Anda di halaman 1dari 16

BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama: By. N
Umur: 3 hari
Tempat/Tanggal Lahir: Bekasi, 12 Sept 2014

Jenis Kelamin: Perempuan


BB: 3700 gram
PB: 54 cm
Alamat: Gg. Banteng Kel. Kranji

Tanggal Masuk RS: 14 Sept 2014 pukul 10.00 Tanggal Keluar: 17 Sept 2014 17.00 WIB
WIB
II. ANAMNESIS
Diambil dari: Alloanamnesis

Tanggal : 14 Sept 2014

Jam : 11.00 WIB

Keluhan utama: Tubuh kuning sejak pukul 05.00 WIB


Riwayat Penyakit Sekarang :
Mata dan kulit pasien tiba-tiba berwarna kuning, pasien minum ASI banyak,
menangis, bergerak aktif, tidak demam, perut tidak kembung, tidak diare, tidak kejang, tidak
muntah, tidak rewel dan tidak merintih.
Riwayat Kelahiran (Birth History):
Bayi perempuan lahir normal dari ibu G1P0A0, aterm, hamil 39 minggu, ditolong oleh
seorang bidan di RSUD Bekasi, saat lahir langsung menangis, gerak aktif, minum ASI (+).
APGAR Score 9-10, ketuban hijau (-), bau busuk (-), kental (-), mekonium (-), anus (+), BBL
3700 gram, PB 54 cm, LK 34 cm, LD 35 cm.
Riwayat kehamilan:
Kontrol rutin sebulan sekali ke bidan dekat rumah. Riwayat ibu demam (-), hipertensi
(-), diabetes melitus (-), anemia (-).
Riwayat Imunisasi:
( - ) BCG

( - ) DPT

( - ) Hep B

( - ) Campak

( -) Polio

Riwayat Penyakit Keluarga:


Riwayat penyakit dalam keluarga serupa (-)
Pedigree Keluarga:
Tn.B 24thn, Buruh

Riwayat Sosial Ekonomi:


Pasien adalah anak

Ny. A 23 thn, Ibu rumah tangga


Ibu rumah tangga
os

pertama dari Tn.B yang bekerja

sebagai buruh, dan Ny.A yang bekerja sebagai ibu rumah tangga. Secara ekonomi, keluarga
Os tergolong ekonomi menengah kebawah.
Riwayat Lingkungan:
Tinggal dirumah kontrakan. Terdapat 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Ventilasi
kurang baik, jendela cukup, cahaya matahari cukup masuk rumah, air minum dan air mandi
berasal dari air tanah yang ditampung menggunakan ember. Rumah pasien terletak di rumah
padat penduduk. Di sekitar perumahan sanitasi kurang baik terdapat selokan yang jarang
dibersihkan. Di rumah pasien tidak terdapat hewan peliharaan.
III. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum

Keadaan Umum

: Tampak sakit ringan

PAT:
A: Tonus (+) Consibility (-) Look (-) Speech (-)
2

B: NCH (-) Retraksi (-) dypneu (-)


C: Sianosis (-) CRT <2 Anemis (-), ikterik (+),
Heart Rate

: 140 x/menit

Pernapasan

: 32 x/menit

Suhu badan

: 36,40C

Berat badan

: 3700 gram

Panjang badan

: 54 cm

Lingkar kepala

: 34 cm

Lingkar dada

: 35 cm

Pemeriksaan Khusus
Kepala

caput (+)

Rambut

hitam

Ubun-ubun

frontanemia mayor dan minor belum menutup.

Muka

tidak ada kelainan bentuk, muka oval.

Mata

simetris, sklera ikterus +/+, conjungtiva tidak anemis.

Hidung

NCH (-), sekret (-), epistaksis (-)

Mulut

sianosis (-), bibir kering (-), mukosa ikterus (+)

Telinga

simetris, bersih, tidak ada serumen.

