Anda di halaman 1dari 4

Biran Affandi

Suntikan KB Bulanan Cyclofem


Pendahuluan
Pada pertengahan tahun1950-an kontrasepsi steroid mulai diperkenalkan. Kontrasepsi tersebut berbentuk
pil dan mengandung hormon progesteron dan estrogen. Selanjutnya dikembangkan pula kontrasepsi
suntikan.
Pada pertengahan tahun 1960-an, kontrasepsi suntikan yang berisi DMPA (depo medroksi progesterin
asetat) dan NET-EN (non estiteron enantat) mulai diperkenalkan. Sejak itu kontrasepsi suntikan menjadi
populer.
Selang tiga dekade, suntikan merupakan salah satu kontrasepsi yang paling banyak dipakai di negaranegara berkembang, termasuk Indonesia. Pada tahun 1993, jumlah pemakai kontrasepsi suntikan di
Indonesia masih menduduki peringkat ke II, sebanyak 5.745.732 peserta, setelah pemakai Pil 7.293.145
peserta (ke I), kemudian diikuti oleh pengguna IUD 5.296.818 peserta (ke III).
Memasuki milenia ke III, pada November 2000, jumlah pemakai kontrasepsi suntikan melonjak mencapai
9.586.309 peserta, menggeser pengguna Pil yang jumlahnya sedikit rrle-nurun sebanyak 7.104.800
peserta. Demikian pula, jumlah pengguna IUD terjadi penurunan yang cukup besar, sebanyak 4.556.793
peserta.
Keunggulan suntikan sebagai kontrasepsi, antara lain :
1.Efektivitas yang tinggi
2.Untukjangkapanjang (2-3 bulan)
3.Pemberiannya mudah
4.Tidak perlu diminum setiap hari
5.Tidak mempengarusi hubungan seksual
6.Tidak menekan produksi ASI
7.Tidak menimbulkan efek samping estrogen
8.Tidak menimbulkan gangguan pencernaan
9.Suntikan dianggap obat yg "po tent"
10.Amenorea dapat menimbulkan dampak positif
11.Menyebabkan kontak teratur dengan petugas kesehatan
Namun sebagaimana kontrasepsi "progestion only" yang lain, suntikan menyebabkan gangguan "haid"
berupa -Totting", amenorea dan haid tidak teratur.
(WHO) dalam rangka ikut memperbaiki pola haid kontrasepsi suntikan yang sudah ada dipasaran
melakukan penelitian farmakokinetik dan farmakodinamik terhadap beberapa preparat dengan herbagai
macam dosis sejak tahun 1977.
Dari uji coba terhadap bermacam-macam dosis medroksi progesteron asetat (MPA) dan nor etistire
enantat (NET-EN) didapatkan bahwa 25 mg %1 MPA dan 50 mg cukup efektif untuk menekan ovulasi
selama satu bulan.
Untuk membuat "siklus haid"menjadi teratur ditambahkan estrogen. Sebagai estrogen untuk MPA dipakai
5 mg estradiol sipionat sedangkan suntikan diberi kode HRP 112 (cyclofem). Untuk NET-EN dipakai 5
mg estradiol valerat dan suntikannya disebut HRP 102. Sejak tahun 1978 WHO menyelenggarakan
berbagai uji klinik perbandingan secara multinasional.
Farmacologi Cyclofem

