Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pesatnya

perkembangan

Teknologi

Informasi

(IT),

khususnya

Internet,

memungkinkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam bidang


pendidikan. Pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan bertujuan untuk mendukung
penyelenggaraan pendidikan, sehingga tersedia layanan informasi yang lebih baik untuk
peserta didik. Layanan pendidikan dapat dilaksanakan melalui sarana internet. Misalnya
berupa penyediaan materi pembelajaran secara online dan materi tersebut dapat diakses
oleh siapa saja yang membutuhkan.
Kondisi pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan pada saat ini, baru memasuki
tahap mempelajari kemungkinan untuk pengembangan dan penerapan IT tersebut. Secara
teori, terdapat banyak manfaat dan kemudahan yang dapat dirasakan dengan
pemanfaatan IT. Namun dalam kondisi nyata, kenapa pemanfaatan IT dalam bidang
pendidikan masih belum optimal?
Hal ini disebabkan karena terdapat beberapa kendala penerapan IT di bidang
pendidikan. Kendala tersebut antara lain adalah kemampuan tingkat manajerial di
pemerintah yang sebagian besar tidak memiliki basis teknologi informasi khususnya
teknologi Internet, sehingga banyak sekali pekerjaan yang lebih efisien dengan
penerapan teknologi informasi tidak dilirik atau bahkan dihindari penerapannya.
Kemudian yang menjadi kendala penerapan IT di bidang pendidikan adalah
masih banyak sarana- sarana di sekolah yang belum memadai untuk penerapan IT.
Bagaimana mungkin sebuah sekolah akan menerapkan pembelajaran dengan media IT,
1

jika

masalah

penyediaan

komputer

saja

masih

belum

dapat

diatasi

Keterbatasan biaya dan tenaga operasional juga menjadi kendala. Untuk bisa
memanfaatkan IT tentu perlu adanya tenaga khusus yang mengelola media tersebut,
karena tidak setiap guru mampu mengoperasikan media IT. Untuk sekolah yang
mempunyai kemampuan baik tenaga maupun biaya tentu tidak akan menjadi masalah,
namun bagi sekolah yang miskin dan tenaga gurunya pas-pasan, kondisi ini merupakan
masalah baru yang sulit diatasi.
Selanjutnya, anggapan sebagian stakeholder bahwa pemanfaatan media
pendidikan bagi sekolah terkesan mahal. Biasanya, beban orang tua siswa pun menjadi
lebih berat. Sebab untuk memenuhi kebutuhan akan media IT tersebut, salah satu sumber
dana

sekolah

adalah

dengan

membebankan

kepada

orang

tua

siswa.

Kendala selanjutnya adalah persepsi yang salah terhadap media pembelajaran. Alasan
yang sering didengar, mengapa guru enggan memanfaatkan media pembelajaran karena
dengan memanfaatkan media tersebut jam pelajaran siswa menjadi terganggu.
Kondisinya memang cukup memperihatinkan. Artinya persepsi guru terhadap media
pembelajaran masih salah. Padahal seharusnya justru dengan bantuan media IT, materi
yang disampaikan lebih jelas dan konpreherensif karena pemahaman siswa diharapkan
hampir sama. Akibatnya guru juga merasa terbebani, karena dituntut harus lebih kreatif
dan memiliki persiapan pengajaran yang lebih matang.
Untuk mengatasi salah satu kendala sebagaimana yang telah dikemukakan di atas,
maka penulis merasa perlu untuk

meneliti tentang bagaimana upaya peningkatan

kemampuan guru menggunakan IT dalam proses belajar mengajar melalui bimbingan


teman sejawat di SMA Negeri 1 Bau Bau.

B. Identifikasi Masalah
Dari uraian pada latar belakang, terdapat beberapa masalah yang
menyebabkan kurang optimalnya penggunaan IT dalam proses belajar mengajar
yaitu:
1.

Kemampuan tingkat manajerial pemerintah yang sebagian besar tidak


memiliki basis teknologi informasi.

2.

Sarana-sarana di sekolah belum memadai untuk penerapan Teknologi


Informasi (IT).

3.

Masih ada anggapan bahwa pemanfaatan Teknologi Informasi (IT) sebagai


media pendidikan bagi sekolah terkesan mahal

4.

Kurangnya kemampuan guru dalam menggunakan media Teknologi Informasi


(IT)

C. Pembatasan Masalah
Mengingat banyaknya faktor yang menjadi kendala pada pelaksanaan penggunaan
Teknologi Informasi (IT) dalam proses belajar mengajar, maka pada penelitian ini
penulis dibatasi pada masalah Kurangnya kemampuan guru dalam menggunakan
media Teknologi Informasi (IT).

D. Rumusan Masalah
Masalah pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Bagaimana cara meningkatkan kemampuan guru menggunakan IT dalam proses
belajar mengajar melalui bimbingan teman sejawat .

E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan
pembimbingan teman sejawat dalam upaya meningkatkan kemampuan guru
menggunakan media teknologi informasi (IT) dalam proses belajar mengajar.
Tujuan khusus yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah untuk :
1. Meningkatkan kemampuan guru dalam penggunaan media teknologi informasi
(IT) dalam proses belajar mengajar.
2. Meningkatkan kinerja guru dalam proses belajar mengajar.

F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan untuk memberikan manfaat sebagai berikut :
a. Menambah informasi bagi guru tentang pentingnya penggunaan IT dalam Proses
Belajar Mengajar.
b. Memberikan informasi bagi guru tentang pentingnya kemampuan menguasai
Teknologi informasi (IT) untuk meningkatkan kinerja guru serta peningkatan
hasil belajar siswa.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
Dalam kehidupan suatu negara, pendidikan memegang peranan yang amat
penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan
merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya
manusia. Seiring dengan perkembangan teknologi komputer dan teknologi informasi,
maka dunia pendidikan pun tidak lepas dari pengaruh perkembangan tersebut. Secara
khusus untuk pendidikan pengaruhnya akan dirasakan dengan adanya kecenderungan :
(a) Bergesernya pendidikan dan pelatihan dari sistem yang berorientasi pada
guru(pendidik) ke sistem yang berorientasi pada siswa (peserta didik)
(b) Tumbuh dan makin memasyarakatnya pendidikan terbuka/jarak jauh.
(c) Semakin banyaknya pilihan sumber belajar yang tersedia.
(d) Diperlukannya standar kualitas global dalam rangka persaingan global.
(e) Semakin diperlukannya pendidikan sepanjang hayat (life long learning).

Aplikasi teknologi komunikasi dan informasi telah memungkinkan terciptanya


lingkungan belajar global yang berhubungan dengan jaringan yang menempatkan siswa
di tengah-tengah proses pembelajaran, dikelilingi oleh berbagai sumber belajar dan
layanan belajar elektronik. Untuk itu, sistem pendidikan konvensional seharusnya
menunjukkan sikap yang bersahabat dengan alternatif cara belajar yang baru yang sarat
dengan teknologi.

1.1

Penggunaan Media dalam Proses Belajar Mengajar


Media pembelajaran merupakan alat bantu pada proses pembelajaran baik di

dalam maupun di luar kelas. Sehubungan dengan hal ini, Rossi dan Breidle (1966)
mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat
dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan. Dan secara implisit, Gagne dan Briggs
(1975) secara mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik
digunakan untuk menyampaikan isi materi pelajaran. Selanjutnya Levie & Levie (1975)
menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk
tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubungkan
fakta dan konsep. Belajar dengan menggunakan indera pandang dan dengar sekaligus
akan memberikan keuntungan bagi siswa.
Baugh dan Achsin (1986) menjelaskan perbedaan daya serap suatu informasi
melalui indera pendengaran dan pengelihatan sebagai berikut : kurang lebih 90 % hasil
belajar seseorang diperoleh melalui indera pandang, sekitar 5 % diperoleh melalui indera
dengar dan 5 % lagi dengan indera yang lainnya. Dari kesimpulan ini, dapat dilihat
bahwa model pembelajaran yang secara konvensional di dalam proses pembelajaran,
yaitu metode ceramah merupakan cara yang sangat tidak efektif dalam penyampaian
suatu materi pembelajaran, jika tanpa di iringi dengan metode metode lain, utamanya
yang menyangkut penggunaan indera pengelihatan dalam belajar yang sangat dominan.
Di sinilah pentingnya penggunaan media dalam suatu proses pembelajaran,
dimana dengan penggunaan media ini, selain siswa menggunakan indera dengarnya
dalam menerima konsep pelajaran yang diberikan, indera pandangnyapun ikut dilibatkan,
sehingga daya serap siswa terhadap materi pembelajaran yang diberikan dapat lebih
ditingkatkan. Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat

membangkitkan keinginan, minat, motivasi dan rangsangan dalam kegiatan belajar serta
dapat membawa pengaruh psikologis yang kuat terhadap siswa.
Wina Sanjaya (2007) mengklasifikasi media pembelajaran dalam beberapa
macam, yaitu :
1. Media Auditif, yaitu media yang hanya dapat didengar saja, atau media yang
hanya memiliki unsur suara, seperti radio dan rekaman suara.
2. Media Visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung
unsur suara, misalnya film slide, foto, transparansi, lukisan, gambar dan berbagai
macam media grafis.
3. Media Audiovisual, yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga
mengandung unsur gambar yang bisa dilihat, misalnya rekaman video, berbagai
ukuran film, slide suara dan lain sebagainya.
Dengan semakin meningkatnya perkembangan di bidang teknologi informasi
dan komunikasi, yang ditandai dengan perkembangan pesat di bidang komputer,
khususnya pengembangan program/perangkat lunak (software) yang tujuannya sematamata untuk lebih mempermudah proses kerja manusia dalam segala hal. Pada bidang
pendidikan, kemajuan teknologi ini diarahkan untuk membantu proses pembelajaran
dengan dibuatnya software-software pembelajaran baik dalam bentuk video interaktif,
maupun animasi-animasi pembelajaran.

