Anda di halaman 1dari 10

Step 1

1. Snoring
- Suara seperti mengorok menandakan kebuntuan jalan nafas bagian atas oleh benda padat
jika terdengar suara ini maka lakukan cross finger u/ membuka mulut
2. Aphneu
- Berhentinya aliran nafas yang cukup lama
3. BLS
-suatu tindakan penanganan yg dilakukan segera mungkin bertujuan u/ menghentikan proses
kematian, tindakannya disingkat ABC yaitu dg teknik airway, breathing, circulation
- utk melindungi otak dr gangguan ireversibel akibat hipoksia 3-5menit
4. Resusitasi jantung paru
-usaha yg dilakukan u/ mgmbalikan fungsi pernafasan pd henti nafas/ henti jantung
- suatu tindakan gawat darurat mgembalikan pernafasan untuk mencegah kematian biologis,
wktunya 4-5 menit
5. AED
- Automated electric defibilator alat pengejut jantung
6. Pemeriksaan primary survey
-tindakan assesment cepat terhadap tanda vital-vital
Step 2
1. Bagaimana cara melakukan RJP?
2. Bagaimana Langkah-langkah BLS?
3. Apa Indikasi dan kontraindikasi RJP?
4. Apa saja Faktor-faktor yang menyebabkan keberhasilan RJP?
5. Apa Tanda dan gejala pasien yg butuh penanganan RJP?
6. Bagaimana Langkah pemeriksaan sebelum RJP?
7. Apa Faktor-faktor yang menghambat RJP?
8. Apa perbedaan langkah bls sistem abc dengan sistem cab?
9. Apa yang dilakukan jika menemui pasien diskenario selain melakukan RJP?
10. Apa Komplikasi RJP?
11. Apa Akibat atau dampak jika tidak dilakukan pertolongan BLS?
12. Apa definisi henti nafas dan henti jantung?
13. Apa penyebab henti nafas dan henti jantung?
14. Bagaimana patofisiologi henti nafas dan henti jantung?
15. Apa saja tanda dan gejala henti nafas dan henti jantung?
16. Bagaimana penanganan orang yang henti nafas dan henti jantung?
17. Bagaimana pemakaian alat AED?
18. Berapa nomer call for help?
Step 3
1. Apa definisi henti nafas dan henti jantung?
- Henti nafas berkurangnya oksigen didalam tubuh biasanya disebut dg hipoksia
- Henti jantung keadaan jantung tidak berkontraksi krn tidak adanya oksigen, di dahului
dengan henti nafas
2. Apa penyebab henti nafas dan henti jantung?
- Henti nafas dan henti jantung : penyakit paru, radang paru, punya pnykit jantung coroner,
kecelakaan lalu lintas yg mengenai rongga dada, sumbatan jalan nafas oleh benda asing
misalnya tersedak, syok anafilaktik, (macam-macam syok)
HENTI NAFAS :

Adapun penyebab henti nafas adalah :


1. Sumbatan jalan nafas Bisa disebabkan karena adanya benda asing, aspirasi, lidah yang jatuh ke
belakang,pipa trakhea terlipat, kanula trakhea tersumbat, kelainan akut glotis dan sekitarnya
(sembab glotis, perdarahan).
2. Depresi pernafasan Sentral : obat, intoksikasi, Pa O2 rendah, Pa CO2 tinggi, setelah henti jantung,
tumor otak dan tenggelam.Perifer : obat pelumpuh otot, penyakit miastenia gravis, poliomyelitis.
HENTI JANTUNG :
Penyebab Henti Jantung.
Beberapa penyebab henti jantung dan nafas adalah,
1. Infark miokard akut, dengan komplikasi fibrilasi ventrikel, cardiac standstill, aritmia lain, renjatan
dan edema paru.
2. Emboli paru, karena adanya penyumbatan aliran darah paru.
3. Aneurisma disekans, karena kehilangan darah intravaskular.
4. Hipoksia, asidosis, karena adanya gagal jantung atau kegagalan paru berat, tenggelam, aspirasi,
penyumbatan trakea, pneumothoraks, kelebihan dosis obat, kelainan susunan saraf pusat.
5. Gagal ginjal, karena hyperkalemia
HENTI JANTUNG :
> Penyakit Jantung:
- IMA ( terbanyak) - Miokarditis
- Kardiomiopati -Trauma/tamponade
- Gagal Jantung
> Respirasi :
- Hipoksia
- Hiperkapnoe
> Metabolisme
- hiperkalsemia - hiper/hipokalemi
- hipotermi
> Sengatan listrik
> Refleks vagal
SUMBER : Irsad Andi Arso .Bag. Kardiologi FK UGM / SMF Jantung RSS
3. Bagaimana patofisiologi henti nafas dan henti jantung?
- Henti nafas : hipoksia frekuensi nafas jdi cepat krn tubuh panik jika trjdi lama otot
pernafasan lelah Co2 tertumpuk diotak SSP menekan pusat nafas yang ada disana
- Henti jantung berawal dari henti nafas krn tidak ada O2 yg msuk jantung tidak
kontraksi berhenti.
- Bisa dari penyakit jntung, pembuluh darah tersumbat
- Terjadi hipokalemi ion kalium menurun shingga kontraksi jntung terganggu, natrium
HENTI JANTUNG :
Patofisiologi
Henti Jantung gangguan sirkulasiSuplai oksigen MENURUN

