Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Melahirkan merupakan suatu proses yang fisiologis yang dialami seorang ibu. Setelah proses
persalinan dilalui, seorang ibu harus mengalami masa nifas. Menurut Sulistyawati (2009: 1)
masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula. Sedangkan menurut Prawirohardjo (2008:
356) masa nifas dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari)
setelah itu. Pelayanan pascapersalinan harus terselenggara pada masa nifas untuk memenuhi
kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi upaya pencegahan, deteksi dini, pengobatan komplikasi,
dan penyakit yang mungkin terjadi, serta penyediaan pelayanan pemberian ASI, cara
menjarangkan kehamilan, imunisasi, dan nutrisi bagi ibu.
Periode pascapersalinan meliputi masa transisi yang kritis bagi ibu, bayi, dan keluarganya
secara fisiologis, emosional, dan sosial. Baik di Negara maju maupun di Negara berkembang
perhatian utama banyak ditujukan pada masa kehamilan dan persalinan, sementara keadaan yang
sebenarnya memerlukan perhatian utama adalah pascapersalinan. Hal tersebut dikarenakan risiko
kesakitan dan kematian ibu serta bayi lebih sering pada masa tersebut. Keadaan tersebut terutama
disebabkan karena faktor ekonomi, ketidaktersediaan pelayanan atau rendahnya peranan fasilitas
kesehatan dalam menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Dimana rendahnya pelayanan kesehatan akan berpengaruh terhadap keberhasilan promosi
kesehatan. Hal tersebut mengakibatkan rendahnya deteksi dini adanya komplikasi pada masa
pascapersalinan. Kurangnya perhatian pada masa pascapersalinan mengakibatkan meningkatnya
infeksi pada masa pascapersalinan. Secara nasional menurut Purwanto (2001), angka kejadian
infeksi pada masa nifas mencapai 2,7% dan 0,7% diantaranya berkembang ke arah infeksi akut.
Oleh karena itu, pelayanan kesehatan pada masa nifas harus dilakukan sebaik mungkin oleh
seorang tenaga kesehatan terutama oleh bidan. Pada makalah ini akan membahas tentang
masalah infeksi dan nyeri pada masa nifas, masalah kecemasan pada masa nifas, kontrasepsi,
gizi, menuyusui, tanda bahaya pada masa nifas, dan senam nifas.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1
Bagaimanakah macam nyeri pada masa nifas dan cara mengatasinya ?
1.2.2
Bagaimanakah infeksi yang terjadi pada masa nifas dan cara mengatasinya ?
1.2.3
Bagaimana cara pemenuhan gizi dan nutrisi pada masa nifas?
1.2.4
Apasajakah tanda-tanda bahaya pada masa nifas dan cara mengatasinya ?
1.2.5
Bagaimana kontrasepsi yang aman digunakan untuk ibu yang sedang menyusui ?
1.2.6
Bagaimana adaptasi psikologi ibu pada masa nifas dan cara mengatasinya ?
1.2.7
Bagaimana senam pada masa nifas ?
1.2.8
Bagaimana cara menyusui dan asupan gizi yang baik bagi ibu yang sedang
menyusui ?
1.3 Tujuan
1.3.1
1.3.2

Untuk mengetahui macam-macam nyeri pada masa nifas dan cara mengatasinya.
Untuk mengetahui beberapa infeksi yang dapat terjadi pada masa nifas dan cara

1.3.3
1.3.4
1.3.5

mengatasinya.
Untuk mengetahui cara pemenuhan gizi dan nutrisi pada masa nifas.
Untuk mengetahui tanda-tanda bahaya pada masa nifas dan cara mengatasinya.
Untuk mengetahui kontrasepsi yang aman digunakan untuk ibu yang sedang

1.3.6
1.3.7
1.3.8

menyusui.
Untuk mengetahui adaptasi psikologi ibu pada masa nifas dan cara mengatasinya.
Untuk mengetahui senam pada masa nifas.
Untuk mengetahui cara menyusui dan asupan gizi yang baik bagi ibu yang sedang
menyusui.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Macam-macam Nyeri pada Masa Nifas dan Cara Mengatasi
Menurut varney (2007:974) bahwa nyeri pada saat masa puerperium itu terbagi sebagai
berikut :
1. Nyeri setelah lahir
Nyeri ini disebabkan oleh kontraksi dan relaksasi uterus berurutan yang terjadi secara terus
menerus. Nyeri ini lebih umum terjadi pada wanita dengan paritas tinggi dan pada wanita
menyusui. Alasannya adalah pada multipara terjadi penurunan tonusotot uterus secara bersamaan
menyebabkan relaksasi yang intermitten. Pada wanita menyusui, isapan bayi menstimulasi
2

oksitosin oleh Hipofisis posterior yang tidak hanya memicu refleks let down pada payudara tapi
juga menyebabkan kontraksi uterus.
Nyeri setelah lahir akan hilang jika uterus terus berkontraksi denghan baik, yang
memerlukan kandung kemih kosong. Kandung kemih yang penuh mengubah posisi uterus ke
atas, menyebabkan relaksasi dan kontraksi otot uterus yang lebih nyeri.jika kandung kemih
kosong menyebabkan rasa nyerinya berkurang dengan mengubah posisi dirinya berbaring
telungkup, dengan bantal atau gulungan selimut di bawah abdomen.kompresi uterus yang seperti
ini dapat mengurangi kram secara signifikan. Analgesik yang efektif bagi sebagian besar wanita
yang kontraksinya sangat nyeri bisa diberikan asetaminofen(tylenol) ataupun ibu profen, namun
analgesik ini tidak dianjurkan untuk ibu menyusui.
2. Keringat berlebih
Wanita pascapartum mengeluarkan keringat berlebihan karena tubuh menggunakan rute ini
dan diuresis untuk mengeluarkan kelebihan cairan intersisil yang disebabkan oleh peningkatan
normal cairan intraseluler selama kehmilan. Cara menguranginya sangat sederhana , yaitu
dengan membuat kulit tetap bersih dan kering juga harus dilakukan dengan memastikan hidrasi
wanita tetap baik.dengan meminum segelas air setiap satu jam.
3. Nyeri karena adanya pembesaran payudara
Pembesaran ini disebabkan kombinasi akumulasi dan status air susu serta peningkatan
vaskularitas dan kongesti. Hal ini terjadi saat pasokan air susu meningkat, pada sekitar hari
ketiga pascapartum baik pada ibu menyusui atau tidak, dan berakhir sekitar 24 -48 jam. Saat
suplai air susu masuk kedalam payudara, pembesaran payudara dimulai dengan perasaan berat
saat payudara mulai terisi. Payudara mulai distensi, tegang, dan nyeri tekan saat disentuh. Kulit
terasa hangat saat disentuh, dengan vena dapat terlihat, dan tegang dikedua sisi payudara, puting
patyudara menjadi lebih keras dan bayi susah dalam menyusu. Pada beberapa wanita, nyeri tekan
payudara menjadi nyeri hebat, terutama jika bayi mengalami kesulitan dalam menyusu atau jika
ia tidak menggunakan penyangga payudara yang baik. Meskipun pembasaran yang terjadi bukan
karena proses inflamasi , hal ini dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh ringan. Jika demam
lebih dari 38 derajat itu menandakan adanya mastitis.
Tindakan untuk menurunkan nyeri bergantung pada apakah wanita tersebut menyusui atau
tidak. Pada wanita yang tidak menyusui , tindakan ditujukan pada pemulihan ketidaknyamanan
dan penghentian laktasi. Meskipun berbagai medikasi pernah digunakan untuk membantu
menekan produksi air susu pada wanita yang memberikan susu formula, tidak ditemukan
medikasi yang efektif dan tanpa resiko. Wanita yang memilih memberikan susu formula perlu
3

