Anda di halaman 1dari 13

KEBIJAKAN PEMERINTAH MENGENAI KEMISKINAN

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Pendidikan Kewarganegaraan
Yang dibina oleh Bapak

oleh
1. Amalina Listyarso

(1303)

2. Nila Wahyuni

(130341603392)

3. Rosita Ariyanti

(130341603364)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
NOVEMBER 2013

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, kami dari
kelompok 8 dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan berupa
makalah yang berjudul KEBIJAKAN PEMERINTAH MENGENAI KEMISKINAN dengan
tepat waktu. Terima kasih kami ucapkan kepada dosen kami yang telah membimbing kami
dalam menyelesaikan makalah ini.
Dalam penyusunan dan penulisan makalah ini,tidak sedikit hambatan yang kami hadapi.
Sehingga kami merasa masih banyak kekurangan mengingatakan kemampuan yang dimiliki.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi menyempurnakan
makalah ini dan pembuatan makalah kami selanjutnya.

Malang,26 November 2013

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masalah besar yang dihadapi negara sedang berkembang adalah kemiskinan. Tidak
meratanya distribusi pendapatan memicu terjadinya ketimpangan pendapatan yang merupakan
awal dari munculnya masalah kemiskinan. Membiarkan masalah tersebut berlarut-larut akan
semakin memperkeruh keadaan, dan tidak jarang dapat menimbulkan konsekuensi negative
terhadap kondisi sosial dan politik. Masalah kesenjangan pendapatan dan kemiskinan tidak
hanya dihadapi oleh negara sedang berkembang, namun negara maju sekalipun tidak terlepas
dari permasalahan ini. Perbedaannya terletak pada proporsi atau besar kecilnya tingkat
kesenjangan dan angka kemiskinan yang terjadi, serta tingkat kesulitan mengatasinya yang
dipengaruhi oleh luas wilayah dan jumlah penduduk suatu negara. Semakin besar angka
kemiskinan, semakin tinggi pula tingkat kesulitan mengatasinya. Negara maju menunjukkan
tingkat kesenjangan pendapatan dan angka kemiskinan yang relative kecil dibanding negara
sedang berkembang, dan untuk mengatasinya tidak terlalu sulit mengingat GDP dan GNP
mereka relative tinggi. Walaupun demikian, masalah ini bukan hanya menjadi masalah internal
suatu negara, namun telah menjadi permasalahan bagi dunia internasional, tidak terkecuali
Negara Indonesia. Kesalahan pengambilan kebijakan dalam pemanfaatan bantuan dan atau
pinjaman tersebut, justru dapat berdampak buruk bagi struktur sosial dan perekonomian negara
bersangkutan. Demikianlah adanya arus perputaran perekonomian dari saat kesaat di dalam
sebuah perekonomian swasta. Namun, corak arus itu untuk perekonomian dimana pemerintah
ikut di dalamnya sehingga bukan perekonomian swasta lagi tidaklah akan menyimpang dari
prinsip itu, mengingat pemerintah merupakan unsur pengatur dan penyeimbang perekonomian
secara keseluruhan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah kemiskinan itu?
2. Apa saja upaya dan kebijakan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia?
3. Bagaimana alternatif cara untuk mengentaskan kemiskinan yang efektif?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kemiskinan
Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan antara kelompok masyarakat berpendapatan
tinggi dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah serta tingkat kemiskinan atau jumlah
orang yang berada di bawah garis kemiskinan merupakan dua masalah besar dibanyak negara
berkembang, tidak terkecuali Indonesia. Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi
ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat
berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat
pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.
Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif
dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang
lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya meliputi: Pertama,
gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang,
perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi
kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
Kedua, gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan,
dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan
informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup
masalahmasalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
Ketiga, gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna
"memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh
dunia.

B. Penyebab Kemiskinan
o Penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari
perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin. Namun lebih tepatnya terletak
pada perbedaan kualitas sumber daya manusia dan perbedaan akses modal.
o Penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan
keluarga.
o Penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan
kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;
o Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain,
termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi. Karena ciri dan keadaan masyarakat
dalam suatu daerah sangat beragam (berbeda) ditambah dengan kemajuan
ekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang masih rendah.
o Penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil
dari struktur social dan kebijakan pemerintah. Kebijakan dalam negeri seringkali
dipengaruhi oleh kebijakan luar negeri atau internasional antara lain dari segi
pendanaan. Dan yang paling penting adalah Ketidakmerataannya Distribusi
Pendapatan yang dilaksanakan oleh pemerintah.

