Anda di halaman 1dari 29

Pengertian Koloid

Istilah koloid pertama kali diutarakan oleh seorang ilmuwan Inggris,


Thomas Graham, sewaktu mempelajari sifat difusi beberapa larutan
melalui membran kertas perkamen. Graham menemukan bahwa larutan
natrium klorida mudah berdifusi sedangkan kanji, gelatin, dan putih telur
sangat lambat atau sama sekali tidak berdifusi. Zat-zat yang sukar
berdifusi tersebut disebut koloid.
Tahun 1907, Ostwald, mengemukakan istilah sistem terdispersi bagi zat
yang terdispersi dalam medium pendispersi. Analogi dalam larutan, fase
terdispersi adalah zat terlarut, sedangkan medium pendispersi adalah zat
pelarut. Sistem koloid termasuk salah satu sistem dispersi. Sistem
dispersi lainnya adalah larutan dan suspensi. Larutan merupakan sistem
dispersi yang ukuran partikelnya sangat kecil, sehingga tidak dapat
dibedakan antara partikel dispersi dan pendispersi. Sedangkan suspensi
merupakan sistem dispersi dengan partikel berukuran besar dan tersebar
merata dalam medium pendispersinya . Sistem Koloid adalah suatu
bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensi
(campuran kasar). Secara makroskopis koloid tampak homogen, tetapi
secara mikroskopis bersifat heterogen. Campuran koloid umumnya
bersifat stabil dan tidak dapat disaring. Ukuran partikel koloid terletak
antara 1 nm-10 nm.
Koloid merupakan campuran 2 fase yang terdiri dari fase terdispersi dan
medium pendispersi. Fase terdispersi merupakan zat yang didispersikan
dan bersifat diskontinu (terputus-putus), sedangkan medium untuk
mendispersikan disebut medium pendispersi dan berisfat kontinu. Adapun
perbandingan sifat larutan, koloid dan suspensi adalah sebagai berikut:

Jenis-Jenis Koloid
Telah kita ketahui bahwa sistem koloid terdiri atas dua fasa, yaitu fasa
terdispersi dan fasa pendispersi (medium dispersi). Sistem koloid dapat
dikelompokkan
berdasarkan
jenis
fasa
terdispersi
dan
fasa
pendispersinya.
Koloid yang mengandung fasa terdispersi padat disebut sol. Jadi, ada tiga
jenis sol, yaitu sol padat (padat dalam padat), sol cair (padat dalam cair),
dan sol gas (padat dalam gas). Istilah sol biasa digunakan untuk
menyatakan sol cair, sedangkan sol gas lebih dikenal sebagai aerosol
(aerosol padat). Koloid yang mengandung fasa terdispersi cair disebut
emulsi. Emulsi juga ada tiga jenis, yaitu emulsi padat (cair dalam padat),
emulsi cair (cair dalam cair), dan emulsi gas (cair dalam gas). Istilah
emulsi biasa digunakan untuk menyatakan emulsi cair, sedangkan emulsi
gas juga dikenal dengan nama aerosol (aerosol cair). Koloid yang
mengandung fasa terdispersi gas disebut buih. Hanya ada dua jenis buih,
yaitu buih padat dan buih cair. Mengapa tidak ada buih gas? Istilah buih
biasa digunakan untuk menyatakan buih cair. Dengan demikian ada 8
jenis koloid, seperti yangtercantum pada tabel 9.2.

a. Aerosol
Sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas
disebut
aerosol.
Jika
zat
yang
terdispersi
berupa
zat

padat disebut aerosol padat, jika zat yang


terdispersi berupa zat cair disebut aerosol cair. Aerosol padat contohnya:
asap dan debu di udara, aerosol cair contohnya: kabut dan awan.

Dewasa ini banyak produk dibuat dalam bentuk


aerosol, seperti semprot rambut (hair spray), semprot obat nyamuk,
parfum, cat semprot, dan lain-lain. Untuk menghasilkan aerosol
diperlukan suatu bahan pendorong (propelan aerosol). Contoh bahan
pendorong yang banyak digunakan adalah senyawa klorofluorokarbon
(CFC) dan karbon dioksida.
b. Sol

Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam


zat cair disebut sol. Koloid jenis sol banyak ditemui dalam kehidupan
sehari-hari contohnya: sol sabun, sol detergen, sol kanji, tinta tulis, air
sungai berlumpur dan cat.
c. Emulsi
Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair disebut emulsi.

Syarat terjadinya emulsi ini adalah kedua zat


cair tidak
saling melarutkan. Emulsi dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu
emulsi minyak dalam air atau emulsi air dalam minyak. Contoh emulsi
minyak dalam air adalah santan, susu, dan lateks. Contoh emulsi air
dalam minyak adalah minyak ikan, minyak bumi.
Emulsi terbentuk karena adanya zat pengemulsi (emulgator), contoh
emulgator adalah sabun yang dapat mengemulsikan minyak dalam air.
Contoh emulgator lainnya adalah kasein dalam susu dan kuning telur
dalam mayonaise.
d. Buih

Sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair disebut buih.

Seperti halnya dengan emulsi, untuk menstabilkan


buih
diperlukan zat pembuih, misalnya sabun, deterjen, dan protein. Buih
dapat dibuat dengan mengalirkan suatu gas ke dalam zat cair yang
mengandung pembuih. Buih digunakan pada berbagai proses, misalnya
buih sabun pada pengolahan bijih logam, pada alat pemadam kebakaran,
dan lain-lain. Adakalanya buih tidak dikehendaki. Zat-zat yang dapat
memecah atau mencegah buih,antara lain eter, isoamil alkohol, dan lainlain.
Buih
mempunyai
fase
terdispersi
gas.
Buih
terdiri
atas:
1)buih padat dengan medium pendispersi padat, contoh batu apung,
karet
busa,
dan
styrofoam;
2)buih cair atau buih dengan medium pendispersi cair, contoh buih sabun
dan putih telur.
e. Gel
Koloid yang setengah kaku (antara padat dan cair) disebut gel. Contoh :
agar-agar, lem kanji, selai, gelatin, gel sabun, gel silika. Gel dapat
terbentuk dari suatu sol yang mengadsorbsi medium pendispersinya,
sehingga terjadi koloid yang agak padat.