1.2

Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi


Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah

data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data


dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi

yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis,
dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, system
jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai
dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan
diakses secara global. Arti teknologi informasi bagi dunia pendidikan seharusnya berarti
tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program
pendidikan. Pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pendidikan sudah merupakan
kelaziman. Membantu menyediakan komputer dan jaringan yang menghubungkan rumah
murid dengan ruang kelas, guru, dan administrator sekolah. Semuanya dihubungkan ke
Internet, dan para guru dilatih menggunakan komputer pribadi.
Penggunaan media teknologi informasi dalam proses belajar mengajar
diharapkan dapat mengatasi sebagian kendala dalam proses pembelajaran utamanya pada
masalah keterbatasan dari ketersediaan kepustakaan yang dimiliki oleh siswa atau
sekolah, karena dengan penggunakan media teknologi informasi, guru ataupun siswa bisa
mendapatkan sumber pembelajaran secara luas dan tidak terbatas., yang selanjutnya akan
mendukung meningkatnya mutu pembelajaran di sekolah.
B. Deskripsi Kondisi Sekolah

C. Hipotesis Tindakan
Dalam penelitian ini, hipotesis tindakan dapat dirumuskan sebagai berikut :

Proses pembimbingan melalui teman sejawat dapat meningkatkan kemampuan


guru menggunakan IT dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) .

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Penelitian
tanggal

dilaksanakan

pada

SMA Negeri

Bau

Bau

pada

................ sampai dengan ...................... pada kegiatan In-house

training Dana Block Grant Tahun 2010.

B. Waktu dan Lama Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal .................. sampai dengan
tanggal ....................... atau selama ............... dengan rincian kegiatan :
No
Urut

Nama Kegiatan

Observasi awal

Penyusunan Rencana Tindakan

Pembelajaran Siklus I

Pembelajaran Siklus II

Analisis Data

Penyusunan Laporan

September
1

Oktober
4

C. Teknik Pengumpulan Data


Untuk keperluan penelitian, guru peneliti melakukan beberapa hal, yaitu :
1. Membagi siswa menjadi 8 (delapan) kelompok dengan rincian ; sebanyak 5
(lima) kelompok beranggotakan 6 (enam) orang, dan 3 (tiga) kelompok memiliki
jumlah anggota sebanyak 5 (lima) orang. Kelompok-kelompok terdiri dari lakilaki dan perempuan dengan tingkat kemampuan siswa yang berbeda.

10

2. Bersama teman kolaborator, guru peneliti menyusun kuesioner Motivasi Siswa


Terhadap Kegiatan Pembelajaran dimana lembar observasi ini digunakan pada
setiap menjelang akhir pembelajaran tatap muka.
3. Guru peneliti mempersiapkan animasi animasi kimia yang berkaitan dengan
konsep Sel elektrokimia, yang dibuat sendiri oleh guru peneliti dengan
menggunakan program Macromedia Flash. Animasi animasi ini akan
ditanyangkan setelah pelaksanaan demonstrasi/eksperimen dan diskusi kelas.
4. Menyusun format catatan lapangan untuk setiap kali pertemuan
5. Untuk memperoleh data tentang kemajuan hasil belajar, guru peneliti dan teman
kolaborator menyusun soal post-test yang akan diberikan pada setiap akhir tatap
muka. Analisis nilai hasil belajar, hasil kuesioner siswa, selanjutnya digunakan
untuk memutuskan tindakan selanjutnya.

C. Siklus Penelitian
Penelitian ini terdiri dari 2 (dua) siklus yang ditetapkan berdasarkan materi
pelajaran. Satu siklus terdiri atas 2 (dua) kali pertemuan. Permasalahan yang belum
dapat dipecahkan pada siklus pertama, direfleksikan bersama dengan kolaborator
untuk mencari penyebabnya. Selanjutnya peneliti merencanakan berbagai langkah
perbaikan untuk diterapkan pada siklus kedua sehingga masalah yang dihadapi dapat
diselesaikan secara tuntas.
D. Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian diperoleh dari hasil tes tertulis (post-test), kuesioner Motivasi
Siswa Terhadap Materi Pembelajaran serta catatan lapangan dari teman kolaborator.

E. Indikator Keberhasilan
Penelitian dianggap berhasil jika :
11

1. Terjadi peningkatan motivasi belajar siswa terhadap penggunaan animasi kimia


dalam pembelajaran Sel Elektrokimia.
2. Sekurang-kurangnya 85% siswa memperoleh nilai di atas 65
3. Sekurang-kurangnya 90% siswa dapat menyelesaikan tugas.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Siklus Pertama

12

Siklus pertama dilakukan dengan 2 kali tatap muka dengan materi Sel Volta
dan penerapannya. Pertemuan pertama peneliti mengajarkan konsep Pengertian Sel
Elektrokimia, Potensial Reduksi Standar dan Sel Volta , Pertemuan Kedua Korosi
pada Logam dan Penerapan Sel Volta dalam Kehidupan Sehari-hari.
Pertemuan 1
Perencanaan (Planning). Rencana tindakan yang diberikan pada pertemuan 1
siklus pertama adalah :
a. Guru memberikan pelajaran dengan metode demonstrasi dan penayangan animasi
kimia, diskusi/tanya jawab serta pemberian tugas.
b. Mengamati dan Membimbing seluruh kelompok siswa pada saat melakukan
diskusi.
c. Menugaskan

siswa

untuk

meramalkan

kemungkinan

terjadinya

reaksi

berdasarkan konsep reaksi pendesakan logam.


d. Memberikan post test pada akhir pembelajaran.
Pelaksanaan (Acting). Mengatur siswa untuk duduk berkelompok sesuai
pembagian kelompok yang sudah diatur sebelumnya, memberikan penjelasan umum
tentang pengertian Sel Elektrokimia dan selanjutnya melakukan demonstrasi tentang
kecenderungan reaksi beberapa logam terhadap logam lain dalam bentuk larutannya
disertai dengan penjelasan berupa penayangan animasi berkaitan dengan konsep yang
sedang dibahas.
Diskusi / tanya jawab tentang berlangsung tidaknya suatu reaksi pendesakan
logam berdasarkan daya oksidasi dan reduksi yang dimiliki logam. Memberikan
penjelasan mengenai penentuan nilai Potensial elektroda standar dengan bantuan
media animasi. Dan di akhir pembelajaran diadakan post test.

13

Pengamatan (Observing). Pengamatan dilakukan oleh guru kolaborator


dengan hasil sebagai berikut :
a. Motivasi belajar siswa cukup baik, dimana siswa sangat antusias memperhatikan
setiap penjelasan yang diberikan oleh guru peneliti.
b. Diskusi kelompok berjalan cukup baik, yang menunjukkan bahwa penayangan
animasi tentang proses reaksi pendesakan sudah dapat membantu proses berpikir
siswa untuk menyimpulkan apa yang telah didemostrasikan oleh guru peneliti.
c. Belum seluruh siswa memahami secara jelas hubungan antara apa yang di
demonstrasikan oleh guru dengan penjelasan dengan penayangan animasi.
d. Data nilai hasil belajar dapat dilihat pada tabel 1, dan data kuesioner pada tabel 2
Refleksi. Berdasarkan hasil pengamatan pada data hasil belajar dan data hasil
kuesioner, diperoleh beberapa hal :
1. Kendala yang dihadapi Guru.
Masih didapatkan beberapa kendala bagi guru peneliti, antara lain :
a. Masih ada siswa yang belum sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada
apa yang disajikan, sehingga siswa-siswa tersebut kurang memperlihatkan
keaktifan pada saat diskusi kelompok.
b. Langkah-langkah tindakan belum sepenuhnya dilakukan, sesuai rencana.
c. Nilai rata-rata hasil belajar siswa masih rendah, yaitu 58,33.

2. Keberhasilan Guru.
a. Guru peneliti menyadari tentang adanya beberapa konsep yang kurang
diberikan penekanan, sehingga pada beberapa siswa tertentu informasi
tersebut dianggap kurang lengkap.
14

b. Pelaksanaan pembelajaran secara umum sudah cukup baik, walau harus


diadakan perbaikan-perbaikan pada tahapan selanjutnya.
Rencana Perbaikan.
Guru peneliti mempertegas konsep-konsep materi yang membutuhkan
penekanan- penekanan khusus pada saat penyampaiannya.
Pertemuan 2.
Perencanaan (Planning). Pada dasarnya perencanaan yang diterapkan pada
pertemuan ini sama seperti pada pertemuan sebelumnya.
Pelaksanaan (Acting). Pelaksanaan tindakan pada pertemuan ke-2 ini
dilakukan sebagai berikut :
a. Mengatur siswa untuk duduk berkelompok sesuai kelompoknya masing-masing.
b.