C. Ukuran Kemiskinan
1. Kemiskinan Absolut
Konsep kemiskinan pada umumnya selalu dikaitkan dengan pendapatan dan
kebutuhan, kebutuhan tersebut hanya terbatas pada kebutuhan pokok atau kebutuhan
dasar ( basic need ). Kemiskinan dapat digolongkan dua bagian yaitu :
a.Kemiskinan untuk memenuhi bebutuhan dasar.
b.Kemiskinan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi.
2. Kemiskinan Relatif
Menurut Kincaid ( 1975 ) semakin besar ketimpang antara tingkat hidup orang
kaya dan miskin maka semakin besar jumlah penduduk yang selalu miskin. Yakni dengan
melihat hubungan antara populasi terhadap distribusi pendapatan.

D. Upaya Pemerintah Indonesia Dalam Mengurangi Kemiskinan

Pembangunan Sumber Daya manusia


Sumberdaya manusia merupakan investasi insani yang memerlukan biaya yang cukup

besar, diperlukan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyrakat


secara umum, maka dari itu peningkatan lembaga pendidikan, kesehatan dan gizi merupakan
langka yang baik untuk diterapkan oleh pemerintah. Bila dikaitkan pada sektor pertanian, akan
lebih berkembang jika kebijakan pemerintah bisa menitikberatkan pada transfer sumber daya
dari pertanian ke industri melalui mekanisme pasar.

Peranan Lembaga Swadaya Masyarakat


Mengingat LSM memiliki fleksibilitas yang baik dilingkungan masyarakat sehingga

mampu memahami komunitas masyarakat dalam menerapkan rancangan dan program


pengentasan kemiskinan. Penyuluhan lingkungan untuk menghindari praktek distribusi yang
menggunakan barang-barang yang merusak masyarakat. Misalnya, minuman keras, obat
terlarang, dan pembajakan, lantaran dalam Islam distribusi tidak hanya didasarkan optimalisasi
dampak barang tersebut terhadap kemampuan orang. Tapi, pengaruh barang tersebut terhadap
prilaku masyarakat yang mengkonsumsinya.

Pembangunan Infrastruktur
Negara menyediakan fasilitas-fasilitas publik yang berhubungan dengan masalah

optimalisasi distribusi pendapatan. Seperti sekolah, rumah sakit, lapangan kerja, perumahan,
jalan, jembatan dan lain sebagainya. Namun terdapat 5 (lima) permasalahan dalam pengentasan
kemiskinan yaitu :
1. Lemahnya instusi pengelola program pengentasan kemiskinan.
2. Kebijakan penggunaan data basis keluarga miskin belum secara operasional
dipergunakan sebagai intervensi program pengentasan kemiskinan.
3. Belum ada mekanisme dan sistem pencatatan dan pelaporan program pengentasan
kemiskinan.
4. Dukungan anggaran operasional pengentasan kemiskinan yang masih terbatas
Harus ada sinergisitas antara program pengentasan kemiskinan yang diprogramkan oleh
pemerintah pusat dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten atau kota. Selama ini
program pengentasan kemiskinan oleh pemerintah pusat tidak maksimal diterapkan oleh
pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, karena tidak disiapkannya infrastruktur
pendukung untuk program tersebut.

E. Kebijakan Pemerintah Mengenai Kemiskinan

Untuk menanggulangi masalah kemiskinan pemerintah telah menerapkan beberapa


kebijakan. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya yakni dengan memberikan bantuan dan
perlindungan sosial kepada keluarga kurang mampu, melalui Program Beras untuk Rakyat
Miskin (Raskin), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan
Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Kebijakan yang kedua yakni Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri), dan Program Kredit Usaha Rakyat
(KUR).

1. Program Raskin
2. Bantuan Langsung Tunai (BLT)
Program Bantuan Langsung Tunai merupakan kompensasi yang diberikan usai
penghapusan subsidi minyak tanah dan program konversi bahan bakar gas. Namun kedua
hal tersebut tidak memiliki dampak signifikan terhadap pengurangan angka kemiskinan.
Bahkan beberapa pakar kebijakan negara menganggap, bahwa hal tersebut sudah
seharusnya dilakukan pemerintah. Baik ada atau tidak ada masalah kemiskinan di
Indonesia. Negara wajib menyediakan jaminan kesejahteraan masyarakat sebagaimana
diamanatkan oleh Undang-undang Dasar 1945.
3. Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok
Fokus program ini bertujuan menjamin daya beli masyarakat miskin/keluarga
miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok terutama beras dan kebutuhan pokok utama
selain beras. Program yang berkaitan dengan fokus ini seperti :

Penyediaan cadangan beras pemerintah 1 juta ton

Stabilisasi/kepastian harga komoditas primer

4. Mendorong pertumbuhan yang berpihak pada rakyat miskin

Fokus program ini bertujuan mendorong terciptanya dan terfasilitasinya


kesempatan berusaha yang lebih luas dan berkualitas bagi masyarakat/keluarga miskin.
Beberapa program yang berkenaan dengan fokus ini antara lain:

Penyediaan dana bergulir untuk kegiatan produktif skala usaha mikro dengan pola
bagi hasil/syariah dan konvensional.

