Anda di halaman 1dari 29

Case Report

Hernia Inguinalis lateral dextra


reponibilis

Disusun oleh:
Haryadi Ahmad, SKed
(NPM: 110205109)

Pembimbing:
Dr. Hadiyana SpB

Departemen Ilmu Bedah RS dr Slamet


Garut, Februari 2012
1

BAB I
ILUSTRASI KASUS
I. 1. Anamnesis
Identitas
Nama

Tn M

Usia

46 tahun

Jenis kelamin

Laki-laki

Status

menikah

Alamat

Kp.Bojong, Garut

Agama

Islam

Suku

Sunda

Pendidikan

tamat SD

Pekerjaan

Buruh

Tanggal masuk

08 Februari 2012

Pembiayaan

Jamkesmas

Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 08 Februari 2012.


Keluhan utama
Benjolan di kantung kemaluan sebelah kanan sejak 3 tahun sebelum masuk rumah sakit
(SMRS).
Riwayat penyakit sekarang
Sejak 3 tahun yang lalu, pasien merasakan adanya benjolan pada kantung kemaluan
sebelah kanan. Benjolan muncul tiba-tiba, disadari saat pasien buang air kecil, saat
istirahat bekerja. Benjolan berukuran kecil, lalu lama-kelamaan membesar. Benjolan
tersebut tidak terasa nyeri dan menghilang seluruhnya ketika pasien sedang berbaring dan
tidur. Benjolan ini hilang timbul, dan dipicu jika pasien mengangkat barang berat.
Pasien tidak pernah berobat ke puskesmas ataupun ke rumah sakit dan hanya pergi ke
2

tukang urut, dan diurut hingga benjolan menghilang.


Satu hari sebelum masuk rumah sakit, benjolan kembali muncul di tempat yang sama.
Benjolan muncul, sesaat setelah pasien mengangkat barang berat. Pasien lalu ke tukang
urut, sempat diurut, namun benjolan tidak mau menghilang, sehingga pasien ke rumah
sakit. Benjolan terasa nyeri terus-menerus, terutama jika dipegang, merah, dan terasa
hangat. Terdapat demam, mual dan muntah. Pasien sudah muntah dua kali, isi muntah
sesuai dengan makanan yg dikonsumsi. Pasien masih bisa makan dan minum. Tidak ada
penurunan berat badan.
Pasien belum buang air besar, namun masih bisa kentut. Pasien dapat buang air kecil
seperti biasa.
Riwayat penyakit dahulu
Pasien tidak menderita penyakit hipertensi, diabetes melitus, gangguan jantung, alergi,
asma dan riwayat batuk lama atau penyakit paru-paru.
Riwayat penyakit keluarga
DM, alergi, asma, keganasan pada keluarga disangkal. Riwayat hernia pada keluarga
disangkal.
Riwayat sosial, ekonomi, kebiasaan
Pembayaran dengan Jamkesmas. Pasien bekerja sebagai buruh sejak 5 tahun yang lalu.
Bekerja setiap hari dan mengangkat barang berat. Pasien perokok aktif, sejak 20 tahun
yang lalu, 5 batang/hari. Riwayat minum alkohol (-). Pasien menikah dengan 1 orang
anak. Riwayat keganasan disangkal.
I. 2. Pemeriksaan fisis
Tanggal 08 Februari 2012
Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan darah

: 130 / 70 mmHg

Nadi

: 88 kali/menit, teratur, isi cukup


3

Pernapasan

: 24 kali/menit, teratur, kedalaman cukup

Suhu

: 38,5 0C

Keadaan gizi

: Cukup

Kepala

: deformitas (-), rambut tidak mudah dicabut

Mata

: konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/- , pupil isokor, RCL +/+,

RCTL +/+
Telinga

: membran timpani intak +/+, serumen +/+

Hidung

: deviasi septum (-)

Tenggorokan

: faring hiperemis (-)

Thoraks

: simetris saat inspirasi dan ekspirasi

Jantung

: BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-)

Paru

: vesikuler +/+, rhonki-/-, wheezing -/-

Abdomen

Inspeksi

: datar, simetris

Palpasi

: lemas, NT (-), defens muskular (-)

Perkusi

: timpani

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Ekstremitas

: akral hangat, perfusi perifer baik, edema -/-

KGB

: tidak teraba pembesaran KGB

Status lokalis regio skrotalis

Inspeksi

: skrotum tidak simetris, membesar pada skrotum kanan, tidak tampak massa
pada permukaan, bewarna merah, ulkus (-)
4

Palpasi

: terdapat massa skrotum sebelah kanan, ukuran 9x8x8 cm, batas atas tidak
tegas, konsistensi lunak, nyeri (+), terasa hangat, mobilisasi sulit dinilai
karena pasien kesakitan.

Auskultasi : Bising usus (+) normal


Pemeriksaan Colok dubur

: TSA baik, mukosa licin,ampula tidak kolaps,


tidak teraba massa. Nyeri (-), Feses +, darah -,
lendir -

I. 3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium (08 Februari 2012)
Darah rutin
Hb

15.2

g/dL

(13-15)

Ht

43.

(40-52)

Eritrosit

5.08

juta/uL

(4.5-5.5)

Leukosit

15.4

103/uL ()

(3.8-10.5)

Trombosit

413

103/uL

(150-440)

Ureum darah

40

mg/dl

(15 - 50)

Kreatinin darah

0.68

mg/dl ()

(0.7 1.2)

SGOT

26

U/L

(<27)

SGPT

17

U/L

(<40)

Glukosa sewaktu

135

mg/dl

(<140)

Masa perdarahan

2.0

menit

(1-3)

Masa pembekuan

7.0

menit

(5-11)

Kimia klinik

Hemostasis

Foto Rontgen Thorax (08 februari 2012)

Kesimpulan : cor dan pulmo tidak tampak kelainan


Follow up tanggal 11 Februari 2012
S:
Benjolan sudah menghilang, masuk sendiri. Tidak nyeri. Tidak demam, dan tidak mual
muntah. Pasien sudah buang air besar. Buang air kecil tidak ada keluhan. Intake baik.
O:
TD : 120/80 mmHg, FN : 88 x/menit, RR : 18 x/menit, T : afebris
JP : vesikuler, rh-/-, wh -/-, BJ I,II normal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : datar, lemas, nyeri tekan (-), hati limpa tidak teraba, bising usus (+) normal.
Ekstremitas : akral hangat, CRT<3 detik, edema -/Status lokalis : skrotum simetris kanan dan kiri, tidak membesar. Tidak ada perubahan
warna, tidak nyeri.