> Hipoksia
- Otak : 15 detik Pao2 dari 13_2,5 kPa
1 menit Pa02 _ 0.
- akumulasi CO2.
> Asidosis
- O2 MENURUN metabolisme anaerob akumulasi
CO2 dan laktat asidosis
- Jantung kontraktilitas MENURUN
mudah aritmia
- Otak kematian sel
> Respon sistemik masif
- Katekolamin MENINGKAT
- Hormon ADH MENINGKAT
- Adrenalokortikosteroid MENINGKAT
hiperglikemia
hipokalemia
laktat MENINGKAT
aritmia
SUMBER : Irsad Andi Arso .Bag. Kardiologi FK UGM / SMF Jantung RSS
4. Apa saja tanda dan gejala henti nafas dan henti jantung?
-henti jntung : kesadaran hilang 15 detik stlh hnti jntung, tidak teraba nadi besar a. carotis,
a. femuralis dan a. brachialis pada bayi, terasa nyeri, henti nafas, warna kulit pucat
sampai kelabu, pupil mata dilatasi stelah 45detik
-henti nafas :
HENTI JANTUNG :
Gambaran EKG
Ventrikel fibrilasi
Ventrikel takhikardi tanpa denyut
PEA : PULSELESS ELECTRICAL ACTIVITY
Asistole
Berdasarkan etiologinya henti jantung disebabkan oleh penyakit jantung (82,4%); penyebab internal
nonjantung (8,6%) seperti akibat penyakit paru, penyakit serebrovaskular, penyakit kanker,
perdarahan saluran cerna obstetrik/pediatrik, emboli paru, epilepsi, diabetes mellitus, penyakit ginjal;
dan penyebab eksternal nonjantung (9,0%) seperti akibat trauma, asfiksisa, overdosis obat, upaya
bunuh diri, sengatan listrik/petir (Mansjoer, 2009).
Henti jantung biasanya terjadi beberapa menit setelah henti napas. Umumnya walaupun kegagalan
pernapasan telah terjadi, denyut jantung dan pembuluh darah masih dapat berlangsung terus sampai
kira-kira 30 menit. Pada henti jantung dilatasi pupil kadang-kadang tidak jelas. Dilatasi pupil mulai
terjadi 45 detik setelah aliran darah ke otak berhenti dan dilatasi maksimal terjadi dalam waktu 1
menit 45 detik. Bila telah terjadidilatasi pupil maksimal, hal ini menandakan sudah 50% kerusakan
otak irreversible (Alkatiri dkk, 2007).
Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba (karotis, femoralis, radialas), disertai
kebiruan (sianosis) atau pucat sekali, pernapasan berhenti atau satu-satu (gasping, apnu), dilatasi
pupil tak bereaksi dengan ranngsang cahaya dan pasien dalam keadaan tidak sadar (Latief dkk, 2009).
SUMBER : USU
5. Bagaimana penanganan orang yang henti nafas dan henti jantung?
- Henti nafas :
a. dpt dilakukan mouth to mouth ventilation, yg secara lgsung tidak diperbolehkan krna
bisa menyebabkan hepatitis shingga harus pakai alat perantara

