Anda di halaman 1dari 97

PERBEDAAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA

MEROKOK PADA REMAJA SMP DI PEDESAAN DAN


PERKOTAAN DI KABUPATEN JEMBER

SKRIPSI

oleh
Alfian Fahrosi
Nim 082310101069

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2013

PERBEDAAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA


MEROKOK PADA REMAJA SMP DI PEDESAAN DAN
PERKOTAAN DI KABUPATEN JEMBER

SKRIPSI
diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat
untuk menyelesaikan Program Studi Ilmu Keperawatan (S1)
dan mencapai gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep.)

oleh
Alfian Fahrosi
Nim 082310101069

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2013

ii

iii

PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan untuk:
1.

ayahku Abdus Syukur dan Ibuku Riwut Indrawati tercinta, adikku Taufani
Ramadhan, serta Fitri Astuti Hasanah yang setia menemaniku dari awal
hingga akhir;

2.

segenap guru di TK Dharmawanita Sumberbaru, SDN 3 Yosorati


Sumberbaru, SMPN 3 Tanggul, SMAN 2 Jember dan seluruh dosen, staf dan
karyawan Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember;

3.

almamater Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember;

4.

seluruh teman-temanku angkatan 2008;

5.

teman-temanku seperjuangan, pandu, tony, ferry, eka afdi, riskasari, mega,


dita, mifta dwi, ervina, putri, dan septian.

iv

MOTO
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati,
semuanya akan diminta pertanggungjawabannya.
(QS Bani Israil : 36)1

Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal,


tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh
(Confusius)

1. Departemen Agama RI. 2006. Al Quran dan Terjemahannya. Semarang: PT


Kumudasmono Grafindo.

SKRIPSI

PERBEDAAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA


MEROKOK PADA REMAJA SMP DI PEDESAAN DAN
PERKOTAAN DI KABUPATEN JEMBER

Oleh
Alfian Fahrosi
NIM. 082310101069

Pembimbing

Dosen Pembimbing Utama

: Ns. Latifa Aini S., M.Kep., Sp.Kep.Kom.

Dosen Pembimbing Anggota

: Ns. Dodi Wijaya, M.Kep.

vi

vii

Perbedaan Tingkat Pengetahuan tentang Bahaya Merokok pada Remaja SMP di


Pedesaan dan Perkotaan di Kabupaten Jember. (The Differences Level of
Knowledge about Smoking Hazard for Adolescents in Rural and Urban areas
Junior High Schools Jember Regency).

Alfian Fahrosi

Nursing Science Study Program, Jember University

ABSTRACT
Smoking is an activity issued by burning tobacco smoke directly through the
mouth and using a pipe. Smoking habit has become a culture in Indonesia.
Adolescents, adults, and even children are familiar with the deadly object.
According to the characteristics of residence, smoking prevalence at 37.4 % rural
and 32.3 % urban. This study aims to Know the different levels of knowledge
about the dangers of differences in smoking in adolescents in secondary schools
in rural and urban areas in Jember. Type of research that will be used in this
study was an observational study using the analytic approach Cross sectional
design. The samples in this study are students of SMP Negeri 1 Tempurejo in
District Tempurejo and SMP Negeri 6 Jember in the district Kaliwates with a
level of 95% on SMP 1 Tempurejo with population by 480 samples obtained is
equal to 217 students, and for SMP 6 Jember with a population of 678 students
with a level of 95% is equal to 245 students. Analysis of the data used in this study
is the Mann Whitney statistical test with alpha () of 5%. The results of this study
showed a difference in the level of knowledge about the dangers of smoking in
adolescents in rural and urban SMP ( p value : 0.000 ). The conclusion of this
study is that there are differences in the level of knowledge about the dangers of
smoking in adolescents in rural and urban junior high school in Jember.

Key words : Knowledge, smoking hazard, adolescent, rural and urban.

viii

RINGKASAN
Tingkat pengetahun tentang bahaya merokok pada remaja SMP di pedesaan
dan perkotaan di Kabupaten Jember; Alfian Fahrosi, 082310101069; 2013; 97
halaman; Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember.

Kebiasaan merokok sudah menjadi budaya pada bangsa Indonesia.


Remaja, dewasa, bahkan anak-anak sudah tidak asing lagi dengan benda
mematikan tersebut. Indonesia menduduki peringkat ke-3 dengan jumlah perokok
terbesar di dunia setelah China dan India dan tetap menduduki posisi ke-5 setelah
China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang pada tahun 2007. Remaja mulai
merokok karena berbagai alasan, seperti meniru perilaku orang dewasa, tekanan
dari teman sebaya, dan meniru sifat orang yang terkenal yang biasanya merokok.
Remaja yang kemungkinan memiliki perilaku merokok yang rendah
adalah remaja yang keluarga dan teman-temannya tidak merokok, tertarik dalam
kegiatan akademik atau olah raga, dan mereka yang memiliki rencana akan masuk
ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Merokok menjadi faktor utama penyebab
penyakit pembuluh darah dan jantung tersebut. Perilaku merokok akan
memberikan dampak bagi kesehatan secara jangka pendek maupun jangka
panjang, yang nantinya akan ditanggung tidak saja oleh perokok sendiri, tetapi
juga orang lain.
Menurut karakteristik tempat tinggal, prevalensi perokok di pedesaan
37,4% dan di perkotaan 32,3%. Masalah merokok yang ada di sekolah,
memerlukan intervensi yang melibatkan perawat komunitas, guru serta
masyarakat yang ada di sekolah. Program kesehatan komunitas dalam hal ini
terbagi dalam intervensi yang bersifat preventif. Yaitu antara lain pencegahan
primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan
tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di pedesaan dan
di perkotaan di Kabupaten Jember. Jenis penelitian yang akan digunakan pada
penelitian ini adalah penelitian observasinal analitik dengan menggunakan metode

ix

pendekatan Cross sectional. Populasi penelitian ini adalah siswa yang berada di
lingkungan SMP pedesaan dan SMP perkotaan. Jumlah populasi di SMP 1
Tempurejo adalah 499 siswa sedangkan jumlah populasi di SMP 6 Jember adalah
678 siswa. Jumlah sampel penelitian di SMP 1 Tempurejo adalah 217 siswa dan
di SMP 6 Jember adalah 245 siswa. Analisis data menggunakan uji Mann
Whitney. Hasil penelitian tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada
remaja SMP di pedesaan terhadap 217 responden di SMP 1 Tempurejo didapatkan
mayoritas tingkat pengetahuan remaja berada pada pengetahuan sedang (45,2%)
dan kurang (42,4%). Hasil penelitian tingkat pengetahuan tentang bahaya
merokok pada remaja SMP di perkotaan terhadap 245 responden di SMP 6
Jember didapatkan mayoritas tingkat pengetahuan remaja berada pada
pengetahuan baik (42,4%) dan sedang (26,5%).
Hasil analisis data menunjukkan bahwa p value adalah 0,000 ( =0,05).
Kesimpulannya adalah terdapat perbedaan tingkat pengetahuan tentang bahaya
merokok pada remaja SMP di pedesaan dan perkotaan di Kabupaten Jember.
Adanya perbedaan tingkat pengetahuan remaja di SMP pedesaan dan perkotaan
disebabkan oleh adanya perbedaan informasi yang didapatkan pada remaja.
Perbedaan media yang dapat diakses remaja juga menjadi faktor yang
mempengaruhi tingkat pengetahuan remaja tentang bahaya merokok. Faktor lain
yang menyebabkan adanya perbedaan tingkat pengetahuan antara lain usia, dan
jenis kelamin. Saran penelitian ini adalah perawat komunitas berperan dalam
upaya pendidikan kesehatan dan menjadi fasilitator dalam kegiatan pembelajaran
yang dilakukan guru untuk membekali siswa dengan informasi yang bermanfaat
dalam pencegahan merokok.

PRAKATA
Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul Perbedaan
Tingkat Pengetahuan Tentang Bahaya Merokok pada Remaja SMP di Pedesaan
dan Perkotaan di Kabupaten Jember. Penulis menyampaikan terimakasih kepada
seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, terutama
kepada:
1. dr. Sujono Kardis, Sp.KJ, selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Jember;
2. Ns. Latifa Aini S., M.Kep., Sp.Kom., selaku Dosen Pembimbing Utama dan
Ns. Dodi Wijaya, M.Kep., selaku Dosen Pembimbing Anggota yang telah
memberikan motivasi, bimbingan, dan saran demi kesempurnaan skripsi ini;
3. seluruh dosen, staf, karyawan Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas
Jember yang telah memberikan dukungan selama pengerjaan skripsi ini;
4. kepala SMP 1 Tempurejo beserta seluruh guru daan karyawan yang telah
mendukung saat proses penelitian;
5. kepala SMP 6 Jember beserta seluruh guru dan karyawan yang telah
mendukung saat proses penelitian;
6. siswa yang bersedia menjadi responden di SMP 1 Tempurejo dan SMP 6
Jember;
7. teman-teman PSIK terutama angkatan 2008 yang telah memberikan dukungan
dan saran selama penyusunan skripsi ini;
8. semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan skripsi ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang
membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga ini dapat bermanfaat bagi
perkembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Jember, September 2013

Penulis

xi

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL ....................................................................................

HALAMAN JUDUL .......................................................................................

ii

LEMBAR PERNYATAAN ............................................................................

iii

LEMBAR PERSEMBAHAN .........................................................................

iv

HALAMAN MOTTO ......................................................................................

HALAMAN PEMBIMBINGAN .....................................................................

vi

HALAMAN PERSETUJUAN......................................................................... vii


ABSTRAK ........................................................................................................ viii
RINGKASAN ...................................................................................................

PRAKATA .......................................................................................................

xi

DAFTAR ISI .................................................................................................... xii


BAB 1. PENDAHULUAN ..............................................................................

1.1 Latar Belakang ............................................................................

1.2 Rumusan Masalah .......................................................................

1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................

1.3.1 Tujuan Umum .....................................................................

1.3.2 Tujuan Khusus ....................................................................

1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................... 10


1.4.1 Bagi Peneliti ........................................................................ 10
1.4.2 Bagi Instansi Kesehatan ....................................................... 10
1.4.3 Bagi Keperawatan Komunitas.............................................. 10
1.4.4 Bagi Masyarakat................................................................... 11
1.5 Keaslian Penelitian ...................................................................... 12
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 13
2.1 Konsep Pengetahuan ..................................................................... 13
2.1.1 Definisi Pengetahuan ........................................................... 13

xii

2.1.2 Tingkat Pengetahuan ............................................................ 13


2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ................ 14
2.2 Konsep Remaja.............................................................................. 16
2.2.1 Definisi Remaja.................................................................... 16
2.2.2 Perubahan pada Remaja ....................................................... 17
2.2.3 Periode dan Tugas Perkembangan Remaja .......................... 19
2.2.4 Faktor yang Mempengaruhi Remaja untuk Merokok .......... 20
2.3 Konsep Merokok.......................................................................... 22
2.3.1 Pengertian Rokok ................................................................. 22
2.3.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi merokok ....................... 22
2.3.3 Bahaya Merokok .................................................................. 24
2.3.4 Dampak Merokok................................................................. 26
2.4 Konsep Desa-Kota ........................................................................ 28
2.4.1 Desa ...................................................................................... 28
2.4.2 Kota ...................................................................................... 28
2.5 Peran Perawat pada Remaja di Sekolah .................................... 29
2.6 Kerangka Teori ............................................................................. 32
BAB 3. KERANGKA KONSEP...................................................................... 34
3.1 Kerangka Konsep ........................................................................ 34
3.2 Hipotesis Penelitian ...................................................................... 35
BAB 4. METODE PENELITIAN ................................................................... 36
4.1 Desain Penelitian .......................................................................... 36
4.2 Populasi dan Sampel ................................................................... 36
4.2.1 Populasi Penelitian .............................................................. 36
4.2.2 Sampel Penelitian ................................................................ 36
4.2.3 Teknik Pengambilan Sampel............................................... 37
4.2.4 Kriteria Subjek Penelitian .................................................. 40
4.3 Tempat Penelitian ........................................................................ 40
4.4 Waktu Penelitian ......................................................................... 41
4.5 Definisi Operasional .................................................................... 42
4.6 Pengumpulan Data ...................................................................... 43

xiii

4.6.1 Sumber Data ....................................................................... 43


4.6.2 Teknik Pengumpulan Data ................................................. 43
4.6.3 Instrumen Pengumpulan Data ............................................ 45
4.6.4 Uji Validitas dan Reliabilitas ............................................. 46
4.7 Pengolahan dan Analisis Data .................................................... 47
4.7.1 Editing ................................................................................. 47
4.7.2 Coding ................................................................................. 48
4.7.3 Entry data ............................................................................ 49
4.7.4 Cleaning .............................................................................. 49
4.7.5 Analisis Data ....................................................................... 49
4.8 Etika Penelitian ............................................................................ 50
4.8.1 informed Consent ................................................................. 51
4.8.2 Anonimity (tanpa nama) ....................................................... 51
4.8.3 Confidentially (kerahasiaan) ................................................ 51
4.8.4 Balancing Harms and Benefits (manfaat dan kerugian) ...... 52
4.8.5 Justice (keadilan) ................................................................. 52
BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN ...........................................................

53

5.1 Hasil Penelitian .............................................................................

54

5.1.1 Hasil Analisis Univariat ....................................................... 54


5.1.2 Hasil Analisis Bivariat ......................................................... 60
5.2 Pembahasan ..................................................................................

61

5.2.1 Karakteristik Siswa SMP di Pedesaan dan Perkotaan..........

61

5.2.2 Tingkat Pengetahuan tentang Bahaya Merokok pada


Remaja SMP di Pedesaan dan Perkotaan ..........................
5.2.3 Perbedaan

Tingkat

Pengetahuan

tentang

63

Bahaya

Merokok pada remaja di pedesaan dan perkotaan............... 69


5.3 Keterbatasan Peneliti ................................................................... 72
5.4 Implikasi Keperawatan ................................................................ 72
BAB 6. PENUTUP ............................................................................................ 74
6.1 Kesimpulan.................................................................................... 74
6.2 Saran .............................................................................................. 75

xiv

6.2.1 Bagi Remaja ......................................................................... 75


6.2.2 Bagi Sekolah ........................................................................ 75
6.2.3 Bagi Penelitian Selanjutnya ................................................. 76
6.2.4 Bagi Tenaga Kesehatan ........................................................ 76
6.2.5 Bagi Pelayanan Keperawatan Komunitas ............................ 76
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 78
LAMPIRAN

xv

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Teori ................................................................................ 33
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian ........................................................... 34

xvi

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1 Jumlah Sampel pada Setiap Kelas ...................................................... 38
Tabel 4.2 Variabel Definisi Operasional ............................................................. 42
Tabel 4.3 Blue Print Kuesioner Pengetahuan Remaja Bahaya Merokok ........... 45
Tabel 5.1 Distribusi responden berdasarkan umur, jenis kelamin dan informasi
yang didapat mengenai bahaya merokok di SMP 1 Tempurejo dan SMP
6 Jember Kabupaten Jember pada bulan Agustus-September (n1: 217
dan n2 : 245). ....................................................................................... 55
Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan tingkat Pengetahuan tentang Bahaya
Merokok Baik, Sedang dan Kurang pada Remaja SMP 1 Tempurejo
dan SMP 6 Jember di Kabupaten Jember pada Bulan AgustusSeptember Tahun 2013 (n1: 217 dan n2 : 245). .................................. 57
Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Perbedaan Tingkat Pengetahuan
tentang Bahaya Merokok Baik, Sedang dan Kurang pada Remaja SMP
1 Tempurejo dan SMP 6 Jember di Kabupaten Jember pada Bulan
Agustus-September Tahun 2013 (n1: 217 dan n2 : 245................

xvii

60

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A. Lembar Informed
Lampiran B. Lembar Consent
Lampiran C. Kuesioner Penelitian
Lampiran D. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
Lampiran E. Analisis Data
Lampiran F. Foto Penelitian
Lampiran G. Surat Rekomendasi
Lampiran F. Surat Keterangan

xviii

BAB 1. PENDAHULUAN

Pada bab ini dijelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan,
manfaat, dan keaslian penelitian dari perbedaan tingkat pengetahuan tentang
bahaya merokok pada remaja SMP di pedesaan dan perkotaan.

