Anda di halaman 1dari 7

Category: Budidaya Perikanan

NILA Oreochromis niloticus


Filed under: Budidaya Perikanan Tinggalkan komentar
Desember 25, 2009

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis


ikan yang diintroduksi dari luar negeri. Bibit ikan ini didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh
Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian dan
adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani diseluruh Indonesia.
Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh pemerintah melalui Direktur Jenderal
Perikanan. Sesuai dengan nama latinnya, O. niloticus berasal dari sungai Nil dan danau-danau
yang berhubungan dengan aliran sungai itu. Ikan nila disukai oleh berbagai bangsa karena
dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan kakap merah. Sekarang ikan ini telah tersebar di
lima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di wilayah yang beriklim dingin, ikan
nila tidak dapat baik.
Bibit ikan nila telah beberapa kali didatangkan ke Indonesia, yang pertama berasal dari Taiwan.
Bibit asal Taiwan ini berwarna gelap dengan garis-garis vertikal sebanyak 6-9 buah di bagian
ekornya. Kemudian didatangkan lagi bibit ikan nila dari Filipina yang berwarna merah. Sampai
sekarang bibit nila galur asli, baik yang merah maupun yang hitam, masih didatangkan dari luar
negeri untuk memperbarui pesediaan induk (parent stock). Persediaan induk berguna untuk
menjaga agar hibrida yang dibudidayakan tidak menurun keunggulannya.
Ikan nila kini banyak dibudidayakan di berbagai daerah, karena kemampuan adaptasi bagus di
dalam berbagai jenis air. Nila dapat hidup di air tawar, air payau, dan di laut. Ikan ini juga tahan
terhadap perubahan lingkungan, bersifat omnivora, dan mampu mencerna makanan secara
efisien. Pertumbuhannya cepat dan tahan terhadap serangan penyakit.
Daging disisi badan cukup tebal sehingga baik untuk fillet (sayatan daging tanpa tulang). Fillet
nila sngat disukai oleh konsumen di luar negeri. Produk ini dapat dimasak dengan berbagai
bumbu dan saus atau dijadikan isi sandwhich.
Para pakar budi daya ikan dari Organisasi Pangan Dunia (FAO) menganjurkan agar ikan nilotica
ini dibudidayakan oleh penduduk berpenghasilan rendah untuk memperbaiki gizi keluarga. Ini
karena ikan nila cepat berkembang biak, mudah dibudidayakan, dan dapat dipelihara di kolam
yang sempit, seperti kolam pekarangan atau comberan.

TABEL 1. NEGARA PEMASOK KEBUTUHAN NILA AMERIKA SERIKAT

Sumber : U.S Departement of commerce, 1993


Nila hibrida merah dan putih telah dikembangkan dengan sistem budidaya keramba jaring apung.
System budidaya tersebut banyak dilakukan diwaduk Jatiluhur, Saguling, dan Cirata di Jawa
Barat, waduk Gajahmungkur dan waduk Kedungombo di Jawa Tengah.
Bagi Indonesia, ikan nila mempunyai arti ekonomi yang cukup penting karena nila merah yang
disebut nirah dapat diekspor. Permintaan pasar dunia meningkat dari tahun ke tahun.
Menurt Direktorat Jenderal Perikanan, ekspor ikan nila dalam bentuk fillet beku pada tahun 1993
mencapai 56% dari total impor ikan nila Amerika. Sedangkan menurut U.S. Departement of
commerce (1993), Indonesia menduduki urutan keempat sebagai pemasok ikan nila ke USA
setelah Taiwan, Kosta Rika, dan Kolombia.
Sebenarnya Amerika juga membudidayakan ikan O. niloticus dengan total produksi 90 juta pon
pada tahun 1992/1993. Namun, karena terbentur pada biaya produksi yang tinggi maka negara
ini lebih suka mengimpor.
Kebutuhan ikan nila di Amerika terus meningkat, karena harganya lebih murah dari jens ikan
lain. Ikan ini juga tidak mengandung kolesterol. Nilai lebih ini merupakan peluang bagi
Indonesia untuk meningkatkan ekspornya.
Negara lain yang juga menggemari ikan nila ialah Kuwait dan Arab Saudi. Namun, kebutuhan
tersebut telah disuplai oleh Taiwan.
1. A. Klasifikasi dan Morfologi
Menurut klasifikasi yang terbaru (1982) nama ilmiah ikan nila ialah Oreochromis niloticus.
Nama genus Oreochromis menurut klasifikasi yang berlaku sebelumnya disebut Tilapia.
Perubahan nama tersebut telah disepakati dan dipergunakan oleh para ilmuwan meskipun di
kalangan awam tetap disebut Tilapia nilotica.
Perubahan klasifikasi tersebut dipelopori oleh Dr. Trewavas (1980) dengan membagi genus
Tilapia menjadi tiga genus berdasarkan perilaku kepedulia induk ikan terhadap telur dan anakanaknya. Memang golongan ikan ini mempunyai sifat yang unik setelah memijah. Iduk betina
mengulum telur-telur yang telah dibuahi di dalam rongga mulutnya. Perilaku ini dalam bahasa
Inggris disebut mouth breeder (pengeram telur dalam mulut).