diajarkan untuk menggunakan BH bebat payudara untuk menyangga payudara dengan kuat.
Wanita dengan payudara menggantung perlu menambahkan gulungan dibawah payudara. Bebat
payudara yang sederhana bisa dibuat dari kain linen atau handuk tipis. Kompres es pada
payudara, menggunakan pak es kimiawi siap pakai atau kantong kompres plastik gulung yang
diisi dengan air yang dibekukan, membatasi aliran darah dan menghambat produksi air susu. Jika
ibu mnegompres sendiri maka harus dilapisi dengan kain tipis dan dipindahkan ke berbagai area
bukan hanya satu area saja.sedang untuk wanita yang menyusui sebaiknya dinasihati untuk
kompres hangat secara sering, dan penggunaan analgesik ringan dapat menghilangkan
ketidaknyamananpembesaran payudara.
4. Nyeri pada perineum
Beberapa tindakan kenyamanan perineum dapat meredakan ketidaknyamanan atau nyeri
akibat laserasi atau apisotomi dan jahitan laserasi atau episiotomi tersebut. Sebelum tindakan
dilakukan, penting untuk memeriksa perineum untuk menyingkirkan kemungkinan adanya
komplikasi seperti hematoma. Menurut Varney (2007: 976) cara untuk mengurangi nyeri
perineum adalah sebagai berikut :
a. Kantong es sesuai kebutuhan. Jika kantong es kimiawi tidak ada, dapat dibuat dengan
memasukan es yang dimasukan ke dalam sarung tangan karet tanpa bedak dan mengikatnya
dengan karet. Dan kantong es sebaiknya dibungkus dalam pelindung yang lembut, yang
menyerap bagian luar, demi kebersihan, dan perlindunan terhadap cidera karena kedinginan.
Kompres ini sangat bermanfaat untuk mengurangi pembengkakan dan membuat perineum
baal pada periode pascapartum. Es harus dikompreskan pada laserasi derajat tiga atau empat,
dan jika ada edema perineum signifikan. Manfaat optimum kompres dingin ini selama 30
b.

menit.
Anastesi topikal sesuai kebutuhan. Contoh anastesis topikal adalah sprai dermoplast, salep
surfacaine.

Jika

menggunakan

salep,

wanita

harus

mencuci

tangan

sebelum

mengolesakannya dan dioleskan beberapa hari pertama pascapartum selama penyembuhan


c.

akut baik karena jahitan atau jika ada hemoroid.


Rendam duduk dengan es juga dianjurkan oleh Droegmuelle. Jelas bahwa dingin adalah
terapi yang diajurkan untuk terapi awal cedera jaringan lunak dan kondisi inflamasi pada
atletik. Nyeri pascapartum hilang dengan menggunkan rendam duduk dingin termasuk
penurunan respons pada ujung saraf dan juga vasokontriksi lokal, yang mengurangi
pembengkakan dan spasme otot. Dalam melakukan tindakan rendam duduk es, mulailah
dengan air suhu kamar dan ditambahkan rendam duduk es hingga dicapai suhu yang tepat.
4

d.

Kompres witch hazel (hamamelis virginiana) mengurangi edema dan merupakan analgesik.
Kompres ini dibuat dengan mencamp[ur witch hazel diatas beberapa kasa berukuran 4x4
dalam mangkuk atau baskom kecil, peras kassa hingga air tidak menetes, lipat sekali danb

e.

letakkan pada perineum.


Cincin karet. Penggunaan cincin ini dapat menyebabkan gangguan sirkulasi, tapi
penggunaan yang benar dapat memberikan pemulihan yang aman jika terjadi penekanan

f.

akibat posisi di area perineum.


Pengencangan perineum. Melakukan

pengencangan

perineum

atau

senam

kegel

meningkatkan sirkulasi ke area tersebut sehingga meningkatkan penyembuhan. Latiha ini


mnyebabkan kembalinya tonus otot pada sususnan otot panggul. Tindakan ini merupakan
salah satu tindakan kenyamanan perineum yang paling bermanfaat dan sering kali
menghasilkan akibat yang signifikan dalam memfasilitasi kemudahan pergerakan dan
membuat wanita lebih nyaman. Pengencangan perineum bertujuan menghilangkan
ketidaknyamnan dan nyeri yang dialami wanita ketika duduk atau hendak berbaring dan
bangun dari tempat tidur. Pada kedua kondisi tersebut area perineum merupakan subjek
tekanan langsung dan terutama saat hemdak berbaring atau bangun dari tempat tidur, area
jahita dapat mengalami gesekan. Pengencangan perineum dapat memberi efek berlawanan
jika wanita mendapat episiotomi medilateral. Pengencangan perineum pada situasi ini akan
menarik ujung posterior garis jahitan karena potongan insisi secara diagonal menyilang oto,
5.

dan dapat sangat nyeri.


Konstipasi
Rasa takut dapat menghambat fungsi bowel jika wanita takut merobek jahitannya atau akibat

nyeri yang disebabkan oleh ingatannya tentang tekanan bowel pada saat persalinan. Selain itu,
konstipasi mungkin lebih lanjut diperberat dengan longgarnya diniding abdomen dan oleh
ketidaknyamanan jahitan robekan perineum derajat tiga atau empat.
Cara mengatasinya adalah perubahan diet menjadi diet tinggi serat dan tambahan asupan
cairan dimana hal tersebut dapat mengurangi masalah ini. Jika wanita mengalami laserasi derajat
tiga atau empat, penggunaan pelunak feses dan laksatif dapat membantu mencegah wanita
mengejan.
6. Hemoroid
Jika wanita mengalami hemoroid , meraka mungkin sangat merasa nyeri selama beberapa
hari. Jika terjadi di kehamilan, hemoroid menjadi traumatis dan menjadi lebih edema selama
wanita mendorong bayi pada kala 2 persalinana karena tekanan bayi dan distensi saat
5