Leher

tidak ada pembesaran KGB

Thoraks
Paru-paru
3

Inspeksi

bentuk simetris, pergerakan simetris, retraksi (-)

Palpasi

stemfremitus kanan sama dengan kiri

Perkusi

sonor di kedua lapangan paru

Auskultasi

vesikuler (+) normal, ronchi (-), wheezing (-)

Inspeksi

pulsasi (-), iktus (-), voussur cardiaque (-)

Palpasi

iktus (-), thrill (-)

Perkusi

dalam batas normal

Auskultasi

HR= 140 x/menit, irama regular, murmur (-), gallop (-)

Inspeksi

datar

Palpasi

supel, hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

timpani

Auskultasi

bising usus (+) normal

Jantung

Abdomen

Lipat paha dan genitalia : Anus (+)


Ekstremitas : akral dingin (-), sianosis (-), CRT < 2 detik, ikterus (+) sindactyly (-),
polidactily (-)

Ballard Score & Physical Maturity

Ballard Score

19

Physical Maturity

17

Kurva Lubchenco

Jumlah score: 36 -> 38-39 minggu

Berat badan

: 3700 gr

Jumlah minggu

: 39 minggu

SMK (Sesuai Untuk Masa Kehamilan)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Fungsi Hati (14/09/14)
Bilirubin total

18.70mg/dL

H 1.0 ~ 10.0

V. RESUME
Pada tanggal 12 September 2014 lahir seorang bayi perempuan, berkebangsaan
Indonesia, beragama Islam, lahir Persalinan Spontan dari ibu G1P0A0, Aterm, ditolong oleh
bidan di RSUD Kota Bekasi, saat lahir langsung menangis, gerak aktif, minum ASI (+).
APGAR Score tidak diketahui, ketuban hijau (-), bau busuk (-), kental (-), mekonium (-),
anus (+), BBL 3700 gram, PB 54 cm, LK 34 cm, LD 35 cm. Pada anamnesis didapatkan
keluhan mata dan kulit tiba-tiba berwarna kuning. Pada pemeriksaan umum didapatkan
tampak sakit ringan, Keadaan Umum: Tampak sakit ringan, PAT: A: Tonus (+) Consibility (-)
Look (+) Speech (-), B: NCH (-) Retraksi (-), C: Sianosis (-) CRT <2, ikterus (+) Heart Rate:
140 x/menit, Pernapasan: 32 x/menit, Suhu badan: 36,40C, Berat badan: 3700 gram, Panjang
badan: 54 cm, Lingkar kepala: 35 cm, Lingkar dada: 34 cm. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan mata: sklera icterus +/+, Kulit: icterus. Dilakukan pemeriksaan darah fungsi hati,
didapatkan hasil: bilirubin total: 18.70. Pasien dari ruang Dahlia RSUD Kota Bekasi lalu
dirawat di ruang Perinatologi RSUD Kota Bekasi untuk dilakukan perawatan.

VI. DIAGNOSIS
Diagnosis kerja: Ikterus fungsional
VII. PENCEGAHAN
Edukasi :
-

Kecukupan kebutuhan akan nutrisi, tidak menghentikan ASI saat bay ikterus

Bayi baru lahir dengan ikterus adalah baik bila medapatkan sinar matahari yang cukup
untuk menurunkan kadar bilirubin indirek dalam darah.

Bila ada perubhaan gejala terutama yang memberatkan maka segera dilakukan
konsultasi dengan dokter yang merawat.

VIII. PROGNOSIS
Advitam

: Ad bonam

Adfungsional : Ad bonam
Adsanationam : Ad bonam

IX. FOLLOW UP
14/09/14
S

Mata

15/09/14
dan

tubuh Mata

kuning

kuning

16/09/14
dan

tubuh Mata

dan

17/09/14
tubuh Mata

kuning

O S: GDS
T:RT:33C ST: 27C
A: Nafas spontan,

S: GDS
T:RT:33C ST: 28C
A: Nafas spontan,

SpO2: 99% retraksi

SpO2: 98% retraksi

(-)
B:HR:140x/mnt,mottl

(-)
B:HR:132x/mnt,mot

ed (-) cyanosis (-)


L:Bilirubin
total:18.70 H
E: St.generalis:
Mata: SI +/+
Kulit: ikterus (+)

tled (-) cyanosis (-)


