Anda di halaman 1dari 5

TEORI RELIGI

By: Darundiyo Pandupitoyo, S. Sos.

S eperti kita ketahui bersama bahwa perhatian ilmu

antropologi sangatlah besar mengenai religi, religi itu sendiri adalah


segala system perbuatan manusia untuk mencapai maksud dengan cara
menyandarkan diri pada kekuasaan “sesuatu” (roh-roh nenek moyang,
dewa-dewa, Tuhan dsb.) yang diagungkan. Religi dipandang penting oleh
para ilmuwan, khususnya di bidang sosial karena dipandang mampu
menghasilkan suatu kebudayaan bila bicara mengenai konteks ritualnya
dan segala aturan yang memola kehidupan pemeluknya. Yang menjadi
pertanyaan bagi kita adalah, mengapa manusia melakukan berbagai cara
atau hal-hal yang beraneka warna bentuknya untuk mencari hubungan
dengan kekuatan-kekuatan yang mereka anggap mampu “menggerakan”
alam, telah menjadi obyek penelitian para ilmuwan sejak lama, dan
akhirnya muncullah berbagai macam teori mengenai asal mula
munculnya religi di bumi ini. Namun bila diringkas, ada 6 teori terpenting
mengenai asal mula munculnya religi, yaitu:
1. Teori faham jiwa dari E.B. TYLOR yang mengatakan bahwa
kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena manusia
mulai faham akan faham jiwa. Kesadaran faham jiwa itu meliputi
dua aspek penting, yaitu: 1). perbedaan antara manusia yang hidup
dan yang mati, kemanakah mereka pergi? Mengapa manusia bisa
bergerak dan mengapa bisa tidak bergerak (saat mati)? Pertanyaan-
pertanyaan itu yang membuat manusia sadar bahwa disamping
tubuh jasmaniah kita, ada sesuatu yang menggerakkan, yang
disebut jiwa (soul). 2). Dalam mimpinya, manusia elihat tubuhnya
sedang berjalan di tempat lain daripada tempatnya tidur. Yang

-1-
Tugas reading report teori religi

akhirnya manusia bisa membedakan antara tubuh jasmaniahnya


ang ada di tempatnya tidur waktu itu dan bagian tubuh lainnya
yang sedang berjalan di tempat lain dalam mimpinya. Dari situ bisa
ditarik kesimpulan, bahwa jiwa bisa hidup mandiri dan bisa
meninggalkan tubuh pada saat-saat tertentu, seperti pada saat tidur
atau pingsan, namun menurut E.B. TYLOR pada saat manusia
tidur ataupun pingsan, jiwa masih berhubungan dengan tubuh
manusia, kecuali pada saat manusia itu meninggal dunia. Jiwa dan
tubuhnya sudah berpisah dan terputus hubungannya secara
permanen, sehingga jiwa-jiwa yang lepas dari tubuh ini merdeka
dan mengisi seluruh alam ini dan oleh E.B. TYLOR, jiwa-jiwa
yang merdeka ini sudah tidak bisa disebut lagi soul namun disebut
spirit. Dari sinilah akhirnya manusia memercayai adanya roh-roh
halus yang dapat menjaga mereka sewaktu-waktu dari kejadian
apapun yang menimpa mereka, teruatama roh-roh halus dari garis
nenek moyang mereka sendiri.
2. Teori batas akal yang disampaikan oleh J.G. FRAZER, bahwa
manusia memecahkan semua persoalan dalam hidupnya dengan
menggunakan akal dan system pengetahuan mereka, namun
menurutnya akal dan system pengetahuan manusia itu ada
batasnya, makin maju sebuah kebudayaan manusia, makin luas
batas akal itu. Akhirnya soal-soal hidup yang tidak dapat
dipecahkan oleh manusia dengan segala keterbatasannya itu
membawa manusia kepada magic atau biasa kita sebut dengan ilmu
gaib untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Magic menurut
Frazer adalah segala perbuatan manusia untuk mencapai suatu
maksud dengan menggunakan kekuatan alam dan segala sesuatu
yang ada di belakangnya. Namun menurut Frazer, pada waktu itu
sebagian besar kegiatan magic tersebut tidak berhasil, dan akhirnya