Sifat-sifat Koloid
a. Efek Tyndall

Jika seberkas cahaya dilewatkan pada suatu sistem koloid, maka cahaya
tersebut akan dihamburkannya sehingga berkas cahaya tersebut akan
kelihatan. Sedangkan jika cahaya dilewatkan pada larutan sejati maka
cahaya tersebut akan diteruskannya . Sifat koloid yang seperti inilah yang
dikenal dengan efek tyndall dan sifat ini dapat digunakan untuk
membedakan koloid dengan larutan sejati. Gejala ini pertama kali
ditemukan oleh Michael Faradaykemudian diselidiki lebih lanjut oleh John
Tyndall (1820 1893), seorang ahli Fisikabangsa Inggris.

Efek Tyndall juga dapat menjelaskan mengapa langit pada siang hari
berwarna biru sedangkan pada saat matahari terbenam, langit di ufuk
barat berwarna jingga atau merah. Hal itu disebabkan oleh
penghamburan cahaya matahari oleh partikel koloid di angkasa dan tidak
semua frekuensi dari sinar matahari dihamburkan dengan intensitas
sama.

Jika intensitas cahaya yang dihamburkan berbanding


lurus dengan frekuensi, maka pada waktu siang hari ketika matahari
melintas di atas kita frekuensi paling tinggi (warna biru) yang banyak
dihamburkan, sehingga kita melihat langit berwarna biru. Sedangkan
ketika matahari terbenam, hamburan frekuensi rendah (warna merah)
lebih banyak dihamburkan, sehingga kita melihat langit berwarna jingga
atau merah.
Gejala efek tyndall yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari
adalah sebagai berikut:
-

Sorot lampu mobil pada malam yang berkabut

Sorot lampu proyektor dalam gedung bioskop yang berasap dan


berdebu

Berkas sinar matahari melalui celah pohon-pohon pada pagi yang


berkabut
b. Gerak Brown
Gerak brown merupakan gerak patah-patah (zig-zag) partikel koloid yang

terus menerus dan hanya dapat diamati dengan


mikroskop ultra. Gerak brown terjadi sebagai akibat tumbukan yang tidak
seimbang dari molekul-molekul medium terhadap partikel koloid.Dalam
suspensi tidak terjadi gerak Brown karena ukuran partikel cukup besar,
sehingga tumbukan yang dialaminya setimbang. Partikel zat terlarut juga
mengalami gerak Brown, tetapi tidak dapat diamati. Semakin tinggi suhu,
maka gerak brown yang terjadi juga semakin cepat, karena energi
molekul medium meningkat sehingga menghasilkan tumbukan yang lebih
kuat.
Gerak Brown merupakan faktor penyebab stabilnya partikel koloid dalam
medium dispersinya. Gerak brown yang terus menerus dapat
mengimbangi gaya gravitasi sehingga partikel koloid tidak mengalami
sedimentasi (pengendapan).
c.

Elektroforesis

Partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik


karena partikel koloid bermuatan listrik. Pergerakan partikel koloid dalam
medan listrik ini disebut elektroforesis. Jika dua batang elektrode
dimasukkan kedalam sistem koloid dan kemudian dihubungkan dengan
sumber arus searah, maka partikel koloid akan bergerak kesalah satu
elektrode tergantung pada jenis muatannya. Koloid bermuatan negatif
akan bergerak ke anode (elektrode positif) sedang koloid bermuatan
positif akan bergerak ke katode (elektrode negatif).

Elektroforesis dapat digunakan untuk mendeteksi muatan


partikel koloid. Jika partikel koloid berkumpul dielektrode positif berarti
koloid bermuatan negatif, jika partikel koloid berkumpul dielektrode
negatif bearti koloid bermuatan positif. Peristiwa elektroforesis ini sering
dimanfaatkan kepolisian dalam identifikasi/tes DNA pada jenazah korban
pembunuhan/ jenazah tak dikenal
d. Adsorpsi
Adsorpsi adalah peristiwa di mana suatu zat menempel pada permukaan

zat lain, seperti


ion H+ dan OH- dari medium
pendispersi. Untuk berlangsungnya adsorpsi, minimum harus ada dua
macam zat, yaitu zat yang tertarik disebut adsorbat, dan zat yang
menarik disebut
adsorban. Apabila terjadi penyerapan ion ada
permukaan partikel koloid maka partikel koloid dapat bermuatan listrik
yang muatannya ditentukan oleh muatan ion-ion yang mengelilinginya.

Partikel koloid mempunyai kemampuan menyerap ion


atau muatan listrik pada permukaannya. Oleh karena itu partikel koloid
bermuatan listrik. Penyerapan pada permukaan ini disebut dengan
adsorpsi. Contohnya sol Fe(OH) 3 dalam air mengadsorpsi ion positif
sehingga bermuatan positif dan sol As 2S3 mengadsorpsi ion negatif
sehingga bermuatan negatif. Pemanfaatan sifat adsorpsi koloid dalam
kehidupan antara lain dalam proses pemutihan gula tebu, dalam
pembuatan norit (tablet yang terbuat dari karbon aktif) dan dalam proses
penjernihan air dengan penambahan tawas.
e. Koagulasi
Koagulasi adalah peristiwa pengendapan atau penggumpalan koloid.
Koloid distabilkan oleh muatannya. Jika muatan koloid dilucuti atau
dihilangkan, maka kestabilannya akan berkurang sehingga dapat

