Anda di halaman 1dari 2

Anemia Karena Perdarahan

Orang mengalami kecelakaan, pasca pembedahan atau karena penyakit yang


serius, dan akhirnya kehilangan banyak darah, juga bisa menyebabkan anemia.
Dalam kondisi ini, tubuh sebenarnya sudah mencoba mengganti kekurangan sel
darah merah yang terjadi secara tiba-tiba ini dengan mengeluarkan cairan atau
plasma dalam jumlah yang banyak. Namun tetap saja sel-sel darah merah tidak
dapat tergantikan semudah itu (untuk jumlah yang banyak). Si korban mungkin
memiliki cukup plasma di dalam peredaran darahnya, namun sel darah merahnya
tetap rendah. Ini salah satu contoh anemia yang disebabkan karena kehilangan
banyak darah atau anemia karena perdarahan.

Perdarahan yang terjadi akibat adanya luka pada lambung atau juga usus juga bisa
menimbulkan anemia. Jika sel-sel darah merah hilang lebih cepat daripada yang
digantikan oleh tubuh, penderita tentu akan segera merasakan gejala-gejala
anemia. Kehilangan sel-sel darah merah secara perlahan melalui saluran kemih
juga akan mengakibatkan hal yang sama. Anemia juga bisa terjadi pada wanita
yang mengalami haid, yang akhirnya menyebabkan si wanita merasa lemah.

Hemodilusi (pengenceran) karena peningkatan berat badan


Peningkatan BB pada bayi meningkatkan volume darah dalam tubuh
Ini terjadi pd usia 8-12 mgg setelah kelahiran. Bayi prematur nilai Hb lebih
rendah dikatakan fisiologis.

Definisi Anemia dalam kehamilan

Anemia dalam kehamilan adalah kondisi dengan kadar hemoglobin di bawah


11gr% pada trimester 1 dan 3 atau kadar <10,5gr% pada trimester 2, nilai batas
tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil, terjadi karena
hemodilusi, terutama pada trimester 2 (Saifuddin, 2006).

Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang tidak diimbangi dengan jumlah
plasma menyebabkan pengenceran darah. Plasma 30%, sel darah 18%, dan
hemoglobin 19%.
Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologis dalam
kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama tama pengenceran itu
meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil,
karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat (Saifuddin, 2006).