Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Para perempuan tidak lahir rentan terhadap HIV, tetapi mereka menjadi
rentan karena ketidak adilan gender. Demikian dikatakan Assoc. Prof. Dr. Rosalia
Sciortino, Pemerhati/Ahli Sosial Kesehatan pada acara sarasehan Selamatkan Ibu
dan Bayi dari Infeksi HIV di Jakarta beberapa waktu lalu.
Menurut Rosalia, ketidakadilan gender di masyarakat menyebabkan
program pencegahan HIV/AIDS di Indonesia maupun di negara-negara lain
terhambat. Banyak ketimpangan yang terjadi. Dalam akses layananan
pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS seringkali antara perempuan dan laki-laki
tidak sama.
Padahal gender bukan masalah yang sulit dan rumit untuk berubah di
Indonesia. Dalam sejarahnya masalah gender selalu berubah di Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Makalah ini mencoba menganalisis hubungan antara gender dan HIV &
AIDS.
1.3 Batasan Masalah
Agar pembahasan tidak melebar penulis menetapkan beberapa batasan
masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Perbedaan antara gender dan sex
2. Interaksi antara gender dan HIV
3. Peran laki-laki dan perempuan dalam pencegahan HIV

4. Makalah ini tidak membahas secara medalam mengenai epidemiologi


dari HIV & AIDS.
1.4 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah memahami mengenai hubungan
gender dan HIV & AIDS. Serta cara pencegahan dan penanggulangan dengan
memperhatikan masalah gender.
1.5 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini ialah
metode studi pustaka di mana penulis mengambil bahan dari berbagai sumber
pustaka.

BAB II
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA GENDER DAN HIV & AIDS
2.1 Perbedaan antara Gender dan Seks
Istilah gender diambil dari kata dalam bahasa Arab Jinsiyyun yang
kemudian diadopsi dalam bahasa Perancis dan Inggris menjadi gender (Faqih,
1999). Gender diartikan sebagai perbedaan peran dan tanggung jawab
perempuan dan laki-laki yang ditentukan secara sosial. Gender berhubungan
dengan bagaimana persepsi dan pemikiran serta tindakan yang diharapkan
sebagai perempuan dan laki-laki yang dibentuk masyarakat, bukan karena
perbedaan biologis. Peran gender dibentuk secara sosial. institusi sosial
memainkan peranan penting dalam pembentukkan peran gender dan hubungan.
Menurut WHO (2010) perbedaan gender dan sex adalah sebagai berikut:
Sex

refers

to

the

biological

and

physiological characteristics that define men and


women.

Gender

refers

to

the

socially

constructed roles, behaviours, activities, and


attributes
appropriate

that

a
for

given

society

considers

men

and

women.

(http://www.who.int/gender/whatisgender/en/)
Gender membagi atribut dan pekerjaan menjadi maskulin dan feminin.
Gender yang berlaku dalam suatu masyarakat ditentukan oleh pandangan
masyarakat tentang hubungan antara laki-laki dan kelaki-lakian dan antara
perempuan dan keperempuanan. Pada umumnya, jenis kelamin laki-laki
berhubungan dengan gender maskulin, sementara jenis kelamin perempuan
berkaitan dengan gender feminin. Akan tetapi, hubungan itu bukan merupakan
korelasi absolut (Roger dalam Susilastuti, 1993: 30).