S: GDS
L:Bilirubin
T:RT:30C ST: 28C
A: Nafas spontan, total:17.10 H
SpO2: 100% retraksi E: St.generalis:
(-)
Mata: SI +/+
B:HR:130x/mnt,mottle
Kulit: ikterus (+)
d (-) cyanosis (-)
L:Bilirubin total:18.70

dan

tubuh

kuning berkurang

S: GDS
T:RT:33C ST: 27C
A: Nafas spontan,
SpO2: 99% retraksi
(-)
B:HR:134x/mnt,mot
tled (-) cyanosis (-)
L:Bilirubin
7

H
E: St.generalis:
Mata: SI +/+

total:15.40 H
E: St.generalis:
Mata: SI -/Kulit: ikterus (-)

Kulit: ikterus (+)

Ikterus fungsional

Ikterus fungsional

Ikterus fungsional

Perbaikan

Ikterus

fungsional
P

Fototherapy
Fototherapy
Fototherapy
Fototherapy
Cek Laboratorium Cek
Laboratorium Cek Laboratorium Cek Laboratorium
(Bilirubin total)
(Bilirubin total)
(Bilirubin total)
(Bilirubin total)

BAB II
ANALISIS KASUS
Pada kasus ini ditegagkan diagnosis berdasarkan:
a. Anamnesis:
-

Bayi perempuan lahir Partus Spontan dari ibu G1P0A0, Aterm, ditolong oleh
seorang bidan dirumah, saat lahir langsung menangis, gerak aktif, minum ASI
(+). APGAR Score 9-10, ketuban hijau (-), bau busuk (-), kental (-),
mekonium (-), anus (+), BBL 3700 gram, PB 54 cm, LK 34 cm, LD 35 cm.

Hal ini menunjukan bahwa tidak adanya kelainan pada riwayat kelahiran
pasien.
-

Didapatkan keluhan mata dan tubuh pasien kuning pada hari ke-3 setelah
kelahiran. Hal ini menunjukan adanya kriteria diagnosis physilogic jaundice
pada bayi cukup adalah ikterus timbul pada hari 2-3.

Setelah pasien mendapatkan perawatan 4 hari, keluhan kuning pada mata dan
tubuh pasien hilang. Hal ini sesuai dengan kriteria diagnosis physilogic
jaundice pada bayi cukup ikterus menghilang pada hari 4-5.

b. Pemeriksaan fisik:
-

Pada pemeriksaan umum didapatkan tampak sakit berat, PAT: A: Tonus (+)
Consibility (-) Look (+) Speech (-), B: NCH (-) Retraksi (-), C: Sianosis (-)
CRT <2, HR 140 x/menit, pernapasan 32 x/menit, suhu badan 36,4 oC. Hal
ini menunjukan bahwa tidak adanya kegawat daruratan pada pasien.

Didapatkan sklera, mukosa dan kulit ikterus pada pasien. Hal ini menunjukan
bahwa adanya hiperbilirubinemia pada pasien.

c. Pemeriksaan penunjang:
-

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan bilirubin total 18.70. Hal ini


menunjukan bahwa adanya peningkatan bilirubin, namun tidak dapat menjadi
dasar diagnosis karena hasil yang seharusnya dibutuhkan adalah hasil
pemeriksaaan bilirubin indirek meningkat 10-12 mg/Dl pada bayi cukup
bulan, tetapi pada pasien hanya ada hasil pemeriksaan bilirubin total saja.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
1.DEFINISI
Icterus, Jaundice atau sakit kuning adalah warna kuning pada sklera mata, mukosa,
dan kulit karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah (hyperbilirubinemia) yang
selanjutnya dapat menyebabkan peningkatan bilirubin dalam cairan luar sel. 1
Physiologic jaundice (PJ) atau icterus neonatorum yang terjadi pada bayi baru lahir
disebabkan karena imaturasi dari hepar biasanya timbul pada umur antara 2-5 hari, dan hilang
pada umur 5-8 hari pada bayi cukup bulan atau sampai umur 2 minggu pada bayi prematur
9