Mendemonstrasikan cara merangkai sel volta sederhana serta nilai potensial sel
yang dihasilkan oleh rangkaian sel volta.

c. Memberikan contoh sel volta yang lain melalui tayangan animasi.


d. Menjelaskan cara penentuan nilai potensial sel volta secara teoritis.
e. Memberikan beberapa problematika sel volta untuk didiskusikan secara
kelompok.
f. Memberikan post test pada akhir pembelajaran.

Pengamatan (Observing). Hal-hal yang dapat diamati pada pertemuan ke-2


ini adalah :
a. Siswa sangat antusias memperhatikan demonstrasi serta tayangan animasi tentang
sel volta.

15

b. Terjadi peningkatan aktivitas siswa pada saat proses diskusi, dimana hampir
seluruh siswa sudah berpartisipasi aktif dalam diskusi.
c. Siswa sangat aktif bertanya ataupun menjawab pada saat diskusi dilaksanakan.
d. Dari tanggapan-tanggapan siswa atas problem problem sel volta dalam diskusi,
siswa sudah dapat menarik kesipulan yang benar berdasarkan apa yang diamati
dari animasi yang ditayangkan.
e. Terjadi peningkatan nilai rata rata hasil belajar dari 58,33 menjadi 64,89 yang
menunjukkan semakin meningkatnya tingkat pemahaman siswa terhadap konsep
pelajaran yang diajarkan.
Data nilai hasil belajar dapat dilihat pada tabel 1 dan data hasil kuesioner siswa
pada tabel 3.
Refleksi Siklus Pertama.
Dari data hasil pertemuan 1 dan 2 , terjadi peningkatan motivasi dan hasil
belajar siswa, yang menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan animasi
kimia dapat membantu pemahaman siswa terhadap konsep-konsep sel elektrokimia,
dan dapat menumbuhkan motivasi yang besar pada siswa dalam proses belajarnya.
Metode demonstrasi yang diberikan sedikit banyaknya dapat membantu siswa
untuk menemukan hubungan antara aspek teoritis dan praktek, walaupun itu hanya
sekedar dilihat dan tidak dilakukan sendiri oleh siswa. Ini disebabkan oleh karena
adanya

keterbatasan

peralatan laboratorium dimana peneliti bertugas

dan

melaksanakan penelitian. Peneliti yakin bahwa perolehan hasil belajar ini akan lebih
baik lagi jika metoda yang dilakukan adalah eksperimen , dimana siswa dapat
melakukan, mengamati dan menemukan sendiri gejala gejala yang ada, dan
tentunya siswa akan lebih termotivasi lagi karena ikut terlibat langsung dalam proses
tersebut.
16

Kendala utama dalam siklus pertama ini adalah keterbatasan waktu yang
tersedia, sehingga dibutuhkan pengaturan waktu yang tepat, efektif dan efisien oleh
peneliti pada pertemuan-pertemuan pada siklus selanjutnya.
1. Kendala yang dihadapi guru
Pelaksanaan tindakan sudah diupayakan semaksimal mungkin oleh guru peneliti,
tetapi masih ditemukan sedikit kendala, yaitu :
a. Tidak semua problem yang ada pada siswa dapat terselesaikan , akibat dari
terbatasnya waktu pada saat diskusi, sementara siswa sangat antusias bertanya
maupun menjawab dalam diskusi yang diadakan.
b. Ketuntasan belajar belum tercapai sebagaimana yang diharapan, dimana
ketuntasan individual baru mencapai 26 orang atau 57,8 % dari 45 siswa.
2. Keberhasilan guru
a. Langkah tindakan sudah dapat dilaksanakan sesuai yang direncanakan.
b. Penekanan pada konsep-konsep tertentu sudah dapat diberikan, sehingga
pemahaman siswa akan konsep yang diajarkan sudah semakin baik.
c. Proses pembimbingan pada saat diskusi dilaksanakan sudah dilaksanakan
dengan baik.
2. Siklus Kedua
Siklus pertama dilakukan dengan 2 kali tatap muka dengan materi Sel
Elektrolisis dan penerapannya. Pertemuan pertama peneliti mengajarkan konsep Sel
Elektrolisis, Pertemuan Kedua , Penerapan Sel Elektrolisis dalam Kehidupan Seharihari.
Pertemuan 1

17

Perencanaan (planning). Rencana tindakan pada siklus ke-2 ini pada


dasarnya sama dengan pada siklus pertama, dengan beberapa upaya perbaikan, yaitu :
a. Penggunaan metode eksperimen ( karena instrumen untuk eksperimen sel
elektrolisis cukup untuk kebutuhan kelas ), penayangan animasi kimia,
diskusi/tanya jawab serta pemberian tugas.
b. Pengelolaan waktu yang efektif dan efisien pada proses pembelajaran.
c. Lebih mengoptimalkan kembali keterlibatan siswa dalam diskusi kelas.

Pelaksanaan (acting). Mengatur siswa untuk duduk berkelompok sesuai


dengan kelompoknya masing-masing, memberikan penjelasan umum dengan animasi
kimia tentang Sel Elektrolisis. Melaksanakan eksperimen Sel elektrolisis dan
selanjutnya melakukan diskusi kelompok. Selain perubahan dalam metode
pembelajaran yang dilakukan, pada pertemuan pertama siklus ke-2 ini, peneliti
mengupayakan pengelolaan waktu yang efektif dan efisien, dan optimalisasi
keterlibatan siswa dalam diskusi kelompok, dengan aktif memberikan bimbingan
pada seluruh kelompok.
Pengamatan (observing). Dari apa yang berusaha diupayakan oleh guru
peneliti, hasil pengamatan dari rekan kolaborator menunjukkan bahwa : upaya
optimalisasi keterlibatan siswa menunjukkan peningkatan yang cukup baik, hal ini
dapat dilihat dari suasana kelas yang aktif baik dalam proses eksperimen maupun
pada saat diskusi dilaksanakan, tetapi dalam hal ini guru peneliti belum dapat
mengelola waktu dengan baik, dimana guru peneliti cukup banyak kehilangan waktu
pada proses pembelajaran secara keseluruhan. Hal ini diakibatkan oleh waktu
pelaksanaan eksperimen yang relatif lebih panjang daripada teknik demonstrasi

18

sebagaimana yang dilakukan pada siklus pertama, serta banyaknya pertanyaanpertanyaan yang dikemukakan oleh siswa pada saat diskusi dilaksanakan.
Data hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel 4.
Refleksi. Berdasarkan apa yang diperoleh pada pertemuan pertama siklus ke-2
di atas, maka masalah yang paling mendasar adalah pengelolaan waktu. Sementara
tindakan-tindakan yang lain sudah dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Keaktifan siswa sudah sangat baik, terlebih pada saat proses eksperimen, yang
menunjukkan motivasi belajar yang tinggi. Hal ini dapat ditunjukkan pada data hasil
kuesioner pada tabel 5.
Pertemuan 2
Perencanaan (Planning). Rencana tindakan pada pertemuan kedua ini sama
dengan pada pertemuan pertama. Untuk mengatasi kendala pengelolaan waktu
sebagaimana yang didapatkan pada pertemuan pertama, guru peneliti bersama rekan
kolaborator mendiskusikan cara pengelolaan waktu yang tepat pada pertemuan
berikutnya dengan memperhatikan kedalaman materi pelajaran yang ada.
Pelaksanaan (Acting). Pada pertemuan ini, berdasarkan isi materi yang ada,
peneliti tidak melakukan metode demonstrasi atau eksperimen sebagaimana pada
pertemuan-pertemuan sebelumnya. Tetapi langsung melakukan diskusi kelompok
mengenai penerapan sel elektrolisis dalam kehidupan sehari-hari, dengan panduan
animasi kimia. Pada pertemuan ini pembelajaran terkesan tidak seserius pertemuanpertemuan sebelumnya, walau tanpa mengurangi antusias dari siswa, karena apa yang
sedang dibahas adalah hal hal yang dapat setiap saat mereka temui di sekeliling
mereka.

19

Pengamatan (Observing). Hasil pengamatan rekan kolaborator pada


pertemuan ini adalah sebagai berikut :
a. Penggunaan animasi kimia dalam penyampaian materi pelajaran dapat
menumbuhkan motivasi belajar siswa, yang menyebabkan semakin besarnya
keinginan siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
b. Pengaturan waktu sebagaimana yang sudah dirancang bersama, dapat berjalan
sebagaimana yang diharapkan.
c. Hampir semua problem yang dikemukakan siswa dapat ditampung dan
dituntaskan pada saat proses diskusi berlangsung.
d. Terjadi peningkatan hasil belajar siswa, dari 66,11 menjadi 73,44
Refleksi Siklus Kedua
Berdasarkan data yang telah diperoleh pada tahapan-tahapan tindakan dalam
siklus kedua ini, dapat dilihat bahwa senantiasa terjadi peningkatan pada aspek
motivasi dan hasil belajar siswa, yang menunjukkan bahwa upaya-upaya perbaikan
yang dilakukan oleh peneliti dengan bantuan rekan kolaborator, dapat memberikan
efek langsung dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini menunjukkan pula
bahwa persiapan (perencanaan) pembelajaran yang baik dapat dijadikan sebagai
parameter untuk meramalkan berhasil-tidaknya proses pembelajaran yang akan
dilakukan. Sebab dengan perencanaan yang baik, maka seorang guru akan memiliki
suatu acuan dalam bekerja dengan sasaran-sasaran yang sangat jelas.