b. tricotiroidomi
c. mouth to mask ventilation
d. ambu bag dipakai alat yg ada bag dan mask diantaranya ada katup untuk
mndpatkan masker yg baik yang satu memegang dan yang satu memompanya
e. FROP kalau diambulan dikendal oksiviva memberikan O2 yang diinginkan
-henti jantung : RJP
OBAT YANG SERING DIGUNAKAN PADA HENTI JANTUNG
1. Epinefrin
Indikasi : PEA/Aistole dan VF/pVT tidak respon
defibrilator
Dosis : 1 mg i.v bolus dapat diulang tiap 3-5 menit
ET : dosis 2-2.5 kali dosis i.v
2. Lidocain
Indikasi : VF/pVT refraktar pada defibrilator
Dosis : 1-1,5 mg /kgBB bolus i.v, dapat diulang tiap 3-5 menit
dengan dosis 0,5-0,75 mg/Kg BB.Dosis max 3 mg/Kg BB
ET : 2-2,5 x dosis i.v
3. Atropin
Indikasi : bradiasistole o.k reflek vagal
PEA/Asistole
Dosis : 1mg i.v diulang tiap 3-5 menit , ET :1-2 mg dlm 10cc
aqua steril / NaCl 0,9 %. Dosis max 0,04 mg/KG BB.
reflek vagal : 3 mg i.v ( 0,04 mg/Kg BB)
4. Magnesium sulfat
Indikasi : VT Torsardes de point, VF
Dosis : 1-2gr Mg Sulfat dilarutkan 10 ccD5W dan diberikan
dalam 1-2 menit. Pada VF dengan bolus cepat.
5. Sodium bikarbonat:
Indikasi : - RKP yang lama
- Henti jantung karena hiperkalemi.
Dosis : 1 mEq/kg BB i.v bolus, dilanjutkan setengah dosis
setiap 10 menit. Evaluasi analisa gas darah.
Tidak perlu sampai terkoreksi penuh
6.Amiodaron .
Indikasi : pilihan I untuk VF/VT tanpa nadi.
Dosis : 300 mg diencerkan dalam 20-30 cc NaCL atau
Dekstrose 5 % IV pelan-pelan. Dosis ulangan
150 mg tiap 3-5 menit, dosis max. 2,2 gr/24 jam.
SUMBER : Irsad Andi Arso .Bag. Kardiologi FK UGM / SMF Jantung RSS

PENANGANAN HENTI JANTUNG


FASE I : Bantuan hidup dasar (Basic Life Support)
FASE II : Bantuan hidup lanjutan (Advance Life Support
FASE III : Bantuan hidup terus-menerus (Prolonged Life Support).
Bantuan hidup dasar (Basic Life Support)