I. 4. Resume
Laki-laki, usia 46 tahun datang dengan keluhan adanya benjolan pada kantung kemaluan
sebelah kanan sejak 3 tahun SMRS. Benjolan muncul tiba-tiba, bersifat hilang timbul,
berukuran kecil, lalu lama-kelamaan membesar. Tidak terasa nyeri dan menghilang
seluruhnya ketika berbaring dan tidur. Pasien selama ini hanya pergi ke tukang urut, dan
diurut hingga benjolan menghilang. Satu hari sebelum masuk rumah sakit, benjolan
muncul lagi, namun tidak menghilang walaupun sudah diurut. Nyeri terus-menerus,
terutama jika dipegang, merah, dan terasa hangat. Terdapat demam, mual dan muntah.
Belum buang air besar, kentut (+). Pada pemeriksaan fisis, di regio skrotum, skrotum
kanan membesar, berwarna merah, saat diraba, terdapat massa berukuran 9x8x8 cm, batas
atas tidak tegas, lunak, nyeri (+), terasa hangat, bising usus (+) normal. Dua hari di rumah
sakit, benjolan lalu masuk kembali, tidak terasa nyeri. Pasien sudah tidak demam, mual
maupun muntah. Buang air besar dan buang air kecil normal. Pada pemeriksaan fisik,
skrotum tidak membesar, dan tidak nyeri jika dipegang. Pemeriksaan laboratorium
menunjukkan leukositosis.
I. 5. Diagnosis
Hernia inguinalis lateral dekstra reponibilis
I. 6. Tatalaksana
Herniotomi.
I. 7. Prognosis
Quo ad vitam

bonam

Quo ad functionam

bonam

Quo ad sanactionam :

bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
HERNIA
II. 1. Definisi
Hernia adalah protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek jaringan, struktur,
atau bagian dari organ melalui jaringan otot atau membran yang normalnya terfiksasi.1-4
II. 2. Komposisi hernia
Hernia mempunyai tiga bagian, yaitu kantung hernia, lapisan luar kantung hernia, dan isi
hernia. Kantung hernia merupakan divertikulum peritoneum yang terdiri atas mulut,
leher, badan kantung, dan fundus. Diameter dari leher hernia (cincin hernia) merupakan
hal yang penting untuk diperhatikan karena komplikasi strangulasi lebih mudah terjadi
apabila leher kantung lebih sempit. 1-4
Lapisan luar kantung hernia berasal dari lapisan dinding abdomen. Isi hernia dapat
berupa omentum (omentokel), usus (enterokel) lebih sering usus halus, tetapi dapat pula
usus besar atau appendiks (usus buntu). Selain itu, hernia dapat pula berisi sebagian
dinding usus pada hernia Richter, sebagian kandung kemih (dapat menjadi bagian dari isi
hernia inguinal direk, sliding hernia, atau hernia femoralis), ovarium (dengan atau tanpa
tuba fallopi), divertikulum Meckel (hernia Littre), atau cairan (sebagai bagian dari asites).
1-4

II. 3. Klasifikasi hernia


Hernia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tipe.1
Berdasarkan proses terjadinya, hernia dibagi atas hernia kongenital (bawaan) dan hernia
akuisita (didapat). Hernia juga diberi nama menurut letaknya, misalnya hernia diafragma,
hernia inguinalis, hernia umbilikalis, dan hernia femoralis. 1-4
Berdasarkan sifatnya, hernia dibagi atas hernia reponibel dan ireponibel. Disebut hernia
reponibel apabila isi hernia dapat keluar masuk, sebagai gambaran pada hernia ini usus
dapat keluar ketika berdiri atau mengedan dan masuk kembali apabila pasien berbaring
8

atau didorong masuk kedalam perut. Pada hernia tersebut tidak terdapat keluhan nyeri
atau gejala obstruksi usus. Hernia ireponibel apabila isi kantung hernia tidak dapat
direposisi kembali. Hal ini biasanya disebabkan adanya perlengketan kantung hernia
dengan isinya. Pada hernia ireponible dapat terjadi hernia inkarserata atau strangulata.
Hernia inkarserata (bahasa latin: incarceratio= terperangkap, cancer= penjara) terjadi
apabila isi hernia terjepit oleh cincin hernia sehingga isi kantung terperangkap dan
akibatnya terjadi gangguan pasase atau obstruksi usus akibat penjepitan. Selanjutnya
lama-kelamaan akan terjadi gangguan vaskularisasi yang disebut sebagai hernia
strangulata (bahasa latin: strangulare=menjepit). Gangguan vaskularisasi sebenarnya
telah terjadi pada saat jepitan dimulai. Gangguan ini menimbulkan gangguan iskemik
pada isi hernia dan gangren dapat terjadi lima sampai enam jam kemudian setelah
timbulnya gejala pertama. Walaupun kejadian hernia inguinalis lebih sering daripada
hernia femoralis, tetapi hernia femoralis lebih sering mengakibatkan strangulasi akibat
leher hernia yang lebih sempit dan batasnya yang kaku. 1-4
Bila strangulasi hanya menjepit sebagaian dinding usus, hernia disebut sebagai hernia
Richer, Komplikasi hernia richter adalah strangulasi sehingga terjadi perforasi usus.
Operasi sering terlambat akibat gejalanya yang menyerupai gastroenteritis. Tanda lokal
strangulasi tidak jelas, tidak ada muntah, aliran usus dapat terjadi dan diare dapat muncul.
Akibatnya gangren dan perforasi sering terjadi sebelum dilakukan operasi. 1-3
Beberapa istilah lain yang sering digunakan, antara lain hernia primer untuk hernia yang
belum pernah dioperasi dan hernia rekuren untuk hernia yang muncul setelah perbaikan
hernia sebelumnya, akibat kelemahan pada daerah operasi.1
Hernia insipiens merupakan hernia indirek yang berada di kanalis inguinalis yang
ujungnya tidak keluar dari anulus eksternus.1
Hernia geser (sliding hernia) adalah hernia yang sebagian dinding kantongnya terbentuk
dari organ isi hernia, misalnya sekum, kolon sigmoid, atau kandung kemih. Hernia geser
dapat terjadi karena isi kantong berasal dari organ yang letaknya retroperitoneal. Organ
tersebut tidak masuk ke dalam kantong hernia, melainkan bergeser turun di
retroperitoneal. Istilah lainnya seperti hernia Littre yang berisi diverticulum Meckel, dan
hernia Maydl yang mengandung dua loop usus yang antar segmennya dapat terjadi
strangulasi.1
9