1.1

Latar Belakang
Remaja adalah harapan bangsa, sehingga tidak berlebihan jika dikatakan

bahwa masa depan bangsa akan ditentukan pada keadaan remaja saat ini. Remaja
yang sehat dan berkualitas menjadi perhatian serius bagi orang tua, praktisi
pendidikan, ataupun remaja itu sendiri. Remaja yang sehat adalah remaja yang
produktif dan kreatif sesuai dengan tahap perkembangannya. Remaja dalam
perkembangannya, sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan. Lingkungan
sosial budaya yang negatif merupakan faktor bagi remaja untuk terjebak dalam
perilaku yang tidak sehat, misalnya merokok, minum minuman keras, penggunaan
narkoba, seks pranikah, tawuran, tindakan kriminal, dan kebut-kebutan di jalan.
Perilaku remaja yang dianggap menyimpang ini sangat berisiko terhadap
kesehatan dan keselamatan mereka (Tarwoto et al, 2009).
Remaja merupakan masa yang paling rawan akan pengaruh dari lingkungan.
Pergaulan mempengaruhi seseorang dan berkaitan dengan kebiasaan merokok.
Pengaruh teman dan kelompok sangat kuat bagi seorang remaja memutuskan
merokok atau tidak. Remaja akan berusaha mengikuti kebiasaan dari kelompok

atau teman agar diterima di kelompok tersebut. Hal ini juga dapat disebabkan rasa
percaya diri yang rendah sehingga cenderung mengadopsi kebiasaan yang berlaku
seperti kebiasaan merokok (BPOM RI, 2011).
Kebiasaan merokok sudah menjadi budaya pada bangsa Indonesia. Remaja,
dewasa, bahkan anak-anak sudah tidak asing lagi dengan benda mematikan
tersebut. Perilaku merokok yang dilakukan oleh remaja sering kita lihat di
berbagai tempat, misalnya di warung dekat sekolah, perjalanan menuju sekolah,
halte bus, kendaraan pribadi, angkutan umum, bahkan di lingkungan rumah. Hal
ini sudah menjadi pemandangan yang biasa dan jarang mendapat perhatian
masyarakat, padahal perilaku tersebut berbahaya bagi remaja dan orang di
sekitarnya (Kemenkes RI, 2012).
Merokok merupakan masalah yang belum dapat terselesaikan hingga saat
ini. Merokok sudah melanda berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, baik
anak-anak sampai orang tua, laki-laki maupun perempuan. Salah satu sasaran
program perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat adalah menurunnya
prevalensi perokok serta meningkatnya lingkungan sehat bebas rokok di sekolah,
tempat kerja dan tempat umum (Kemenkes RI, 2010).
Indonesia menduduki peringkat ke-3 dengan jumlah perokok terbesar di
dunia setelah China dan India dan tetap menduduki posisi ke-5 setelah China,
Amerika Serikat, Rusia dan Jepang pada tahun 2007 (WHO, 2008). Lebih dari
40,3 juta anak Indonesia berusia 0-14 tahun terpapar dengan asap rokok (menjadi
perokok aktif maupun perokok pasif). Hal ini menyebabkan perkembangan

pertumbuhan paru anak tersebut menjadi lambat, dan lebih mudah terkena infeksi
saluran pernafasan, infeksi telinga dan asma (Kemenkes RI, 2010).
Menurut WHO (2008) setiap 6,5 detik satu orang meninggal karena rokok.
Riset WHO (2008) memperkirakan bahwa orang yang mulai merokok pada usia
remaja (70% perokok pada usia dini) dan terus menerus merokok sampai 2 dekade
atau lebih, akan meninggal 20-25 tahun lebih awal dari orang yang tidak pernah
menyentuh rokok. Menurut Saprudin (2007) dalam Tarwoto et al, alasan remaja
di Depok, Jawa Barat merokok adalah karena melihat teman (28,43%), melihat
orang tua/ keluarga (19,61%), melihat tokoh artis di televisi (16,66%), melihat
guru (9,8%), menghilangkan stres (3,92%), dan karena tidak pernah mendapatkan
informasi tentang bahaya merokok (10,79%).
Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) menunjukkan terjadi
peningkatan perokok remaja yang cukup mengkhawatirkan. Prevalensi

merokok

terus meningkat baik pada laki-laki maupun perempuan. Prevalensi merokok pada
perempuan meningkat empat kali lipat dari 1,3% pada tahun 2001 menjadi 5,2%
pada tahun 2007. Menurut Global Youth Tobacco Survey (GYTS) (2009) 30,4%
remaja usia 13-15 tahun pernah merokok (57,8% laki-laki pernah merokok dan
6,4% perempuan pernah merokok), dan 20,3% remaja usia 13-15 adalah perokok
aktif.
Remaja mulai merokok karena berbagai alasan, seperti meniru perilaku
orang dewasa, tekanan dari teman sebaya, dan meniru sifat orang yang terkenal
yang biasanya merokok. Remaja yang kemungkinan memiliki perilaku merokok
yang rendah adalah remaja yang keluarga dan teman-temannya tidak merokok,

tertarik dalam kegiatan akademik atau olah raga, dan mereka yang memiliki
rencana akan masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Wong, 2009).
Merokok menjadi faktor utama penyebab penyakit pembuluh darah dan
jantung tersebut. Perilaku merokok akan memberikan dampak bagi kesehatan
secara jangka pendek maupun jangka panjang, yang nantinya akan ditanggung
tidak saja oleh perokok sendiri, tetapi juga orang lain (Tarwoto, et al, 2010).
Merokok akan mempengaruhi lingkungan, orang lain, atau orang terdekat.
Seorang yang bukan perokok bila terus-menerus terkena asap rokok dapat
menerima dampak yang sama

dengan perokok. Merokok juga

dapat

mengakibatkan napas berbau, warna kecokelatan pada kuku dan gigi, serta bau
yang tidak enak pada rambut dan pakaian, disamping itu kulit menjadi lebih
keriput lebih awal (Kemenkes RI, 2003).
Perilaku merokok merupakan perilaku yang dapat membahayakan
kesehatan. Perilaku seseorang tidak akan terlepas dari pengaruh lingkungannya.
Lingkungan yang terdekat dari individu adalah keluarga. Sosial budaya keluarga
akan membentuk perilaku seseorang termasuk perilaku merokok seseorang.
World Health Organization (WHO) telah mengeluarkan Framework
Convention on Tobacco Control (FCTC) yang merupakan perjanjian internasional
yang bertujuan untuk melindungi generasi saat ini dan yang akan datang dari
bahaya rokok dan paparan asapnya. Sejak tahun 1987, WHO menciptakan Hari
Tembakau Sedunia yang diperingati setiap tanggal 31 Mei. Pemerintah Indonesia
telah menyusun berbagai peraturan yang mengatur perlindungan terhadap
masyarakat akibat bahaya merokok, yaitu UU Kesehatan No. 36/ 2009 tentang

Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi Kesehatan, Rancangan


Peraturan Pemerintah tentang Pengamanan Produk Tembakau Sebagai Zat Adiktif
Bagi Kesehatan, Rancangan Undang- Undang Pengendalian Dampak Produk
Tembakau Terhadap Kesehatan (RUU-PDPTK) (Trihono et al, 2010).
Menurut Wong (2009), masa remaja terbagi menjadi 3 tahap, yaitu remaja
awal, remaja menengah dan remaja akhir. Pada masa remaja awal, persentase
yang mengenal rokok mungkin lebih kecil dibandingkan dengan remaja
menengah dan akhir, tetapi masa remaja awal inilah yang sangat menentukan
remaja dalam mengenal hingga mengambil tindakan merokok karena pengaruh
adaptasi, dan lain-lain. Pada periode ini pengaruh teman sebaya pada sikap, minat
dan perilaku lebih besar daripada pengaruh keluarga.
Pemerintah Republik Indonesia telah mengatur kebijakan pelarangan
merokok dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003
tentang pengamanan rokok bagi kesehatan pasal 22 mengenai Kawasan Tanpa
Rokok (KTR). Tempat umum sarana kesehatan, tempat kerja dan tempat yang
secara spesifik sebagai proses belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat
ibadah dan angkutan umum dinyatakan sebagai kawasan tanpa rokok. Penetapan
KTR di suatu wilayah pada dasarnya adalah kebijakan untuk perlindungan
terhadap perokok pasif, remaja, ibu hamil dan kelompok rentan, terhadap dampak
kesehatan akibat asap rokok, serta pencemaran udara dalam ruang (Kemenkes,
2012).
Tarwoto et al (2010) menyebutkan Usia 11-13 tahun merupakan Usia yang
dikategorikan remaja awal. Remaja pada tahap ini mulai berfokus pada

pengambilan keputusan baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Remaja dapat
memilih apa yang menurut remaja tersebut baik. Remaja merasa perlu
mengumpulkan pengalaman baru dan pengetahuan baru dan menguji suatu
pengetahuan tersebut misalnya dengan mencoba untuk merokok.
Sarwono (2011) menyebutkan usia 12-15 tahun merupakan usia yang
identik dengan coba-coba, misalnya mencoba untuk merokok dan mungkin
perilaku menyimpang lainnya. Perilaku tersebut didasarkan oleh pengetahuan
remaja tentang efek dari perilaku tersebut. Butuh himbauan orang terdekat untuk
memberi pengarahan tentang bahaya perilau yang menyimpang.
Prevalensi perokok laki-laki yang di perkotaan pada yang tidak pernah
sekolah 65,6% dan pada yang SD 71,2%. Prevalensi perokok yang di pedesaan
lebih tinggi dibanding yang di perkotaan. WHO (2010) menyatakan, di daerah
pedesaan jumlah batang rokok yang dikonsumsi sedikit lebih banyak
dibandingkan daerah perkotaan, baik pada laki-laki maupun perempuan. Menurut
karakteristik tempat tinggal, prevalensi perokok di pedesaan 37,4% dan di
perkotaan 32,3% (Riskesdas, 2010).
Daerah

perkotaan

adalah

suatu

wilayah

administratif

setingkat

desa/kelurahan yang memenuhi persyaratan tertentu dalam hal kepadatan


penduduk, persentase rumah tangga pertanian, dan sejumlah fasilitas perkotaan,
sarana pendidikan formal, sarana kesehatan umum, dan sebagainya. Sedangkan
daerah pedesaan adalah suatu wilayah administratif setingkat desa/kelurahan yang
belum memenuhi persyaratan tertentu dalam hal kepadatan penduduk, persentase

rumah tangga pertanian, dan sejumlah fasilitas perkotaan, sarana pendidikan


formal, sarana kesehatan umum, dan sebagainya (BPS, 2010).
Karakteristik penduduk yang merokok di lokasi pedesaan sebanyak 55,8%
dan penduduk yang merokok di lokasi perkotaan sebanyak 44,2%, sedangkan
prevalensi merokok tertinggi terdapat pada kelompok umur 10-14 tahun yaitu
13,6%. Secara keseluruhan pendidikan di pedesaan lebih rendah daripada
perkotaan (Riskesdas, 2010).
Kriteria desa perkotaan merupakan kriteria yang menggunakan 3 indikator
sebagai ukurannya; yaitu kepadatan penduduk per km 2 (KPD), persentase rumah
tangga pertanian (PRT), dan keberaaan atau akses untuk mencapai fasilitas
perkotaan (AFU). Provinsi Jawa Timur memiliki wilayah yang dikategorikan
pedesaan sebanyak 5670, dan perkotaan sebanyak 2836. Kabupaten jember
memiliki 166 wilayah yang dikategorikan pedesaan dan 82 wilayah yang
dikategorikan perkotaan (BPS, 2010).
Kecamatan Tempurejo merupakan kecamatan yang terdiri dari 8 wilayah
administrasi yang secara keseluruhan dikategorikan pedesaan. Kecamatan
Tempurejo memiliki luas wilayah yang terbesar akan tetapi kepadatan
penduduknya terkecil dari seluruh kecamatan di Kabupaten Jember dan tidak
memiliki

wilayah

yang

dikategorikan

perkotaan.

Kecamatan

Kaliwates

merupakan kecamatan yang terdiri dari 7 wilayah administratif yang secara


keseluruhan dikategorikan perkotaan sesuai kriteria Badan Pusat Statistik (BPS).
Kecamatan Kaliwates merupakan kecamatan yang memiliki luas wilayah terkecil

akan tetapi kepadatan penduduknya terbesar dari seluruh kecamatan di Kabupaten


Jember dan tidak memiliki wilayah yang dikategorikan pedesaan (BPS, 2010).
Informasi tentang kesehatan di pedesaan dan perkotaan sangat berbeda. Fasilitas
penunjang seperti media elektronik maupun media cetak lebih mudah untuk
diakses di perkotaan. Informasi tentang kesehatan mayoritas hanya diberikan dari
pelajaran di sekolah dan orang tua.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di kecamatan
Tempurejo didapatkan 24% remaja memiliki perilaku merokok. hasil studi
pendahuluan yang dilakukan peneliti di SMP di Tempurejo, didapatkan data
terdapat 4 SMP yang terletak di Kecamatan Tempurejo, SMPN 1 Tempurejo,
SMPN 2 Tempurejo, SMPN 3 Tempurejo dan SMPN 4 Tempurejo. SMPN 1
Tempurejo merupakan SMP yang memiliki perilaku merokok terbanyak, yaitu
25% siswa merokok, 10% diantaranya adalah siswa perempuan. Dari hasil studi
pendahuluan yang dilakukan peneliti di SMPN Kecamatan Kaliwates didapatkan
data di SMPN 6 Jember terdapat data siswa yaitu 10% siswa di SMPN 6 Jember
adalah perokok, dan 3% diantaranya adalah siswa perempuan. Masalah merokok
yang ada di sekolah, memerlukan intervensi yang melibatkan perawat komunitas,
guru serta masyarakat yang ada di sekolah. Program kesehatan komunitas dalam
hal ini terbagi dalam intervensi yang bersifat preventif antara lain pencegahan
primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.
SMPN 1 Tempurejo memiliki populasi sebanyak 480 orang dan termasuk
dalam usia remaja awal (12-14 tahun). Dari hasil survei yang dilakukan kepada 5
siswa SMPN 1 Tempurejo, 4 dari 5 siswa mengatakan tidak mengetahui bahaya

merokok. Hasil survey yang dilakukan oleh peneliti di SMPN 6 Jember,


didapatkan data populasi siswa yang terdaftar sebanyak 520 siswa. Sebanyak 15%
siswa merokok dan dari hasil survei yang dilakukan di SMPN 6 Jember kepada 5
siswa, 3 dari 5 orang mengatakan tidak mengetahui bahaya merokok.
Adanya perbedaan hasil survei tersebut mendorong peneliti untuk
melakukan penelitian tentang perbedaan tingkat pengetahuan tentang bahaya
merokok pada remaja SMP di pedesaan dan di perkotaan Kabupaten Jember.

1.2

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah, Apakah ada perbedaan tingkat

pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di pedesaan dan di


perkotaan di Kabupaten Jember.

1.3

Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum


Mengetahui adanya perbedaan perbedaan tingkat pengetahuan tentang
bahaya merokok pada remaja SMP di pedesaan dan di perkotaan di Kabupaten
Jember
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
a.

mengidentifikasi karakteristik remaja SMP di pedesaan dan perkotaan;

b.

mengidentifikasi pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di


pedesaan dan perkotaan;

10

c.

menganalisis perbedaan pengetahuan tentang bahaya merokok remaja SMP


di pedesaan dan perkotaan di Kabupaten Jember.

1.4

Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti


a.

Dapat digunakan sebagai penerapan ilmu pengetahuan penelitian dalam


bidang keperawatan;

b.

Dapat menambah informasi dan referensi tentang keilmuaan keperawatan


remaja di komunitas, khususnya mengenai tingkat pengetahuan tentang
bahaya merokok pada remaja sehingga perawat diharapkan mampu
meningkatkan kualitas keperawatan komunitas dengan kelompok remaja.

1.4.2 Bagi Instansi Kesehatan


Manfaat yang diperoleh bagi instansi kesehatan khususnya Dinas Kesehatan
Kabupaten. Manfaat bagi Dinas Kesehatan Kabupaten adalah data dan hasil
penelitian dapat dijadikan acuan dalam pembuatan kebijakan perihal pelarangan
merokok terutama pada remaja.
1.4.3 Bagi Keperawatan Komunitas
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan peningkatan kualitas asuhan
keperawatan khususnya pada keperawatan komunitas dalam bentuk prevensi
primer di wilayah sekolah khusnya pada remaja

11

1.4.4 Manfaat bagi Masyarakat


Manfaat yang dapat diperoleh bagi masyarakat khususnya remaja adalah
sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan bagi remaja untuk dapat berupaya
mencegah perilaku merokok sejak dini.

