Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Maksud
Mengetahui konsep awal fotogrametri
Melakukan perhitungan paralaks pada fotogrametri
Melakukan perhitungan luas dengan berbagai metode
1.2. Tujuan
Mampu mengetahui konsep awal fotogrametri
Mampu melakukan perhitungan paralaks pada fotogrametri
Dapat melakukan perhitungan luas dengan berbagai metode
1.3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari

: Jumat

Tanggal : 8 Juni 2012


Waktu

: 19.30 s.d 21.30

Tempat

: Ruang GS 202 gedung Teknik Geologi UNDIP Tembalang

BAB II
DASAR TEORI
2.1. Pengertian Fotogrametri
Fotogrametri adalah suatu seni, ilmu dan teknik untuk memperoleh
data-data tentang objek fisik dan keadaan di permukaan bumi melalui proses
perekaman, pengukuran, dan penafsiran citra fotografik. Citra fotografik
adalah foto udara yang diperoleh dari pemotretan dari udara yang
menggunakan pesawat terbang atau wahana terbang lainnya.
Hasil dari proses fotogrametri adalah berupa peta foto atau peta
garis. Peta ini umumnya dipergunakan untuk berbagai kegiatan perencanaan
dan desain seperti jalan raya, jalan kereta api, jembatan, jalur pipa, tanggul,
jaringan listrik, jaringan telepon, bendungan, pelabuhan, pembangunan
perkotaan, dsb.
2.2 Unsur-unsur Fotogrametri
Pada acara praktikum kali ini, kita akan mencari data melalui pengukuran
dari unsur unsur fotogrametri. Pengukuran yang dilakukan antara lain :
1. Pengukuran Luas
Dapat dibedakan menjadi tiga kategori yaitu alat sederhana, alat mekanik
dan alat elektronik. Dalam hal ini yang digunakan adalah alat sederhana
karena penggunaannya paling cepat. Berdasarkan metode yang digunakan
alat sederhana dibedakan atas :
a. Metode strip; yang digunakan berupa lembaran tembus cahaya yang
padanya ditarik garis-garis sejajar dan berinterval sama besar.
Lembaran tembus cahaya ini ditumpangkan pada objek yang diukur
luasnya. Kemudian ditarik garis-garis tegak lurus pada batas objek
sedemikian hingga bagian yang dihilangkan sama dengan bagian yang
yang ditambahkan. Sisi atas segi empat panjang atau sisi atas strip itu
dijumlahkan dan dikalikan dengan intervalnya sehingga diperoleh luas
objek pada foto.

Gambar 2.1 Pengukuran Luas dengan Metode Strip

Dari gambar di atas, luas objek diukur dengan menjumlahkan luas


masing-masing segi empat panjang (Luas ABBA + CDDC +
EFFE), dimana AA, BB, CC, DD, EE dan FF merupakan interval
strip.
b. Metode bujursangkar; dilakukan dengan kertas milimeter. Kertas
milimeter ini ditumpangkan di atas objek yang diukur luasnya. Dalam
mengukur luas pada objek pada citra dihitung berapa bujur sangkar 1cm
x 1cm yang jatuh dalam batas objek yang diukur luasnya. Dari gambar
2.2, luas objek dapat diukur dengan menjumlahkan bujursangkar yang
memuat luas lebih dari setengah bujursangkar. Jika bujursangkar
berjumlah 12 buah dengan skala pada foto adalah 1 : 50.000 (maka 1
cm = 500 m), maka 1 bujursangkar sama dengan 250.000 m 2. dengan
demikian luas objek tersebut adalah 12 x 250.000 m 2 sama dengan
3.000.000 m2.

Gambar 2.2 Perhitungan Luas dengan Metode Bujur Sangkar


3

c. Metode jaringan titik; alat ukurnya berupa lembaran tembus cahaya


yang diberi jaringan titik yang masing-masing berjarak sama. Titik itu
serupa dengan titik yang dibuat pada tengah-tengah bujursangkar yang
kemudian bujursangkarnya dihapus. Dalam metode ini kita tinggal
menghitung berapa titik yang masuk dalam batas objek yang diukur
luasnya. Tiap titik dianggap mewakili satu bujursangkar, sehingga tiap
titik dikalikan dengan luas bujursangkar untuk mendapatkan luas
objeknya.