II. 4. Anatomi
Anatomi Dinding Perut
Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Di bagian
belakang, struktur ini melekat pada tulang belakang, di sebelah atas pada iga, dan
dibagian bawah pada tulang panggul. Dinding perut memiliki beberapa lapis, yaitu dari
luar ke dalam, lapisan kulit yang terdiri dari kutis dan subkutis; lemak subkutan dan fasia
superfisialis (fasia scarpa); kemudian Ketiga otot dinding perut yaitu :
1. M. Oblikus abdominis eksternus
2. M. Oblikus abdominis internus
3. M. Transversus abdominis
Kemudian lapis preperitoneum dan peritoneum, yaitu fasia transversalis, lemak peritoneal
dan peritoneum. Otot dibagian depan tengah terdiri atas sepasang otot rektus abdominis
dengan fasianya yang digaris tengah dipisahkan oleh linea alba.

Gambar 1. Lapisan dinding perut daerah inguinal ((1) muskulus oblikus eksternus; (2) muskulus
oblikus abdominal internus (3) muskulus abdominal transversus (4) vena testikular (5) duktus
eferens testes (6) pembuluh iliaka (7) vena dan arteri epigastrika inferior (8) aponeurosis otot
abdominal tranversus dan fasia transversa (9) tuberkulum pubikum

Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut. Integritas
lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadinya
hernia bawaan, dapatan, maupun iatrogenik. Fungsi lain otot dinding perut adalah pada
pernapasan, juga pada proses berkemih dan buang air besar dengan meninggikan tekanan
intraabdomen.

10

Kanalis Inguinalis
Kanalis inguinalis berjalan di bawah dinding abdomen anterior, dari cincin inguinal
eksterna ke cincin inguinal interna. Cincin inguinal interna memotong bagian tengah fasia
tranversalis, di mana terletak pada 1,2-2 cm di atas bagian tengah dari ligamentum
inguinal. Panjang dari kanalis inguinalis kira-kira 4-5 cm pada dewasa. Pada pria, testis
dan korda spermatikus berjalan melalui kanalis inguinalis dari abdomen hingga skrotum.
Pada wanita, ligamen uterus (ligamentum rotundum) berjalanan melalui kanal ini menuju
labia mayora.1-4
Kanalis inguinalis dibatasi oleh empat dinding yang terbentuk dari otot, aponeurosis, dan
serat fasia dinding abdomen. Dinding anterior kanalis inguinalis dibentuk oleh
aponeurosis dan serat muskulus oblikus abdominis internus. Dinding superior (atap dari
kanalis inguinalis) dibentuk oleh falx inguinalis, di mana merupakan batas luar dari
muskulus tranversus abdominis (atau batas luar conjointed tendon yang merupakan
gabungan dari muskulus oblikus abdominis internus dengan muskulus transversus
abdominis). Dinding inferior (lantai dari kanalis inguinalis) dibentuk dari ligamentum
inguinal dan ligamentum lakunar. Dinding posterior dibentuk oleh fasia tranversalis.

Gambar 2. Anatomi kanalis inguinalis


Hernia inguinalis indirek, disebut juga hernia inguinalis lateralis, karena keluar dari
rongga peritoneum melalui anulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh
epigastrika inferior, kemudian hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis dan, jika cukup
11

panjang, menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus. Apabila hernia ini berlanjut,
tonjolan akan sampai ke skrotum. Ini disebut hernia skrotalis. Kantong hernia berada di
dalam m.kremaster, terletak anteromedial terhadap vas deferens dan struktur lain dalam
tali sperma.

Gambar 3. Hernia inguinalis


http://digestive.niddk.nih.gov/ddiseases/pubs/inguinalhernia/#what

Hernia inguinalis direk, disebut juga hernia inguinalis medialis, menonjol langsung ke
depan melalui segitiga Hesselbach, daerah yang dibatasi oleh ligamentum inguinale di
bagian inferior, pembuluh epigastrika inferior di bagian lateral dan tepi otot rektus di
bagian medial. Dasar segitiga Hesselbach dibentuk oleh fasia transversal yang diperkuat
oleh serat aponeurosis m.transversus abdominis yang kadang-kadang tidak sempurna
sehingga daerah ini potensial untuk menjadi lemah. Hernia medialis, karena tidak keluar
melalui kanalis inguinalis dan tidak ke skrotum, umumnya tidak disertai strangulasi
karena cincin hernia longgar. Nervus ilioinguinalis dan n.iliofemoralis mempersarafi otot
di regio inguinalis, sekitar kanalis inguinalis dan tali sperma, serta sensibilitas kulit regio
inguinalis, skrotum, dan sebagian kecil kulit tungkai atas bagian proksimomedial.1-4

12

II.5 Patofisiologi
Kebanyakan hernia terjadi pada dinding abdomen ketika bagian dinding abdomen yang
lemah berkembang menjadi lubang yang terlokalisasi dimana jaringan lemak, atau organ
abdomen yang terlindungi peritoneum bisa menonjol keluar dari lubang tersebut. Jenis
hernia lain yang sering terjadi adalah hernia pada discus intervertebra yang bisa
menyebabkan sakit punggung atau pinggang.1-4
Hernia dapat timbul dengan rasa sakit pada sisi yang terlihat atau terpalpasi, atau pada
beberapa kasus timbul dengan gejala yang tidak khas akibat penekanan pada organ yang
telah terjepit hernia. Hal ini terkadang menyebabkan disfungsi organ. Jaringan lemak
biasanya masuk pertama ke hernia lalu diikuti oleh masuknya organ.1-4
Kebanyakan hernia berkembang ketika tekanan pada rongga meningkat, sedangkan
dindingnya lemah.
1.

Melemahnya membran atau otot biasanya kongenital (menjelaskan sebagian


hernia terjadi secara familial), dan meningkat dengan bertambahnya usia
(contohnya degenerasi annulus fibrosus dari discus intervertebra), atau mungkin
timbul karena penyakit lain seperti sindrom Ehler-Danlos atau sindrom marfan,
peregangan otot saat hamil, kehilangan berat badan pada orang obes, atau jaringan
parut dari bekas operasi.