atau pada bayi dari ibu dengan diabetes melitus. Secara normal, kadar bilirubin reaksi indirek
dalam serum tali pusat adalah 1-3 mg/Dl dan meningkat <5 mg/Dl/24 jam, jadi ikterus
terlihat pada hari 2-3, biasanya maksimum pada hari 2-4 yaitu 5-6 mg/Dl, dan menurun
menjadi <2 mg/dl pada hari 5-7. Perubahan ikterus mengikuti pola tersebut adalah tergolong
fisiologik dan diyakini bahwa. 1,2
2.ETIOLOGI
Ikterus neonatorum yang terjadi adalah akibat dari peningkatan bilirubin oleh
pemecahan sel darah merah janin disertai dengan adanya keterbatasan sementara dari proses
konjugasi oleh hepar yang masih imatur dan defisiensi enzim glukoronil transferase. Aliran
bilirubin dari usus kembali ke hati juga merupakan faktor penyebab timbulnya ikterus
fisiologik. 1
Faktor lain yang berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan bilirubin ialah
hipoksia, penyakit membran hialin (HMD), hipoglikemia, asidosis, hipotermia, dan
hipoproteinemia, keadaan tersebut juga merupakan predisposisi untuk terjadinya kernikteus
walau kadar bilirubin tidak terlalu tinggi. 1
3.METABOLISME BILIRUBIN
Mekanisme terbentuknya bilirubin yaitu diawali dengan membran eritrosit atau sel
darah merah yang menjadi rapuh dan kemudian pecah, disebut hemolisis. Hemolisis terjadi
secara fisiologik bila eritrosit telah mencapai umur 100-120 hari. Bila sebelum umur tersebut
eritrosit pecah amka hemolisis adalah bersifat patologik yaitu disebabkan oleh penyakit
tertentu. Proses hemolisis ini terjadi di sistem retikuloendotelial, kemudian isi termasuk
hemoglobin berada di sirkulasiMakrofag memfagositosis Hb dan memcahnya menjadi heme
dan globin. Globin merupakan protein dan mengalami degradasi menjadi asam amino yang
tidak mempunyai kaitan dengan ikterus, sedang heme mengalami reaksi oksidasi atau
katalisis oleh enzim mikrosom oksigenase, maka heme menghasilkan biliverdin (pigmen
berwarna hijau), zat besi dan karbonmonoksida. Fase berikutnya ialah biliverdin mengalami
reaksi reduksi oleh enzim sitosolik reduktase sehingga biliverdin menjadi pigmen tetrapirol
berwarna kuning disebut bilirubin. Bilirubin fase ini adalah unconjugated,free atau indirect
(reaksi van den Bergh tidak langsung), bersifat tidak larut dalam air da berada di jaringan
lemak. Selain berasal dari eritrosit (80%) bilirubin juga berasal dari sumber heme yang lain
(20%) yaitu dari mioglobin otot dan sitokrom. Bilirubin tidak konjugasi berikatan dengan
protein albumin serum lalu beredar dan tiba di hepar kemudian mengalami konjugasi dengan
10

asam glukuronik oleh enzim transferase UDP-glukuronil membentuk bilirubin diglukuronil


atau conjugated bilirubin yang disebut juga sebagai bilirubin direk (reaksi van den Bergh
langsung) dengan sifat larut dalam air. Bilirubin konjugasi dieksresi dari hepar ke duktus
biliaris menjadi bagian dari empedu, kemudian bakteri usus merubahnya menjadi
urobilinogen yang kemudian diubah lebih lanjut menjadi sterkobilinogen lalu menjadi
sterkobilin yang dikeluarkan bersama tinja. Sebagian urobilinogen diserap kembali oleh usus
masuk sirkulasi sampai di ginjal kemudian mengalami oksidasi dan eksresinya melalui urin
dalam bentuk urobilin. Sterkobilin dan urobilin memberi warna masing-masing pada tinja dan
urin. 1,3
4.PATOFISIOLOGI
Ikterus fisiologik hanya terdapat pada bayi, tetapi ikterus pada bayi tidak selalu
bersifat fisiologik jadi mungkin saja ikterus tersebut adalah patologik.
Secara fisiologik ikterus dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
1.

