Anda di halaman 1dari 11

FARMAKOLOGI BAHAN ALAM

RIVIEW JURNAL
Pengobatan Jerawat (Acne vulgaris) dengan Beberapa
Obat Bahan Alam

Disusun oleh:
Ida Isnaini
NIM J1E113023
Dewita Fitri W.
NIM J1E113066

Dosen Pengampu:
M. Ikhwan Rizki, S.Farm., M.Farm., Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2014

ABSTRAK
Latar Belakang. Jerawat (Acne vulgaris) adalah gangguan pada sistem kelenjar
yang ditandai dengan timbulnya komedo, papula, pustula, nodul, dan bisul. Istilah
jerawat berasal dari kata Yunani "Acme" yang berarti "kehidupan utama". Tujuan.
Dalam tulisan ini kita dapat mengetahui bahan-bahan alami (herbal) yang dapat
digunakan untuk mencegah atau megobati jerawat. Metode. Berdasarkan
kumpulan jurnal yang menguji khasiat beberapa tanaman herbal yang berkhasiat,
beberapa diantaranya pemakaian langsung pada pengguna. Hasil. Tanaman herbal
memiliki zat tersendiri yang bermanfaat bagi kehidupan. Kesimpulan. Mentimun,
lidah buaya, lemon, dan tomat merupakan herbal yang cocok untuk kulit terutama
dalam penghambatan anti-bakteri atau ant-jerawat.
Kata kunci: bahan alam, jerawat, lemon, lidah buaya, mentimun, tomat.
PENDAHULUAN
Jerawat (Acne vulgaris) adalah gangguan pada sistem kelenjar yang ditandai
dengan timbulnya komedo, papula, pustula, nodul, dan bisul.1 Jerawat sering
diartikan hanya sebagai proses perubahan fisiologis seseorang, tetapi jerawat
dapat tergolong penyakit yang disebabkan oleh radang dan perusakan pada daerah
tubuh yang sangat vital, yaitu wajah.2 Asal mula jerawat sangat kompleks dan
tidak sepenuhnya dapat dipahami. Setidaknya ada empat kemungkinan
patofisiologis yang berlangsung dalam folikel rambut yang terinfeksi jerawat,
yakni: (1) mediasi dan stimulasi pada aktivitas kelenjar Sebaceous, (2) keratinisasi
yang tidak wajar dan menyebabkan pembentukan komedo, (3) proliferasi dari
bakteri jerawat Propionibacterium sp. dalam folikel, serta (4) radang.3
Istilah jerawat berasal dari kata Yunani "Acme" yang berarti "kehidupan
utama". Meskipun umumnya dianggap sebagai kondisi yang membatasi diri,
jerawat dapat menyebabkan masalah psikologis yang parah atau bekas luka
menodai yang dapat bertahan seumur hidup, tetapi paling sering terjadi antara usia
12 sampai 24 tahun, yang memperkirakan 85% dari pengaruh populasi.1 Acne
vulgaris mempengaruhi lebih dari 80% dari remaja; di 3% pria dan 12% wanita.
Jerawat adalah gangguan polimorfik yang terjadi pada wajah (99%), belakang
(60%) dan dada (15%).4 Selama 20 tahun terakhir, jumlah topikal dan
obat sistemik untuk pengobatan acne vulgaris telah diperkaya.5 Diperkirakan
bahwa sampai 14% dari orang berkonsultasi dengan dokter mereka dengan
jerawat pada tahap tertentu dalam kehidupan mereka, sedangkan 0,3% akan
berkonsultasi dermatologis.6

BAHAN ALAM BERKHASIAT


Mentimun (Cucumis sativus)

Menurut Akhtar et al. (2011)7, bahan yang diperlukan dalam pembuatan


krim, antara lain: mentimun; minyak parafin (density 0,85); Abil-EM 90 (setil
Dimethicone Copolyol dengan HLB 5); minyak lemon. Alat yang digunakan
meliputi:

mesin

sentrifugasi;

inkubator

dingin;

inkubator

panas;

konduktivitimeter; Corneometer MPA 5, mexameter MPA 5, sebumeter MPA 5,


TEWA meteran MPA 5; digital humidity meter; electrical balance; homogenizer;
pH; kulkas dan rotary evaporator.
Berikut langkah-langkah pembuatan krim tersebut:

1.