Hubeis (2010:71) memaparkan bahwa memang ada perbedaan mendasar


antara perempuan dan laki-laki dalam ciri biologis yang primer dan sekunder. Ciri
biologis primer yaitu tidak dapat dipertukarkan atau diubah (sulit) dan
merupakan pemberian atau ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa, kecuali dengan
cara operasi seperti kasus artis Dorce Gamalama yang berubah dari laki-laki
menjadi perempuan, tapi tetap tidak memiliki kemampuan untuk hamil karena
diluar kemampuan medis (ciptaan Tuhan). Begitupun untuk kasus Thomas Beatie
yang berganti kelamin dari perempuan menjadi laki-laki, tapi tetap mampu
mengandung seorang bayi sebab bagaimanapun ia tidak bisa menghilangkan
kodratnya sebagai seorang perempuan, yakni menstruasi, hamil, dan melahirkan.
Adapun ciri biologis sekunder tidak mutlak menjadi milik dari lelaki atau
perempuan, misalnya suara halus dan lembut tidak selalu milik seorang
perempuan karena ada laki-laki yang suaranya halus dan lembut. Begitupun
dengan rambut panjang, juga bukan milik manusia berjenis kelamin perempuan
karena laki-laki pun ada yang berambut panjang (tidak hanya masa sekarang,
dahulu pun tepatnya pada zaman raja-raja masa lalu di Inggris, misalnya, dimana
laki-laki bangsawan juga berambut panjang selain perempuan).
Berbeda dengan sex, gender tidak bersifat universal. Ia bervariasi dari
masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain dan dari waktu ke waktu.
Sekalipun demikian, ada dua elemen gender yang bersifat universal: 1) Gender
tidak identik dengan jenis kelamin; 2) Gender merupakan dasar dari pembagian
kerja di semua masyarakat (Gallery dalam Susilastuti, 1993: 30).
Gender dapat beroperasi di masyarakat dalam jangka waktu yang lama
karena didukung oleh sistem kepercayaan gender (Gender belief system). Sistem
kepercayaan gender ini mengacu pada serangkaian kepercayaan dan pendapat
tentang laki-laki dan perempuan dan tentang kualitas maskulinitas dan
femininitas. Sistem ini mencakup stereotype perempuan dan laki-laki, sikap

terhadap peran dan tingkah laku yang cocok bagi laki-laki dan perempuan, sikap
terhadap individu yang dianggap berbeda secara signifikan dengan pola baku.
Dengan kata lain, sistem kepercayaan gender itu mencakup elemen
deskriptif dan preskriptif, yaitu kepercayaan tentang bagaimana sebenarnya
laki-laki dan perempuan itu dan pendapat tentang bagaimana seharusnya lakilaki dan perempuan itu (Deaux & Kite dalam Susilastuti, 1993:31). Sistem
kepercayaan gender itu sebetulnya merupakan asumsi yang benar sebagian,
sekaligus salah sebagian.
Tidak dapat disangsikan lagi bahwa beberapa aspek stereotype gender dan
kepercayaan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki dan
perempuan itu memang didasarkan pada realitas. Aspek-aspek ini sekaligus
merupakan pencerminan distribusi perempuan dan laki-laki ke dalam beberapa
peranan yang berbeda. Pada saat yang sama, tidak dapat diragukan lagi bahwa
kepercayaan orang bukanlah merupakan gambaran akurat suatu realitas karena
ia mengandung bias persepsi dan kesalahan interpretasi.
Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap kebudayaan mempunyai
citra yang jelas tentang bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan itu.
Penelitian Williams dan Best (seperti dikutip oleh Deaux & Kite dalam Susilastuti,
1993: 31) yang mencakup 30 negara menampilkan semacam konsensus tentang
atribut laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa
sekalipun gender itu tidak universal, akan tetapi generalitas pankultural itu
ada. Pada umumnya laki-laki dipandang sebagai lebih kuat dan lebih aktif, serta
ditandai oleh kebutuhan besar akan pencapaian, dominasi, otonomi dan agresi.
Sebaliknya perempuan dipandang sebagai lebih lemah dan kurang aktif, lebih
menaruh perhatian pada afiliasi, keinginan untuk mengasuh dan mengalah.
Adapun citra laki-laki dan perempuan ini pertama kali terbentuk mengenai
gambaran ideal tentang laki-laki dan perempuan melalui sosialisasi dalam

keluarga. Sosialisasi sendiri merupakan proses yang berlangsung seumur hidup


dan dapat terjadi di berbagai institusi selain keluarga, misalnya sekolah dan
Negara. Identifikai perbedaan laki-laki dan perempuan menurut konsep sex dan
konsep gender:
a. Menurut konsep sex perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai berikut:
No

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

Membuahi ovum (sel telur)