B. PEMBAHASAN

20

Upaya peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran


kimia kelas XII dengan menggunakan media animasi kimia, terbukti dapat dilaksanakan
sebagaimana yang diharapkan jika dibarengi dengan perencanaan pembelajaran yang
lebih baik.
Jika kita melihat kembali hasil pengamatan dari siklus pertama, terlihat bahwa
penggunaan media animasi kimia langsung dapat diterima oleh siswa, karena dapat
menuntun proses berpikir siswa ke arah pemahaman yang jelas tentang apa-apa yang
sedang dibahas.
Sehubungan dengan motivasi belajar siswa ini, sudah seharusnya dipahami
bahwa setiap siswa memiliki keinginan untuk dapat memahami materi-materi pelajaran
yang diperolehnya selama proses pembelajaran, tetapi dalam upaya untuk mencapai
pemahaman tersebut, setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam
menerima informasi-informasi yang mereka dapatkan. Seorang guru dalam hal ini
dituntut untuk dapat menyampaikan suatu informasi secara merata dan menyeluruh serta
harus senantiasa mengupayakan agar informasi yang diberikan dapat diterima sama oleh
seluruh siswa. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dicapai, karena
sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya bahwa kemampuan siswa untuk menyerap
dan memahami suatu konsep sangat beragam, khusus untuk materi pembelajaran kimia,
dibutuhkan daya imaginasi yang tinggi untuk dapat memahami proses-proses yang terjadi
dalam suatu gejala (reaksi) kimia . Kemampuan daya imaginasi yang berbeda dari setiap
siswa dapat memicu terciptanya ketidakseragaman informasi yang diterima. Dan siswa
dapat menyimpulkan sesuatu proses berdasarkan persepsinya masing-masing yang lahir
sebagai kesimpulan dari hasil imaginasinya sendiri.
Suatu kesalahan mungkin,yang banyak dilakukan oleh guru, dimana setelah
siswa salah mengolah informasi yang diterima, serta merta guru melihat itu sebagai
kesalahan dari anak itu sendiri, tanpa mempertimbangkan bahwa mungkin ada yang salah
21

atau kurang pada saat proses penyampaian informasi tersebut. Vonis salah yang diberikan
kepada siswa pada akhirnya lambat laun akan dapat melemahkan motivasi belajar siswa,
yang berakibat siswa akan menjadi acuh tak acuh dan kurang perhatian dalam proses
pembelajaran.
Penggunaan media animasi pembelajaran kimia, dapat menyajikan informasi
yang diterima secara seragam oleh seluruh siswa, sehingga akan dapat mencegah
timbulnya persepsi lain dari siswa. Adapun ada persepsi lain yang muncul, hal itu justru
akan lebih baik, karena guru akan mengetahui dimana sisi sisi lemah dari pemahaman
siswa tersebut sebagai dasar untuk menyempurnakan pemahaman siswa.
Proses penerimaan informasi yang seragam dirasakan oleh siswa, pada
akhirnya akan menimbulkan pemahaman yang seragam pula, dan tentunya akan dapat
menumbuhkan rasa percaya diri dari masing-masing siswa bahwa mereka memiliki
kemampuan daya serap yang relatif dengan siswa yang lain. Tentu hal ini akan
memotivasi siswa untuk ikut serta secara aktif dalam proses pembelajaran yang sedang
dilaksanakan, yang tentunya diharapkan akan berimbas pada pencapaian hasil belaar
yang lebih baik pula.
Dari data hasil belajar setiap siklus, terjadi peningkatan nilai rata-rata siswa,
sebagai imbas dari semakin meningkatnya motivasi siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran, dan menunjukkan pula bahwa penggunaan media animasi kimia yang
berkaitan dengan konsep sel elektrokimia sudah dapat mengantar siswa menuju ke arah
pemahaman yang lebih baik secara merata, adapun kurangnya peningkatan nilai hasil
belajar pada pertemuan ke-1 siklus kedua, hal ini disebabkan oleh karena isi materi yang
cukup padat dan mendalam, dimana siswa dituntut untuk dapat memahami sekian banyak
reaksi yang terjadi pada sel elektrolisis dan ini merupakan hal yang sangat manusiawi
jika pada keadaan tersebut siswa lupa, sekalipun informasi tentang hal tersebut baru
diperoleh. Demikian pula dengan ketuntasan individual, dari 45 siswa, yang mendapat
22

nilai di atas 65 berjumlah 37 orang siswa atau 82,22 % dari 45 siswa. Hasil ini tentu
belum sesuai dengan target yang diharapkan dalam penelitian ini, yaitu sebanyak 85%
siswa , namun demikian jika kita melihat secara umum pada setiap siklus, dapatlah kita
menemukan gambaran bahwa apa yang diharapkan dalam penelitian ini sebenarnya telah
mendekati apa yang diharapkan.

BAB V
23

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan dan pembahasan hasil penelitian
selama 2 siklus oleh guru peneliti, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Dibutuhkan suatu perencanaan yang matang dari seorang guru dalam
mempersiapkan suatu proses pembelajaran, terutama dalam hal pemilihan metode
pembelajaran.
2. Penggunaan waktu harus dilakukan secara efektif dan efisien, agar segala bentuk
tindakan yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan baik.
3. Dibutuhkan suatu bentuk komunikasi yang baik antar guru mata pelajaran sejenis
sebagai mitra kerja yang dapat memberikan masukan serta perbaikan dalam
pelaksanaan proses pembelajaran, sehingga pelaksanaan proses pembeajaran
dapat terlaksana dengan baik.
4. Penggunaan media animasi kimia pada konsep sel elektrokimia secara langsung
dapat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep abstrak dengan baik.
5. Dengan tingkat keberhasilan yang mencapai 82,22%, maka tindakan yang
diterapkan dalam penelitian ini dapat dikatakan berhasil, walaupun belum
memenuhi indikator keberhasilan.
B. Saran
Sebagai jawaban atas tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi di bidang pembelajaran, maka diharapkan sekolah sekolah dapat mulai
menerapkan bentuk pembelajaran dengan menggunakan ICT, sebagai salah satu
alternatif pemecahan masalah dalam proses pembelajaran, khususnya pembelajaran
IPA.
DAFTAR PUSTAKA
24

Azhar Arsyad, Prof. 2004 , MEDIA PEMBELAJARAN Cetakan ke 5


Jakarta : PT Gramedia
Gagne, R.M. 1987 , INSTRUCTIONAL TECHNOLOGY : FOUNDATION, Hillsdale
: Lawrence erllmaum Associates
Levie, W. Howard dan Levie, Diane. 1975. PICTORIAL MEMORY PROCESS.
AVCR Vol. 23 No. 1 Spring 1975
Wina Sanjaya, DR, M.Pd. 2007. STRATEGI PEMBELAJARAN
Jakarta : Kencana

Cetakan ke-2

25

Dalam kehidupan suatu negara, pendidikan memegang peranan yang amat


penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan
merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya
manusia. Seiring dengan perkembangan teknologi komputer dan teknologi informasi,
maka dunia pendidikan pun tidak lepas dari pengaruh perkembangan tersebut. Secara
khusus untuk pendidikan pengaruhnya akan dirasakan dengan adanya kecenderungan :
(a) Bergesernya pendidikan dan pelatihan dari sistem yang berorientasi pada
guru/dosen/lembaga
ke
sistem
yang
berorientasi
pada
siswa/mahasiswa/peserta didik.
(b) Tumbuh dan makin memasyarakatnya pendidikan terbuka/jarak jauh.
(c) Semakin banyaknya pilihan sumber belajar yang tersedia.
(d) Diperlukannya standar kualitas global dalam rangka persaingan global.
(e) Semakin diperlukannya pendidikan sepanjang hayat (life long learning).
Aplikasi teknologi komunikasi dan informasi telah memungkinkan terciptanya
lingkungan belajar global yang berhubungan dengan jaringan yang menempatkan siswa
di tengah-tengah proses pembelajaran, dikelilingi oleh berbagai sumber belajar dan
layanan belajar elektronik. Untuk itu, sistem pendidikan konvensional seharusnya
menunjukkan sikap yang bersahabat dengan alternatif cara belajar yang baru yang sarat
dengan teknologi.
1.1.Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah
data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data

26

dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi
yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis,
dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, system
jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai
dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan
diakses secara global. Arti teknologi informasi bagi dunia pendidikan seharusnya berarti
tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program
pendidikan. Pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pendidikan sudah merupakan
kelaziman. Membantu menyediakan komputer dan jaringan yang menghubungkan rumah
murid dengan ruang kelas, guru, dan administrator sekolah. Semuanya dihubungkan ke
Internet, dan para guru dilatih menggunakan komputer pribadi.
Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah
mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan,
hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan,
berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang
satu dengan pribadi atau kelompok yang

27

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Paradigma Pemanfaatan Teknologi Informasi (TI)

