Anda di halaman 1dari 17

1.

Definisi Dokter Keluarga :

Dokter keluarga merupakan dokter yang mengabdikan dirinya dalam bidang profesi
dokter maupun kesehatan yang memiliki pengetahuan, ketrampilan melalui
pendidikan khusus di bidang kedokteran keluarga yang mempunyai wewenang untuk
menjalankan praktek dokter keluarga.( IKK FKUI 1996 )

Dokter keluarga adalah dokter yang mempunyai tanggung jawab menyelenggarakan


pelayanan kesehatan personal, menyeluruh terpadu, berkesinambungan dan proaktif
sesuai dengan kebutuhan pasiennya sebagai anggota satu unit keluarga, komunitas
serta lingkungannya serta bila menghadapi masalah kesehatan khusus yang tak
tertanggulangi bertindak sebagai coordinator dalam konsultasi dan atau rujukan pada
dokter ahli yang sesuai. ( AAFP, IDI, Singapura )

Dokter keluarga sendiri menurut PDKI (Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia)


adalah tenaga kesehatan tempat kontak pertama pasien di fasilitas/sistem pelayanan
kesehatan primer guna menyelesaikan semua masalah kesehatan yang dihadapi
tanpa memandang jenis penyakit,, usia, dan jenis kelamin yang dapat dilakukan
sedini dan sedapat mungkin, secara paripurna, dengan pendekatan holistik,
bersinambung, dan dalam koordinasi serta kolaborasi dengan profesional kesehatan
lainnya, dengan menerapkan prinsip pelayanan yang efektif dan efisien yang
mengutamakan pencegahan, serta menjunjung tinggi tanggung jawab profesional,
hukum, etika dan moral

Batasan Dokter Keluarga :

Dokter keluarga adalah dokter yang mengutamakan penyediaan pelayanan


komprehensif bagi semua orang yang mencari pelayanan kedokteran

Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan yang
berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, bila perlu aktif
mengunjungi penderita atau keluarganya

Dokter keluarga adlaha dokter yang memiliki tanggung jawab menyelenggarakan


pelayanan kesehatan yang menyeluruh yang dibutuhkan oleh semua anggota yang
terdapat dalam satu keluarga dan dapat merujuk ke dokter ahli yang sesuai.

Dokter keluarga adalah dokter yang melayani masyarakat sebagai kontak pertama
yang merupakan pintu masuk ke system pelayanan kesehatan.

Dokter keluarga adalah dokter yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan


personal, tingkat pertama, menyeluruh dan berkesinambungan kepada pasien yang
terkait dengan keluarga, komunitas, serta lingkungannya.

2. Latar Belakang Kelahiran dan Perkembangan Dokter Keluarga di Indonesia:


Sejak 1978 ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memulai programnya Health for
All in 2000, pelayanan kesehatan primer menjadi salah satu hal yang utama dalam
pengembangan perencanaan pemerintah. Program tersebut menitikberatkan pelayanan
kesehatan yang komprehensif.
Pada Januari 1995 Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan Organisasi Dokter
Keluarga Dunia yaitu World Organization of National Colleges, Academies and
Academic Associatons of General Practitioner or Family Physician (WONCA) telah
merumuskan sebuah visi global dan rencana tindakan (action plan) untuk meningkatkan
kesehatan individu dan masyarakat yang tertuang dalam tulisanMaking Medical Practice
and Education More Relevant to Peoples Needs: The Role of Family Doctor.
Dalam acara pembukaan Temu Ilmiah Akbar Kursus Penyegar dan Penambah
Ilmu Kedokteran (TIA-KPPIK) 2002 di Jakarta, Menteri Kesehatan, Achmad Sujudi,
menyatakan bahwa visi dan misi kurikulum pendidikan dokter di Indonesia sepatutnya
diarahkan untuk menghasilkan dokter keluarga, tidak lagi dokter komunitas atau dokter
Puskesmas seperti sekarang. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
916/Menkes/Per/VIII/1997 tentang Pelayanan Dokter Umum yang diarahkan menjadi
pelayanan dokter keluarga. Ilmu Kedokteran Keluarga kemudian masuk dalam
Kurikulum Inti Pendidikan Dokter di Indonesia (KIPDI II) pada tahun 1993, yang
merupakan bagian dari Ilmu Kedokteran Komunitas/Ilmu Kesehatan Masyarakat.PDKI
pada awalnya merupakan sebuah kelompok studi yang bernama Kelompok Studi Dokter
Keluarga (KSDK, 1983), sebuah organisasi dokter seminat di bawah IDI. Anggotanya
beragam, terdiri atas dokter praktik umum dan dokter spesialis. Pada tahun 1986, menjadi
anggota organisasi dokter keluarga sedunia (WONCA). Pada tahun 1990, setelah
Kongres Nasional di Bogor, yang bersamaan dengan Kongres Dokter Keluarga AsiaPasifik di Bali, namanya diubah menjadi Kolese Dokter Keluarga Indonesia (KDKI),
namun tetap sebagai organisasi dokter seminat. Pada tahun 2003, dalam Kogres Nasional