Cyclofem tersedia dalam bentuk 1 ml aqua suspensi mikrokristal yang berisi 25 mg DMPA + 5 mg
estradiol sipionat, disuntikkan intragluteal antara hari ke 1-5 haid dengan interval suntikan 28 hari.
Sebagai kontrasepsi Cyclofem mempunyai cara kerja yang sama dengan DMPA umumnya yaitu
mencegah kehamilan terutama karena efek anti ovulasinya. Penambahan estrogen pada preparat ini
dimaksudkan untuk mempengaruhi endometrium agar berada dalam keadaan yang sama dengan siklus
haid normal. MPA (medroksi Progesteron Asetat) terdiri dari 17-ase-toksi-6-metil-pregn-4-ene 3.20dione, yang disuntikan kedalam otot dan akan berada dalam darah untuk waktu yang lama dan kadarnya
dalam darah dapat diukur dengan cara Tera Radio Immunologik (TRI) dengan kadar minimal 0,5 ng/ml.
Kadar MPA dalam darah dipengaruhi oleh kecepatan atau daya absorbsi depo mikrokristal dalam otot,
kemampuan pengikatan ekskresi dalam urin. Faktor yang mempengaruhi absorbsi dari tempat suntikan
belum diketahui dengan pasti, absorbsi yang cepat mungkin karena adanya pemijitan (masase) pada
tempat suntikan saat dilakukannya penyuntikan.
Kombinasi estrogen dari preparat Cyclofem adalah berupa siklopentil propionat dari estrodiol atau
3,17 - dihidroksi-1,3,5-estrariene-17 -il-( 3siklopentil) propionat dengan masa kerja 30 hari, dapat
mempertahankan endometrium dalam keadaan yang sama dengan siklus haid normal sehingga perdarahan
yang timbul pada pemberian obat ini relatif sama dengan haid normal.
1. Kadar serum MPA
Kadar serum MPA pada berbagai waktu setelah suntikan Cyclofem yang diukur dengan TRI. Kadar
tertinggi didalam darah dicapai pada 10 hari pertama suntikan dan secara pelan akan turun sesuai dengan
lama waktu pemberian. Juga terdapat variasi yang luas dalam kadar serum MPA tetapi tidak pernah
melebihi 1000 pg/ml setelah 7 hari suntikan. Setelah suntikan ke III kadar serum MPA tidak terdeteksi
lagi dalam perkataan lain kadarnya kurang dari 100 pg/ml antara hari ke 28-62.
Kadar serum MPA 7 hari setelah suntikan Cyclofem adalah 2,3 - 3,3 ng/ ml dibandingkan dengan 9,4 38,5 ng/ ml setelah 7 hari suntikan Depo Provera. Selama kadar MPA masih tinggi dalam darah maka
ovulasi tidak akan terjadi, kemudian secara bertahap kadar MPA akan turun dan sesudah hari ke 28
tercapai kadar kurang dari 100 pg/ml sehingga ovulasi timbul kembali.
2. Pengaruh Cyclofem terhadap fungsi ovarium
Pengaruh Cyclofem terhadap ovulasi digambarkan sebagai peningkatan kadar estradiol dan
progesteron didalam darah. Selama periode suntikan kadar estradiol meningkat selama beberapa minggu
pertama disebabkan karena adanya estradiol sipionat dalam suntikan tersebut.
Selanjutnya akibat meningkatnya estradiol darah menjadi 150 pg/ml menimbulkan aktifitas folikuler
pada akhir interval suntikan. Hal ini terlihat dengan makin meningkatnya kadar estradiol pada hari ke 2226 setelah suntikan I (293 dan 736 pg.ml) dan hari ke 24 setelah suntikan II (469 pg/ml), hari ke 21, 24,
27 setelah suntikan tetapi kadar progesteron plasma tidak dapat menimbulkan aktifitas luteal sampai 7
minggu setelah suntikan yang terakhir karena masih terdapatnya MPA di dalam darah sampai hari ke 2862 setelah suntikan. Dengan demikian Cyclofem akan mencegah ovulasi selama 28 hari interval suntikan
dan penekanan terhadap ovarium tidak begitu kuat sehingga kesuburan dapat kembali dengan cepat.
3. Pengaruh Cyclofem terhadap perangai haid.
Gambaran perangai haid berupa lebih dari 80% dengan 1 episode perdarahan selama interval suntikan
yang dianggap sama dengan siklus haid normal. Angka kejadian amenorea meningkat secara bertahap
dari 3,6% sampai 14,9% pada 2 tahun pertama pemakaian dan kejadian amenorea rata-rata selama 2 tahun
interval suntikan adalah 25%. Periode "prolonged amenorea" yang lebih dari 3 bulan hanya timbul 7,2%
dari seluruh kasus. Rata-rata timbulnya perdarahan dengan interval suntikan adalah 21,1+ 4,9 hari.
4. Pengaruh Cyclofem terhadap endometrium
Selama pemberian obat ini biopsi endometrium diambil pada hari ke 23 dengan gambaran fase proliferasi.
Biopsi selama suntikan ke 3 menggambarkan endometrium dgn perubahan sekunder terhadap pemberian
progestogen eksogen berupa endem stroma predesidual dan kelenjar tubuler tanpa sekresi atau aktifitas

