Anda di halaman 1dari 2

Hasil dan Pembahasan

Praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan terhadap kadar glukosa darah dengan
menggunakan metode Follin Wu. Metode Folin-Wu diperkenalkan pertama kali oleh Otto Folin dan
Hsien Wu pada tahun 1919. Prinsip penentuan kadar glukosa darah dengan metode Folin-Wu adalah reaksi
reduksi ion kupri di dalam larutan kupritartrat oleh gula pereduksi menjadi ion kupro. Senyawa Cu2O yang
terbentuk selanjutnya bereaksi dengan asam fosfomolibdat membentuk senyawa fosfomolibdenum oksida
yang berwarna biru tua. Intensitas warna biru yang terbentuk sebanding dengan kadar glukosa didalam darah
sampel sehingga dapat diukur serapannya secara spektrofotometri.
Pertama disiapkan tiga tabung folin-wu dimana masing-masing diisikan larutan blanko, standar
glukosa dan filtrat darah bebas protein. Ketiga-tiganya ditambahkan tembaga alkali kemudian dipanaskan
pada suhu 100C selama 8 menit. Hal ini dilakukan agar ion kupri yang ada di dalam larutan tembaga alkali
tereduksi oleh gula pereduksi menjadi ion kupro menjadi lebih cepat. Kemudian direaksikan dengan asam
fosfomolibdat yang akan menghasilkan warna biru. Warna biru ini menandakan bahwa terdapat glukosa yang
telah mereduksi larutan tembaga alkali dan intensitas warna sebanding dengan jumlah glukosa yang terdapat
pada filtrat darah tersebut. Kemudian intesitas warna ini diukur absorbansinya menggunakan
spektrofotometer.
Dari hasil uji spektrofotometer didapatkan data sebagai berikut :
Larutan
Blanko
Standar Glukosa
Filtrat Darah

Absorbansi
0,001
0,025
0,357

Kemudian dilakukan perhitungan kadar glukosa darah dengan menggunakan rumus filtrat
follin wu :

Ru

= Absorbansi Filtrat Darah

Rs

= Absorbansi Larutan Standar Glukosa

Rb

= Absorbansi Larutan Blanko

Dari hasil perhitungan tersebut didapakan kadar glukosa darah probandus sebesar 1483 mg/dl. Hasil
ini menunjukkan ketidakauratan dan tidak sesuai dengan teori. Kadar glukosa darah normal sewaktu yaitu 70200 mg/dl, saat puasa 70-110 mg/dl dan sesudah puasa 100-140 mg/dl. Dengan kadar gula darah yang sangat
tinggi sampai 1483 mg/dl seseorang dipastikan diabetes kronis, hipertensi, struk hingga kematian. Mengacu
pada teori tersebut dipastikan terdapat kesalah pada proses analisis biokimia darah. Ada beberapa faktor yang
mungkin menyebabkan kesalahan analisis, yaitu :
1. Penyiapan filttrat darah bebas protein yang memungkinkan masih adanya protein atau zat-zat lain
yang bisa mempengaruhi hasil analisis dengan spektrofotometer. Keselahan ini dapat terjadi akibat
protein belum tersendapkan secara sempurna oleh Na tungstat dan asam sulfat sehingga meskipun
telah disaring masih terdapat protein yang lolos.
2. Kemungkinan terdapat kesahalah pada uji menggunakan spektrofotometer, yaitu kuvet yang
digunakan tidak bersih sehingga menyisakan bekas sampel yang diuji sebelumnya.
3. Kemungkinan hasil absorbansi blanko dan standar glukosa tidak benar sehingga mempengaruhi pada
perhitungan kadar glukosa. Ketidakakuratan ini dapat disebabkan oleh adanya kesalahan pada
penyiapan larutan blanko dan standar glukosa.

Alasan mengapa pemeriksaan glukosa harus bebas protein

Sensitivitas spektro dalam menganalisa glokosa darah

Panjang gelombang glukosa sebenarnya

Mengapa kadar glukosanya tinggi, metabolisme glukosa?

Reaksi