di Surabaya, ditasbihkan sebagai perhimpunan profesi, yang anggotanya terdiri atas


dokter praktik umum, dengan nama Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI),
namun saat itu belum mempunyai kolegium yang berfungsi. Dalam Kongres Nasional di
Makassar 2006 didirikan Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga (KIKK) dan telah
dilaporkan ke IDI dan MKKI.
Dokter Keluarga di Indonesia Kegiatan untuk mengembalikan pelayanan dokter
keluarga di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1981 yakni dengan didirikannya
Kelompok Studi Dokter Keluarga. Pada Tahun 1990 melalui kongres yang kedua di
Bogor, nama organisasi dirubah menjadi Kolese Dokter Keluarga Indonesia (KDKI).
Sekalipun organisasi ini sejak tahun 1988 telah menjadi anggota IDI, tapi pelayanan
dokter keluarga di Indonesia belum secara resmi mendapat pengakuan baik dari profesi
kedokteran ataupun dari pemerintah. Untuk lebih meningkatkan program kerja, terutama
pada tingkat internasional, maka pada tahun 1972 didirikanlah organisasi internasional
dokter keluarga yang dikenal dengan nama World of National College and Academic
Association of General Practitioners / Family Physicians (WONCA). Indonesia adalah
anggota dari WONCA yang diwakili oleh Kolese Dokter Keluarga Indonesia. Untuk
Indonesia, manfaat pelayanan kedokteran keluarga tidak hanya untuk mengendalikan
biaya dan atau meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, akan tetapi juga dalam rangka
turut mengatasi paling tidak 3 (tiga) masalah pokok pelayanan kesehatan lain yakni:

Pendayagunaan dokter pasca PTT

Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat

Menghadapi era globalisasi

Perbedaan dokter keluarga dengan dokter umum


Pelayanan
3. Cakupan
S
pelayanan
y
Sifat
pelayanan

Dokter umum

Dokter keluarga

Terbatas

Lebih luas

Sesuai dengan keluhan

Meyeluruh, paripurna, dan

bukan

dikeluhkan saat itu

a
Cara
pelayanan
t

sekedar

yang

Kasus per kasus,

Kasus per kasus,

Pengamatan sesaat

berkesninambungan,
pengamatan sepanjang hayat

u
Jenis
pelayanan
n

Lebih bersifat kuratif, hanya Lebih bersifat meningkatkan

ditemukan

mnegobati

penyakit

yang taraf

kesehatan,

mencegah

dan mengobati penyakit, serta

melakukan upaya rehabilitasi

k
Peran
kleuarga

Kurang dipertimbangkan

Selalu dipertimbangkan,
bahkan

dimanfaatkan

dilibatkan.
Promotif dan preventif

Tidak

selalu

menjadi Menjadi perhatian utama

perhatian
Hubungan

Dokter dengan pasien

Dokter-pasien-temankonsultan

4. Syarat Menjadi Dokter Keluarga


Program konversi DPU menjadi DK ini mampu menilai 4 pilar profesionalisme yaitu :
1) Perilaku dokter dengan parameter
a. SIP (surat izin praktik)
b. Tempat praktik
c. Perlengkapan tempat praktik
2) Ilmu pengetahuan dengan parameter

dan

a. CPD yang telah diikuti


b. Tulisan yang telah dipublikasikan
c. Buku teks dan jurnal yang biasa dibaca
3) Keterampilan klinis dengan parameter
a. Pendekatan kedokteran keluarga pada setiap kasus selama praktik
b. Kasus yang pernah ditangani selama praktik
c. Kursus keterampilan medis teknis yang pernah dijalani
4) Kinerja dengan parameter
a. Jumlah kasus yang telah disesuaikan
b. Jenis kasus yang telah pernah dilayani
c. Keberhasilan menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi
d. Manajemen praktik dengan pendekatan kedokteran keluarga

5. Ruang lingkup kompetensi dokter keluarga pada pelayanan kesehatan primer :


Dokter keluarga harus mempunyai kompetensi khusus yang perlu dilatihkan melalui
program perlatihan. Kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap Dokter Keluarga secara
garis besar:

Menguasai dan mampu menerpakan konsep operasional kedokteran keluarga

Menguasai pengetahuan dan mampu menerapkan ketrampilan klinik dalam


pelayanan kedokteran keluarga.

