Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Eklampsia merupakan serangan konvulsi yang mendadak atau suatu kondisi
yang dirumuskan penyakit hipertensi yang terjadi oleh kehamilan, menyebabkan
kejang dan koma, (kamus istilah medis : 163,2001)
Eklampsia merupakan serangan kejang yang diikuti oleh koma, yang terjadi
pada wanita hamil dan nifas (Ilmu Kebidanan: 295, 2006)
Dengan pengetahuan bahwa biasanya eklampsia didahului oleh pre eklampsia,
tampak pentingnya pengawasan antenatal yang teliti dan teratur, sebagai usaha untuk
mencegah timbulnya penyakit itu.
B. Etiologi/Penyebab
Sebab eklampsia

belum

diketahui

pasti,

namun

salah

satu

teori

mengemukakan bahwa eklampsia disebabkan ishaemia rahim dan plasenta


(Ischaemia Utera Placentoe). Selama kehamilan, uterus memerlukan darah lebih
banyak. Pada mola hidotidosa, hidramnian, kehamilan ganda, nultipara, akhir
kehamilan, persalinan, juga penyakit pembuluh darah ibu, diabetes peredaran darah
dalam dinding rahim kurang, maka keluarlah zat-zat dari plasenta atau desiduc yang
menyebabkan vasospesmus dan hipertensi.
Etiologi dan patogenesis preeklampsia dan eklampsia sampai saat ini masih
belum sepenuhnya difahami, masih banyak ditemukan kontroversi, itulah sebabnya
penyakit ini sering disebut the disease of theories. Pada saat ini hipotesis utama
yang dapat diterima untuk menerangkan terjadinya preeklampsia adalah: faktor
imunologi, genetik, penyakit pembuluh darah dan keadaan dimana jumlah
trophoblast yang berlebihan dan dapat mengakibatkan ketidakmampuan invasi
trofoblast terhadap arteri spiralis pada awal trimester satu dan trimester dua. Hal ini
akan menyebabkan arteri spiralis tidak dapat berdilatasi dengan sempurna dan
mengakibatkan turunnya aliran darah di plasenta. Berikutnya akan terjadi stress
oksidasi, peningkatan radikal bebas, disfungsi endotel, agregasi dan penumpukan
trombosit yang dapat terjadi diberbagai organ.
C. Patofisiologi
Diagnosis eklampsia ditegakkan berdasarkan gejala-gejala preaklampsia
disertai kejang atau koma, sedangkan bila terdapat gejala preeklampsia berat disertai

salah satu / beberapa gejala nyeri kepala hebat, gangguan virus, muntah-muntah,
nyeri epigastrium dan kenaikan tekanan darah yang progesif, dikatakan pasien
tersebut menderita impending preeklampsia. Impending preeklampsia ditangani
sebagai kasus eklampsia
Seluruh kejang eklampsia didahului dengan preeklampsia. Eklampsia
digolongkan menjadi kasus antepartum, intrapartum atau postpartum tergantung saat
kejadiannya sebelum persalinan, pada saat persalinan atau sesudah persalinan. Tanpa
memandang waktu dari onset kejang, gerakan kejang biasanya dimulai dari daerah
mulut sebagai bentuk kejang di daerah wajah. Beberapa saat kemudian seluruh tubuh
menjadi kaku karena kontraksi otot yang menyeluruh, fase ini dapat berlangsung 10
sampai 15 detik. Pada saat yang bersamaan rahang akan terbuka dan tertutup dengan
keras, demikian juga hal ini akan terjadi pada kelopak mata, otot otot wajah yang
lain dan akhirnya seluruh otot mengalami kontraksi dan relaksasi secara bergantian
dalam waktu yang cepat. Keadaan ini kadang kadang begitu hebatnya sehingga
dapat mengakibatkan penderita terlempar dari tempat tidurnya, bila tidak dijaga.
Lidah penderita dapat tergigit oleh karena kejang otot otot rahang. Fase ini dapat
berlangsung sampai 1 menit, kemudian secara berangsur kontraksi otot menjadi
semakin lemah dan jarang dan pada akhirnya penderita tidak bergerak.
Setelah kejang diafragma menjadi kaku dan pernafasan berhenti. Selama
beberapa detik penderita sepertinya meninggal karena henti nafas, namun kemudian
penderita bernafas panjang, dalam dan selanjutnya pernafasan kembali normal.
Apabila tidak ditangani dengan baik, kejang pertama ini akan diikuti dengan kejang
kejang berikutnya yang bervariasi dari kejang yang ringan sampai kejang yang
berkelanjutan yang disebut status epileptikus.
Setelah kejang berhenti penderita mengalami koma selama beberapa saat.
Lamanya koma setelah kejang eklampsia bervariasi. Apabila kejang yang terjadi
jarang, penderita biasanya segera pulih kesadarannya segera setelah kejang. Namun
pada kasus kasus yang berat, keadaan koma berlangsung lama, bahkan penderita
dapat mengalami kematian tanpa sempat pulih kesadarannya. Pada kasus yang
jarang, kejang yang terjadi hanya sekali namun dapat diikuti dengan koma yang lama
bahkan kematian.
Frekuensi pernafasan biasanya meningkat setelah kejang eklampsia dan dapat
mencapai 50 kali/menit. Hal ini dapat menyebabkan hiperkarbia sampai asidosis
laktat, tergantung derajat hipoksianya. Pada kasus yang berat dapat ditemukan