12

1.5 Keaslian Penelitian


Terdapat penelitian terdahulu yang mendasari penelitian saat ini. Penelitian
terdahulu dilakukan oleh Ratri Setianingrum (2009), dengan judul Hubungan
Tingkat Pengetahuan Remaja tentang Bahaya Merokok dengan Perilaku Merokok
pada Remaja di Desa Boro Wetan Kecamatan Banyu Urip Purworejo. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang bahaya
merokok dengan perilaku merokok pada remaja di Desa Boro. Metode penelitian
yang digunakan yaitu survei analitik dengan rancangan penelitian menggunakan
pendekatan Cross sectional. Subyek penelitian ini adalah remaja usia 13-17 tahun.
analisis data menggunakan korelasi Product Moment. Hasil penelitian diperoleh
ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok dengan
perilaku merokok pada remaja.
Penelitian saat ini yang akan dilakukan berjudul Perbedaan Tingkat Pengetahuan
tentang Bahaya Merokok pada Remaja SMP di Pedesaan dan Perkotaan di
Kabupaten Jember. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis
perbedaan tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di
pedesaan dan perkotaan di Kabupaten Jember. Jenis penelitian yang digunakan
adalah penelitian survei analitik dengan menggunakan metode pendekatan Cross
Sectional. Analisa data yang akan digunakan adalah Uji Mann Whitney.

13

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini dijelaskan tentang konsep merokok, bahaya merokok, remaja,
konsep pengetahuan dan konsep desa-kota dari penelitian perbedaan tingkat
pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di pedesaan dan
perkotaan di Kabupaten Jember.

2.1 Konsep Pengetahuan


2.1.1

Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari penginderaan manusia terhadap objek

tertentu melalui indera yang dimilikinya. Pengetahuan yang dihasilkan


dipengaruhi oleh intensitas perhatian terhadap objek. Pengetahuan merupakan
domain penting untuk terbentuknya suatu tindakan seseorang (Notoatmodjo,
2010). Menurut Mubarak et al (2007) pengetahuan merupakan hasil dari
mengingat kembali kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun
tidak sengaja setelah dilakukan pengamatan pada suatu obyek.

2.1.2

Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan seseorang terhadap objek memiliki tingkat yang berbeda,

tingkatan pengetahuan dibagi menjadi enam menurut Potter dan Perry, (2005)
yaitu:
a. tahu (know), diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya, termasuk mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu rangsangan

13

14

yang telah diterima. Tahu (know) merupakan tingkat pengetahuan yang paling
rendah. Cara mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari meliputi
menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, dan sebagainya;
b. memahami (comprehension). Seseorang yang paham terhadap objek atau
materi mampu menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan
terhadap objek yang telah dipelajari. Menurut Mubarak et al (2007) memahami
(comprehension) diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut secara luas;
c. aplikasi (application), diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya;
d. analisis (analysis), merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi
yang telah dipelajari dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu
struktur organisasi tersebut yang berkaitan satu sama lain;
e. sintesis (synthesis), menunjukkan suatu kemampuan untuk menghubungkan
bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru;
f. evaluasi (evaluation), merupakan kemampuan untuk melakukan penilaian
terhadap suatu materi atau objek.

2.1.3

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan


Menurut Mubarak et al (2007) pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh

beberapa faktor, antara lain:

15

a.

pendidikan, merupakan bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang


lain agar orang lain tersebut dapat memahami;

b.

pekerjaan, lingkungan pekerjaan memberikan seseorang terhadap pengalaman


baik secara langsung maupun tidak langsung;

c.

umur, bertambahnya umur akan menjadikan seseorang mengalami perubahan


baik perubahan fisik dan mental;

d.

minat, dapat menjadikan seseorang untuk mencoba menekuni suatu hal yang
akhirnya dapat memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam;

e.

pengalaman, suatu kejadian yang pernah dialami oleh seseorang sebagai


akibat interaksi dengan lingkungannya;

f.

kebudayaan lingkungan sekitar, hal ini dapat mempengaruhi terhadap


pembentukan sikap seseorang;

g.

informasi, hal ini dapat mempercepat seseorang untuk memperoleh


pengetahuan baru.
Pendidikan, umur, minat, pengalaman, kebudayaan lingkungan sekitar, dan

informasi merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan dari


seorang anak yang dapat diambil dari faktor-faktor yang mempengaruhi
pengetahuan oleh Mubarak et al, (2007).

16

2.2

Konsep Remaja

2.2.1 Definisi Remaja


Menurut WHO, remaja merupakan masa berkembangnya individu yang
dimulai dari individu tersebut menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya
hingga individu tersebut mencapai kematangan seksualnya. Saat masuk ke periode
remaja, individu tersebut akan mengalami berbagai perkembangan diantaranya
perkembangan biologik, psikologis dan sosiologik yang saling terkait antara satu
dengan yang lainnya. Batasan usia remaja menurut WHO adalah individu yang
berusia antara 10-18 tahun. Di lain pihak, menurut BKKBN usia remaja dimulai
pada usia 10 tahun dan berakhir pada usia 21 tahun (Poltekes Depkes, 2010).
Definisi mengenai remaja tidak hanya melibatkan pertimbangan mengenai
usia saja tetapi juga menyangkut aspek sosio-historis seperti yang sudah
dijelaskan di awal. Pertimbangan konteks sosio-historis dapat mendefinisikan
bahwa masa remaja atau biasa disebut dengan istilah adolescence merupakan
suatu periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa
dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional. Sebenarnya tugas pokok dari remaja adalah mempersiapkan individu
untuk masuk ke masa dewasa. Para ahli membedakan masa remaja menjadi dua
tahap, yaitu periode awal dan periode akhir. Masa remaja awal (early adolesence)
merupakan masa remaja yang kurang lebih berlangsung di masa sekolah
menengah pertama atau sekolah menengah akhir dan merupakan perubahan
pubertas terbesar yang terjadi. Masa remaja akhir ( late adolescence ) merupakan

17

periode yang terjadi kurang lebih pada pertengahan dasawarsa yang kedua dari
kehidupan (Santrock, 2007).

2.2.2 Perubahan Remaja


Lerner dan Hultsch dalam Agustiani (2006) mengatakan bahwa proses
perubahan dan interaksi antara beberapa aspek yang berubah selama masa remaja,
antara lain:
a.

Perubahan Fisik

Rangkaian perubahan yang paling jelas yang nampak dialami oleh remaja adalah
perubahan biologis dan fisiologis yang berlangsung pada masa pubertas atau pada
awal masa remaja, yaitu sekitar umur 11-15 tahun pada wanita dan 12-16 tahun
pada pria. Hormon-hormon baru diproduksi oleh kelenjar endokrin yang
membawa perubahan dalam ciri-ciri seks primer dan memunculkan ciri-ciri seks
sekunder. Gejala ini memberi isyarat bahwa fungsi reproduksi atau kemampuan
untuk menghasilkan keturunan sudah mulai bekerja. Berlangsung pula
pertumbuhan yang pesat pada tubuh dan anggota-anggota tubuh untuk mencapai
proporsi seperti orang dewasa.
b.

Perubahan Emosionalitas

Akibat langsung dari perubahan fisik dan hormonal adalah perubahan dalam
aspek emosionalitas pada remaja. Hormonal menyebabkan perubahan seksual dan
menimbulkan dorongan-dorongan dan perasaan-perasaan baru. Keseimbangan
hormonal yang baru menyebabkan individu merasakan hal-hal yang belum pernah
dirasakan sebelumnya. Keterbatasannya untuk secara kognitif mengolah

18

perubahan-perubahan baru hal tersebut bisa membawa perubahan besar dalam


fluktuasi emosionalnya. Pengaruh-pengaruh sosial yang juga berubah, seperti
tekanan dari teman sebaya, media masa dan minat pada lawan jenis, remaja
menjadi lebih terorientasi secara seksual. Hal tersebut menuntut kemampuan
pengendalian dan pengaturan baru atas perilakunya.
c.

Perubahan Kognitif

Semua perubahan fisik yang membawa implikasi perubahan emosional tersebut


makin rumit oleh adanya fakta bahwa individu remaja juga mengalami perubahan
kognitif. Perubahan dalam kemampuan berpikir ini diungkapkan oleh Piaget
(1972) sebagai tahap terakhir yang disebut sebagai tahap formal operation dalam
perkembangan kognitifnya.
d.

Implikasi Psikososial

Secara psikologis proses-proses dalam diri remaja semuanya tengah mengalami


perubahan, dan komponen-komponen fisik, fisiologis, emosional, dan kognitif
sedang mengalami perubahan besar. Pada saat remaja mengalami semua
keprihatinan tersebut, yaitu pada saat remaja sangat tidak siap untuk berkutat
dengan kerumitan dan ketidakpastian, berikutnya muncul faktor-faktor lain yang
menimpa dirinya.
Menurut Erickson dalam Agustiani (2006), seorang remaja bukan sekedar
mempertanyakan siapa dirinya, tapi bagaimana dan dalam konteks apa atau dalam
kelompok apa remaja bisa menjadi bermakna dan dimaknakan. Dengan kata lain
identitas remaja tergantung pula pada bagaimana orang lain mempertimbangkan
kehadirannya karena bisa lebih dipahami mengapa keinginan untuk diakui,

19

keinginan untuk memperkuat kepercayaan diri, dan keinginan untuk menegaskan


kemandirian menjadi hal yang sangat penting bagi remaja, terutama mereka yang
akan mengakhiri masa itu.
2.2.3 Periode dan Tugas Perkembangan Remaja
Perubahan fisiologis yang terjadi pada remaja sangat unik. Remaja sudah
mengalami kematangan fisik namun terjadi keterlambatan kematangan emosional.
Ada beberapa teori perkembangan yang ada di dunia. Dari beberapa teori tersebut
terlihat tugas perkembangan remaja. Teori perkembangan remaja sebagai berikut
(Santrock, 2007):
a.

perkembangan psikososial (Erikson)


remaja dalam teori perkembangan psikososial digambarkan sebagai individu

yang membutuhkan kelompok untuk mengaktualisasikan diri. Kelompok teman


sebaya dianggap sebagai rumah yang nyaman bagi remaja. Remaja sangat
berharap bisa lepas dari orang tuanya. Mereka mulai membicarakan hal-hal yang
sebelumnya dianggap aneh bersama teman sekelompoknya. Remaja mulai
membicarakan masalah seksual, lawan jenis, model pakaian bahkan perawatan
diri. Kondisi emosional remaja sangat labil bisa berubah dengan cepat dan
melakukan segalanya untuk mengatasi stress yang dialami;
b.

perkembangan kognitif (Piaget)


remaja menurut teori perkembangan kognitif merupakan individu yang

sudah mampu melepaskan diri dari kenyataan yang ada. Remaja melakukan
pemikiran yang jauh kedepan dengan menghayalkan peristiwa yang akan terjadi.
Rasa empati kepada sesama juga mulai muncul dan sangat kuat terutama kepada

20

orang terdekatnya. Dalam diri remaja terjadi perubahan yang sangat drastis yang
berhubungan dengan perubahan sosial. Remaja akan lebih suka bergaul dan
berkumpul dengan teman sebaya dan berjenis kelamin sama. Ikatan antara remaja
dengan teman sebaya bisa lebih kuat dari pada ikatan remaja dengan orang tuanya.
Remaja berkumpul dengan teman sebayanya merupakan suatu usaha dari remaja
untuk mengaktualisasikan diri. Remaja bisa secara terbuka menolak kehadiran
remaja yang berlainan jenis. Sikap seperti ini merupakan usaha remaja untuk
menjaga kenyamanan lingkungan disekitarnya. Penolakan yang sama akan
ditunjukkan remaja kepada orang asing yang mencoba masuk dalam kelompok
yang mereka bentuk. Keputusan dan pemikiran dalam kelompok remaja lebih kuat
dari pada keputusan yang diambil dari lingkungan remaja. Solidaritas merupakan
bentuk dari rasa saling memiliki dan kekeluargaan yang ditunjukkan remaja untuk
kelompoknya (Santrock, 2007).
2.2.4 Faktor yang Mempengaruhi Remaja untuk Merokok
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Alamsyah (2007), faktor yang
mempengaruhi merokok dikelompokkan berdasarkan hal dibawah ini, yaitu:
a.

pengetahuan remaja, merupakan pengetahuan remaja tentang bahaya


merokok bagi kesehatan secara umum. Peneliti ini membaginya menjadi
beberapa sub variabel diantaranya jenis-jenis penyakit karena rokok, zat-zat
berbahaya yang terkandung di dalam rokok dan bahaya merokok bagi
kesehatan mulut dan gigi;

b.

pengaruh lingkungan sosial, merupakan situasi lingkungan sosial dari remaja


itu sendiri yang meliputi kebiasaan orang tua merokok di rumah, saudara

21

yang merokok di rumah, teman yang merokok dan pengaruh iklan tentang
rokok;
c.

sarana prasarana, merupakan hal-hal yang mendukung kebiasaan merokok


remaja yang meliputi sumber dana untuk membeli rokok, tempat untuk
merokok, dan waktu untuk merokok;

d.

alasan psikologis, merupakan alasan psikologis remaja untuk merokok yang


meliputi pengaruh perasaan positif yaitu merokok dapat meningkatkan
kesenangan, pengaruh perasaan negatif yaitu merokok dapat mengurangi
perasaan negatif seperti marah, gelisah dan lain-lain, merokok dapat
menyebabkan kecanduan, kebiasaan dan gengsi;

e.

sikap remaja, sikap remaja dalam merokok menjadi salah satu aspek yang
penting mengenai perilaku merokok. Jika sikap remaja baik terhadap bahaya
merokok maka tidak ada remaja merokok.

22

2.3

Konsep Merokok

2.3.1

Pengertian Rokok dan Merokok


Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120

mm (bervariasi tergantung negara). Diameter sekitar 10 mm yang berisi daundaun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan
dibiarkan membara agar asapnya dihirup lewat mulut pada ujung yang lain
(Hernowo, 2007).
Merokok adalah kegiatan mengeluarkan asap dengan membakar tembakau
secara langsung melalui mulut dan dengan menggunakan pipa. Menurut sebagian
orang, merokok sebagai wujud kemandirian dan kebanggaan (Hernowo, 2007).
2.3.2

Faktor-faktor yang mempengaruhi merokok


Beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang merokok adalah sebagai

berikut:
a. pengaruh orang tua
salah satu temuan tentang remaja perokok anak-anak muda yang berasal dari
rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan
anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk
menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah
tangga yang bahagia. Remaja yang berasal dari keluarga konservatif yang
menekankan nilai sosial dan agama dengan baik dengan tujuan jangka panjang
lebih sulit terlibat dengan rokok/tembakau/obat-obatan dibandingkan dengan
keluarga yang permisif dengan penekanan falsafah mengerjakan urusan sendirisendiri, dan yang paling kuat pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi

23

figur contoh yaitu sebagai perokok berat, maka anak-anaknya akan berisiko untuk
meniru orang tuanya. Perilaku merokok lebih banyak didapati pada mereka yang
tinggal dengan satu orang tua (single parent). Remaja akan lebih cepat berperilaku
sebagai perokok bila ibu mereka merokok daripada ayah yang merokok, hal ini
terlihat pada pada remaja putri (Al Bachri, 1991 dalam Tarwoto et al, 2009);
b. pengaruh teman
berbagai fakta mengungkapkan bahwa bila semakin banyak remaja yang
merokok, maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok
dan demikian pula sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang
terjadi. Yang pertama, remaja terpengaruh oleh teman-temannya atau remaja
tersebut mempengaruhi teman-temannya, hingga akhirnya remaja dan temantemannya menjadi perokok. Di antara remaja yang merokok, 87% mempunyai
sekurang-kurangnya satu atau lebih, teman dekat/sahabat yang perokok. Begitu
juga sebaliknya (Al Bachri, 1991 dalam Tarwoto et al, 2009);
c.

faktor kepribadian
sebagian orang mecoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin

melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, dan membebaskan diri dari
kebosanan (Al Bachri dalam Tarwoto et al, 2009);
d.

pengaruh iklan
melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran

bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja sering
kali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti karakter yang ada di dalam iklan
tersebut (Juniarti dalam Tarwoto et al, 2009).

24

Apabila remaja terbiasa merokok, maka jika mendapat suatu masalah yang
tidak

terselesaikan,

cenderung

akan

menggunakan

narkoba.