Menstruasi

Memiliki jakun

Mengandung

Memiliki penis

Melahirkan

Mimpi basah

Menyusui

Memiliki jenggot

Manopuos

Perubahan suara menjadi lebih besar

Memiliki vagina

Memiliki payudara

Menghasilkan sperma

Menghasikan sel telur (ovum)

b. Menurut konsep gender perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai


berikut :
NO

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

Tegas, gagah

Lemah lembut, cengeng

Bekerja disektor publik (politik,

Bekerja disektor domestik (ibu rumah

ekonomi dan birokrasi)

tangga)

Lebih cocok sebagai pemimpin

Lebih cocok mengurus anak

Pembagian warisan

Ngidam

Kepala rumah tangga

Ibu rumah tangga

Pencari nafkah

Memiliki sifat cemburu

Fisiknya lebih tangguh

Fisiknya lemah

Berpikir lebih menggunakan logika

Berpikir lebih menggunakan perasaan

Sumber: WHO, 2012


Karaketistik Jenis Kelamin (Seks)

Wanita mengalami menstruasi


sedangkan laki-laki tidak
Pria memiliki testis sementara wanita
tidak
Perempuan telah mengembangkan
payudara yang mampu untuk
menyusui, sedangkan pria belum
Pria umumnya memiliki tulang yang
lebih besar daripada wanita

Karakteristik Gender

Di Amerika Serikat (dan kebanyakan


negara lain), perempuan
mendapatkan uang jauh lebih sedikit
daripada pria untuk pekerjaan yang
sama
Di Vietnam, banyak pria lebih dari
wanita merokok, karena perokok
wanita dianggap tidak tradisional
Pada pria Arab Saudi yang diizinkan
untuk mengendarai mobil sementara
perempuan tidak
Di sebagian besar dunia, perempuan
melakukan pekerjaan rumah tangga
lebih banyak dari pria

Kesetaraan gender adalah tidak adanya diskriminasi berdasarkan jenis


kelamin seseorang dalam memperoleh kesempatan dsan alokasi sumber daya,
manfaat atau dalam mengakses pelayanan. Berbeda halnya dengan keadilan
gender merupakan

keadilan pendistribusian manfaat dan tanggung jawab

perempuan dan laki-laki. Konsep yang mengenali adanya perbedaan kebutuhan


dan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki, yang harus diidentifikasi dan
diatasi dengan cara memperbaiki ketidakseimbangan antara jenis kelamin.
Masalah gender muncul bila ditemukan perbedaan hak, peran dan tanggung
jawab karena adanya nilai-nilai sosial budaya yang tidak menguntungkan salah
satu jenis kelamin (lazimnya perempuan).
2.2 Interaksi antara Gender dan HIV
Konstruksi sosial yang menempatkan perempuan di posisi subordinat
dibandingkan dengan laki-laki dimana pandangan tradisional masyarakat yang
menempatkan perempuan (isteri dan ibu) hanya di rumah dan mengerjakan
urusan-urusan pekerjaan rumah tanpa mengurusi urusan publik atau bahkan ada
pandangan yang masih mengakar bahwa perempuan dilarang bekerja di luar
rumah, hal ini mengakibatkan ketergantungan perempuan (isteri) dalam hal

