Anda di halaman 1dari 10

17 Tanda Awal Kehamilan (Part I)

Terlambat haid bukanlah satu-satunya tanda awal kehamilan.


Bahkan, ketika Anda menganggap diri Anda masih haid sekalipun, bukan berarti
saat itu Anda sedang tidak hamil. Lalu, apa saja tanda awal kehamilan khusus
yang menunjukkan kalau Anda benar-benar hamil?
Melissa Goist, M.D, clinical assistant professor kebidanan dan kandungan di Ohio
State University Medical Center, mengatakan, segera setelah terjadi pembuahan,
tubuh Anda akan memproduksi sejumlah hormon kehamilan. Hormon-hormon
inilah yang bertanggung jawab pada beberapa perubahan kondisi fisik Anda,
bahkan sebelum kehamilan Anda terdeteksi oleh test pack.
Coba Anda cek 17 tanda awal kehamilan di bawah ini. Bila 10 diantaranya Anda
alami, bisa jadi Anda memang benar-benar hamil:
1. Payudara bengkak
Memakai bra terasa seperti siksaan, karena payudara tiba-tiba membesar dan
terasa nyeri jika disentuh. Ditambah lagi, warna areola yang lebih gelap dari
biasanya
2. Sering lelah
Biasanya, Anda sanggup membaca beberapa bab novel favorit Anda sebelum
tidur. Tapi sekarang, Anda tak sanggup membaca satu halaman pun.
3. Mual
Setiap pagi, Anda bangun dengan perut mual dan perasaan ingin muntah.
Seringkali, rasa mual berlangsung sepanjang hari.
4. Sering buang air kecil
Tidur malam terganggu, karena selalu terbangun untuk pergi ke toilet.
5. Sakit kepala
Tiba-tiba saja, Anda sering mengeluh sakit kepala. Jika Anda memutuskan untuk
mengonsumsi obat pereda sakit kepala, pilih yang mengandung acetaminophen
yang lebih aman untuk kehamilan dibanding ibuprofen.
6. Sakit punggung
Biasanya, Anda tidak punya masalah dengan sakit punggung. Namun kini,
punggung bagian bawah terasa nyeri. Jika Anda benar hamil, gangguan ini akan
menetap hingga melahirkan kelak.
7. Perut kram
Perut terasa kembung dan kram, gejala yang biasa Anda rasakan menjelang
haid. Anda menduga ini hanyalah salah satu dari gejala PMS setiap bulannya.

8. Ngidam atau menolak makanan tertentu


Tanpa alasan yang jelas, mendadak Anda sangat menginginkan makanan
tertentu, yang sebelumnya mungkin bukan makanan favorit Anda. Atau
sebaliknya, Anda tiba-tiba tak tahan dengan makanan yang selama ini jadi
kegemaran Anda.
9. Sembelit dan kembung
Skinny jeans yang tadinya baik-baik saja, kini terasa sempit (terutama di bagian
perut!). Sembelit dan kembung yang Anda rasakan belakangan ini juga membuat
perut buncit.
10. Perubahan mood
Tanpa alasan yang jelas, Anda suka marah-marah pada suami. Di lain waktu,
Anda menangis tanpa sebab. Perasaan Anda minggu ini naik turun seperti
rollercoaster.
11. Peningkatan suhu tubuh
Umumnya, suhu tubuh Anda di pagi hari saat bangun tidur dan sebelum
melakukan aktivitas apapun sekitar 35,5 - 36C. Suhu ini akan meningkat
menjadi 37 - 38C saat masa subur (kurang lebih selama 2 atau 3 hari). Anda
patut curiga Anda hamil, ketika suhu tubuh terus meningkat. Padahal, masa
subur telah lewat.
12. Sensitif pada bau
Anda tak tahan pada segala macam bau, terutama aroma makanan tertentu.
Saking tak tahannya, bau tertentu bisa membuat Anda mual dan muntah!
13. Pusing dan pingsan
Anda tiba-tiba merasa pusing, yang diikuti dengan rasa ringan dan melayang.
14. Vlek
Ada vlek. Rasanya sih, bukan haid, karena cuma terjadi sesekali dan sangat
sedikit.
15. Gejala PMS
Anda merasakan gejala PMS yang sama seperti yang Anda rasakan setiap bulan.
Perut kembung, sakit pinggang, nyeri pada payudara, bahkan nafsu makan yang
meningkat. Tapi, kok belum haid juga, ya?
16. Positif tes kehamilan
Hasil uji test pack menunjukkan tanda positif! Apakah itu artinya Anda benarbenar hamil? Belum tentu! Anda baru akan mendapat jawaban yang akurat,
setelah pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan USG.
17. Ada janin yang berkembang di dalam rahim Anda