Yang perlu diperhatikan sejak awal adalah bahwa penggunaan TI tidak sama
dengan otomatisasi. TI tidak hanya memecahkan masalah dengan menggantikan pekerjaan
yang selama ini dilakukan dengan manual menjadi berbantuan teknologi. Jika paradigma
berpikir itu yang digunakan, maka pemanfaatan TI, menurut Hammer dan Champy (1993),
tidak akan membawa perubahan radikal. Cara berpikir deduktif (deductive thinking)
seperti ini tidak banyak memunculkan perubahan yang radikal terkait dengan pemanfaatan
TI dibandingkan jika berpikir secara induktif (inductive thinking).
Orang yang berpikir secaradeduktif, pertama kali mencari masalah yang akan
dipecahkan dan kemudian mengevaluasi sejumlah alternatif solusi yang akan digunakan.
Jika TI ingin dioptimalkan pemanfaatannya dalam organisasi maka manajer/pemimpin harus
berpikirinduktif. Potensi TI harus dikenali dengan baik terlebih dahulu, kemudian mencari
masalah yang mungkin dipecahkan. Masalah ini mungkin bahkan tidak dikenali sebelumnya
atau tidak dianggap sebagai masalah.
Pertanyaan

yang

harus

dimunculkan

bukannya,

Bagaimana

kita

dapat

menggunakan kemampuan TI untuk meningkatkan apa yang telah kita kerjakan?, tetapi
Bagaimana kita dapat menggunakan TI untuk mengerjakan apa yang
belum kita kerjakan?. Pertanyaan yang pertama lebih terkait dengan
otomatisasi,
yang juga dapat meningkatkan efisiensi, namun tidak sebaik yang dihasilkan
oleh
rekayasa-ulang(reengineering) berbantuan TI. Rekayasa ulang ini banyak
dilakukan oleh dunia industri.
Dengan sudut pandang yang lain, Davenport dan Short (1990)
mendefinisikan 10 peran yang dapat dimainkan oleh TI, yaitutransactional,
geographical, automatical, analytical, informational, sequential, knowledge
management, tracking, dan disintermediation. Semua peran TI ini dapat
dikontekstualisasikan dengan kebutuhan dunia pendidikan. Dalam bahasa yang lain, AlMashari dan Zairi (2000) menyatakan bahwa manfaat TI adalah pada kemampuannya yang :

28

1.enabling parallelism;
2.facilitating integration;
3.enhancing decision making; dan
4.minimizing points of contact.
Pemahaman terhadap peran yang dapat dimainkan oleh TI atau potensi yang
ditawarkan oleh TI merupakan modal awal dalam berpikirinduktif. Dengan demikian,
akhirnya, TI dapat diekspoitasi untuk mendapatkan manfaat yang maksimal.
2.2. Peran Teknologi Informasi (TI) Dalam Modernisasi Pendidikan
Menurut Resnick (2002) ada tiga hal penting yang harus dipikirkan ulang
terkait dengan modernisasi pendidikan:
1. Bagaimana kita belajar (how people learn);
2. Apa yang kita pelajari (what people learn);
3. Kapan dan dimana kita belajar (where and when people learn).
Dengan mencermati jawaban atas ketiga pertanyaan ini, dan potensi TI yang bisa
dimanfaatkan seperti telah diuraikan sebelumnya, maka peran TI dalam moderninasi
pendidikan bangsa dapat dirumuskan. Hubungan antara TI dan reformasi pendidikan secara
grafis diilustrasikan pada Gambar 2.1.
Pertanyaan pertama, bagaimana kita belajar, terkait dengan metode atau model
pembelajaran. Cara berinteraksi antara guru dengan siswa sangat menentukan model
pembelajaran. Terkait dengan ini, menurut Pannen (2005), saat ini terjadi perubahan
paradigma pembelajaran terkait dengan ketergantungan terhadap guru dan peran guru
dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran seharusnya tidak 100% bergantung
kepada guru lagi (instructor dependent) tetapi lebih banyak terpusat kepada siswa
(student-centered learning atauinstructor
independent). Guru juga tidak lagi dijadikan satu satunya rujukan semua

29

pengetahuan tetapi lebih sebagai fasilitator atau konsultan (Resnick, 2002).

yang juga dapat meningkatkan efisiensi, namun tidak sebaik yang dihasilkan
oleh
rekayasa-ulang(reengineering) berbantuan TI. Rekayasa ulang ini banyak
dilakukan oleh dunia industri.
Dengan sudut pandang yang lain, Davenport dan Short (1990)
mendefinisikan 10 peran yang dapat dimainkan oleh TI, yaitutransactional,
geographical, automatical, analytical, informational, sequential, knowledge
management, tracking, dan disintermediation. Semua peran TI ini dapat
dikontekstualisasikan dengan kebutuhan dunia pendidikan. Dalam bahasa yang lain, AlMashari dan Zairi (2000) menyatakan bahwa manfaat TI adalah pada kemampuannya yang :
1.enabling parallelism;
2.facilitating integration;
3.enhancing decision making; dan
4.minimizing points of contact.
Pemahaman terhadap peran yang dapat dimainkan oleh TI atau potensi yang
ditawarkan oleh TI merupakan modal awal dalam berpikirinduktif. Dengan demikian,
akhirnya, TI dapat diekspoitasi untuk mendapatkan manfaat yang maksimal.

2.2. Peran Teknologi Informasi (TI) Dalam Modernisasi Pendidikan


Menurut Resnick (2002) ada tiga hal penting yang harus dipikirkan ulang

terkait dengan modernisasi pendidikan:


1. Bagaimana kita belajar (how people learn);
2. Apa yang kita pelajari (what people learn);
3. Kapan dan dimana kita belajar (where and when people learn).
Dengan mencermati jawaban atas ketiga pertanyaan ini, dan potensi TI yang bisa
dimanfaatkan seperti telah diuraikan sebelumnya, maka peran TI dalam moderninasi

30

pendidikan bangsa dapat dirumuskan. Hubungan antara TI dan reformasi pendidikan secara
grafis diilustrasikan pada Gambar 2.1.
Pertanyaan pertama, bagaimana kita belajar, terkait dengan metode atau model
pembelajaran. Cara berinteraksi antara guru dengan siswa sangat menentukan model
pembelajaran. Terkait dengan ini, menurut Pannen (2005), saat ini terjadi perubahan
paradigma pembelajaran terkait dengan ketergantungan terhadap guru dan peran guru
dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran seharusnya tidak 100% bergantung
kepada guru lagi (instructor dependent) tetapi lebih banyak terpusat kepada siswa
(student-centered learning atauinstructor
independent). Guru juga tidak lagi dijadikan satu satunya rujukan semua
pengetahuan tetapi lebih sebagai fasilitator atau konsultan (Resnick, 2002).

Gambar 2.1. Intervensi TI dalam reformasi pendidikan

Intervensi yang bisa dilakukan TI dalam model pembelajaran ini sangat jelas.
Hadirnyaelear ning dengan semua variasi tingkatannya telah memfasilitasi perubahan ini.
Secara umum, e-learning dapat didefinisikan sebagai pembelajaran yang disampaikan
melalui semua media elektronik termasuk, Internet, intranet, extranet, satelit, audio/video
tape, TV interaktif, dan CD ROM (Govindasamy, 2002). Menurut Kirkpatrick (2001), elearning telah mendorong demokratisasi pengajaran dan proses pembelajaran dengan

31

memberikan kendali yang lebih besar dalam pembelajaran kepada siswa. Hal ini sangat
sesuai dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional seperti termaktub dalam Pasal
4 Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang
menyatakan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta
tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai
kultural, dan kemajemukan bangsa.
Secara umum, intervensi e-learning dalam proses pembelajaran dapat
dikelompokkan menjadi dua:komplementer dansubstitusi. Yang pertama
Bagaimana kita belajar ?
Dimana dan kapan kita belajar ?
Apa yang kita pelajari ?
Teknologi Informasi
mengandaikan bahwa cara pembelajaran dengan pertemuan tatap-muka masih berjalan
tetapi ditambah dengan model interaksi berbantuan TI, sedang yang kedua sebagian besar
proses pembelajaran dilakukan berbantuan TI. Saat ini, regulasi yang dikeluarkan oleh
pemerintah juga telah memfasilitasi pemanfaatan e-learning sebagai substitusi proses
pembelajaran konvensional. Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 107/U/2001
dengan jelas membuka koridor untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh di mana elearning dapat masuk memainkan peran.
Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang kita pelajari. Pertanyaan- pertanyaan
seperti apakah kurikulum telah sesuai dengan kebutuhan siswa dan apakah kurikulum telah
dirancang untuk menyiapkan siswa untuk hidup dan bekerja pada masa yang akan datang
perlu sekali lagi dilontarkan. Perkembangan TI yang sangat pesat harus dipertimbangkan
dalam menjawab pertanyaan- pertanyaan ini. Menurut Resnick (2002), selain TI akan sangat
mewarnai masa depan, TI juga mengubah tidak hanya terhadap apa yangseharusnya
dipelajari oleh siswa, tetapi juga apa yangdapat dipelajari. Sangat mungkin banyak hal yang
seharusnya atau dapat dipelajari siswa tetapi tidak bisa dimasukkan ke dalam kurikulum