ekonomi

dan

emosional

terhadap

laki-laki (suami). Walaupun dalam

perkembangan ada beberapa perempuan yang bekerja di bidang publik namun


masih saja masyarakat kita belum mau terbuka akau fenoeman sosial tersebut
karena pada dasarnya konsep budaya patriakhi masih mengakar bukan hanya di
Indonesia tapi juga di seluruh dunia.
Permasalahan diatas juga berimbas kepada perlakuan masyarakat yang
bias gender kepada penderita HIV/AIDS karena masih banyak yang merendahkan
dan menyatakan bahwa perempuan sebagai penyebab dari adanya penyakit
tersebut yang memang pernyataan tersebut masih jadi perdebatan padahal
masyarakat lupa atau bahkan tidak peduli bahwa melalui perempuan dan lakilaki yang tidak hanya sebagai obyek tetapi sebenarnya secara bersama-sama
dapat mengupayakan suatu usaha sebagai pelaku dalam upaya pencegahan
bahaya HIV dan AIDS.
Beberapa wacana yang berkembang dari ketidakadilan dan ketidaksetaraan
gender dalam HIV dan AIDS antara lain menyebabkan Perempuan Indonesia
masih belum optimal dapat mengontrol kesehatannya sendiri termasuk hak-hak
reproduksinya; Peran perempuan dalam sektor publik dan politik masih rendah
(perjuangan untuk kebutuhan strategis gender yang berhubungan dalam
pencegahan terhadap HIV dan AIDS lemah); Akses terhadap pelayanan
kesehatan maupun informasi masih rendah sehingga pengetahuan perempuan
terutama mengenai HIV dan AIDS lebih rendah; Kontrol terhadap perilaku
seksual baik perempuan itu sendiri maupun pasangannya masih lemah; Faktor
ekonomi masih merupakan alasan bagi perempuan menjadi Pekerja Seks
Komersial, padahal Pekerja Seks Perempuan merupakan salah satu populasi
kunci dalam penyebaran HIV dan AIDS; Stigma atau mitos tentang HIV dan AIDS
yang menakutkan masih ada (menyebabkan perlakuan diskriminasi terhadap
ODHA dan OHIDA khususnya perempuan dan keluarganya).

2.3 Peran Laki-Laki dan Perempuan dalam pencegahan HIV


Kesetaraan gender dalam keluarga dan masyarakat akan dapat
mengeliminasi kerentanan perempuan terhadap HIV dan AIDS. Ketidaksetaraan
relasi gender, baik sosial, ekonomi maupun kuasa, merupakan motor penggerak
utama tersebarnya wabah HIV. Artinya bila kesetaraan gender terjadi antara lakilaki dan perempuan, maka perempuan dapat membuat keputusan sendiri
mengenai aktivitas seksualitasnya, karena banyak perempuan menjadi rentan
karena perilaku beresiko oleh orang-orang terdekatnya, perempuan dapat
meminta suami atau pasangan yang mempunyai kecenderungan berisiko untuk
menggunakan kondom ketika berhubungan seks, dan bisa menolak berhubungan
atau menikah dengan laki-laki dewasa yang mungkin sudah terinfeksi HIV. Akibat
ketidakadilan dan ketidaksetaraan tersebut mengakibatkan kondisi perempuan
akan akses dalam menerima upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan
AIDS sangat rendah dibandingkan laki-laki.
Berbicara tentang permasalahan HIV dan AIDS dalam perspektif kesetaraan
gender mewujudkan bahwa permasalahn ini adalah permasalahan bersama yang
harus dilakukan bersama pula oleh laki-laki dan perempuan dalam hal
penanggulangan HIV dan AIDS. Walaupun sebagaimana yang dinyatakan oleh
UNAIDS melaporkan bahwa jutaan rumah tangga telah terkena dampak epidemi
HIV dan AIDS, dimana pengaruh terbesar adalah pada perempuan dan anak.
Anak perempuan yang keluar dari sekolah untuk merawat orang tua yang sakit
atau saudara kandungnya yang lebih muda. Perempuan yang lebih tua sering
bertanggung jawab untuk merawat suami atau anaknya yang sudah dewasa yang
sakit. Kemudian jika mereka sudah meninggal, mengurus anak yatim piatu yang
orang tuanya meninggal karena AIDS. Mereka juga bertanggung jawab mencari
nafkah untuk bisa tetap bertahan hidup sementara anggota keluarganya sakit.
Namun tanggung jawab untuk merawat orang dengan HIV dan AIDS dan anak
yang menjadi yatim piatu karena HIV dan AIDS harus dibebankan secara