Ikterus retensi yang terjadi oleh karena sel hepar tidak mampu merubah bilirubin
menjadi bilirubin glukoronida sehingga menimbulkan akumulasi bilirubin tidak
konjugasi di dalam darah, dan bilirubin tidak terdapat diurin

2.

Ikterus regurgitasi ialah terjadi oleh karen bilirubin setelah konversi menjadi bilirubin
glukuronida mengalir kembali ke dalam darah dan bilirubin juga dijumpai di dalam
urin. 1

Menurut jenis dari gangguan pada mekanisme peningkatan kadar bilirubin, maka ikterus
dibagi dalam 3 kategori:
1.

Ikterus prahepatik atau hemolitik dengan kelainan yang terjad sebelum hepar yaitu
disebabkan oleh berbagai hal disertai meningkatnya proses hemolitik yaitu terdapat
pada inkompatibilitas golongan darah ibu-bayi, talasemia, sferositosis, malaria,
sindrom hemolitik uremik, sindrom Gillbert, dan sindrom Crigler-Najjjar. Pada ikterus
hemolitik tedapat peningkatan produksi bilirubin diikuti

dengan peningkatan

urobilinogen dalam urin tetapi bilirubin tidak ditemukan di urin karena bilirubin tidak
kinjugasi tidak larut dalam air. Pada neonatus dapat terjadi ikterus neonatorum karena
enzim hepar masih belum mampu melaksanakan konjugasi dan eksresi bilirubin
secara semestinya umur 2 minggu. Temuan laboratorium adalah pada urin
didapatkan urobilinogen, sedngkan bilirubin adalah negatif, dan dalam serum

11

didapatkan

peningkatan

bilirubin

tidak

konjugasi,dan

keadaan

ini

dapat

mengakibatkan hiperbilirubinemia dan kernikterus (ensefalopati bilirubin) 1,2


2.

Ikterus hepatoselular atau ikterus hjepatik disebabkan karena adanya kelainan pada sel
hepar (nekrosis) maka terjadi penurunan kemampuan metabolisme dan sekresi
bilirubin sehingga kadar bilirubin tidak konjugasi dalam darah menjadi meningkat.
Terdapat pula gangguan sekresi dari bilirubin konjugasi dan garam empedu ke dalam
saluran empedu hingga dalam darah terjadi peningkatan bilirubin konjugasi dan
garam empedu yang kemudian dieksresikan ke urin melalui ginjal. Transportasi
bilirubin tersebut menjadi lebih terganggu karena adanya pembengkakan sel hepar
danedema karena reaksi inflamasi yang mengakibatkan obstruksi pada saluran
empedu intrahepatik. Pada ikterus hepatik terjadi gangguan pada semua tingkat proses
metabolisme bilirubin, yaitu mulai dari uptake, konjugasi, dan kemudian eksresi.
Temuan laboratorium urin ialah bilirubin konjugasi adalah positif karena larut dalam
air, dan urobilinogen juga positif > 2 U karena hemolisis menyebabkan meningkatnya
metabolisme urin. Peningkatan bilirubin konjugasi dalam serum tidak mengakibatkan
kernikterus 1,2

3.

Ikterus pasca hepatik atau ikterus obstruktif ialah disebabkan gangguan aliran empedu
dalam sistem biliaris. Penyebab utama ialah batu empedu dan karsinoma pankreas,
dan sebab yang lain adalah infeksi cacing Fasciola hepatica, penyempitan duktus
biliaris komunis, atresia biliaris, kolangiokarsinoma, pankreatitis, kista pankreas, dan
sebab yang jarang ialah sindrom Mirizzi. Bila obstruktif bersifat total maka pada urin
tidak terdapat urobilinogen, karena bilirubin tidak terdapat di usus tempat bilirubin
diubah menjadi urobilinogen yang kemudian masuk ke sirkulasi. Kecurigaan adanya
ikterus obstruktif intrahepatik atau pascahepatik yaitu bila dalam urin terdapat
bilirubin sedang urobilinogen adalah negatif. Pada ikterus obstruktif juga didapatkan
tinja berwarna pucat atau seperti dempul serta urin berwarna gelap, dan keadaan
tersebut dapat juga ditemukan pada banyak kelainan intrahepatik. Untuk menetapkan
diagnosis dari 3 jenis ikterus tersebut selain pemeriksaan di atas perlu juga dilakukan
uji fungsi hati, antara lain ialah alkali fosfatase, alanin transferase dan aspartat
transferase. 1,2