menyebabkan koagulasi atau penggumpalan. Pelucutan muatan koloid


dapat terjadi pada sel elektroforesis atau jika elektrolit ditambahakan ke
dalam system koloid. Apabila arus listrik dialirkan cukup lama kedalam sel
elektroforesis, maka partikel koloid akan digumpalkan ketika mencapai
electrode. Koagulasi koloid karena penambahan elektrolit terjadi karena
koloid bermuatan positif menarik ion negative dan koloid bermuatan
negative menarik ion positif. Ion-ion tersebut akan membentuk selubung
lapisan kedua. Jika selubung itu terlalu dekat, maka selubung itu akan
menetralkan koloid sehingga terjadi koagulasi.
Beberapa contoh peristiwa koagulasi dalam kehidupan sehari-hari adalah:
Pembentukan delta di muara sungai karena koloid tanah liat
dalam air sungai mengalami koagulasi ketika bercampur dengan elektrolit
dalam air laut.
Karet dalam latek digumpalkan dengan menambahkan asam
formiat
Lumpur koloidal dalam air sungai dapat digumpalkan dengan
menambahkan tawas
Asap atau debu pabrik dapat digumpalkan dengan alat koagulasi
listrik dari cottrel.
Koloid Pelindung
Ada koloid yang bersifat melindungi koloid lain supaya tidak mengalami

koagulasi. Koloid
semacam ini disebut koloid pelindung.
Koloid pelindung ini membentuk lapisan di sekeliling partikel koloid yang
lain sehingga melindungi muatan koloid tersebut. Koloid pelindung ini
akan membungkus partikel zat terdispersi, sehingga tidak dapat lagi
mengelompok.

Contoh pemanfaatan koloid pelindung adalah sebagai berikut:


1.

Pada pembuatan es krim digunakan gelatin untuk mencegah


pembentukan Kristal besar atau gula

2.

Cat dan tinta dapat bertahan lama karena menggunakan suatu


koloid pelindung.
3.
Zat-zat pengemulsi seperti sabun dan detergen juga tergolong
koloid pelindung.

Dialisis
Untuk stabilitas koloid diperlukan sejumlah muatanion suatu elektrolit.
Akan tetapi, jika penambahan elektrolit ke dalam sistem koloid terlalu
banyak, kelebihan ini dapat mengendapkan fase terdispersi dari koloid itu.
Hal ini akan mengganggu stabilitas sistem koloid tersebut. Untuk
mencegah kelebihan elektrolit, penambahan elektrolit dilakukan dengan
cara dialisis.

Dialisis merupakan proses pemurnian koloid dengan membersihkan atau


menghilangkan ion-ion pengganggu menggunakan suatu kantong yang
terbuat dari selaput semipermiabel. Caranya, sistem koloid dimasukkan
ke dalam kantong semipermeabel, dan diletakkan dalam air. Selaput
semipermeabel ini hanya dapat dilalui oleh ion-ion, sedang partikel koloid
tidak dapat melaluinya, dengan demikian akan diperoleh koloid yang
murni. Ion-ion yang keluar melalui selaput semipermeabel ini kemudian
larut dalam air. Dalam proses dialisis hilangnya ion-ion dari sistem koloid
dapat dipercepat dengan menggunakan air yang mengalir. Peristiwa
dialisis ini diaplikasikan dalam proses pencucian darah di dunia
kedokteran.

Koloid Liofil dan Liofob


Koloid yang memiliki medium dispersi cair dibedakan atas koloid liofil dan
koloid liofob. Suatu koloid disebut koloid liofil apabila terdapat gaya tarikmenarik yang cukup besar antara zat terdispersi dengan mediumnya.
Liofil berarti suka cairan (Yunani: lio = cairan, philia = suka). Sebaliknya,

suatu koloid disebut koloid liofob jika gaya tarik-menarik tersebut tidak
ada atau sangat lemah. Liofob berarti tidak suka cairan (Yunani: lio =
cairan, phobia = takut atau benci). Jika medium dispersi yang dipakai
adalah air, maka kedua jenis koloid di atas masing-masing disebut koloid
hidrofil dan koloid hidrofob.
Contoh:
Koloid hidrofil: sabun, detergen, agar-agar, kanji, dan gelatin.
Koloid hidrofob: sol belerang, sol Fe(OH) 3, sol-sol sulfida, dan sol-sol
logam.
Koloid liofil/hidrofil lebih mantap dan lebih kental daripada koloid liofob/
hidrofob. Butir-butir koloid liofil/hidrofil membungkus diri dengan
cairan/air mediumnya. Hal ini disebut solvatasi/hidratasi. Dengan cara itu
butir-butir koloid tersebut terhindar dari agregasi (pengelompokan). Hal
demikian tidak terjadi pada koloid liofob/hidrofob. Koloid liofob/hidrofob
mendapat kestabilan karena mengadsorpsi ion atau muatan listrik.
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa muatan koloid menstabilkan sistem
koloid.
Sol hidrofil tidak akan menggumpal pada penambahan sedikit elektrolit.
Zat terdispersi dari sol hidrofil dapat dipisahkan dengan pengendapan
atau penguapan. Apabila zat padat tersebut dicampurkan kembali dengan
air, maka dapat membentuk kembali sol hidrofil. Dengan perkataan lain,
sol hidrofil bersifat reversibel. Sebaliknya, sol hidrofob dapat mengalami
koagulasi pada penambahan sedikit elektrolit. Sekali zat terdispersi telah
dipisahkan, tidak akan membentuk sol lagi jika dicampur kembali dengan
air. Perbedaan sol hidrofil dengan sol hidrofob disimpulkan sebagai
berikut.

Peranan Koloid dalam Kehidupan Sehari-hari


a. Mengurangi polusi udara
Gas buangan pabrik yang mengandung asap dan partikel berbahaya
dapat diatasi dengan menggunakan alat yang disebut pengendap cottrel.