32

karena ruang yang terbatas atau kompleksitas yang tinggi dalam mengajarkannya. Terkait
dengan ini, paradigma pembelajaran yang sebelumnya mengandaikan bahwa sumberdaya
pembelajaran hanya terbatas pada materi di kelas dan buku harus diubah. Hadirnya TI,
terutama Internet, telah menyediakan sumberdaya pembelajaran yang tidak terbatas.
Pertanyaan sederhana yang muncul
adalah bagaimana mereka belajar? Jawabannya sangat lugas: akses terhadap komputer
dan Internet telah memungkinkan hal itu terjadi. Contoh lain, yang tertarik dengan teknologi
informasi tetapi tidak mempunyai kesempatan untuk duduk di bangku sekolah/kuliah bisa
mengunjungi www.ilmukomputer.com yang menyediakan sumberdaya pembelajaran gratis.
Diskusi seperti ini dapat diperpanjang untuk tidak membatasi pembelajaran hanya
pada institusi formal. Sudah saatnya learning society dikampanyekan sebagai salah satu
manifestasi kesadaran semangat pembelajaran sepanjang hayat (long-life learning).
Bukankah kita tidak jarang merasa tidak tahu apa yang harus dipelajari karena tidak tersedia
sarana/informasi tentang itu? Karenanya, gerakan untuk membuka akses informasi dan
pengetahuan seluas- seluasnya kepada masyarakat menjadi sebuah keharusan. Teknologi
informasi, terutama Internet, dalam hal ini memberikan peluang untuk itu.
Kapan dan dimana belajar dilakukan adalah pertanyaan ketiga yang perlu
dipikirkan kembali jawabannya. Apakah harus dalam ruangan kelas dalam waktu tertentu
atau tidak terbatas ruang dan waktu? Model pembelajaran tatap-muka yang banyak
membatasi waktu dan tempat belajar. Sebagaikomplemen (atau
substitusi), teknologi e-learning hadir untuk memberikan kebebasan kepada
siswa
dalam memilih tempat, waktu, dan ritme belajar (Kirkpatrick, 2004). Interaksi yang difasilitasi
oleh TI ini dapat terjadi secara sinkron (pada waktu yang sama) maupun asinkron (dalam
waktu yang berbeda).

33

E-learning dapat difasilitasi secara online maupun offline tetapi berbantuan TI.
Produksi CD-ROM dengan konten materi pembelajaran termasuk di dalamnya. Kini, kita bisa
dapatkan banyak CD-ROM untuk pembelajaran di pasaran; mulai untuk balita. Bahkan
beberapa CD-ROM telah memfasilitasi siswa belajar sesuai dengan kurikulum yang sedang
berjalan dengan kemasan yang menarik. Dalam hal ini, TI dapat menghadirkan digital
excitement dalam proses pembelajaran. Salah satu perusahaan yang memproduksi CDROM semacam ini adalah Akal (www.akalinteraktif.com).
Untuk menfasilitasi e-learning dengan bantuan koneksi Internet, dalam beberapa
tahun terakhir, telah dikembangkan banyak aplikasi yang dirancang untuk mendukung
proses pembelajaran. Aplikasi ini sering disebut dengan
Learning Management System (LMS). LMS ini mengintegrasikan banyak fungsi
yang mendukung proses pembelajaran seperti menfasilitasi berbagai macam bentuk materi
instruksional (teks, audio, video), e-mail, chat, diskusi online, forum, kuis, dan penugasan.
Beberapa contoh LMS adalah WebCT (www.webct.com), Blackboard (www.blackboard.
com),

Macromedia

Breeze

(www.macromedia.com/software/breeze/),

dan

Fronter

(www.fronter.no). LMS sudah banyak diadopsi oleh banyak lembaga pendidikan di dunia.
Sebagi contoh, WebCT telah digunakan lebih dari 2200 PT di seluruh dunia (Pituch dan Lee,
2004). Blackboard juga sudah banyak digunakan oleh pendidikan setingkat SMU
(www.blackboard.com).

adalah bagaimana mereka belajar? Jawabannya sangat lugas: akses terhadap komputer
dan Internet telah memungkinkan hal itu terjadi. Contoh lain, yang tertarik dengan teknologi

34

informasi tetapi tidak mempunyai kesempatan untuk duduk di bangku sekolah/kuliah bisa
mengunjungi www.ilmukomputer.com yang menyediakan sumberdaya pembelajaran gratis.
Diskusi seperti ini dapat diperpanjang untuk tidak membatasi pembelajaran hanya
pada institusi formal. Sudah saatnya learning society dikampanyekan sebagai salah satu
manifestasi kesadaran semangat pembelajaran sepanjang hayat (long-life learning).
Bukankah kita tidak jarang merasa tidak tahu apa yang harus dipelajari karena tidak tersedia
sarana/informasi tentang itu? Karenanya, gerakan untuk membuka akses informasi dan
pengetahuan seluas- seluasnya kepada masyarakat menjadi sebuah keharusan. Teknologi
informasi, terutama Internet, dalam hal ini memberikan peluang untuk itu.
Kapan dan dimana belajar dilakukan adalah pertanyaan ketiga yang perlu
dipikirkan kembali jawabannya. Apakah harus dalam ruangan kelas dalam waktu tertentu
atau tidak terbatas ruang dan waktu? Model pembelajaran tatap-muka yang banyak
membatasi waktu dan tempat belajar. Sebagaikomplemen (atau
substitusi), teknologi e-learning hadir untuk memberikan kebebasan kepada
siswa
dalam memilih tempat, waktu, dan ritme belajar (Kirkpatrick, 2004). Interaksi yang difasilitasi
oleh TI ini dapat terjadi secara sinkron (pada waktu yang sama) maupun asinkron (dalam
waktu yang berbeda).
E-learning dapat difasilitasi secara online maupun offline tetapi berbantuan TI.
Produksi CD-ROM dengan konten materi pembelajaran termasuk di dalamnya. Kini, kita bisa
dapatkan banyak CD-ROM untuk pembelajaran di pasaran; mulai untuk balita. Bahkan
beberapa CD-ROM telah memfasilitasi siswa belajar sesuai dengan kurikulum yang sedang
berjalan dengan kemasan yang menarik. Dalam hal ini, TI dapat menghadirkan digital
excitement dalam proses pembelajaran. Salah satu perusahaan yang memproduksi CDROM semacam ini adalah Akal (www.akalinteraktif.com).

35

Untuk menfasilitasi e-learning dengan bantuan koneksi Internet, dalam beberapa


tahun terakhir, telah dikembangkan banyak aplikasi yang dirancang untuk mendukung
proses pembelajaran. Aplikasi ini sering disebut dengan
Learning Management System (LMS). LMS ini mengintegrasikan banyak fungsi
yang mendukung proses pembelajaran seperti menfasilitasi berbagai macam bentuk materi
instruksional (teks, audio, video), e-mail, chat, diskusi online, forum, kuis, dan penugasan.
Beberapa contoh LMS adalah WebCT (www.webct.com), Blackboard (www.blackboard.
com),

Macromedia

Breeze

(www.macromedia.com/software/breeze/),

dan

Fronter

(www.fronter.no). LMS sudah banyak diadopsi oleh banyak lembaga pendidikan di dunia.
Sebagi contoh, WebCT telah digunakan lebih dari 2200 PT di seluruh dunia (Pituch dan Lee,
2004). Blackboard juga sudah banyak digunakan oleh pendidikan setingkat SMU
(www.blackboard.com).
Banyak kritik dialamatkan kepada penggunaan LMS yang dianggap tidak
membertimbangkan aspek pedagogis. Karenanya, menurut Institute for Higher Education
Policy, Amerika (dalam Govindasamy, 2002) terdapat tujuh parameter yang perlu
diperhatikan dalam menerapkan e-learning yang mempertimbangkan
prinsip-prinsip pedagogis, yaitu:
1.Institutional support;
2.Course development;
3.Teaching and learning;
4.Course structure;
5.Student support;
6.Faculty support;
7.Evaluation and assessment.

36

Karenanya, dalam bahasan yang lain, Soekartawi (2003) mengidentifikasi bahwa


keberhasilan implementasi e-learning sangat tergantung kepada penilaian apakah:
a. E-learning itu sudah menjadikan suatu kebutuhan;
b. Tersedianya infrastruktur pendukung seperti telepon dan listrik
c. Tersedianya fasilitas jaringan internet dan koneksi Internet;
d. Software pembelajaran (learning management system);
e. Kemampuan dan ketrampilan orang yang mengoperasikannya;
f. Kebijakan yang mendukung pelaksanaan program e-learning.
Dalam konteks yang lebih luas, yaitu dalam manajemen dunia pendidikan,
berdasar studi tentang tujuan pemanfaatan TI di dunia pendidikan terkemuka di
Amerika, Alavi dan Gallupe (2003) menemukan beberapa tujuan pemanfaatan
TI,
yaitu :
1. Memperbaiki competitive positioning;
2. Meningkatkan brand image;
3. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran;
4. Meningkatkan kepuasan siswa;
5. Meningkatkan pendapatan;
6. Memperluas basis siswa;
7. Meningkatkan kualitas pelayanan;
8. Mengurangi biaya operasi;
9. Mengembangkan produk dan layanan baru.
Karenanya, tidak mengherankan jika saat ini banyak perguruan tinggi di Indonesia yang
berlombalomba berinvestasi dalam bidang TI untuk memenangkan persaingan yang
semakin ketat.
2.3. Analisis SWOT Terhadap Pendidikan Berbasis Teknologi Informasi (TI)
Untuk menyatakan peran dan fungsi teknologi informasi pada pendidikan maka perlu
dianalisis dengan metode SWOT (strength, weakness, opportunity, and threat). Adapun
tahap analisis SWOT menurut Rangkuti (1977) adalah :
a. Identifikasi faktor-faktor eksternal dan internal

37

b. Memberi nilai peubah dengan pembobotan serta rating dari 1 sampai 5. Bobot dikalikan rating
dari setiap faktor untuk mendapatkan skor untuk faktor-faktor tersebut.