5.ANAMNESIS
Anamnesis yang penting untuk menegakan diagnosis ikterus adalah menanyakan
riwayat penyakit sekarang, yaitu tentang gejala ikterus, ditanyakan secara rinci mengenai saat
12

kapan timbulnya ikterus, apakah menetap, hilang timbul, bertambah berat dalam waktu yang
singkat, ditanyakan gejala lain yang menyertainya terkait dengan ikterus neonatus ialah sulit
minum, letargi, tonus otot berubah, tangis melengking dan kejang, gejala penyerta lain yang
dapat ditanyakan juga adalah demam, pucat keluhan gastrointestinal yaitu nausea, muntah,
nafsu makan berkurang perut membesar, nyeri perut kanan atas, gatal-gatal, tinja pucat
seperti dempul, urin warna gelap, perdarahan, kaku pada ekstremitas, kesadaran menurun,
tidur berlebihan, rasa lesu/fatik, konfusi, sembab pada kaki, dan lain-lain.1
Anamnesis lainnya adalah ditanyakan riwayat kehamilan dan kelahiran, riwayat
pertumbuhan dan perkembangan apakah dijumpai adanya hambatan dalam milestone riwayat
imunisasi terutama untuk hepatitis A dan B, riwayat penyakit lampau, riwayat maknan
termasuk kemungkinan keracunan makanan, obat, dan bahan kimia, gigitan binatang, riwayat
penyakit keluarga, adakah kosanguinitas dan keadan sosial ekonomi keluarga.1
6.PEMERIKSAAN FISIK
Secara klinis, ikterus pada neonatus dapat dilihat segera setelah lahir atau setelah
beberapa hari. Amati ikterus pada siang hari dengan lampu sinar yang cukup. Ikterus akan
terlihat lebih jelas dengan sinar lampu dan bisa tidak terlihat dengan penerangan yang kurang,
terutama pada neonatus yang berkulit gelap. 2
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan ikterus pada sklera kedua mata, mukosa dan
kulit. Salah satu cara memeriksa derajat kuning pada neonatus secara klinis, mudah dan
sederhana adalah dengan penilaian menurut Kramer. Caranya dengan jari telunjuk ditekankan
pada tempat-tempat yang tulangnya menonjol seperti tulang hidung,dada,lutut dan lain-lain.
Tempat yang ditekan akan tampak pucat atau kuning. 2

13

Waktu timbulnya ikterus mempunyai arti penting pula dalam diagnosis dan
penatalaksanaan penderita karena saat timbulnya ikterus mempunyai kaitan erat dengan
kemungkinan penyebab ikterus tersebut. 1,2
7.PEMERIKSAAN PENUNJANG
Jenis pemeriksaan laboratorium atau penunjang yang diperlukan untuk maksud
diagnostik penyakit dengan ikterus, ialah uji fungsi hati termasuk bilirubin total, direk, dan
aminotransferase (ALT dan AST), alkalifosfatase (ALP), profil protein serum, gamma
globulin transferase (GGT) dan waktu protrombin (PT). Pemeriksaan urin: uji bilirubin,
urobilin dan mikroskopik. Pemeriksaan tinja makroskopik (pucat/warna dempul, parasit),
mikroskopik (parasit) dan kimia (urobilinogen, sterkobilin). Untuk uji keterkaitan antara
ikterus dan inkompatibilitas golongan darah maka perlu pemeriksaan sistem Rh dan ABO
(paling sering). 1
8.DIAGNOSIS
Diagnosis physilogic jaundice pada bayi cukup/ kurang bulan dibuat dengan
memperhatikan kriteria yaitu:
1.

Ikterus timbul pada hari 2-3 pada cukup bulan , hari 3-4 pada bayi kurang bulan

2.