Beberapa

pertimbangan antara lain bahwa tanda-tanda psikologi pada remaja yaitu sering
merasa gelisah, resah, konflik batin dengan orang tua, minat meluas, tidak
menetap, pergaulan mulai berkelompok, mulai mengenal lawan jenis, dan sekolah
tidak stabil sehingga remaja sangat berisiko untuk menggunakan NAPZA, rokok,
minuman keras, obat-obatan terlarang dan bahan berbahaya lainnya.
2.3.3

Bahaya merokok
Rokok pada dasarnya merupakan pabrik bahan kimia berbahaya. Saat

batang rokok dibakar, maka asapnya menguraikan sekitar 4000 bahan kimia
dengan

tiga

komponen

utama,

yaitu:

nikotin

yang

menyebabkan

ketergantungan/adiksi; tar yang bersifat karsinogenik; karbon monoksida yang


aktivitasnya sangat kuat terhadap hemoglobin sehingga kadar oksigen dalam
darah berkurang; dan bahan-bahan kimia lain yang sangat berbahaya bagi tubuh.
Zat-zat berbahaya tersebut meliputi: Polonin-201 (bahan radioaktif), acetone
(bahan pembuat cat), ammonia (bahan untu pencuci lantai), napthalene (bahan
kapur barus), DDT dan arsenic (bahan untuk racun serangga), hydrogen cyanida
(gas beracun untuk hukuman mati), methanol (bahan bakar roket), cadmium
(digunakan untuk accu mobil), vinyil chloride (bahan plastik PVC), phenol
bhutane (bahan korek api), carbon monoxide (asap dari kendaraan bermotor),
naftalene (kamper), toluene (pelarut industri), dan masih banyak lagi (Jabbar,
2008).

25

Efek merokok tidak hanya mempengaruhi kesehatan perokok saja, tetapi


juga mempengaruhi kesehatan orang di sekitarnya yang tidak merokok, karena
tidak terpapar asap rokok tersebut yang disebut perokok pasif. Secara umum
bahan-bahan ini dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu komponen gas
dan komponen padat atau partikel. Komponen padat atau partikel dibagi menjadi
nikotin dan tar. Tar adalah kumpulan dari ratusan atau bahkan ribuan bahan kimia
dalam komponen padat asap rokok setelah dikurangi nikotin dan air. Tar ini
mengandung bahan-bahan karsinogen (dapat menyebabkan kanker). Nikotin
adalah suatu bahan aditif, bahan yang dapat membuat orang menjadi ketagihan
dan menimbulkan ketergantungan. Pada daun tembakau, mengandung satu sampai
tiga persen nikotin (Jabbar, 2008).
Bahaya merokok menurut Departemen Kesehatan RI (2003) adalah:
a.

bagi perokok aktif


1) meningkatkan risiko dua kali lebih besar untuk mengalami serangan
jantung;
2) meningkatkan risiko dua kali lebih besar untuk mengalami stroke;
3) meningkatkan risiko mengalami serangan jantung dua kali lebih besar
pada mereka yang mengalami tekanan darah tinggi atau kadar kolesterol
tinggi;
4) meningkatkan risiko sepuluh kali lebih besar untuk mengalami serangan
jantung bagi wanita pengguna pil-KB;
5) meningkatkan risiko lima kali lebih besar menderita kerusakan jaringan
anggota tubuh yang rentan.

26

b. bagi perokok pasif


1) bahaya kerusakan paru-paru. Kadar nikotin, karbon monoksida, serta zatzat lain yang lebih tinggi dalam darah mereka akan memperparah penyakit
yang sedang diderita, dan kemungkinan mendapat serangan jantung yang
lebih tinggi bagi mereka yang berpenyakit jantung. Anak-anak yang orang
tuanya merokok akan mengalami batuk, pilek, dan radang tenggorokan
serta penyakit paru-paru lebih tinggi. Wanita hamil yang merokok berisiko
mendapatkan bayi mereka lahir lurus, cacat, dan kematian;
2) jika suami perokok, maka asap rokok yang dihirup oleh istrinya akan
mempengaruhi bayi dalam kandungan.
2.3.4

Dampak merokok
Bahaya merokok bagi kesehatan menurut Tandra dalam Tarwoto (2009)

adalah dapat menimbulkan berbagai penyakit. Banyak penyakit telah terbukti


menjadi akibat buruk dari merokok, baik secara langsung maupun secara tidak
langsung. Kebiasaan merokok bukan saja merugikan si perokok, tetapi juga bagi
orang di sekitarnya. Adapun dampak rokok terhadap kesehatan adalah:
a. Dampak bagi paru-paru;
menurut Tarwoto et al (2009) merokok dapat menyebabkan perubahan
struktur dan fungsi saluran nafas dan jaringan paru-paru. Pada saluran nafas
besar, sel mukosa membesar (hipertropi) dan kelenjar mukus bertambah
banyak (hiperplasia). Pada saluran napas kecil, terjadi radang ringan hingga
penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan
paru-paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli.

27

Akibat perubahan anatomi saluran napas, akan timbul perubahan pada fungsi
paru dengan berbagai macam gejala klinisnya. Hal ini menjadi dasar utama
terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM). Dikatakan bahwa
merokok merupakan penyebab utama timbulnya PPOM, termasuk emfisema
paru-paru, bronkitis kronis, dan asma.
Hubungan antara merokok dan kanker paru-paru telah diteliti dalam 4-5
dekade terakhir. Didapatkan hubungan yang erat antara kebiasaan merokok,
terutama sigaret, dengan timbulnya kanker paru-paru. Bahkan ada yang
secara tegas menyatakan bahwa rokok sebagai penyebab utama terjadinya
kanker paru-paru.
Asap rokok merupakan penyebab utama timbulnya kanker paru. Berhenti
merokok dan tidak memulai merokok merupakan cara utama untuk mencegah
penyakit itu (Yusuf dalam Tarwoto et al, 2009). Partikel asap rokok, seperti
benzopiren, dibenzopiren, dan uretan, dikenal sebagai bahan karsinogen. Zat
tar berhubungan dengan risiko terjadinya kanker. Dibandingkan dengan
bukan perokok, kemungkinan timbul kanker paru-paru pada perokok,
kemungkinan timbul kanker paru-paru pada perokok mencapai 10-30 kali
lebih sering.
b. dampak terhadap jantung
Menurut Tarwoto et al (2009) Merokok menjadi faktor utama penyebab
penyakit pembuluh darah dan jantung. Bukan hanya menyebabkan penyakit
jantung koroner, merokok juga berakibat buruk bagi pembuluh darah otak
dan perifer. Asap yang dihembuskan perokok dibagi atas asap utama (main

28

stream smoke) dan asap samping (side stream smoke). Asap utama
merupakan asap tembakau yang dihirup langsung oleh perokok, sedangkan
asap samping merupakan asap tembakau yang disebarkan ke udara bebas,
yang akan dihirup oleh orang lain atau perokok pasif.

2.4

Konsep Desa-Kota

2.4.1

Desa
Desa adalah wilayah administrasi terendah dalam hierarki pembagian

wilayah administrasi Indonesia di bawah kecamatan. Pedesaan adalah status


wilayah administrasi setingkat desa/kelurahan yang tidak memenuhi kriteria
klasifikasi wilayah pedesaan dalam hal kepadatan penduduk, persentase rumah
tangga pertanian, dan sejumlah fasilitas perkotaan, sarana pendidikan formal,
sarana kesehatan umum, dan sebagainya (BPS, 2010).
2.4.2

Kota
Daerah perkotaan merupakan suatu wilayah administratif setingkat

desa/kelurahan yang memenuhi persyaratan tertentu dalam hal kepadatan


penduduk, persentase rumah tangga pertanian, dan sejumlah fasilitas perkotaan
yang meliputi: Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK); Sekolah Menengah Pertama;
Sekolah Menengah Umum;
Hotel/Bilyar/Diskotek/Panti

Pasar; Pertokoan;

Pijat/Salon;

Persentase

Bioskop;
Rumah

Rumah Sakit;
Tangga

yang

menggunakan Telepon; dan Persentase Rumah Tangga yang menggunakan Listrik


(BPS, 2010).

29

Penentuan nilai/skor untuk menetapkan sebagai wilayah perkotaan dan


perdesaan atas desa/kelurahan yaitu: disebut wilayah perkotaan, apabila dari
kepadatan penduduk, persentase rumah tangga pertanian, dan keberadaan/akses
pada fasilitas perkotaan yang dimiliki mempunyai total nilai/skor 10 (sepuluh)
atau lebih; dan wilayah perdesaan, apabila dari kepadatan penduduk, persentase
rumah tangga

pertanian, dan keberadaan/akses pada fasilitas perkotaan yang

dimiliki mempunyai total nilai/skor di bawah 10 (sepuluh).

2.5

Peran Perawat pada Remaja di Sekolah


Masalah merokok yang ada di sekolah, memerlukan intervensi yang

melibatkan perawat komunitas, guru serta masyarakat yang ada di sekolah.


Program kesehatan komunitas dalam hal ini terbagi dalam intervensi yang bersifat
preventif, antara lain:
a.

Prevensi primer di sekolah


Anak membutuhkan pelayanan kesehatan dilanjutkan di sekolah. perawat

sekolah melihat mereka di hampir setiap hari, dan biasanya orang yang diberi
peran mengajar mereka tentang dan meningkatkan kesehatan mereka.
Perawat sekolah mungkin memiliki kesempatan untuk pergi ke kelas untuk
mengajar kesehatan mempromosikan konsep - misalnya, mencuci tangan atau
keterampilan menyikat gigi. Mereka dapat menghabiskan waktu dengan para
guru, memberikan mereka informasi terbaru tentang gaya hidup sehat bagi anakanak atau bagaimana tempat seorang anak yang mungkin sakit atau membutuhkan
konseling. Perawat sekolah menggunakan proses keperawatan sementara mereka

30

merawat anak-anak di sekolah dalam upaya pencegahan primer, mereka lakukan


hal berikut:
a. menilai anak-anak dan keluarga untuk menentukan tingkat pengetahuan
mereka tentang masalah kesehatan;
b. menemukan apakah anak-anak berisiko untuk masalah yang dapat dicegah;
c. menganalisis temuan penilaian;
d. membuat rencana untuk mengembangkan rencana mengajar atau kegiatan
promosi kesehatan;
e. melaksanakan kegiatan ini;
f. mengevaluasi dan merevisi rencana.
Bidang pencegahan primer yang sekolah perawat berfokus pada meliputi:
a. mencegah cedera masa kanak-kanak;
b. mencegah penyalahgunaan zat;
c. mengurangi risiko perkembangan penyakit kronis;
d. memantau status imunisasi anak.
b.

Prevensi sekunder di sekolah


Pencegahan sekunder melibatkan merawat anak-anak ketika mereka

membutuhkan perawatan kesehatan, ini adalah tanggung jawab terbesar untuk


sekolah perawat. ini termasuk merawat siswa yang sakit atau terluka dan
karyawan sekolah. juga melibatkan penyaringan dan menilai anak-anak dan
rujukan ke lembaga kesehatan dan penyedia. Perawat sekolah menggunakan
proses keperawatan selama kegiatan pencegahan sekunder. Ketika anak sakit atau

31

cedera datang ke kantor kesehatan sekolah, perawat harus segera menilai anak
untuk tingkat penyakit atau cidera.
Anak-anak mencari perawat sekolah untuk berbagai kebutuhan yang
berbeda seperti berikut, sakit kepala, sakit perut, diare, kecemasan atas dipisahkan
dari orang tua, dan luka, memar, atau luka-luka lainnya, setelah data penilaian
dikumpulkan,

perawat

menentukan

tindakan

dan mengikutinya

melalui

implementasi dan tahap evaluasi. Hal ini terjadi untuk langsung perawatan
kesehatan anak serta untuk skrining anak untuk masalah kesehatan lainnya. Jika
data penilaian mengidentifikasi anak sebagai memiliki masalah kesehatan,
perawat sekolah terus mengikuti proses keperawatan untuk perawatan lebih lanjut
untuk anak itu.
c.

Prevensi tersier di sekolah


Menggunakan proses keperawatan, perawat sekolah memberikan asuhan

keperawatan terkait dengan pencegahan tersier ketika bekerja dengan anak-anak


yang memiliki penyakit jangka panjang atau kronis atau dengan kebutuhan
khusus. Perawat berpartisipasi dalam mengembangkan rencana pendidikan
individual (RPI) untuk siswa dengan kebutuhan kesehatan jangka panjang.
tanggung jawab perawat adalah sebagai berikut:
a. perawat harus memiliki informasi mengenai obat anak yang akan
diberikan selama jam sekolah;
b. perawat harus tahu jika anak membutuhkan terapi apapun selama hari
sekolah, seperti terapi fisik atau pekerjaan;

32

c. perawat harus tahu jika anak memiliki masalah pendengaran atau


penglihatan;
d. perawat harus memiliki mintalah guru untuk kursi anak di tempat terbaik
di kelas sehingga anak dapat melihat atau mendengar guru dan anak-anak
lain yang lebih baik (Stanhope, 2006).
Fungsi dan peran perawat dalam pencegahan merokok pada remaja di
SMP pedesaan maupun perkotaan dapat berfokus pada pelayanan kesehatan,
pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan lingkungan sekolah. Fungsi pertama
perawat komunitas di sekolah yaitu memberikan layanan kesehatan yang meliputi
pencegahan penyakit, perlindungan kesehatan dan promosi kesehatan. Fungsi
praktik perawat komunitas di sekolah pada pendidikan kesehatan menggunakan
pengajaran yang terencana dan terkait dengan konsep kesehatan yang meliputi
pelayanan kesehatan dan pola hidup sehat. Penggunaan media pendidikan, sumber
daya perpustakaan dan fasilitas yang ada di sekolah dapat dijadikan media
informasi kesehatan untuk membangun sikap positif terhadap kesehatan dan
membangun praktik kesehatan di lingkungan sekolah. Fungsi ketiga praktik
perawat komunitas di sekolah adalah promosi hidup sehat sehat di lingkungan
sekolah yang menekankan pada lingkungan fisik.

2.6

Kerangka Teori
Setelah dijelaskan berbagai pendekatan teori, pada akhir bab ini dijelaskan

teori-teori mana saja yang akan dipakai dalam penelitian. Penjelasan tersebut
digambarkan dalam bentuk kerangka teori seperti pada gambar 1 berikut.

33

Faktor yang mempengaruhi


pengetahuan:
a. pendidikan
b. pekerjaan
c. umur
d. minat
e. pengalaman,
f. kebudayaan
lingkungan sekitar
g. informasi

Pertumbuhan dan perkembangan


remaja :
1. perkembangan biologis
2. pengembangan
psikososial (Erikson)
3. perkembangan kognitif
(pieget)
4. perkembangan
moral
(Kohlberg)
5. perkembangan spiritual
6. perkembangan sosial

Remaja

Pedesaan

Perkotaan

Pengetahuan bahaya merokok,


dengan tingkatan:
1. tahu (know),
2. memahami
(comprehension),
3. aplikasi (application),
4. analisis (analysis),
5. sintesis (synthesis),
6. evaluasi (evaluation),

Merokok:
1. Definisi rokok dan merokok
2. Faktor yang mempengaruhi
merokok
3. Bahaya merokok
4. Dampak merokok
5. Kandungan dan zat yang
terkandung dalam rokok
6. Risiko penyakit yang diakibatkan
karena kebiasaan merokok
Gambar 1. Kerangka Teori

34

BAB 3. KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Konsep


Remaja

Sekolah Menengah
Pertama

Pedesaan

Faktor yang
mempengaruhi
pengetahuan:
1. umur
2. informasi
3. pendidikan
4. pekerjaan
5. minat
6. pengalaman
7. kebudayaan
lingkungan
sekitar

Perkotaan

Domain
pengetahuan
Bahaya Merokok:
1. tahu
2. memahami
3. aplikasi
4. analisis
5. sintesis
6. evaluasi

Gambar 3.1 Kerangka Konsep


Keterangan:
= diteliti
= tidak diteliti

34

35

3.2 Hipotesis Penelitian


Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian,
patokan duga atau dalil sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan dalam
penelitian tersebut (Notoatmojo, 2005). Adapun hipotesis dalam penelitian ini
menggunakan Ha. Ha yang diambil mempunyai arti bahwa ada perbedaan tingkat
pengetahuan tentang bahaya merokok remaja SMP pedesaan dan perkotaan di
Kabupaten Jember.

36

BAB 4. METODE PENELITIAN


Pada bab ini dijelaskan tentang desain penelitian sampai etika penelitian
dari penelitian perbedaan tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada
remaja SMP di pedesaan dan perkotaan di Kabupaten Jember.