Menguasai ketrampilan berkomunikasi, menyelenggarakan hubungan professional


dokter pasien:

Secara efektif berkomunikasi dengan pasien dan semua anggota keluarga dengan
perhatian khusus terhadap peran dan risiko kesehatan keluarga

Secara

efektif

memanfaatkan

kemampuan

keluarga

untuk

berkerjasana

menyelesaikan masalah kesehatan, peingkatan kesehatan, pencegahan, dan


penyembuhan penyakakit, serta pengawasan risiko kesehatan keluarga.

Dapat bekerjasama secara profesional secara harmonis dalam satu tim pada
penyelenggaraan pelayanan kedokteran/kesehatan.

Kompetensi dokter keluarga. Dokter keluarga memiliki 7 kompetensi dasar yang harus
dimiliki,yaitu :
1) Memiliki kualitas komunikasi dan ketrampilan
2) Memliki ketrampilan dan kompetensi dasar
3) Keterampilan menerapkan dasar-dasar lmu biomedik, ilmu klinik, ilmu perilaku
dan epidemiologi dalam praktek kedokteran keluarga
4) Keterampilan mengelola masalah kesehatan pada individu, keluarga ataupun
masyarakat secara komprehensif, holistik, bersinambung, terkoordinir dan bekerja
sama dalam konteks Pelayanan Kesehatan Primer
5) Berpikiran kritis dan memliki kemampuan management yang baik
6) Mau belajar sepanjang hayat
7) Memiliki etika,prilaku yang baik dan berprilaku professional
Memiliki ilmu dan ketrampilan klinis layanan primer cabang ilmu utama yaitu bedah,
penyakit dalam, kebidanan dan penyakit kandungan, kesehatan anak, THT, mata, kulit
dan kelamin, psikiatri, syaraf, kedokteran komunitas,
Memiliki ketrampilan klinis layanan primer lanjut :
1) Ketrampilan melakukan health screening
2) Menafsirkan hasil pemeriksaan laboratorium lanjut
3) Membaca hasil EKG
4) Membaca hasil USG
5) ACLS, ATLS, dan APLS
Standar kompetensi dokter keluarga menurut deklarasi WONCA WHO tahun 2003 :
1) Melaksanakan asuhan bagi pasien dalam kelompok usia tertentu ( bayi baru lahir,
bayi, anak, remaja, dewasa, wanita hamil dan menyusui, lansia )
2) Mengintegrasikan komponen asuhan komprehensif

Memahami epidemiologi penyakit

Melakukan anamnesis dan pemeriksaan jasmani secara memadai o


Memeahami ragam perbedaan faal dan metabolism obat

Menafsirkan

hasil

pemeriksaan

laboratorium

dan

Menyelenggarakan penilaian risiko khusus usia tertentu

radiologi

Menyelenggarakan upaya pencegahan, penapisan, dan panduan serta


penyuluhan gizi

Memahami pokok masalah perkembangan normal

Menyelenggarakan konseling, psikologi, dan prilaku

Mengkonsultasikan atau merujuk pasien tepat pada waktunya bila


diperlukan

Menyelenggarakan layanan paliatif

Menjunjung tinggi aspek pelayanan kedokteran

3) Mengkoordinasikan layanan kesehatan

Dengan keluarga pasien ( penilaian keluarga, pertemuan keluarga atau


pasien, pembinaan dan konseling keluarga )

Dengan masyarakat ( penilaian kesehatan masyarakat dan epidemiologi,


pemeriksaan atau penilaian masyarakat, mengenali dan memanfaatkan
sumber daya masyarakat, program pencegahan dan pendidikan bagi
masyarakat, advokasi atau pembelaan kepentingan kesehatan masyarakat )

