Anda di halaman 1dari 9

A.

IVA TEST
a. Definisi
IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) IVA adalah salah satu deteksi dini kanker serviks
dengan menggunakan asam asetat 3 - 5 % secara inspekulo dan dilihat dengan pengamatan
mata langsung (mata telanjang). Pemeriksaan ini tidak menimbulkan rasa sakit, mudah ,
murah dan informasi hasilnya langsung ( Nugroho, 2010).
Serviks (epitel) abnormal jika diolesi dengan asam asetat 3-5 % akan berwarna putih
(epitel putih). Dalam waktu 1-2 menit setelah diolesi asam asetat efek akan menghilang
sehingga pada hasil ditemukan pada serviks normal tidak ada lesi putih (Smart, 2010).
Metode IVA tergolong sederhana, nyaman dan praktis. Dengan mengoleskan asam cuka
(asam asetat) pada leher rahim dan melihat reaksi perubahan yang terjadi, prakanker dapat
dideteksi. Biaya yang dikeluarkan pun juga relatif murah. Selain prosedurnya tidak rumit,
pendeteksian dini ini tidak memerlukan persiapan khusus dan juga tidak menimbulkan rasa
sakit bagi pasien. Letak kepraktisan penggunaan metode ini yakni dapat dilakukan di mana
saja, dan tidak memerlukan sarana khusus (Maryanti, 2009).
Tingkat Keberhasilan metode IVA dalam mendeteksi dini kanker servik yaitu 60-92%.
Sensitivitas IVA bahkan lebih tinggi dari pada Pap Smear. Dalam waktu 60 detik kalau ada
kelainan di serviks akan timbul plak putih yang bisa dicurigai sebagai lesi kanker (Nugroho,
2010).
b. Persiapan Alat
1. Sarung tangan / Handscoen
2. Spekulum cocor bebek
3. Tampon tang
4. Kom kecil
5. Lidi kapas
6. Asam asetat 3-5% dalam botol
7. Kapas DTT dalam kom
8. Waskom berisi larutan klorin 0,5%
9. Selimut
10. Lampu sorot
11. Tempat sampah medis dan non medis
c. Prosedur pelaksanaan

1. Memberi penjelasan pada ibu atas tindakan yang akan dilakukan


2. Menjaga privasi pasien
3. Menyiapkan alat yang diperlukan

Sarung tangan / Handscoen

Spekulum cocor bebek

Tampon tang

Kom kecil

Lidi kapas

Asam asetat 3-5% dalam botol

Kapas DTT dalam kom

Waskom berisi larutan klorin 0,5%

Selimut

Lampu sorot

Tempat sampah medis dan non medis

4. Menyiapkan ibu dengan posisi lithotomi pada tempat tidur ginekologi


5. Mengatur lampu sorot ke arah vagina ibu
6. Mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir dengan cuci tangan tujuh langkah
dan mengeringkan dengan handuk bersih
7. Menggunakan sarung tangan steril
8. Melakukan vulva hygiene dengan kapas DTT
9. Memasukkan spekulum ke dalam vagina

Tangan kiri membuka labia minora, spekulum dipegang dengan tangan kanan,
dalam keadaan tertutup kemudian masukkan ujungnya ke dalam introitus

Putar kembali spekulum 45 ke bawah sehingga menjadi melintang dalam


vagina kemudian didorong masuk lebih dalam ke arah forniks posterior sampai
puncak vagina

Buka spekulum pada tangkainya secara perlahan-lahan dan atur sampai porsio
terlihat dengan jelas

Kunci spekulum dengan mengencangkan bautnya kemudian ganti dengan


tangan kiri yang memegang speculum

10. Memasukkan lidi kapas yang telah diberi asam asetat 3-5% ke dalam vagina sampai
menyentuh porsio

11. Mengoleskan lidi kapas ke seluruh permukaan porsio, lihat hasilnya


12. Membersihkan porsio dengan kasa steril menggunakan tampon tang
13. Mengeluarkan spekulum dari vagina
14. Merapikan ibu dan merendam alat dalam larutan klorin 0,5%
15. Mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir
16. Beritahu hasilnya dan beritahu rencana selanjutnya dengan jelas dan lengkap
d. Peran perawat
1. Peran Perawat saat Pre-IVA Test