prosedur pertolongan darurat mengatasi obstruksi jalan nafas, henti nafas dan henti jantung, dan
bagaimana melakukan RJP secara benar.
Compression
Air way
Breathing
Bantuan hidup lanjutan (Advance Life Support
yaitu tunjangan hidup dasar ditambah dengan:
D ( drugs ) : pemberian obat-obatan termasuk cairan.
E ( EKG ) : diagnosis elektrokardiografis secepat mungkin setelah dimulai KJP, untuk mengetahui
apakah ada fibrilasi ventrikel, asistole atau agonal ventricular complexes.
F ( fibrillation treatment ) : tindakan untuk mengatasi fibrilasi ventrikel.
Bantuan hidup terus-menerus (Prolonged Life Support).
G (Gauge) : Pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara terus menerus,
dinilai, dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya.
H (Head) : Tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistim saraf dari kerusakan lebih
lanjut akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat dicegah terjadinya kelainan neurologik yang
permanen.
H (Hipotermi) : Segera dilakukan bila tidak ada perbaikan fungsi susunan saraf pusat yaitu pada
suhu antara 30 - 32C.
Bantuan hidup terus-menerus (Prolonged Life Support).
H (Humanization) : Harus diingat bahwa korban yang ditolong adalah manusia yang mempunyai
perasaan, karena itu semua tindakan hendaknya berdasarkan perikemanusiaan.
I (Intensive care) : Perawatan intensif di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi : trakheostomi, pernafasan
dikontrol terus menerus, sonde lambung, pengukuran pH, pCO2 bila diperlukan, dan tunjangan
sirkulasi, mengendalikan kejang.
6. Bagaimana cara melakukan RJP?
-titik tumpu 1/3 distal sternum jari tengah kanan, tumit kanan letakkan dijari, tidak boleh
menyentuh, tekanan tidak terlalu kuat jangan bergeser dan pijatan 2kali selama sedetik,
rasio pijat 15kali dibnding hembusan nafas, setelah pijat 4 siklus 120 evaluasi sirkulasi
7. Bagaimana Langkah-langkah BLS?
a. Periksa keadaan pasien, respon pasien dg nafas
b. Panggilan darurat
c. Teknik CAB : circulation raba dnyut carotis jika ditemukan, lakukan kompresi
dada pemeriksaannya tidak boleh lebih dr 10 detik. Airway bebaskan jalan nafas
melalui headtilt caranya dengan meletakkan satu tangan pada dahi korban. Breathing
memberikan ventilasi jalan nafas dg mouth to mouth
d.
8. Apa perbedaan langkah bls sistem abc dengan sistem cab?
- Abc mendahulukan airway, kompresi dada sering tertunda dengan mengganti ke
teknik cab maka airway sedikit tertunda, 30kali kompresi dada dilakukan 18detik

9. Apa Indikasi dan kontraindikasi RJP?


Indikasi : henti nafas dan henti jntung
1. Henti nafas primer
_ Jantungmasihmemompa darah dalambeberapamenit
_ Cadangan oksigen paru dan darahmengalir ke otak dan organ lain
_ Intervensi dini henti nafas obstruksi jalan nafas
_ _dapatmencegah henti jantung
2. Henti jantung
_ Henti jantung primer
- oksigen tidak bersirkulasi
- oksigen organ vital terpakai habis dalambeberapa detik
_ Fenomena listrik pada henti jantung
- vibrilasi ventrikel ( VF )
- takhikardia ventrikel ( VT )
-Asistol (AS )
- Dissosiasi elektromagnetik ( DE )
10. Apa saja Faktor-faktor yang menyebabkan keberhasilan RJP?
-ketepatan waktu, skill tenaga medis mumpuni, pasien masih bisa ditolong, call for help
cepat
A. Faktor-Faktor Yang Meningkatkan Keberhasilan RJP
1. Ketersediaan alat
Ketersediaan alat merupakan faktor yang meningkatkan keberhasilan RJP
bagi 4 informan yang diwawancarai. Mereka menyatakan bahwa faktor yang
meningkatkan keberhasilan RJP adalah adanya bagging, gudel, ET, obat-obat
seperti SA, perbandingan yang cukup antara peralatan dan ruangan, alat
emergency, DC shock, papan alas, emergency kids ambu bag, dan peralatan CPR.
Ketersediaan alat yang lengkap sudah menjadi standar pelayanan rumah sakit.
Kelengkapan alat menjadi kebutuhan vital yang harus tersedia saat dilakukannya
RJP. Perlengkapan yang biasa diperlukan yaitu ambu bag, selang oksigen,
oksigen, suction, selang suction, gudel, endotrakeal tube beserta mandrainnya,
laringoskop, senter, obat emergency seperti adrenalin, SA, atau amiodaron.
Adanya papan untu RJP akan memberkan kesempatan kompresi lebih maksimal
dilakukan pada pasien. Sirkulasi darah ke otak akan maksimal karena darah
dipompa manual secara maksimal oleh perawat.
2. Kompetensi perawat
Kompetensi perawat merupakan faktor yang meningkatkan keberhasilan RJP bagi
informan yang diwawancarai. Mereka menyatakan bahwa faktor yang
meningkatkan keberhasilan RJP adalah perawat yang berpengalaman, mendapat
pelatihan, memperoleh continuous education BHD maupun ACLS, adanya senior
yunior dan dapat melakukan RJP secara benar Kemampuan perawat dalam mengidentifikasi dan
menganalisa kondisi pasien yang
mengalami arrest menjadi faktor penting dalam keberhasilan RJP. Ketika perawat
mampu mengenali kondisi pasien sedini mungkin, maka pemberian resusitasi juga
dilakukan sesegera mungkin. Kemampuan dalam melakukan RJP tidak begitu saja
didapatkan. Untuk memiliki kompetensi melakukaan RJP yang berkualitas harus
melalui pelatihan dan update informasi terbaru berhubungan dengan RJP.
3. Penanganan pasca resusitasi
Penanganan pasca operasi merupakan faktor yang meningkatkan keberhasilan
RJP bagi 4 informan yang diwawancarai. Mereka menyatakan bahwa faktor yang