2.

Kondisi kronik yang menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen seperti


kehamilan, asites, COPD, diskesia, dan BPH dapat meningkatkan frekuensi
hernia. Peningkatan tekanan intrakranial dapat menyebabkan hernia otak melalui
bagian terdekat dari rongga cranial atau foramen magnum. Peningkatan tekanan
pada diskus intervertebra karena mengangkat berat atau mengangkat dengan
teknik yang salah dapat meningkatkan resiko hernia.

13

HERNIA INGUINALIS
II.2.1 Epidemiologi
Hernia pada daerah lipat paha (hernia inguinalis indirek dan direk serta hernia femoralis)
merupakan hernia yang paling sering dijumpai (75%), diikuti hernia insisional dan
ventral (10%), hernia umbilicus (3%), dan hernia lainnya(3%). Sebagai gambaran di
United States terdapat 750.000 hernioraphy hernia inguinal per tahun, dibandingkan
dengan 25.000 hernia femoralis, 166.000 hernia umbilikalis, 97.000 hernia insisional,dan
76.000 hernia abdomen lainnya.2,3
Perbandingan hernia indirek dengan hernia direk antara lain 2:1. Hernia lipat paha
kanan lebih sering terjadi daripada kiri. Rasio pria dibandingkan wanita pada hernia
inguinalis 7:1. Hernia femoralis memiliki proporsi yang lebih kecil, hernia tersebut
terdapat kurang dari 10% dari seluruh hernia lipat paha, tetapi 40% dari kasus tersebut
merupakan emergensi dengan strangulasi atau inkarserata.2,3
Hernia inguinalis terdapat pada 3-5% bayi lahir cukup bulan dan meningkat 30%
pada bayi prematur. Pada hernia inguinalis kongenital,

10-20% memiliki hernia

kontralateral. Kira-kira 80 hernia inguinalis dioperasi per 10.000 kelahiran hidup pada
anak kurang dari satu tahun. Lalu operasi hernia memiliki puncak kedua pada usia 55-85
tahun, di mana 75 operasi hernia per 10.000 populasi per tahun.2,3
II.2.2 Etiologi
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali congenital atau karena sebab yang didapat.
Hernia dapat dijumpai pada setiap usia. Berbagai faktor penyebab berperan pada
pembentukan pintu masuk hernia pada annulus internus yang cukup lebar sehingga dapat
dilalui oleh kantung dan isi hernia. Selain itu, diperlukan pula faktor yang dapat
mendorong isi hernia melalui pintu yang terbuka lebar tersebut.1-4
Pada orang sehat, terdapat tiga mekanisme yang menghambat terjadinya hernia, yaitu
kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur m. obliqus internus abdominis
yang menutup annulus inguinalis internus ketika terjadi kontraksi dan adanya fasia
transversa yang kuat, menutupi trigonum hasselbach yang umumnya hampir tidak
14

berotot. Gangguan pada mekanisme tersebut dapat mengakibatkan terjadinya hernia. 1-4
Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka,
peninggian tekanan dalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut karena usia.
Insiden hernia yang meningkat pada orang tua mungkin disebabkan bertambahnya
penyakit yang meninggikan tekanan intraabdominal dan berkurangnya kekuatan jaringan
penunjang.Tekanan intraabdomen yang meninggi secara kronik, seperti batuk kronik,
hipertrofi prostat, konstipasi, dan asites, sering disertai hernia inguinalis. 1-4
Pada keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi annulus internus turut
kendur. Pada keadaan itu tekanan intraabdominal tidak tinggi dan kanalis inguinalis
berjalan lebih vertical. Sebaliknya, bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis
berjalan lebih tranversal dan annulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah
masuknya usus kedalam kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain
terjadi karena kerusakan nervus ilioinguinalis dan nervus iliofemoralis setelah
apendiktomi. 1-4
Hernia inguinalis medialis
Hampir selalu disebabkan oleh faktor peninggian tekanan intraabdomen kronik dan
kelemahan otot dinding di trigonum hasselbach, khususnya pada lelaki tua. Hernia ini
jarang, bahkan hamper tidak pernah, mengalami inkarserata dan strangulasi. 1-4
Hernia inguinalis lateralis
Pada hernia inguinalis lateralis, berdasarkan hipotesis Russell dikatakan bahwa
berkembangnya divertikulum berhubungan dengan prosesus vaginalis yang paten, hal
sangat penting untuk dipikirkan pada setiap kasus. Sampai saat ini hipotesis tersebut
masih dipakai oleh para ahli bedah. Russel merasa peningkatan tekanan intraabdomen
menyebabkan peregangan yang berlebihan dan melemahkan cincin interna, menyebabkan
organ intraabdomen dapat berherniasi melalui orifisium. Tetapi hal ini tidaklah mutlak
menyebabkan hernia inguinalis lateralis. Beberapa bukti menunjukkan hal tersebut, salah
satunya ditemukan pada otopsi, prosesus vaginalis yang paten pada pasien yang tidak
15

memiliki hernia. Selain hal tersebut, kelemahan fasia pada cincin inguinalis interna akibat
usia tua juga merupakan faktor terjadinya hernia tersebut. 1-4
II.2.3 Patofisiologi hernia
Mekanisme hernia inguinal lateral (indirek) dan medial (direk) berbeda. Berikut akan
dipaparkan patofisiologi hernia lateral (indirek) dan hernia medial (direk).
Hernia inguinalis lateral (indirek)
Hernia yang isinya melewat cincin inguinalis interna (yaitu lateral dari arteri epigastrika
inferior) disebut sebagai hernia inguinalis lateral (indirek). Hernia ini dapat
menggambarkan terdapatnya prosesus vaginalis yang persisten yang menjadi paten
sewaktu anak-anak atau dewasa. Hernia ini dapat juga disebabkan melemahnya fasia
tranversalis, atau disebabkan oleh peningkatan tekanan abdominal. Kantung dari hernia
indirek mengikuti jalur kanalis inguinalis yaitu dari cincin inguinalis interna dan dapat
turun sampai melewati cincin inguinalis eksterna ke dalam skrotum, sehingga hernia
tersebut sering disebut sebagai hernia scrotalis atau ke labia mayor sehingga disebut
hernia labialis. 1-4
Risiko dari strangulasi hernia lateralis lebih tinggi dibandingkan hernia medialis,
hal ini disebabkan cincin inguinal interna lebih sempit dan memiliki batas yang tetap,
dibandingkan segitiga Hasselbach yang tidak memiliki leher sempit. 1-4
Saat embriogenesis pada fetus pria, pada bulan 7 sampai dengan bulan 9 (12 minggu)
terjadi penurunan testis menuju skrotum (membentuk prosesus vaginalis) dan obliterasi
dari prosesus vaginalis. Pada wanita, proses tersebut terjadi hanya pada bulan ketujuh.
Hal ini menyebabkan insidens hernia lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.
Proses penurunan testis pada bagian kiri lebih dahulu terjadi daripada kanan, sehingga
proses pada bagian kiri lebih dahulu sempurna selesai dibandingkan kanan, hal ini
menyebabkan hernia dekstra lebih sering terjadi daripada hernia sinistra, dan apabila
hernia sinistra terjadi sering disertai hernia dextra (bilateral). 1-4
Defek dapat terjadi pada berbagai tahapan, antara lain (1) saat terbentuknya saluran,
dapat melemahkan dinding yang membatasinya; (2) saat testis berjalan cepat menuju
skrotum, apabila berjalan lambat usus dapat ikut sebelum prosesus vaginalis menutup;
16