Bimbingan teknis/pendampingan dan pelatihan pengelola Lembaga Keuangan Mikro


(LKM)/Koperasi Simpan Pinjam (KSP).

Pelatihan budaya, motivasi usaha dan teknis manajeman usaha mikro

Pembinaan sentra-sentra produksi di daerah terisolir dan tertinggal

Fasilitasi sarana dan prasarana usaha mikro

Pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir

Pengembangan usaha perikanan tangkap skala kecil

Peningkatan akses informasi dan pelayanan pendampingan pemberdayaan dan


ketahanan keluarga

Percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah

Peningkatan koordinasi penanggulangan kemiskinan berbasis kesempatan berusaha


bagi masyarakat miskin.

5. Menyempurnakan

dan

memperluas

cakupan

program

pembangunan

berbasis

masyarakat.
Program

ini

bertujuan

untuk

meningkatkan

sinergi

dan

optimalisasi

pemberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan dan perkotaan serta memperkuat


penyediaan dukungan pengembangan kesempatan berusaha bagi penduduk miskin.
Program yang berkaitan dengan fokus ketiga ini antara lain :

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di daerah perdesaan dan


perkotaan

Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah

Program Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus

Penyempurnaan dan pemantapan program pembangunan berbasis masyarakat.

6. Meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan dasar.


Fokus program ini bertujuan untuk meningkatkan akses penduduk miskin
memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan prasarana dasar. Beberapa program
yang berkaitan dengan fokus ini antara lain :

Penyediaan beasiswa bagi siswa miskin pada jenjang pendidikan dasar di Sekolah
Dasar

(SD)/Madrasah

Ibtidaiyah

(MI)

dan

Sekolah

Menengah

Pertama

(SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs);

Beasiswa siswa miskin jenjang Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah


Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA);

Beasiswa untuk mahasiswa miskin dan beasiswa berprestasi;

Pelayanan kesehatan rujukan bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di kelas III
rumah sakit;

7. Membangun dan menyempurnakan sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin.


Fokus

ini

bertujuan

melindungi

penduduk

miskin

dari

kemungkinan

ketidakmampuan menghadapi guncangan sosial dan ekonomi. Program teknis yang di


buat oleh pemerintah seperti :

Peningkatan kapasitas kelembagaan pengarusutamaan gender (PUG) dan anak (PUA)

Pemberdayaan sosial keluarga, fakir miskin, komunitas adat terpencil, dan


penyandang masalah kesejahteraan sosial lainnya.

Bantuan sosial untuk masyarakat rentan, korban bencana alam, dan korban bencana
sosial.

Penyediaan bantuan tunai bagi rumah tangga sangat miskin (RTSM) yang memenuhi
persyaratan (pemeriksaan kehamilan ibu, imunisasi dan pemeriksaan rutin BALITA,
menjamin keberadaan anak usia sekolah di SD/MI dan SMP/MTs; dan
penyempurnaan

pelaksanaan

pemberian

bantuan

sosial

kepada

keluarga

miskin/RTSM) melalui perluasan Program Keluarga Harapan (PKH).