Pemeriksaan USG menunjukkan titik kecil yang bergerak-gerak di dalam kantung


kehamilan? Selamat! Jaga perkembangan si kecil hingga tiba waktunya bersalin
ya, Ma!
Baca tanda-tanda awal kehamilan lainnya di sini!

Tabel waktu kehamilan

Menikmati saat-saat si kecil bertumbuh di dalam rahim Anda adalah peristiwa yang tak
terlupakan. Ikuti bulan demi bulan perkembangannya dan apa yang sebaiknya Anda lakukan
pada tiap tahapan.
Tabel ini memberi gambaran secara menyeluruh kehamilan Anda plus saran seputar langkah
yang akan Anda lalui pada berbagai tahapan.
Minggu 1-7

Segera ke dokter begitu Anda menduga hamil.


Pelajari kebijakan tentang kehamilan di kantor Anda.

Berhenti merokok dan batasi minuman beralkohol.

Periksa kekebalan tubuh Anda terhadap rubela (campak Jerman).

Minggu 8-12

Beritahu atasan bahwa Anda hamil.


Simpan camilan rendah-lemak di kantor untuk menghindari terjadinya morning
sickness.

Kunjungan pertama ke dokter untuk periksa kehamilan.

Beli BH baru.

Pada beberapa kasus, nuchal translucency scan (pemeriksaan ketebalan


cairan di belakang leher janin) atau chorionic villus sampling (pemeriksaan
kromosom) dilakukan untuk melihat kelainan janin.

Minggu 13-16

Beritahu kantor kapan Anda akan cuti melahirkan.


Pada beberapa kasus, amniocentesis (pemeriksaan air ketuban) dilakukan
untuk mendeteksi kelainan janin.

Minggu 17-21

Mulai melihat-lihat perlengkapan bayi.

Umumnya, Anda diperiksa USG (ultrasonografi) pertama kalinya untuk


melihat kondisi janin Anda.

Mulai melakukan latihan otot-otot panggul.

Beli baju hamil sesuai pekerjaan Anda.

Buat rencana persalinan.

Minggu 22-27

Berhenti lembur.
Baca info seputar persalinan.

Lihat lagi apakah makanan Anda bergizi seimbang dan tetap berolahraga.

Minggu 28-30

Minggu 29 adalah tanggal pertama perkiraan untuk cuti melahirkan.


Tenang-tenang saja di rumah jangan lakukan pekerjaan berat.

Anda harus lebih sering ke dokter.

Mulai ikut kelas senam hamil.

Belajar teknik relaksasi.

Minggu 31-33

Siap-siap melimpahkan tugas di kantor.


Jangan terbang dengan pesawat atau melakukan perjalanan jauh.

Siapkan kamar bayi.

Biasakan diri untuk berada di rumah.

Minggu 34-36

Pikirkan untuk cuti melahirkan.


Siapkan tas khusus untuk dibawa ke RS. Jaga-jaga Anda melahirkan.

Tanyakan pasangan seputar perasaannya terhadap persalinan untuk


memastikan bahwa ia terlibat.

Minggu 37-40

Setiap minggu, Anda harus periksa ke dokter.


Terus bergerak dengan cara berolahraga ringan.

Ingat untuk tetap memanjakan diri ya.

