Anda di halaman 1dari 7

Farmakologi

Penggunaan obat antipsikotik dalam pengobatan skizofrenia harus mengikuti lima prinsip
utama yaitu:4
1. Klinisi harus secara hati-hati menentukan target simptom untuk diterapi.
2. Antipsikotik yang telah bekerja dengan baik sebelumnya pada pasien harus digunakan
lagi. Pada kejadian yang tidak mendapatkan informasi, pilihan antipsikotik biasanya
didasarkan pada efek samping dari obat tersebut.
3. Waktu minimum pemberian permulaan antipsikotik adalah empat sampai enam minggu
dengan dosis yang adekuat. Jika permulaan tidak berhasil, obat antipsikotik yang
berbeda, biasanya dari kelas yang berbeda, dapat dicoba. Akan tetapi reaksi yang tidak
menyenangkan dari pasien pada pemberian dosis pertama obat antipsikotik berhubungan
erat dengan ketidaktaatan dan respon yang jelek ke depannya.
4. Pada umumnya, penggunaan lebih dari satu obat antipsikotik pada saat yang bersamaan
jarang, jika pernah, atas indikasi. Akan tetapi, pada terapi yang khusus pasien resisten
kombinasi obat antipsikotik dengan obat yang lain, sebagai contoh, carbamazepin
(tegretol) bisa diindikasikan.
5. Pasien harus diberikan terapi rumatan dengan dosis minimal yang efektif. Dosis rumatan
lebih rendah dibandingkan dengan dosis selama kontrol simtom selama episode psikotik.
Skizofrenia adalah suatu gangguan yang berlangsung lama dan fase psikotiknya memiliki
tiga fase yaitu fase akut, stabilisasi, dan fase stabil. Penanggulangan memakai antipsikotik
diindikasikan terhadap semua fase tersebut.1
Antipsikotik dibedakan atas:1
1. Antipsikotik tipikal (antipsikotik generasi pertama)
a. Klorpromazin
b. Flufenazin
c. Tioridazin
d. Haloperidol
e. Dan lain-lain
2. Antipsikotik atipikal (antipsikotik generasi kedua)

a. Klozapin
b. Olanzapin
c. Risperidon
d. Quetapin
e. Aripiprazol
f. Dan lain-lain
Pemakaian antipsikotik dalam menanggulangi skizofrenia telah mengalami pergeseran.
Bila mulanya menggunakan antipsikotik tipikal, kini pilihan beralih ke antipsikotik atipikal, yang
dinyatakan lebih superior dalam menanggulangi simtom negatif dan dan kemunduran kognitif.1
Adanya perbedaan efek samping yang nyata antara antipsikotik atipikal dan antipsikotik
tipikal antara lain bahwa antipsikotik atipikal:1
a. Menimbulkan lebih sedikit efek samping neurologis
b. Lebih besar kemungkinan dalam menimbulkan efek samping metabolik, misalnya
pertambahan berat badan, diabetes melitus, atau sindroma metabolik
Penanggulangan memakai antipsikotik diusahakan sesegera, bila memungkinkan secara
klinik, karena eksaserbasi psikotik akut melibatkan distres emosional, perilaku individu
membahayakan diri sendiri, orang lain, dan merusak sekitar. Individu terlebih dahulu menjalani
pemeriksaan kondisi fisik, vital signs, dan pemeriksaan laboratorium dasar, sebelum memperoleh
antipsikotik.1
2.3.2.1. Penanggulangan berdasarkan fase
Strategi pengobatan tergantung pada fase penyakit apakah akut atau kronis. Fase akut biasanya
ditandai oleh gejala psikotik (yang baru dialami atau yang kambuh) yang perlu segera diatasi.
Tujuan pengobatan di sini adalah mengurangi gejala psikotik yang parah. Dengan fenotiazin
biasanya waham dan halusinasi hilang dalam waktu dua sampai tiga minggu. Biarpun masih ada
waham dan halusinasi, penderita tidak begitu terpengaruh lagi dan menjadi lebih kooperatif, mau
ikut serta dalam kegiatan lingkungannya dan mau turut terapi kerja.7
Setelah empat sampai delapan minggu, pasien masuk ke tahap stabilisasi sewaktu gejalagejala sedikit banyak sudah teratasi, tetapi resiko relaps masih tinggi, apalagi bila pengobatan