dan (3) obliterasi saluran. Urutan kejadian penutupan prosesus vaginalis antara lain
dimulai dari (a) penutupan cincin inguinalis interna; (b) penutupan bagian bawah (persis
di atas testis); lalu selanjutnya (c) bagian tengah. Apabila ketiga proses tersebut tidak
terjadi (a,b, dan c) maka akan terjadi hernia indirek kongenital. Apabila hanya proses (a)
yang tidak terjadi maka hernia didapat yang terjadi (dapat muncul beberapa saat setelah
lahir dan dipicu peninggian tekanan intra abdomen). Tidak terjadinya proses (b) dan (c)
mengakibatkan hidrokel infantil, dan apabila hanya proses (c) yang tidak terjadi dapat
menyebabkan hidrokel kistik. 1-4
Hernia inguinalis medial (direk)
Ketika isi dari hernia memasuki kanalis inguinalis, tidak melalui cincin interna, tetapi
melalui dinding posterior (bertempat medial dari arteri epigastrika inferior), maka hernia
ini disebut sebagai hernia inguinalis medial (direk). Disebut direk karena protusi
muncul langsung melalui dinding posterior kanalis inguinalis pada segitiga Hasselbach
dan di belakang korda spermatika. Terjadi defek pada seluruh fasia tranversalis
menyebabkan tonjolan yang difus.
Hernia ini jarang keluar melalui cincin eksterna menuju skrotum, jarang terjadi
strangulasi, sering asimptomatik, serta sering terjadi pada usia tua (di atas 75 tahun)
ketika otot abdomen menjadi lemah. Hernia inguinalis medial selalu didapat (aquired)
dan sering terjadi bilateral. Normalnya, dinding posterior dari kanalis inguinal pada area
segitiga inguinal diperkuat oleh serat aponeurosis dari tranversus abdominis dan falx
inguinalis. Namun, penguatan ini dapat tidak sempurna akibat falx inguinalis yang
bervariasi pada setiap orang. Sehingga, segitiga Hasselbach menjadi titik lemah potensial
pada sebagian orang. 1-3

17

(a)

(b)

Gambar 5. (a) hernia inguinalis lateral; (b) hernia inguinalis medial


II.2.4 Gambaran Klinis
Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan dilipat paha yang timbul
pada waktu mengedan, batuk, atau mengangkat benda berat, dan menghilang pada waktu
istirahat baring. Pada inspeksi diperhatikan keadaan asimetri pada kedua lipat paha,
18

skrotum, atau labia dalam posisi berdiri atau berbaring. Pasien diminta mengedan atau
batuk sehingga adanya benjolan atau ketidak simetrisan dapat terlihat. Palpasi dilakukan
pada benjolan, dinilai konsistensinya, dan dicoba didorong apakah benjolan dapat
direposisi. 1-3
Pada hernia inguinalis reponibel, pada umumnya satu-satunya keluhan pada orang
dewasa berupa benjolan dilipat paha yang timbul pada waktu mengedan, batuk, bekerja
atau mengangkat benda berat, dan benjolan tersebut menghilang pada waktu berbaring.
Keluhan nyeri jarang terjadi, kadang-kadang dapat timbul pada epigastrium atau pada
paraumbilikalis berupa nyeri viseral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu
segmen usus halus masuk ke dalam kantung hernia. Pada hernia inguinalis ireponibel,
benjolan terus ada, tidak dapat masuk kembali. 1-3
Perbedaan hernia inguinalis lateral dan medial, pada hernia ingunalis lateral
(indirek) benjolan bernetuk elips/lonjong melalui kanalis inguinalis, terkadang menuju
skrotum (hernia scrotalis). Hernia inguinalis medial (direk) muncul sebagai benjolan
simetris (bulat) pada cincin eksterna. Keduanya berlokasi superior dari ligamentum
inguinal. Hernia skrotalis harus dibedakan dengan hidrokel atau elefantiasis skrotum.
Testis yang teraba dapat dipakai sebagai pegangan untuk membedakannya. 1-3
Metode pemeriksaan
Ketika pemeriksaan dilakukan, pasien dalam posisi berdiri. Jari telunjuk dimasukkan
melalui cincin kanalis inguinalis eksterna. Dapat ditemukan kanalis inguinal eksterna
yang berdilatasi. Ketika jari telah masuk maksimal ke dalam kanalis inguinalis, pasien
diminta untuk batuk atau mengedan. Pada hernia lateralis akan terasa pukulan pada ujung
jari (Finger Tip Test (+)) , sedangkan pada hernia medial akan terasa pukulan pada sisi
jari telunjuk (samping jari). Ibu jari boleh membantu dengan menekan cincin inguinalis
interna saat pasien mengedan, sehingga hernia inguinalis lateral tidak dapat muncul.
Apabila pasien memiliki hernia inguinalis medial maka penekanan ini tidak akan
menghambat munculnya hernia tersebut.2,3
Pemeriksaan fisis hernia bervariasi tergantung isi dari kantung hernia. Apabila isi
hernia terdapat usus, maka dapat ditemukan krepitasi pada palpasi akibat adanya gas dan
cairan di antara lumennya dan dapat ditemukan bising usus. Oleh karena itu perlu
19

dilakukan perkusi, dan auskultasi. Apabila berisi omentum akan teraba seperti karet.
Kantung hernia yang kosong terkadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai
gesekan dari dua lapisan kantung yang dapat memberikan sensasi gesekan dua
permukaan sutera. Tanda ini disebut sebagai tanda sarung tangan sutera, tetapi
umumnya tanda ini sukar ditentukan. 1-4
Hernia inkarserata atau strangulata dapat ditemukan pada kondisi emergensi, di
mana biasanya terjadi pada hernia inguinal lateral, dan jarang pada hernia inguinalis
medial. Usus halus adalah organ yang sering terkena dan dapat menyebabkan obstruksi.
Pasien akan menderita onset yang mendadak dari nyeri perut, muntah, dan perut yang
tegang. 1-4