Kenali komplikasi kehamilan

Saat mengetahui dirinya positif hamil, Siska (33), mama dari Ciledug, Tangerang,
berusaha menanggapinya dengan biasa. Ia tak berani berharap banyak.
Pasalnya, ia telah mengalami dua kali keguguran. Dua bulan setelah kehamilan
pertama, mulai muncul flek darah. Dokter mengatakan kepada Siska bahwa
perkembangan kantung rahimnya(gestasional sac) tidak sesuai dengan usia
kehamilan karena janin tidak berkembang. Dokter menyarankannya untuk
menunggu kehamilannya akan luruh sendiri.
Tidak puas dengan diagnosa tersebut, Siska mencoba mencari second opinion.
Tapi akhirnya kandungannya gugur juga. Pada kehamilan yang kedua, Siska lagilagi mengalami perdarahan hebat dan saat di-USG (ultrasonografi), kantung
rahimnya kosong. Dokter mendiagnosa Siska mengalami blighted ovum,dimana
perkembangan kantung rahim tidak sesuai dengan usia kehamilan.Memang
pada dua kehamil-an itu, dokter sudah menganalisa bahwa kemungkinan janin
tidakberkembang, ujar mantan wartawan ini.
Saat hamil lagi untuk ketiga kalinya, Siska memang telah mempersiapkan
mentalnya. Ia tidak ingin terbawa gembira, lalu mendapati kekecewaan seperti
sebelumnya. Rasanya sedih, sekaligus trauma. Kabar kehamilan sendiri selalu
dihadapi dengan kecemasan,ceritanya.
Namun, menurut dokter kandungannya, kehamilan blighted ovum dua kali masih
tergolong normal. Biasanya kehamilan yang ketiga akan berhasil. Dan, pendapat
itu ternyata benar.Rasanya senang sekali, seperti mimpi, ungkapnya.
Sekarang, Siska telah menjadi mama dari Anandia Miftah Rahadian (5 bulan).

Kecemasan dan penantian selama bertahun-tahun terbayar sudah.