Emulsi disiapkan dengan penambahan fasa air ke fasa berminyak


dengan agitasi kontinu. Fase berminyak terdiri dari minyak parafin
(16%) dan surfaktan Abil-EM 90 (4%).

2.

Kemudian dipanaskan hingga 75 1 C.

3.

Pada saat yang sama, fase berair yang terdiri dari air (qs) dipanaskan
sampai suhu yang sama dan kemudian tambahkan ekstrak mentimun
(3%).

4.

Setelah itu, fasa berair ditambahkan ke fasa minyak, tetes demi tetes.

5.

Pengadukan dilanjutkan pada 2000 rpm dengan mixer mekanik selama


sekitar 15 menit sampai fase berair terpakai seluruhnya.

6.

Selanjutnya ditambahkan 2-3 tetes minyak lemon yang ditambahkan


selama waktu pengadukan untuk memberikan aroma pada formulasi.

7.

Setelah penambahan fasa air, kecepatan mixer dikurangi menjadi 1.000


rpm untuk homogenisasi, untuk jangka waktu 5 menit.

8.

Kemudian kecepatan mixer itu dikurangi menjadi 500 rpm selama 5


menit untuk homogenisasi.

9.

Emulsi didinginkan pada suhu kamar.

10. Ulangi metode di atas dengan bahan-bahan yang sama tetapi tanpa
ekstrak mentimun, sebagai blanko.
Langkah pengujian produk pada kulit yakni pada satu sisi studi dirancang
dengan kontrol plasebo. Dipilih 21 relawan sehat yang menandatangani
persetujuan tertulis, dengan rentang usia 20-35 tahun. Semua pembacaan
dilakukan pada 21 01 C dan 40 2% kondisi kelembaban relatif. Percobaan
dilakukan pada pipi relawan. Uji tempel dilakukan pada lengan bawah dari setiap
sukarelawan untuk menentukan reaksi kemungkinan dari emulsi. Setiap
sukarelawan diberikan dengan dua krim, salah satu krim adalah blanko dan yang
lain adalah formulasi. Setiap krim ditandai dengan "kanan" atau "kiri" yang
menunjukkan penerapan krim yang ke pipi masing-masing. Krim digunakan dua
kali sehari oleh relawan seperti selama 60 hari. Selanjutnya tiap relawan diminta
datang pada 1, 2, 3 dan 4 minggu untuk pengukuran sebum kulit.
Proyek ini merupakan langkah awal untuk mengeksplorasi potensi
mentimun untuk peremajaan kulit dalam bentuk krim topikal. Dari hasil

penemuan kami, kami menyimpulkan bahwa krim topikal stabil (w/o emulsi)
yang mengandung ekstrak mentimun dapat menurunkan kadar melanin dalam
kulit, yang menunjukkan bahwa formulasi ini memiliki kegunaan sebagai
whitening. Krim ini juga menurunkan kadar sebum pada kulit, ini menunjukkan
bahwa formulasi memiliki khasiat anti-jerawat. Formulasi ini dapat juga
mengurangi kadar air dalam kulit dan meningkatkan TEWL yang memperkuat
efek anti-jerawat.
Lemon (Citrus medica L.)

