robinson, T. (1995). Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Terjemahan: K.
Padmawinata.Bandung: Penerbit ITB. Hal. 139, 152-156.
Sastrohamidjojo, H. (1985). Kromatografi.Edisi I. Cetak pertama.Yogyakarta:Liberty
Hal.29-32, 126-136.
Stahl, E., (1985), Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi, penerbit ITB,
Bandung.
Supriadi dkk., (2001), Tumbuhan Obat Indonesia, Penggunaan dan Khasiatnya,
Pustaka Populer Obor, Jakarta.

14

Anda mungkin juga menyukai