4) Melayani kesehatan masyarakat yang menonjol ( kelainan alergik, anastesia dan


penanganan nyeri, kelainan yang mengancam jiwa, kelainan kardiovaskular,
kelainan kulit, kelainan mata dan telinga, kelainan saluran cerna, kelainan
perkemihan dan kelamin, kelainan obstetric dan ginekologi, penyakit infeksi,
kelainan musculoskeletal, kelainan neoplastik, kelainan neurologi, dan psikiatri)
5) Melaksanakan profesi dalam tim penyedia kesehatan ( menyusun dan
menggerakan tim, kepemimpinan, ketrampilan manajemen praktek, pemecahan
masalah konflik, peningkatan kualitas )

6. Tugas dan wewenang dokter keluarga


Tugas dokter keluarga sebagai berikut :

Menyelenggarakan pelayanan primer secara paripurna menyeluruh, dan bermutu


guna penapisan untuk pelayanan spesialistik yang diperlukan

Mendiagnosis secara cepat dan memberikan terapi secara cepat dan tepat

Memberikan pelayanan kedokteran secara aktif kepada pasien pada saat sehat dan
sakit

Memberikan pelayanan kedokteran kepada individu dan kelurganya

Membina keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam upaya peningkatan taraf


kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan rehabilitasi

Menangani penyakit akut dan kronik

Melakukan tindakan tahap awal kasus berat agar siap dikirim ke rumah sakit

Tetap bertanggung jawab atas pasien yang dirujukkan ke dokter spesialis atau
dirawat dio RS

Memantau pasien yang telah dirujuk atau dikonsultasikan

Bertindak sebagai mitra, penasehat dan konsultan bagi pasiennya

Mengkoordinasikan pelayanan yang diperlukan untuk kepentingan pasien

Menyelenggarakan rekam medis yang memenuhi standar

Melakukan penelitian untuk mengembangkan ilmu kedokteran secara umum dan


ilmu kedokteran keluarga secara khusus

Wewenang dokter keluarga :

Menyelenggarakan rekam medis yang memenuhi standar

Melaksanakan pendidikan kesehatn bagi masyarakat

Melaksakan tindakan pencegahan penyakit

Mengobati penyakit akut dan kronik di tingkat primer

Mengatasi keadaan gawat darurat pada tingkat awal

Melakukan tindakan prabedah, bedah minor, rawat pasca bedah diunit pelayanan
primer

Melakukan perawatan sementara

Menerbitkan surat keterangan medis

Memberikan masukan untuk keperluan pasien rawat inap

Membrikan perawatan dirumah untuk keadaan khusus

7. Peran dokter keluarga teramasuk hak dan kewajibannya antara dokter dengan pasien
Peran Dokter Keluarga

Dokter keluarga memiliki peran yang unik dalam pelayanan pasien. Dalam hal ini
seorang dokter keluarga dalam pelayanannya terampil dalam menggabungkan keahlian
biomedisnya dengan keahlian dalam menangani bagian psikososial pasien yang
berhubungan dengan masalah biomedisnya. Karena pelayanan dokter keluarga tidak
dibatasi oleh umur, jenis kelamin, dan jenis penyakit yang dihadapinya maka seorang
dokter keluarga dapat memberi pelayanan kesehatan bagi seluruh anggota keluarga.
Pelayanan dokter keluarga mempunyai posisi yang strategis dalam keberhasilan
penatalaksanaan pembangunan kesehatan karena perannya dalam penatalaksanaan sub
sistem pelayanan kesehatan dari orientasi kuratif ke orientasi komprehensif dengan
mengedepankan

aspek

promotif-preventif

seimbang

dengan

kuratif-rehabilitatif,

pelayanan yang fragmentatif ke pelayanan yang integratif berjenjang, dengan tingkat


primer sebagai ujung tombak, serta perannya dalam penatalaksanaan sub sistem
pembiayaan kesehatan yakni kesediaannya untuk menerima pembayaran secara
prospektif yang juga bermakna pengendalian biaya pelayanan kesehatan. Konsep ini
meletakkan peran dokter keluarga yang sangat penting sebagai PPK JPKM yang sadar
mutu dan sadar biaya pelayanan kesehatan.
Dalam hubungan itulah pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan yang
memberi peran penting terhadap pengembangan dokter keluarga yakni Keputusan
Menteri Kesehatan RI No: 56/Menkes/SK/I/1996 mengatur Dokter Keluarga dalam
pengelolaan JPKM serta Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 916/Menkes
RI/Per/VII/1997 yang mengatur agar praktek dokter umum dan dokter gigi diarahkan ke
dokter keluarga.