Prinsip kerja alat ini memanfaatkan


sifat muatan
dan penggumpalan koloid sehingga gas yang dikeluarkan ke udara telah
bebas dari asap dan partikel berbahaya
Asap dari pabrik sebelum meninggalkan cerobong asap dialirkan melalui
ujung-ujung logam yang tajam dan bermuatan pada tegangan tinggi
(20.000 sampai 75.000 volt).
Ujung-ujung yang runcing akan
mengionkan molekul-molekul dalam udara. Ion-ion tersebut akan
diadsorpsi oleh partikel asap dan menjadi bermuatan. Selanjutnya,
partikel bermuatan itu akan tertarik dan diikat pada elektrode yang
lainnya. Pengendap Cottrel ini banyak digunakan dalam industri untuk dua
tujuan, yaitu mencegah polusi udara oleh buangan beracun dan
memperoleh kembali debu yang berharga (misalnya debu logam).

b. Penggumpalan lateks
Getah karet dihasilkan dari pohon karet atau hevea. Getah karet
merupakan sol, yaitu dispersi koloid fase padat dalam cairan. Karet alam
merupakan zat padat yang molekulnya sangat besar (polimer). Partikel
karet alam terdispersi sebagai partikel koloid dalam sol getah karet.
Untuk mendapatkan karetnya, getah karet harus dikoagulasikan agar
karet
menggumpal dan terpisah dari medium pendispersinya. Untuk
mengkoagulasikan getah karet, biasanya digunakan asam formiat;

HCOOH atau asam asetat; CH3COOH. Larutan asam pekat itu akan
merusak lapisan pelindung yang mengelilingi partikel karet. Sedangkan
ion-ion H+-nya akan menetralkan muatan partikel karet sehingga karet
akan menggumpal.
Selanjutnya, gumpalan karet digiling dan dicuci lalu diproses lebih lanjut
sebagai lembaran yang disebut sheet atau diolah menjadi karet remah
(crumb rubber). Untuk keperluan lain, misalnya pembuatan balon dan
karet busa, getah karet tidak digumpalkan melainkan dibiarkan dalam
wujud cair yang disebut lateks. Untuk menjaga kestabilan sol lateks,
getah karet dicampur dengan larutan amonia; NH3. Larutan amonia yang
bersifat basa melindungi partikel karet di dalam sol lateks dari zat-zat
yang
bersifat
asam
sehingga
sol
tidak menggumpal.

c. Membantu pasien gagal ginjal


Proses dialisis untuk memisahkan partikel-partikel koloid dan zat terlarut
merupakan dasar bagi pengembangan dialisator. Penerapan dalam
kesehatan adalah sebagai mesin pencuci darah untuk penderita gagal
ginjal. Ion-ion dan molekul kecil dapat melewati selaput semipermiabel
dengan demikian pada akhir proses pada kantung hanya tersisa koloid
saja. Dengan melakukan cuci darah yang memanfaatkan prinsip dialisis
koloid, senyawa beracun seperti urea dan keratin dalam darah penderita
gagal ginjal dapat dikeluarkan. Darah yang telah bersih kemudian
dimasukkan kembali ke tubuh pasien.

d. Penjernihan air
Untuk memperoleh air bersih perlu dilakukan upaya penjernihan air.
Kadang-kadang air dari mata air seperti sumur gali dan sumur bor tidak
dapat dipakai sebagai air bersih jika tercemari. Air permukaan perlu
dijernihkan sebelum dipakai. Upaya penjernihan air dapat dilakukan baik
skala kecil (rumah tangga) maupun skala besar seperti yang dilakukan
oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Pada dasarnya penjernihan
air itu dilakukan secara bertahap. Mula-mula mengendapkan atau
menyaring
bahan-bahan
yang
tidak
larut
dengan saringan pasir. Kemudian air yang telah disaring ditambah zat
kimia, misalnya tawas atau aluminium sulfat dan kapur agar kotoran
menggumpal dan selanjutnya mengendap, dan kaporit atau kapur klor
untuk membasmi bibit-bibit penyakit. Air yang
dihasilkan dari

penjernihan itu, apabila akan dipakai sebagai air minum, harus dimasak
terlebih dahulu sampai mendidih beberapa saat lamanya.
Untuk memperjelas tentang penjernihan air perhatikan gambar 9.13
berikut!

Proses
pengolahan air tergantung pada mutu baku air (air belum diolah), namun
pada dasarnya melalui 4 tahap pengolahan. Tahap pertama adalah
pengendapan, yaitu air baku dialirkan perlahan-lahan sampai bendabenda yang tak larut mengendap. Pengendapan ini memerlukan tempat
yang luas dan waktu yang lama. Benda-benda yang berupa koloid tidak
dapat diendapkan dengan cara itu.
Pada tahap kedua, setelah suspensi kasar terendapkan, air yang
mengandung koloid diberi zat yang dinamakan koagulan. Koagulan yang
banyak
digunakan
adalah
aluminium
sulfat,
besi(II)sulfat,
besi(III)klorida, dan klorinasi koperos (FeCl 2Fe2(SO4)3). Pemberian
koagulan selain untuk mengendapkan partikel-partikel koloid, juga untuk
menjadikan pH air sekitar 7 (netral). Jika pH air berkisar antara 5,56,8,
maka yang digunakan adalah aluminium sulfat, sedangkan untuk senyawa
besi sulfat dapat digunakan pada pH air 3,55,5.
Pada tahap ketiga, air yang telah diberi koagulan mengalami proses
pengendapan, benda-benda koloid yang telah menggumpal dibiarkan
mengendap. Setelah mengalami pengendapan, air tersebut disaring
melalui penyaring pasir sehingga sisa endapan yang masih terbawa di
dalam air akan tertahan pada saringan pasir tersebut.
Pada tahap terakhir, air jernih yang dihasilkan diberi sedikit air kapur
untuk menaikkan pHnya, dan untuk membunuh bakteri diberikan kalsium
hipoklorit (kaporit) atau klorin (Cl2).
e. Sebagai deodoran
Deodoran mengandung aluminium klorida yang dapat mengkoagulasi atau
mengendapkan protein dalam keringat.endapan protein ini dapat

menghalangi kerja kelenjer keringat sehingga keringat dan potein yang


dihasilkan berkurang.
f. Sebagai bahan makanan dan obat
Ada zat-zat yang tidak larut dalam air sehingga harus dikemas dalam
bentuk koloid sehingga mudah diminum. Contohnya obat dalam bentuk
kapsul.
g. Sebagai bahan kosmetik
Ada berbagai bahan kosmetik kosmetik berupa padatan, tetapi lebih baik
digunakan dalam bentuk cairan. Untuk itu biasanya dibuat berupa koloid
dengan tertentu.
h. Sebagai bahan pencuci
Prinsip koloid juga digunakan dalam proses pencucian dengan sabun dan
detergen. Dalam pencucian dengan sabun atau detergen, sabun/
detergen
berfungsi
sebagai
emulgator.
Sabun/detergen
akan
mengemulsikan minyak dalam air sehingga kotoran-kotoran berupa
lemak atau minyak dapat dihilangkan dengan cara pembilasan dengan air.