Pengalaman Siska di atas mungkin pernah dialami oleh sahabat, keluarga,
bahkan diri kita sendiri. Untuk itu, calon mama perlu waspada dan mengetahui
gejala-gejala komplikasi, cara mencegah dan penanggulangannya. Berikut lima
jenis komplikasi yang umum menyertai kehamilan.
Pra eklampsia
Pra eklampsia atau juga dikenal dengan toxemia, adalah kondisi dimana
kehamilan disertai dengan naiknya tekanan darah meski tanpa adanya riwayat
tekanan darah tinggi sebelumnya pada calon mama. Gejala umumnya antara
lain: Naiknya tekanan darah secara signifikan semasa kehamilan, ditemukannya
protein di dalam urin, pusing kepala, iritasi, berkurangnya urin, nyeri abdomen,
pandangan mengabur, serta bengkak dan nyeri pada beberapa bagian tubuh
seperti wajah, tangan dan kaki akibat penumpukan cairan.
Apa sebenarnya penyebab dari praeklampsia ini? Jawabannya belum diketahui
secara pasti. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Harvard Medical School dan
Beth Israel Deaconess Medical Center tahun 2003 lalu menunjukkan bahwa risiko
yang dihadapi ibu hamil untuk menderita praeklampsia adalah sebanyak 5-8
persen.
Meski angka risiko ini terbilang rendah, namun pra eklampsia merupakan
penyebab utama kematian ibu saatmelahirkan, terutama di negara-negara
berkembang. Kriteria calon mama yangrisikonya paling tinggi menderita
komplikasi ini antara lain kehamilan lebihdari satu janin (multiple pregnancy),
hamil di usia remaja, hamil diusia lebih dari 40 tahun, serta adanya riwayat
terkena darah tinggi, diabetesataupun penyakit ginjal, baik pada si calon mama
maupun kerabat dekat.
Perawatan yang dilakukanterhadap penderita praeklampsia tergantung pada
kondisi calon mama. Ada yang perlu mendapat perawatan intensif di rumah
sakit, atau cukup dengan bedrest di rumah. Yang pasti, pengobatan untuk
menurunkan tekanan darah serta pengawasan terhadap kondisi calon mama dan
janin perlu dilakukan terus menerus.
Umumnya, penderita pra eklampsia melahirkan dengan operasi Caesar untuk
menghindari komplikasi lebih lanjut. Seperti yang dialami oleh Mia (37), mama
dari Pesona Khayangan, Depok. Mama empat anak ini menderita pra eklampsia
tanpa gejala di kehamilannya yang ketiga. Saat itu, tekanan darah Mia terus
menerus naik sehingga dokter menyarankan untuk melakukan sectio-caesar di
usia kehamilan 37 minggu. Dokter bilang, membahayakan buat ibu dan bayi
kalau tekanan darah naik terus. Sedangkan di usia 37 minggu paru-paru bayi
sudah cukup matang. Maka untuk kebaikan semua, akhirnya diputuskan untuk
operasi, cerita Mia.
Kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik terjadi apabila janin berkembang di luar rahim. Setelah terjadi
pembuahan, zigot hasil penggabungan sel sperma dan ovum menempel di
jaringan selain dinding rahim dan menetap serta berkembang di jaringan
tersebut. Perkembangan janin ini bisa terjadi di tuba fallopi, kanal serviks, pelvis
atau rongga abdomen. Kehamilan ektopik dapat terjadi hingga 50 persen dari
kehamilan yang ada.
Penyebabnya umumnya jalur tuba fallopi yang terblokir. Calon mama yang
berisiko tinggi menderita komplikasi ini adalah mereka yang pernah menjalani
proses sterilisasi tuba dibawah usia 30 tahun.
Menurut dr. Shinta Utami, SpOG, dari Rumah Sakit Bunda Margonda, Depok,
salah satu faktor yang juga mungkin bisa menyebabkan kehamilan ektopik
adalah infeksi. Infeksi yang terjadi di vaginadapat mempengaruhi kualitas sel
sperma dan ovum sehingga ada kemungkinan saat pembuahan, zigot tidak
dapat mencapai rahim, Akhirnya cuma bisa naik ke panggul, lalu nyangkut di
tuba, jelas dr. Shinta.
Gejala kehamilan ektopik bervariasi mulai dari munculnya flek hingga rasa nyeri.
Biasanya, untuk mengetahui ada-tidaknya kehamilan ektopik, digunakan
screening dengan ultrasound. Penanganan yang dilakukan bagi calon mama
yang mengalami kehamilan ektopik bisa berupa pengobatan atau operasi
pengangkatan janin yang biasanya berakhir dengan gugurnya janin.
Venna (28), dari Kebon Jeruk, Jakarta, pernah mengalaminya. Saat janin berusia
5 minggu, saya mengalami rasa nyeri di perut bagian kanan, ujar Venna.
Setelah dicek ke dokter ahli kandungan, Venna ternyata mengalami kehamilan
ektopik pada tuba fallopi kiri, yang kemudian dikeluarkan dengan cara
laparaskopi. Syukurlah, Venna tidak merasa trauma. Hingga kini, Venna yang
sudah menikah selama dua tahun masih berusaha mengusahakan keturunan
bersama suaminya. Pengalaman mengalami kehamilan ektopik malah
menguatkan mental saya. Saya menjadi termotivasi untuk kembali hamil, dan
hidup lebih bersih dan sehat, ujarnya
Perdarahan
Perdarahan saat kehamilan adalah perdarahan vagina yang terjadi di masa
kehamilan yang umumnya mengacu pada perdarahan abnormal, bukan bagian
dari menstruasi. Perdarahan atau hemorrhage merupakan sebab umum
penyebab kematian ibu hamil di Amerika.
Biasanya, perdarahan vagina merupakan hal yang umum pada kehamilan
trimester pertama dan mempengaruhi 20-30 persen dari total kehamilan yang
ada. Namun hal ini tetap perlu diwaspadai. Karena ada kalanya perdarahan pada
trimester pertama kehamilan merupakan tanda komplikasi serius seperti
perkembangan janin yang tidak normal, gugurnya janin dalam
kandungan(abortus) hingga kehamilan molar (kehamilan dimana yang
berkembang bukanlah janin tetapi jaringan tertentu yang dapat berkembang