Menurut Tumane et al. (2014)8, bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Citrus aurantium L. (jeruk) dan Citrus medica L. (lemon). Menggunakan
kulit buah yang dikumpulkan dari toko jus buah lokal. Setelah terkumpul, kulit
yang dikeringkan pada suhu kamar (30-35C). Kemudian 20 gram kulit jeruk dan
lemon yang kasar digerus menggunakan mortir, yang selanjutnya dihaluskan

menggunakan blender listrik agar menjadi bubuk. Serbuk itu disimpan dalam
wadah tertutup.
Untuk persiapan ekstrak, bahan berupa kulit kering dan bubuk (20 gram)
diekstraksi dengan 200 ml masing-masing pelarut secara terpisah dengan
menggunakan ekstraktor soxhlet selama 2 sampai 5 jam pada suhu yang tidak
melebihi titik didih dari solvent. Pelarut yang digunakan untuk penelitian adalah
metanol, petroleum eter, aseton, etanol dan n-Hexane. Selanjutnya ekstrak
tersebut disaring dan kemudian dipekatkan sampai kering. Ekstrak dipindahkan ke
dalam botol kaca dan disimpan pada suhu 4C sebelum digunakan. Untuk
menghasilkan larutan stok 100 mg/ml, ekstrak dilarutkan dalam 25% dimetil
sulfoxide (DMSO).
Tahapan selanjutnya, pengujian ekstrak terhadap aktivitas mikroba secara
in-vitro. Bakteri diisolasi dari luka yang terinfeksi sampel pasien. Aktivitas
antibakteri ekstrak kulit jeruk dan lemon diuji terhadap E. coli, S. aureus, Ps.
aeruginosa, Klebsiella spp., Proteus vulgaris, Proteus mirabilis, S. epidermidis,
Serratia spp., Streptococcus spp., Propionibacterium acne, Enterococcus spp.
Isolat tersebut disimpan dalam Nutrient agar pada suhu 4C untuk penggunaan
lebih lanjut. Pengujian antimikroba, disiapkan piring petri steril, Tambahkan
larutan Mueller Hinton Agar sekitar 40C dan memantapkan piring petri. Setelah
pemadatan 6 mm ditambahkan ekstrak tersebut kedalamnya. Piring tersebut
diinkubasi satu malam pada 37C. Setelah diinkubasi, zona inhibisi diukur dan
direkam.
Dari hasil penelitian menunjukkan aktivitas antibakteri yang signifikan
terhadap semua organisme uji. Terlihat bahwa ekstrak kulit Citrus medica (lemon)
menunjukkan sifat antibakteri yang sangat baik bila dibandingkan dengan Citrus
aurantium (jeruk). Perbedaan aktivitas antibakteri dengan sumber yang sama
ketika diekstraksi dengan pelarut yang berbeda telah membuktikan bahwa tidak
semua kandungan fitokimia yang turut membantu aktivitas antibakteri yang larut
dalam satu

pelarut. Oleh karena itu pelarut polaritas yang berbeda harus

digunakan seperti yang dibahas dalam penelitian ini (polar: air, aseton, etanol,
non-polar: etil asetat, petroleum eter). sequential atau ekstraksi pelarut berturutturut adalah sebagai pilihan yang baik untuk kelarutan yang lebih baik dengan

selalu perlu untuk mengetahui fitokimia diekstraksi oleh masing-masing pelarut


individu untuk menghindari masuknya pelarut yang tidak perlu dalam proses
ekstraksi dan untuk memahami peran masing-masing pelarut dalam ekstraksi
individu atau kelompok fitokimia.
Dapat disimpulkan bahwa penelitian ini telah mengevaluasi aktivitas
antibakteri pada ekstrak kulit Citrus medica dan Citrus aurantium yang diperoleh
dari pelarut yang berbeda terhadap organisme uji yang diisolasi dari luka infeksi.
Pada evaluasi dilakukan isolasi senyawa murni untuk menarik kesimpulan bahwa
senyawa bioaktif berkontribusi terhadap aktivitas antimikroba.
Lidah Buaya (Aloe vera)

Penelitian Sawarkar et al. (2010)9, memerlukan tanaman Ocimum sanctum


dan Tabernaemontana divaricata, konsentrat gel bubuk Aloe vera, dan minyak
pohon

teh.

Selanjutnya,

ekstrak

daun

segar

Ocimum

sanctum

dan

Tabernaemontana divaricata dikeringkan di tempat teduh hingga menjadi bubuk.