sianosis. Demam tinggi merupakan keadaan yang jarang terjadi, apabila hal tersebut
terjadi maka penyebabnya adalah perdarahan pada susunan saraf pusat.
D. Pathway

E. Klasifikasi
1. Eklampsia gravidarum
- kejadian 150 % sampai 60 %
- serangan terjadi dalam keadaan hamil
2. Eklampsia parturientum
- Kejadian sekitar 30 % sampai 35 %
- Saat sedang inpartu
- Batas dengan eklampsia gravidarum sukar ditentukan terutama saat mulai
inpartu.
3. Eklampsia puerperium
- Kejadian jarang
- Terjadinya serangan kejang atau koma setelah persalinan berakhir.
F. Manifestasi Klinik/Tanda dan Gejala
Gejala pada eklampsia diawali dengan timbulnya tanda-tanda preeklampsia
yang semakin buruk, seperti : gejala nyeri kepada di daerah frontal gangguan
penglihatan, mual keras, nyeri di epigastrium dan hiperrefleksia.
Konvulsi eklampsia dibagi dalam 4 tingkat yakni :

a. Tingkat aura / awal keadaan ini berlangsung kira-kira 30 detik, mata penderita
terbuka tanpa melihat, kelopak mata bergetar demikian pula tangannya dan
kepada diputar ke kanan / kiri.
b. Tingkat kejangan tonik, yang berlangsung kurang lebih 30 detik dalam tingkat
ini seluruh otot menjadi kaku, wajahnya kelihatan kaku, tangan mengggenggam
dan kaki membengkok ke dalam, pernafasan berhenti, muka mulai menjadi
sianotik, lidah dapat tergigit.
c. Tingkat kejangan klonik, berlangsung antara 1-2 menit, spesimustonik tonik
menghilang, semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam tempo yang
cepat, mulut membuka dan menutup dan lidah dapat tergigit kembali, bola mata
menonjol, dan mulut keluar ludah yang berbusa muka menunjukkan kongesti
dan sianosis. Penderita menjadi dapat terjadi dari tempat tidurnya akhirnya
kejangan terhenti dan penderita menarik nafas secara mendengkur.
d. Tingkat koma, lamanya ketidaksadaran tidak selalu sama secara perlahan-lahan
penderita menjadi sadar lagi, akan tetapi dapat terjadi pula bahwa sebelum itu
timbul serangan baru dan yang berulang, sehingga ia tetap dalam koma.

G. Diagnosis Banding
Diagnosis eklampsia umumnya tidak mengalami kesukaran. Dengan tanda dan
gejala preeklampsia yang disusul oleh serangan kejang, maka diagnosis eklampsia
tidak diragukan lagi.
Eklampsia harus dibedakan dengan :
1) Epilepsi
Dalam anamnesia diketahui adanya serangan sebelum hamil atau pada hamil
muda dan tanda preeklampsia tidak ada.
2) Kejang akibat obat anesthesis
Apabila obat anesthesia locak tersuntikkan ke dalam vena, dapat timbul kejang.
3) Koma karena sebab lain, seperti :
Diabetes, perdarahan otak, meningitis dan lain-lain.
Diagnosis eklampsia lebih dari 24 jam harus diwaspadai.
H. Komplikasi
Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin, usaha utama ialah
melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita eklampsia.
Berikut adalah beberapa komplikasi yang ditimbulkan pada preeklampsia
berat dan eklampsia :
1. Solutio Plasenta

Biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi
pada pre eklampsia.
2. Hipofibrinogemia
Kadar fibrin dalam darah yang menurun.
3. Hemolisis
Penghancuran dinding sel darah merah sehingga menyebabkan plasma darah
yangtidak berwarna menjadi merah.
4. Perdarahan Otak
Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita
eklampsia.
5. Kelainan Mata
Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung selama seminggu,
dapatterjadi.
6. Edema Paru
Pada kasus eklampsia, hal ini disebabkan karena penyakit jantung.
7. Nekrosis Hati
Nekrosis periportan pada preeklampsia, eklampsia merupakan

akibat

vasopasmus anterior umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklampsia,tetapi


ternyata juga ditemukan pada penyakit lain.Kerusakan sel-sel hati dapat
diketahui dengan pemeriksaan pada hati,terutama penentuan enzim-enzimnya.
8. Sindrome Hellp
Haemolisis, elevatea liver anymes dan low platelet
9. Kelainan Ginjal
Kelainan berupa endoklrosis glomerulus, yaitu pembengkakkan sitoplasma sel
endotial tubulus. Ginjal tanpa kelainan struktur lain, kelainan lain yang dapat
timbul ialah anuria sampai gagal ginjal.
10. Komplikasi lain
- Lidah tergigit, trauma dan faktur karena jatuh akibat kejang-kejang
I.

preumania
aspirasi, dan DIC (Disseminated Intravascular Coogulation)
Prematuritas
Dismaturitas dan kematian janin intro uteri

Penatalaksanaan
1. Tujuan Terapi Eklampsia
a. Menghentikan berulangnya serangan kejang
b. Menurunkan tensi, dengan vasosporus
c. Menawarkan hasmokonsentrasi dan memperbaiki diveres dengan pemberian
glucose 5%-10%
d. Mengusahakan supaya O2 cukup dengan mempertahankan kebebasan jalan
nafas.
2. Penanganan Kejang
a. Beri obat anti konvulsan

b. Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, sedeka, sedotan,


masker O2 dan tabung O2 )
c. Lindungi pasien dengan keadaan trauma
d. Aspirasi mulut dan tonggorokkan
e. Baringkan pasien pada posisi kiri, trendelenburg untuk mengurangi resiko
aspirasi
f. Beri oksigen 4-6 liter / menit
3. Penanganan Umum
a. Jika tekanan diastolic > 110 mmHg, berikan hipertensi sampai tekanan
diastolic diantara 90-100 mmHg.
b. Pasang infuse RL dengan jarum besar (16 gauge atau lebih)
c. Ukur keseimbangan cairan jangan sampai terjadi overload
d. Kateterisasi urine untuk mengeluarkan volume dan proteinuric: Jika jumlah
urine kurang dari 30 ml / jam
e. Infus cairan dipertahankan 1 1/8 ml/jam
f. Pantau kemungkinan oedema paru
g. Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat
mengakibatkan kematian ibu dan janin.
h. Observasi tanda-tanda vital, refleks dan denyut jantung setiap jam
i. Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda oedema paru. Jika ada oedema
j.

paru hentikan pemberian cairan dan berikan diuretic


Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan beadside
- Dosis awal : beri MgSO4 (4 gram) per IV sebagai larutan 20%, selama
5 menit. Diikuti dengan MgSO4 (50%) 5 gr 1ml dengan 1 ml lignokain
2% (dalam setopril yang sama) pasien akan merasa agar panas sewaktu
-

pemberian MgSO4
Dosis pemeliharaan : MgSO4 (50%) 5 gr + lignokain 2% (1ml) 1 m
setiap 4 jam kemudian dilanjutkan sampai 24 jam pasca persalinan atau

kejang terakhir
Sebelum pemberian MgSO4 periksa : frekuensi pernafasan minimal 16 /
menit. Refleks Patella (+), urin minimal 30 ml / jam dalam 4 jam

terakhir
- Stop pemberian MgSO4, jika : frekuensi pernafasan < / >
k. Siapkan antidotlim jika terjadi henti nafas, Bantu dengan ventilator. Beri
kalsium glukonat 2 gr ( 20 ml dalam larutan 10%) IV perlahan-lahan sampai
pernafasan mulai lagi.
J. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Pengkajian Primer
Data yang dikaji pada ibu dengan pre eklampsia adalah :
a. Data subyektif :

Identitas pasien dan penanggung jawab:Umur biasanya sering terjadi

pada primi gravida , < 20 tahun atau > 35 tahun


Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedema,

pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur.


Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler

esensial, hipertensi kronik, DM


Riwayat kehamilan : riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa,
hidramnion serta riwayat kehamilan dengan pre eklampsia atau

eklampsia sebelumnya
Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok

maupun selingan
Psiko sosial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan
kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi

resikonya.
b. Data Obyektif :
- Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam
- Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema
- Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress
- Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian SM
-