Gambar 2.3 Perhitungan Luas dengan Metode Jaringan Titik

2. Skala Foto Udara Vertikal


Skala foto udara merupakan perbandingan antara jarak pada foto udara
dengan jarak sebenarnya di lapanagan. Skala foto diperlukan untuk
menentukan ukuran objek maupun untuk mengenalinya. Ada beberapa
cara untuk menentukan skala foto udara vertikal, yaitu :
Perbandingan antara panjang fokus dan tinggi terbang. Persamaannya
yaitu :
S=f/H
dengan S = skala, f = fokus dan H = tinggi terbang.
Membandingkan jarak foto terhadap jarak lapangan, dilakukan bila
membawa foto udara ke lapangan atau kalau tahu jarak sesungguhnya
objek di lapangan dari objek yang tergambar pada foto. Persamaan yang
digunakan yaitu :
4

S = df / dl
dengan S = skala, df = jarak pada foto, dan dl = jarak di lapangan.
Membandingkan jarak pada foto terhadap jarak pada peta yang telah
diketahui jaraknya. Persamaan yang digunakan yaitu :
dp / pf

df / pp

dengan dp = jarak di peta, df = jarak pada foto, pf = skala foto dan pp =


skala pada peta.
3. Basis Foto (Photo Base)
Merupakan jarak antara dua pemotretan berurutan. Hal ini menyebabkan
kenampakan adanya pergeseran titik pusat foto satu dengan foto
berikutnya. Jarak pergeseran pada lembar foto ini disebut photo base atau
basis foto. Besarnya basis foto pada sepasang foto udara adalah rata-rata
dari hasil pengukuran dua basis foto tersebut, persamaannya yaitu :
B = b 1 + b2
2
dengan B = basis foto, b1 = basis foto 1 dan b2 = basis foto 2.
4. Paralaks
Merupakan perubahan kedudukan gambaran titik pada foto udara yang
bertampalan yang disebabkan oleh perubahan kedudukan kamera. Paralaks
ini disebut juga dengan paralaks absolut atau paralaks total. Lebih jauh
dikemukakan bahwa paralaks absolut suatu titik adalah perbedaan aljabar
yang diukur sepanjang sumbu x, berpangkal dari sumbu y ke arah titik
bersangkutan yang tergambar pada tampalan foto udara. Hal ini dilandasi
oleh asumsi bahwa masing-masing foto udara itu benar-benar vertikal dan
dengan tinggi terbang yang sama. Pada gambar 2.4, titik A dan B terletak
di atas bidang rujukan dan titik P terletak pada titik utama. Nilai paralaks
absolutnya merupakan jumlah nilai sumbu X masing-masing titik, yaitu
jumlah absolutnya (tanpa tanda negatifnya).
5

Gambar 2.4 Paralaks Titik A, B, dan U

Pengukuran paralaks dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :


a. Pengukuran

paralaks

secara

stereoskopik;

dilakukan

dengan

menggunkan batang paralaks atau meter paralaks (parallax bar) terdiri


dari dua keping kaca yang diberi tanda padanya. Tanda ini disebut tanda
apung (floating mark). Masing-masing keping kaca dipasang pada
batang yang dapat diatur panjangnya yang diatur dengan memutar
sekrup mikrometer. Pengukuran dilakukan setelah foto disetel di bawah
pengamatan stereoskopik. Tanda apung kiri diletakkan pada titik yang
akan diukur paralaksnya di foto kiri, dan tanda apung kanan diletakkan
pada titik yang akan diukur paralaksnya pada foto kanan, dimana
peletakan dilakukan dengan melihat dari stereoskop. Kemudian
dilakukan pembacaan pada sekrup mikrometer yang dibaca dalam
milimeter (mm).
b. Pengukuran paralaks secara monoskopik; atau disebut juga cara
manual, dilakukan tanpa menggunakan batang paralaks, melainkan
hanya dengan menggunakan penggaris biasa. Dari gambar 2.5, maka
paralaks titik A dan titik B dapat dihitung dengan persamaan sebagai
berikut :
6

PA = XA1 (-XA2) = XA1 + XA2

PB = XB1 XB2

Gambar 2.5. Pengukuran Paralaks dengan Cara Monoskopik

5. Beda Tinggi
Beda tinggi antara dua titik yang tergambar pada tampalan foto dapat
diukur berdasarkan beda paralaksnya.paralaks suatu titik dapat diukur dan
dinyatakan dengan persamaan :
h = H

b
dengan h = beda tinggi, H = tinggi terbang, p = beda paralaks dan b = base
foto. Jika beda tinggi, beda paralaks dan base foto diketahui maka tinggi
terbang dapat ditentukan dengan persamaan di atas.
Dari persamaan di atas dapat divariasikan dan menghasilkan beberapa
persamaan, yaitu :
a. h = H. P
PB + P
dengan h = beda tinggi, HB = tinggi terbang pesawat dari titik B, P B =
paralaks titik B, PA = paralaks titik A, P = selisih paralaks A dan B, H
= tinggi terbang pesawat dari bidang dasar, b = jarak dasar foto (photo
base), B = jarak dasar udara (air base) dan f = jarak fokus lensa
kamera. Hasil pengukuran beda tinggi akan teliti apabila foto udara
yang digunakan berskala 1 : 10.000 atau lebih besar.
6. Pengukuran Jarak Horizontal