Menjelaskan prosedur kepada pasien

Menjaga privasi klien

Menyiapkan alat-alat yang diperlukan saat test

Membantu klien saat ada pertanyaan atau saat kebingungan dengan prosedur

2. Peran Perawat saat Intra IVA Test

Melakukan test kepada klien sesuai prosedur yang sudah terdapat dalam SOP
dengan benar dan memperhatikan respon ibu jika ada rasa tidak nyaman atau
kesakitan

3. Peran Perawat Post IVA Test

Merapikan alat-alat yang telah digunakan

Mengkaji respon klien

Mendokumentasikan apa saja prosedur yang telah dilaksanakan serta waktu


dan nama perawat serta nama pasien

Memberitahu hasilnya jika sudah didapatkan hasil

http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-386-487930089-bab%202.pdf
B. Pap Smear
a. Definisi
Pap Smear atau pap test adalah sebuah tes spesifik yang digunakkan dan ditujukan
untuk mendeteksi dini kanker leher Rahim/kanker serviks. Pap Smear adalah sebuah
metode pemeriksaan cairan lender serviks dengan menggunakan spatula atau semacam
sikat dinding sel endoserviks dan ekstroserviks diambil untuk kemudian dilakukan
pemeriksaan di bawah mikroskop (Handayani, dkk, 2012)
b. Persiapan Alat

1. Hanscun
2. speculum cocor bebek
3. spatula ayre yang telah dimodifikasi
4. lidi kapas atau cytobrush
5. kaca objek glass
6. botol khusus berisi alkohol 95%
7. cytocrep atau hair spray
8. tampon tang
9. kasa steril pada tempatnya
10. formulir permintaan
11. pemeriksaan sitologi pap smear
12. lampu sorot
13. waskom berisi larutan klorin 0,5%
14. tempat sampah
15. tempat tidur ginekologi
c. Prosedur Pelaksanaan
1. Mencuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dengan metode tujuh langkah dan
mengeringkan dengan handuk kering dan bersih.
2. Mengunakan hanscun steril.
3. Melakukan vulva higyene.
4. Memperhatikan vulva dan vagina apakah ada tanda-tandainfeksi.
5. Memasang speculum dalam vagina.
6. Masukkan spatula ayre kedalam mulut rahim, dengan ujung spatula yang berbentuk
lonjong, apus sekret dari seluruh permukaan porsio serviks dengan sedikit tekanan
dengan mengerakkan spatel ayre searah jarum jam, diputar melingkar 3600
7. Ulaskan secret yang telah diperoleh pada kaca object glass secukupnya, jangan terlalu
tebal dan jangan terlalu tipis.
8. Fiksasi segera sediaan yang telah dibuat dengan cara:
a) Fiksasi Basah
Fiksasi basah dibuat setelah sediaan diambil, sewaktu secret masih segar
dimasukkan kedalam alkohol 95%. Setelah difiksasi selama 30 menit, sediaan dapat

diangkat dan dikeringkan serta dikirim dalam keadaan Kering terfiksasi atau dapat
pula sediaan dikirim dalam keadaan terendam cairan fiksasi didalam botol.
b) Fiksasi Kering
Fiksasi kering dibuat setelah sediaan selesai diambil, sewaktu secret masih seger
disemprotkan cytocrep atau hair spray pada object glass yang mengandung asupan
secret tersebut dengan jarak 10-15 cm dari kaca object glass, sebanyak 2-4 kali
semprotkan. Kemudian keringkan sediaan dengan membiarkannya diudara terbuka
selama 5-10 menit. Setelah kering sediaan siap dikirimkan ke laboratorium sitologi
untuk diperiksa bersamaan dengan formulir permintaan.
9. Bersihkan porsio dan dinding vagina dengan kasa steril dengan menggunakan tampon
tang.
10. Keluarkan speculum dari vagina secara perlahan-lahan.
11. Beritahu ibu bahwa pemeriksaan telah selesai dilakukan.
12. Rapikan ibu dan rendam alat-alat dan melepaskan sarung tangan (merendam dalam
larutan clorin 0,5%).
13. Cuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dengan metode tujuh langkah.
14. Temui klien kembali.
15. Mencatat hasil tindakan dalam status
d. Peran Perawat
1. Peran Perawat Pre Test