melahirkan. Tiga tindakan pertama dibawah ini membantu mengurangi ukuran hemoroid dan
baik digunakan pada awal penanganan 24-48 jam.
Tindakan pemulihan dapat digunakan dalam kombinasi( kecuali dingin dan hangat selama
rentang waktu yang sama) dan termasuk tindakan berikut : kantong es, rendam duduk es,
kompresi witch hazel, preparat salep H, spari atau salep analgesik, kompres air hangat,rendam
duduk air hangat, pelunak feses, supositoria anusol, memasukan hemoroid eksternal ke dalam
rektum yaitu dengan menggunaan ujung jari yang dilubrikasi dan hemoroid didorong secara
perlahan ke dalam rektum. Penggunaan preparat H untuk lubrikan mempunyai efek ganda.
Setelah hemoroid dimasukkan, wanita mengencangkan sfingter rektal untuk menyangga dan
menahannya tetap berada di dalam rektum.
2.2 Infeksi yang Terjadi pada Masa Nifas dan Cara Mengatasi
Menurut Varney (2007: 1005), infeksi puerperium adalah infeksi bakteri yang berasal dari
saluran reproduksi selama persalinan atau puerperium.
A. Penyebab predisposisi terjadinya infeksi pada puerperium sebagai berikut:
1. Persalinana lama, khususnya dengan pecah ketuban
2. Pecah ketuban yang lama sebelum persalinana
3. Bermacam-macam pemeriksaan vagina selama persalinan, khususnya pecah ketuban.
4. Teknik aseptik tidak sempurna
5. Tidak melakukan dan mmeperhatikan teknik cuci tangan.
6. Manipulasi intrauteri misalnya eksplorasi uteri, pengeluaran plasenta manual.
7. Trauma jaringan yang luas atau luka terbuka seperti laserasi yang tidak diperbaiki.
8. Hematoma
9. Hemoragi, khususnya jika kehilangan lebih dari 1000 mL darah
10. Pelahiran operatif, terutama pelahiran melalui seksio sesaria
11. Retensi sisa plasenta atau membran janin
12. Perawatan perineum tidak memadai
13. Infeksi vagina/serviks atau penyakit menular yang tidak ditangani misalnya vaginosis
bakteri, klamidia ataupun gonorea.
Sedangkan organisme infeksius puerperium berasal dari tiga sumber, yaitu :
1. Organisme yang normalnya berada dalam saluran genitalia bawah atau usus besar
2. Infeksi saluran genetalia bawah
3. Bakteri dalam nasofaring atau pada tangan personel yang menangani persalinan atau di
udara dan debu lingkungan.
Bakteri dari sumber infeksi pertama adalah bakteri endogen dan menjadi patogen hanya jika
terdapat kerusakan jaringan atau jika terdapat kontaminasi saluran genetalia dari usus besa.
Wanita sebaiknya secara rutin menjalani paenapisan terhadap adanya infeksi saluran genetalia
bawah dan segera ditangani saat pranatal. Sumber infeksi ketiga palingf baik dicegah dengan
mencuci tanganb dan teknik asepsis yang cermat.
6

Organisme yang umum pada infeksi puerperium termasuk berbagai spesies Sthapylococcus
aureus, Gardnerella vaginalis, E. Coli, spesies Klebsiella, spesies proteus, Peptostreptococci
anaerobik, spesies Bacteroides, Ureaplasma, dan Mycoplasma. Beberapa organisme ini cukup
umum sebagai flora vagina sehingga hubungannya dengan infeksi tidak jelas. Neisseria
Gonorhoeaedan

chlamidydia

Trachomatis

juga dapat

menyebabkan

infeksi

genetalia

pascapartum meskipun penapisan pranatal akan memnimalkan resiko keberadaanya.


B. Tanda dan gejala terjadinya infeksi pada masa nifas
Menurut Varney (2007: 1006), tanda dan gejala yang terjadi seperti infeksi pada umumnya
yaitu peningkatan suhu tubuh, malaise umum, nyeri dan lokia berbau tidak sedap. Peningkatytan
kecepatan nadi dapat terjadi, terutama pada infeksi berat. Interpretasi kulutur laboratorium dan
sensitivitas, pemeriksaan lebih lanjut dan penanganan memerlukan diskusi dan kolaborasi
ddengan dokter.
C. Tempat infeksi puerperium
Menurut Sulistyawati (2009 : 182) untuk melakukan pelaksanaan infeksi masa nifas dengan
tepat, perlu adanya pengkajian lokasi dan gejala infeksi.
1. Endometritis
Infeksi pascapartum terbanyak adalah endometritis, yang jauh lebih umum adalah terjadi setelah
pelahiran sesar daripada pervagina, adanya laserasi atau trauma jaringan dalam saluran genetalia
dapat menjadi terinfeksi setelah melahiurkan.
Tanda dan gejalanya endometritis sebagi berikut :
1. Peningkatan demam secara persisten hingga 40 derajat celsius
2. Takikardi
3. Menggigil dengan infeksi berat
4. Nyeri tekan uteri menyebar secara lateral
5. Nyeri panggul dengan pemeriksaan bimanual
6. Subinvolusi
7. Lokia sedikit, tidak berbau, atau berbau tidak sedap, lokia sero[purulenta.
8. Variabel awitan bergantung pada organisme, dengan streptokokus grup B muncul lebih
awal
9. Hitung sel darah putih mungkin meningkat di luar lekositosis puerperium fisiologis.
Penanganannya adalah dengan obat antimikroba spektrum luas termasuk sefalosporin( misal
cefoxitin, cefotetan) dan penisilin spektrum luas atau inhibitor kombinasi penisislin
betalaktamase(augmentin, Unasyn). Kombinasi klindamisin dan gentamisin juga dapat
digunakan, sperti metronidazol, jika ibu tidak menyusui. Endometritis ringan dapat ditangani
dengan terpi oral meskipun infeksi lebih serius memerlukan hospitalisasi untuk terpi intravena.

Penyebaran endometritis, jika tidak ditangani, dapat menyebabkan salpingitis, tromboflebitis


septik, peritonitis dan fasilitas nekrotikans. Sertiap dugaan adanya infeksi memburuk, gejala
yang dapat dijelaskan, atau nyei akut memerlukan konsultasi dokter dan rujukan.
Terdapat juga penyebaran infeksi, yang berasal dari infeksi lokal dan menyebar melalui jalur
sirkulasi vena atau limfatik menyebabkan infeksi bakteri ditempat yang lebih jauh. Area
perluasan infeksi puerperium meliputi selulitis panggul, salpingitis, ooforitis, peritonitis,
tromboflebitis, panggul dan atau fermoral, dan terjadi pula bakterimia.
2. Infeksi trauma vulva, vagina ,dan serviks
a. Vulvitis
Pada luka infeksi bekas sayatan episiotomy atau luka perineum, jaringan sekitarnya
membengkak, tepi luka menjadi merah dan bengkak, jahitan mudah terlepas, luka yang terbuka
menjadi ulkus dan mengeluarkan pus.
b. Vaginitis
Infeksi vagina dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui perineum. Permukaan
mukosa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus, serta getah mengandung nanah dan keluar
dari daerah ulkus. Penyebaran dapat terjadi, tetapi pada umumnya infeksi tinggal terbatas.
c. Servisitis
Infeksi serviks sering juga terjadi, akan tetapi biasanya tidak menimbulkan banyak gejala. Luka
serviks yang dalam, luas, dan langsung ke dasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi
yang menjalar ke parametrium.
Dari beberapa penjelasan tersebut, data yang diperoleh dari pasien melalui proses pengkajian
dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi
2. Kadang-kadang perih bila kencing
3. Nadi di bawah 100 kali/menit
4. Getah radang dapat keluar
5. Suhu sekitar 38 derajat
6. Bila luka infeksi tertutup jahitan dan getah radang tidak dapat keluar, demam naik sampai
39-40 derajat disertai menggigil.
Penanganan pada kasus ini merupakan pemberian antibiotic, roborantia, pemantauan vital sign,
serta in take out pasien (makanan dan cairan).
3. Septikemia dan Pyemia
Ini merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh kuman-kuman yang sangat pathogen,
biasanya streptococcus haemolyticus golongan A. Infeksi ini sangat berbahaya dan tergolong
50% penyebab kematian karena infeksi nifas.
a. Septicemia