Jarak pada foto udara tidak mencerminkan jarak sesungguhnya di


lapangan, karena ada pergeseran. Untuk menentukan jarak horizontal yang
sesungguhnya digunakan cara grafis, karena kalau dengan mengukur
relief-displacement satu per satu akan membutuhkan waktu lama. Prosedur
pengukurannya yaitu :
a. Tentukan pusat masing-masing foto yang berpasangan.
b. Letakkan miuka pada masing-masing foto udara.
c. Titik pusat foto (n1 dan n2) dan titik pusat foto konjugasi (n1 dan n2)
diplot pada mika.
d. Tarik garis dari n1 ke A1 dan ke B1, juga garis n2A2 dan n2B2 pada mika.
e. Masing-masing mika diambil dan dipasang berimpitan hingga n1
berimpit denagn n1 dan n2 berimpit dengan n2.
f. Titik potong antara n1A1 dan n2A2 serta n1B1 dan n2B2 dihubungkan.
Garis penghubung itu adalah jarak AB yang sudah terkoreksi.
Sehingga jarak di lapangan dihitung dengan persamaan = dAB x H/f,
dengan dAB = jarak AB pada foto yang sudah terkoreksi, H = tinggi
terbang pesawat dari bidang dasar dan f = jarak fokus lensa kamera.

Gambar 2.6 Pengukuran Jarak Horizontal Secara Grafis

BAB III
8

HASIL PERHITUNGAN
Pada praktikum kali ini melakukan pengamatan terhadap gambar foto udara
yang terdapat di laboratorium menggunakan beberapa model perhitungan pada
sub bagian fotogrametri dan didapatkan data sebagai berikut :
3.1. Perhitungan paralaks
3.1.1. Pengukuran lembar per lembar
A1 = 3 cm
A2 = -5 cm
PA = XA1 XA2 = 3 + 5 = 8 cm
B1 = 6,3 cm
B2 = -1,2 cm
PB = XB1 XB2 = 6.3 + 1,2= 7,5 cm
3.1.2. Orientasi stereoskopik
D = PP1 ke PP2
dA = A1 ke A2
dB = B1 ke B2
sehingga ,
P A = D dA
= 26,5 18,7 = 7,8 cm
P B = D dB
= 26,2 19 = 7,5 cm
3.1.3. Base foto
Jarak dari PP1 ke CPP1 = b1 = 19 cm
Jarak dari PP2 ke CPP2 = b2 = 18,6 cm
B =
=
= 19,8 cm
3.2. Pengukuran tinggi terbang
1 feet
Ha
H

= 0,3048 m
= 6500 x 0,3048 m
= 1981,2 m
= Ha bidang dasar
= Ha 225 m
9

= 1981,2 m 225m

= 1756,2 m

3.3. Pengukuran Jarak Horizontal


DAB = 19,8 cm
Jarak horizontal = dAB . H
f
= 19,8 cm x (175100 cm/8,85 cm)
= 391749,15 cm
3.4. Luas
3.4.1. Metode titik
Jumlah titik = 88 titik
L=

x 0,04 km2

= 0,88 km2
3.4.2. Metode bujur sangkar
L daerah = Jumlah kotak x Skala
L

= 22x 0,04 km2


= 0,88 km2

3.4.3. Metode strip


Luas total = (L1 + L2 + L3 + L4 + L5 + L6 + L7 + L8 + L9) S
Luas persegi panjang = p x l
Luas I