menjadi kanker).
Seperti yang dialami Siska, yang terdiagnosa mengalami blighted ovum. Siska
mengalami perdarahan hingga kandungannya gugur sebanyak dua kali.
Syukurlah, perdarahan tidak dialaminya pada saat kehamilan ketiga. Dari bulan
pertama oke, kedua oke, ketiga oke, keempat oke.... wah, rasanya senang
sekali!, ungkapnya.
Perdarahan yang terjadi pada trimester kedua dan ketiga kehamilan dan
seterusnya umumnya dianggap tidak normal. Terutama perdarahan yang terjadi
setelah usia kehamilan mencapai 28 minggu. Perdarahan pada masa ini bisa jadi
pertanda adanya komplikasi plasenta maupun infeksi vagina atau serviks.
Perdarahan yang terjadi bisa samar tanpa rasa sakit, atau perdarahan hebat
yang diikuti oleh nyeri abdomen. Penanganan pada calon mama yang
mengalami perdarahan bervariasi tergantung diagnosa selanjutnya, mengenai
apa yang menyebabkan perdarahan. Perawatan bisa berupa pengobatan
ataupun rawat inap di rumah sakit.
Plasenta previa
Plasenta previa merupakan kondisi dimana sel telur yang telah dibuahi oleh
sperma bergulir dan menempel dekat dengan mulut rahim atau menutup mulut
rahim sehingga plasenta otomatis menutup jalan lahir. Normalnya, plasenta
seharusnya terletak di bagian atas dinding rahim. Kondisi ini muncul dalam
perbandingan satu di antara 200 kelahiran dan lebih banyak muncul pada calon
mama yang memiliki luka di dinding rahimnya akibat kehamilan sebelumnya,
atau pada calon mama yang pernah menjalani operasi saluran rahim.
Gejala yang dialami calon mamayang menderita plasenta previa bisa berupa
perdarahan vagina yang umumnya tidak disertai dengan nyeri. Untuk
mendiagnosa apakah seorang calon mama menderita plasenta previa, dilakukan
pemeriksaan fisik dan pengecekan dengan ultrasound. Perawatan yang dilakukan
seperti penyesuaian aktivitas maupun bedrest, tergantung pada kondisi
kehamilan. Umumnya, calon mama yang menderita plasenta previa disarankan
melahirkan secara Caesar untuk mencegah plasenta luruh lebih cepat yang
dapat memutus suplai oksigenpada janin.
Puja (33), mama dari Jagakarsa, Ciganjur, membagi kisahnya saat mengalami
plasenta previa. Saat sedang mengandung, Puja berulang kali dirawat di rumah
sakit karena komplikasi kehamilan yang dialaminya. Awalnya hanya flek yang
kemudian berlanjut dengan perdarahan hebat sebanyak tiga kali. Sebelumnya,
tidak ada tanda-tanda sama sekali. Dokter hanya menyarankan istirahat, ujar
Puja yang kemudianterdiagnosa mengalami plasenta previa. Hal ini baru
diketahui setelah kehamilannya memasuki usia 31 minggu. Karena plasenta
previa yang dialaminya,janin yang dikandungnya kesulitan memperoleh asupan
gizi. Berat janin terus berada di bawah 2 kg. Ia kemudian dirawat kedua kalinya
agar berat janin dapat naik.