terputus atau pasien mengalami stres. Sesudah gejala-gejala mereda, maka dosis dipertahankan
selama beberapa bulan lagi, jika serangan itu baru yang pertama kali. Jika serangan skizofrenia
itu sudah lebih dari satu kali, maka sesudah gejala-gejal mereda, obat diberi terus selama satu
atau dua tahun.7
Setelah enam bulan, pasien masuk fase rumatan (maintenance) yang bertujuan untuk
mencegah kekambuhan. Kepada pasien dengan skizofrenia menahun, neuroleptika diberi dalam
jangka waktu yang tidak ditentukan lamanya dengan dosis yang naik turun sesuai dengan
keadaan pasien (seperti juga pemberian obat kepada pasien dengan penyakit badaniah yang
menahun, misalnya diabetes melitus, hipertensi, payah jantung, dan sebagainya). Senantiasa kita
harus waspada terhadap efek samping obat.7
Strategi rumatan adalah menemukan dosis efektif terendah yang dapat memberikan
perlindungan terhadap kekambuhan dan tidak mengganggu fungsi psikososial pasien. Hasil
pengobatan akan lebih baik bila antipsikotik mulai diberi dalam dua tahun pertama dari penyakit.
Tidak ada dosis standar untuk obat ini, tetapi dosis ditetapkan secara individual. Pemilihan obat
lebih banyak berdasarkan profil efek samping dan respon pasien pada pengobatan sebelumnya.
Ada beberapa kondisi khusus yang perlu diperhatikan, misalnya pada wanita hamil lebih
dianjurkan haloperidol, karena obat ini mempunyai data keamanan yang paling baik. Pada pasien
yang sensitif terhadap efek samping ekstrapiramidal lebih baik diberi antipsikotik atipik,
demikian pula pada pasien yang menunjukkan gejala kognitif atau gejala negatif yang menonjol.7
Untuk pasien yang pertama kali mengalami episode skizofrenia, pemberian obat harus
diupayakan agar tidak terlalu meberikan efek samping, karena pengalaman yang buruk dengan
pengobatan akan mengurangi ketaatberobatan (compliance) atau kesetiaberobatan (adherence).
Dianjurkan untuk menggunakan antipsikotik atipik atau antipsikotik tipikal tetapi dengan dosis
yang rendah.7

Demikian penanggulangan skizofrenia memakai antipsikotik berdasarkan fase diperinci


sebagai berikut ini:1
1. Fase akut
a. Lama: empat sampai delapan minggu
b. Simtom psikotik akut: halusinasi, waham, pembicaraan, dan perilaku yang kacau
c. Target penanggulangan: mengurangi simtom psikotik dan melindungi individu
dari perilaku psikotik yang berbahaya
2. Fase stabilisasi
a. Lama: dua sampai enam bulan
b. Simtom mulai berkurang, akan tetapi individu masih vulnerable untuk mendapat
serangan ulang, bila dosis dikurangi, atau adanya stresor psikososial, serta
memperhatikan, adanya perbaikan, dari fungsi-fungsi individu
c. Target penanggulangan: mengurangi simtom yang masih ada dan merencanakan
pengobatan jangka panjang.
3. Fase stabil
a. Lama: tidak terbatas
b. Simtom positif sudah minimal atau tidak dijumpai lagi, dan simtom negatif masih
dominan pada gambaran klinik individu
c. Target penanggulangan: mencegah muncul kembali psikosis, mengurangi simtom
negatif dan menfasilitasi individu untuk rehabilitasi sosial
2.3.3. Terapi psikososial2,4,5,6,8
Terapi psikososial terdiri dari berbagai metode untuk meningkatkan kemampuan sosial,
pengembangan diri, keterampilan praktis, dan komunikasi interpersonal pasien skizofrenia.
Tujuan utamanya adalah untuk memampukan pasien yang menderita penyakit serius dalam
mengembangkan keterampilan sosial untuk kehidupan yang mandiri.
2.3.3.1. Latihan keterampilan sosial (terapi perilaku)2,4,5,6,8
Terapi ini dapat secara langsung membantu dan berguna bagi pasien selama terapi
farmakologis. Disamping gejala personal dari skizofrenia, beberapa gejala skizofrenia yang
paling terlihat adalah menyangkut hubungan pasien dengan orang lain, termasuk kontak mata