meningkatkan keberhasilan RJP adalah efektivitas waktu RJP, efisiensi dari


pelaksaan RJP, RJP harus lanjut atau dihentikan, dipindahkan ke ICU, ditransfer
ICU, alat bantuan napas mekanik, dan akses ke ICU. Penanganan pasca resusitasi saat ini
mendapatkan perhatian dalam perawatan
gawat darurat jantung dan pembuluh darah, tetapi masih terdapat sedikit bukti
untuk mendukung terapi khusus dan pengobatan yang belum distandarisasi di
anatara kumunitas perawatan kesehatan. Setelah inisisasi resusitasi, ada yang
harus disiapkan untuk mendukung fungsi miokard dan jantung. Monitoring
tekanan darah, kontrol suhu (utamanya dalam pencegahan hipertermia) dan
konsentrasi glukosa, dan pencegahan hiperventilasi saat ini
Perawatan di ruang intensif adalah anjuran bagi pasien yang telah berhasil
diresusitasi. Alat yang tersedia di ruang intensif lebih memadai dibandingkan
dengan di bangsal. Alat utama yang diperlukan yaitu ventilator. Ventilator
merupakan alat bantu nafas yang dapat diatur sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Ventilator dapat menggantikan bantuan napas manual dengan bagging. Ventilator
dapat mengatasi kelelahan yang dialami petugas saat membagging maupun
kondisi tubuh yang berkompensasi untuk menjaga hemodinamik tubuh.
4. Kolaborasi dengan dokter
Kolaborasi dengan dokter merupakan faktor yang meningkatkan keberhasilan
RJP. Mereka menyatakan bahwa faktor yang meningkatkan keberhasilan RJP adalah kolaborasi
dengan dokter, dokter jaga yang standby, dibantu dengan dokter dan hubungi dokter. Pelaksanaan
RJP tidak dapat dilakukan seorang diri. Pelaksanaan RJP dilakukan oleh tim yang terdiri dari leader,
ventilator, kompresor, dan sirkulator. Sirkulasi juga dipengaruhi oleh intervensi pemberian obat.
Manajemen obat adalah salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan RJP. Obat dapat
membantu mengembalikan status hemodinamik tubuh. Dokter adalah profesi kesehatan
yangmemiliki wewenang untuk memberikan obat-obatan pada pasien. Sehingga untukpemberian
obat saat resusitasi pasien tergantung keputusan dokter.Kehadiran dokter menjadi faktor yang
sangat berperan untuk keberhasilan RJP.Inisiasi awal pembebasan jalan napas, pemberian ventilasi
dan kompresidilanjutkan dengan pemberian obat sesuai advis dokter dapat menolong pasien yang
mengalami arrest.
5. Panduan RJP
Panduan RJP merupakan faktor yang meningkatkan keberhasilan RJP bagi 4
informan yang diwawancarai. Mereka menyatakan bahwa faktor yang
meningkatkan keberhasilan RJP adalah prosedur sudah benar, algoritma mengacu
pada AHA 30:2 dengan 5 siklus, peran circulator, ventilator, dan compressor,
ditidur flat, kepala diganjel dengan bantalan infus, dimiringkan. Dan prosedur
yang terbaru 30:2.
Setiap petugas kesehatan baik dokter dan perawat harus memiliki panduan yang
sama dalam melakukan RJP. Untuk saat ini Guidlines AHA 2005 yang
digunakan sebagai pedoman dalam memberikan RJP. Kesamaan panduan ini
memudahkan petugas untuk mengoptimalkan RJP yang diberikan ke pasien.
Perawat dan dokter dapat saling melengkapi dan mengingatkan dalam
memberikan RJP.
6. Response time
Response time merupakan faktor yang meningkatkan keberhasilan RJP bagi 2
informan yang diwawancarai. Mereka menyatakan bahwa faktor yang
meningkatkan keberhasilan RJP adalah hitungannya bukan dengan menit lagi,
bahkan detik, harus cepet, langsung tahu, tidak kecolongan, observasi pasien
terus, dan segera tersaksikan Kecepatan dalam memberikan resusitasi dari saat pasien mengalami
arrest
sampai pasien ditemukan menentukan keberhasilan dari usaha resusitasi.