4.1

Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian

observasinal analitik dengan menggunakan metode pendekatan Cross sectional.


Penelitian Cross sectional merupakan penelitian seksional silang pada obyek
penelitian yang diukur dan dikumpulkan secara simultan, sesaat atau satu kali saja
dalam satu kali waktu (waktu yang bersamaan), dan pada studi ini tidak ada follow
up (Setiadi, 2007).

4.2

Populasi dan Sampel Penelitian

4.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili
seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010). Populasi penelitian ini adalah siswa yang
berada di lingkungan SMP pedesaan dan SMP perkotaan. Jumlah populasi di SMP
1 Tempurejo adalah 499 siswa sedangkan jumlah populasi di SMP 6 Jember
adalah 678 siswa.
4.2.2 Sampel
Sampel penelitian adalah sebagian dari keseluruhan obyek yang diteliti dan
dianggap mewakili seluruh populasi (Notoadmojo, 2010). Populasi adalah

36

37

keseluruhan subyek penelitian yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu


sesuai dengan yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya
Dengan kata lain, sampel adalah elemen-elemen populasi yang dipilih
berdasarkan kemampuan mewakilinya (Setiadi, 2007). Sampel dalam penelitian
ini yaitu siswa SMP Negeri 1 Tempurejo di Kecamatan Tempurejo dan SMP
Negeri 6 Jember di Kecamatan Kaliwates. Mengacu pada tabel penentuan jumlah
sampel dari populasi yang dikemukakan oleh Krejcie dan Morgan dalam
Sugiyono (2011) dengan taraf kepercayaan 95% untuk SMP 1 Tempurejo dengan
populasi sebesar 499 didapatkan sampel yaitu sebesar 217 siswa, dan untuk SMP
6 Jember dengan populasi sebanyak 678 siswa dengan taraf kepercayaan 95%
yaitu sebesar 245 siswa. Sampel tersebut diperoleh secara random tiap kelas yang
telah terdistribusi di masing-masing kelas di SMP 1 Tempurejo dan SMP 6
Jember.
4.2.3 Teknik pengambilan sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah probability
sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang
sama bagi anggota populasi untuk dapat dipilih menjadi sampel. Pendekatan
teknik probability sampling ini dengan cara multistage random sampling
(Notoatmodjo, 2010).
Proses pengambilan sampel pada penelitian ini dilaksanakan sebagai
berikut:
Tahap I :

memilih secara random sampel dari masing-masing kelas yang


digunakan sebagai lokasi penelitian.

38

Tahap II : memilih sampel secara proporsional dari masing-masing kelas dengan


menggunakan rumus:
n1 = N1 x n
N
Keterangan:
n1

= jumlah sampel tiap kelas

N1

= jumlah populasi di kelas

= jumlah populasi

= jumlah sampel

Mengacu pada pertimbangan tersebut, besar sampel di setiap kelas yaitu:


SMP X Tempurejo
Kelas
VII
VIII
IX
Jumlah

Jumlah siswa
165
165
169
499

Besar sampel tiap angkatan


165/499 x 217 = 72
165/499 x 217 = 72
156/499 x 217 = 73
217

Kelas
VIIA
VIIB
VIIC
VIID
VIIE
VIIF
Jumlah

Jumlah siswa
27
27
28
27
28
28
165

Besar sampel tiap kelas


27/165 x 72 = 12
27/165 x 72 = 12
28/165 x 72 = 12
27/165 x 72 = 12
28/165 x 72 = 12
28/165 x 72 = 12
72

Kelas
VIIIA
VIIIB
VIIIC
VIIID
VIIIE
Jumlah

Jumlah siswa
31
33
32
31
33
160

Besar sampel tiap kelas


31/160 x 71 = 13,7
33/160 x 71 = 14,6
32/160 x 71 = 14,4
31/160 x 71 = 13,7
33/160 x 71 = 14,6
71

39

Kelas
IXA
IXB
IXC
IXD
IXE
Jumlah
SMP 6 Jember

Jumlah siswa
35
34
34
33
33
169

Besar sampel
35/169 x 73 = 15
34/169 x 73 = 15
34/169 x 73 = 15
33/169 x 73 = 14
33/169 x 73 = 14
73

Kelas
VII
VIII
IX
Jumlah

Jumlah siswa
225
218
235
678

Besar sampel tiap angkatan


225/678 x 245 = 81
218/678 x 245 = 79
235/678 x 245 = 85
245

Kelas
VIIA
VIIB
VIIC
VIID
VIIE
VIIF
Jumlah

Jumlah siswa
39
37
36
38
37
38
225

Besar sampel
39/225 x 81 = 14
37/225 x 81 = 13
36/225 x 81 = 13
38/225 x 81 = 14
37/225 x 81 = 13
38/225 x 81 = 14
81

Kelas
VIIIA
VIIIB
VIIIC
VIIID
VIIIE
VIIIF
Jumlah

Jumlah siswa
36
37
36
36
36
37
218

Besar sampel
36/218 x 79 = 13
37/218 x 79= 13,5
36/218 x 79= 13
36/218 x 79 = 13
36/218 x 79 = 13
37/218 x 79= 13,5
79

Kelas
IXA
IXB
IXC
IXD
IXE
IXF
Jumlah

Jumlah siswa
40
41
38
39
39
38
235

Besar sampel
40/235 x 85 = 14,5
41/235 x 85 = 14,9
38/235 x 85 = 13,7
39/235 x 85 = 14,1
39/235 x 85 = 14,1
38/235 x 85 = 13,7
85

40

4.2.4 Kriteria Subjek Penelitian


Kriteria subyek penelitian terdiri dari kriteria inklusi dan eksklusi, yaitu:
a.

Kriteria inklusi
Kriteria inklusi merupakan karakteristik umum subyek penelitian dari suatu

populasi target yang terjangkau untuk diteliti (Notoatmodjo, 2010). Kriteria


inklusi dalam penelitian ini adalah:
1) Siswa/siswi yang berasal dari SMP kota dan SMP desa;
2) Siswa/siswi dengan kondisi kesehatan baik;
3) Bersedia menjadi responden.
b.

Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah pengeluaran subyek penelitian yang tidak

memenuhi kriteria inklusi karena berbagai alasan sehingga tidak dapat menjadi
responden penelitian (Notoatmodjo, 2010). Kriteria eksklusi dalam penelitian ini:
1) Siswa/siswi yang sakit dan tidak masuk sekolah;
2) Siswa/siswi yang mengisi kuesioner tidak lengkap;
3) Siswa/siswi yang memenuhi kriteria inklusi, tetapi tidak bersedia menjadi
responden.
4.3

Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP 1 Tempurejo dan SMP 6 Jember di

Kabupaten Jember. SMP 1 Tempurejo merupakan SMP yang terletak di daerah


yang memiliki luas wilayah paling besar dan memiliki kepadatan penduduk paling
kecil di Kabupaten Jember dan wilayah di Kecamatan Tempurejo keseluruhan
termasuk kategori pedesaan sedangkan SMP 6 Jember merupakan SMP yang

41

terletak di daerah yang memiliki luas wilayah paling kecil namun memiliki
kepadatan penduduk yang terbesar di Kabupaten Jember dan keseluruhan wilayah
Kecamatan Kaliwates merupakan wilayah perkotaan.

4.4

Waktu Penelitian
Waktu yang diperlukan dalam penyusunan proposal skripsi ini adalah bulan

September 2012 Juli 2013, sedangkan waktu yang diperlukan untuk


pengambilan data penelitian sampai dengan penyelesaian skripsi adalah Juli
September 2013.

42

4.5

Definisi Operasional
Variabel yang diteliti pada penelitian ini dapat dilihat di tabel 4.1
Tabel 4.1 Definisi Operasional

No
1.

Variabel
Variabel
terikat: tingkat
pengetahuan
remaja
tentang
bahaya
merokok

Definisi
Kemampuan
berpikir
seseorang secara
komperhensif
terhadap bahaya
merokok

2.

Variabel
Bebas:
Remaja SMP
di pedesaan
dan perkotaan

Remaja SMP
pedesaan
merupakan
remaja yang
berada di
wilayah yang
dikategorikan
pedesaan
Remaja SMP
perkotaan
merupakan
remaja yang
berada di
wilayah yang
dikategorikan
perkotaan

Indikator
Indikator Pengetahuan :
a. tahu
b. memahami
c. aplikasi
d. analisis
e. sintesis
f. evaluasi
(Notoatmodjo, 2010)

a.

Kepadatan
penduduk
b. Persentase rumah
tangga pertanian
c. Fasilitas perkotaan
(BPS, 2010)

Alat Ukur
kuesioner

Skala
Ordinal

Nominal

Hasil
Tiap jawaban yang
benar diberikan
nilai 1 dan yang
salah diberikan nilai
0, kemudian
dikategorikan
menjadi:
a. Baik (bila
jumlah skor
76%-100%)
b. Cukup (bila
skor 56%75%)
c. Kurang (bila
skor <56%)

a. Desa = 0
b. Kota = 1

43

4.6

Pengumpulan Data

4.6.1

Sumber Data

a.

Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan melalui pihak pertama,

biasanya melalui angket, wawancara, jajak pendapat, dan lain-lain (Nazir, 2003).
Data primer dalam penelitian ini adalah data yang berasal dari hasil jawaban
pertanyaan yang diajukan peneliti dalam lembar kuesioner tentang bahaya
merokok, wawancara yang dilakukan peneliti kepada kepala sekolah SMP 1
Tempurejo dan SMP 6 Jember tentang perilaku merokok siswa dan angket yang
diberikan peneliti yang berisi pertanyaan seputar rokok dan bahayanya.
b.

Data Sekunder
Data sekunder merupakan data tentang klasifikasi desa dan kota di

Indonesia, jumlah siswa di SMP 1 Tempurejo dan SMP 6 Jember yang didapatkan
secara tidak langsung melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, dan Badan
Pusat Statistik Kabupaten Jember.
4.6.2

Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui teknik

pengisian kuesioner tingkat pengetahuan remaja tentang bahaya merokok di SMP


pedesaan dan perkotaan. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data
dengan kuesioner. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
a.

peneliti melakukan pemilihan daerah sesuai dengan kriteria desa dan kota
yang telah di terbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) 2010;

44

b.

peneliti melakukan perijinan ke Badan Kesatuan Bangsa Politik dan


Linmas (Bakesbangpol) sehubungan dengan kegiatan pengambilan data
tentang perilaku merokok pada remaja di daerah yang telah ditentukan
oleh peneliti;

c.

peneliti melakukan survei ke SMP di daerah yang telah dikategorikan desa


maupun kota;

d.

penentuan subjek penelitian dengan perhitungan dan teknik penentuan


sampel;

e.

peneliti melakukan uji validitas dan realibilitas kuesioner di SMP yang


memiliki kategori yang hampir sama dengan lokasi penelitian;

f.

perijinan untuk melakukan penelitian/pengambilan data ke SMP terkait;

g.

calon responden, yaitu siswa SMP X Tempurejo dan SMP Y Jember


diminta untuk membaca dan mengisi lembar inform consent (Surat
persetujuan) sebagai tanda kesediaan untuk menjadi subjek penelitian
dengan jaminan kerahasiaan atas jawaban yang diberikan;

h.

peneliti mengambil data dengan cara pengisian kuesioner tentang


pengetahuan tentang bahaya merokok. Cara pengisian kuesioner dari
pengetahuan tentang bahaya merokok diisi sendiri oleh responden dengan
didampingi oleh peneliti akibat keterbatasan kemampuan membaca
ataupun ada pernyataan yang kurang jelas. Peneliti mengumpulkan
kembali kuesioner setelah diisi oleh responden untuk diperiksa
kelengkapan pengisian kuesioner;

45

i.

data yang diperoleh kemudian dikumpulkan untuk dilakukan pengolahan


dan analisis.

4.6.3

Alat/Instrumen Pengumpulan Data


Alat pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan

menggunakan teknik pengisian kuesioner. Teknik pengisian kuesioner yang


dilakukan adalah untuk mengukur tingkat pengetahuan remaja tentang bahaya
merokok pada SMP di pedesaan dan perkotaan. Penilaian kuesioner tentang
tingkat pengetahuan remaja tentang bahaya merokok menggunakan tipe benarsalah. Nilai 1 diberikan apabila jawaban benar dan nilai 0 diberikan apabila
jawaban salah. Kuesioner dalam penelitian ini berisi 22 pertanyaan favourable
dan unfavourable dan 23 item pertanyaan mengenai pengetahuan remaja tentang
bahaya merokok dengan tipe benar-salah.
Variabel
Pengetahuan
1. Bahaya Merokok
a. Konsep rokok
b. Pengertian merokok
c. Faktor-faktor yang
mempengaruhi
merokok
d. Bahaya merokok
e. Dampak merokok
f. Kandungan dan zat
yang terkandung
dalam rokok
g. Risiko penyakit
yang diakibatkan
karena kebiasaan
merokok

Indikator

Pertanyaan
Favourable
Unfavourable

Jumlah

1. tahu
2. memahami
3. aplikasi
4. analisis
5. sintesis
6. evaluasi

1,2,4
8,18,21,41
7,11,25,32,14
12,15,26
17,31,38,44
16,27,28

3,5, 10
6,9, 37,47,33
19,22,30,40,48
24,29,35
20,36,39,46
42,34,43

6
9
10
6
8
6

Total

22

23

45

46

Nilai untuk pernyataan favourable, jawaban benar diberi nilai 1 dan


jawaban salah diberi nilai 0 sedangkan nilai untuk pernyataan unfavourable,
jawaban benar diberi nilai 0 dan jawaban salah diberi nilai 1. Pernyataan dari
responden tentang bahaya merokok yang nantinya dapat mengidentifikasi tingkat
pengetahuan dari remaja dengan kategori baik, cukup, dan kurang. Dari hasil
penelitian nantinya dapat disimpulkan bahwa semakin besar nilai dari jawaban
angket, maka tingkat pengetahuan remaja tentang bahaya merokok semakin
tinggi.
4.6.4

Uji Validitas dan Uji Reliabilitas


Instrumen penelitian yang valid dan reliabel dapat digunakan untuk

mengumpulkan data secara langsung, maka uji validitas dan reliabilitas sangat
diperlukan untuk mendapat data yang valid. Pelaksanaan uji validitas dan
realibilitas alat ukur diharapkan mendapatkan distribusi nilai hasil pengukuran
mendekati normal, maka sebaiknya jumlah responden uji coba paling sedikit 20
orang. Uji validitas dan reliabiltas instrumen ini dilakukan pada 30 siswa di SMP
Negeri 11 Jember. Hasil uji validitas dan reliabilitas variabel tingkat pengetahuan
remaja tentang bahaya merokok, sebanyak empat puluh lima pernyataan valid dan
reliabel.
a.

Uji Validitas
Uji validitas menyatakan apa yang harus diukur menurut situasi dan

kondisi. Instrumen dikatakan valid apabila instrumen tersebut benar-benar dapat


dijadikan sebagai alat untuk mengukur apa yang harus diukur (Setiadi, 2007). Uji
validitas menggunakan teknik Pearson Product Moment (r), dengan pengambilan

47

keputusan jika r hitung > r tabel maka suatu instrumen dikatakan valid dengan
taraf signifikansinya sebesar 5%. Hasil uji validitas variabel tingkat pengetahuan
remaja tentang bahaya merokok pada lima puluh pernyataan, didapatkan sebanyak
empat puluh lima pernyataan mempunyai nilai r hasil (corrected item correlation)
diatas nilai r tabel (0,374) sehingga dapat disimpulkan bahwa empat puluh lima
pernyataan tersebut valid.
b.

Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas merupakan hasil pengukuran yang mengacu pada

kemampuan instrumen dalam mendapatkan hasil yang konsisten saat digunakan


pada waktu yang berbeda. Instrumen dikatakan reliabel apabila instrumen tersebut
dapat melakukan apa yang seharusnya dilaukan dengan cara yang sama
(Dempsey, 2002). Item instrumen penelitian yang valid dilanjutkan dengan uji
reliabilitas dengan rumus alfa croanbach yaitu membandingkan nilai r hasil
(Alpha) dengan nilai r tabel. Ketentuan reliabel apabila r Alpha lebih besar dari r
tabel. Pada uji reliabilitas variabel tingkat pengetahuan remaja tentang bahaya
merokok didapatkan hasil nilai r hasil (Alpha) 0,958 lebih besar dibandingkan
dengan nilai r tabel (0,374), maka empat puluh lima pernyataan tentang tingkat
pengetahuan remaja tentang bahaya merokok dinyatakan reliabel.