Memberikan inform consent

Menjelaskan semua prosedur yang akan dilakukan

Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan

Memberi tahu tenaga medis lain akan adanya test sehingaa mendapatkan
bantuan untuk mempermudah proses

2. Peran Perawat Intra test


Perawat mampu melaksanakan pap smear kepada klien sesuai standar SOP untuk
menghasilkan hasil yang sangat optimal. Pasien mampu melaksanakan prosedur dengan
benar dan mengaplikasikan alat-alat dengan benar. Pasien mampu menjadi pendidik
bagi klien yang masih kebingungan dengan prosedur
3. Peran Perawat Post Test

Perawat mampu menjelaskan kembali prosedur yang sudah dilakukan dan memberikan
hasil ke pada klien serta mendokumentasikan prosedur yang telah dilakukan dan
merapikan alat kembali.
C. HCG
a. Definisi
HCG (HUMAN CHORIONIC GONADOTHROPIN) adalah hormon yang diproduksi selama masa
kehamilan, hormon ini hadir dalam darah dan dikeluarkan oleh sel plasenta, sebagai hasil
pembuahan sel telur oleh sperma. sekitar 10 hari setelah sel telur dibuahi sperma di tuba
fallopii, sel telur akan bergerak menuju rahim dan melekat pada dindingnya, sejak itulah
plasenta mulai berkembang dan memproduksi hcg yang dapat di temukan di dalam darah
dan air seni. Deteksi hcg hari pertama terlambat haid (hari ke 6 pelekatan janin) Produksi
HCG akan meningkat hingga sekitar hari ke 70 dan akan menurun selama sisa kehamilan,
hormon ini merupakan indikator yang dideteksi oleh alat tes kehamilan melalui air seni, jika
alat tes kehamilan mendeteksi adanya kadar hormon hcg dalam urin maka alat tes
kehamilan akan mengindikasikan sebagai terjadinya kehamilan atau hasil tes positif Fungsi
hcg salah satunya untuk menjaga rahim agar sesuai dengan kehamilan dengan merangsang
produksi progesterone
b. Persiapan Alat
1. Tabung reaksi
2. Test strip
3. Urine
4. Slide
5. Klinipet
6. kontrol positif
7. kontrol negative
8. Reagen latex
c. Prosedur Tindakan
1.

Metode strip

Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan

celupkan strip kedalam urine selama 10-15 detik

keluarkan kemudian baca hasilnya setelah 3 detik

2. Langsung

Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan

Pipet pada tempat berbeda sampel urine sebanyak 1 tetes (3 tempat)

Tambahkan masing-masing 1 tetes control positif, control negatif dan reagen


latex.

Campur dan homogenkan.

Amati reaksi yang terjadi, hasil dibaca setelah 2 menit. Hasil tidak dibaca setelah
3 menit

d. Peran Perawat
1. Peran Perawat Pre-Test

Perawat mampu menjelaskan prosedur tindakan, tujuan dilakukan tindakan


serta indikasi serta kontraindikasi kepada klien.

Perawat harus memperhatikan kontraindikasi dari test sehingga perawat harus


mengkaji klien agar tidak terjadi kesalahan dan kefatalan dalam tes

Mampu menyiapkan alat dengan benar

2. Peran Perawat Intra Test

Perawat mampu membantu klien untuk melaksanakan tes

Perawat dapat melakukan prosedur tes dengan benar

3. Peran Perawat Post Test

Perawat mampu mengkaji klien pasca dilakukannya tes

Perawat mampu menjelaskan kembali prosedur yang telah dilaksanakan

Perawat mampu mencatat dan mendokumentasikan prosedur

Perawat memberikan hasil kepada klien dan mampu merapikan peralatan


kembali

Memberi salam
http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/4s1kedokteran/207311065/BAB%20II.pdf