-2-
Tugas reading report teori religi

manusia mulai percaya pada alam yang dihuni oleh makhluk-


makhluk halus yang lebih berkuasa dari mereka dan mereka
anggap punya kekuatan untuk mengatur alam, maka dari sinilah
timbul religi.
3. Teori masa krisis dalam hidup individu yang dikemukakan oleh A.
VAN GENNEP dan M. CRAWLEY. Mereka berpendapat bahwa
dalam jangka waktu hidupnya, manusia mengalami masa krisis
yang menjadi obyek perhatiannya dan amat sering manakutinya.
Krisis-krisis itu berbentuk bencana alam, atau musibah lain seperti
sakit dan maut yang notabene tidak bisa mereka tangani sendiri
dengan menggunakan system pengetahuan yang mereka punyai
pada waktu itu, yang akhirnya membawa manusia ke arah
perbuatan-perbuatan / ritual-ritual yang mereka anggap dapat
mendatangkan solusi untuk masalah yang dihadapinya. Ritual-
ritual ini khusus ditujukan untuk “sesuatu” yang mereka anggap
Maha menguasai dan mengatur segala sesuatu. Ritual-ritual itulah
yang akhirnya menjadi pangkal dari religi dan bentuk-bentuk religi
tertua.
4. Teori kekuatan luar biasa yang dikemukakan oleh R.R.
MARRET, yang menjelaskan bahwa pangkal dari terbentuknya
religi ini adalah manusia merasa rendah terhadap hal-hal yang
dianggap manusia pada waktu itu luar biasa seperti contohnya:
petir, gempa bumi, gunung meletus dsb. Tempat-tempat terjadinya
peristiwa itu dianggap oleh manusia dihuni oleh kekuatan-kekuatan
yang melebihi kekuatan-kekuatan yang lebih dulu dikenal manusia.
Menurut R.R. MARRET hal tersebut bisa disebut the Supernatural.
R.R. MARRET juga menolak pendapat dari E.B. TYLOR
mengenai teori faham jiwa. Dia (R.R. MARRET) berpendapat
bahwa kesadaran mengenai jiwa tersebut terlampau kompleks bagi

-3-
Tugas reading report teori religi

pemikiran manusia yang nasih berada pada tingkat-tingkat awal


kehidupan di muka bumi ini.
5. Teori sentimen masyarakat yang dikemukakan oleh Emile
Durkheim membahas bahwa manusia mengembangkan religi ini
karena suatu getaran jiwa, emosi keagamaan yang timbul dalam
jiwa manusia, yang timbul dalam sentimen kemasyarakatan.
Sentimen kemayarakatan itu sendiri berupa suatu kompleks
perasaan yang mengandung rasa terikat, rasa bakti, rasa cinta dsb.
Terhadap masyarakatnya sendiri. Dari situ muncullah emosi
keagamaan, dan merupakan pangkal dari terciptanya sebuah religi.
6. Teori firman Tuhan yang dikemukakan oleh W. SCHMIDT dan A.
LANG, mereka percaya dengan adanya dewa tertinggi atau bisa
disebut Tuhan yang menyampaikan pesan-pesan ajarannya melalui
manusia yang hidup pada zaman tersebut. Manusia yang terpilih
(the chosen one) inilah yang pada akhirnya nanti menyebarkan
ajaran-ajaran Tuhan tersebut kepada semua umat manusia lainnya.
Enam buah teori diatas telah menunjukkan kepada kita betapa pentingnya
religi dalam ilmu antropologi, teori satu dengan yang lainnya saling
bertentangan. yang patut ditanyakan sekarang adalah; mengapa tidak ada
kesesuain diantara 6 teori tersebut? Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat
hal tersebut dikarenakan para ilmuwan pengemuka teori-teori tersebut
hanya berorientasi pada satu aspek saja, padahal seperti kita tahu bahwa
religi itu sebuah hal yang sangat kompleks, karena mungkin pangkal dari
proses terciptanya religi tidak sama antara daerah satu dengan yang lain
di muka bumi ini, jadi itu semua bersifat spekulatif saja. Sebenarnya bila
bila kita telaah lebih dalam di semua suku bangsa di dunia, maka akan
terlihat bahwa ada empat unsur pokok dalam religi pada umumnya, yaitu:
I. Emosi kegamaan atau getaran jiwa yang menyebabkan
manusia menjalankan kelakuan serta ajaran agama

-4-
Tugas reading report teori religi

II. Sistem kepercayaan atau bayangan – bayangan manusia


tentang bentuk dunia, alam gaib, hidup, maut dsb.
III. System upacara kegamaan yang betujuan mencari hubungan
dengan dunia gaib berdasarkan atas system kepercayaan
tersebut.
IV. Kelompok keagamaan atau kesatuan-kesatuan sosial yang
mengonsepsikan dan mengaktifkan religi beserta system
upacara-upacara keagamaannya.

Adapun hubungan diantara empat unsur pokok religi ini adalah : emosi
kegamaan adalah pangkal dan pusat dari aktivitas-aktivitas keagamaan,
mulai dari individu sampai pada suatu komunitas. Dari situ muncullah
system kepercayaan, dan untuk lebih mengekspresikan rasa cintanya
kepada kepercayaannya itu, manusia membuat suatu upacara atau
semacam ritual-ritual, dari dalam upacara itu sendiri dapat muncul emosi
keagamaan. Begitu pula dengan komuniti keagamaan yang memiliki
hubungan resiprositas dengan system kepercayaan, karena religi
merupakan penjelmaan dari faham kolektif masing-masing individu,
artinya religi tak ada artinya tanpa adanya umat yang menganutnya dan
komuniti keagamaan itu sendiri membutuhkan religi sebagai tempat
memola perilaku dan tempat berlindung.

-5-