Gambar 6. Cara pemeriksaan hernia


II.2.5 Diagnosis
Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia
reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan di lipat paha yang muncul pada
waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan, dan menghilang setelah berbaring. Keluhan
20

nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau
paraumbilikal berupa nyeri viseral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu
segmen usus halus masuk ke dalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah
baru timbul kalau terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau
gangren. 1-4
Tanda klinis pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada inspeksi saat pasien
mengedan dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan di regio
inguinalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah. Kantong hernia yang kosong
kadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantong
yang memberikan sensasi gesekan dua permukaan sutera. Tanda ini disebut tanda sarung
tangan sutera. Kalau kantong hernia berisi organ, tergantung isinya, pada palpasai
mungkin teraba usus, omentum (seperti karet), atau ovarium. Dengan jari telunjuk atau
jari kelingking, pada anak, dapat dicoba mendorong isi hernia dengan menekan kulit
skrotum melalui anulus eksternus sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia dapat
direposisi atau tidak. Dalam hal hernia dapat direposisi, pada waktu jari masih berada
dalam anulus eksternus, pasien diminta mengedan. Kalau ujung jadi menyentuh hernia,
berarti hernia inguinalis lateralis, dan kalau bagian sisi jari yang menyentuhnya, berarti
hernia inguinalis medialis. 1-4
Diagnosis ditegakkan atas dasar benjolan yang dapat direposisi, atau, jika tidak dapat
direposisi, atas dasar tidak adanya pembatasan jelas di sebelah kranial dan adanya
hubungan ke kranial melalui anulus eksternus.
II.2.6 Diagnosis banding
1.

Limfadenitis atau limfadenopati inguinal.


Onset limfadenitis inguinal bersifat akut dan

berlokasi pada kelenjar limfe.

Benjolan yang kenyal kemerahan menunjukkan infeksi (limfadentis), sedangkan


konsistensi keras menunjukkan keganasan (limfadenopati), keduanya berupa masa
berbatas tegas di bawah ligamentum inguinal yang dibedakan dengan perabaan
tangan. Penyebab dari infeksi antara lain Staphylococcus aureus, Streptococcus
grup A, TBC, penyakit Kawasaki, atau virus seperti CMV, EBV, atau HIV, dan

21

penyebab limfadenopati keganasan dapat berupa leukimia, limfoma, teratoma,


atau metastasis keganasan di tempat lain. Tatalaksana yang dilakukan antara lain
2.
3.

pemberian antibiotik, operasi drainase abses, dan biopsi massa yang persisten.2
Limfogranuloma venereum2
Lipoma :
Di antara korda spermatika merupakan kondisi yang sering terjadi, dan sekarang

4.

sering dianggap sebagai hernia lemak ekstraperitoneal.2,3


Hidrokel
Biasanya terjadi pada pria berupa benjolan yang tidak nyeri. Hidrokel memiliki
onset subakut atau akut. Lokasinya terletak pada daerah inguinal dan skrotum.
Pada communicating hydrocele dapat ditemukan fluktuasi. Faktor presipitasi
antara lain dapat berupa infeksi, tumor, trauma, transplantasi ginjal ipsilateral,
dan dialisis peritoneal. Hidrokel sering ditemukan pada penderita dengan shunt
ventrikuloperitoneal, ekstrofi

kandung kemih, dan Ehlers-Danlos syndrome.

Pemeriksaan yang dilakukan adalah tes transiluminasi, di mana akan positif pada
hidrokel. Pemeriksaan penunjang lainnya antara lain foto BNO dan USG skrotum.
Terapi dapat dilakukan dengan cara operasi atau aspirasi perkutaneus, di mana
terapi dengan operasi memiliki prognosis yang jauh lebih baik dibandingkan
dengan aspirasi yang memiliki angka kekambuhan yang tinggi. 1-4
II.2.7 Tatalaksana
Konservatif1-4
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian
penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.
Reposisi tidak dilakukan untuk hernia inguinalis strangulata, kecuali pada anak-anak.
Bantalan penyangga hanya bertujuan mempertahankan hernia yang telah direposisi dan
tidak akan menyembuhkan penyakit tersebut sehingga harus dipakai seumur hidup. Cara
ini dapat menimbulkan komplikasi antara lain merusak kulit dan tonus otot dinding perut
di daerah yang tertekan sedangkan strangulasi tetap mengancam. Pada anak cara ini dapat
menimbulkan atrofi testis karena tekanan pada tali sperma yang mengandung pembuluh
darah testis. 1-5
Tatalaksana bedah5,6
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan rasional hernia. Operasi
22

diindikasikan begitu hernia didiagnosis. Pembedahan untuk mengkoreksi hernia disebut