D. TORCH
a. Definisi
TORCH adalah istilah yang mengacu kepada infeksi yang disebabkan oleh (Toksoplasma,
Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II (HSV-II) dalam wanita hamil.
TORCH merupakan singkatan dari Toxoplasma gondii (toxo), Rubella, Cyto Megalo Virus
(CMV), Herpes Simplex Virus (HSV) and other diseases. Infeksi TORCH ini sering
menimbulkan berbagai masalah kesuburan (fertilitas) baik pada wanita maupun pria

sehingga menyebabkan sulit terjadinya kehamilan. Infeksi TORCH bersama dengan paparan
radiasi dan obat-obatan teratogenik dapat mengakibatkan kerusakan pada embrio.
Beberapa kecacatan janin yang bisa timbul akibat TORCH yang menyerang wanita hamil
antara lain kelainan pada saraf, mata, kelainan pada otak, paru-paru, mata, telinga,
terganggunya fungsi motorik, hidrosepalus, dan lain sebagainya.
TORCH tidak hanya berkaitan dengan masalah kehamilan saja. TORCH juga bisa meyerang
orang tua, anak muda, dari berbagai kalangan, usia, dan jenis kelamin. TORCH bisa
menyerang otak (timbul gejala sering sakit kepala misalnya), menyebabkan sering timbul
radang tenggorokan, flu berkepanjangan, sakit pada otot, persendian, pinggang, sakit pada
kaki, lambung, mata, dan sebagainya.
Diagnosis dilakukan dengan tes ELISA. Ditemukan bahwa antibodi IgM menunjukkan hasil
positif 40 (10.52%) untuk toksoplasma, 102 (26.8%) untuk Rubella, 32 (8.42%) untuk CMV
dan 14 (3.6%) untuk HSV-II. Antibodi IgG menunjukkan hasil positif 160 (42.10%) untuk
Toxoplasma, 233 (61.3%) untuk Rubella, 346 (91.05%) untuk CMV dan 145 (33.58%) untuk
HSV-II.
b. Persiapan alat
1. Tabung specimen
2. Sarung tangan steril
c. Prosedur Tindakan
1. Hemaglutination inhibition
2. Passive Hemaglutination (PHA)
3. Indirect fluorescent immunoassay (IFA)
4. Enzyme immunoassay (EIA-IgM, IgG)
Pengambilan dan Penyimpanan Specimen
5. Diambil pada hari ke 3 pada saat muncul rash.
6. Dapat disimpan selama 48 jam pada temperatur 2oC 8oC.
7. Pengambilan ke 2 pada hari ke 7 s/d 21 atau hari ke 30.
8. Specimen dapat disimpan dalam freeze.
9. Specimen harus dipisahkan dari serum dengan centrifugasi.
10. Bahan : Dengan teknik MEIA, dapat dipakai serum atau plasma

11. (EDTA, Heparin, Sodium Citrate)Cytomegalovirus = CMV Termasuk DNA virus bisa
dijumpai
d. Peran Perawat
1. Peran Perawat Pre Test

Menjelaskan kepada klien tentang prosedur yang akan dilakukan

Menjelaskan kepada klien tujuan dilakukannya tindakan

Mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan

2. Peran Perawat Intra test

Melakukan tindakan sesuai dengan sop dan kewenangan perawat

3. Peran Perawat Post Test

Menjelaskan kembali prosedur yang telah dilakukan kepada klien

Merapikan alat

Mendokumentasikan prosedur

Memberi pendidikan kepada klien tentang tes yang telah dilakukan dan
tindakan selanjutnya

E. Tes Hormone
a. Definisi
F. TES SPERMA
a. Definisi
Pemeriksaan sperma (lebih tepatnya analisis semen) adalah pemeriksaan yang dilakukan
untuk mengukur jumlah serta kualitas semen dan sperma seorang pria. Pengertian semen
berbeda dengan sperma. Secara keseluruhan, cairan putih dan kental yang keluar dari alat
kelamin pria saat ejakulasi disebut semen. Sedangkan 'makhluk' kecil yang berenang-renang
di dalam semen disebut sperma. Analisis semen merupakan salah satu pemeriksaan tahap
pertama untuk menentukan kesuburan pria. Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan
apakah ada masalah pada sistim produksi sperma atau pada kualitas sperma, yang menjadi
biang ketidaksuburan. Perlu diketahui, hampir setengah pasangan yang tidak berhasil
memperoleh keturunan, disebabkan karena ketidaksuburan pasangan prianya.
b. Persiapan Alat