mitotik. Dibawah pengaruh progesteron maka endometrium menjadi tidak mampu menyokong kehidupan
ovum yang telah dibuahi.
5. Pengaruh Cyclofem terhadap analisa biokimia dan hematologi
Nilai analisa biokimia dan hematologi diukur dari sampel darah yang diambil setiap bulan. Tidak terdapat
perbedaan yang bermakna terhadap analisa tiroksin, triiodotironin. prolaktin, kolesterol, trigliserida.
aspartat transamin, alanin transamin. alkalin fosfatase dan terhadap 16hidroksikortikosteroid atau kortisol
urin.

Klinik Cyclofem
Suntikan KB Cyclofem yang dibicarakan dalam pertemuan ini adalah HRP 112, sebelumnya disebut
juga Cycloprovera. Terdiri dari 25 mg medroksi progesteron asetat dan 5 mg estradiol sipionat. Kemasan
dalam bentuk vial dalam 1 ml suspensi cairan.
Suntikan diberikan setiap 30 + 3 hari, secara intramuscular didaerah gluteus atau deltoideus. Saat
pemberian suntikan adalah
- 5 hari pertama haid
- segera setelah post abortum
- konversi
Karena mengandung estrogen, suntikan ini tidak dianjurkan pada mereka yang sedang menyusukan
anaknya.
Kontraindikasi suntikan bulanan sama dengan pil KB :
- hamil
-perdarahan yg tdk diketahui sebabnya
- Kelainan kardiovaskular :
- hipertensi
- kelainan jantung
- Penyakit hati

Hasil Penelitian Multi Senter


Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 1984 - Mei 1987. Penelitian ini mencakup pengalaman
10.969 bulan-wanita dengan cyclofem (HRP 112). Selama 12 bulan penelitian tidak ditemukan
kehamilan. Sedangkan pola haid relatif teratur. Penghentian karena masalah haid digambarkan pada tabel
III
Alasan
N
Amenorea
21
1,6
Perdarahan banyak
6
1,0
Perdarahan lama
26
1,8
Perdarahan tak teratur 13
1,9
Spotting/lain
11
1,5
Bila dibandingkan dengan DMPA atau NET EN maka pola haid ini jauh lebih baik (lihat tabel IV).

Hasil Penelitian di Jakarta


Salah satu senter penelitian adalah klinik Raden Saleh, Jakarta. Selama penelitian 1 tahun didapatkan
hasil sbb :
1. Angka kegagalan 10%
2. Kelangsungan pemakaian 90%
3.Pola Haid teratur pd 85% akseptor
4. Efek samping :
- 6;8% perdarahan tidak teratur
- 4,0% amenorea
5. Penambahan berat badan 2,07 + 2,35 kg (p>0,05)
6. Perubahan tekanan darah
- sistolik 1,14 + 7,47 mmHG (p>0,05)
- diastolik 1,98 + 6,87 mmHG (p>0,05)

Penutup
Telah dikemukakan secara singkat se jarah pengembangan kontrasepsi suntikan bulanan pada
umumnya dan Cyclofem pada khususnya. Dari hasil penelitian multisenter ternyata pola haid pada
pemakaian Cyclofem jauh lebih teratur dibandingkan dengan suntikan SMPA dan NET EN. Dengan
adanya, suntikan KB bulanan maka bertambahlah pilihan akseptor pada sistim cafetaria yang ada. Pada
gilirannya hal ini akan membuat orang lebih gairah ber KB.