Pada infeksi ini, kuman-kuman dari uterus langsung masuk kedalam peredaran darah
umum dan menyebabkan infeksi umum. Adanya septicemia dapat dibuktikan dengan
jalan pembiakan kuman-kuman dari darah.
Gejala yang muncul dari pasien antara lain :
1. Permulaan penderita sudah sakit dan lemah.
2. Sampai hari ketiga postpartum, suhu meningkat dengan cepat dan menggigil.
3. Selanjutnya suhu berkisar antara 39-40 derajat, KU memburuk, nadi menjadi lebih
cepat (140-160 kali/menit)
b. Pyemia
Pada pyemia, terdapat trombophlebitis dahulu pada vena-vena di uterus dan sinus-sinus
pada bekas implantasi plasenta. Trombophlebitis ini menjalar ke vena-venauterine, vena
hipogastrika, dan/ atau vena ovary. Dari tempat-tempat thrombus ini, embolus kecil yang
berisi kuman dilepaskan. Tiap kali dilepaskan, embolus masuk kedalam peredaran darah
umum dibawa oleh aliran darah ke tempat-tempat lain, diantaranya paru-paru, ginjal,
otak, jantung, dsb, yang dapat mengakibatkan abses-abses ditempat tersebut.
Gejala yang muncul sebagai berikut :
1. Perut nyeri
2. Yang khas adalah suhu berulang-ulang meningkat dengan cepat disertai menggigil,
kemudian diikuti dengan turunnya suhu.
3. Kenaikan suhu disertai menggigil terjadi pada saat dilepaskannya embolus dari
trombophlebitis pelvika.
4. Lambat laun timbul gejala abses pada paru-paru, jantung, pneumoni, dan pleuritis.
4.Peritonitis, salpingitis, dan ooforitis
a. Peritonitis
Infeksi nifas dapat menyebar melalui pembuluh limfe didalam uterus, langsung mencapai
peritoneum dan menyebabkan peritonitis atau melalui jaringan di antara kedua lembar
ligamentum latum yang menyebabkan parametritis. Peritonitisyang tidak menjadi peritonitis
umum hanya terbatas pada daerah pelvic. Gejala-gejalanya tidak seberat seperti pada jenis yang
umum. Pada pelvio peritonitis terdapat pertumbuhan abses. Nanah yang biasanya terkumpul
dalam cavum douglas harus dikeluarkan dengan kalpotomia posterior untuk mencegah keluarnya
nanahmelalui rectum atau kandung kemih.
Pada peritonitis umum, gejala yang muncul :
1. Suhu meningkat menjadi tinggi
2. Nadi cepat dan kecil
3. Perut kembung dan nyeri
4. Ada defense musculair
5. Muka penderita yang mula-mula kemerahan menjadi pucat, mata cekung, kulit muka
dingin, terdapat apa yang disebut fasies hypocratica.
9

b.Salpingitis dan ooforitis


Kadang-kadang walaupun jarang infeksi menjalar sampai ke tuba fallopi, bahkan sampai ke
ovarium. Di sini, terjadi salpingitis dan/atau ooforitis yang sukar dipisahkan dari pelvio
peritonitis.
2.3 Pemenuhan Gizi dan Nutrisi pada Masa Nifas
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kurang lebih 6
minggu atau 42 hari, merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada
keadaan yang normal (Ambarwati, 2010). Kembalinya alat alat kandungan pada keadaan
seperti sebelum hamil diperlukan kandungan gizi yang cukup bagi ibu. Makanan yang
dikonsumsi pada masa nifas harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makanan yang
mengandung sumber tenaga (energy), sumber pembangunan (protein), sumber pengatur dan
pelindung (mineral, vitamin dan air). Makanan yang dikonsumsi berguna untuk melakukan
aktivitas, metabolism, cadangan dalam tubuh, proses produksi ASI serta sebagai ASI itu sendiri
yang akan dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Pemenuhan gizi pada
masa nifas bisa dilakukan dengan pengaturan pola makan atau diet (Waryanan, 2010).
Ibu nifas memerlukan diet untuk mempertahankan tubuh terhadap infeksi, mencegah
konstipasi dan untuk memulai proses laktasi. Asupan kalori yang dibutuhkan per-hari 500kalori
dan dapat ditingkatkan samapai 2700 kalori. Asupan cairan per-hari ditingkatkan sampai 3000ml
dengan asupan susu 1000ml. suplemen zat besi dapat diberikan kepada ibu nifas selama 4
minggu pertama setelah kelahiran. Gizi ibu nifas dibutuhkan untuk memproduksi ASI dan
memulihkan kesehatan ibu (Bahiyatun, 2008).
Nutrisi yang mengandung tinggi kalori dan tinggi protein penting bagi pasien pasca trauma,
termasuk ibu post partum. Tetapi tidak semua pasien mengkonsumsi diet yang telah diberikan
dari rumah sakit. Factorfaktor yang mempengaruhinya adalah kesenangan dan ketidaksenangan
(food like and dislike), kebiasaan (food habit), daya beli serta ketersediaan

(purchasing

powerand food availability), kepercayaan serta ketakhayulan (food believe and food fadisme),
aktualisasi diri (self actualization), faktor agama serta psikologis (Hartono, 2000). Dibanyak
daerah ada kepercayaan yang terkenal dan berbahaya, yaitu seorang ibu yang baru melahirkan
tidak boleh makan-makanan tertentu (pantangan/tarak). Misalnya didaerah pedesaan pulau
jawa, seorang ibu yang baru melahirkan dilarang makan makanan yang mengandung minyak,
telur, daging, ikan, dan sapi. Pembatasan makanan secara tradisional (yang melarang ibu post
10

partum

makan-makanan yang bergizi) dapat membuat ibu menjadi lemah,

menderita

kekurangan darah, produksi ASI sedikit, terjadi perdarahan dan infeksi karena menurunnya daya
tahan tubuh sehingga menyebabkan kematian.
Pada saat pada masa nifas, ada beberapa kebutuhan yang harus diperhatikan. Agar ibu pada
masa nifas memiliki cukup asupan gizi untuk pemulihan kondisinya dan untuk menyusui
bayinya. Ada perubahan kebutuhan, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.
Kalori
Penambahan kalori sepanjang 3 bulan pertama pascapartum mencapai sebanyak 500 kkal. Tambahan
energi perhari untuk wanita menyusui pada 6 bulan pertama kurang lebih 700 kalori; pada 6
bulan ke-2 kurang lebih 500 kalori.
2.
Karbohidrat
Karbohidrat adalah sumber energy untuk ibu dan pertumbuhan bayinya. Dengan demikian ibu yang
menyusui harus mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat yang cukup banyak agar
kebutuhan energinya dapat terpenuhi.
3.
Lemak
Lemak merupakan komponen pentingdalam ASI, sebagian kalori yang dikandung berasal dari
lemak. Lemak bermanfaat untuk pertumbuhan bayinya. Kebutuhan lemak berkaitan dengan berat
badan. Apabila beratbadan ibu menyusui menurun maka tingkatkan asupan lemak sampai 4porsi.
4.
Protein
Tambahan protein ibu menyusui pada 6 bulan pertama kurang lebih 16 gr/hari. Dan 6 bulan kedua kurang lebih 12 gr. Selama menyusui ibu membutuhkan tambahan protein diatas kebutuhan
normal sebesar 20g/hari. Dasar ketentuan ini ialah bahwa tiap 100cc ASI mengandung 1,2 g
protein. Dengan demikian 850 cc ASI mengandung 10 g protein.
5.
Vitamin
Vitamin juga di perlukan oleh bayi selain dari ASI ibu maka ibu menyusui perlu makan 2porsi
makanan yang segar yang mengandung Vitamin perhari. Dan untuk menjamin bahwa ASI
merupakan sumber Vitamin bagi bayinya.
6.
Mineral
Wanita yang menyusui harus minum 50 ml untuk menghasilkan ASI yang adekuat. Jumlahcairan
yang di minum paling sedikit harus dapat menggantikan cairan yang hilang sehari.Untuk wanita
menyusui di anjurkan untuk minum 8-12 gelas/ hari. Ibu menyusui sangat membutuhkan cairan
agar dapat menghasilkan ASI yang cukup. Hampir 90% ASI terdiri dariair. Waktu minum yang
paling baik adalah saatbayi sedang menyusui atau sebelumnya sehingga cairan yang di minum
bayi dapat diganti.