proporsional kepada laki-laki dan perempuan. Pemahaman konsep gender amat


penting dalam konteks perawatan orang dengan HIV dan AIDS. Peran dan
tanggung jawab laki-laki dalam perawatan penderita HIV dan AIDS harus
ditingkatkan. Untuk itu, peran perempuan yang selama ini dianggap sebagai
Main Nurturer (Perawat/pengasuh Utama) harus mulai dihilangkan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan secara bersama-sama oleh
perempuan dan laki-laki dalam pencegahan HIV dan AIDS antara lain dalam hal
pendataan menggunakan data terpilah bagi penderita sehingga perlakuan dalam
hal perawatan sesuai dengan kebutuhan khusus antara laki-laki dan perempuan,
meberikan pemahaman kepada setiap pasangan agar mampu secara terbuka
tentang kesehatan reproduksi beserta resikonya, memberikan pengetahuan
tentang hak-hak kesehatan reproduksi tidak hanya terbatas kepada remaja putri
tetapi juga remaja putra sehingga pengetahuan dan akses mereka dalam hal
kesehatan reprduksi dapat dipahami secara bersama-sama dan juga dapat
mengembangkan pelayanan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual yang
ramah laki-laki karena da kecenderungan laki-laki merasa tabu jika
memeriksakan diri yang berkaitan dengan dua hal tersebut sehingga dalam
beberapa langkah tersebut dapat mewujudkan pelayanan dan pencegahan HIV
dan AIDS yang berprespektif gender.
Oleh karena itu sebenarnya upaya untuk penanggulangan masalahmasalah HIV dan AIDS tidak hanya difokuskan kepada satu sisi peran saja apakah
itu hanya di sisi perempuan ataupun hanya di sisi laki-laki tetapi harus
melibatkan semua pihak secara bersamaan agar penangulangan HIV dan AIDS
kedepan dapat melibatkan semua pihak untuk saling peduli dalam bersama-sama
menyelesaikan

masalah

ini

dengan

tentunya

mewujudkan

pelayanan

penanggulangan HIV dan AIDS yang berkesetaraan dan berkeadilan gender.

10

BAB III
KASUS GENDER DAN HIV
3.1 Kasus
Di Indonesia jumlah pengidap HIV/AIDS meningkat lebih cepat dikalangan
perempuan. Dari jumlah infeksi baru, yang terjadi setiap hari pada tahun 2004,
60% terjadi pada perempun.
Menurut Dr. Rosalia bahwa perempuan tidak lahir rentan terhadap HIV,
tetapi mereka menjadi rentan karena ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender
di masyarakat menyebabkan program pencegahan HIV/AIDS di Indonesia
maupun di negara-negara lain terhambat. Banyak ketimpangan yang terjadi.
Dalam akses layanan pencegahan dan pengobatan seringkali antara perempuan
dan laki-laki tidak sama. Padahal gender bukan masalah yang sulit dan rumit
untuk berubah di Indonesia. Dalam sejarahnya masalah gender selalu berubah di
Indonesia.
Gender merupakan masalah sosial. Persoalan gender terjadi karena peran
laki-laki dan perempuan dikonstruksi secara sosial dan hubungan antara peranperan tersebut. Peran laki-laki dan perempuan diterima sebagai kenyataan yang
statis dan tidak ada usaha untuk mempertanyakan keadilan dari peran-peran
tersebut. Persepsi yang salah juga mempengaruhi persoalan gender. Antara
gender dan seks tidaklah sama. Ketidakadilan gender mempunyai dampak
terhadap kesehatan seksual dan reproduksi, karenanya keadilan gender harus
menjadi fokus perhatian dalam semua analisa dan kegiatan HIV/AIDS. Perlu ada
usaha untuk mengubah sistem-sistem sosial yang membuat perempuan rentan
terhadap HIV.
Dalam konteks hubungan seksual, perempuan seringkali tidak mampu
mengambil keputusan untuk dapat melakukan seks yang aman. Hal tersebut

11

akibat kaum hawa berada dalam posisi lemah dan kurang mengetahui beberapa
hal akibat gender yang timpang. Seperti kurang mengetahui tentang HIV/AIDS,
merasa aman karena berpikir tidak berisiko, kurang berdaya membicarakan seks
dengan suami atau pasangan, dan kurang berdaya melakukan negosiasi kondom.
Selain itu, dari studi dan analisis HIV/AIDS, ketidakadilan gender juga dapat
dicermati pada fokus perhatiannya. Fokus perhatian hanya terbatas pada
kelompok tertentu. Analisa kekuasaan gender kurang dilakukan. Misalnya
pekerja seks tetap dianggap sebagai fokus, bukan kliennya atau pasangannya.
Preferensi untuk pendekatan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS adalah
analisa perilaku, bukan sistem dan kondisi sosio-ekonomis yang membuat
perempuan rentan terhadap HIV. Ketimpangan gender dalam pencegahan HIV
menurut Rosalia juga dapat dilihat dari program yang hanya difokuskan pada
individu,

bukan relasi atau jaringan sosial yang terikat individu dengan

kekuasaan yang berbeda.