Kewajiban dan Hak Dokter


Sebagaimana lazimnya suatu perikatan, perjanjian medik pun memberikan hak dan
kewajiban bagi dokter. Dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran, hak dan kewajiban dokter terdapat dalam paragraf 6, yaitu;
Kewajiban Dokter, meliputi :
1) Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional serta kebutuhan medis pasien;

2) Merujuk pasien ke dokter lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang
lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan;
3) Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga
setelah pasien meninggal dunia;
4) Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin
ada orang lain yang bertugas mampu melakukannya;
5) Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran

Hak Dokter, meliputi :


1) Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan
standar profesi dan standar prosedur operasional.
2) Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur
operasional.
3) Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya.
4) Menerima imbalan jasa.

Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Paragraf 7 mengatur


kewajiban dan hak pasien sebagai berikut:
Kewajiban Pasien, meliputi :
1) Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya.
2) Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter.
3) Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan.
4) Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

Hak Pasien, meliputi :


1) Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis.
2) Meminta pendapat dokter lain (second opinion).
3) Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis.
4) Menolak tindakan medis.
5) Mendapatkan isi rekam medis.

8. Manfaat dan kendala dalam pelayanan dokter keluarga (Cambridge Research Institute,
1976) adalah :

Penanganan kasus penyakit sbg manusia seutuhnya.

Diselenggarakan pelayanan pencegahan penyakit dan dijamin kesinambungan


pelayanan.

Pengaturan kebutuhan spesialis lebih terarah

Diselenggarakan pelayanan kesehatan terpadu

Keteranga keluarga, kesehatan dan sosial dapat dimanfaatkan.

Dapat menghitung berbagai faktor yang dapat menimbulkan penyakit

Meringankan biaya kesehatan

Dapat mencegah pemakaian berbagai alat kedokteran canggih

Kendala dalam pelayanan dokter keluarga

Belum terlalu jelasnya kedudukan, peran, wewenang, dan prospek Dk dalam konteks
Sistem Ketahanan Nasional yang sekarang secara keseluruhan

Penjenjangan pelayanan kesehatan dan system pembiayaan kesehatan belum tertata


baik untuk berkembangnya pelayanan DK

Perlunya cukup banyak dokter tingkat primer dalam 10 tahun ke depan sebagai
bagian dari suatu jenjang pelayanan

Masih belum terlalu jelas institusi yang bertanggung jawab atas pembinaan para
dokter dari kelompok yang berada di masyarakat

Kompetensi pada dokter di tingkat pelayanan primer sangat beragam begitupun mutu
pelayanan kesehatan

Sumber daya tenaga pendidikan yang tidak sesuai dengan pengadaan dokter keluarga

Penghasilan penduduk yang rendah. Kepercayan masyarakat terhadap pelayanan


jaminan dan asuransi masih rendah dan masyarakat belum bias menyisihkan
uangnya.

9. Standar dan prinsip pelayanan dokter keluarga


Prinsip pelayanan dokter keluarga :

Memberikan layanan komprehensif dengan pendekatan holistic

Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang kontinyu mulai dari konsepsi sampai


mati

Mengutamakan pencegahan (empat tingkat pencegahan).

Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang koordinatif dan kolaboratif.

Memberikan pelayanan kesehatan individual sebagai bagian integral dari


keluarganya.

Mempertimbangkan keluarga, komunitas, masyarakat dan lingkungan tempat pasien


berada.

Sadar etika, moral dan hukum.

Memberikan pelayanan kesehatan yang sadar biaya dan sadar mutu.

Menyelengarakan

pelayanan

kesehatan

yang

dapat

diaudit

dan

dipertanggungjawabkan.