Puja diharuskan bedrest total serta berhenti bekerja. Selama di rumah sakit, ia
mendapatkan suntikan penguat paru untuk sang janin, infus, serta obat untuk
mengurangi kontraksi. Saat ketiga kalinya masuk rumah sakit, hemoglobin darah
Puja terus menurun. Dokter kemudian menyarankan untuk segera operasi
Caesar sehingga Puja terpaksa melahirkan prematur, yakni di usia kehamilan 34
minggu. Sekarang, mama dari Saybia Atthiyana Pradipta (4) ini boleh
bernafas lega karena meski lahir prematur, Saybia tumbuh dengan sehat.
Menurut dr. Shinta, plasenta previa tidak dapat dicegah tapi dapat dideteksi dini
agar calon ibu dapat segera mendapat perawatan yang tepat. Segera setelah
positif hamil, lakukan USG awal, apa benar hamil. Yang sering terjadi adalah
calon ibu terlalu cepat atau terlambat dalam mengecek kandungannya,
tuturnya. Karena itu, ia menekankan pentingnya cek kehamilan rutin dan
mengadakan tes untuk melihat kondisi ibu dan bayi.
Diabetes gestasional
Diabetes gestasional (DG) adalah kondisi naiknya gula darah calon mama,
dengan maupun tanpa riwayat diabetes sebelumnya. Komplikasi ini bisa
mempengaruhi setidaknya 4 persen dari total jumlah ibu hamil. Gejala yang
muncul di antaranya: Meningkatnya kadar gula dalam darah ibu hamil secara
signifikan, pandangan mengabur, limbung, muntah,haus berkepanjangan serta
meningkatnya frekuensi buang air kecil.
Penyebabkomplikasi ini tidak diketahui secara spesifik. Namun ada indikasi
yangmenunjukkan bahwa hormon yang diproduksi selama kehamilan
meningkatkan resistensi calon mama terhadap insulin (insuline resistance),
sehingga tubuh calon mama tidak dapat memproses insulin seperti seharusnya.
Risiko bagi janin dengan calon mama yang menderita DG adalah bayi lahir
dengan berat lebih dibanding umumnya atau bayi besar (macrosomia). Karena
gula darah yang ada pada mama akan tersalurkan pada bayi, maka bayi pun
cenderung memiliki kadar gula darah tinggi dan setelah lahir berisiko untuk
menjadi penderita diabetes. Umumnya, kadar gula darah mama yang menderita
DG akan menurun beberapa waktu setelah melahirkan. Namun ada pula kasus
dimana kadar gula darah mama tetap tinggi sehingga mama tetap tinggi
sehingga mama menderita Diabetes Melitus (DM).
Risiko menderita DG besar terjadi pada ibu yang dalam keluarganya terdapat
riwayat penderita diabetes. Hal ini dialami oleh Wahida (32), warga Sidoarjo,
Jawa Timur. Mama dari Omar Charis Atthabrizi (8) dan Namira Baiatifa
Azzahra (5,5) ini terdiagnosa DG pada dua kehamilan yang dialaminya. Kadar
gulanya naik tinggi hingga ia harus menerima suntikan insulin setiap hari selama
kehamilan. Karena ibu hamil tak boleh mengonsumsi obat yang diminum, saya
belajar untuk menyuntik di bawah panduan dokter, ujarnya. Setelah anak
pertama lahir, gula darahnya berangsur turun. Namun setelah melahirkan anak
kedua, gula darahnya tetap tinggi.Ternyata berlanjut hingga DM, ceritanya.
Penanganan penderita DG umumnya berupa pengobatan untuk mengontrol

kadar gula darah seperti pemberian insulin serta pengaturan pola makan yang
sehat.
Setelah mengenal lebih jauh komplikasi umum yang dapat menyertai kehamilan,
yang manakah yang paling perlu kita waspadai? Jawabannya, semua. Menurut
dr. Shinta, semua jenis komplikasi ini sama berbahayanya. Tentu, mama perlu
tetap tenang. Agar janin sehat, Perbanyak nutrisi, konsumsi vitamin dan
istirahat yang cukup, tuturnya. Jika pola hidup sehat sudah dijalankan, tak perlu
terlalu khawatir lagi bukan?
KEGUGURAN
Keguguran adalah berakhirnya kehamilan sebelum usia 20 minggu. Sayangnya,
keguguran bisa terjadi pada sekitar 10-15% kehamilan. Jika keguguran terjadi
secara berturutan (sampai 2 kali atau lebih), ini disebut keguguran berulang dan
perlu tes khusus untuk mencari penyebab.
-SUMBER: AMERICAN COLLEGE OF OBSTETRICIANS AND GYNECOLOGISTS