Ide Dr. Trewavas telah disepakati oleh para ahli ikan (ichthyolog) sehingga pembagian genus itu
adalah sebagai berikut.
-

Genus Oreochromis

Pada genus Oreochromis induk ikan betina mengerami telur di dalam rongga mulut dan
mengasuh sendiri anak-anaknya. Anggota genus ini adalah Oreochromis hunter, O. niloticus, O.
mossambicus, O. aures, dan O. spilurus.
-

Genus Sarotherodon

Pada genus sarotherodon induk jantanlah yang mengarami telur dan mengasuh anaknya. Contoh
spesiesnya adalah Sarotherodon melanotherdon dan S. galilaeus.
-

Genus Telapia

Ikan dalam genus Tilapia memijah dan menaruh telur pada suatu tempat atau benda (subtrat).
Induk jantan dan betina bersama-sama atau bergantian menjaga telur dan anak-anaknya. Contoh
spesiesnya adalah Tilapia sparmanii, T. rendalli, dan T. zillii.
Ikan nila (O. niloticus) bersaudara dekat dengan ikan mujair (O. mossambicus) yang telah
tersebar luas di Indonesia sejak perang dunia kedua. Ikan mujair kurang disukai petani karena
lambat prtumbuhannya, sangat rkus tapi tidak gemuk. Ikan mujair juga cepat sekali beranak
pinak sehingga sangat mengganggu ikan lain yang sama-sama dipelihara di kolam. Akibatnya
muncul anggapan bahwa mujair adalah hama yng harus diberantas.
Untuk mengantikan ikan mujair maka didatangkan bibit ikan nila dari mancanegara untuk
disebarluaskan. Ini karena ikan nila mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan. Nila efesien
dalam menggunakan pakan, bersifat omnivora, cepat pertumbuhannya, berdaging tebal, dan
mirip daging ikan kakap merah rasanya.
Setiap spesie mempunyai cirri-ciri khas. Ciri-ciri pada ikan nila adalah garis vertical yang
berwarna gelap di sirip ekor sebanyak enam buah. Garis seperti itu juga terdapat di sirip
punggung dan sirip dubur. Sedangkan mujair tidak memilki garis-garis vertikal di ekor, sirip
punggung, dan di sirip dubur.
Klasifikasi lengkap yang kini dianut oleh para ilmuwan adalah yang telah dirumuskan oleh Dr.
Trewavas.
Filum
Sub-filum
Kelas
Sub-kelas

: Chordate
: Vertebrata
: Osteichthyes
: Acanthoptherigii

Ordo

: Percomorphi

Sub-ordo

: Percoidea

Famil

: Cichlidae

Genus

: Oreochromis

Jenis (spesies)

: Oreochromis niloticus

Golongan ikan Tilapia (yang sudah dipecah menjadi tiga genus tadi) berasal dari Afrika. Sifatnya
yang produktif dan efesien dalam menggunakan pakan menyebabkan ikan ini disukai oleh
berbagai bangsa.
Para ilmuwan telah memuliakan ikan Tilapia ini dengan cara mengawinsilangkan antarjenis
sehingga diperoleh keturunan (hibrida) yang sifatnya dalam beberapa hal lebih baik dari jenis
aslinya.
Taiwan telah menghasilkan ikan nila hibrida dari hasil kawin silang antara O. niloticus dengan
O. aureus. Sedangkan Filipina menghasilkan ikan nila hibrida yang berwarna merah. kedua jenis
hibrida ini didatangkan ke Indonesia oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan.
Bibit nila hibrida asal Taiwan masuk ke Indonesia pada tahun 1969. Ikan jenis ini berwarna
kelabu kehijauan dengan garis-garis vertikal berwarna gelap pada sirip-siripnya. Namun, ikan
galur murni T. nilotica ini mudah dikawin silang secara liar dengan ikan mujair sehingga sukar
dikendalikan kemurniannya. Oleh karena itu, galur murni untuk keperluan kawin silang harus
selalu didatangkan dari luar negeri. Galur murni untuk keperluan ini disebut stok induk.
Nila hibrida asal Filipina masuk ke Indonesia pada tahun 1981 dan sudah disebarluaskan
keseluruh Indonesia. Ikan nila merah ini kemudian diberi nama ikan nirah.
Di Indonesia kini terdapat ikan nila merah yang bebrcak hitam. Selain itu, ada juga ada yang
berwarna kekuningan agak jingga atau putih (bulai). Ikan nila yang berwarna-warna itu lebih
disukai karena dagingnya lebih putihseperti ikan kakap merah. bahkan menurut penelitian
pertumbuhannya lebih cepat dibanding dengan ikan nila biasa/hitam.
1. A. Penyebaran
Ikan nila berasal dari Afrika bagian timur, seperti di sungai Nil (Mesir), Danau Tanganyika,
Chad, Nigeria, dan Kenya. Ikan ini lalu dibawa orang ke Eropa, Amerika, Negara-negara Timur
Tengah, dan Asia. Konon ikan nila ini telah dibudidayakan di 110 negara. Di Indonesia ikan nila
telah dibudidayakan di seluruh propinsi.
1. B. Habitat