Pembuatan Koloid
a. Cara kondensasi
Dengan cara kondensasi partikel larutan sejati bergabung menjadi
partikel koloid. Cara ini dapat dilakukan melalui reaksi-reaksi kimia
seperti reaksi redoks, hidrolisis, dekomposisi rangkap, atau dengan
pergantian pelarut.
1)

Reaksi subtitusi

Misalnya larutan natrium tiosulfat direaksikan dengan larutan asam


klorida , maka akan terbentuk belerang. Partikel belerang akan bergabung
menjadi semakin besar sampai berukuran koloid sehingga terbentuk sel
belerang. Seperti reaksi
Na2SO3(aq) + 2HCl(aq) 2 NaCl(aq)+ H2O(l) + S(s)
2) Reaksi Hidrolisis
Reaksi hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air. Sol Fe(OH) 3 dibuat
melalui hidrolisis larutan FeCl 3, yaitu dengan memanaskan larutan FeCl3.
Hidrolisis larutan AlCl3 akan menghasilkan koloid Al(OH)3. Reaksinya
adalah:

FeCl3(aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3(s) +3HCl(aq)


AlCl3(aq) + 3 H2O(l) Al(OH)3(s) + 3HCl(aq)
3) Reaksi Redoks
Reaksi redoks adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi.
Pembuatan sol belerang dari reaksi antara hidrogen sulfida (H 2S) dengan
belerang dioksida (SO2), yaitu dengan mengalirkan gas H 2S kedalam
larutan SO2
2H2S(g) + SO2(aq) 2H2O(l) + 3S (s)
4) Reaksi Dekomposisi Rangkap
Contohnya adalah pembuatan sol As 2S3 dengan mereaksikan larutan
H3AsO3 dengan larutan H2S. Reaksinya adalah sebagai berikut:
2H3AsO3(aq) + 3H2S(aq) As2S3(s) + 6H2O(l)
5) Penggantian Pelarut
Cara ini dilakukan dengan menggnti medium pendispersi sehingga fase
terdispersi yang semula larut menjadi berukuran koloid. Misalnya larutan
jenuh kalsium asetat jika dicampur dengan alcohol akan terbentuk suatu
koloid berupa gel.
b. Cara dispersi
Dengan cara dispersi partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid.
Cara dispersi dapat dilakukan secara mekanik, peptisasi, atu dengan
loncatan bunga listrik(busur bredig).
1) Cara mekanik
Dengan cara ini, butir-butir kasar digerus dengan lumpang, sampai
diperoleh tingkat kehalusan tertentu, kemudian diaduk dengan medium
pendispersi. Contoh pembuatan sol belerang dengan menggerus serbuk
belerang bersama zat inert seperti gula pasir, kemudian mencampur
dengan air.
2) Cara peptisasi
Cara peptisasi adalah pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari
suatu endapan dengan bantuan zat pemecah (pemeptisasi).
3) Cara busur bredig
Cara busur bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam. Logam yang
akan dijadikan koloid digunakan sebagai elktrode yang dicelupkan
kedalam medium dispersi, kemudian diberi loncatan listrik dikedua
ujungnya. Mula-mula atom logam akan terlempar kedalam air, lalu atom
tersebut mengalami kondensasi sehingga membentuk partikel koloid. Jadi
cara busur bredig ini merupakan gabungan cara disperse dan kondensasi.

Sistem koloid
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Susu adalah koloid teremulsi dari lemak susu dalam air


Sistem koloid (selanjutnya disingkat "koloid" saja) merupakan suatu
bentuk campuran (sistem dispersi) dua atau lebih zat yang bersifat
homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup besar (1
- 100 nm), sehingga terkena efek Tyndall. Bersifat homogen berarti
partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain
yang dikenakan kepadanya; sehingga tidak terjadi pengendapan,
misalnya. Sifat homogen ini juga dimiliki oleh larutan, namun tidak
dimiliki oleh campuran biasa (suspensi).
Koloid mudah dijumpai di mana-mana: susu, agar-agar, tinta, sampo,
serta awan merupakan contoh-contoh koloid yang dapat dijumpai seharihari.Sitoplasma dalam sel juga merupakan sistem koloid. Kimia
koloid menjadi kajian tersendiri dalam kimia industri karena
kepentingannya.
Macam-macam koloid[sunting | sunting sumber]
Koloid memiliki bentuk bermacam-macam, tergantung dari fase zat
pendispersi dan zat terdispersinya. Beberapa jenis koloid:

Aerosol yang memiliki zat pendispersi berupa gas. Aerosol yang


memiliki zat terdispersi cair disebut aerosol cair (contoh: kabut dan
awan) sedangkan yang memiliki zat terdispersi padat disebut aerosol
padat (contoh: asap dan debu dalam udara).

Sol Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair.
(Contoh: Air sungai, sol sabun, sol detergen, cat dan tinta).

Emulsi Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair
lain, namun kedua zat cair itu tidak saling melarutkan. (Contoh:
santan, susu, mayonaise, dan minyak ikan).

Buih Sistem Koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair.
(Contoh: pada pengolahan bijih logam, alat pemadam kebakaran,
kosmetik dan lainnya).