10.
11.
12. Cara menghitung kapitasi dan unit cost
Kapitasi adalah metode pembayaran untuk jasa pelayanan kesehatan dimana pemberi
pelayanan kesehatan (dokter atau rumah sakit) menerima sejumlah tetap penghasilan per
peserta, per periode waktu (biasanya bulan), untuk pelayanan yang telah ditentukan per
periode waktu (biasanya bulan), untuk pelayanan yang telah ditentukan per periode
waktu.
Pembayaran bagi pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) dengan Sistem Kapitasi
adalah pembayaran yang dilakukan oleh suatu Lembaga kepada PPK atas jasa pelayanan
kesehatan yang diberikan kepada anggota lembaga tersebut, yaitu dengan membayar di
muka sejumlah dana sebesar perkalian anggota dengan satuan biaya (unit cost) tertentu.
Yang dimaksud dengan Lembaga diatas adalah Badan Penyelenggara JPKM
(Bapel). Sedangkan yang dimaksud dengan Satuan Biaya (Unit Cost) adalah harga ratarata pelayanan kesehatan perkapita (disebut juga Satuan Biaya Kapitasi) yang disepakati
kedua belah pihak (PPK dan Lembaga) untuk diberlakukan dalam jangka waktu tertentu.

Dua hal pokok yang harus diperhatikan dalam menentukan kapitasi adalah akurasi
prediksi angka utilisasi (penggunaan pelayanan kesehatan) dan penetapan biaya satuan.
Besaran angka kapitasi ini sangat dipengaruhi oleh angka utilisasi pelayanan kesehatan
dan jenis paket (benefit) asuransi kesehatan yang ditawarkan serta biaya satuan
pelayanan.
Kapitasi = Angka utilisasi x Biaya satuan/unit cost
Angka utilisasi dapat diketahui dari berbagai laporan yang ada, umpamanya
Susenas, atau dari Dinas Kesehatan setempat. Angka utilisasi dipengaruhi oleh:

Karakteristik Populasi

Sifat Sistem Pelayanan

Manfaat yang ditawarkan

Kebijakan asuransi
Utilisasi adalah tingkat pemanfaatan fasilitas pelayanan yang dimiliki sebuah

klinik/praktik. Angkanya dinyatakan dalam persen (prosentase). Utilisasi merupakan


jumlah kujungan per 100 orang di populasi tertentu (jumlah kunjungan/total populasi x
100%).
Utilisasi dapat memberikan gambaran tentang kualitas pelayanan dan risiko suatu
populasi (angka kesakitan). Apabila utilisasi tinggi berarti menunjukkan kualitas
pelayanan buruk atau derajat kesehatan peserta buruk.
Unit Cost adalah biaya rata-rata untuk setiap jenis pelayanan rata-rata pada kurun
waktu tertentu. Unit Cost hanya dapat dihitung bila administrasi keuangan rapi
(sistematis), sehingga dapat melihat pemasukan untuk setiap jenis pelayanan.
Unit cost = Jumlah pendapatan untuk setiap jenis pelayanan/jumlah kunjungan
untuk pelayanan tersebut.
Unit cost identik dengan tarif atau harga jual (harga pokok ditambah margin)
dapat memberikan gambaran tentang efisiensi pelayanan dan risiko biaya suatu populasi
(beban biaya). Angka unit cost yang tinggi menunjukkan pelayanan tidak efisien atau
populasi memiliki risiko biaya tinggi (banyak penyakit degeneratif). Hal ini penting
untuk menghitung tarif atau kapitasi dan untuk mengontrol biaya dan ketaatan tim
terhadap SOP yang telah disepakati.