Pendataan pelaksanaan PKH (bantuan tunai bagi RTSM yang memenuhi persyaratan

8. Membangun Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Program Nasional Pemberdayaan


Masyarakat (PNPM)
KUR merupakan kredit program yang diluncurkan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono pada November 2007. KUR ditujukan bagi pengusaha mikro dan kecil yang
tidak memiliki agunan tambahan dengan plafon maksimal Rp 500 juta. Bank bersedia
menyalurkan KUR karena kreditnya dijamin oleh pemerintah.
Dari program ini (KUR), diharapkan sector UMKM dapat tumbuh dan
berkembang dalam menyokong perekonomian bangsa. Selain itu, melalui program ini
juga, pemerintah menargetkan sector UMKM dapat tumbuh sebesar 650.000 unit
UMKM.
Selain program KUR, pemerintah juga menyiapkan program dalam pengentasan
kemiskinan di Indonesia. Tentu saja program ini juga akan bersinergi dengan program
pemberdayaan sector UMKM. Program ini dinamakan dengan Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat atau yang lebih di kenal dengan singkatan PNPM.
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat yang diresmikan oleh Presiden SBY pada
Februari 2007 ini diharapkan dapat menjangkau 31,92 juta penduduk miskin di Indonesia atau
sekitar 7,96 juta keluarga miskin. Pada tahun 2007 program PNPM ini ditujukan bagi 2.891
kecamatan yang terdiri dari 2.057 kecamatan dalam PNPM Pedesaan dan 834 kecamatan dalam
PNPM Perkotaan yang tersebar di 33 Provinsi. Setiap kecamatan akan mendapatkan dana
Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) antara Rp 500 juta dan Rp 1,5 miliar per tahun yang
disesuaikan dengan jumlah penduduk miskin di tiap kecamatan.
Melalui program ini, sebanyak 31,92 juta penduduk miskin diharapkan dapat tertanggulangi.
PNPM Pedesaan akan menjangkau 21,92 penduduk miskin, sedangkan PNPM Perkotaan
mencakup sekitar 10 juta penduduk miskin. Adapun lapangan kerja baru yang tercipta adalah
12,5-14,4 juta per tahun dengan asumsi di setiap kecamatan pada Program Pengembangan
Kecamatan (PPK) dan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) ada 8-20 desa
yang berpartisipasi dengan asumsi setiap desa rata-rata menciptakan sekitar 250 lapangan kerja
baru per tahun.

Jumlah dana PNPM untuk tahun 2007 diperkirakan Rp 4,43 triliun yang terbagi atas PNPM
Pedesaan Rp 2,48 triliun dan PNPM Perkotaan Rp 1,95 triliun. Dari dana Rp 4,43 triliun, sebesar
3,62 triliun dari APBN 2007 dan sekitar Rp 813 miliar merupakan kontribusi APBD pemerintah
daerah melalui mekanisme cost sharing.
Berikut adalah cara pemerintah dalam mengatasi kemiskinan, masih banyak lagi program yang
telah pemerintah canangkan untuk mengatasi kemiskinan namun masih belum terealisasi dengan
sempurna. Kita sebagai warga Negara yang baik harusnya turut membantu pemerintah dalam
mengatasi kemsikinan. Karena pemerintah bukan apa-apa tanpa peran kita sebagai masyarakat,
berikut adalah cara yang saya tambahkan, yang mungkin kita dapat lakukan dan juga semoga
pemerintah mampu menjalankannya dengan baik, yaitu :
1. Menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga
mengurangi pengangguran. Karena pengangguran adalah salah satu sumber penyebab
kemiskinan terbesar di Indonesia.
2. Menghapuskan korupsi. Sebab, korupsi adalah salah satu penyebab layanan masyarakat
tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal inilah yang kemudian menjadikan masayarakat
tidak

bisa

menikmati

hak

mereka

sebagai

warga

negara

sebagaimana

mestinya. Pemerintah memang telah menjalankan program ini, namun belum dapat
terealisasikan dengan baik.
3. Menggalakkan program zakat. Di Indonesia, Islam adalah agama mayoritas. Dan dalam
Islam ajaran zakat diperkenalkan sebagai media untuk menumbuhkan pemerataan
kesejahteraan di antara masyakrat dan mengurangi kesenjangan kaya-miskin. Potensi
zakat di Indonesia, ditengarai mencapai angka 1 trilliun setiap tahunnya. Dan jika bisa
dikelola dengan baik akan menjadi potensi besar bagi terciptanya kesejahteraan
masyarakat.

KESIMPULAN

Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi


kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya
akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Untuk menanggulangi masalah kemiskinan pemerintah
telah menerapkan beberapa kebijakan. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya yakni dengan
memberikan bantuan dan perlindungan sosial kepada keluarga kurang mampu, melalui Program
Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Langsung
Tunai (BLT), dan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Kebijakan yang kedua yakni
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri), dan Program Kredit
Usaha Rakyat (KUR), dan koperasi simpan pinjam (KSP).

DAFTAR PUSTAKA

Hadiz, veri R , Dhakidae, Daniel.2005. Social science and Power in Indonesia.Jakarta : Equinox
Publishing

National Association of Social Worker. Encyclopedia Of Social Work, Vol II. National
Association of Social Worker. Inc. USA : 1971.
RosyidI, Suherman. 2006. Pengantar Teori Ekonomi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Tjiptoherijanto, Priyono.1999. Population Issues In the Economic Development . Jakarta : Universitas
Indonesia