Gel sistem koloid kaku atau setengah padat dan setengah cair.
(Contoh: agar-agar, Lem).

Sifat-sifat Koloid[sunting | sunting sumber]

Efek Tyndall
Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya)
oleh partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran
molekul koloid yang cukup besar. Efek Tyndall ini ditemukan
olehJohn Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh
karena itu sifat itu disebut efek tyndall.
Efek Tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena
sinar. Pada saat larutan sejati disinari dengan cahaya, maka larutan
tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada
sistem koloid, cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi karena
partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif
besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya,
pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga
hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.

Gerak Brown

Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa


bergerak lurus tapi tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan).

Jika diamati koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan


melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk
zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown.
Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut
dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas( dinamakan gerak
brown), sedangkan pada zat padat hanya beroszillasi di
tempat ( tidak termasuk gerak brown ). Untuk koloid dengan
medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel
akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu
sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh
karena ukuran partikel cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi
cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu resultan
tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel
sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.
Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown
yang terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid,
semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan
mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak
ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat
(suspensi).
Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu
sistem koloid, maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki
partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown
dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian
pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid, maka gerak
Brown semakin lambat.

Adsorpsi

Adsorpsi ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa


lain pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya
permukaan partikel. Adsorpsi harus dibedakan dengan absorpsi
yang artinya penyerapan yang terjadi di dalam suatu partikel.
Contoh:
(i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya
menyerap ion H+.
(ii) Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap
ion S2.

Muatan koloid

Dikenal dua macam koloid, yaitu koloid bermuatan positif dan koloid
bermuatan negatif.

Koagulasi koloid

Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk


endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak
lagi membentuk koloid.
Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan
dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit,
pencampuran koloid yang berbeda muatan.

Koloid pelindung

Koloid pelindung ialah koloid yang mempunyai sifat dapat


melindungi koloid lain dari proses koagulasi.

Dialisis

Dialisis ialah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan cara


mengalirkan cairan yang tercampur dengan koloid melalui membran
semi permeable yang berfungsi sebagai penyaring. Membran semi
permeable ini dapat dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati
koloid, sehingga koloid dan cairan akan berpisah.

Elektroforesis

Elektroferesis ialah peristiwa pemisahan partikel koloid yang


bermuatan dengan menggunakan arus listrik.

A. Sistem Koloid
1. Pengertian Koloid

Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak


antara larutan dan suspensi (campuran kasar). Sistem koloid ini
mempunyai sifat-sifat khas yang berbeda dari sifat larutan atau suspensi.
Keadaan koloid bukan ciri dari zat tertentu karena semua zat, baik padat,
cair, maupun gas, dapat dibuat dalam keadaan koloid.
Sistem koloid sangat berkaitan erat dengan hidup dan kehidupan kita
sehari-hari.
Cairan tubuh, seperti darah adalah sistem koloid, bahan makanan seperti
susu, keju, nasi, dan roti adalah sistem koloid. Cat, berbagai jenis obat,
bahan kosmetik, tanah pertanian juga merupakan sistem koloid. Karena
sistem koloid sangat berpengaruh bagi kehidupan sehari-hari, kita harus
mempelajarinya lebih mendalam agar kita dapat menggunakannya
dengan benar dan dapat bermanfaat untuk diri kita.
Tabel perbandingan sifat larutan sejati, koloid, dan suspensi
Larutan Sejati(Dispersi molekuler): Diameter partikel <10-7 cm,Homogen
dan
transparan,Dispersan tidak tampak di bawah
ultra,Tak dapat disaring dan Contoh: air gula,
alkohol dalam air.
Koloid:Diameter partikel:10-7 - 10-5 cm,Dispersan tampak dibawah
ultra,Tidak dapat
menembus membran semipermiabel mikroskop,dapat disaring dengan
kertas saring
ultra,dan Contoh: susu.
Suspensi: Diameter partikel >10-5 cm,Campuran heterogen,Jika
dibiarkan agak lama,
dispersan akan mengendap, Tidak dapat menembus membran
semipermiabel,Dapat
disaring dengan kertas saring ultra.
2. Koloid dalam kehidupan sehari-hari
Berberapa contoh larutan, koloid, dan suspensi
contoh larutan : larutan gula, garam, spiritus, alkohol 70%, larutan
cuka,
air laut,udara yang bersih
contoh koloid : buih, susu, santan, selai, jeli, mentega, mayonaise, cat
contoh suspensi : air sungai yang keruh, campuran air-pasir
Fakta : air sungai = setelah disaring masih mengandung zat terlarut
dan
partikel koloid
3. Jenis-jenis koloid

Penggolongan koloid didasarkan atas fase terdispersi dan medium


pendispersinya
Untuk fase terdispersi padat : sol (sol padat, sol cair, sol gas).
Pengertian
secara umum : sol padat = sol, sol gas = aerosol
Untuk fase terdispersi cair : emulsi (emulsi padat, emulsi cair, emulsi
gas).
Pengertian secara umum : emulsi cair = emulsi, emulsi
gas = aerosol cair / aerosol
Untuk fase terdispersi gas : buih (buih padat dan buih cari). Buih gas
(tidak ada)
= larutan, bukan koloid
4. Jenis-jenis koloid
Fase Terdipersi Medium Pendispersi Jenis
(Nama Koloid) Contoh
Padat
Cair
Gas
Padat Sol padat
Emulsi padat
Busa padat Mutiara, kaca warna
Keju, mentega
Batu apung, kerupuk
Padat
Cair
Gas
Cair Sol, gel
Emulasi
Busa Pati dalam air, cat, jeli
Susu, mayones, santan
Krim, pasta
Padat
Cair
Gas Aerosol padat
Aerosol cair Debu, asap
Awan, kabut
Koloid yang setengah kaku, antara padat dan cair disebut gel
Dapat terbentuk dari suatu sol yang zat terdispersinya mengadsorbsi
medium pendispersinya sehingga terjadi koloid yang agak padat
Contoh : agar-agar, lem kanji, selai, gelatin, gel sabun, gel silika
4. Penggunaan koloid
Koloid merupakan satu-satunya cara untuk menyajikan suatu campuran
dari zat-zat yang tidak saling melarutkan secara homogen dan stabil