Penelitian yang dilakukan oleh Mohsen Adib dkk menyatakan bahwa kunci
prediktor dari keberhasilan RJP yaitu durasi RJP, waktu saat henti jantung, waktu
dari saat henti jantung sampai inisiasi RJP dan defibrilasi pada menit pertama saat
henti jantung Mohsen Adib . Otak akan mengalami kematian jika tidak mendapatkan
suplai oksigen lebih dari4 menit. Pak J Cardiol menyatakan bahwa durasi RJP
yang melebihi 20 menit sudah tidak efektif lagi untuk dilanjutkan. Untuk pasien yang ditemukan
irama VF atau VT harus mendapatkan defibrilasi pada 2-3 menit pertama
sumber : PERSEPSI PERAWAT TENTANG FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KEBERHASILAN RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP)
DI UPJ RSUP DR. KARIADI SEMARANG
Pratondo1 , Oktavianus2
1,2Prodi S-1 Keperawatan, STIKes Kusuma Husada Surakarta
11. Apa Faktor-faktor yang menghambat RJP?
B. Faktor-faktor yang menghambat keberhasilan RJP
1. Kesiapan alat
Kesiapan alat merupakan faktor yang meningkatkan keberhasilan RJP bagi 2
informan yang diwawancarai. Mereka menyatakan bahwa faktor yang
meningkatkan keberhasilan RJP adalah harus mencari-cari alat itu alatnya
dipinjam ndak balik, mas harus nyari-nyari dulu
2. Kondisi pasien
Kondisi pasien merupakan faktor yang meningkatkan keberhasilan RJP bagi 3
informan yang diwawancarai. Mereka menyatakan bahwa kondisi pasien
jelek, komplikasi dari pasien, kondisi pasiennya Laki-laki yang mengalami arrest lebih memiliki
kesempatan untuk hidup
kembali setelah mendapatkan RJP. Usia yang lebih muda juga merupakan
preditor keberhasilan RJPPak J Car. Pasien dengan penyebab non cardiac (henti
napas) memiliki kesempatan yang lebih besar untuk selamat. Pulseless
Ekectrical Activity (PEA) atau asistol merupakan prediktor yang buruk untuk
keberhasilan RJP . Faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan RJP antara
lain non cancer diagnosis, kanker tanpa metastase, fungsi ginjal yang bagus,
infeksi yang diketahui, tekanan darah yang normal dan pasien tidak terisolasi
pada suatu ruangan
sumber : PERSEPSI PERAWAT TENTANG FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KEBERHASILAN RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP)
DI UPJ RSUP DR. KARIADI SEMARANG
Pratondo1 , Oktavianus2
1,2Prodi S-1 Keperawatan, STIKes Kusuma Husada Surakarta
12. Apa yang dilakukan jika menemui pasien diskenario selain melakukan RJP?
13. Apa Komplikasi RJP?
1. Patah tulang dada/ iga
2. Bocornya paru-paru ( pneumothorak)
3. Perdarahan dalam paru-paru/ rongga dada ( hemothorak )
4. Luka dan memar pada paru-paru
5. Robekan pada hati
SUMBER : http://faridnasrullah.blogspot.com/2012/10/bhd-bantuan-hidup-dasardanrjp_28.html