= 4,9 cm2

Luas II

= 5,2 cm2

Luas III

= 4,2 cm2

Luas IV

= 2,5 cm2

Luas V

= 3,4 cm2

Luas VI

= 2,9 cm2
10

Luas VII

= 2,2 cm2

Luas VIII

= 1,6 cm2

Luas IX

= 0,6 cm2

Luas total

= L1+L2+L3+..........+L9

Luas total

= 27,5 cm2 x 0,04 km2


= 1,1 km2

BAB IV
PEMBAHASAN

11

Pada praktikum fotogrametri yang telah dilaksanakan, hal yang perlu


diperhatikan maupun yang diamati saat praktikum ini meliputi beberapa
perhitungan dan langkah langkah dalam pengamatan fotogrametri menggunakan
alat yang disebut stereoskop yang memiliki fungsi untuk merubah kenampakan 2
dimensi pada gambar foto udara menjadi kenampakan 3 dimensinya melalui
beberapa langkah.
Praktikum ini menggunakan 2 buah gambar foto udara yang pada bagian
petanya terdapat kesamaan bagian ( lokasi ).
4.1. Cara pendapatan gambar 3 dimensi
Pada pengamatan dalam praktikum ini adalah kenampakan 3 dimensi
suatu gambar foto udara, dimana cara untuk mendapatkan kenampakan 3
dimensi ini dengan beberapa langkah langkah. Dalam tahap persiapan,
penempatan alat stereoskop diatas meja, kemudian mempersiapkan 2 gambar
foto udara yang memiliki kesamaan lokasi dan skala gambar foto udaranya
sama.
Tahap setelah persiapan adalah mengamati kenampakan gambar foto udara
dibawah stereoskop dan memasangkan 2 jari telunjuk pada masing masing
gambar foto udara pada lokasi yang sama, kemudian menggeser geser
gambar foto udara hingga kenampakan gambar foto udara tersebut dibawah
stereoskop menjadi kenampakan 3 dimensi.
4.2. Cara perhitungan luas
4.2.1. Metode Titik
Dalam perhitungan luas menggunakan metode titik ini cara
pendapatannya dengan menentukan area yang akan dihitung luasnya,
setelah ditemukan area pada foto udara, mulai membatasi area dengan
mengeplot area tersebut diatas mika bening menggunakan bolpoin ohp.
Selanjutnuya, hasil pengeplotan yang ada di mika bening
diletakkan diatas millimeter blok, cara pemberian titik pada hasil
pengeplotan yang ada di mika bening yaitu setiap 0,5 cm di millimeter
12

blok pada batas 0,5 cm diberi titik sebanyak luasan area yang telah
diplot pada mika bening tersebut dan didapatkan 88 titik.
Pendapatan luasnya dengan menggunakan perhitungan yaitu
jumlah titik pada area yang telah diplot sebanyak 88 titik tersebut
dibagi 4 dan dikalikan terhadap skala luasan gambar foto udara yang
bernilai 1 cm2 di gambar foto udara adalah 0,04 km2 pada luasan
sebenarnya, sehingga hasil luasan area sebenarnya diperkirakan adalah
0,88 km2
4.2.2. Metode Bujur Sangkar
Dalam perhitungan luas menggunakan metode bujur sangkar ini
cara pendapatannya sama dengan metode titik, yaitu menentukan area
yang akan dihitung luasnya, setelah ditemukan area pada foto udara,
mulai membatasi area dengan mengeplot area tersebut diatas mika
bening menggunakan bolpoin ohp.
Untuk perhitungan luas menggunakan metode ini dengan
menghitung luas area yang telah diplot pada mika bening dengan
membuat kotak setiap 1 cm2 pada area yang telah diplot yang
pengukurannya diletakkan diatas millimeter blok. Dan ketika dihitung,
didapatkan jika pada area ini terdiri dari 22 luasan bujur sangkar.
Dari perhitungan yang telah didapat, luasan area sebenarnya
dihitung menggunakan perhitungan jumlah luasan bujur sangkar yang
terdiri dari 22 kotak kemudian dikalikan terhadap skala pada gambar
foto udara yang memiliki nilai pada luasan sebenarnya sebesar 0,04
km2, sehingga luasan area yang telah diplot dari hasil perhitungan yang
didapat adalah seluas 0,88 km2
4.2.3. Metode Strip
Dalam perhitungan luas menggunakan metode Strip ini cara
pendapatannya hampir sama dengan metode titik, yaitu menentukan
area yang akan dihitung luasnya, setelah ditemukan area pada foto
13