Satuan biaya kapitasi ditetapkan berdasarkan perkiraan besarnya resiko gangguan


kesehatan yang memerlukan pelayanan kesehatan di kalangan anggota lembaga
pendanaan kesehatan tersebut dalam waktu tertentu.
Faktor-faktor yang menentukan satuan biaya kapitasi:
1) Bentuk-bentuk gangguan/masalah kesehatan yang umumnya dialami anggota
beserta prevalensisnya.
2) Jenis-jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan untuk mengatasi gangguan
kesehatan tersebut beserta tarifnya.
3) Tingkat penggunaan pelayanan kesehatan oleh anggota
Dari setiap pelayanan kesehatan, dihitung angka/biaya kapitasi dengan
mengalikan angka utilisasi tersebut dengan satuan biaya riil (real cost). Jumlah dari
semua angka kapitasi yang didapat menjadi angka kapitasi rata-rata per peserta per bulan.
Secara umum rumus penghitungan kapitasi adalah sebagai berikut :
Angka kapitasi = angka utilisasi tahunan x biaya satuan : 12 bulan= biaya per
anggota per bulan (PAPB)
Contoh penetapan angka utilisasi dan angka kapitasi :
Dari laporan pemanfaatqn pelayanan kesehatan tahun yang lalu (experienced rate) dapat
diketahui jumlah kunjungan rawat jalan peserta asuransi kesehatan ke PPK tingkat I
sebanyak 12.443 kunjungan. Jumlah peserta 10.000 orang. Biaya dokter dan obat per
kunjungan rata-rata Rp. 15.000,- (jasa dokter Rp.5.000,- dan biaya obat rata-rata Rp.
10.000,-). Maka berdasarkan rumus diatas, maka angka kapitasi per anggota per bulan
(PAPB), adalah sebagai berikut :
PAPB = [( 12433 / Rp. 10.000 ) x Rp. 15.000 ] : 12 bulan = Rp. 1554,12
Pembayaran untuk Penyedia Pelayanan Kesehatan (PPK) dihitung berdasarkan
atas perhitungan biaya per kepala (per kapita) untuk pelayanan yang harus diberikan bagi
setiap peserta dalam jangka waktu tertentu (biaya pelayanan kapitasi). Besarnya tarif
pelayanan kesehatan disini merupakan hasil kesepakatan antara Bapel JPKM dengan PPK
yang bersangkut.
Perhitungan pembayaran kapitasi yaitu : jumlah peserta dan keluarganya yang
terdaftar sebagai peserta dikalikan dengan besarnya angka kapitasi untuk jenis pelayanan
kesehatan yang diinginkan.

Pembayaran kapitasi = jumlah peserta x angka kapitasi


Contoh perhitungan pembayaran kapitasi :
Jumlah peserta 3000 orang dan biaya kapitasi rawat jalan TK I Rp. 1.569,94 Pembayaran
kapitasi lewat jalan TK 1 adalah sebagai berikut
Pembayaran kapitasi = 3000 x Rp. 1.569,94 = Rp. 4.709,820/bulan.

Manfaat system Kapitasi :

Ada jaminan tersedianya anggaran untuk pelayanan kesehatan yang akan diberikan

Ada dorongan untuk merangsang perencanaan yang baik dalam pelayanan


kesehatan, sehingga dapat dilakukan :

Pengendalian biaya pelayanan kesehatan per anggota

Pengendalian tingkat penggunaan pelayanan kesehatan

Efisiensi biaya dengan penyerasian upaya promotif-preventif dengan kuratifrehabilitatif

Rangsangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu, efektif &


efisien

Peningkatan pendapatan untuk PPK yang bermutu

Peningkatan kepuasan anggota yang akan menjamin tersedianya kesehatan


masyarakat

13. Paket pelatihan dokter keluarga


Paket A:
1) Nilai Sentral Kedokteran Keluarga
2) Pelayanan Personal, Pelayanan Berkelanjutan,Pelayanan Komprehensif
3) Keluarga sebagai suatu unit pelayanan
4) Pelayanan Emergency, Pelayanan di rumah danrerawatan di rumah
5) Pelayanan Palliative/palatif
Paket B:
1) Manajemen SDM
2) Manajemen fasilitas dan utilitas
3) Manajemen Informasi

4) Manajemen Keuangan meliputi asuransi/managed care


Paket C:Ketrampilan Teknis Medis dan pelayanandalam situasi spesifik,
A. Ketrampilan Praktek :
1) Proses Konsultasi
2) Ketrampilan komunikasi
3) Ketrampilan konseling
4) Merubah perilaku
5) Ketrampilan Manajemen Penyakit
6) Ketrampilan Pelayanan emergency
B. Common Symtomps:
1) Fatique

11) Vomiting

2) Weightloss

12) Abdominal Pain

3) Fever

13) Skin Rash

4) Dyspepsia

14) Backache

5) Breathlessness

15) Joint pain

6) Cough

16) Dizziness

7) Sorethroat

17) Headache

8) Chest pain

18) Insomnia

9) Diarrhoea

19) Persistently Crying Baby

10) Constipation

20) Red Eye

C. Kelainan Spesifik
1) Cardiovascular and respiratory disorders
2) Gastrointestinal disorders
3) Renal and hematological disorders
4) Psychological disorders
5) Skin Dissorders
6) Bone and Joint disorders
7) Nervous System, Eye and Ear disorders
8) Nutritional, metabolic and endocrine disorders
Paket D: Kedokteran terapan dalam bermacam-macam kelompok umur
1) Child and adolescence Health

2) Womens Health
3) Mens Health
4) Health of the Working Adult
5) Elders Health
6) Public Health