herniorafi atau hernioplasti, sekarang sering dilakukan sebagai "day surgery,"procedure.
Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan hernioplasty. 1-6
Pada herniotomy dilakukan pembebasan kantung hernia sampai ke lehernya, kantung
dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi. Kantung
hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong. Pada hernioplasty dilakukan tindakan
memperkecil anuus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis
inguinalis. Hernioplasty lebih penting dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan
dengan herniotomy. Dikenal berbagai metode hernioplasty, seperti memperkecil anulus
inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa,
dan menjahitkan pertemuan m.tranversus abdominis dan m.obliqus internus abdominis
yang dikenal dengan conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut metode
bassini. Atau menjahitkan fasia tranversa, m. Transversus abdominis, m.oblikus internus
abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc Vay. 1-6
Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan insisi kulit secara tranversal atau oblik 1 sampai 2 cm di
bawah ligamentum inguinal dan aponeurosis oblikus eksternal dibuka sepanjang garis
serat otot ke cincin inguinal eksterna. Setelah itu dilakukan pembebasan kantung hernia
sampai ke lehernya (pada hernia inguinalis indirek hati-hati dalam mendeseksi sampai ke
cincin inguinalis interna), kantung dibuka dan isi hernia diinspeksi dan dibebaskan kalau
ada perlekatan, kemudian direposisi kembali ke dalm rongga abdomen. Kantung hernia
dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong. Apabila kantung besar dan turun ke dalam
skrotum, sehingga dapat mengganggu suplai darah ke testis. Pada anak-anak biasanya
herniotomi cukup sebagai terapi dan tidak diperlukan perbaikan dari dinding posterior.
Herniotomi apabila dikombinasikan dengan memperkuat cincin interna disebut sebagai
Marcy repair.5,6
Herniorafi
Pada herniorafi dinding posterior diperbaiki. Dapat diperkuat dengan menggunakan
berbagai teknik jahitan. Saat ini penggunaan mesh non-absorbable lebih efektif dalam
mencegah rekurensi. Penutupan dinding dengan menggunakan flap atau mesh disebut
23

sebagai hernioplasti.5,6
Teknik perbaikan dari hernia :
(1) Metode perbaikan Bassini, merupakan teknik herniorafi yang pertama
dipublikasikan tahun 1887 dan paling luas digunakan. Setelah diseksi kanalis
inguinalis, dilakukan rekonstruksi dasar lipat paha dengan cara mengikat tepi
bebas muskulus oblikus abdominis internus dan conjointed tendon dengan
ligamentum inguinale di bawah korda spermatika, dan meninggalkan korda
spermatika di antara muskulus oblikus abdominis interna dengan aponeurosis
oblikus eksterna. Teknik ini dapat diterapkan baik pada hernia direk maupun
indirek.6
(2) Metode perbaikan Halsted, dilakukan dengan meletakkan aponeurosis oblikus
eksterna di bawah korda dan menjahikannya dengan ligamentum inguinal, dan
meninggalkan korda spermatika di bawah kulit dan jaringan subkutan.6
(3) Metode perbaikan McVay, dilakukan dengan menjahitkan batas bawah
muskulus oblikus abdominis interna dengan conjointed tendon bagian posterior
dan inferior ligamentum Cooper inferior. Metode McVay lebih baik digunakan
untuk hernia medialis, hernia lateralis yang besar, dan hernia rekuren. Akan tetapi
metode ini selalu membutuhkan insisi dalam kondisi relaksasi untuk
menghilangkan tegangan dan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi.6
(4) Metode perbaikan Shouldice, dilakukan sebelum metode Bassini dengan
memotong fasia tranversus abdominis dan menyatukannya secara bertumpukan.
Metode ini dapat menurunkan insidens rekurensi hernia (atau hernia rekuren).6
(5) Metode

perbaikan

Ferguson,

dilakukan

dengan

menjahitkan

dan

menyambungkan batas bawah muskulus oblikus abdominis interna dan


conjointed tendon ke ligamentum inguinal di atas korda spermatika, dan
meninggalkan korda spermatika di antara dinding anterior yang diperbaiki.6
Metode herniorafi Bassini, Halsted, McVay, dan Shouldice dilakukan

dengan

memperkuat dinding posterior kanalis inguinalis. Sementara metode herniorafi Ferguson


memperkuat dinding anterior kanalis inguinalis. Kelemahan teknik Bassini dan teknik
24

yang lain yang berupa variasi teknik herniotomi Bassini adalah terdapatnya regangan
berlebihan dari otot-otot yang dijahit. Untuk mengatasi masalah ini, pada tahun delapan
puluhan dipopulerkan pendekatan operasi bebas regangan (tension free). Pada teknik ini
digunakan

protesis

mesh

untuk

memperkuat

fasia

tranversalis

yang

membentuk dasar kanalis inguinalis tanpa menjahitkan otot-otot ke inguinal.5,6


Terjadinya residif pada hernia lebih disebabkan teknik reparasi daripada teknik
konstitusi. Pada hernia inguinalis penyebab residif yang paling sering adalah penutupan
anulus inguinalis internus yang tidak memadai, diantaranya karena diseksi kantung yang
kurang sempurna, adanya lipoma preperitoneal, atau kantung hernia tidak ditemukan.
Hernia inguinalis medial yang residif umumnya disebabkan tegangan yang berlebihan
pada jahitan plastik atau kekurangan-kekurangan lain pada teknik operasi.5,6
II.2.8 Komplikasi
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi hernia dapat
tertahan dalam kentong hernia pada hernia ireponibel; ini dapat terjadi kalau isi hernia
terlalu besar, misalnya terdiri atas omentum, organ ekstraperitoneal, atau merupakan
hernia akreta. Di sini tidak timbul gejala klinis kecuali berupa benjolan. Dapat pula
terjadi isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi strangulata yang
menimbulkan gejala obstruksi usus yang sederhana.1-6
Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada
permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur di dalam
hernia dan transudasi ke dalam kantong hernia. Timbulnya udem menyebabkan jepitan
pada cincin hernia makin bertambah sehingga akhirnya peredaran darah jaringan
terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat berupa
cairan serosanguinus. Kalau isi hernia terdapat usus, dapat terjadi perforasi yang akhirnya
dapat menimbulkan abses lokal, fistel, atau peritonitis jika terjadi hubungan dengan
rongga perut.1-5
II.2.9 Rekurensi
Rekurensi setelah operasi hernia diungkapkan oleh Marsden. Di Amerika Serikat, tingkat
rekurensi pasca-operasi hernia adalah 10% pada hernia inguinalis primer. Di rumah sakit
25

dengan pelayanan kesehatan spesilistik, angka rekurensi lebih rendah yaitu 1-5%.
Sebanyak 50% pasien biasanya tidak sadar/kurang waspada terhadap adanya rekurensi.
Meskipun sebagian besar hernia rekuren dalam kurun waktu lima tahun, rekurensi dapat
muncul kapan saja: 25% dalam kurun waktu dua tahun, 505 dalam kurun waktu lima
tahun, dan 75% dalam kurun waktu 10 tahun. 1-4