4.7

Pengolahan dan Analisis Data

4.7.1 Editing
Editing merupakan kegiatan pemeriksaan untuk pengecekan dari isi
instrumen atau kuesioner yang telah diserahkan oleh pengumpul data. Kegiatan

48

yang dilakukan yaitu, a) memeriksa kelengkapan semua pertanyaan apakah sudah


terisi; b) memeriksa apakah jawaban atau tulisan masing-masing jawaban sudah
jelas atau terbaca; c) memeriksa apakah jawaban relevan dengan pertanyaannya
(Setiadi, 2007). Dalam penelitian ini proses editing dilakukan oleh peneliti sendiri
dengan mengecek lembar kuesioner yang diisi oleh responden.
4.7.2 Coding
Coding merupakan klasifikasi jawaban-jawaban dari para responden ke dalam
kategori (Setiadi, 2007). Peneliti memberi kode tertentu pada setiap jawaban
kuesioner dari responden yaitu:
a. remaja SMP di perkotaan dan pedesaan
1) SMP di desa

diberi kode 0

2) SMP di kota

diberi kode 1

b. kuesioner pengetahuan tentang bahaya merokok


1) jawaban kuesioner benar

diberi kode 1

2) jawaban kuesionar salah

diberi kode 0

Pemberian kode pada jawaban kuesioner bertujuan untuk memudahkan peneliti


untuk menganalisis data. Kode tersebut digunakan untuk interpretasi data tingkat
pengetahuan. Adapun kategori tingkat pengetahuan menurut Setiadi (2007) adalah
a. baik, bila jumlah jawaban responden benar 76%-100%
b. cukup, bila jumlah jawaban responden benar 56%-75%
c. kurang, bila jumlah jawaban responden benar < 56%

49

4.7.3

Entry Data
Proses memasukkan data dari masing-masing responden ke dalam

program atau software yang ada di komputer ataupun memasukkan data secara
manual (Setiadi, 2007). Peneliti menggunakan program SPSS (Statistical Product
and Service Solution) yang ada di komputer untuk melakukan pengolahan data.
Data yang dimasukkan dalam program SPSS berupa data karakteristik responden
yang telah di-coding sebelumnya dan data hasil penilaian pengetahuan tentang
bahaya merokok yang terdapat dalam hasil pengisian kuesioner.
4.7.4

Cleaning
Dilakukan pembersihan terhadap data yang telah dimasukkan apakah

sudah benar atau belum (Setiadi, 2007). Peneliti memeriksa kembali data yang
telah dimasukkan dari kemungkinan data yang belum di entry. Kegiatan dalam
proses cleaning yaitu (a) mengetahui missing data (data yang hilang); (b)
mengetahui variasi data; (c) mengetahui konsistensi data (Hastono, 2007).
Kegiatan cleaning yang dilakukan peneliti yaitu dengan melakukan pengecekan
terhadap data yang telah di-entry pada program SPSS.
4.7.5

Analisis Data
Analisis data digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat

pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di pedesaan dan


perkotaan di Kabupaten Jember.
a.

Analisis Univariat
Penelitian analisis univariat adalah analisa yang dilakukan dengan

menganalisis tiap variabel dari hasil penelitian (Notoadmodjo, 2010). Cara

50

analisis ini dengan mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah


terkumpul sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang berlaku untuk
umum atau generalisasi. Analisa univariat ini terdiri dari karakteristik responden
pada remaja di pedesaan dan perkotaan. Yaitu meliputi umur, jenis kelamin, dan
informasi yang didapat tentang bahaya merokok.
b.

Analisis Bivariat
Uji hipotesis menggunakan uji Mann Whitney yang digunakan untuk

menguji hipotesis komparatif dua sampel tidak berpasangan bila datanya


berbentuk ordinal (Sugiyono, 2011). Uji ini dipilih karena data pengetahuan
remaja tentang bahaya merokok dan lokasi/tempat responden merupakan jenis
data ordinal sehingga uji yang sesuai dengan data ordinal adalah

uji Mann

Whitney dengan tingkat kesalahan adalah 0,05. Pengambilan keputusan uji Man
Whitney diinterpretasikan sebagai berikut :
1) jika asymp sig > nilai , maka Ha ditolak artinya tidak terdapat perbedaan
tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP pedesaan dan
perkotaan;
2) jika asymp sig < nilai , maka Ha diterima artinya terdapat perbedaan tingkat
pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP pedesaan dan
perkotaan.

4.8

Etika Penelitian
Semua penelitian yang ada kaitannya dengan manusia sebagai obyek

penelitian harus mempertimbangkan etika.

Penelitian yang dilakukan oleh

51

peneliti seringkali terdapat masalah etik sehingga diperlukan suatu etika penelitian
(Potter dan Perry, 2005), yaitu:
4.8.1

Informed Consent
Informed consent merupakan lembar persetujuan atau pernyataan kesedian

bagi responden untuk ikut serta ke dalam penelitian. Responden sebagai subyek
penelitian akan diberi informasi yang penuh dan lengkap mengenai tujuan
penelitian, prosedur penelitian dan pengumpulan serta manfaat dan kerugian yang
akan diperoleh dalam mengikuti penelitian. Responden diberikan hak untuk
bersedia dak hak tidak bersedia ikut ke dalam penelitian melalui informed consent
(Potter dan Perry, 2005). Semua responden yang berjumlah 217 siswa di SMP 1
Tempurejo dan berjumlah 245 siswa di SMP 6 Jember bersedia menjadi
responden saat melakukan penelitian.
4.8.2

Anonimity (tanpa nama)


Anonimity adalah tindakan merahasiakan nama responden dan sebagai

alternatifnya digantikan dengan kode (Brockopp dan Tolsma, 2000). Dalam


penelitian ini, peneliti tidak menyertakan nama responden secara jelas untuk
identitas, penyebutan identitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
pemberian nomer kode tertentu dan inisial nama responden pada setiap data yang
didapatkan.
4.8.3

Confidentially (kerahasiaan)
Kerahasiaan menjamin bahwa informasi apapun yang diberikan oleh

subyek tidak dilaporkan dengan cara apapun untuk mengidentifikasi subyek dan
tidak mungkin diakses oleh orang selain tim peneliti (Polit dan Hungler, 1995,

52

dalam Potter dan Perry, 2005). Data dan informasi yang telah diperoleh penelitian
ini hanya dituliskan pada laporan hasil penelitian. Data dan hasil yang diperoleh
peneliti hanya diketahui oleh peneliti dan pembimbing. Peneliti memberikan data
dan hasil penelitian ini, apabila diperlukan untuk pertanggungjawaban penelitian.
4.8.4

Balancing Harms and Benefits (manfaat dan kerugian)


Peneliti melaksanakan penelitian sesuai dengan prosedur penelitian guna

mendapatkan hasil yang bermanfaat semaksimal mungkin bagi subyek penelitian,


sehingga hasilnya dapat digeneralisasikan di tingkat populasi (beneficence).
Peneliti meminimalisasi dampak yang merugikan bagi subyek (nonmaleficence).
Apabila intervensi penelitian berpotensi mengakibatkan kerugian bagi subyek
penelitian, maka subyek dikeluarkan dari kegiatan penelitian (Yurisa, 2008).
Dalam penelitian ini, peneliti melaksanakan penelitian sesuai dengan prosedur
yang ada supaya tidak membahayakan responden dan guna mendapatkan manfaat
yang maksimal.
4.8.5

Justice (keadilan)
Dalam penelitian, responden atau subjek penelitian harus diperlakukan

secara adil baik sebelum, selama, dan sesudah keikutsertaannya dalam penelitian
(Nursalam, 2009). Dalam penelitian ini, peneliti memberlakukan adil atau sama
untuk semua responden, atau dengan kata lain tidak melakukan diskriminasi baik
status, haknya sebagai reponden, manfaat yang diperoleh, keanonimitas, dan
kerahasiaan.

53

BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini menjelaskan gambaran umum lokasi penelitian, pelaksanaan


penelitian, hasil penelitian, pembahasan dan keterbatasan penelitian tentang
perbedaan tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di
pedesaan dan perkotaan di Kabupaten Jember. SMP 1 Tempurejo merupakan
SMP negeri yang berada di kecamatan Tempurejo dan beralamatkan di Jalan
Padang Golf Glantangan Tempurejo. SMP 1 Tempurejo berada di wilayah
perkebunan PTPN X Tempurejo sedangkan SMP 6 Jember merupakan SMP
negeri yang berada di kecamatan Kaliwates dan beralamatkan di Jalan Hayam
Wuruk No. 143 Jember. SMP 6 Jember merupakan SMP yang berdekatan dengan
pusat perbelanjaan Roxy, yang merupakan salah satu syarat dari wilayah yang
disebut perkotaan.
Penelitian ini dimulai tanggal 30 Agustus dan 31 Agustus 2013. Jumlah
populasi di SMP 1 Tempurejo adalah 499 siswa, sedangkan pengambilan sampel
didapat sampel 217 siswa. Jumlah populasi di SMP 6 Jember adalah 768 siswa,
sedangkan pengambilan sampel didapat sampel 245 siswa. Penelitian ini,
dilakukan pada hari jumat di SMP 1 Tempurejo dan pada hari sabtu di SMP 6
Jember. Penelitian ini dilakukan dengan memberikan kuesioner pada responden
yaitu sebanyak 217 siswa pada SMP 1 Tempurejo dan sebanyak 245 siswa pada
SMP 6 Jember. Responden mengisi lembar inform consent dan mengisi jawaban
pernyataan benar salah yang telah disusun oleh peneliti. Peneliti mengambil
kembali kuesioner yang telah dijawab oleh responden dan dianalisis terkait

53

54

karakteristik dan ada atau tidaknya perbedaan tingkat pengetahuan remaja


pedesaan dan perkotaan.

5.1

Hasil Penelitian
Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi, sedangkan

pembahasan disajikan secara narasi berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh.


Hasil data yang akan disajikan berupa data umum dan variabel penelitian. Data
umum dari hasil penelitian meliputi karakteristik responden yang terdiri dari
umur, jenis kelamin, dan informasi tentang bahaya merokok. Variabel penelitian
dari hasil penelitian ini adalah data yang meliputi tingkat pengetahuan tentang
bahaya merokok pada remaja SMP di pedesaan, tingkat pengetahuan tentang
bahaya merokok pada remaja SMP di perkotaan, dan perbedaan tingkat
pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di pedesaan dan
perkotaan.
5.1.1

Hasil Analisis Univariat


Analisis univariat menguraikan karakteristik responden penelitian di SMP,

yang meliputi umur, jenis kelamin, kelas, dan sumber informasi. meliputi
karakteristik siswa yang terdiri dari jenis kelamin, umur siswa, dan informasi
tentang bahaya merokok dan tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada
remaja SMP di pedesaan dan perkotaan di Kabupaten Jember.

55

a.

Karakteristik Responden

Tabel 5.1 Distribusi responden berdasarkan umur, jenis kelamin dan informasi
yang didapat mengenai bahaya merokok di SMP 1 Tempurejo dan SMP 6
Jember Kabupaten Jember pada bulan Agustus-September (n1: 217 dan
n2 : 245).
Kelompok Responden berdasarkan lokasi
Pedesaan
Perkotaan
Karakteristik
Persentase
Persentase
Jumlah
Jumlah
(%)
(%)
Umur (Tahun)
a. 12
72
33,2
82
33,5
b. 13
79
36,4
78
31,8
c. 14
66
30,4
85
34,7
217
100.0
245
100.0
Total
Jenis Kelamin:
125
51
a. Laki-laki
127
58
b. Perempuan
90
42
120
49
217
100.0
245
100.0
Total
Informasi tentang bahaya
merokok;
a. Tidak pernah mendapat
83
38,2
5
2
informasi
b. Pernah mendapat
informasi
1. Orang tua
24
11,1
40
16,3
2. Teman
21
9,7
39
15,9
3. Saudara
18
8,3
20
8,2
4. Guru
28
12,9
60
24,5
5. Media cetak
15
6,9
50
20,4
6. Media elektronik/ TV
24
11,1
30
12,2
7. Lain-lain
4
1,8
1
4
Total
217
100.0
245
100.0

Sumber. Data primer, Agustus 2013


Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari 217 siswa yang diteliti
dapat diketahui bahwa persentase usia tertinggi adalah usia 13 tahun yaitu
sebanyak 36,4% (79 siswa) dan persentase terendah adalah usia 14 tahun yaitu
sebanyak 30,4% (66 siswa). Distribusi jenis kelamin pada siswa SMP 1
Tempurejo Kabupaten Jember menunjukkan bahwa persentase tertinggi jenis
kelamin laki-laki sebanyak 58% (127 siswa) dan persentase terendah adalah
perempuan sebanyak 42% (90 siswa). Distribusi informasi tentang bahaya

56

merokok terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu orang tua, teman, saudara, guru,
media cetak, media elektronik/TV dan lain-lain. Data menunjukkan bahwa
persentase terbanyak yaitu guru sebanyak 12,9% (28 siswa) dan persentase
terendah adalah lain-lain meliputi tetangga, bidan, perawat dan sebagainya.
Sebanyak 1% (4 siswa).
Tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari 245 siswa yang diteliti dapat diketahui
bahwa persentase usia tertinggi adalah usia 14 tahun yaitu sebanyak 34,7% (85
siswa) dan persentase terendah adalah usia 13 tahun yaitu sebanyak 31,8% (78
siswa). Distribusi jenis kelamin pada siswa SMP 6 Jember Kabupaten Jember
menunjukkan bahwa persentase tertinggi jenis kelamin laki-laki sebanyak 51%
(125 siswa) dan persentase terendah adalah perempuan sebanyak 49% (120
siswa). Distribusi informasi tentang bahaya merokok terbagi menjadi beberapa
kategori, yaitu orang tua, teman, saudara, guru, media cetak, media elektronik/TV
dan lain-lain. Data menunjukkan bahwa persentase terbanyak yaitu guru sebanyak
24,5% (60 siswa) dan persentase terendah adalah lain-lain meliputi tetangga,
bidan, perawat dan sebagainya. Sebanyak 4% (1 siswa).

57

b.

Tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di pedesaan


dan perkotaan

Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan tingkat Pengetahuan tentang Bahaya


Merokok Baik, Sedang dan Kurang pada Remaja SMP 1 Tempurejo dan SMP
6 Jember di Kabupaten Jember pada Bulan Agustus-September Tahun 2013
(n1: 217 dan n2 : 245).