3.2 Pembahasan
Isu gender sebenarnya bukanlah sesuatu hal yang baru, karena sejak
manusia
lahir di dunia ini telah dibedakan menjadi dua jenis kelamin yang berbeda,
yaitu laki-laki dan perempuan, namun di dalam masyarakat sering kali terjadi
ketidaksetaraan di antara keduanya. Saat ini berbagai upaya telah dibuat untuk
mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di Indonesia.
Pola kesehatan dan penyakit pada laki-laki dan perempuan menunjukkan
perbedaan yang nyata. Perempuan, sebagai kelompok cenderung mempunyai
angka harapan hidup yang lebih panjang daripada laki-laki yang secara umum
dianggap sebagai faktor biologis. Namun dalam kehidupannya perempuan lebih
banyak mengalami kesakitan dan tekanan daripada laki-laki. Walaupun faktor
yang melatarbelakanginya berbeda-beda pada berbagai kelompok sosial, hal

12

tersebut menggambarkan bahwa dalam menjalani kehidupannya perempuan


kurang sehat dibandingkan laki-laki. Penjelasan terhadap paradoks ini berakar
pada hubungan yang kompleks antara faktor biologis, jenis kelamin dan sosial
(gender) yang berpengaruh terhadap kesehatan.
Laki-laki dan perempuan cenderung diperlakukan secara berbeda oleh
sistem pelayanan kesehatan. Perbedaan tersebut dapat berakibat terhadap
perbedaan akses dan kualitas pelayanan yang diterima. Hambatan dalam akses
terhadap pelayanan kesehatan terutama dialami oleh perempuan dan dari
keluarga miskin, akibat tidak tersedianya biaya dan transportasi, pelayanan yang
tidak sesuai dengan budaya atau tradisi, tidak mendapat izin dari suami sebagai
orang miskin.
Contoh ketidaksetaraan gender dalam bidang kesehatan
1.

Bias gender dalam penelitian kesehatan

Dalam penelitian banyak menyebutkan bahwa gangguan kesehatan yang


dialami perempuan merupakan gangguan biasa sehingga tidak mendapat
perhatian jika tidak mempengaruhi fungsi reproduksinya.
2.

Perbedaan gender dalam akses terhadap pelayanan kesehatan

Perlakuan petugas kesehatan sering dianggap kurang memperhatikan


kebutuhan perempuan, misalnya dalam proses persalinan normal dan
perempuan yang mengalami depresi karena kekerasan domestik oleh
pasangannya.
Komitmen pemerintah melalui Kementerian Negara Pemberdayaan
Perempuan, untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender juga sangat
tinggi. Namun, dalam kenyataannya ketimpangan gender dalam segala aspek
kehidupan tetap terjadi, sehingga sangat perlu dilakukan identifikasi terhadap

13

berbagai faktor yang menjadi penyebabnya agar diperoleh solusi yang tepat
sesuai dengan persoalannya.
Salah satu persoalan yang cukup dekat dan kerap mendera perempuan dan
penting sekali dipercakapkan adalah masalah HIV/AIDS, secara kuantitas
penyakit ini lebih banyak menyerang kaum perempuan, penderita HIV/AIDS
didominasi kaum yang selama ini dianggap sebagai kelompok nomor dua dalam
sistem sosio-kultural masyarakat.
Penyebab meningkatnya kasus HIV/AIDS yang dialami perempuan karena
ketidakadilan gender disebabkan antara lain :
Pertama, kerentanan kultur atau budaya. Kekuatan budaya patriaki
lazimnya di negeri ini sering menimbulkan ketidakadilan gender (gender
inequalities) yang berdampak pada pola relasi laki-laki dan perempuan yang tidak
seimbang. Dalam kultur masyarakat kita, laki-laki selalu ditempatkan pada posisi
yang paling atas. Laki-laki kerap kali menjadi penentu setiap keputusankeputusan baik yang menyangkut persoalan publik maupun domestik.
Pola-pola hubungan semacam ini tampak jelas pada pola hubungan suami
istri secara vertikal. Apa pun yang dikehendaki suami maka si istri harus setia
mengikutinya. Termasuk pada gaya hubungan seksualitas. Jika suami
menghendaki gaya atau berperilaku seksualitas tidak aman, istri tidak boleh
menolaknya. Sehingga berakibat pada kemungkinan besar penularan PMS
(Penyakit Menular Seksual), seperti penularan HIV/AIDS terhadap istri yang
dibawa oleh suami, karena penyebab HIV.
Kedua, kerentanan pendidikan dan ekonomi. Keterbatasan-keterbatasan
perempuan untuk menjangkau akses pendidikan yang lebih luas menyebabkan
pola pikir sebagian dari mereka kurang bisa mengimbangi pergeseran zaman
yang semakin modern dengan permasalahannya yang kian kompleks.

