Anda di halaman 1dari 14

Hubungan Alergi dengan Sesak

Rahdian Husa
13011101204

Hubungan Alergi & Sesak


Asma ditandai dengan bronkospasme episodic
reversible yang terjadi akibat respon
bronkokonstriksi berlebihan terhadap
berbagai rangsangan. Dasar hiperreaktivitas
bronkus ini belum sepenuhnya jelas, tetapi
diperkirakan karena peradangan bronkus yang
persisten.

Hendra Santosa. Asma Bronkial. Buku Ajar Alergi-Imunologi Anak. 2nd edition. Jakarta: Badan Penerbit
IDAI; 2010

Hubungan Alergi & Sesak


Diklasifikasikan secara umum:
Asma ekstrinsik: Imun
Asma Intrinsik: Non-imun

Anirban Maitra, Vinay Kumar. Paru dan Saluran Napas Atas. Buku Ajar Patologi Robbins. 7th edition.
Jakarta: EGC; 2007. p. 511

Hubungan Alergi & Sesak


Asma ekstrinsik; episode asma biasanya
disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe I
yang dipicu oleh pajanan ke suatu antigen
ekstrinsik.
Asma atopik
Asma pekerjaan (banyak bentuk)
Aspergilosis bronkopulmonal alergik
Anirban Maitra, Vinay Kumar. Paru dan Saluran Napas Atas. Buku Ajar Patologi Robbins. 7th edition.
Jakarta: EGC; 2007. p. 511

Hubungan Alergi & Sesak


Asma atopik merupakan jenis asma tersering;
sering berkaitan dengan manifestasi alergi lain
pada pasien serta anggota keluarga. Kadar IgE
serum biasanya meningkat, demikian juga
hitung eosinofil darah.

Anirban Maitra, Vinay Kumar. Paru dan Saluran Napas Atas. Buku Ajar Patologi Robbins. 7th edition.
Jakarta: EGC; 2007. p. 511

Hubungan Alergi & Sesak


Kelainan Hipersensitivitas:
Reaksi tipe 1
Reaksi tipe II (sitotoksisitas antibodi)
Reaksi tipe III (kompleks imun)
Reaksi tipe IV (seluler yang diperantarai imun
atau hipersensitivitas tipe lambat)

Mary V. Lasley, Kelly Hetherington. Alergi. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial. 6th edition.
Singapura: Elsevier; 2011

Hipersensitivitas Tipe 1

Richard N. Mitchelll, Vinay Kumar. Penyakit imunitas. Buku Ajar Patologi Robbins. 7th edition.
Jakarta: EGC; 2007. p. 123-126

Hipersensitivitas Tipe 1
Respons awal, ditandai dengan vasodilatasi,
kebocoran vaskular, dan spasme otot polos,
yang biasanya muncul dalam rentang waktu 5
hingga 30 menit setelah terpajan oleh alergen
dan menghilang setelah 60 menit; dan

Richard N. Mitchelll, Vinay Kumar. Penyakit imunitas. Buku Ajar Patologi Robbins. 7th edition.
Jakarta: EGC; 2007. p. 123-126

Hipersensitivitas Tipe 1
Reaksi fase lambat, yang muncul 2 hingga 8 jam
kemudian dan berlangsung selama beberapa
hari. Ditandai dengan infiltrasi eosinofil serta
sel peradangan akut dan kronis lainnya yang
lebih hebat pada jaringan dan juga ditandai
dengan penghancuran jaringan dalam bentuk
kerusakan sel epitel mukosa.

Richard N. Mitchelll, Vinay Kumar. Penyakit imunitas. Buku Ajar Patologi Robbins. 7th edition.
Jakarta: EGC; 2007. p. 123-126

Hipersensitivitas Tipe 1

Richard N. Mitchelll, Vinay Kumar. Penyakit imunitas. Buku Ajar Patologi Robbins. 7th edition.
Jakarta: EGC; 2007. p. 123-126

Hipersensitivitas Tipe 1
Mediator Primer
Histamin: bronkokonstriksi, dan meningkatkan
sekresi mukus.
Adensosin: bronkokonstriksi

Richard N. Mitchelll, Vinay Kumar. Penyakit imunitas. Buku Ajar Patologi Robbins. 7th edition.
Jakarta: EGC; 2007. p. 123-126

Hipersensitivitas Tipe 1
Mediator Sekunder
Leukotrien: kontraksi otot polos bronkus
Prostaglandin D2: bronkospasme hebat serta
meningkatkan sekresi mukus.
Faktor pengaktivasi trombosit
Sitokin

Richard N. Mitchelll, Vinay Kumar. Penyakit imunitas. Buku Ajar Patologi Robbins. 7th edition.
Jakarta: EGC; 2007. p. 123-126

Hubungan Alergi dan Sesak

Secara ringkas, bebagai senyawa kemotaksis,


vasoaktif, dan bronkospasme memerantarai
reaksi hipersensitivitas tipe I.

Richard N. Mitchelll, Vinay Kumar. Penyakit imunitas. Buku Ajar Patologi Robbins. 7th edition.
Jakarta: EGC; 2007. p. 123-126

Hubungan Alergi dan Sesak


Dalam beberapa menit setelah pajanan, pada
penjamu yang tersensitisasi akan muncul rasa
gatal, urtikaria, dan eritema kulit, diikuti oleh
kesulitan bernapas berat yang disebabkan
oleh bronkokonstriksi paru dan diperkuat
dengan hipersekresi mukus.

Richard N. Mitchelll, Vinay Kumar. Penyakit imunitas. Buku Ajar Patologi Robbins. 7th edition.
Jakarta: EGC; 2007. p. 123-126