( jika refleks + )
Pemeriksaan penunjang :
1) Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur, diukur 2
kali dengan interval 6 jam
2) Laboratorium : protein urine dengan kateter atau midstream
( biasanya meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala
kualitatif ), kadar hematokrit menurun, BJ urine meningkat, serum
kreatini meningkat, uric acid biasanya > 7 mg/100 ml
3) Berat badan : peningkatannya lebih dari 1 kg/minggu
4) Tingkat kesadaran ; penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan

pada otak
5) USG ; untuk mengetahui keadaan janin
6) NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin.
2. Diagnosa keperawatan
a. Perubahan perfusi uteroplasental dan jaringan ginjal b.d hipertensi pada
kehamilan
b. Nyeri akut b.d peningkatan tekanan vaskuler cerebral akibat hipertensi
c. Kelebihan volume cairan b.d peningkatan retensi urine dan edema berkaitan
dengan hipertensi pada kehamilan
d. Gangguan Penglihatan b.d peningkatan tekanan vaskular cerebral akibat
hipertensi
e. Nyeri epigastrium b.d konrtaksi organ yang tidak terkontrol
3. Intervensi keperawatan

DP 1 : Perubahan perfusi uteroplasental dan jaringan ginjal b.d hipertensi pada


kehamilan
Tujuan : Perfusi Uteroplasental dan jaringan ginjal baik.
Kriteria hasil:
a. Tingkat kesadaran baik dan tidak berubah
b. Janin tidak menunjukkan tanda-tanda distress
c. Perfusi maksimal
d. Tekanan darah normal
Intervensi
Letakkan pasien pada

Rasional
Memberikan kenyamanan dan ketenangan

lingkungan yang tenang

pada pasien

Pantau TTV

Untuk mengetahui keadaan umum pasien

Auskultasi irama jantung janin Untuk mengetahui perkembangan janin


Anjurkan tirah baring

Meminimal stimulasi dan meningkatkan


relaksasi

Anjurkan periksa urine 24 jam Untuk menentukan intervensi lebih lanjut


Monitor TD tiap 4 jam

Untuk mengetahui keadaan umum klien

DP 2 : Nyeri akut b.d peningkatan tekanan vaskuler cerebral akibat hipertensi


Tujuan:Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria hasil:
a. Nyeri hilang atau terkontrol
b. Ekspresi wajah tenang
Intervensi
Kaji skala nyeri klien

Rasional
Untuk mengetahui tingkat nyeri yang dialami

Pertahankan tirah baring

Meminimalkan stimulasi dan meningkatkan

selama fase akut

relaksasi

Anjurkan kompres dingin dan

Menurunkan tekanan vaskuler

pijat punggung

Mengurangi nyeri

Bantu pasien dalam aktivitas


sesuai kebutuhan

DP 3: Kelebihan volume cairan b.d peningkatan retensi urine dan edema


berkaitan dengan hipertensi pada kehamilan
Tujuan :volume cairan normal
Kriteria hasil:
a. Volume cairan sesuai kebutuhan
b. Edema minimal
c. Tanda dan gejala bukan indikasi gagal jantung
Intervensi
Timbang berat badan pasien

Rasional
Untuk menentukan intervensi lebih lanjut

setiap hari
Pantau intake cairan

Membantu mengidentivikasi kebutuhan

Periksa protein urine

Meminimalkan komplikasi

Monitor intake dan output

Agar dapat mengontrol keseimbangan antara

klien

intake yang amsuk dan output yang keluar


Agar tidak tejadi kesalahan dalam pemberian

Kolaborasi dengan tim

obat

medis dalam pemberian obat.


DP 4 : Gangguan Penglihatan b.d peningkatan tekanan vaskular cerebral akibat
hipertensi
Tujuan : Penglihatan tidak kabur lagi dan kembali normal
Kriteria hasil :
a. Pasien dapat menunjukkan fungsi penglihatannya baik
b. Dapat menginterpretasikan benda yang dilihat dengan benar
c. Tingkat kekaburan menurun bahkan hilang
Intervensi
Kaji tingkat kekaburan

Rasional
Untuk mengetahui batas kekaburan yang

penglihatan

dialami pasien

Lakukan pengetesan dengan

Mengetahui batas kemampuan dan melatih

menyuruh pasien untuk

pasien untuk mengenal orang dan benda

menginterpretasikan benda di

sekitar

sekitar
Anjurkan tirah baring

Meminimalkan stimulasi dan meningkatkan


relaksasi

Kolaborasi dengan dokter

Untuk menentukan intervensi selanjutnya

dalam pemberian zenjelasan


mengenai penyakit
DP 5 : Nyeri epigastrium b.d konrtaksi organ yang tidak terkontrol
Tujuan : skala nyeri berkurang bahkan hilang
Kriteria Hasil :

a. Nyeri hilang atau terkontrol


b. Ekspresi wajah tenang
Intervensi
Kaji skala nyeri klien

Rasional
Untuk mengetahui tingkat nyeri yang dialami
Meminimalkan stimulasi dan meningkatkan

Pertahankan tirah baring

relaksasi

selama fase akut

Menurunkan tekanan vaskuler

Anjurkan kompres dingin

Mengurangi nyeri

Bantu pasien dalam aktivitas


sesuai kebutuhan