Pengetahuan tentang
Bahaya Merokok
Baik
Sedang
Kurang
Jumlah

Kelompok Responden
Pedesaan
Perkotaan
Persentase
Persentase
Jumlah
Jumlah
(%)
(%)
27
12
104
42
98
46
65
26
92
42
76
32
217
100
245
100

Sumber: Data Primer, Agustus 2013


Tabel 5.2 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang bahaya
merokok pada remaja SMP di pedesaan mayoritas berada pada kategori cukup
yaitu sebanyak 46% (98 siswa) dan kategori kurang sebanyak 42% (92 siswa).
Kuesioner penelitian terdapat 45 item pernyataan. Hasil yang didapatkan
untuk pengetahuan remaja tentang bahaya merokok adalah pernyataan dengan
jumlah jawaban salah terdapat pada nomor 19 tentang sikap kepada teman
perokok (130 responden), nomor pernyataan 20 tentang dampak merokok (130
responden), nomor pernyataan 21 tentang kebijakan pemerintah tentang merokok
di tempat umum (104 responden), nomor pernyataan 23 tentang salah satu bahan
yang ada di rokok yaitu nikotin (118 responden), nomor pernyataan 24 tentang tar
pada rokok (143 responden), nomor pernyataan 25 tentang pernyataan apabila
diajak merokok (139 responden), nomor pernyataan 26 tentang efek merokok
terhadap tekanan darah (148 responden), nomor pernyataan 27 tentang remaja
merupakan kelompok tidak berisiko (110 responden), nomor pernyataan 28

58

tentang risiko perokok pasif (130 responden), nomor pernyataan 29 tentang asap
utama rokok (172 responden), nomor pernyataan 30 tentang perokok pasif (172
responden), nomor pernyataan 31 tentang anggapan rokok baik bagi tubuh (173
responden), nomor pernyataan 32 tentang penyuluhan rokok tidak mengurangi
perokok (173 responden), nomor pernyataan 33 tentang kerugian rokok (183
responden), nomor pernyataan 34 tentang pernyataan merokok (133 responden),
nomor pernyataan 35 tentang apabila tidak merokok mengurangi risiko serangan
jantung (144 responden), nomor pernyataan 36 tentang asap samping rokok (115
responden), nomor pernyataan 37 tentang keuntungan merokok (119 responden),
nomor pernyataan 38 tentang menjauhi rokok (138 responden), nomor pernyataan
39 tentang kandungan rokok (161 responden), nomor pernyataan 40 tentang
pendapat orang tentang rokok (143 responden), nomor pernyataan 41 tentang
teman yang merokok karena orang tua merokok (172 responden), nomor
pernyataan 42 tentang kemauan berhenti merokok (122 responden), dan nomor
pernyataan 43 tentang lingkungan yang mempengaruhi merokok (110 responden).
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang bahaya
merokok pada remaja SMP di perkotaan mayoritas berada pada kategori baik
yaitu sebanyak 42% (104 siswa) dan kategori kurang sebanyak 32% (76 siswa).
Kuesioner penelitian terdapat 45 item pernyataan. Hasil yang didapatkan
untuk pengetahuan remaja tentang bahaya merokok adalah pernyataan dengan
jumlah jawaban salah terdapat pada nomor 2 tentang pengertian merokok (78
responden), nomor pernyataan 17 tentang NAPZA (82 responden), nomor
pernyataan 19 tentang pergaulan dengan teman yang merokok (101 responden),

59

nomor pernyataan 20 tentang dampak perilaku merokok (64 responden), nomor


pernyataan 21 tentang kebijakan terkait larangan merokok (56 responden), nomor
pernyataan 23 tentang nikotin pada rokok (68 responden), nomor pernyataan 24
tentang tar pada rokok (68 responden), nomor pernyataan 25 tentang pernyataan
apabila diajak merokok (73 responden), nomor pernyataan 26 tentang efek
merokok terhadap tekanan darah (92 responden), nomor pernyataan 27 tentang
remaja merupakan kelompok tidak berisiko (63 responden), nomor pernyataan 28
tentang risiko perokok pasif (53 responden), nomor pernyataan 29 tentang asap
utama rokok (81 responden), nomor pernyataan 30 tentang perokok pasif (91
responden), nomor pernyataan 31 tentang anggapan rokok baik bagi tubuh (84
responden), nomor pernyataan 32 tentang penyuluhan rokok tidak mengurangi
perokok (77 responden), nomor pernyataan 33 tentang kerugian rokok (133
responden), nomor pernyataan 34 tentang pernyataan merokok (76 responden),
nomor pernyataan 35 tentang apabila tidak merokok mengurangi risiko serangan
jantung (73 responden), nomor pernyataan 36 tentang asap samping rokok (51
responden), nomor pernyataan 37 tentang keuntungan merokok (62 responden),
nomor pernyataan 38 tentang menjauhi rokok (72 responden), nomor pernyataan
39 tentang kandungan rokok (89 responden), nomor pernyataan 40 tentang
pendapat orang tentang rokok (52 responden), nomor pernyataan 41 tentang
teman yang merokok karena orang tua merokok (109 responden), nomor
pernyataan 42 tentang kemauan berhenti merokok (70 responden), dan nomor
pernyataan 43 tentang lingkungan yang mempengaruhi merokok (53 responden).

60

5.1.2

Hasil Analisis Bivariat


Variabel penelitian dari hasil penelitian ini adalah perbedaan tingkat

pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di pedesaan dan


perkotaan. Pemaparan variabel penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Perbedaan Tingkat Pengetahuan tentang
Bahaya Merokok Baik, Sedang dan Kurang pada Remaja SMP 1 Tempurejo
dan SMP 6 Jember di Kabupaten Jember pada Bulan Agustus-September
Tahun 2013 (n1: 217 dan n2 : 245).
Pengetahuan Tentang Bahaya
Merokok
Total
Kelompok
P value
responden
Kurang
Sedang
Baik
F
%
F
%
F
%
F
%
Pedesaan
92 42,4 96 45.2 27 12,4 217
100
0,000
Perkotaan
76 31,1 65 26,5 104 42,4 245
100

Sumber: Data Primer, Agustus 2013


Hasil analisis perbedaan tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok
pada remaja SMP di pedesaan dan perkotaan di Kabupaten Jember, terdapat
responden sebanyak 217 responden untuk siswa di SMP pedesaan dan sebanyak
245 responden siswa di SMP perkotaan. Tabel 5.3 menunjukkan hasil bahwa
pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di pedesaan, kategori
kurang sebanyak 42.4% (92 siswa), kategori sedang sebanyak 46% (96 siswa) dan
kategori baik sebanyak 12,4% (27 siswa). Pengetahuan tentang bahaya merokok
pada remaja SMP di perkotaan, kategori kurang sebanyak 31,1% (76 siswa),
kategori sedang sebanyak 26,5% (65 siswa) dan kategori baik sebanyak 42% (104
siswa).
Berdasarkan tabel 5.3 didapatkan hasil bahwa hasil uji statistik didapat p
value = 0,000 dan taraf signifikansi sebesar 0,05. Hail ini berarti nilai p lebih kecil
dari taraf signifikansi (p < 0,05), dengan demikian maka Ho ditolak, artinya

61

terdapat perbedaan tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja


SMP di pedesaan dan perkotaan di Kabupaten Jember.

5.2

Pembahasan
Pembahasan pada penelitian ini disajikan dalam bentuk narasi berdasarkan

hasil penelitian yang diperoleh. Penjabaran dari pembahasan sesuai dengan tujuan
dari penelitian yang terdiri dari karakteristik siswa SMP di pedesaan dan
perkotaan, tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP, dan
perbedaan tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di
pedesaan dan perkotaan di Kabupaten Jember.
5.2.1

Karakteristik siswa SMP di Pedesaan dan Perkotaan


Penelitian ini menggunakan 217 responden di SMP 1 Tempurejo dan 245

responden di SMP 6 Jember. Hasil karakteristik responden yang diperoleh dalam


penelitian ini terbagi menjadi 3 yaitu, umur, jenis kelamin dan informasi tentang
bahaya merokok.
Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa Karakteristik responden yang
pertama adalah umur siswa. Peneliti membagi usia siswa menjadi 3 kategori, yaitu
usia 12 tahun, 13 tahun dan usia 14 tahun. Tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari 217
siswa di SMP 1 Tempurejo dan 245 siswa di SMP 6 Jember, dapat diketahui usia
tertinggi adalah usia 14 tahun dan usia terendah adalah usia 12-13 tahun. Usia
merupakan faktor yang mempengaruhi pengetahuan dari seseorang termasuk
pengetahuan tentang bahaya merokok. Mubarak et al (2007) menyatakan bahwa

62

pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah


faktor usia.
Karakteristik responden kedua adalah jenis kelamin. Distribusi jenis
kelamin pada siswa di SMP 1 Tempurejo dan SMP 6 Jember diklasifikasikan
menjadi laki-kali dan perempuan. Mayoritas jenis kelamin siswa di SMP 1
Tempurejo adalah laki-laki dengan persentase sebesar 58% (127 siswa) dan
sebesar 42% (90 siswa) adalah siswa perempuan, sedangkan di SMP 6 Jember
persentase jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki sebesar 51% (125 siswa), dan
sebanyak 49% (120 siswa) adalah siswa perempuan. Jenis kelamin merupakan
karakteristik dari seseorang yang bersifat bawaan. Jenis kelamin laki-laki maupun
perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan informasi
mengenai kesehatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuannya tentang
kesehatan. Jenis kelamin mempengaruhi pengetahuan karena berdasarkan
pengamatan peneliti, anak laki-laki cenderung lebih suka bersosialisasi dengan
teman sebaya terutama di luar sekolah. Hal tersebut didukung kebebasan
memperoleh informasi remaja tentang kesehatan di sekolah maupun di luar
sekolah.
Karakteristik responden ketiga adalah informasi yang didapatkan tentang
bahaya merokok. Menurut Mubarak et al (2007), sumber informasi merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Mubarak et al (2007)
menyatakan bahwa semakin mudah seseorang dalam mengakses informasi maka
semakin cepat pula seseorang tersebut dalam memperoleh suatu pengetahuan

63

yang baru. Informasi dapat diperoleh seseorang melalui media massa baik media
elektronik maupun media cetak.

5.2.2

Tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di


Pedesaan dan Perkotaan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 217 responden, sebanyak 12,4%

(27 siswa) memiliki pengetahuan baik, dan 42,4% (92 siswa) memiliki
pengetahuan kurang tentang bahaya merokok. Pengetahuan yang dimiliki
responden berkaitan dengan karakteristik responden yang mempengaruhi masingmasing responden.
Pengetahuan merupakan hasil dari pengindraan manusia, atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya, meliputi indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba (Notoadmodjo, 2010).
Teori ini didukung oleh teori pengetahuan menurut Mubarak et al (2007),
menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara lain
pendidikan, pekerjaan, umur, minat, pengalaman, kebudayaan lingkungan sekitar,
dan informasi.
Sumber informasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
pengetahuan (Mubarak et al, 2007). Berdasarkan data yang ditampilkan pada tabel
5.1 sebanyak 38,2% (83 siswa) tidak pernah mendapatkan informasi tentang
bahaya merokok, sedangkan sebanyak 61,8% (134 siswa) telah mendapatkan
informasi tentang bahaya merokok yaitu dari orang tua 11,1% (24 siswa), teman
9,7% (21 siswa), saudara 8,3% (18 siswa), guru 12,9% (28 siswa), media cetak

64

6,9% (15 siswa), media elektronik/TV 11,1% (24 siswa), dan lain-lain 1,8% (4
siswa). Dari 83 siswa yang tidak mendapatkan informasi tentang bahaya merokok
38 siswa memilki pengetahuan kurang, 36 siswa memiliki pengetahuan sedang,
dan 9 siswa memiliki pengetahuan baik, sedangkan dari 134 siswa yang pernah
mendapatkan informasi tentang bahaya merokok yang terdistribusi berdasarkan
asal informasinya dari orang tua, teman, saudara, guru, media cetak, media
elektronik/TV dan lain-lain memiliki pengetahuan kurang sebanyak 54 siswa,
pengetahuan sedang 62 siswa, dan pengetahuan baik sebanyak 18 siswa. Dari
hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa informasi yang siswa dapat dari sumber
manapun tidak menjadi indikator bahwa pengetahuan siswa tentang bahaya
merokok baik secara keseluruhan. Hal tersebut dapat diakibatkan karena
kurangnya kesiapan siswa untuk menerima informasi tersebut. Fenomena yang
terjadi di lapangan, orang tua remaja kebanyakan memberikan kebebasan untuk
merokok apabila remaja tersebut sudah bekerja meskipun usianya masih muda.
Hal ini memberikan asumsi bahwa, informasi yang diberikan oleh orang tua
bukan pelarangan untuk merokok, akan tetapi penundaan merokok.
Berdasarkan teori Mubarak et al (2007), bahwa kemudahan dalam
memperoleh

informasi

dapat

membantu

mempercepat

seseorang

untuk

memperoleh pengetahuan baru. Sumber informasi terbanyak yang didapatkan


responden berasal dari guru dan orang tua, hal ini menunjukkan bahwa guru dan
orang tua berperan penting dalam memberikan informasi tentang bahaya
merokok. Akan tetapi, seperti yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya

65

bahwa informasi yang diberikan orang tua bukan pelarangan untuk merokok akan
tetapi penundaan merokok apabila remaja sudah bekerja.
Remaja dapat mempersiapkan diri dalam pencegahan merokok dengan
pemberian pendidikan kesehatan. Tidak hanya guru dan orang tua saja yang harus
memberikan pendidikan kesehatan tentang bahaya merokok, tetapi semua
kalangan baik dari masyarakat umum, orang terdekat harus memberikan informasi
terkait dengan bahaya merokok. Pendidikan kesehatan adalah istilah yang
diterapkan pada penggunaan proses pendidikan secara terencana untuk mencapai
tujuan kesehatan (Green dalam Mubarak et al, 2007).
Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan
(Mubarak et al, 2007). Rata-rata umur responden termasuk dalam kategori remaja
awal yaitu usia 12-15 tahun. berdasarkan keterkaitan umur dengan tingkat
pengetahuan remaja, didapatkan bahwa dari keseluruhan siswa usia 12 tahun
pengetahuan kurang sebanyak 34 siswa dan pengetahuan baik sebanyak 7 orang,
siswa usia 13 tahun pengetahuan kurang sebanyak 29 siswa dan pengetahuan baik
sebanyak 14 siswa, dan untuk siswa usia 14 tahun pengetahuan kurang sebanyak
29 siswa dan pengetahuan kurang sebanyak 6 siswa. Dapat disimpulkan bahwa
mayoritas tingkat pengetahuan yang kurang berada pada usia 12 tahun sedangkan
tingkat pengetahuan baik berada pada usia 13 tahun. Masa remaja bila dilihat dari
perkembangan kognitifnya terjadi pada tahap formal operation. Tahap ini adalah
tahap dimana remaja sudah mampu memecahkan suatu masalah. Teori ini sesuai
dengan hasil penelitian yaitu mayoritas remaja yang memiliki pengetahuan baik
berada pada rata-rata umur 13-14 tahun. Secara umum perkembangan kognitif

66

siswa akan berkembang pada usia 13-14 tahun, dibuktikan dengan hasil penelitian
saat ini.
Pekerjaan merupakan faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan.
Pekerjaan berperan dalam mempengaruhi pengetahuan responden karena
lingkungan pekerjaan dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan baik
secara langsung maupun tidak langsung (Mubarak et al, 2007). Penelitian ini tidak
mengkaji bagaimana pekerjaan responden karena penelitian dilakukan di sekolah,
yaitu SMP 1 Tempurejo dan semua siswanya adalah berstatus pelajar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 245 responden perkotaan,
sebanyak 42,4% (104 siswa) memiliki pengetahuan baik, dan 31% (76 siswa)
memiliki pengetahuan kurang tentang bahaya merokok. Pengetahuan yang
dimiliki responden berkaitan dengan karakteristik responden yang mempengaruhi
masing-masing responden.
Pengetahuan merupakan hasil dari pengindraan manusia, atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya, meliputi indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba (Notoadmodjo, 2010).
Teori ini didukung oleh teori pengetahuan menurut Mubarak et al (2007),
menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara lain
pendidikan, pekerjaan, umur, minat, pengalaman, kebudayaan lingkungan sekitar,
dan informasi.
Sumber informasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
pengetahuan (Mubarak et al, 2007). Tabel 5.1 yang menjelaskan tentang
informasi yang didapat tentang bahaya merokok yaitu sebanyak 2% (5 siswa)

67

tidak pernah mendapatkan informasi tentang bahaya merokok, sedangkan


sebanyak 98% (240 siswa) telah mendapatkan informasi tentang bahaya merokok
yaitu dari orang tua 16,3% (40 siswa), teman 15,9% (39 siswa), saudara 8,2% (20
siswa), guru 24,5% (60 siswa), media cetak 20,4% (50 siswa), media
elektronik/TV 12,2% (30), dan lain-lain 4% (1 siswa). Hasil ini didukung oleh
teori Mubarak et al (2007) bahwa kemudahan dalam memperoleh informasi dapat
membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan baru. Sumber
informasi terbanyak yang didapatkan responden berasal dari guru dan orang tua,
hal ini menunjukkan bahwa guru dan orang tua berperan penting dalam
memberikan informasi tentang bahaya merokok.
Aktivitas remaja perkotaan sedikit berbeda dengan aktivitas remaja
pedesaan, yaitu meliputi kegiatan ekstrakulikuler, sarana transportasi yang
digunakan, pemanfaatan teknologi dan media informasi, tingkat pendidikan orang
tua, serta sosial ekonomi keluarga. Kondisi tersebut mendukung remaja perkotaan
mendapat informasi, dengan asumsi bahwa bila seseorang

semakin sering

melakukan interaksi sosial, maka akan terjadi pertukaran informasi baik secara
langsung maupun tidak langsung. Guru memiliki peranan sangat penting sebagai
sumber informasi khususnya pada saat di sekolah. Tidak semua guru, atau orang
tua memiliki informasi yang memadai tentang bahaya merokok, siswa cenderung
mencari sendiri informasi tentang bahaya merokok di media cetak maupun
elektronik. Dibuktikan dengan hasil penelitian menunjukkan sebanyak 20,4%
siswa mendapatkan informasi tentang bahaya merokok melewati media media
cetak, dan sebanyak 12,2% siswa mendapat informasi dari media elektronik/TV.