udara, mulai membatasi area dengan mengeplot area tersebut diatas


mika bening menggunakan bolpoin ohp.
Perhitungannya dimulai dengan membatasi area yang telah
ditentukan tersebut dengan membagi garis lurus setiap 1 cm di
millimeter blok, setelah itu, membatasi aera yang telah terdapat garis
yang membagi area pada batas yang paling luar dari area, dan
didapatkan jika luas strip pertama adalah 4,9 cm2 dan luas daerah yang
kedua adalah 5,2 cm2, daerah strip ketiga 4,2 cm2, strip keempat 2,5
cm2. Untuk strip kelima luasnya 3,4 cm2, dan luasan strip keenam
bernilai 2,9 cm2, Strip ketujuh memiliki luas 2,2 cm2, dan strip
kedelapan luasnya 1,6 cm2 serta luasan strip kesembilan adalah 0,6 cm2
Dan dari hasil tersebut, didapatkan luas total adalah 27,5 cm2
sehingga luas nyata didapatkan dengan menkalikan luas total area yang
benilai 27,5 cm2 dengan skala luasan sebenarnya sebesar 0,04 km 2 dan
hasilnya senilai 1,1 km2.
4.3. Perhitungan Paralaks
4.3.1. Perhitungan lembar per lembar
Untuk perhitungan ini, digunakan untuk mendapatkan paralaks di
A dengan melakukan pengukuran jarak dari A1 ke garis vertikal pusat
pp1 dan disimbolkan dengan Xa1 yang didapatkan 3 cm dan untuk
Xa2 didapatkan dari jarak A2 ke garis vertikal pp2 sebesar 5 cm dan
didapatkan dari Xa1 dikurangi negatif dari Xa2, sehingga PA senilai 8
cm.
Untuk perhitungan ini, digunakan untuk mendapatkan paralaks di
B dengan melakukan pengukuran jarak dari B1 ke garis vertikal pusat
pp1 dan disimbolkan dengan Xb1 yang didapatkan 6,3 cm dan untuk
Xb2 didapatkan dari jarak B2 ke garis vertikal pp2 sebesar 1,2 cm dan
didapatkan dari Xb1 dikurangi negatif dari Xb2, sehingga PB senilai
7,5 cm.

14

4.3.2. Perhitungan Orientasi Stereoskopik


Pada perhitungan ini, untuk jarak dari PP1 ke PP2 dilambangkan D
yang bernilai 26,5 cm dan dA yang merupakan jarak dari A1 ke A2
senilai 18,7 cm sehingga PA yang didapatkan dari perhitungan
pengurangan D dengan dB senilai 7,8 cm dan untuk dB yang
merupakan jarak dari B1 ke B2 senilai 19 cm sehingga PB yang
didapatkan dari perhitungan pengurangan D dengan dB senilai 7,5 cm
4.3.3. Perhitungan Base Foto
Perhitungan ini merupakan perhitungan untuk mencari hasil
pergeseran titik pusat kedua foto udara yang didapatkan dari
penjumlahan jarak PP1 ke CPP1 yang dilambangkan b1 sebesar 19 cm
dengan jarak PP1 ke CPP1 yang dilambangkan dengan b2 sebesar 18,6
cm dan setelah didapatkan hasil penjumlahannya, kemudian dibagi 2
sehingga didapatkan jika base foto udara ini adalah sebesar 18,8 cm.
4.4. Perhitungan tinggi terbang
Pada perhitungan ini, didapatkan tinggi terbang dengan menyamakan
satuan dimana 1 feet yang sebesar 0,3048 m dan Ha senilai 6500 m dikalikan
terhadap satuan feet 0,3048 sehingga luas Ha adalah 1981,2 m dan ketinggian
terbang saat pemotretan foto udara yang dilambangkan H yang didapat dari
perhitungan Ha yang dikurangkan dengan bidang dasar sebesar 225 m
sehingga hasilnya adalah 1756,2 m.
4.5. Perhitungan Jarak Horizontal
Perhitungan ini untuk menentukan jarak horizontal yang didapatkan dari
Dab yang datanya sebesar 19,8 cm dan jarak horizontal ini merupakan dAB
yang dikalikan dengan H yang bernilai 175620 cm dan dibagi dengan f yang
8,85 cm sehingga nilainya sebesar 391749,15 cm dan pada jarak sebenarnya
dikalikan dengan skala 0,2 km sehingga jaraknya adalah 78349,83 km.

15

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan

16

Fotogrametri adalah suatu seni, ilmu dan teknik untuk memperoleh datadata tentang objek fisik dan keadaan di permukaan bumi melalui proses
perekaman, pengukuran, dan penafsiran citra fotografik.
Perhitungan paralaks terdiri dari perhitungan lembar per lembar dan
orientasi stereoskopik dan setelah dilakukan praktikum, perhitungan
paralaks telah dapat dipahami.
Perhitungan luas area yang telah dibuat, setelah dilakukan praktikum, telah
dapat dilakukan perhitungannya.
5.2. Saran
Saat praktikum seharusnya lebih teliti dalam pengamatan pengukuran
maupun perhitungannya.
Perhitungan yang ada sebaiknya sesuai denganaturan yang telah ada dan
diharapkan lebih teliti lagi.

17