Habitat artinya lingkungan hidup tertentu sebagai tempat tumbuhan atau hewan hidup dan
berkembang biak.
Ikan nila terkenal sebagai ikan yang sangat tahan terhadap perubahan lingkungan hidup. Nila
dapat hidup di lingkungan air tawar, air payau, dan air asin. Kadar garam air yang disukai antara
0-35 permil. Ikan nila air tawar dapat dipindahkan ke air asin dengan proses adaptasi yang
bertahap. Kadar garam dinaikkan sdikit demi sedikit. Pemindahan ikan nila secara mendadak ke
dalam air yang berkadar garamnya sangat berbeda dapat mengakibatkan stress dan kematian
ikan.
Ikan nila yang masih kecil lebih tahan terhadap perubahan lingkungan dibandingkan ikan yang
sudah besar. Nilai pH air tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5. Namun, pertumbuhan
optimal terjadi pada pH 7-8.
Ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan
dangkal. Nila juga dapat hidup di sungai yang tidak terlalu deras alirannya, di waduk, danau,
rawa, tambak air payau, atau di dalam jarring terapung di laut.
Suhu optimal untuk ikan nila antara 25-300 C. oleh karena itu, ikan nila cocok dipelihara di
dataran rendah sampai agak tinggi (500m dpl).
1. C. Pertumbuhan
Beberapa faktor penting yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan nila adalah sebagai
berikut.
1. 1. Kualitas air optimal
Kualitas air yan kurang baik mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Beberapa hal
yang dapat menurunkan kualitas lingkungan adalah pencemaran limbah organik, bahan buangan
zat kimia dari pabrik, serta pestisida dari penyemprotan disawah dan kebun-kebun.
Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat pertumbuhan ikan. Lai
halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya plankton. Air yang kaya akan plankton dapat
berwarna hijau kekuningan dan hijau kecoklatan karena mengandung Diatomae. Plankton ini
baik untuk makanan ikan nila. Sedangkan plankton/alga biru kurang baik untuk pertumbuhan
ikan. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan. Derajat kecerahan air diukur
dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc). Untuk di kolam dan tambak, angka
kecerahan yang baik antara 20-35 cm. cara menggunakan piring secchi adalah dengan
menenggelamkannya di kolam/tambak pada kedalaman air 20-35 cm. bila angka secchi kurang
dari 20 cm berarti plankton terlalu padat. Ini berbahaya bagi ikan karena plankton yang pekat itu
dapat mati serentak dan membusuk dalam air sehingga air menjadi baud an kekurangan oksigen.
Akibatnya ikan akan mati.
1. 2. Makanan

Ikan nila akan mampu tumbuh cepat hanya dengan pakan yang mengandung protein sebanyak
20-25%. Sedangkan ikan mas hanya dapat tumbuh baik bila kadar protein pakannya 30-45%.
Nila bersifat omnivore. Nila akan cepat tumbuh bila hidup di perairan yang banyak ditumbuhi
oleh tumbuhan lunak, seperti Hydrilla, ganggang sutera, plankton, dan kelakap.
Komentar