11

2.4 Tanda Bahaya pada Masa Nifas dan Cara Mengatasinya


1. Perdarahan pervaginam yang banyak dan menggumpal
a. Tanda dan gejala
- Dikatakan perdarahan bila darah yang keluar 500 cc atau lebih ( 1 pembalut = 50 cc )
Perdarahan setelah persalinan dibagi menjadi 2, yaitu sebagai berikut :
Perdarahan primer, yaitu terjadinya dalam 24 jam pertama pasca persalinan
Perdarahan skunder, yaitu terjadinya setelah 24 jam pertama pasca persalinan
b. Penanganan
- Perdarahan yang perlahan dan berlanjut atau perdarahan tiba-tiba merupakan suatu
kegawat daruratan, segeralah bawa Ibu ke fasilitas kesehatan.
2. Lochia Berbau
Kemungkinan penyebab: koprostatis (lochea yang tertimbun pada vagina)
a.
Tanda dan gejala
- Keluarnya cairan dari vagina
- Adanya bau yang menyengat dari vagina
- Disertai dengan demam hingga 380
b.
Penanganan
Jagalah selalu kebersihan vagina anda, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
segeralah periksakan diri anda ke fasilitas kesehatan.
3. Payudara yang berubah menjadi merah, panas dan terasa nyeri
a. Tanda dan gejala
Suhu badan meningkat sampai dengan 38 derajat celcius
Pada payudara berwarna merah, bengkak, keras, nyeri jika ditekan
Pada puting susu lecet.
b. Penanganan
- Lakukan perawatan payudara
- Gunakan BH yang menopang payudara yaitu yang bisa menampung payudara secara
keseluruhan dan tidak berkawat.
4. Kaki terasa sakit, merah dan bengkak
Kemungkinan penyebab tromboplebitis femuralis
a.
Tanda dan gejala
- Oedema (bengkak) pada tungkai dan daerah betis.
- Nyeri jika ditekan, berwarna merah dan terasa panas.
b.
Penanganan
- Lakukan istirahat baring
- Pada anggota tubuh bagian bawah yang bengkak lebih ditinggikan.
5. Demam
a.
Kemungkinan penyebab:
Febris puerpuralis
Mastilitis
Flegmasia Alba Dolens
b. Tanda dan gejala
Biasanya terjadi dalam 24 jam setelah mealahirkan dengan suhu 380 C
c. Penanganan
- Istirahat baring
12

- Kompres dengan air hangat


- Perbanyak minum
- Jika ada syok, segera bawa ibu ke fasilitas kesehatan.
6. Sakit kepala yang terus menerus
a. Tanda dan gejala
Sakit kepala yang sangat pada salah satu sisi atau seluruh bagian kepala
- Kepala terasa berdenyut dan disertai rasa mual dan muntah
b. Penanganan
- Lakukan istirahat baring
- Pemberian penenang misal; diasepam.
Ajarkan teknik distraksi relaksasi untuk mengalihkan perhatiannya terhadap pusing
yang diderita misalkan di ajak melakukan kegiatan yang digemarinya.
7. Nyeri Perut
a.
Tanda dan gejala
- Adanya demam
Ibu mengeluh nyeri pada bagian perut
b. Penanganan
Lakukan istirahat baring, bila nyeri tidak hilang, segera periksakan ke fasilitas kesehatan.
2.5 Kontrasepsi yang Aman Digunakan Ibu Menyusui
Metode kontrasepsi alami banyak dianjurkan untuk ibu menyusui daripada kontrasepsi yang
mengandung hormonal terutama hormon estrogen karena dianggap dapat mengurangi produksi
ASI. Metode kontrasepsi alami seperti, metode kalender, senggama terputus, penggunaan
kondom, diafgragma, maupun zat spermisida (yang biasanya terkandung di gel pelumas ataupun
kondom untuk mematikan sperma) dapat menjadi pilihan pada saat sedang menyusui ASI
eksklusif dengan bersamaan penggunaan kontrasepsi MAL. Metode MAL ini efektif hanya
sampai 6 bulan pasca melahirkan.
Karena penggunaan metode kontrasepsi alami tidak seefektif metode kontrasepsi hormonal
ataupun IUD pada umumnya maka jenis kontrasepsi yang dianggap paling efektif untuk ibu
menyusui adalah IUD, suntik 3 bulanan, pil KB khusus ibu menyusui, dan implant /susuk. IUD
dapat dipasang segera setelah plasenta lahir atau sebaiknya saat nifas hari ke-39 atau 40.
Sedangkan KB suntik 3 bulanan, pil KB khusus ibu menyusui, maupun implant /susuk dapat
digunakan pada minggu ke-4 hingga akhir nifas.
Peran bidan dalam memberikan pelayanan kebutuhan dasar pada ibu dalam masa nifas dan
menyusui, salah satunya adalah bisa mengarahkan keluarga pada rencana ber-KB. Bidan harus
membantu ibu untuk memilih kontrasepsi yang tepat dan sesuai dengan keinginan ibu tetapi
tidak mengganggu proses menyusui.
13

2.6 Adaptasi Psikologi Ibu pada Masa Nifas


Masa nifas merupakan masa yang paling penting untuk ibu dalam menentukan penerimaan
jati dirinya sebagai ibu dan penerimaan sosok bayi(yang masih dianggap asing) sebagai keluarga
barunya. Selain perubahan fisik yang terjadi setelah melahirkan dan adanya adaptasi psikologi
baru yang harus dirubah pada ibu, di masa inilah si ibu rentan terhadap perubahan emosional
yang berlebihan. Faktor yang mempengaruhi perubahan emosional tersebut seperti :
1.
2.
3.
4.