Bahan tanaman berupa bubuk tersebut dihilangkan seluruh lemaknya dengan


petroleum eter dan kemudian dilakukan ekstraksi Soxhlet sampai hilangnya warna
selama 4 jam untuk mendapatkan hidroalkohol dan ekstrak etanol berturut-turut.
Ekstrak yang diperoleh kemudian disaring, dilarutkan dengan air untuk membuat
pasta tebal & dikeringkan dalam vakum.
Pertama, Aloe vera gel dan Carbapol 934 dilarutkan dalam air secukupnya
dan disimpan semalam. Untuk sodum hidroksida ditambahkan untuk membentuk
gel. Aloe vera gel dan Carbapol 934 yang dicampur dengan pengadukan yang kuat
dalam gelas Beaker. Gelas tersebut direndam dalam air dan suhu dijaga hingga
mencapai di atas 50c. Campuran ekstrak Ocimum sanctum dan Tabernaemontana
divaricata yang telah ditimbang, ditambahkan gelas Beaker. Pada saat yang sama
gelas ditimbang dengan metil paraben dan proyl paraben, kemudian ditambahkan
air dan dipanaskan sampai larut. Dalam gelas lain ditimbang propilen glikol dan
polietilen glikol. Ditentukan banyaknya kuantitas dari minyak pohon teh yang
telah ditambahkan terus-menerus sambil digojok. Dengan demikian, campuran
yang diperoleh kemudian dapat digunakan untuk mendapatkan gel. Sisanya
ditambahkan air murni dan pH telah disesuaikan dengan 10% larutan natrium
hidroksida.
Persiapan sampel, solusi gel dibuat dengan menggunakan 100 mg

gel

dalam 10 ml dimetil sulfoksida (DMSO). Tetrasiklin (10 mg/ml) digunakan


sebagai kontrol positif dan DMSO sebagai kontrol negatif. Minyak hasil ekstrak
pohon teh (10mg/ml), Aloe Vera gel (10mg/ml), hidroalkohol, ekstrak Ocimum
sanctum

(10mg/ml)

dan

Tabernaemontana

divaricata

(10mg/ml),

dan

menyiapkan Dimetil Sufoxide (DMSO).


Untuk formulasi antibakteri yang berbeda ditentukan dengan modifikasi
agar terdifusi baik. Dalam metode ini, piring dengan nutrien yang diunggulkan
ditambahkan kultur kaldu sebanyak 0,2 ml 24 jam. Lempeng dibiarkan kering
selama 1 jam. Steril 8 mm digunakan untuk menyerap 4 sumber air pada setiap
piring; 0,5 ml larutan formulasi; ekstrak minyak pohon teh; Aloe vera gel, yang
diformulasikan herbal dan tetrasiklin secara acak. Plat tersebut diinkubasi pada
37C selama 24 jam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa semua
formulasi memiliki efek penghambatan pada pertumbuhan jerawat. Formulasi

dengan tetrasiklin standar memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan


obat herbal anti-jerawat yang telah dipasarkan seperti ekstrak gel lidah buaya dan
minyak pohon teh. DMSO tidak memiliki aktivitas yang signifikan.
Dapat disimpulkan bahwa senyawa aktif lainnya dari formulasi yang
mengandung metabolit sekunder seperti triterpenoid, flavonoid, tanin dan
sapononis mungkin memiliki penghambat aktivitas antibakteri. Aktivitas mereka
mungkin karena kemampuan yang kompleks dengan protein ekstraseluler terlarut
dan dengan kompleks dinding sel bakteri. Mekanisme dari terpen tidak
sepenuhnya diketahui tetapi beberapa seperti gangguan pada membran oleh
lipofilik seperti anaerobik patogen yang terlibat dalam pengembangan inflamasi
jerawat. Formulasi ini memiliki kegunaan sebagai antibakteri, menghambat
tumbuhnya jerawat, dan mungkin juga mengurangi pengembangan peradangan
jerawat.
Tomat
Menurut Bhowmik et al. (2012)11, dari sisi media tomat meiliki kegunaan
antara lain sebagi pembersih kulit wajah, pengurang bakteri. Buah tomat
mengandung Lycopene tingkat tinggi, yang merupakan zat yang digunakan dalam