Sesuai dengan pola empat sel kuadran metode SWOT berikut ini akan dijelaskan posisi
institusi pendidikan dalam perpaduan antara kondisi internal dan eksternal untuk
menyatakan peran dan fungsi teknologi informasi
Peluang Lingkungan
(Opportunities)
Sel 3 : Mendukung Strategi
Turn Around
Sel 1 : Mendukung Strategi
Agresif

Kelemahan Internal
(Weaknesses)
Kekuatan Internal
(Strengths)

Sel 4 : Mendukung Strategi


Defensif / Survival
Sel 2 : Mendukung Strategi
Diversifikasi

Ancaman Lingkungan
(Threats)

Gambar 2.2 Diagram Analisis SWOT

Sel satu adalah situasi yang paling menguntungkan, institusi pendidikan


menghadapi beberapa lingkungan dan mempunyai kekuatan yang mendorong dalam
pemanfaatan peluang yang ada.
Sel dua adalah situasi dimana institusi pendidikan dengan kekuatan
internal menghadapi suatu lingkungan yang tidak menguntungkan.
Sel tiga adalah institusi pendidikan menghadapi lingkungan yang sangat
menguntungkan tetapi tidak memiliki kemampuan untuk menangkap peluang.

Sel empat adalah situasi perusahaan yang paling tidak menguntungkan. Institusi
pendidikan menghadapi ancaman lingkungan yang utama dari suatu posisi yang relative
lemah.
Berikut untuk memperjelas posisi institusi pendidikan serta peran dan fungsi
teknologi informasi maka akan dipetakan posisi institusi pendidikan berupa matrik SWOT
yaitu akan dilihat gabungan antara pemanfaatan kekuatan untuk menangkap peluang,

38

mengatasi kelemahan dengan mengambil kesempaatan, menggunakan kekuatan untuk


menghindari ancaman, meminimalkan kelemahan dan menghindarkan ancaman.:
Eksternal factor
Internal Faktor
Opportunities (O)
Identifikasi Peluang
Threats (T)
Identifikasi Ancaman
1.Tersedia alat-alat teknologi
informasi
(sarana
dan
prasarana)
2. Lingkungan pendidikan
yang terjangkaun etwo rk in g
3.Tersedia lembaga lembaga
pendukung pendidikan
4. Sumber Daya alam yang
mendukung.
1 Tidak tersedia alat-alat teknologi informasi (sarana dan prasarana)
2. Lingkungan pendidikan
yang
tidak
terjangkau
networking
3. Tidak tersedia lembaga
lembaga
pendukung
pendidikan
4. Sumber Daya alam yang
tidak mendukung.

Strengths (S)
Identifikasi Pendidikan
1. Sumber Daya Manusia yang
akrab
dengan

teknologi
informasi
2. Tersedianya dana
3. Persetujuan seluruh anggota
yang terlibat.

Strategi SO
SDM yang uggul, dana yang
tersedia dan
persetujuan seluruh anggota
merupakan
kekuatan
yang
dapat
menangkap peluang
untuk menyediakan sarana dan
prasarana,
menyediakannetworking serta
mendapat
dukungan
dari
lembaga
pendidikan dan
dapat memanfaatkan SDA
yang ada.
Keadaan
ini
institusi

39

pendidikan disarankan

Strategi ST
SDM yang uggul, dana yang
tersedia dan
persetujuan seluruh anggota
merupakan
kekuatan
tetapi
mendapat
ancaman dari
lingkungan berupa sarana dan
prasarana
yang
tidak
tersedia,
networking tidak
terjangkau, lembaga terkait
tidak
mendukung, SDA yang tidak
memadai.
Keadaan institusi pendidikan
disarankan
menggunakan kekuatan yang

menggunakan kekuatan untuk


memanfaatkan peluang.
dimiliki
untuk
menghindarkan
ancaman.

40

Weaknesses (W)
Identifikasi Kelemahan
1. Sumber Daya Manusia yang
asing
dengan
teknologi
informasi
2. Kurang tersedianya dana
3. Tidak ada Persetujuan
seluruh anggota yang terlibat.

Strategi WO

SDM yang jelek, dana yang


tidak tersedia
dan tidak ada persetujuan dari
anggota
merupakan kelemahan yang
berakibat tidak
dapat menangkap peluang
berupa sarana
dan prasarana, lingkungan
yang tersedia
networking,
lembaga
pendidikan yang
mendukung serta sumber daya
alam yang
memadai. Keadaan institusi
pendidikan
disarankan
untuk
memanfaatkan peluang
ada dengan meminimalkan
kelemahan yang
ada.

Strategi WT
SDM yang jelek, dana yang
tidak tersedia
dan tidak ada persetujuan dari
anggota
merupakan kelemahan yang
diperparah oleh
ancaman
dari
lingkungan
berupa sarana dan
prasarana yang tidak tersedia,
tidak
terjangkaunya
networking,
tidak mendapat
dukungan dari lingkungan
terkait, SDA
yang tidak tersedia. Keadaan
institusi
pendidikan disarankan bersifat
defensive
dan berusaha meminimalkan
kelemahan
yang ada serta menghindari
ancaman.
Gambar 2.3 Matriks SWOT

41

Disinilah

peran

dan

fungsi

teknologi

informasi

untuk

menghilangkan

berkembangnya sel dua, tiga dan empat berkembang di banyak institusi pendidikan yaitu
dengan cara:
1. Meminimalisir kelemahan internal dengan mengadakan perkenalan teknologi informasi global
dengan alat teknologi informasi itu sendiri (radio, televisi, computer )
2. Mengembangkan teknologi informasi menjangkau seluruh daerah dengan
teknologi informasi itu sendiri (Wireless Network connection, LAN )
3. Pengembangan warga institusi pendidikan menjadi masyarakat berbasis teknologi
informasi agar dapat berdampingan dengan teknologi informasi melalui alat-alat teknologi
informasi.
Peran dan fungsi teknologi informasi dalam konteks yang lebih luas, yaitu dalam
manajemen dunia pendidikan, berdasar studi tentang tujuan pemanfaatan TI di dunia
pendidikan terkemuka di Amerika, Alavi dan Gallupe (2003) menemukan beberapa tujuan
pemanfaatan TI, yaitu :
1. Memperbaiki competitive positioning;
2. Meningkatkan brand image;
3. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran;
4. Meningkatkan kepuasan siswa;
5. Meningkatkan pendapatan;
6. Memperluas basis siswa;
7. Meningkatkan kualitas pelayanan;
8. Mengurangi biaya operasi;
9. Mengembangkan produk dan layanan baru.
Karenanya, tidak mengherankan jika saat ini banyak institusi pendidikan di
Indonesia yang berlombalomba berinvestasi dalam bidang TI untuk memenangkan
persaingan yang semakin ketat. Maka dari itu untuk memenangkan pendidikan yang

42

bermutu maka disolusikan untuk memposisikan institusi pendidikan pada sel satu yaitu
lingkungan peluang yang menguntungkan dan kekuatan internal yang kuat.

2.4. Faktor-Faktor Pendukung Pendidikan Berbasis Teknologi Informasi


(TI)

Pendidikan Berbasis Teknologi Informasi (TI) memiliki peran menggeser


lima cara dalam proses pembelajaran yaitu:
1. Dari pelatihan ke penampilan.
2. Dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja.
3. Dari kertas ke on line atau saluran.
4. Fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja.
5. Dari waktu siklus ke waktu nyata, Rosenberg (2001).
Teknologi informasi yang merupakan bahan pokok dari e-learning itu sendiri
berperan dalam menciptakan pelayanan yang cepat, akurat, teratur, akuntabel dan
terpecaya. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka ada beberapa factor yang
mempengaruhi teknologi informasi yaitu:
1. Infrastruktur
2. Sumber Daya Manusia
3. Kebijakan
4. Finansial
5. Konten dan Aplikasi.
Maksud dari faktor diatas adalah agar teknologi informasi dapat berkembang
dengan pesat ,pertama dibutuhkan infrastruktur yang memungkinkan akses informasi di
manapun dengan kecepatan yang mencukupi.
Kedua, faktor SDM menuntut ketersediaan human brain yang menguasai
teknologi tinggi.Ketiga, faktor kebijakan menuntut adanya kebijakan berskala
makro dan mikro yang berpihak pada pengembangan teknologi informasi jangka
panjang.Keem pat, faktor finansial membutuhkan adanya sikap positif dari bank dan
lembaga keuangan lain untuk menyokong industri teknologi informasi.