Obat Bahan Alam


Filed under: Budidaya Perikanan Tinggalkan komentar
Desember 23, 2009
Telah dilakukan penelitian aktivitas imunostimulan pada mencit BALB/c terhadap daun
Eupatorium inulifolium H.B.K., batang Tinospora crispa (L.) Miers ex Hook. f. & Thoms, herba
Centella asiatica (L.) Urban, daun Dendrophthoe pentandra (L.) Miq., rimpang Curcuma
zedoaria (Berg.) Roscoe, rimpang dan umbi Kaempferia rotunda L., rimpang Curcuma mangga
Val. & van Zijp. Ekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 70% untuk daun dan batang,
serta pelarut n-heksana untuk rimpang. Evaluasi aktivitas imunostimulan (aktivitas respon imun
spesifik, non-spesifik, humoral dan seluler) dengan empat metode : bersihan karbon, peningkatan
bobot limpa dan jumlah sel limfosit limpa, penentuan titer antibodi, dan hipersensitivitas tipe
lambat. Dalam penapisan, semua ekstrak uji dapat meningkatkan kemampuan fagositosis partikel
karbon, dan jumlah sel limfosit limpa dibandingkan kontrol dan Dendrophthoe pentandra (L.)
Miq paling bermakna. Fraksi aktif Dendrophthoe pentandra (L.) Miq adalah fraksi n-heksana
(HD) dan fraksi etanol (ED). Hasil fraksinasi HD dengan KCV dengan pelarut landaian nheksana- etil asetat diperoleh delapan subfraksi, sedangkan ED dengan pelarut landaian nheksana- etil asetat dan etil asetat metanol diperoleh enam subfraksi. Fraksi HD dan subfraksi
n-heksana (HD5) serta fraksi etanol (ED) dan subfraksi etanol (ED4) menunjukkan aktivitas
imunostimulan dengan metode bersihan karbon dan peningkatan bobot limpa dan jumlah sel
limfosit limpa.
(1) HD54 dan ED44 menunjukkan aktivitas imunostimulan non-spesifik. Aktivitas ED44
(dosis 16 mg/kg bb) paling kuat dengan indeks fagositosis K = 1,78 (P<0,05), sebanding dengan
HD54 (dosis 1 mg/kg bb) dengan K = 1,70 (P<0,05). Aktivitas kedua isolat sebanding dengan
pembanding Zymosan A (dosis 10 mg/kg bb) dengan K = 1,44 (P<0,05).
(2) ED44 (dosis 8 mg/kg bb) meningkatkan jumlah sel limfosit limpa paling tinggi sebesar
72,88 % dibandingkan terhadap kontrol (P<0,01), berbeda bermakna (P<0,05) terhadap
pembanding Zymosan A (41,90 %). Dan HD54 (dosis 1 mg/kg bb) meningkatkan sebesar 53,44
% (P<0,01), tidak berbeda bermakna dengan pembanding Zymosan A. Kedua isolat tidak
berbeda secara bermakna.
(3) ED44 (dosis 16 mg/kg bb) HD54 (dosis 2 mg/kg bb) menunjukkan titer antibodi paling
tinggi baik pada mencit normal (ED44 dengan pengenceran 1 : 3328 dan HD54 dengan
pengenceran 1 : 1536) maupun yang tertekan sistem imunnya oleh prednison (pengenceran 1 :
4608 untuk ED44 dan pengenceran 1 : 3072 untuk HD54). Titer antibodi keduanya lebih besar
dibandingkan pembanding Zymosan A (dosis 10 mg/kg bb) pada mencit normal maupun yang
tertekan sistem imunnya (pengenceran 1 : 1024 dan pengenceran 1 : 1280).
(4) HD54 (dosis 4 mg/kg bb) dan ED44 (dosis 4 mg/kg bb) menunjukkan respon imun seluler
secara bermakna (P < 0,01) dibandingkan dengan kontrol pada mencit normal. Keduanya tidak

berbeda secara bermakna ( P < 0,05) pada dosis sama terhadap peningkatan ketebalan kaki
mencit dan lebih besar dibandingkan dengan kelompok Zymosan A (P < 0,05) pada mencit
normal. Pada mencit yang tertekan sistem imun dengan pemberian prednison, HD54
meningkatkan efek imunostimulasi lebih besar dan bermakna dari isolat ED44, dan tidak berbeda
bermakna dengan Zymosan A (P < 0,05).Hasil karakterisasi isolat dengan spektrofotometri
ultraviolet-visible, spektrofotometri inframerah, spektrometri massa dan spektrometri resonansi
magnet inti menunjukkan bahwa isolat HD54 adalah -sitosterol dan ED44 adalah kuersitrin.
Isolat HD54 dan ED44 sampai dosis 2000 mg/kg bb mencit tidak toksik setelah dilakukan uji
toksisitas akut oral.
Sumber : leugeu.wordpress.com/category/budidaya-perikanan/