14

Kondisi ini tentu sangat berpengaruh terhadap sulitnya perempuan untuk


masuk ke wilayah-wilayah publik guna mengaktualisasikan dirinya melalui bidang
profesi yang bisa dibanggakan, sehingga banyak diantara mereka yang terpaksa
memilih profesi sebagai pembantu rumah tangga (PRT) dan pekerja seks
komersial (PSK) untuk menunjang kehidupan perekonomiannya. Kondisi ekonomi
juga mendorong perempuan terjebak dalam perkawinan yang penuh kekerasan
atau menjadi korban trafficking, merupakan kondisi-kondisi yang kerap
menjerumuskan perempuan dalam hubungan seksual dengan laki-laki yang HIV
positif tanpa perlindungan.
Perlakuan kurang simpatik dari masyarakat terhadap profesi rendahan
yang dijalani perempuan membuat mereka cenderung kurang diterima dalam
lingkungan yang berbeda. Implikasinya adalah, ketika perempuan mencoba
masuk ke dalam lingkungan yang berbeda itu, yang diterima justru tekanan yang
bertubi-tubi dari berbagai pihak, apalagi terhadap mereka yang berprofesi PRT
dan PSK.
Akibatnya profesi PRT sering kali mengundang pelecehan terhadap
perempuan. Baik itu pelecehan fisik maupun pelecehan seksual. Begitu juga
dengan profesi PSK. Pekerjaan yang dianggap sebagai penyakit masyarakat itu
terus

saja

mendapatkan

tekanan

dari

masyarakat

untuk

diberantas

keberadaannya. Pekerjaan ini juga menjadi biang atau mendatangkan petaka


bagi perempuan itu sendiri seperti risiko tertular virus HIV, penyebab AIDS.
Ketiga, kerentanan biologis. Secara kodrati, laki-laki dan perempuan
diciptakan berbeda dalam hal alat reproduksinya. Hal ini menyebabkan pada
sulit-tidaknya mendeteksi penyakit-penyakit menular seksual. Pada kaum lakilaki, pendeteksian semacam ini cenderung lebih mudah dilakukan mengingat alat
reproduksinya yang berada di luar organ tubuh.

15

Berbeda dengan perempuan. Apakah seorang perempuan telah terjangkit


suatu penyakit seksual tertentu atau tidak, sulit mendeteksinya sejak dini. Sebab
alat reproduksi perempuan berada di dalam organ tubuh sehingga
penanganannya relatif mengalami keterlambatan. Permukaan (mukosa) genital
perempuan juga lebih luas dibanding permukaan alat kelamin laki-laki, dan
karena di dalam tubuh, menjadi semacam wadah penampung, tentu
mempermudah penularan PMS.
Selain tiga kerentanan di atas, satu hal lagi yang menyebabkan penderita
HIV/AIDS lebih banyak menimpa kaum perempuan adalah stereotipe. Memberi
stereotipe pada