43

Kelima, faktor konten dan aplikasi menuntut adanya informasi yang disampai

pada orang, tempat, dan waktu yang tepat serta ketersediaan aplikasi untuk
menyampaikan konten tersebut dengan nyaman pada penggunanya.
Pendidikan Berbasis Teknologi Informasi (TI) yang merupakan salah satu produk
teknologi informasi tentu juga memiliki faktor pendukung dalam terciptanya pendidikan yang
bermutu, adapun factor - faktor tersebut ;Per tam a, harus ada kebijakan sebagai payung
yang antara lain mencakup sistem pembiayaan dan arah pengembangan.Kedua,
pengembangan isi atau materi, misalnya kurikulum harus berbasis teknologi informasi dan
komunikasi. Dengan demikian, nantinya yang dikembangkan tak sebatas operasional atau
latihan

penggunaan

komputer.Ketiga,

persiapan

tenaga

mengajar,

dan

terakhir,

penyediaan perangkat kerasnya.


2.5. Masalah Akibat Penggunaan TI
Seperti teknologi lain yang telah hadir ke muka bumi ini, TI juga hadir dengan
dialektika. Selain membawa banyak potensi manfaat, kehadiran TI juga dapat membawa
masalah. Khususnya Internet, penyebaran informasi yang tidak mungkin terkendalikan telah
membuka akses terhadap informasi yang tidak bermanfaat dan merusak moral. Karenanya,
penyiapan etika siswa juga perlu
dilakukan. Etika yang terinternalinasi dalam jiwa siswa adalahfirewall terkuat
dalam menghadang serangan informasi yang tidak berguna.
Masalah lain yang muncul terkait asimetri akses; akses yang tidak merata. Hal ini
akan menjadikan kesenjangan digital (digital divide) semakin lebar antara siswa atau
sekolah dengan dukungan sumberdaya yang kuat dengan siswa atau sekolah dengan
sumberdaya yang terbatas (lihat juga Lie, 2004). Minimal, hal ini memberikan sinyal adanya
kesenjangan digital antar kelompok dalam masyarakat, baik dikategorikan menurut lokasi
geografis maupun tingkat ekonomi.

44

Untuk masalah kesenjangan ini, semua pihak (e.g. pemerintah, lembaga swadaya
masyarakat (LSM), dunia pendidikan, dan industri) dapat mulai memikirkan program untuk
meningkatkan dan memeratakan aksesterhadap teknologi informasi di dunia pendidikan.
Program yang difasilitasi oleh Sekolah2000 (www.sekolah2000.or.id) dengan membagikan
komputer layak pakai ke sekolah-sekolah adalah sebuah contoh menarik. Tentu saja
program seperti ini harus diikuti dengan penyiapan infrastruktur lain seperti listrik dan
telepon. Pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan melek (literacy) TI juga pintu masuk lain
yang perlu dipikirkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap potensi TI, yang pada
akhirnya

diharapkan

meningkatkan

kesadaran

(awareness).

Tanpaawareness,

pemanfaatan TI tidak optimal, dan yang lebih mengkhawatirkan lagi sulit untuk berkelanjutan
(sustainable). Dalam kaitan ini, program untuk peningkatan awareness yang berkelanjutan
seperti pendidikan berkelanjutan lewat berbagai media (e.g. pelatihan konvensional dan
media

45

Pesatnya perkembangan IT, khususnya Internet, memungkinkan pengembangan layanan


informasi yang lebih baik dalam bidang pendidikan. Pemanfaatan IT dalam bidang
pendidikan bertujuan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, sehingga tersedia
layanan informasi yang lebih baik untuk peserta didik. Layanan pendidikan dapat
dilaksanakan melalui sarana internet. Misalnya berupa penyediaan materi pembelajaran
secara online dan materi tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.
Kondisi pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan pada saat ini, baru memasuki tahap
mempelajari kemungkinan untuk pengembangan dan penerapan IT tersebut. Secara teori,
terdapat banyak manfaat dan kemudahan yang dapat dirasakan dengan pemanfaatan IT.
Namun dalam kondisi nyata, kenapa pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan masih
belum optimal?
Hal ini disebabkan karena terdapat beberapa kendala penerapan IT di bidang pendidikan.
Kendala tersebut antara lain adalah kemampuan tingkat manajerial di pemerintah yang
sebagian besar tidak memiliki basis teknologi informasi khususnya teknologi Internet,
sehingga banyak sekali pekerjaan yang lebih efisien dengan penerapan teknologi
informasi tidak dilirik atau bahkan dihindari penerapannya.
Selanjutnya, tidak terdapat komitmen yang kuat dari pemerintah yang mengakibatkan
kacaunya penerapan teknologi informasi khususnya teknologi Internet di lingkungan
pendidikan. Kalaupun institusi pendidikan ditekan untuk memanfaatkan teknologi
informasi, biasanya Kepala atau Pimpinan institusinya tidak mengetahui dengan persis
apa yang harus mereka lakukan, sehingga akhirnya mencari konsultan yang berbasis
vendor tertentu dan berakibat seluruh proyeknya dikuasai oleh keuntungan semata, bukan
menomorsatukan pemanfaatannya.
Kemudian yang menjadi kendala penerapan IT di bidang pendidikan adalah alasan klise
yang memang nyata, yaitu terlalu luasnya Indonesia, sehingga penerapannya IT belum
merata. Masih banyak sarana- sarana di sekolah yang belum memadai untuk penerapan
IT. Bagaimana mungkin sebuah sekolah akan menerapkan pembelajaran dengan media
IT, jika masalah penyediaan komputer saja masih belum dapat diatasi
Keterbatasan biaya dan tenaga operasional juga menjadi kendala. Untuk bisa
memanfaatkan IT tentu perlu adanya tenaga khusus yang mengelola media tersebut,
karena tidak setiap guru mampu mengoperasikan media IT. Untuk sekolah yang
mempunyai kemampuan baik tenaga maupun biaya tentu tidak akan menjadi masalah,
46

namun bagi sekolah yang miskin dan tenaga gurunya pas-pasan, kondisi ini merupakan
masalah baru yang sulit diatasi.
Selanjutnya, mungkin saja kepala sekolah dan guru kurang menyadari pentingnya media
pendidikan. Ditambah lagi dengan anggapan sebagian stakeholder bahwa pemanfaatan
media pendidikan bagi sekolah terkesan mahal. Biasanya, beban orang tua siswa pun
menjadi lebih berat. Sebab untuk memenuhi kebutuhan akan media IT tersebut, salah
satu sumber dana sekolah adalah dengan membebankan kepada orang tua siswa.
Kendala selanjutnya adalah persepsi yang salah terhadap media pembelajaran. Alasan
yang sering didengar, mengapa guru enggan memanfaatkan media pembelajaran karena
dengan memanfaatkan media tersebut jam pelajaran siswa menjadi terganggu.
Kondisinya memang cukup memperihatinkan. Artinya persepsi guru terhadap media
pembelajaran masih salah. Padahal seharusnya justru dengan bantuan media IT, materi
yang disampaikan lebih jelas dan konpreherensif karena pemahaman siswa diharapkan
hampir sama. Akibatnya guru juga merasa terbebani, karena dituntut harus lebih kreatif
dan memiliki persiapan pengajaran yang lebih matang. ada waktunya.
Setelah membahas sekian banyak kendala penerapan IT, saya menawarkan beberapa
solusi untuk pemecahan masalah tersebut. Antara lain, perlu disadari dan dipahami betul
bahwa pemerintah punya peran yang sangat penting dalam peningkatan penggunaan
teknologi informasi dan komputer untuk kemajuan bangsa Indonesia. Dibutuhkan
komitmen dan kesungguhan dari pemerintah untuk menerapakan IT dalam bidang
pendidikan. Lembaga pemerintah seperti Pustekkom, yang mengemban misi untuk
berperan serta aktif dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan nasional dan
pengembangan sumber daya manusia melalui pengembangan dan pendayagunaan
teknologi komunikasi dan informasi, harus lebih dioptimalkan lagi kinerjanya.
Kemudian , perlu diadakan penyuluhan-penyuluhan dan pencerdasan kepada masyarakat
tentang manfaat penerapan IT terutama di dalam bidang pendidikan. Hal ini dilakukan
untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Indonesia dalam pemanfaatan teknologi
informasi. Guru-guru di sekolah hendaknya juga diberikan pelatihan agar dapat
mengelola media pendidikan dengan IT, dengan demikian tidak diperlukan lagi tenaga
khusus untuk pemeliharaaan media IT dan biaya yang dikeluarkan pihak sekolah pun
akan berkurang.
Penting untuk kepala sekolah dan guru untuk menyadari manfaat dari penggunaan media
IT dalam pendidikan. Anggapan bahwa pemanfaatan media pendidikan bagi sekolah
terkesan mahal harus dihilangkan. Guru guru pun juga harus dilatih dan terbiasa untuk
lebih kreatif dalam memberikan bahan pembelajaran. Untuk kontinuitas apresiasi
masyarakat terhadap teknologi informasi, Departemen Pendidikan Nasional harus
menerapkan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komputer sejak dini sehingga
usia produktif dapat betul-betul memanfaatkan teknologi untuk kemajuan bangsa
Indonesia secara menyeluruh.
Untuk masalah infrastruktur yang belum merata di seluruh daerah, tentu sebagian besar
merupakan tanggung jawab pemerintah. Namun untuk daerah-daerah yang sulit
terjangkau oleh teknologi informasi, perlu diterapkan penggunaan alat-alat teknologi
alternatif yang pada saat ini telah banyak ditemukan. Sehingga tidak perlu mengeluarkan
biaya yang besar, agar dapat merasakan manfaat dan kemudahan yang diberikan oleh
teknologi informasi
47

48