Anda di halaman 1dari 2

Material dan Metode

Subjek
Studi dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Umum di India Utara. Pasien yang dimasukkan ke dalam
penelitian adalah pasien rawat jalan dan rawat inap. Subjek yang diambil sebanyak 30 pasien
yang telah resisten terhadap penatalaksanaan farmakologik skizofrenia (Treatment Resistant
schizophrenia / TRS). Kriteria inklusi adalah:
1. Pasien dengan umur 16 sampai 65 tahun
2. Pasien menderita skizofrenia berdasarkan ICD 10
3. Pasien memenuhi kriteria TRS, berdasarka kriteria TRS dari Kane et al (1988), yang
didefiniskan sebagai:
a. Setidak-tidaknya dua obat sebelumnya dengan diberikan 400-600 mg klorpromazin
(atau yang sejenis) selama 2 minggu namun tidak ada perbaikan yang signifikan
b. Gejala psikotik yang persisten, ditandai dengan nilai skor > 45 dalam 18 item skor
Brief Psychiatric Rating Scale
c. Durasi sakit berlangsung lebih dari satu tahun
4. Pasien didampingi oleh pendamping yang dapat dipercaya / diandalkan
5. Pasien dan pendampingnya bersedia mengikuti uji klinis ini dan memberikan informasi
serta menerima tindakan anestesi dan ECT
Kriteria eksklusi
1. Pasien yang menderita penyakit fisik, yang memengaruhi gejala skizofrenia dan tidak
memenuhi indikasi anestesi
2. Pasien yang menderita penyakit kejiwaan lain (komorbid), kecuali ketergantungan
nikotin
3. Pasien yang mendapatkan terapi ECT dalam satu tahun terakhir
4. Pasien yang mendapatkan terapi ECT sebanyak 4 kali dalam beberapa waktu terakhir
namun tidak ada perubahan yang signifikan
5. Pasien yang memiliki kemampuan intelegensi yang kurang
Studi ini adalah studi longitudinal dengan tiga penilaian, satu pada baseline (sebelum di terapi),
kedua setelah tindakan ECT yang ke 4, dan ketiga setelah tindakan ECT yang ke 6

Teknik ECT
Pasien diberikan terapi ECT sebanyak 2 kali dalam seminggu. Total jumlah pertemuan tidak
ditentukan sebelumnya. Pasien akan diberikan ECT sepanjang mereka mengalami kemajuan
yang signifika dalam 2 sesi ECT berturut-turut. Namun, penelitian sebelumnya menunjukkan
perbaikan setelah enam kali sesi ECT. Setelah menyiapkan pasien untuk ECT, lead bitemporal
disiapkan dan mesin ECT diatur. Sebelum dilakukan ECT, dilakukan anestesi umum dengan
tiopentin 4-5 mg/kgBB. Suksinilkolin 1mg/kgBB diberikan sebagai perelaksasi otot. Pasien
diberikan ventilasi menggunakan face mask dengan dialiri oksigen 100%.