Anda di halaman 1dari 2

Rubah Cara Pandang Anda!

By: Darundiyo Pandupitoyo, S. Sos.

Penataan pola kemajemukan dengan prinsip unity in diversity adalah


agenda reformasi yang didengung-dengungkan selama ini, bukannya unity in
uniformity. Persatuan dalam perbedaan menjadi tantangan tersendiri bagi
pemerintah maupun seluruh rakyat Indonesia. Kemajemukan di Indonesia seperti
pedang bermata dua, di satu sisi bisa menjadi kawan, namun di satu sisi lain bisa
membuat kita terbunuh. Agenda pemerintahan orde baru yang memaksakan
penyeragaman atas kemajemukan tersebut atau yang biasa disebut unity in
uniformity seakan menjadi momok menakutkan bagi masyarakat majemuk di
Indonesia. Seperti yang kita tahu bahwa orde baru terkenal dengan agenda
Jawanisasi-nya, seakan ingin mencari identitas bangsa, namun malah
memunculkan dominasi etnik tertentu, hal ini yang sangat dihindari dalam proses
menuju kesadaran akan kemajemukan berbangsa dan bernegara, karena kita tidak
butuh monokulturalitas. Kesadaran akan kemajemukan berbangsa selama ini
hanya wacana yang ada di atas angan-angan idealisme kita saja, namun pada
kenyataannya sangat sulit menghapuskan stereotype negatif satu komunitas pada
komunitas lain. Konflik akibat perbedaan adalah hal yang sangat mudah
ditemukan di Indonesia, entah kenapa kita mudah terpancing dengan isu-isu yang
berbau SARA. Lalu senjata apa yang paling ampuh untuk menimbulkan
kesadaran akan kemajemukan berbangsa dan bernegara, apakah Pancasila?
Pancasila yang oleh para founding fathers dijadikan pondasi utama
bangunan negara yang mejemuk, sekarang seolah telah hilang kedigdayaannya,
Pancasila tak lagi sesakti dahulu kala. Pertanyaannya adalah apakah pancasila
mampu mengikuti pola perkembangan bangsa yang penuh dinamika ini?
Pancasila oleh beberapa ahli, termasuk oleh Todung Mulya Lubis digambarkan
sebagai representasi dari kondisi multikultural di Indonesia. Apakah memang
benar Pancasila merupakan representasi kemajemukan bangsa kita? Coba kita tilik
dari contoh yang sangat kecil dan sepele saja. Sila pertama pancasila berbunyi
Ketuhanan Yang Maha Esa, Ketuhanan Yang Maha Esa bila ditilik lagi dari
kajian etimologis berarti merujuk pada agama-agama monotheisme, padahal di
Indonesia sendiri banyak agama-agama atau kepercayaan yang beraliran
polytheisme. Lalu apakah orang-orang Dayak yang memeluk Kaharingan bisa
dengan mudah mengucapkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, tentunya akan ada
konflik, minimal pada batinnya. Memang sila-sila dalam Pancasila bersifat
koheren dan tidak bisa berdiri sendiri tanpa sila-sila lain, namun apakah
masyarakat awam mengerti mengenai hal tersebut? Malah dapat dimungkinkan
Pancasila sebagai sumber perpecahan yang baru.
Mungkin solusi yang dapat ditawarkan adalah perubahan pendekatan
dalam rangka membangun kesadaran akan kemajemukan bangsa. Dalam kajian
Antropologi, segala dinamika sosial dibagi menjadi tiga tataran utama, yaitu
konsep, perilaku dan kebendaan. Selama ini pendekatan yang dilakukan oleh
masyarakat terhadap kemajemukan tersendat pada tataran perilaku dan
kebendaan, seperti dalam kasus pro dan kontra RUU APP, pemerintah dan
masyarakat hanya berkutat pada masalah bentuk pakaian, bentuk celana yang
sekiranya berbau porno dan hukum–hukum atau petugas hukum yang mungkin
sudah berpikir banyaknya kasus yang akan ditangani, namun cobalah bila kita
berpikir secara matang dan mendalam tentang konsep yang benar dan pas tentang
arti pornografi itu sendiri. Konsep yang pas tentang kemajemukan juga belum bisa
ditemukan oleh masyarakat Indonesia. Banyak konsep-konsep yang rancu
mengenai kemajemukan yang akhirnya membawa perpecahan pada keutuhan
negara kita. Konsep yang pas tersebut harus merupakan absorbsi dari
kemajemukan bangsa itu sendiri tanpa ada dominasi dari satu golongan saja.
Kemajemukan bangsa yang sering diidentikkan dengan istilah pluralisme seakan
menjadi momok menakutkan bagi golongan-golongan tertentu yang tidak
menginginkan adanya pengakuan bagi golongan lain. Padahal seharusnya kita
gembira dengan adanya kesadaran kemajemukan yang memungkinkan kita untuk
hidup berdampingan penuh tenggang rasa antar golongan dan tentu saja kita
semua bisa hidup sejahtera di dalamnya. Nah! Manakah solusi yang tepat?
Kembali pada interpretasi anda masing-masing, karena perbedaan itu memang
indah.