Anda di halaman 1dari 25

KONTRUKSI BAHAN BANGUNAN

ADAM HASIBUAN
MAIKEL SANDI

AGREGAT
Pengertian Agregat
Agregat merupakan salah satu bahan
material beton. Dalam pengambilan
agregat pihak kontraktor memberikan
bukti mengenai mutu dan tetap
terjaminnya mutu tersebut kepada
konsultan.Agregat yang digunakan dalam
campuran beton dibedakan menjadi 2
(dua) macam, yaitu :

A. Agregat halus
Agregat halus untuk beton dapat berupa
pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami
dari batuan-batuan atau berupa pasir
buatan yang dihasil oleh alat-alat pemecah
batu. Adapun syarat-syarat dari agregat
halus yang digunakan menurut PBI 1971,
antara lain :

1. Pasir terdiri dari butir- butir tajam


dan keras. Bersifat kekal artinya tidak
mudah lapuk oleh pengaruh cuaca,
seperti terik matahari dan hujan.
2. Tidak mengandung lumpur lebih dari
5%. Lumpur adalah bagian- bagian
yang bisa melewati ayakan 0,063 mm.
Apabila kadar lumpur lebih dari 5%,
maka harus dicuci. Khususnya pasir
untuk bahan pembuat beton.

3. Tidak mengandung bahan-bahan organik


terlalu banyak yang dibuktikan dengan
percobaan warna dari Abrams-Harder.
Agregat yang tidak memenuhi syarat
percobaan ini bisa dipakai apabila kekuatan
tekan adukan agregat tersebut pada umur 7
dan 28 hari tidak kurang dari 95% dari
kekuatan adukan beton dengan agregat
yangs sama tapi dicuci dalam larutan 3%
NaOH yang kemudian dicuci dengan air
hingga bersih pada umur yang sama.

B. Agregat kasar
Agregat kasar dapat berupa kerikil hasil
desintergrasi alami dari batuan-batuan
atau berupa batu pecah yang diperoleh dari
pemecahan batu dengan besar butir lebih
dari 5 mm. Kerikil, dalam penggunaannya
harus memenuhi syarat- syarat sebagai
berikut:

1. Butir-butir keras yang tidak berpori


serta bersifat kekal yang artinya tidak
pecah karena pengaruh cuaca seperti
sinar matahari dan hujan.
2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih
dari 1%, apabila melebihi maka harus
dicuci lebih dahulu sebelum
menggunakannya.

3. Tidak boleh mengandung zat yang


dapat merusak batuan seperti zat zat
yang reaktif terhadap alkali.
4. Agregat kasar yang berbutir pipih
hanya dapat digunakan apabila
jumlahnya tidak melebihi 20% dari
berat keseluruhan.

AGREGAT KASAR
Ayakan

% Lewat
ayakan (berat
kering)

30,0 mm
25,0 mm
15,0 mm
5,0 mm
2,5 mm

100
90-100
25-60
0-10
0-5

AGREGAT HALUS
Ayakan

%Lewat
ayakan (berat
kering)

10,0 mm
5,0 mm
2,5 mm
1,2 mm
0,6 mm
0,3 mm
0,15 mm

100
90-100
80-100
50-90
25-60
10-30
2-10

Gradasi dari agregat-agregat


tersebut secara keseluruhan harus
dapat menghasilkan mutu beton yang
baik, padat dan mempunyai daya kerja
yang baik dengan semen dan air,
dalam proporsi campuran yang
dipakai.

Klasifikasi Agregat
Orang awam atau non-teknik sipil mungkin
tidak mengetahui apa itu agregat. Agregat
atau lebih tepatnya disebut batuan oleh
orang awam, merupakan material yang
paling sering digunakan dalam proyek
konstruksi. Baik untuk jalan maupun untuk
pembangunan gedung. Dan tentu saja, para
perencana konstruksi punya alasan
tersendiri asal mula penggunaan agregat
pada proyek konstruksi.

Agregat merupakan batuan yang


terbentuk dari formasi kulit bumi
yang padat dan solid. Berdasarkan
asal pembentukannya agregat
diklasisifikasikan kedalam batuan
beku, batuan sedimen, dan batuan
metamorf. Sedangkan berdasarkan
proses pengolahannya agregat
digolongkan menjadi 2 (dua) macam,
yaitu agregat alam dan agregat
buatan.

Agregat alam merupakan agregat yang bentuknya


alami, terbentuk berdasarkan aliran air sungai dan
degradasi. Agregat yang terbentuk dari aliran air
sungai berbentuk bulat dan licin, sedangkan
agregat yang terbentuk dari proses degradasi
berbentuk kubus ( bersudut) dan permukaannya
kasar. Contoh agregat alam yang sering
dipergunakan adalah kerikil dan pasir. Kerikil
adalah agregat yang mempunyai diameter lebih
dari inchi (6,35 mm), sedangkan pasir berukurn
kurang dari inchi, tetapi lolos saring N. 200
atau lebih besar dari 0,075 mm.