Dukungan dari keluarga dan teman


Hubungan antara pengalaman melahirkan dan harapan serta aspirasi
Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak ynag lain
Pengaruh budaya
Ibu harus mampu melewati masa transisi untuk menjadi orang tua yang sukses, seperti

periode yang diuraikan oleh Rubin dalam tiga tahap:


1.
2.
3.
-

Taking In
Terjadi 12 hari sesudah melahirkan
Kekhawatiran masih ditunjukan pada tubuhnya
Ibu perlu peningkatan nutrisi dan istirahat yang cukup
Taaking Hold
Terjadi 24 hari sesudah melahirkan
Ibu mulai menaruh perhatian pada bayinya dan menjadi orang tua yang bertanggung jawab
Letting Go
Terjadi saat ibu pulang ke rumah
Waktu dan perhatiannya dicurahkan pada keluarga
Ibu yang mengalami stress emosional setelah melahirkan dan meragukan kemampuannya

untuk membesarkan anak di dalam keluarganya dapat menyebabkan gangguan adaptasi


psikologis ibu, seperti:
1.)
Depresi Postpartum
Terjadi pada minggu ke-1030 setelah melahirkan dan dapat berlangsung selama 1 tahun. Ibu
merasa dirinya adalah ibu yang buruk dan tidak ada yang memahami penderitaan si ibu sehingga
ada perasaan ibu untuk menyakiti bayinya
2.)
Postpartum Blues/Baby Blues
Tergolong depresi ringan dan normal yang dapat hilang dengan sendirinya
Terjadi antara hari ke-310 setelah melahirkan. Perubahan emosional ibu ditandai dengan
perubahan mood, cemas, pusing, merasa sedih sendiri baik dikarenakan perubahan fisik pasca
melahirkan ataupun kecemasan dalam mengurusi anak pada saat di rumah. Pada periode inilah
ibu membutuhkan dukungan keluarga dan bidan untuk melewati emosional ibu

14

Salah satu yang paling penting untuk menekan kejadian gangguan adaptasi psikologi setelah
melahirkan yautu dengan membentuk sistem dukungan sebelum melahirkan. Minta keluarga dan
teman untuk membantu dan berada di samping ibu setia setiap saat mendampingi dari proses
bersalin sampai merawat bayinya sampai ibu merasa dirinya sudah mampu menjaga dan merawat
bayinya dengan baik.
2.7 Senam pada Masa Nifas
Menurut Sulistyawati (2009 : 103) untuk mencapai hasil pemulihan otot yang maksimal,
sebaiknya latihan masa nifas dilakukan seawall mungkin dengan catatan ibu menjalani
persalinan normal dan tidak ada penyulit postpartum. Sebelum memulai bimbingan senam nifas,
sebaiknya bidan mendiskusikan terlebih dahulu dengan pasien mengenai pentingnya otot perut
dan panggul untuk kembali normal. Dengan kembalinya kekuatan otot perut dan panggul, akan
mengurangi keluhan sakit punggung yang biasanya dialami oleh ibu nifas. Tujuan senam pada
saat masa nifas adalah :
Mengurangi rasa sakit pada otot
Memperbaiki peredaran darah
Mengencangkan otot-otot perut dan perineum
Melancarkan pengeluaran lokhea
Mempercepat involusi
Menghindarkan kelainan (misal: emboli, trombosis, dll)
Untuk mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi, dan meningkatkan otot-otot
punggung, pelvis dan abdomen.
Beberapa latihan yang dapat dilakukan pascapersalinan normal meliputi senam yang baik pada
masa nifas yaitu :
Berbaring terlentang, kedua lutut ditekuk. Letakkan kedua belah tangan pada perut dibawah
tulang iga. Tarik napas perlahan dan dalam melalui hidung, keluarkan melalui mulut sambil

mengencangkan dinding perut untuk membantu mengkosongkan paru.


Pada hari ke 3 dan seterusnya, angkat kedua kaki sekaligus, tegak lurus setinggi yang dapat
dicapai. Urutan gerakan lainnya sama. Pada waktu senam tidak menggunakan bantal. Bila
keadaan ibu baik, senam ini dapat dilakukan 3-4 kali sehari, misalnya pada waktu pagi
bangun tidur, siang dan malam, tiap hari ditambah 1 kali hingga akhirnya sampai 10 kali
sehari.

2.8 Cara Menyusui dan Asupan Gizi yang Baik bagi Ibu yang Menyusui

15

ASI merupakan makanan terbaik bayi. Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam
menyusui, yaitu :
Susui bayi segera dalam 30 menit pertama setelah bayi lahir, berikan kolostrum.
Hindarkan pemberian minuman pralakteal (air gula, aqua, dan lainnya) sebelum ASI keluar,
tetapi usahakan agar bayi diberi kesempatan mengisap untuk merangsang produksi ASI sehingga
ASI akan lebih cepat keluar
Susui bayi pada kedua payudara secara bergantian
Bayi hanya diberi ASI selama 4 bulan pertama
Berikan ASI tanpa jadwal
Perhatikan cara menyusui yang benar, yaitu puting dan areola payudara harus masuk kedalam
mulut bayi agar puting terhindar dari lecet
Mulai untuk memberi makanan pendamping ASI pada umur 4 bulan dalam bentuk makanan
lumat
Menyusui sebaiknya dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun. Penyapihan dilakukan secara
bertahap
Teruskan menyusui walaupun ibu dan bayi sedang sakit. Kecuali ibu/ bayi sakit berat, sesuai
dengan petunjuk dokter
Perhatikan gizi ibu hamil/ menyusi karena ibu memerlukan ektra makanan dan minuman lebih
banyak
Bila ibu bekerja diluar rumah, beri ASI sebelum dan sesudah pulang kerja. Hanya selama ibu
bekerja, bayi boleh diberikan susu formula.
Masa menyusui juga memerlukan asupan gizi yang baik agar dapat menghasilkan air susu
dalam jumlah yang maksimal untuk bayi nya. Dibawah ini AKG untuk ibu berdasarkan
berdasarkan Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi.

16

Adapun beberapa pengaruh status gizi pada ibu menyusui yaitu :


a. Ibu dengan gizi baik akan dapat memberikan ASI :
Pada bulan pertama kurang lebih 600 ml
Pada bulan ketiga meningkat menjadi 700-750mlp
Pada bulan ke empat meningkat menjadi 750-800 ml kemudian menurun atau berkurang
tergantung isapan bayi.
b. Dampak kekurangan gizi ibu menyusui kepada bayinya yaitu :
1. Pertumbuhan dan perkembangan anaktergangguBayi mudah sakit
2. Bayi terkena infeksi sehingga angka kesakitandan angka kematian meningkat
3. Kekurangan zat gizi dapat menimbulkangangguan mata karena kekurangan vitamin Adan
pada tulang karena kekurangan Vitamin D
c. Prinsip dan syarat nutrisi ibu menyusui :
Prinsip:
Sama dengan ibu hamil, jumlah lebih banyak,mutu lebih baik.
Syarat
- Susunan menu harus seimbang
- Di anjurkan minum8-12 gelas/hari
- Menghindari makanan yang banyak bumbu, terlalu panas atau dingin, tidak menggunakan
alkohol,guna kelancaran pencernaan ibu
- Di anjurkan banyak makan sayuran berwarna