68

Remaja dapat mempersiapkan diri dalam pencegahan merokok dengan


pemberian pendidikan kesehatan. Tidak hanya guru dan orang tua saja yang harus
memberikan pendidikan kesehatan tentang bahaya merokok, tetapi semua
kalangan baik dari masyarakat umum, orang terdekat harus memberikan informasi
terkait dengan bahaya merokok. Pendidikan kesehatan adalah istilah yang
diterapkan pada penggunaan proses pendidikan secara terencana untuk mencapai
tujuan kesehatan (Green dalam Mubarak et al, 2007).
Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan
(Mubarak et al, 2007). Rata-rata umur responden termasuk dalam kategori remaja
awal yaitu usia 12-15 tahun. Masa remaja bila dilihat dari perkembangan
kognitifnya terjadi pada tahap formal operation. Tahap ini adalah tahap dimana
remaja sudah mampu memecahkan suatu masalah. Teori ini sesuai dengan hasil
penelitian yaitu mayoritas remaja yang memiliki pengetahuan baik berada pada
rata-rata umur 14 tahun.
Pekerjaan merupakan faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan.
Pekerjaan berperan dalam mempengaruhi pengetahuan responden karena
lingkungan pekerjaan dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan baik
secara langsung maupun tidak langsung (Mubarak et al, 2007). Penelitian ini tidak
mengkaji bagaimana pekerjaan responden karena penelitian dilakukan di sekolah,
yaitu SMP 6 Jember dan semua siswanya adalah berstatus pelajar.

69

5.2.3

Perbedaan Tingkat Pengetahuan tentang Bahaya Merokok pada Remaja


SMP di Pedesaan dan Perkotaan
Desa adalah wilayah administrasi terendah dalam hierarki pembagian

wilayah administrasi Indonesia di bawah kecamatan. Pedesaan adalah status


wilayah administrasi setingkat desa/kelurahan yang tidak memenuhi kriteria
klasifikasi wilayah pedesaan dalam hal kepadatan penduduk, persentase rumah
tangga pertanian, dan sejumlah fasilitas perkotaan, sarana pendidikan formal,
sarana kesehatan umum, dan sebagainya. Daerah perkotaan merupakan suatu
wilayah administratif setingkat desa/kelurahan yang memenuhi persyaratan
tertentu dalam hal kepadatan penduduk, persentase rumah tangga pertanian, dan
sejumlah fasilitas perkotaan yang meliputi: Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK);
Sekolah Menengah Pertama; Sekolah Menengah Umum; Pasar; Pertokoan;
Bioskop; Rumah Sakit; Hotel/Bilyar/Diskotek/Panti Pijat/Salon; Persentase
Rumah Tangga yang menggunakan Telepon; dan Persentase Rumah Tangga yang
menggunakan Listrik (BPS, 2010).
SMP 1 Tempurejo merupakan SMP yang terletak di Kecamatan
Tempurejo, yang keseluruhan wilayahnya dikategorikan sebagai pedesaan.
Prevalensi merokok pada remaja di Kecamatan Tempurejo juga cukup besar yaitu
sebesar 35%. Berdasarkan data dari SMP 1 Tempurejo, terdapat 55 siswa yang
ketahuan merokok di kelas, dan 10% diantaranya adalah perempuan. Dari data
tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas siswa SMP 1 Tempurejo tidak
mengetahui tentang bahaya merokok. Berdasarkan fenomena di lapangan yang
peneliti temukan, terdapat keluarga yang tidak memperbolehkan anak/remaja

70

merokok apabila belum bekerja. Pernyataan tersebut berarti bahwa remaja


diperbolehkan merokok, meskipun sudah mengetahui apa dampak yang
ditimbulkan oleh rokok. Diperkuat dengan hasil penelitian yang menunjukkan
bahwa sebanyak 42,4% siswa di Tempurejo memiliki pengetahuan kurang tentang
bahaya merokok. Dari hasil tersebut, dibutuhkan kerjasama dengan guru-guru,
puskesmas, dan tentunya perawat komunitas untuk memberikan pendidikan
kesehatan tentang bahaya merokok agar nantinya pengetahuan siswa SMP 1
Tempurejo menjadi baik, dan mengurangi perilaku merokok yang ada di SMP 1
Tempurejo. Dan juga pemberian sosialisasi tentang bahaya merokok pada wali
murid/orang tua siswa, agar pada saat di rumah, orang tua dapat memberikan
pengarahan akan pentingnya kesehatan dan betapa berbahanya merokok.
Remaja

perkotaan

dan

pedesaan

memiliki

beberapa

perbedaan

karakteristik yang bermakna. Remaja perkotaan memiliki kondisi yang lebih baik
dalam hal aktivitas, sarana dan prasarana yang ada di perkotaan. Remaja di
perkotaan cenderung lebih dapat memanfaatkan media massa khususnya media
cetak dan media elektronik. Data pada tabel 5.1 membuktikan bahwa informasi
yang didapat mengenai bahaya merokok didapat dari media cetak, dan media
cukup banyak tetapi guru dan orang tua yang menjadi sumber informasi yang
terbanyak.
Bedasarkan data yang diperoleh saat melakukan penelitian, remaja di SMP
6 Jember memiliki pengetahuan baik sebesar 42,4% diperkuat dengan banyaknya
informasi tentang kesehatan yang dapat diakses oleh siswa di dalam sekolah
maupun di luar sekolah. Materi tentang bahaya merokok juga sering diajarkan

71

oleh guru di SMP 6 Jember, dari siswa kelas VII sampai dengan kelas IX. Posterposter anti rokok juga di lombakan di SMP 6 Jember. Data yang diperoleh dari
kesiswaan SMP 6 Jember terdapat 3 orang siswa yang ketahuan merokok, dan
semuanya adalah siswa laki-laki. Mayoritas siswa SMP 6 Jember bertempat
tinggal di Kecamatan Sumbersari, Kecamatan Kaliwates dan Kecamatan Ajung
orang tua siswa melarang remaja untuk merokok, karena merokok berakibat buruk
bagi kesehatan. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa orang tua remaja, begitu
memperhatikan remaja dalam segi kesehatan khususnya larangan merokok.
Merokok merupakan perilaku yang merugikan kesehatan, akan tetapi hal
tersebut dapat dicegah secara dini sebelum perilaku merokok melanda siswa.
Salah satu cara mencegah perilaku merokok adalah memberikan paradigma
negatif terhadap rokok, yaitu dengan menceritakan bagaimana efek rokok jangka
pendek maupun jangka panjangnya, dampak terhadap kesehatan maupun dampak
terhadap aspek estetika dan aspek ekonomi. Remaja yang merokok cenderung
menghabiskan uang jajan untuk membeli rokok. Terlebih lagi, menjarah uang
temannya untuk membeli rokok. Tujuan dari pendidikan kesehatan nantinya
bersifat preventif dan promotif dalam upaya pencegahan perilaku merokok.
Hasil dan pembahasan yang telah dijabarkan tersebut dapat diketahui
bahwa tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di
pedesaan dan perkotaan di Kabupaten Jember memiliki perbedaan yang sangat
signifikan. Observasi yang mendalam dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang
lebih baik. Karena peneliti tidak dapat mengetahui bagaimana keseharian siswa di
masing-masing SMP di pedesaan maupun di perkotaan. Hal tersebut menjadikan

72

hasil penelitian ini masih belum cukup menggambarkan bagaimana faktor-faktor


yang mempengaruhi tingkat pengetahuan siswa di SMP pedesaan dan perkotaan.

5.3

Keterbatasan Peneliti
Peneliti memiliki beberapa keterbatasan antara lain:

1. Responden
Responden untuk remaja SMP di pedesaan dan perkotaan cukup banyak.
Peneliti meminta pertolongan kepada teman dan guru SMP. Saat proses
pengisian kuesioner, banyak responden yang melihat hasil pengisian milik
temannya.
2. Pada saat proses penelitian
Saat proses penelitian, kelas yang bukan menjadi obyek penelitian
mengganggu jalannya proses pengisian kuesioner.
3. Kuesioner yang dibuat peneliti
Kuesioner tentang bahaya merokok dibuat oleh peneliti dan telah di uji
validitas dan reliabilitasnya. Tetapi tidak mengurangi bias yang mungkin
muncul pada hasil penelitian.

5.4

Implikasi Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang bagaimana

tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di pedesaan dan
perkotaan, dan untuk kedepannya dilakukan pendidikan kesehatan tentang bahaya

73

merokok pada SMP. Penelitian ini menggambarkan peran perawat komunitas


sebagai perawat peneliti. Komunitas pada penelitian ini adalah anak usia sekolah.

74

BAB 6. PENUTUP
Bab ini diuraikan kesimpulan dan saran dari penelitian Perbedaan
Tingkat Pengetahuan tentang Bahaya Merokok pada Remaja SMP di pedesaan
dan perkotaan di Kabupaten Jember.
6.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pembahasan pada bab sebelumnya

dapat disimpulkan bahwa:


a.

karakteristik responden di SMP pedesaan di Kabupaten Jember berumur


13 tahun (36,4%), lebih dari 50 persen berjenis kelamin laki-laki. 61,8%
responden sudah

mendapat informasi tentang bahaya merokok.

Karakteristik responden di SMP perkotaan berumur 12 tahun sebanyak


33,5%, lebih dari 50 persen berjenis kelamin laki-laki. 98%responden
sudah mendapat informasi tentang bahaya merokok;
b.

tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP di


pedesaan, tergolong pengetahuan sedang (45,2%). Tingkat pengetahuan
tentang bahaya merokok pada remaja SMP di perkotaan, tergolong
pengetahuan baik (42,4%);

c.

ada perbedaan yang signifikan tingkat pengetahuan tentang bahaya


merokok pada remaja SMP di pedesaan dan perkotaan di Kabupaten
Jember ( p value = 0,000)

74

75

6.2

Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pembahasan, maka peneliti dapat

memberikan saran sebagai berikut:


6.2.1
a.

Bagi Remaja
Hasil penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman
komprehensif remaja mengenai bahaya merokok sebagai pencegahan
perilaku merokok.

b.

Meningkatkan peran serta remaja untuk tidak merokok dalam mendukung


upaya pemerintah dalam pencegahan merokok.

c.

Remaja diharapkan dapat berpartisipasi dalam kebijakan pemerintah


terkait dengan larangan merokok di tempat umum.

6.2.2

Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kesadaran sekolah dalam

melindungi semua warga sekolah khususnya siswa dari bahaya asap rokok.
Sekolah dapat juga bekerja sama dengan Puskesmas Tempurejo untuk melakukan
kemitraan dengan pihak sekolah terkait pemberian pendidikan kesehatan untuk
siswa, guru dan staf karyawan sekolah terkait dengan bahaya merokok.
6.2.3

Bagi Penelitian Selanjutnya


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan peneliti

terkait perbedaan tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok pada remaja SMP
di pedesaan dan perkotaan. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk lebih
menyempurnakan pembahasan tentang bahaya merokok.

76

Penelitian lanjutan berupa penelitian yang bertujuan :


a.

mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan metode active learning


terhadap peningkatan pengetahuan tentang bahaya merokok;

b.

mengetahui perbedaan perilaku merokok pada remaja di pedesaan dan


perkotaan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan dengan
metode pembelajaran active learning.

6.2.4

Bagi Tenaga Kesehatan


Memberikan masukan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan

upaya pendidikan kesehatan terkait dengan bahaya merokok pada siswa di


pedesaan maupun di perkotaan, sehingga remaja mengetahui informasi terkait
bahaya merokok, dan harapannya dapat mencegah adanya perilaku merokok pada
remaja di pedesaan dan perkotaan.
6.2.5

Bagi Pelayanan Keperawatan Komunitas

a. perawat komunitas juga dapat melakukan pembinaan kegiatan UKS


dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang bahaya merokok
dengan suatu metode terbaru, sehingga siswa dapat menangkap informasi
tersebut dengan lebih mudah.
b. Perawat komunitas berperan dalam upaya pendidikan kesehatan dan
menjadi fasilitator dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru
guna membekali siswa dengan infomasi yang bermanfaat dalam
pencegahan perilaku merokok.

77

DAFTAR PUSTAKA

Agustiani, Hendriati. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: Refika Aditama


Allender, et al. 2010. Community Health Nursing, Promoting & Protecting the
Publics Health 7th Edition. Philadelphia: Lippincott, Williams &
Wilkinss
Alamsyah, Rika Mayasari. 2007. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kebiasaan
Merokok dan Hubungannya Dengan Status Penyakit Periodontal Remaja
di Kota Medan Tahun 2007. Sumatra Utara : Universitas Sumatra Utara.
Anderson & Mcfarlane. 2011. Community as Patner, Theory And Practice In
Nursing. 6th Edition. Philadelphia: Lippincott, Williams & Wilkins.
Anto, Umbah, Joseph dan Datag. (Tanpa Tahun). Hubungan Antara Pengetahuan
dan Sikap Tentang Bahaya Merokok Dengan Tindakan Merokok Remaja
di Pasar Baserhati Kota Manado. Manado : Universitas Samratulangi.
Arkan, Arnadi. 2006. Strategi Penganggulangan Kenakalan Anak-anak Remaja
Usia Sekolah. Ittihad Jurnal Kopertis Wilayah XI Kalimantan. Vol. 4 (6).
Badan Pusat Statistik. 2010. Klasifikasi Perkotaan dan Pedesaan di Indonesia
Brockopp dan Tolsma. 2000. Dasar-Dasar Riset Keperawatan. Alih Bahasa oleh
Yasmin Asih dan Anik Maryunani. Jakarta: EGC.
Dempsey, Ann Patricia & Arthur D. Dempsey. 2002. Riset Keperawatan. Jakarta :
EGC.
Departemen Kesehatan. 2008. Anak dan Remaja Rentan Menjadi Perokok
Pemula.
Helmi, Alvin Fadila dan Dian Komalasari. (Tanpa Tahun). Faktor-faktor
Penyebab Perilaku Merokok pada Remaja. Yogyakarta : UGM.
Hernowo, 2007. Panduan Untuk Perokok. Jakarta : EGC.
Jabbar, Abdul. 2008. Nge-rokok Bikin Kamu "Kaya". Solo: Samudera
Kementerian Kesehatan R.I. 2010. Riset Kesehatan Dasar 2010. Jakarta : Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Kementerian Kesehatan R.I. 2011. Pedoman Pengembangan Kawasan Tanpa
Rokok. Jakarta : Pusat Promosi Kesehatan.

78

Mubarak et al. 2010. Kesehatan Remaja problem dan solusinya. Jakarta: Salemba
Medika
Notoatmodjo. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmodjo. 2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Tarwoto et al. 2010. Kesehatan Remaja : Problem dan Solusinya. Jakarta :
Salemba Medika
Postkotanews. 2012. Jumlah Perokok Remaja Kian Mengkhawatirkan.
http://www.poskotanews.com/2012/07/14/jumlah-perokok-remaja-kianmengkhawatirkan [diakses 12 Maret 2013].
Potter, Patricia A. dan Anne Griffin Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental
Keperawatan : Konsep, Proses & Praktik. Jakarta : EGC.
Price, Silvian & Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Prosesproses Penyakit. Jakarta : EGC.
Salawati, Trixie dan Rizki Amalia. 2010. Perilaku Merokok Dikalangan
Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Semarang. Prosiding Seminar
Nasional UNMUS 2010. ISBN : 978. 979. 883. 9.
Santrock, John W. 2007. Remaja, Edisi kesebelas. Jakarta : Erlangga.
Sarwono, Sarlito W. 2011. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajagrafindo Persada
Sastroasmoro, Sudigdo & Safyan Ismail.2010. Dasar-dasar Metodologi
Penelitian Klinis. Jakarta : UI.
Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta : Graha
Ilmu.
Setianingrum, Ratri. 2009. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Bahaya
Merokok dengan Perilaku Merokok Pada Remaja di Desa Boro Wetan
Kecamatan Banyuurip Purworejo. Skripsi. Tidak Dipublikasikan.
Soetjiningsih. 2007. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta:
CV. Sagung Seto.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R &D. Bandung :
Penerbit Alfabeta.

79

Suharjo dan Saputro. 2003. Rokok Vs Kesehatan Publik Refleksi Hari Kesehatan
Seduinia 7 April [serial online] http://www.antirokok.or.id [diakses
tanggal 12 Maret 2013].
Tandra, H. 2003. Merokok dan Kesehatan. Jurnal Spectrum no. 61.
Wong, D. L., Eaton, M. H., Wilson D., Winkelstein, M. L., Schwartz, P. 2009.
Buku Ajar Keperawatan Pediarik. Jakarta: EGC