Bab III
Pembahasan Khusus
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisis.
Pada anamnesis didapatkan

pasien laki-laki, usia 46 tahun datang dengan keluhan

adanya benjolan pada kantung kemaluan sebelah kanan sejak 3 tahun SMRS.
Berdasarkan anamnesis tersebut dapat dicurigai adanya kemungkinan hernia inguinal,
tumor atau masalah pada testis seperti orchitis, torsio testicular, hidrokel, dan elefantiasis
skrotalis. Berdasarkan lamanya keluhan, maka penyakit ini bersifat kronik karena telah
berlangsung selama 3 tahun. Karena sifatnya yang kronik, maka diagnosis orchitis,
hidrokel dan torsio testicular dapat disingkirkan.
Benjolan muncul tiba-tiba, hilang timbul dipicu jika mengangkat barang berat, tidak
terasa nyeri dan menghilang seluruhnya ketika berbaring dan tidur. Berdasarkan keluhan
ini, maka diagnosis tumor, dapat disingkirkan karena tumor akan menetap dan tidak
26

hilang timbul. Pada pasien juga tidak didapatkan penurunan berat badan yang signifikan.
Keluhan yang dirasakan pasien ini lebih mengarah kepada hernia inguinalis, karena
dipicu oleh mengangkat barang berat dan menghilang saat istirahat. Dan dikategorikan
sebagai hernia inguinalis lateralis, karena pada hernia inguinalis lateralis benjolan muncul
terutama bila melakukan kegiatan seperti batuk, mengedan, dan aktivitas baik sedang
maupun berat, misalnya mengangkat barang. Kegiatan seperti di atas dapat meningkatkan
tekanan intraabdomen, sehingga terjadi protrusi atau penonjolan isi rongga abdomen,
melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga abdomen. muncul benjolan yang
semakin menurun (melalui kanalis inguinalis), maka benjolan lebih berbentuk lonjong
dan semakin lama bisa masuk ke skrotum. Berbeda dengan hernia inguinalis medialis, di
mana terjadi kelemahan otot dinding di trigonum Hesselbach, sehingga benjolan yang
muncul lebih berbentuk bulat, dan umumnya bilateral, khususnya pada lelaki tua. Pada
saat beristirahat, tekanan intraabdominal menurun dan bila anulus internum cukup lebar
atau elastik, isi usus dapat kembali masuk ke rongga peritoneum.
Benjolan yang semakin menurun ini, juga dapat menyingkirkan diagnosis banding
hidrokel dan elefantiasis skrotum. Pada hidrokel terjadi penumpukan cairan di skrotum
sehingga testis terdesak, apabila cairan semakin banyak, maka keluhannya adalah
benjolan semakin naik ke atas. Pada elefantiasis skrotum, keluhan juga dimulai dari
skrotumnya. Sedangkan pada pasien ini, keluhan benjolan menurun ke arah skrotum.
Adanya nyeri terus-menerus pada kantung kemaluan, terutama bila dipegang, merah, dan
terasa hangat merupakan tanda-tanda inflamasi. Hal ini ditunjang dengan adanya demam,
mual dan muntah. Namun setelah 2 hari dirawat di rumah sakit, benjolan masuk kembali,
dan pasien sudah tidak mual muntah. Adanya nyeri pada skrotum kemunngkinan
disebabkan oleh trauma karena pijatan tukang urut. Benjolan pada pasien masih bisa
masuk sendiri, sehingga bersifat reponibel.
Dari pemeriksaan fisis, ditemukan skrotum kanan membesar, berwarna merah,
saat diraba, terdapat massa berukuran 9x8x8 cm, batas atas tidak tegas, lunak, nyeri (+),
terasa hangat, bising usus (+) normal. Batas atas yang tidak tegas serta bising usus yang
positif, serta warna merah dan hangat diagnosis hernia inguinalis dekstra. Pada
pemeriksaan fisik berikutnya benjolan sudah masuk kedalam, sehingga memperkuat
diagnosis hernia inguinalis lateral dekstra reponibel. Pada pemeriksaan laboratorium,
27

didapatkan peningkatan leukosit.


Penanganan hernia inguinalis yang paling rasional adalah tindakan operatif. Pada
pasien dilakukan herniotomi. Idealnya tindakan operatif yang dilakukan adalah
herniotomi dan hernioplasti dengan pemasangan mesh. Dipilih herniotomi dengan
pemasangan mesh karena lebih kecil angka kekambuhannya. Hernioplasti tidak akan
meningkatkan tekanan intraabdominal. Mesh juga akan lebih kuat untuk menahan isi
hernia untuk keluar.
Prognosis pasien ini Quo ad vitam, bonam, karena tidak mengancam nyawa
pasien. Quo ad functionam bonam, karena setelah dilakukan tindakan operasi untuk
menutup bagian dinding abdomen yang lemah, maka usus tidak akan turun ke kanalis
inguinalis, sehingga pasien dapat beraktivitas dan menjalankan fungsinya dengan baik.
Quo ad sanationam bonam, karena apabila tindakan operasi dilakukan sesuai prosedur
yang benar, kemungkinan tidak mengalami residif. Sebab, terjadinya residif, lebih banyak
dipengaruhi oleh teknik reparasi yang kurang memadai. Data penelitian menunjukkan
bahwa rekurensi dapat muncul kapan saja: 25% dalam kurun waktu dua tahun, 505 dalam
kurun waktu lima tahun, dan 75% dalam kurun waktu 10 tahun.

Daftar Pustaka
1. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke dua. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.2005. Hal: 523-40
2. Fitzgibbons, Jr RJ, Filipi CJ, Quinn TH. Inguinal Hernias. Chapter 36. In:
Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, et al. Schwartzs Principles of Surgery.
8th edition. New York: The McGraw-Hill Companies. 2005. p: 1353-94
3. Manthey D. Hernias. Tersedia di http://www.emedicine.com. Diunduh tanggal 2
Februari 2012.
4. NDDIC.

Hernia

Inguinal.

From

http://digestive.niddk.nih.gov/ddiseases/pubs/inguinalhernia/#what. At 3 Februari
2012
5. Anonim.

Inguinal

Hernia:

Anatomy

and

Management.

http://www.medscape.com. Diunduh tanggal 3 Februari 2012.


28

Tersedia

di:

6. Bax T, Sheppard BC, Crass RA. Surgial Options in the Management of Groin
Hernias. Tersedia di: http://www.afp.org. Diunduh tanggal 3 Februari 2012.

29