yang buruk, keterlambatan respon yang tidak lazim, ekspresi wajah yang aneh, tidak adanya
spontanitas dalam situasi sosial, dan persepsi yang tidak akurat atau tidak adanya persepsi
emosi terhadap orang lain. Perilaku tersebut secara spesifik dipusatkan di dalam latihan
keterampilan perilaku. Latihan keterampilan perilaku melibatkan penggunaan kaset video
orang lain dan pasien, permainan-simulasi (role playing) dalam terapi, dan pekerjaan rumah
tentang keterampilan yang telah dilakukan.
2.3.3.2. Terapi berorientasi keluarga
Hal ini berguna dalam pengobatan skizofrenia. Karena pasien skizofrenia seringkali
dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluarga dimana pasien skizofrenia kembali
seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat tetapi intensif (setiap hari).
Pusat dari terapi harus pada situasi segera dan harus termasuk mengidentifikasi dan
menghindari situasi yang kemungkinan menimbulkan kesulitan. Jika masalah memang
timbul pada pasien di dalam keluarga, pusat terapi harus pada pemecahan masalah secara
cepat.2,4,5,6,8
Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas di dalam terapi keluarga
adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. Sering sekali, anggota keluarga,
di dalam cara yang jelas, mendorong sanak saudaranya yang menderita skizofrenia untuk
melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal
dari ketidaktahuan tentang sifat skizofrenia dan dari penyangkalan tentang keparahan
penyakitnya. Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia tanpa
menjadi terlalu mengecilkan hati. 2,4,5,6,8

Terapi keluarga selanjutnya dapat diarahkan kepada berbagai macam penerapan strategi
menurunkan stres dan mengatasi masalah dan pelibatan kembali pasien ke dalam aktivitas.
Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam
menurunkan relaps. 2,4,5,6,8
2.3.3.3. Terapi kelompok2,4,5,6,8

Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan
hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku,
terorientasi secara psikodinamika atau tilikan, atau suportif. Terapi kelompok efektif dalam
menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi
pasien dengan skizofrenia. Kelompok yang memimpin dalam cara yang suportif, bukannya
dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia.
2.3.3.4. Terapi perilaku kognitif2,4,5,6,8
Terapi perilaku kognitif telah digunakan pada pasien skizofrenia untuk meningkatkan distorsi
kognitif, menurunkan distractibility, dan mengoreksi penyimpangan tilikan (judgment).
2.3.3.5. Psikoterapi individual
Jenis terapi yang diteliti adalah psikoterapi suportif dan psikoterapi berorientasi-tilikan.
Suatu konsep penting dalam psikoterapi bagi seorang pasien skizofrenia adalah
perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien secara aman adalah kritis.
Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayainya ahli terapi, jarak emosional antara
ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan oleh pasien.
2,4,5,6,8

Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan
pasien nonpsikotik. Menegakkan hubungan seringkali sulit dilakukan; pasien skizofrenia
seringkali kesepian dan menolak terhadap keakraban dan kepercayaan dan kemungkinan
bersikap curiga, cemas, bermusuhan, atau teregresi jika seseorang berusaha mendekati.
Pengamatan yang cermat dari jarak jauh dan rahasia, perintah sederhana, kesabaran,
ketulusan hati, dan kepekaan terhadap kaidah sosial adalah lebih disukai daripada
informalitas yang prematur dan penggunaan nama pertama yang merendahkan diri.
Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan
dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi. Dalam konteks hubungan
professional, fleksibilitas adalah penting dalam menegakkan hubungan kerja dengan pasien.
Ahli terapi mungkin harus makan dengan pasien, duduk di lantai, berjalan-jalan, makan di
restoran, menerima dan member hadiah, bermain tenis meja, mengingat hari ulang tahun
pasien, atau hanya duduk diam bersama pasien. Tujuan utama adalah untuk menyampaikan

gagasan bahwa ahli terapi dapat dipercaya, ingin memahami pasien, dan akan mencoba
melakukannya, dan memiliki kepercayaan tentang kemampuan pasien sebagai manusia, tidak
peduli betapa terganggunya, bermusuhannya, atau kacaunya pasien pada suatu saat. Mandred
Bleuler menyatakan bahwa sikap terapetik yang benar terhadap pasien skizofrenia adalah
dengan menerima mereka, bukannya mengamati mereka sebagai orang yang tidak dapat
dipahami dan berbeda dengan ahli terapi. 2,4,5,6,8