Permintaan akan agregat alam yang berbentu


kubus atau bersudut, mempunyai permukaan kasar,
dan bergradasi baik yang semakin banya tidak
mungkin seluruhnya dapat dipenuhi oleh degradasi
alami. Oleh karena itu, agregat alam juga dapat
dibentuk dengan cara pengolahan. Penggunaan alat
pemecah batu (crusher stone) yang terkontrol
dapat membentuk agregat sesuai bentuk yang
dibutuhkan. Terutama untuk pembangunan
jalan. Agregat alam yang berasal dari tempat
terbuka disebut pitrun, sedangkan yang berasal
dari tempat tertutup disebut bankrun.

Selain agregat alam, juga terdapat


agregat buatan. Agregat buatan
merupakan agregat yang berasal dari
hasil sambingan pabrik-pabrik semen
dan mesin pemecah batu. Agregat
buatan sering disebut filler (material
yang berukuran lebih kecil dari 0,075
mm).

Berdasarkan besar partikelpartikelnya agregat dapat dibedakan


atas agregat kasar, agregat halus dan
abu/filler. Menurut ASTM agregat
kasar berukuran > 4,75 mm, dan
agregat halus berukuran < 4,75 mm.
Sedangkan menurut AASHTO
agregat kasar berukuran > 2 mm dan
agregat halus berukuran antara 0,075
mm hingga < 2 mm.

Pemeriksaan kadar air pada agregat


Percobaan ini bertujuan untuk menentukan
kadar air dengan cara pengeringan. Kadar
air agregat adalah perbandingan antara
berat air yang terkandung dalam agregat
dengan berat agregat dalam keadaan
kering. Nilai kadar air ini digunakan untuk
korelsi tekanan air untuk adukan beton
yang disesuaikan dengan kondisi agregat
lapangan.

PERALATAN:
1. Timbangan dengan ketelitian 0,1%
dari berat contoh.
2. Oven yang suhunya dapat diatur
sampai 1105C
3. Talam logam tahan karat
berkapasitas cukup besar bagi
tempat pengeringan contoh benda
uji.

BAHAN BAHAN
Berat minimum contoh agregat tergantung pada ukuran
maksimum dengan batasan sebagai berikut :
Ukuran maksimum : 6,30mm (1/4
) = 0,50 kg
9,50mm (3/8) = 1,50 kg
12,70mm (0,5) = 2,00 kg
19,10mm (3/4) = 3,00 kg
25,40mm (1,0) = 4,00 kg
38,10mm (1,5) = 6,00 kg
50,80mm (2,0) = 8,00 kg
63,50mm (2,5) = 10,00 kg
76,20mm (3,0) = 13,00 kg
88,90mm (3,5) = 16,00 kg
101,60mm (4,0) = 25,00 kg
152,40mm (6,0) = 50,00 kg

PROSEDUR PRAKTIKUM
a. Timbang dan catat berat dalam talam (W1).
b. Masukkan benda uji kedalam talam, kemudian berat
talambenda uji ditimbang. Catat beratnya (W2).
c. Hitung berat uji benda uji : W3 = W2 W1.
d. Keringkan contoh benda uji bersama talam dalam oven
pada suhu (1105)C sampai mencapai bobot tetap.
e. Setelah kering, contoh ditimbang dan dicatat berat
benda uji beserta talam (W4).
f. Hitunglah berat benda uji kering : W5 = W4 W1

Nalisis specific graviti dan penyerapan


agregat kasar

Percobaan ini bertujuan untuk


menentukan bulk dan apparent
specific gravity dan penyerapan
(absobsion) dari agregat kasar
menurut prosedur ASTM C127. Nilai
ini diperlukan untuk menetapkan
besarnya komposisi volume agregat
dalam beton.

PERALATAN :

a. Timbangan dengan ketelitian 0,5gr


yang mempunyai kapasitas 5kg.
b. Keranjang besi diameter 203.2 (b)
dan tinggi 63,5mm (2,5).
c. Alat penggantung keranjang.
d. Oven.
e. Handuk.

BAHAN BAHAN

Bahan contoh agregat disiapkan


sebanyak 11 liter dalam keadaan
kering muka (SSD = Surface
Saturated Dry). Contoh diperoleh
dari bahan yang diproses melalui alat
pemisah atau dengan cara
perempatan. Butiran agregat lolos
saringan n. 4 tidak dapat.

PROSEDUR PRAKTIKUM
a. Benda uji direndam selama 24 jam.
b. Benda uji dikering mukakan (kondisi SSD) dengan
menggulungkan handuk pada butiran agregat.
c. Timbang contoh. Hitung berat contoh kondisi SSD = A.
d. Contoh benda uji dimasukkan kekeranjang dan direndam
kembali didalam air. Temperature air dijaga (73.4
3)F,dan kemudian ditimbang, setelah ditimbang
keranjang digoyang goyangkan dalam air untuk
melepaskan udara yang terperangkap. Hitung berat
contoh kondisi jenuh = B.
e. Contoh dikeringkan pada temperatur (212 230)F.
Setelah didinginkan kemudian ditimbang. Hitung berat
contoh kondisi kering = C.