Ikterus menghilang pada hari 4-5 untuk bayi cukup bulan, dan hilang hari 7-9 untuk
bayi kurang bulan

3.

Kadar tertinggi bilirubin indirek ialah 10-12 mg/Dl pada bayi cukup bulan dan 15
mg/dl pada bayi kurang bulan tercapai pada usia 2-3 hari untuk bayi cukup bulan, 6-8
hari untuk bayi kurang bulan dengan rerata peningkatan <5mg/dl per hari 1

Ikterus yang perlu perhatian adalah:


1.

Ikterus timbul pada usia 24-36 jam pertama

2.

Kadar bilirubin serum cepat meningkat >5mg/dl/24 jam

3.

Kadar bilirubin serum >12mg/dl pada bayi cukup bulan dan atau 10-14 mg/dl pada
bayi kurang bulan

4.

Ikterus tetap terlihat setelah bayi berumur 10-14 hari,

5.

Kadar bilirubin konjugasi dalam serum >2 mg/dl 1

Hiperbilirubin persisten atau lebih dari 2 minggu adalah megarah pada adanya hemolisis,
defisiensi glukoronil transferase, ikterus minum air susu ibu (ASI), hipotiroid atau obstruksi
intestinal 1

14

Pada bayi cukup bulan kadar bilirubin biasanya <7 mg/dl dan jarang mencapai
>10mg/dl. Kadar bilirubin >12 mg/dl pada bayi cukup bulan adalah patologik. Peningkatan
kadar bilirubin dalam serum perhari pada bayi cukup bulan adalah tidak >1.5 mg/dl. Pada
bayi kurang bulan kadar bilirubin dalam serum dapat meningkat mencapai 15-20 mg/dl
walaupun tidak terdapat inkompatibilitas ibu-janin, dan tingkat kadar demikian memerlukan
penanganan lebih lanjut. 1
9.PENATALAKSANAAN
Kasus

penyakit

anak

dengan

kterus

memerlukan

penatalaksanaan

secara

komprehensif dan adekuat sesuai dengan diagnosis kerja yang ditegakkan yaitu terdiri dari:
1.

Tindakan untuk secepatnya mengatasi ikterus khususnya hiperbilirubinemia indirek


pada bayi, dengan menggunakan indikator tanda fisis dan laboratorium terutama
kadar bilirubin pada bayi yaitu dengan melakukan tindakan penyinaran (photo
therapy), atau transfusi tukar. Bila hiperbilirubinemia bersifat direk maka dapat
diusakan dengan ursodeoxycholic acid untuk dpersiapkan untuk kemungkinan
dilakukan tindakan bedah sesuai dengan indikasi. 1

2.

Terapi

kausal

yang

dilaksanakan

secara

simultan

ialah

ditujukan

untuk

menghilangkan penyebab penyakit primer yang jenisnya sangat bervariasi, antara lain
yaitu:
-

Pada intoksikasi obat: menghentikan atau menghindari dan sedapatnya


mengeluarkan bahan penyebab intoksikasi dengan bilas lambung dan atau
pemberian antidotum terhadap bahan toksik tersebut

Terapi untuk mengatasi infeksi: pemberian antibiotik, antivirus, antineoplastik,


terapi hormon.1

3.

Terapi simptomatik untuk mengatasi dan meringankan gejala-gejala yang timbul,


seperti: antipiretika, antikonvulsan,antihistamine, antiemetik, 1

4.

Terapi suportif untuk memperbaiki pertahanan keadaan umum pasien dengan


memberikan kecukupan akan kebutuhan nutrisi cairan dan elektrolit, oksigen dan lainlain 1

5.

Terapi surgikal yang dlakukan menurut indikasi 1

15

DAFTAR PUSTAKA
1. Widagdo. Tatalaksana Masalah Penyakit Anak Dengan Ikterus. Jakarta; Sagung Seto;
2012.p. 2-21
2. Nelson W, Berhman R, editors. Ilmu Kesehatan Anak. 25th ed. Jakarta: EGC; 2000.
p.610-17
3. Price S, Wilson L. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. 6th ed.
Jakarta: EGC; 2005.p.481-85

16