perempuan banyak sekali menimbulkan ketidakadilan dan

merugikan perempuan. Stereotipe ini bersumber dari pandangan gender yang


keliru.
Misalnya perempuan dianggap sebagai pelayan laki-laki, perempuan adalah
kaum yang mengundang syahwat laki-laki dan sebagainya. Sehingga jika terjadi
kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan, stereotipe itu akan
dikaitkan. Ini pun akan membuka peluang besar bagi perempuan untuk tertular
PMS karena kekerasan dan pelecehan seksual merupakan tindakan yang sangat
rentan terhadap penularan penyakit tersebut.
Respon terhadap epidemik HIV/AIDS dimulai dengan pemberian fokus pada
kelompok resiko tinggi, termasuk pekerja seks komersial. Laki-laki dianjurkan
untuk menjauhi pekerja seks komersial atau memakai kondom. Secara bertahap,
fokus beralih pada perilaku resiko tinggi, yang kemudian menekankan
pentingnya laki-laki menggunakan kondom. Hal ini menghindari isu gender dalam
hubungan seksual, karena perempuan tidak menggunakan kondom tetapi
bernegosiasi untuk penggunaanya oleh laki-laki. Dewasa ini, kerapuhan
perempuan untuk tertular HIV/AIDS dianggap sebagai akibat dari ketidaktahuan
dan kurangnya akses terhadap informasi, ketergantungan ekonomi dan
hubungan seksual yang dilakukan atas dasar pemaksaan. Untuk itu. Upaya

16

pencegahan penularan HIV/AIDS dewasa ini didasarkan pada upaya pemantapan


atau modivikasi peran gender.
Cara-cara pemecahan masalah menanggulangi ketimpangan gender dalam
penyakit HIV/AIDS yaitu dengan Program-program nasional yang semestinya
menfokuskan pada perempuan secara keseluruhan, tidak terbatas pada pekerja
seks. Sementara pada aksi kampanye nasional, kondom misalnya, terjadi bias
gender dalam promosi kondom. Perlu ada akses informasi yang sama bagi
perempuan, termasuk perlu ada alokasi dana khusus bagi kelompok perempuan
dalam program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS
Agar kebijakan HIV/AIDS lebih efektif maka program dan pelaksanaannya
harus merefleksikan perspektif gender. Perlu ada pengakuan pentingnya gender
dalam strategi penanggulangan HIV/AIDS dan dokumen resmi lainnya.Hanya
dengan keadilan gender, proses memperdayakan perempuan, penanggulangan
AIDS dapat berhasil.

17

BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
a. Perbedaan gender masih banyak ditemui dalam masyarakat dan hal
tersebut berpengaruh terhadap kondisi kesehatan perempuan
b. Perbedaan gender juga menjadi penyebab kerentanan perempuan
terinfeksi HIV/AIDS lebih tinggi.
c. Untuk

mengurangi

peningkatan

HIV/AIDS

pada

perempuan,

dicanangkan upaya-upaya sebagai berikut:


i. Program-program nasional yang semestinya menfokuskan pada
perempuan secara keseluruhan.
ii. Perlu ada akses informasi yang sama bagi perempuan, termasuk
perlu ada alokasi dana khusus bagi kelompok perempuan dalam
program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS
iii. Perlu

ada

pengakuan

pentingnya

gender

dalam

strategi

penanggulangan HIV/AIDS dan dokumen resmi lainnya


d. Hanya dengan keadilan gender, proses memperdayakan perempuan,
penanggulangan AIDS dapat berhasil.
4.1 Saran
a. Sebagai perempuan sebaiknya kita harus memiliki pengetahuan seksual
yang baik dan benar.
b. Perempuan juga harus memiliki keberanian untuk menyampaikan
pendapat tentang hubungan seks terhadap pasanganya.

18

DAFTAR PUSTAKA
Fakih, Mansour, 1996. Menggeser Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hubeis, Aida.2010. Pemberdayaan Perempuan dari Masa ke Masa. Bogor. IPB
Press.
Susanto. 2005. Analisis Gender dalam Memahami Persoalan Tindak Kekerasan
Terhadap Perempuan. Jurnal Spirit Publik UNS, Volume 1 No.1.
Susilastuti, Dewi H. 1993. Gender Ditinjau dari Perspektif Sosiologi, dalam
Dinamika Gerakan Perempuan di Indonesia, Yogyakarta: Tiara Wacana.
Warren, C.2010. Journal of International Women's Studies. Western Kentucky
University Scholar.

19