Anda di halaman 1dari 13

Zulfa Nurul A.

Hubungan Dagang
Awal mula para pedagang Eropa masuk ke Jepang setelah membaca buku catatan karya
Marco Polo, orang Italia yang pernah tinggal di Cina pada masa kekuasaan Dinasti
Yuan.

Dalam bukunya Marco Polo menulis, Jepang adalah


negara yang terletak kurang lebih 1500 mil di sebelah
timur daratan Cina, dihuni oleh penduduk berkulit putih,
sopan dan pemuja patung. Pulau-pulau tersebut
diperintah oleh raja yang berdaulat dan megah. Pulaupulau itu kaya akan emas dan perak, dan belum ada
seorang pun pedagang dari luar mengadakan hubungan
dagang untuk membeli emas yang terpendam di dalam
negerinya.

Masuknya Agama Kristen


Agama Kristen disambut baik oleh tiga orang daimyo di barat daya Jepang.
Daya tarik agama Kristen:
1. Bahan peledak dan senjata mudah masuk ke Jepang
2. Perkembangan yang terjadi di Barat, secara tidak
langsung dapat diketahui oleh Jepang lewat pendirian
sekolah
3. Didirikannya rumah sakit dan rumah yatim piatu

Masuknya Agama Kristen


Tapi, setelah Hideyoshi Totomi berhasil
menyatukan Jepang, dia melarang penyebaran
agama Kristen (tahun 1587).

Alasannya, karena para daimyo di Kyushu


menghadiahkan tanahnya kepada misionaris agama
untuk dijadikan gereja dan juga karena adanya
perdagangan budak oleh bangsa Portugis.

Hideyoshi melarang penyebaran agama Kristen dengan cara:


1. Mengusir misionaris agama dan melarang pengiriman misionaris agama ke luar negeri.
2. Hanya mengijinkan kapal dagang yang memiliki tujuan tidak menyebarkan Kristen
masuk ke pelabuhan.

Masuknya Agama Kristen


Tak berapa lama muncul penguasa militer baru yang mendirikan
pemerintahan bakufu, yaitu Tokugawa Ieyasu sebagai penguasa setelah
menang dalam perang Sekigahara (tahun 1600). Tokugawa Ieyasu juga
mengalahkan Hideyoshi Totomi di Osaka (tahun 1615).

Sama seperti Hideyoshi, Tokugawa Ieyasu juga melarang


penyebaran agama Kristen, dengan cara:
1. Para pendeta diusir ke luar Jepang.
2. Para pengikutnya dipaksa pindah ke agama Budha.
3. Menghancurkan gereja-gereja.
4. Menjatuhi hukuman mati pada orang Kristen yang
tidak mau menginjak-injak lambang Yesus dan potret
Maria.
5. Melarang orang Jepang pergi ke luar negeri.

Masuknya Agama Kristen


Terjadi pemberontakan (tahun 1637) yang dilakukan oleh sekitar 30ribu petani di
daerah Shimabara dan Asakusa yang dikenal dengan nama Pemberontakan
Shimabara.
Namun pemerintah berhasil mengatasi
pemberontakan dengan mengerahkan 120ribu
pasukan bakufu.
Setelah pemberontakan selesai, pemerintah
memaksa penduduk memeluk agama Budha
dengan cara mendaftarkan nama mereka di
kuil. Bakufu juga mengetatkan pengawasan
dagang terhadap negara lain (tahun 1639). Jadi
hanya negara Belanda yang boleh berdagang ke
Jepang. Kebijakan isolaso ini bernama Sakoku
(Politik Isolasi)

Sakoku
Selama 200 tahun lebih Jepang berisolasi dibawah pimpinan keluarga Tokugawa.
Tokugawa menetapkan, yang memimpin Jepang haruslah para Shogun keturunan Tokugawa.

Ajaran Budha dan Konfusianisme dikembangkan


ke seluruh lapisan masyarakat. Ciri khas
Konfusianisme Jepang adalah sifat nasionalisnya
yang dapat berjalan selaras dengan Shintoisme.