Nafas buatan :

inflasi gasterinflasi gaster

regurgitasiregurgitasi

mengurangi volume parumengurangi volume paru

Bila terjadi inflasi gasterBila terjadi inflasi gaster

perbaiki jalan nafasperbaiki jalan nafas

hindari TV yang besar dan lajuhindari TV yang besar dan lajunafas yang cepatnafas yang cepat
Fraktur iga & sternum,sering terjadi terutamaFraktur iga & sternum,sering terjadi
terutamapada orang tua, RJP tetap diteruskan walaupunpada orang tua, RJP tetap
diteruskan walaupunterasa ada fraktur iga. Fraktur mungkin terjaditerasa ada fraktur iga.
Fraktur mungkin terjadibila posisi tangan salah.bila posisi tangan salah
.PneumothoraxHemothoraxKontusio paruLaserasi hati dan limpa, posisi tangan
yangterlalu rendah akan menekan procesus xipoideus ke arah heper (limpa) Emboli lemak
14. Apa Akibat atau dampak jika tidak dilakukan pertolongan BLS?
-henti nafas dan henti jantung yang ireversibel
15. Bagaimana pemakaian alat AED?
16. Berapa nomer call for help?
17. Macam-macam breathing?
Untuk membantu mengatasi gangguan respirasi, Fisioterapi memiliki sebuah
teknik, yaitu Breathing Technic. Breathing technic adalah suatu cara yang dipakai
untuk membantu mengatasi atau mengurangi gangguan pernafasan. Terdiri dari
dua macam teknik, yaitu Breathing control dan Breathing exercise.
A. BREATHING CONTROL
Breathing control adalah suatu teknik bernafas dengan menggunakan paru sisi
bawah dan menghindari atau meminimalkan penggunaan otot-otot bantu nafas (
otot dada atas dan otot-otot bahu ) sehingga diperoleh suatu kondisi yang santai
( rileks ).
Breathing control cocok dan banyak diberikan pada pasien asma atau PPOK
yang sedang mengalami serangan sesak nafas. Kedua kondisi tersebut
seandanya malah diberi breathing exercise justru akan menambah derjat sesak
nafasnya. Hal ini terjadi karena breathing exercise akan meningkatkan kerja otot
pernafasan atas dan membuatnya lelah.
Prosedur breathing control :
1. Posisi pasien santai dan nyaman, boleh duduk, half lying atau tidur miring.
2. Pasien bernafas biasa dan santai.
3. Hindari member hambatan saat bernafas. Misalnya : hindari penggunaan
pursedlips breathing.
4. Beri intruksi kepada pasien secar halus dan bersuara rendah.

B. BREATHING EXERCISE
Tujuan pemberian breathing exercise adalah untuk memperbaiki ventilasi,

meningkatkan kapasitas paru dan mencegah kerusakan paru.


Breathing exercise terdiri dari beberapa macam, yaitu :
1. Diafragma breathing.
Diberikan pada penderita gangguan respirasi yang sedang mengalami serangan
sesak nafas. Contoh : penderita asma yang sedang kambuh.
Prosedurnya :
1) Bernafas dengan perut.
2) Dada dan bahu harus rileks.
3) Saat inspirasi, kembungkan perut.
4) Saat ekspirasi, kempiskan perut.
5) Terapis mengontrol dengan memegang perut dan dada pasien. Yang harus
bergerak hanya perut, dada harus diam.
2. Purse lips breathing.
Diberikan pada pasien yang sedang tidak mengalami serangan sesak nafas.
Contohnya : penderita asma yang sedang tidak kambuh.
Prosedurnya :
1) Posisi pasien rileks.
2) Pasien tarik nafas melalui hidung dan tahan 2-3 detik.
3) Lalu pasien diminta hembuskan nafas lewat mulut ( mulut dimonyongkan )
selama 6-8 detik.
3. Segmental breathing.
Adalah suatu latihan nafas pada segmen paru tertentu dengan tujuan melatih
pengembangan paru persegmen.
Prosedurnya : Saat ingin memberikan pengembangan segmen paru tertentu,
maka terapis memberikan tekanan saat inspirasi dan ekspirasi pada segmen
paru yang dimaksud. Jadi tangan terapis bertindak sebagai guiden ( pemberi
stimulus dan penunjuk arah gerakan ).
4. Glossopharingeal breathing.

Sumber : Dede Hidayat SSt.Ft, disampaikan pada Seminar & Workshop Akfis
UKI 15-17 Juli 2010
Konsep mapping