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kurang lebih 6
minggu atau 42 hari, merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada
keadaan yang normal. Pada masa nifas terjadi beberapa ketidaknyamanan yang diakibatkan
17

karena adanya pemulihan yang terjadi didalam tubuh. Ketidaknyamanan tersebut bisa berupa
nyeri pada payudara, nyeri perut, dan nyeri pada perineum akibat bekas laserasi.
Pada masa nifas, jika perawatan tidak dilakukan dengan baik, maka bisa menyebabkan
infeksi. Beberapa penyebab dari infeksi pada saat masa nifas adalah persalinan yang terlalu lama,
adanya ketuban pecah dini, terlalu banyak dilakukan pemeriksaan dalam, kurangnya pencegahan
infeksi, adanya manipulasi didalam uterus, adanya laserasi yang tidak diperbaiki dengan baik,
dsb. Adanya infeksi pada ibu masa nifas dapat diketahui melalui adanya peningkatan suhu tubuh,
malaise, nyeri yang berlebihan dan adanya lokia yang berbau tidak sedap. Endometritis
merupakan infeksi pascapartum yang terbanyak, dimana infeksi ini lebih banyak terjadi pada ibu
yang melahirkan secara sesar. Ada beberapa tanda bahaya yang dapat terjadi pada masa nifas
yaitu : terjadinya perdarahan pervaginam yang banyak dan menggumpal, adanya lochia yang
berbau tak sedap, adanya kelainan payudara dimana payudara akan berwarna kemerahan dan
tersa panas serta nyeri, demam, kaki terasa bengkak dan nyeri, sakit kepala yang terus menerus
dan adanya nyeri pada perut.
Ibu pada masa nifas memerlukan asupan gizi yang lebih dari biasanya, hal ini dikarenakan
kalori didalam tubuh digunakan untuk pemulihan kembali kondisi tubuh ibu dan untuk meyusui
bayinya. Karena jika ibu memiliki gizi yang baik, maka dapat memberikan ASI yang baik pula
untuk bayinya. Selain dengan asupan gizi yang baik, ibu pada masa nifas dapat melakukan
senam nifas. Senam nifas dapat membantu mempercepat proses pemulihan kondisi ibu. Peran
bidan dalam mendampingi ibu pada saat masa nifas sangat penting. Bidan harus memberikan
pelayanan yang baik pada masa nifas untuk mencegah adanya komplikasi pada masa nifas.
Selain itu, bidan juga memberikan bantuan pada ibu untuk memilih alat kontrasepsi yang dapat
digunakan ibu, yang sesuai dengan pilihan ibu tetapi tidak mengganggu proses menyusuinya.
3.2 Saran
Bagi tenaga kesehatan khususnya bidan, hendaknya selalu mendampingi ibu dan
memberikan pelayanan yang terbaik selama masa nifas dan menyusui. Karena pada masa ini ibu
membutuhkan dukungan dan bimbingan. Bidan juga harus dapat melakukan deteksi dini adanya
komplikasi pada ibu. Sebagai bidan, dalam memberikan asuhan haruslah komprehensif dan
menerapkan asuhan saying ibu dan bayi.

18

Resume Jurnal 1
KAITAN ASUPAN VITAMIN A DENGAN PRODUKSI AIR SUSU IBU (ASI) PADA IBU
NIFAS
(Association between Vitamin A Intake with Breast Milk Production on Postpartum Mothers)
Bibi Ahmad Chahyanto1* dan Katrin Roosita1
Penelitian pada jurnal ini memiliki tujuan untuk menghitung jumlah dan jenis konsumsi
pangan dan asupan vitamin A, menilai kecukupan produksi ASI pada masa nifas, menganalisis
hubungan antara asupan vitamin A dengan produksi ASI pada ibu nifas. Penelitian ini
menggunakan desain cross sectional yang dilaksanakan di Desa Ciherang, Sukawe-ning,
Dramaga, Sinarsari, dan Neglasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor pada bulan April
Mei 2013. Tempat penelitian dipilih secara purposive yaitu sesuai dengan tujuan penelitian
dengan mempertimbangkan lokasi, kemudahan akses dalam pengambilan data dan perizinan.
Subjek yang terpilih melalui teknik purposive, non probability quota sampling sebanyak 30 ibu
nifas. Penarikan subjek dilakukan dengan mencari dan mengumpulkan ibu nifas yang memenuhi
kriteria inklusi: 1) tidak termasuk wanita risiko tinggi terhadap risiko kematian dan kesakitan
pada ibu dan bayi (berumur 2035 tahun); 2) umur bayi 1040 hari dan bukan kelahiran
pertama; 3) bersedia menjadi subjek yang ditegaskan melalui informed consent; 4) subjek dalam
19

keadaan sadar dan tidak mengalami gangguan kejiwaan; dan 5) bertempat tinggal di Desa
Ciherang, Sukawening, Dramaga, Sinarsari, dan Neglasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten
Bogor.
Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Data primer yang diperoleh
melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner meliputi karakteristik subjek, keluarga,
dan bayinya, konsumsi dan frekuensi konsumsi pangan, konsumsi kapsul vitamin A, serta
persepsi kecukupan produksi ASI. Data berupa berat badan subjek dan bayinya diukur secara
langsung dengan menggunakan timbang-an injak ketelitian 0.10 kg. Panjang LiLA (Lingkar
Lengan Atas) subjek diukur menggunakan meteran ketelitian 0.10 cm. Data sekunder yang
dikumpulkan berupa catatan ibu nifas yang diperoleh dari bidan desa dan gambaran umum
wilayah serta kondisi sosial ekonomi penduduk yang diperoleh dari Kantor Kecamatan Dramaga
dan Unit Pelayanan Teknis (UPT) Puskesmas Dramaga. Pengolahan dan analisis data dilakukan
uji inferensia diawali dengan melakukan uji normalitas data menggunakan uji one sample Kolmogorov-Smirnov. Data penelitian yang digunakan untuk uji korelasi tersebar normal sehingga
dapat dilakukan uji korelasi Spearman untuk menganalisis hubungan asupan vitamin A dengan
produksi ASI. Nilai p yang didapatkan dari hasil uji korelasi dibandingkan dengan =0.05,
hubungan antar variabel signifikan apabila nilai p<0.05.
Hasil dari penelitian ini yaitu adanya hubungan antara asupan vitamin A dan produksi ASI.
Hasil uji Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara asupan vitamin A
dari pangan yang mengandung vitamin A maupun pangan sumber vitamin A saja dengan
produksi ASI (p<0.05). Hal ini berarti semakin tinggi konsumsi pangan sumber vitamin A, maka
produksi ASI juga akan semakin tercukupi. Selain itu, konsumsi pa-ngan yang memiliki
kandungan vitamin A sedikit tetapi dikonsumsi dalam jumlah banyak juga dapat memengaruhi
kecukupan produksi ASI. Kesimpulan dari jurnal ini adalah jenis pangan nabati sumber vitamin
A yang dikonsumsi oleh subjek ialah bayam, wortel, daun katuk, kangkung, sawi, tomat, ubi jalar
merah, dan daun singkong. Jenis pangan hewani sumber vitamin A yang banyak dikonsumsi oleh
subjek ialah daging ayam, telur ayam, susu bubuk, dan susu kental ma-nis. Rata-rata asupan
vitamin A dari seluruh pangan yang mengandung vitamin A sebesar 565351.40 RE dengan ratarata sumbangan 66.5041.30 %, sedang-kan rata-rata asupan vitamin A dari pangan sumber
vitamin A sebesar 536369.00 RE dengan rata-rata sumbangan 63.1043.40 %.

20

Konsumsi pangan sehari-hari belum dapat menyumbangkan vitamin A yang cukup bagi
kebutuhan vitamin A. Tingkat kecukupan zat gizi sebagian besar subjek masih defisit. Sebanyak
80.00% subjek memiliki produksi ASI yang cukup bagi bayi yang disusui. Terdapat hubungan
yang signifikan antara asupan vitamin A dari pangan sumber vitamin A dan asupan vitamin A
dari seluruh pangan yang mengandung vitamin A dengan produksi ASI (p<0.05). Konsumsi
pangan dan kapsul vitamin A memiliki manfaat yang penting bagi ibu nifas. Hal ini karena fungsi
vitamin A yang dapat memengaruhi produksi Air Susu Ibu (ASI) pada ibu nifas. Untuk itu,
sebaiknya asupan vitamin A baik dari seluruh pangan yang mengandung vitamin A dan pangan
sumber vitamin A harus ditingkatkan sehingga asupan vitamin A tercukupi.