Contoh pemanfaatan sifat ini : cat yang terdiri dari zat warna (pigmen)
tak larut dalam air / medium cat, dengan koloid didapat campuran yang
homoge dan stabil
Contoh lain : industri kosmetik, farmasi, makanan, tektil,
sabun/detergen

B. Sifat Sifat Koloid


1. Efek Tyndal
Merupakan efek penghamburan cahaya, sehingga nampak adanya
berkas cahaya bila cahaya dilewatkan ke dalamnya
Contoh : sorot lampu mobil, lampu proyektor bila ada yang merokok,
berkas sinar matahari melalui celah dedaunan
2. Gerak Brown
Adalah gerak zig-zag dan terus menerus dari partikel koloid
Ditemukan pertama kali oleh Robert Brown (ahli biologi dari Inggris)
Terjadi akibat tumbukan antara partikel-partikel medium dengan
partikel koloid.
3. Elektroforesis
Merupakan gerakan partikel koloid akibat pengaruh medan listrik, yang
menunjukkan bahwa partikel koloid bermuatan listrik
Partikel koloid bermuatan negatif akan bergerak ke arah anoda
(elektrode positif)
Sebaliknya, partikel koloid bermuatan positif akan bergerak ke arah
katode (elektrode negatif)
4. Adsorbsi
Adalah kemampuan partikel koloid untuk menyerap ion / partikel lain
pada permukaannya
Adsorbsi ion menyebabkan partikel koloid bermuatan listrik

a. Sol Fe(OH)3, bermuatan positif akibat adsorbsi ion-ion positif (ion-ion


Fe3+)
b. Sol As2S3, bermuatan negatif akibat adsorbsi ion-ion negatif (ion-ion
S-)

5. Koloid pelindung

Merupakan koloid yang dapat berfungsi sebagai pelindung bagi koloid


lain
Koloid liofil bersifat lebih stabil daripada koloid liofob, sehingga koloid
liofil berfungsi sebagai koloid pelindung
Contoh gelatin pada es krim untuk mencegah pembentukan kristal
besar es atau gula
5. Dialisis
Merupakan cara pemisahan partikel-partikel koloid dari ion-ion atau
molekul sederhana menggunakan selaput semipermeabel (contoh : kertas
selofan, usus kambing)
Mesin dialisis dapat digunakan untuk alat cuci darah
7. Koloid liofil dan liofob
Dibedakan berdasarkan afinitas (daya tarik-menarik) antara fasa
terdispersi dan medium pendispersinya
Pada koloid liofil, fasa terdispersi mempunyai kecenderungan untuk
menarik medium pendispersinya
Pada koloid liofil, fasa terdispersi mempunyai kecenderungan kecil untuk
menarik (atau bahkan menolak) medium pendispersinya

Perbedaan sifat-sifat sol liofil dan sol liofob:

8. Koagulasi
Merupakan peristiwa peristiwa peng-gumpalan akibat bergabungnya
partikel-partikel koloid membentuk partikel yang lebih besar
Dapat terjadi jika muatan partikel koloid dilucuti atau penambahan
suatu elektrolit, sehingga muatannya ternetralkan yang berakibat
hilangnya kestabilan koloid
Hilangnya kestabilan koloid berbuntut pada terjadinya koagulasi
(pengendapan)

C. Pembuatan Koloid
Cara Dispersi Cara Kondensasi
Mengubah partikel besar menjadi kecil Mengubah partikerl larutan
menjadi partikel koloid
1. Secara Mekanik 1. Secara Kimia
Hidrolisis FeCl3(aq) + 3 H2O(l) Fe(OH)3 (koloid) + 3 HCl(aq)
Redoks 2 H2S(g) + SO2(aq) 2 H2O(l) + 3 S (koloid)
Agregasi Ionik 2 H3AsO3(aq) + 3 H2S(aq) As2S3(koloid) + 6 H2O(l)
2. Peptisasi (penambahan ion sejenis), pembentukan sol Al(OH)3 2.
Mencampurkan dua jenis larutan
3. Proses Bredig: Pembuatan sol logam dengan loncatan bunga listrik
D. Pengelompokan Sistem Koloid
No Fase Terdispersi Medium Pendispersi Nama Contoh
1 Cair Gas Aerosol Cair Kabut
2 Padat Gas Aerrosol Padat asap, debu
3 Gas Cair Buih Busa sabun
4 Cair Cair Emulsi Susu,santan
5 Padat Cair Sol=suspensi Cat, larutan kanji
6 Gas Padat Busa padat Batu apung, karet busa
7 Cair Padat Emulsi padat Keju, mentega, mutiara
8 Padat Padat Sol padat Paduan logam, permata
E. Pemisahan Koloid
1) Elektroforensis: pemisahan koloid bermuatan oleh pengaruh medan
listrik.
Contoh: emisahan protein, penangkapan debu pada cerobong
asap, penentuan muatan koloid.
2) Penyaringan Ultra: memisahankan koloid melewati membran, berdasar

perbadaan tekanan osmosis.


3) Dialisis: memisahkan koloid melewati membran berdasar perbedaan
laju transpor partikel.