beberapa pembersih wajah. Jika ingin mencoba untuk penggunaan sebagai


perawatan kulit, di mulai dengan sekitar 8 sampai 12 buah tomat. Kemudian tomat
dikupas dan diletakkan dengan bagian dalam daging buah tomat menyentuh kulit
wajah. Tomat dibiarkan untuk minimal 10 menit, lalu bersihkan. Pada wajah
mungkin akan timbul bercak kemerahan beberapa saat, tetapi akan hilang seiring
waktu.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari rangkuman jurnal-jurnal adalah:
1.

Jerawat (Acne vulgaris) adalah gangguan pada sistem kelenjar yang ditandai
dengan timbulnya komedo, papula, pustula, nodul, dan bisul. Acne vulgaris
mempengaruhi lebih dari 80% dari remaja; di 3% pria dan 12% wanita.
Jerawat adalah gangguan polimorfik yang terjadi pada wajah (99%),
belakang (60%) dan dada (15%).

2.

Tananman herbal yang digunakan sebagai anti-acne vulgaris adalah


mentimun, lemon, lidah buaya, dan tomat. Secara keseluruhan tanaman
herbal tersebut mampu berfungsi sebagai anti bakteri untuk penyakit acne
vulgaris.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Tahir, Muhammad. 2010. Review Article Pathogenesis of Acne Vulgaris:


Simplified. Journal of Pakistan Association of Dermatologists. 20: 93-97.

2.

Chandersekar, L. 2013. Review Article Pathophysiology and Treatment of


Acne. Research Journal of Pharmaceutical, Biological and Chemical
Sciences. 4(2): 1355-1362.

3.

Haider, Aamir. & J. C. Shaw. 2004. Treatment of Acne Vulgaris. Journal


American Medical Association. 292(6): 726-735.

4.

Amrita, G. Greeshma, N. Deepa M. & Poornima, E.H. 2012. A Review On


Anti-Acne Potential Of Medicinal Plant Extracts Against Propionibacterium
Acne. International Journal of Pharma and Bio Sciences. 3(3): 987-997.

5.

Asima Banu, Eswari & L Akilesh Humnekar. 2011. A Prospective Study to


Determine The Effectiveness Of Clindamycin (Allopathy), Berberis
Aquifolium (Oregon Grape-Homeopathy) and Azadirachta Indica (Neem-

Ayurvedic) Medications Against The Microorganism Causing Acne Vulgaris.


Internation Basic of Medical Science. 2(2): 78-83.
6.

Dublin. 2008. Management Of Acne Vulgaris. National Medicines


Information Centre. 14(1)

7.

Akhtar, Naveed., Arshad Mehmood, Barkat Ali Khan, Tariq Mahmood, Haji
Muhammad Shoaib Khan & Tariq Saeed. 2011. Exploring Cucumber Extract
for Skin Rejuvenation. African Journal of Biotechnology. 10(7): 1206-1216.

8.

Tumane., Meshram V.G. & Wanik D.D.

2014. Comparative Study of

Antibacterial Activity of Peel Extracts of Citrus aurantium L. (Bitter Orange)


and Citrus medica L. (Lemon) Against Clinical Isolates from Wound
Infection. International Journal of Pharma and Bio Sciences. 5(1): 382-387.
9.

Sawarkar, H. A., S. S. Khadabadi, D. M. Mankar, I. A. Farooqui & N. S.


Jagtap. 2010. Development and Biologi Evaluation of Herbal Anti-Acne Gel.
International Journal of PharmTech Research. 2(3): 2028-2031.

10. Bhowmik, Debjit, K. P. S. Kumar, S. Paswan, S. Srivastava. 2012. Tomato-A


Natural Medicine and Its Health Benefits. Journal of Pharmacognosy and
Phytochemistry. 1(1): 33-43.