Resume Jurnal 2
STUDI DESKRIPTIF PELAKSANAAN TEKNIK MENYUSUI BAYI
TUNGGAL DI RB MTA SEMANGGI SURAKARTA
TAHUN 2011
Oleh :
Siti Muliawati
ASI eksklusif hingga ini belum mencapai kabar yang menggembirakan. Karena kurang
nya pengetahuan ibu tentang cara menyusui yang baik serta informasi tentang pentingnya ASI
eksklusif. disini peneliti ingin mengetahui teknik menyusui ysng dilakukan oleh ibu nifas di RSB
MTA Semanggi Surakarta pada bulan November 2011. Dengan metode deskriptif yaitu secara
pendekatan observasi. Didapatkan populasi ibu nifas di RSB MTA Semanggi Surakarta pada
bulan April 2011 sejumlah 37 responden. Dengan kategori baik, cukup dan kurang didapatkan
hasil: 2 responden (5%) ibu melakukan teknik menyusui dengan baik, 15 responden (41%)
dengan hasil cukup, 20 responden (54%) dapat dikatakan kurang. Karena dari pengamatan
peneliti menunjukkan mayoritas ibu melaksanakan teknik menyusui bayi tunggal dengan
kategori kurang yaitu 54% (20 responden). Hal tersebut disebabkan karena mayoritas ibu masih
muda, anak pertama serta kurangnya pengetahuan dan informasi yang di dapat ibu mengenai
teknik menyusui. Seperti yang telah diungkapkan dr.Josep Budi, S. SPA yaitu meskipun
21

menyusui itu mudah, namun tidak banyak ibu yang mengetahui bagaimana bagaimana teknik
menyusui yang benar. Ibu terlihat dapat menyusukan, tetapi cara bagaiman mereka menyusukan
dengan teknik sebaik baiknya belum diketahui oleh ibu muda (oswari, 1999).
Dan kegagalan dalam memberi ASI disebabkan pula karena salah memposisikan dan
melekatkan bayi. Sedangkan ibu dengan kategori baik sebesar 5% (2 responden) karenan di
dominasi oleh ibu usia tua dan paritas yang lebih banyak, sehingga ibu lebih berpengalaman
meskipun ibu tidak berpendidikan tinggi. Pengetahuan ibu didapat dari pengalamannya sendiri
serta beberapa informasi tentang teknik meyusui, membaca artikel dan rajin mendengarkan
penyuluhan. Untuk ibu kategori cukup, karena didasari oleh pendidikan yang cukup. Meskipun
hanya tingkat menengah atas namun tidak menjamin karena ibu tidak mendapatkan pengetahuan
yang banyak tentang menyusui saat pemeriksaan kehamilan.

Resume Jurnal Ke-3


FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN ALAT
KONTRASEPSI INTRA UTERINE DEVICE (IUD) PADA IBU POST
PARTUM NORMAL DI RSKD IBU DAN ANAK
SITI FATIMAH MAKASSAR
Merliam Nomleni 1, Ernawati2, Rusni Mato 3
Pada jurnal ini menyebutkan bahwa didalamya terdapat penelitian yang bertujuan untuk
mengetahui apakah terdapat hubungan faktor yang mempengaruhi pemilihan kontrasepsi IUD
oleh ibu postpartum, seperti pengetahuan, dukungan suami, dan budaya di RSKD Ibu dan Anak
Siti Fatimah Makassar pada tahun 2013.
Metode Penelitian:
Berdasarkan lokasi, populasi, dan pengambilan sempel, jenis penelitian ini menggunakan metode
analisis uji Fishers Exact test dan teknik pengambilan sempel Purpossive Sampling dengan
besar sampel 45 responden seluruh ibu peserta KB di lokasi penelitian
Setelah melewati berbagai tahap dalam pengumpulan data, pengolahan data, dan sudah
menyeleksi data yang sesuai dengan tujuan penelitian maka didapatkan hasil penelitian sebagai
berikut:
Pembahasan
1. Hubungan antara pengetahuan dengan pemilihan kontrasepsi IUD
22

Sebagian besar responden yang memilih IUD telah memiliki pengetahuan yang cukup
tentang KB secara umum dan juga memiliki pengetahuan tentang IUD dari keunggulan
sampai kerugian dari pemakaiannya. Berbeda pada beberapa responden yang memiliki
pengetahuaan kurang untuk pemilihan KB yang tidak efektif atau merasa takut dengan
penggunaan IUD. Hal inilah yang menetukan partisipan KB dalam Jenis Kontrassepsi
sebagai cara ber-KB.
2. Hubungan dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD
Dalam keluarga suami mempunyai peranan penting sebagai kepala keluarga dan suami
mempunyai hak untuk mendukung atupun tidak dengan apa yang dilakukan oleh istri,
tentu saja harus dengan penjelasan dan alasan yang tepat dan dapat dimengerti. Sebagian
responden mengatakan bahwa suaminya mendukung dengan adanya program KB yang
dicangkan namun untuk penggunaan IUD sendiri para suami masih kurang paham dalam
pengetahuan kontrasepsi IUD sehingga takut akan mengganggu pada saat berhubungan.
Untuk itu dukungan suami dan istri juga berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi.
3. Hubungan budaya dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD
Berdasarkan penelitian ini yang berlatarbelakang pengaruh agama dan budaya di provinsi
sulawesi Barat menjadi pertimbangan ketika memakai kontrasepsi terutama penggunaan
IUD. Sebagian responden takut untuk menggunakan kontrasepsi seperti IUD dikarenakan
budaya lama yang sudah melekat pada diri masyarakat, seperti penggunaan IUD di
daerah sensitif seorang perempuan apalagi biasanya dokter laki-laki yang memasangnya.
Satu lagi ketakutan yang dikhawatirkan akan menganggu kenyamanan pada saat
berhubungan seksual dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang IUD itu sendiri.
Kesimpulan dan sarannya yaitu:
7. Bagi BKKBN dan Dinas Kesehatan sebaiknya mensosialisasikan tentang berbagai
macam alat kontrasepsi disertai kelebihan dan kekurangnnya sehingga masyarakat dapat
dengan mudah menetukan kontrasepsi yang akan digunakan untuk mengkiatkan program
2 anak lebih baik dari pemerintah
8. Untuk masyarakat luas agar selalu menambah wawasannya dengan pendidikan kesehatan
yang berguna untuk kehidupan yang lebih baik, khususnya dalam memilih alat
kontrasepsi.

23

Daftar Pustaka
Ambarwati, Eny, dkk. 2009. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendekia Offset
Bahiyatun. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC
Curtis, G.B. 1997. Kehamilan di Atas usia 30. Jakarta: Arcan
Ester, M. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC
Hartono. 2000. Asuhan Nutrisi Rumah Sakit, Diagnostik, dan Konseling. Jakarta : EGC
Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu Kebidanan Edisi 4. Jakarta : PT. Bina Pustaka
Sinclair, C. 2003. Buku Saku Kebidanan. Jakarta: EGC
Sulistyawati, A. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Yogyakarta: Penerbit ANDI
Uliyah, M, Hidayat, A.A.A, 2006. Ketrampilan dasar Klinik untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba
Medika
Varney, H, Kriebs, J.M, & Gegor, C.L. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4, volume 2.
Jakarta: EGC
Waryana.2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Rihama

24