F. Macam Macam Koloid


1. Aerosol: Suatu sistem koloid jika padat atau cair terdispersi dalam gas.
Contoh: debu, kabut dan awan
2. Sol: Suatu sistem koloid jika partikel padat terdipersi dalam zat cair
3. Emulsi: Suatu sistem koloid jika partikel cair terdispersi dalam zat cair
4. Emulgator: Zat yang dapat menstabillkan emulsi
Sabun adalah emulgator campuran air dan minyak.
Kasein adalah emulgator lemak dalam air.
5. Gel: Adalah koloid liofil setengah kaku.
Gel terjadi jika medium pendispersi di absorbsi oleh partikel koloid
sehingga terjadi koloid
yang agak padat. Larutan sabun dalam air yang pekat dan panas dapat
berupa cairan tapi
jika dingin membentuk gel kaku. Jika dipanaskan cair lagi.
Daftar Pustaka
Purba, Michael.2010.Kimia Untuk SMA Kelas XI . Jakarta: ERLANGGA
Diposkan oleh dwiedi 06.29Tidak ada komentar:
Beranda

Sistem dispers dan sistem koloid


SISTEM DISPERS
A. Dispersi kasar
(suspensi)
B. Dispersi koloid
C. Dispersi
molekuler
(larutan sejati)

: partikel zat yang didispersikan berukuran


lebih besar dari 100 nm.
: partikel zat yang didispersikan berukuran
antara 1 nm 100 nm.
: partikel zat yang didispersikan berukuran
lebih kecil dari 1 nm.

Sistem koloid pada hakekatnya terdiri atas dua fase, yaitu fase terdispersi
dan medium pendispersi.
Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi sedangkan medium yang
digunakan untuk mendispersikan disebut medium pendispersi.
JENIS KOLOID
Sistem koloid digolongkan berdasarkan pada jenis fase terdispersi dan
medium pendispersinya.
- koloid yang mengandung fase terdispersi padat disebut sol.
- koloid yang mengandung fase terdispersi cair disebut emulsi.
- koloid yang mengandung fase terdispersi gas disebut buih
sifat-sifat koloid:
Sifat-sifat khas koloid meliputi :
a. Efek Tyndall
Efek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid.
b. Gerak Brown
Gerak Brown adalah gerak acak, gerak tidak beraturan dari partikel koloid.

Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif


Koloid As2S3 bermuatan negatif
karena permukaannya menyerap
karena permukaannya menyerap
+
ion H
ion S2c. Adsorbsi
Beberapa partikel koloid mempunyai sifat adsorbsi (penyerapan)
terhadap partikel atau ion atau senyawa yang lain.
Penyerapan pada permukaan ini disebut adsorbsi (harus dibedakan
dari absorbsiyang artinya penyerapan sampai ke bawah
permukaan).
Contoh :
(i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya
menyerap ion H+.
(ii) Koloid As2S3 bermuatan negatit karena permukaannya menyerap
ion S2.
d. Koagulasi

Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk


endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak
lagi membentuk koloid.
Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan
dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit,
pencampuran koloid yang berbeda muatan.
e. Koloid Liofil dan Koloid Liofob
Koloid ini terjadi pada sol yaitu fase terdispersinya padatan dan
medium pendispersinya cairan.
Koloid Liofil: sistem koloid yang affinitas fase
terdispersinya besarterhadap medium
pendispersinya.
Contoh: sol kanji, agar-agar, lem, cat
Koloid
sistem koloid yang affinitas fase
Liofob:
terdispersinya kecilterhadap medium
pendispersinya.
Contoh: sol belerang, sol emas.
ELEKTROFERESIS dan DIALISIS
ELEKTROFERESIS
Elektroferesis adalah peristiwa pergerakan partikel koloid yang
bermuatan ke salah satu elektroda.
Elektrotoresis dapat digunakan untuk mendeteksi muatan partikel
koloid. Jika partikel koloid berkumpul di elektroda positif berarti
koloid bermuatan negatif dan jika partikel koloid berkumpul di
elektroda negatif berarti koloid bermuatan positif.
Prinsip elektroforesis digunakan untuk membersihkan asap dalam
suatu industri dengan alat Cottrell.DIALISIS
Dialisis adalah proses pemurnian partikel koloid dari muatanmuatan yang menempel pada permukaannya.
Pada proses dialisis ini digunakan selaput semipermeabel.
Cara pembuatan koloid
A. Cara KondensasiCara kondensasi termasuk cara kimia.
kondensasi
Prinsip
Partikel
> Partikel
:
Molekular
Koloid
Reaksi kimia untuk menghasilkan koloid meliputi :
1. Reaksi Redoks
2 H2S(g) + SO2(aq) 3 S(s) + 2 H2O(l)
2. Reaksi Hidrolisis

FeCl3(aq) + 3 H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3 HCl(aq)


3. Reaksi Substitusi
2 H3AsO3(aq) + 3 H2S(g) As2S3(s) + 6 H2O(l)
4. Reaksi Penggaraman
Beberapa sol garam yang sukar larut seperti AgCl,
AgBr, PbI2, BaSO4 dapat membentuk partikel koloid
dengan pereaksi yang encer.
AgNO3(aq) (encer) + NaCl(aq) (encer) AgCl(s) +
NaNO3(aq)(encer)
B. Cara Dispersi
Prinsip :
Partikel
Partikel
Besar
>
Koloid
Cara dispersi dapat dilakukan dengan cara mekanik atau cara
kimia:
1. Cara Mekanik
Cara ini dilakukan dari gumpalan partikel yang besar
kemudian dihaluskan dengan cara penggerusan atau
penggilingan.
2. Cara Busur Bredig
Cara ini digunakan untak membuat sol-sol logam.
3. Cara Peptisasi
Cara peptisasi adalah pembuatan koloid dari butir-butir
kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu
zat pemeptisasi (pemecah).
Contoh:
- Agar-agar dipeptisasi oleh air ; karet oleh bensin.
- Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S ; endapan
Al(OH)3 oleh AlCl3

3 TANGGAPAN KE SISTEM KOLOID

1.

Wong Waras Berkata:

Juli 3, 2008 at 3:14 pm


Wong Edan
Ngrepek koq didukung
hehehe

Tapi
.
Ok Dech
aku yo tau ngrepek koq
.
Balas

2.

alek Berkata:

Juli 6, 2008 at 1:45 pm


bagussssssss
Balas

3.

ERICK Berkata:

April 1, 2009 at 6:57 am


kerennnnnnnnnnnnn
Balas

Anda mungkin juga menyukai