Selama masa isolasi, melalui Dezima, bakufu mengontrol dan memonopoli perdagangan
dengan luar negeri, juga memaksa kapal-kapal asing yang singgah untuk memberikan
informasi tentang perkembangan yang terjadi di luar Jepang.

Sakoku
Tahun 1677-1751, shogun ke-8,
Tokugawa Yoshimune mengizinkan
secara resmi pengimporan buku-buku
tekonologi barat.
Keluarlah istilah Rangaku (Ilmu
Belanda). Dimana saat itu dua orang
dokter menerjemahkan ilmu anatomi
Belanda ke dalam bahasa Jepang. Ilmu
Belanda inilah yang membuka
pemikiran secara rasional.
Dengan adanya kerasionalan Rangaku,
berkembanganya Kokugaku (Studi
Nasional) dan adanya ajaran Shinto,
menyebabkan terjadinya gerakan anti
bakufu.

Pada tahun 1825, terjadi Gaikokusen


Ushiharairei. Yaitu gerakan mengusir
kapal-kapal asing yang memaksa
berlabuh di pelabuhan Jepang.

Sakoku
Ada dua pendapat umum yang bertentangan mengenai dampak politik isolasi yang
dilakukan bakufu di Jepang.
1. Masa isolasi telah berhasil membangun Jepang dengan identitas masyarakat feodal
yang kuat dan menghasilkan kebudayaan yang memiliki ciri khas.
2. Jepang menjadi banyak ketinggalan dari negara Barat.

Kaikoku
Krisis nasional yang dimulai pada tahun 1853, membuat para bakufu terpaksa
menandatangani Perjanjian Persahabatan Amerika Jepang (Nichibei Washin
Joyaku), yang isinya mengizinkan kapal-kapal Amerika berlabuh di dua pelabuhan,
yaitu Shimoda (di Shizuoka) dan Hakodate (di Hokkaido). Perjanjian serupa juga
ditandatangani oleh Jepang dengan Inggris dan Belanda.

Dalam keadaan krisis, untuk pertama kalinya shogun meminta pertimbangan


tenno. Akhirnya pada tahun 1856, Ii Naosuke menandatangani perjanjian
persahabatan dan perdagangan Jepang-Amerika (Nichibei Shuko Tsuho Joyaku).
Isi perjanjiannya adalah, Jepang membuka lima pelabuhan, yaitu Kanagawa,
Hakodate, Nagasaki, Nigata dan Hyogo.

Kaikoku
Setelah adanya perjanjian itu, masa isolasi yang berlangsung selama 200 tahun
lebih berakhir di Jepang.
Namun terjadi ketidakadilan dari perjanjian tersebut. Negara
Barat tidak memberikan kebebasan kepada Jepang dalam
menentukan pajak. Sementara mereka dengan mudah
memberlakukan undang-undang perdagangan.
Akhirnya, terjadilah konflik antara
kelompok Pro Orang Asing dan
Anti Orang Asing yang berkembang
dan dikenal dengan nama Restorasi
Meiji pada tahun 1868.

Diploma Revisi Perjanjian


Inti tuntutan Jepang dalam revisi perjanjian yang tidak adil itu adalah
dalam hal otonomi untuk menentukan tarif sendiri.
Tuntutan Jepang untuk merevisi perjanjianperjanjian yang tidak adil, akhirnya berhasil.
Faktor yang menyebabkan keberhasilan itu salah
satunya adalah perselisihan antara Jerman dan
Amerika.
Revisi berakhir pada tahun 1899, setelah kurang
lebih 40 tahun, akhirnya Jepang berhasil
memerdekakan dirinya dari ketidakadilan negaranegara Barat.
Dalam memelihara kepentingan nasionalnya, sejak 1876 Jepang mendesak sejumlah
perjanjian yang tidak adil kepada Korea dan Cina.
Tindakan Jepang ini menyebabkan terjadinya perang antara Cina dan Jepang (1894 - 1895),
Rusia dan Jepang (1904 - 1905), Perang Dunia 1 (1914 - 1918), dll.